JURNAL ABDI INSANI Volume 13. Nomor 4. April 2026 http://abdiinsani. e-ISSN : 2828-3155. p-ISSN : 2828-4321 IDENTIFIKASI PERMASALAHAN DAN STRATEGI PERBAIKAN PENANGANAN IKAN TUNA PADA NELAYAN DESA WAEPURE. KABUPATEN BURU. MALUKU Identification of Problems and Improvement Strategies for Tuna Handling Among Fishers in Waepure Village. Buru Regency. Maluku Kedswin G. Hehanussa*. Agustinus Tupamahu. Barbara G. Hutubessy. Stany R. Siahainenia. Julian Tuhumury Jurusan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Universitas Pattimura Jl. Mr. Chr. Soplanit Poka-Ambon Telp/Fax: 0911-3825061 *Alamat Korespondensi: kedswinhehanussa@gmail. (Tanggal Submission: 1 Desember 2025. Tanggal Accepted : 27 April 2. Kata Kunci : Abstrak : Pascapanen. Pemasaran. Perikanan Tangkap. Rantai Dingin. Waepure Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Desa Waepure. Kabupaten Buru, untuk merespons berbagai persoalan yang dihadapi nelayan tangkap, terutama terkait rendahnya mutu hasil tangkapan akibat penanganan pascapanen yang tidak sesuai standar, keterbatasan sarana produksi, dan lemahnya akses pemasaran. Nelayan masih bergantung pada pengepul dan tidak memiliki kelembagaan ekonomi maupun fasilitas rantai dingin yang memadai sehingga pendapatan mereka tidak optimal. Kegiatan ini bertujuan untuk mengidentifikasi permasalahan perikanan secara komprehensif serta merumuskan strategi perbaikan penanganan hasil tangkapan dan sistem Metode kegiatan menggunakan pendekatan partisipatif melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, dan FGD dengan nelayan, pengepul, dan pendamping perikanan. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman nelayan tentang praktik penanganan ikan berbasis best handling practices, adopsi awal penggunaan coolbox berinsulasi dan logbook produksi, serta meningkatnya kesadaran akan pentingnya rantai dingin dan manajemen usaha. Selain itu, kegiatan ini mendorong terbentuknya rencana pembentukan koperasi sebagai upaya memperkuat sistem pemasaran kolektif dan meningkatkan posisi tawar nelayan. Kegiatan ini menyimpulkan bahwa perbaikan mutu hasil tangkapan dan penguatan kelembagaan merupakan langkah strategis untuk meningkatkan efisiensi rantai nilai dan kesejahteraan nelayan, serta perlu dilanjutkan dengan pendampingan berkelanjutan dan penyediaan sarana produksi yang memada. Open access article under the CCAeBY-SA license. Copy right A 2026. Hehanussa et al. , 179 Key word : Abstract : Capture Fisheries. Cold Chain. Marketing. PostHarvest. Waepure This community service program was conducted in Waepure Village. Buru Regency, to address key challenges faced by small-scale fishers, particularly the low quality of fish caused by improper onboard handling, limited production facilities, and weak market access. Fishers remain dependent on middlemen and lack adequate cold-chain infrastructure and economic institutions, resulting in suboptimal income. This activity aimed to identify fisheries-related problems comprehensively and develop strategies to improve post-harvest handling and market systems. The program used a participatory approach involving field observations, in-depth interviews, and focus group discussions with fishers, traders, and fisheries facilitators. The results indicate increased fisher knowledge regarding best handling practices, initial adoption of insulated coolboxes and catch logbooks, and greater awareness of cold-chain importance and business management. Moreover, the activity initiated plans for forming a fisher cooperative to strengthen collective marketing and improve bargaining The study concludes that enhancing fish quality and reinforcing fisher institutions are strategic steps toward improving value-chain efficiency and fisher welfare, and therefore require continued technical assistance and improved access to essential production facilities. Panduan sitasi / citation guidance (APPA 7th editio. Hehanussa. Tupamahu. Hutubessy. Siahainenia. , & Tuhumury. Identifikasi Permasalahan Dan Strategi Perbaikan Penanganan Ikan Tuna Pada Nelayan Desa Waepure. Kabupaten Buru. Maluku. Jurnal Abdi Insani, 13. , 179-188. https://doi. org/10. 29303/abdiinsani. PENDAHULUAN Desa Waepure merupakan salah satu wilayah pesisir di Kecamatan Buru Utara. Kabupaten Buru. Provinsi Maluku, yang sebagian besar penduduknya menggantungkan kehidupan ekonomi pada sektor perikanan tangkap. Kekayaan sumber daya ikan di perairan desa ini menjadikan aktivitas melaut sebagai mata pencaharian utama, namun potensi tersebut belum termanfaatkan secara optimal akibat berbagai kendala teknis, kelembagaan, sosial, dan infrastruktur yang masih terbatas. Permasalahan utama yang dihadapi nelayan adalah rendahnya mutu hasil tangkapan akibat penanganan pascapanen yang tidak sesuai standar. Sebagian besar nelayan masih belum menggunakan sistem pendinginan atau es batu saat penyimpanan ikan di atas kapal, sehingga ikan cepat mengalami penurunan kualitas dan mudah rusak sebelum sampai ke pembeli. Kondisi ini menyebabkan rendahnya nilai jual dan tingginya tingkat pemborosan karena sebagian hasil tangkapan menjadi tidak layak konsumsi. Selain itu, keberadaan tengkulak yang menguasai jalur pemasaran menempatkan nelayan pada posisi tawar yang lemah karena tidak adanya Tempat Pelelangan Ikan (TPI) maupun sistem pasar yang transparan, sehingga nelayan terpaksa menerima harga yang ditetapkan oleh pengepul (Silmi et al. , 2. Permasalahan ini semakin diperburuk oleh keterbatasan sarana transportasi, akses terbatas terhadap es balok, dan kesulitan memperoleh bahan bakar yang harus didatangkan dari luar desa. Dalam konteks perikanan bernilai tinggi seperti tuna sirip kuning, yang merupakan salah satu komoditas penting di kawasan ini, persoalan penanganan pascapanen semakin krusial. Nelayan umumnya belum memahami standar penanganan ikan ekspor, termasuk pentingnya proses bleeding, gutting, dan pendinginan cepat . apid chillin. di atas kapal. Praktik yang tidak sesuai standar ini sering menurunkan kualitas ikan hingga hanya mencapai grade C yang memiliki nilai jual rendah, sehingga pendapatan nelayan tidak optimal. Untuk meningkatkan kualitas produk, diperlukan pelatihan Open access article under the CCAeBY-SA license. Copy right A 2026. Hehanussa et al. , 180 berkelanjutan yang dapat dilakukan melalui kerja sama antara pemerintah daerah dan organisasi nonpemerintah seperti MDPI, yang selama ini aktif dalam pendampingan perikanan tuna di kawasan Indonesia Timur. Selain aspek teknis, persoalan sosial-ekonomi seperti rendahnya tingkat pendidikan formal nelayan berpengaruh terhadap lemahnya kemampuan manajerial, minimnya pencatatan data produksi, serta rendahnya pemahaman terhadap rantai pasok dan nilai pasar. Ketergantungan pada tengkulak menjadi semakin kuat karena belum adanya kelembagaan ekonomi seperti koperasi atau kelompok usaha bersama yang dapat memperbaiki akses pasar, meningkatkan posisi tawar, dan mengatur pemasaran secara kolektif (Hikmayani & Triyanti. , 2. Keterbatasan infrastruktur perikanan di Desa Waepure, termasuk ketiadaan fasilitas cold storage, depo BBM mini, dan pabrik es skala kecil, turut menghambat upaya peningkatan mutu serta efisiensi rantai pasok. Minimnya ketersediaan data produksi ikan baik data trip, volume, jenis ikan berdasarkan grade, maupun harga pasar juga menyulitkan pemerintah dan pihak terkait dalam menyusun kebijakan pengembangan perikanan yang tepat sasaran. Dalam jangka panjang, kondisi ini tidak hanya mengancam keberlanjutan ekonomi masyarakat, tetapi juga menghambat peningkatan daya saing produk perikanan desa di pasar regional dan nasional. Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, permasalahan-permasalahan tersebut diidentifikasi secara komprehensif untuk merumuskan solusi yang kontekstual sesuai kondisi lokal. Pendekatan partisipatif digunakan untuk memahami kebutuhan masyarakat nelayan dan menyusun strategi peningkatan penanganan pascapanen, penguatan sistem pemasaran yang lebih adil, pengembangan kelembagaan ekonomi, serta pemanfaatan teknologi digital sebagai media diversifikasi pasar. Dengan demikian, kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas hasil tangkapan, memperkuat posisi tawar nelayan, serta mendorong pembangunan ekonomi pesisir yang lebih inklusif dan berkelanjutan di Desa Waepure. METODE KEGIATAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada tanggal 26Ae27 Mei 2025 di Desa Nelayan Maju Waepure. Kecamatan Buru Utara. Kabupaten Buru. Provinsi Maluku. Desa Waepure merupakan salah satu desa pesisir yang masyarakatnya mayoritas bekerja sebagai nelayan skala kecil, dengan ketergantungan tinggi pada kegiatan perikanan tangkap sebagai sumber utama mata pencaharian. Karakteristik sosial ekonomi masyarakat yang masih menghadapi berbagai keterbatasan terutama dalam penanganan pascapanen dan akses pemasaran, menjadikan desa ini sebagai sasaran strategis untuk pelaksanaan kegiatan pengabdian berbasis peningkatan kapasitas dan penguatan sistem rantai nilai perikanan. Peta lokasi kegiatan pengabdian kepada masyarakat dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1. Peta Lokasi Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat Open access article under the CCAeBY-SA license. Copy right A 2026. Hehanussa et al. , 181 Metode pelaksanaan kegiatan ini menggunakan pendekatan Making Markets Work for the Poor (M4P) sebagaimana dijelaskan oleh Syafitri et al. Pendekatan ini dipilih karena berfokus pada upaya memperbaiki sistem pasar agar lebih inklusif dan menguntungkan bagi kelompok miskin, dalam hal ini nelayan kecil di Desa Waepure. M4P memungkinkan identifikasi hambatan-hambatan sistemik dalam rantai nilai perikanan, mencakup aspek produksi, penanganan pascapanen, logistik, serta struktur pemasaran, sehingga solusi yang dirumuskan tidak hanya menyentuh persoalan teknis tetapi juga perubahan perilaku pasar, koordinasi kelembagaan, dan perbaikan kinerja rantai pasok secara berkelanjutan. Prosedur kegiatan dimulai dari tahap identifikasi permasalahan, yang dilakukan melalui pengumpulan data primer menggunakan teknik observasi lapangan, wawancara mendalam . n-depth intervie. , dan Focus Group Discussion (FGD). Pemilihan informan dilakukan secara purposif, dengan mempertimbangkan keterlibatan dan pengetahuan mereka dalam aktivitas perikanan di desa, sebagaimana disarankan oleh Poltak et al. , . Responden terdiri dari nelayan aktif, perwakilan koperasi atau kelompok nelayan, pengepul lokal, serta lembaga pendamping seperti MDPI. Observasi lapangan dilakukan untuk mengamati praktik penanganan ikan di atas kapal, penggunaan sarana produksi, alur pemasaran, serta interaksi ekonomi yang terjadi antara nelayan dan pengepul. Wawancara mendalam digunakan untuk menggali pengalaman, persepsi, kendala operasional, serta pemahaman nelayan terhadap standar mutu ikan ekspor. Sementara itu. FGD dilaksanakan untuk merumuskan masalah bersama secara partisipatif, membangun dialog antarpelaku rantai nilai dan mengidentifikasi solusi yang aplikatif dan kontekstual bagi masyarakat Waepure. Tahap selanjutnya adalah analisis masalah dan perumusan solusi yang dilakukan secara deskriptif melalui penyusunan narasi berdasarkan hasil temuan lapangan. Analisis ini mencakup identifikasi penyebab rendahnya kualitas ikan, hambatan logistik, struktur pemasaran yang tidak menguntungkan nelayan, serta keterbatasan kapasitas manajerial dan kelembagaan (Deswati & Muhadji, 2. Hasil analisis kemudian digunakan sebagai dasar dalam perancangan intervensi kegiatan, berupa pelatihan penanganan pascapanen berbasis standar mutu, edukasi sistem pemasaran yang transparan, penguatan kelembagaan nelayan, serta pengenalan alternatif distribusi seperti pemasaran langsung dan digitalisasi pasar. Pelaksanaan kegiatan teknis di lapangan meliputi demonstrasi penanganan ikan yang benar, simulasi rantai pasok ideal dan diskusi interaktif mengenai strategi pemasaran. Seluruh proses pelaksanaan dijalankan secara partisipatif agar masyarakat tidak hanya menerima materi, tetapi juga terlibat aktif dalam merumuskan langkah-langkah praktis yang dapat diterapkan setelah kegiatan Data dan informasi yang diperoleh selama kegiatan dianalisis dan disajikan secara deskriptif, didukung dengan grafik, tabel, serta kutipan informan untuk memperkuat validitas temuan dan memastikan rekomendasi yang dihasilkan sesuai dengan kondisi faktual di Desa Waepure. HASIL DAN PEMBAHASAN Profil dan Kondisi Awal Desa Waepure Pelaksanaan kegiatan pengabdian pada tanggal 26Ae27 Mei 2025 memberikan gambaran menyeluruh mengenai karakteristik Desa Nelayan Maju Waepure. Kecamatan Buru Utara. Kabupaten Buru. Desa ini dihuni sekitar A870 jiwa dengan A200 kepala keluarga, di mana mayoritas penduduk berprofesi sebagai nelayan. Secara geografis. Waepure berada pada pesisir utara Pulau Buru yang berhadapan langsung dengan Laut Seram, sehingga memiliki potensi ikan pelagis besar seperti tuna sirip kuning (Thunnus albacare. Komposisi Penduduk berdasarkan Jenis Kelamin dan Mata Pencaharian dapat dilihat pada Tabel 1. Open access article under the CCAeBY-SA license. Copy right A 2026. Hehanussa et al. , 182 Tabel 1. Komposisi Penduduk berdasarkan Jenis Kelamin dan Mata Pencaharian Kategori Jumlah Penduduk Jumlah Kepala Keluarga Nelayan Aktif Petani/Pekebun Lainnya . edagang, gur. Jumlah Kapal Ikan Aktif Jumlah A870 jiwa A200 KK A85 orang A60 orang A30 orang A35 unit . ata-rata <5 GT) Temuan lapangan memperlihatkan bahwa meskipun potensi sumber daya ikan cukup tinggi, kondisi infrastruktur dasar di Desa masih sangat terbatas. Akses jalan dari pusat kecamatan sebagian besar belum beraspal, layanan listrik tidak stabil, dan jaringan internet masih terbatas. Selain itu, desa belum memiliki Tempat Pelelangan Ikan (TPI), depo es, ataupun fasilitas cold storage, sehingga nelayan tidak memiliki sarana penyimpanan ikan secara memadai. Ketertinggalan infrastruktur ini memengaruhi seluruh rantai nilai perikanan mulai dari proses penanganan ikan di atas kapal hingga pemasaran di tingkat darat yang pada akhirnya berdampak pada rendahnya nilai jual ikan. Kondisi Sosial. Ekonomi, dan Pola Usaha Perikanan Kegiatan perikanan tangkap di Waepure didominasi oleh penangkapan tuna sirip kuning menggunakan alat tangkap pancing ulur . , metode ramah lingkungan yang menjadi standar dalam perikanan tuna skala kecil. Sebagian nelayan binaan MDPI telah mengadopsi teknologi sederhana seperti penggunaan GPS, logbook, dan praktik penanganan ikan berbasis mutu. Namun adopsi ini belum merata karena sebagian besar nelayan masih menghadapi keterbatasan modal, fasilitas, dan pelatihan teknis. Karakteristik nelayan tangkap Desa Waepure dapat dilihat Pada Gambar Gambar 2. Karakteristik Nelayan Perikanan Tangkap Desa Waepure Analisis sosial-ekonomi menunjukkan bahwa sebagian besar nelayan memiliki tingkat pendidikan hanya sampai tingkat SMP (A80%) dan pengalaman melaut lebih dari 10 tahun (A70%). Meskipun pengalaman tinggi, kemampuan nelayan dalam pengelolaan usaha, pencatatan data produksi dan pemahaman pasar masih terbatas. Hal ini berimplikasi pada rendahnya kemampuan negosiasi harga dan minimnya literasi ekonomi dalam menentukan strategi usaha (Nusantara et al. Karakteristik sosial ekonomi dan aktivitas penangkapan di Desa Waepure dapat dilihat pada Gambar 3. Open access article under the CCAeBY-SA license. Copy right A 2026. Hehanussa et al. , 183 Gambar 3. Karakteristik sosial ekonomi dan aktivitas penangkapan di Desa Waepure Pendapatan mayoritas nelayan masih berada di bawah Rp 3. 000 per bulan dengan intensitas trip yang cukup tinggi lebih dari 15 trip per bulan pada musim tertentu. Namun tingginya frekuensi melaut tidak selalu menghasilkan pendapatan yang berbanding lurus karena mutu ikan yang dihasilkan sering kali menurun akibat lemahnya penanganan pascapanen. Kombinasi antara rendahnya pendidikan, minimnya literasi pasar dan lemahnya kelembagaan nelayan menjadikan mereka sangat rentan dalam struktur pasar yang tidak kompetitif. Penanganan Pascapanen dan Mutu Hasil Tangkapan Salah satu temuan paling krusial dari kegiatan pengabdian adalah kondisi penanganan ikan di atas kapal yang menjadi penyebab utama rendahnya mutu tuna. Sebagian kecil nelayan binaan telah melakukan prosedur best handling practices seperti pembiusan . , bleeding, gutting, pencucian, dan penataan ikan dalam es. Prosedur ini terbukti mampu mempertahankan warna daging ikan dan menjamin kesegaran sesuai standar ekspor. Namun sebagian besar nelayan di Waepure masih menangani ikan menggunakan cara tradisional tanpa pendinginan yang memadai. Ketersediaan es di desa sangat terbatas sehingga banyak nelayan hanya membawa satu atau dua balok es atau bahkan tidak membawa es sama sekali pada trip Selain itu, penyimpanan masih menggunakan kotak styrofoam sederhana yang tidak memiliki kemampuan insulasi baik. Kondisi ini menyebabkan ikan cepat mengalami kenaikan suhu, kerusakan fisik, perubahan warna daging, dan penurunan mutu (Fatich et al. , 2. Harga jual ikan tuna sirip kuning . ellow fin tun. berdasarkan grade mutu dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Harga Jual ikan Tuna Sirip Kuning (Yellow fin Tun. berdasarkan Grade Mutu Grade Keterangan Mutu Harga per kg (R. Tujuan Pasar Mutu ekspor, daging merah cerah, segar, utuh 000 Ae 110. Ekspor (Sashimi Ae Jepan. Masih layak ekspor, tetapi warna kurang cerah` 000 Ae 80. Ekspor grade menengah Mutu rendah, penanganan kurang, kadang luka 000 Ae 50. Pasar lokal atau domestik Open access article under the CCAeBY-SA license. Copy right A 2026. Hehanussa et al. , 184 Dampaknya terlihat jelas pada distribusi mutu ikan tuna hasil tangkapan: hanya A15% yang masuk Grade A . utu ekspor tingg. A35% kategori Grade B, dan A50% sisanya Grade C yang hanya layak dijual di pasar lokal dengan harga jauh lebih rendah. Proporsi Grade C yang tinggi memperlihatkan bahwa kerugian ekonomi nelayan sesungguhnya berasal bukan dari jumlah tangkapan, melainkan dari penanganan pascapanen yang tidak sesuai standar. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas teknis menjadi kunci dalam perbaikan mutu dan pendapatan (Sari & Purwantoro, 2. Sistem Pemasaran. Permasalahan Struktural, dan Arah Solusi Hasil observasi dan wawancara mendalam menunjukkan bahwa sistem pemasaran ikan di Waepure masih berjalan secara tradisional. Jalur pemasaran mengikuti pola: Nelayan Ie Pengepul Ie Cold storage/UPI di Namlea atau Ambon Ie Eksportir Ie Pasar internasional. Ketergantungan total pada pengepul menyebabkan posisi tawar nelayan sangat lemah. Nelayan tidak memiliki TPI, fasilitas cold storage, maupun akses transportasi untuk membawa ikan langsung ke UPI atau pasar yang menawarkan harga lebih tinggi. Situasi ini diperburuk oleh pola relasi patronAeclient, di mana pengepul sering memberikan pinjaman operasional (BBM, es, alat tangka. yang membuat nelayan terikat dan tidak bebas memilih pembeli lain. Masalah struktural lainnya A pasokan es balok tidak stabil. A BBM sering kali dibeli dengan harga tinggi dari pengecer. A minimnya pencatatan data produksi. A tidak adanya organisasi ekonomi nelayan seperti koperasi yang berfungsi aktif. Melalui FGD, beberapa strategi penyelesaian dirumuskan secara partisipatif, antara lain: penguatan kapasitas teknis penanganan mutu ikan, pembangunan depo es mini skala desa untuk memperbaiki rantai dingin, pembentukan koperasi pemasaran untuk mengurangi ketergantungan pada pengepul, penggunaan logbook sebagai dasar transparansi usaha dan membuka jalur pemasaran alternatif melalui koperasi. UPI Ambon, atau skema digitalisasi pemasaran. Strategi tersebut sejalan dengan pendekatan Making Markets Work for the Poor (M4P) yang digunakan dalam kegiatan ini yaitu memperbaiki struktur pasar, perilaku pelaku usaha, dan insentif ekonomi agar pasar lebih berpihak pada nelayan kecil. Penerapan Teknologi dan Luaran Capaian Kegiatan Sebagai bagian dari intervensi teknis, kegiatan pengabdian memperkenalkan sejumlah inovasi sederhana namun relevan untuk kondisi perikanan skala kecil di Desa Waepure. Teknologi coolbox berinsulasi ganda diperkenalkan sebagai alternatif wadah penyimpanan karena mampu mempertahankan suhu lebih stabil dibanding styrofoam. Uji coba di lapangan menunjukkan bahwa penggunaan coolbox berinsulasi dapat mengurangi kerusakan fisik ikan dan mempertahankan kualitas daging hingga tiba di darat. Selain itu, diperkenalkan pula kit bleeding dan gutting, serta logbook digital dan manual untuk pencatatan data trip. Logbook menjadi alat penting dalam memantau efisiensi usaha, penggunaan BBM, volume tangkapan serta membantu lembaga pendamping dalam menganalisis pola produksi. Teknologi dan inovasi ini bersifat tepat guna, mudah diadopsi dan tidak memerlukan investasi besar. Namun keberhasilan adopsi membutuhkan pendampingan lanjutan, pembiayaan terjangkau melalui koperasi, dan skema insentif pasar agar nelayan terdorong menjaga mutu sesuai standar. Open access article under the CCAeBY-SA license. Copy right A 2026. Hehanussa et al. , 185 Kegiatan pengabdian di Desa Waepure menghasilkan sejumlah capaian penting yang tidak hanya mencerminkan peningkatan kapasitas teknis nelayan, tetapi juga menunjukkan terjadinya transformasi struktural pada sistem rantai nilai perikanan skala kecil. Salah satu capaian utama adalah meningkatnya pengetahuan dan keterampilan nelayan terkait penanganan pascapanen yang baik. Peningkatan kapasitas ini sejalan dengan temuan Sitanggang et al. , 2025 yang menunjukkan bahwa pelatihan pascapanen menjadi faktor kunci dalam menurunkan post-harvest loss pada perikanan kecil dan meningkatkan nilai jual hasil tangkapan. Selain itu, tersusunnya format logbook dan mulai digunakannya pencatatan data produksi oleh kelompok nelayan memperkuat aspek traceability yang menjadi standar penting dalam perikanan berkelanjutan (Hehanussa et al. , 2. Praktik pencatatan seperti ini diperlukan untuk transparansi dan manajemen stok ikan sebagaimana direkomendasikan oleh Rosales et al. , 2017. Merrifield et al. , 2019. Sari et al. , 2021 yang menekankan bahwa logbook sederhana dapat meningkatkan akurasi data perikanan dan memperkuat posisi nelayan dalam rantai Capaian berikutnya adalah meningkatnya kesadaran kolektif terkait pentingnya rantai dingin dan mutu ikan. Hal ini sejalan dengan studi Pascual et al. , . Tuhumena et al. , 2025 yang menyatakan bahwa penyediaan infrastruktur rantai dingin pada perikanan kecil dapat meningkatkan mutu produk hingga 40% dan membuka akses pasar berkualitas tinggi. Peningkatan mutu ini juga mendukung peluang nelayan Desa Waepure untuk mengakses pasar ekspor, yang sebelumnya sulit dicapai karena dominasi Grade C pada komoditas tuna. Dari sisi kelembagaan, terbangunnya rencana awal pembentukan koperasi nelayan menjadi capaian strategis yang sangat relevan. Dalam studi yang dipublikasikan oleh Iyer, . , disebutkan bahwa pembentukan organisasi ekonomi seperti koperasi dapat meningkatkan posisi tawar, mengurangi ketergantungan pada pengepul, dan menciptakan tata kelola pemasaran yang lebih adil. Capaian ini juga diperkuat dengan meningkatnya pemahaman nelayan mengenai standar mutu ekspor dan peluang pemasaran alternatif, baik melalui UPI, koperasi, maupun skema pemasaran langsung. Kegiatan Diskusi Bersama Nelayan Desa Waepure dapat dilihat pada Gambar 4. Gambar 4. Kegiatan Diskusi Bersama Nelayan Desa Waepure Open access article under the CCAeBY-SA license. Copy right A 2026. Hehanussa et al. , 186 Terakhir, terbentuknya model awal intervensi sistem pasar yang memadukan peningkatan kapasitas teknis, perbaikan penanganan pascapanen, pencatatan data, dan penguatan kelembagaan menunjukkan bahwa pendekatan yang digunakan telah menghasilkan perubahan struktural. Model ini selaras dengan konsep pro-poor market systems development yang dikemukakan oleh Ihalainen et al. Malhotra et al. , 2024 yang menegaskan bahwa keberhasilan program pemberdayaan tidak hanya ditentukan oleh pelatihan teknis, tetapi juga oleh perbaikan perilaku pasar dan struktur rantai Dengan demikian, capaian kegiatan di Desa Waepure menunjukkan bahwa program pengabdian ini telah memberikan dampak nyata terhadap peningkatan mutu hasil tangkapan, penguatan posisi nelayan, dan pembentukan fondasi menuju sistem pasar yang lebih inklusif dan berkelanjutan. KESIMPULAN DAN SARAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Waepure berhasil mengidentifikasi secara komprehensif berbagai persoalan utama yang dihadapi nelayan dalam aktivitas penangkapan, penanganan pascapanen, dan pemasaran hasil tangkapan. Temuan lapangan menunjukkan bahwa rendahnya mutu ikan disebabkan oleh ketidakteraturan praktik penanganan di atas kapal, minimnya fasilitas rantai dingin, terbatasnya akses sarana produksi seperti es balok dan coolbox berinsulasi, serta tingginya ketergantungan terhadap BBM eceran. Selain itu, tidak adanya sistem pencatatan usaha dan ketergantungan pada pengepul menyebabkan nelayan memiliki posisi tawar yang lemah dalam rantai Melalui pendekatan partisipatif, kegiatan ini berhasil memperkenalkan praktik penanganan ikan berbasis best handling practices dan logbook tangkapan yang terbukti meningkatkan pemahaman nelayan tentang manajemen mutu serta membuka peluang perbaikan sistem pemasaran. Penyusunan profil sosial-ekonomi nelayan juga memberikan dasar penting dalam merancang strategi pemberdayaan yang lebih tepat sasaran dan berkelanjutan. Berdasarkan capaian tersebut, disarankan agar pelatihan teknis dan pendampingan lanjutan dilakukan secara berkelanjutan untuk memastikan adopsi praktik penanganan ikan yang benar oleh seluruh nelayan. Pemerintah desa dan pemangku kepentingan perlu memfasilitasi peningkatan akses nelayan terhadap sarana produksi yang vital, seperti penyediaan coolbox berinsulasi, akses es balok yang stabil, dan mekanisme distribusi BBM bersubsidi. Penguatan pencatatan usaha melalui logbook manual maupun digital perlu diprioritaskan guna mendukung evaluasi usaha dan transparansi rantai Selain itu, pembentukan koperasi nelayan atau kelompok usaha bersama harus dipercepat sebagai strategi untuk membangun pemasaran kolektif dan menjalin kemitraan langsung dengan UPI atau pembeli industri sehingga nelayan dapat keluar dari ketergantungan pada tengkulak lokal. Dengan sinergi antara pelatihan, penyediaan sarana, digitalisasi, dan penguatan kelembagaan, sistem perikanan tangkap di Desa Waepure diharapkan dapat berkembang menjadi lebih produktif, efisien, dan berkelanjutan, sekaligus mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir secara DAFTAR PUSTAKA