KUSUMA: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat E-ISSN 3089-2805 Vol. No. Tahun 2024 | Hal. 25 Ae 33 https://ojs. id/index. php/kjpkm/index TRADISI NGUNJUNG BUYUT NYI MAS RATU AYU KAWUNGANTEN DESA KEDOAKANBUNDER KECAMATAN KEDOKANBUNDER KABUPATEN INDRAMAYU Lusiani1. Selma Karamy2. Agung Nugraha3. Reni Kirani4. Asep Mulyana5 UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon Email: rustantoaldiansyah@gmail. com1, selmakaramy234@gmail. agungnugraha5578@gmail. com3, kiranir785@gmail. com4, asepmulyana@syekhnurjati. DOI : 1055656/kjpkm. Submitted: . 4-12-. | Revised: . 5-02-. | Approved: . 5-04-. Abstract This study aims to investigate the Ngunjung Buyut Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten Tradition which is an important part of the cultural heritage of Kedoakanbunder Village. Kedokanbunder District. Indramayu Regency. This tradition is rooted in respect for ancestors, especially Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten, the wife of Sunan Gunung Jati, who played an important role in the history of the formation of the village. As an annual ritual, this tradition involves pilgrimage activities, joint prayers . , earth almsgiving, mask dance performances, and puppets. By using qualitative approaches and ethnographic methods, this research will delve into understanding the origins, implementation practices, as well as the meaning and role of this tradition in the lives of local communities. Data will be collected through participatory observations, interviews with visitors, and documentation studies to provide a more comprehensive insight into this tradition and explain how it continues to be preserved by the younger generation amid modernization and social change. This research is expected to make a significant contribution to the understanding of cultural values and the sustainability of local traditions in Indonesia. Keywords: Spiritual Culture. Ngunjung Buyut Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki Tradisi Ngunjung Buyut Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten yang merupakan bagian penting dari warisan budaya Desa Kedoakanbunder. Kecamatan Kedokanbunder. Kabupaten Indramayu. Tradisi ini berakar dari penghormatan kepada leluhur, khususnya Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten, istri Sunan Gunung Jati, yang berperan penting dalam sejarah pembentukan desa. Sebagai ritual tahunan, tradisi ini melibatkan kegiatan ziarah, doa bersama . , sedekah bumi, pertunjukan tari topeng, dan Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode etnografi, penelitian ini akan mendalami dalam memahami asal-usul, praktik implementasi, serta makna dan peran tradisi ini dalam kehidupan masyarakat lokal. Data akan dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara dengan para pengunjung, dan studi dokumentasi untuk memberikan wawasan yang KUSUMA: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat E-ISSN 3089-2805 Vol. No. Tahun 2024 | Hal. 25 Ae 33 https://ojs. id/index. php/kjpkm/index lebih komprehensif tentang tradisi ini dan menjelaskan bagaimana tradisi ini terus dilestarikan oleh generasi muda di tengah modernisasi dan perubahan sosial. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pemahaman nilai-nilai budaya dan keberlanjutan tradisi lokal di Indonesia. Kata kunci: Budaya Spiritual. Ngunjung Buyut PENDAHULUAN Agama ibarat jiwa yang menjelma dari surga, sementara budaya berperan sebagai tubuh yang siap menyerap kehadiran jiwa tersebut. Tanpa tubuh, jiwa tidak akan mampu berfungsi di ranah sejarah, sedangkan tubuh itu sendiri akan kehilangan makna tanpa jiwa agama. Persatuan antara keduanya melahirkan peradaban, mengintegrasikan praktik keagamaan dengan budaya dan adat istiadat setempat. Dalam konteks ini, agama menyuntikkan semangat ilahi ke dalam budaya lokal, sementara budaya juga menyerap pengaruh agama, tetap terbuka terhadap nuansa spiritual dan kultural yang lebih luas. Tak ada batas yang memisahkan agama dari budaya, menandakan bahwa keduanya dapat hidup berdampingan secara harmonis. Agama berfungsi sebagai fondasi bagi kehidupan manusia, memegang peranan penting dalam membimbing dan memberikan arahan untuk mencapai kebaikan dalam setiap aspek kehidupan. Ia adalah kepercayaan yang dipegang oleh individu, yang mencerminkan kekuatan yang melampaui pemahaman manusia terhadap fenomena yang luar biasa. Istilah agama sendiri berasal dari bahasa Sansekerta, di mana kata "A" berarti "tidak," dan "Gam" berarti "pergi," yang menyiratkan bahwa agama merupakan sesuatu yang abadi, diwariskan dari generasi ke generasi dan sering kali terkait dengan teks atau kitab suci yang dihormati. Dari sudut pandang budaya, agama dilihat sebagai hasil dari kecerdasan manusia, lahir dari kemajuan dan perkembangan kebudayaan. Berbagai persembahan yang manusia berikan kepada Tuhan sering kali terwujud dalam bentuk tradisi. Tradisi itu sendiri adalah praktik yang diturunkan dari generasi ke generasi dalam suatu komunitas, terutama dalam konteks budaya tempat ia berada. Tradisi dapat didefinisikan sebagai suatu hal yang secara terus-menerus dilakukan oleh satu generasi kepada generasi berikutnya, baik secara lisan maupun melalui praktik lainnya. Namun, jika tradisi itu tidak diwariskan, mereka berisiko punah. Salah satu contoh tradisi adalah Ngunjung Buyut, yang merupakan cara masyarakat Islam untuk menghormati leluhur. Tradisi ini berfungsi sebagai upacara syukur yang biasa diadakan di Jawa, sebagai tanda penghormatan kepada nenek Aktivitas ini dianggap sangat penting dalam kehidupan masyarakat, di mana partisipasi dalam upacara Ngunjung Buyut terbuka bagi semua anggota masyarakat, tanpa memandang usia atau status. Anak-anak, remaja, dan orang dewasa dapat berpartisipasi dalam acara tersebut. KUSUMA: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat E-ISSN 3089-2805 Vol. No. Tahun 2024 | Hal. 25 Ae 33 https://ojs. id/index. php/kjpkm/index Tradisi Ngunjung Buyut masih dijalankan oleh masyarakat Jawa, khususnya di kota Indramayu, yang memiliki hubungan erat dengan warisan dan tradisi leluhur. Praktik ini terus diwariskan dari generasi ke generasi, terutama melalui kunjungan ke kuburan para leluhur. Ngunjung Buyut merupakan sebuah tradisi yang kaya akan makna dalam masyarakat Indonesia, khususnya di Jawa, yang melibatkan kunjungan ke makam para Tradisi ini dilaksanakan sebagai ungkapan penghormatan dan doa bagi arwah yang telah tiada. Menurut Ahmad Mansur Suryanegara. AuNgunjung Buyut adalah ritual yang mencerminkan hubungan antara para yang masih hidup dan leluhur mereka yang telah berpulang. Ay Sementara itu. Sukirno menambahkan. AuKegiatan ini mencerminkan nilai-nilai budaya dan spiritual yang mendalam, serta memperkuat solidaritas dalam keluarga dan komunitas. Ay Koentjaraningrat menjelaskan bahwa penghormatan terhadap leluhur adalah elemen integral dalam sistem kepercayaan Jawa, yang berperan penting dalam mempertahankan keseimbangan sosial dan spiritual. Ia menegaskan. AuUpacara untuk menghormati leluhur adalah bagian tak terpisahkan dari sistem kepercayaan yang menjaga harmoni sosial dan spiritualAy (Koentjaraningrat, 1. Dalam karyanya yang terkenal, *The Religion of Java*. Clifford Geertz menggambarkan Ngunjung Buyut sebagai simbol sinkretisme yang menggambarkan perpaduan pengaruh Hindu-Buddha, animisme, dan Islam dalam budaya Jawa. Ia menyatakan. AuRitual pemujaan leluhur melambangkan sinkretisme, menunjukkan pandangan orang Jawa bahwa alam semesta terdiri dari unsur-unsur yang saling terkaitAy (Geertz, 1. Menurut Purnama et al. 4, hlm. , istilah "ngunjung" berasal dari kata "kunjung" atau "kunjungan", yang merujuk pada perjalanan menuju tempat suci yang memiliki makna khusus. Tujuan dari upacara Ngunjung adalah untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah yang diterima oleh keturunan leluhur, serta untuk memastikan kesejahteraan dan kemakmuran mereka berkat usaha nenek moyang. Hal ini sejalan dengan penjelasan Yunadin . bahwa unjungan atau haul adalah upacara budaya tradisional yang diwariskan turun-temurun, yang diadakan setiap tahun sebagai wujud syukur kepada Allah SWT. Kegiatan Ngunjung biasanya dilaksanakan di lokasi-lokasi suci, terutama yang berkaitan dengan leluhur yang memberikan kontribusi pada masyarakat setempat. Acara ini dilakukan secara kolektif oleh komunitas, dikoordinasikan oleh panitia, dan didanai melalui sumbangan bersama. Selain mengunjungi makam, para peserta juga melakukan tahlilan . oa dalam tradisi Isla. di lokasi-lokasi suci tersebut. Nur Syam, dalam penelitiannya tentang tradisi Islam di Jawa, mengungkapkan bahwa Ngunjung Buyut mencerminkan fleksibilitas budaya Jawa, di mana masyarakat berhasil mengintegrasikan ajaran leluhur dengan nilai-nilai Islam dengan harmonis. KUSUMA: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat E-ISSN 3089-2805 Vol. No. Tahun 2024 | Hal. 25 Ae 33 https://ojs. id/index. php/kjpkm/index menyatakan. AuPraktik Ngunjung Buyut menunjukkan fleksibilitas budaya Jawa dalam memadukan ajaran leluhur dengan nilai-nilai IslamAy (Syam, 2. Selain itu. Sutrisno dan Hadi Subroto menekankan bahwa tradisi Ngunjung Buyut berfungsi sebagai praktik sosial yang menyatukan serta mengenang jasa-jasa Mereka berpendapat. AuNgunjung Buyut berfungsi sebagai simbol persatuan masyarakat dalam menghormati dan mengenang kontribusi leluhur, serta menciptakan ikatan sosial yang kuatAy (Sutrisno dan Subroto, 2. Berdasarkan uraian diatas, maka penelitian ini menarik sebuah permasalahan mengenai bagaimana nilai-nilai budaya yang terkandung dalam tradisi ngunjung buyut. METODE Metode penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Peneliti akan melakukan observasi partisipatif untuk mengamati langsung proses pelaksanaan Tradisi Ngunjung Buyut Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten di Desa Kedoakanbunder. Selain itu, peneliti juga akan melakukan wawancara mendalam dengan para pemimpin adat, pemangku kepentingan adat, dan masyarakat lokal yang terlibat dalam tradisi ini untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang asal-usul, makna, dan peran tradisi tersebut. Selain itu, akan dilakukan studi dokumentasi untuk mengumpulkan informasi sejarah dan data terkait Data yang terkumpul akan dianalisis secara induktif untuk mengungkapkan pola dan tema yang muncul dalam tradisi dan untuk memberikan pemahaman yang komprehensif tentang Tradisi Ngunjung Buyut Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten. HASIL DAN PEMBAHASAN Latar Belakang Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten Desa Kedokanbunder Diskominfo Indramayu . mencatat bahwa Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten adalah putri Raja Banten yang mengawinkan dirinya dengan Syarif Hidayatullah, lebih dikenal sebagai Sunan Gunung Jati. Dalam perjalanan sejarahnya. Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten memainkan peran krusial dalam membuka hutan Lebak Sungsang, yang kini termasuk dalam kawasan Kedokanbunder. Ia merupakan tokoh penting dalam sejarah daerah tersebut. Makamnya terletak di Desa Kedokanbunder dan selalu ramai dikunjungi oleh para peziarah, baik dari dalam maupun luar Kabupaten Indramayu. Sebagai istri kedua Sunan Gunung Jati. Nyai Ratu Kawunganten adalah putri Sang Surasoan, bupati Kawunganten-Banten. Dari pernikahan ini. Sunan Gunung Jati dan Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten dikaruniai dua orang anak: Nyai Ratu Winahon/Nyai Ratu Winangun. KUSUMA: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat E-ISSN 3089-2805 Vol. No. Tahun 2024 | Hal. 25 Ae 33 https://ojs. id/index. php/kjpkm/index Maulana Hasanuddin, yang kemudian diangkat sebagai Sultan Banten. Keterikatan dengan Demak juga terjalin karena Maulana Hasanuddin menikahi salah satu putri Sultan Trenggono, raja ketiga Demak. Kisah pernikahan Sunan Gunung Jati dan Nyimas Kawunganten, yang berasal dari Banten, diceritakan dalam berbagai manuskrip Cirebon dengan jelas dan ringkas. Cerita pernikahan mereka dimulai ketika Ratu Krawang mengunjungi Sunan Gunung Jati, membawa serta Nyimas Kawunganten yang pada saat itu dikenal sangat cantik. Riwayat pernikahan mereka tercatat dalam naskah Mertasinga, khususnya pada pupuh XVi. Dari pernikahan tersebut, mereka memiliki seorang putri bernama Ratu Winaon dan seorang putra bernama Pangeran Sebakingkin, yang kemudian menjadi Sultan Banten. Ratu Winaon menikah dengan seorang pria dari seberang laut. Pangeran Atas Angin, yang memiliki jabatan di Jambu Karang. Wilayah ini kini teridentifikasi dengan Bengkulu, meskipun beberapa berpendapat bahwa ia merujuk pada Sumatera Barat/Minangkabau. Gambar: Makam Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten Tradisi Ngunjung Pada Komunitas Mayarakat Desa Kedokanbunder Kata "ngunjung" berasal dari istilah "kunjung," yang berarti datang atau Dalam konteks bahasa Jawa, "ngunjung" khususnya mengacu pada kegiatan berziarah, yaitu mengunjungi makam leluhur atau tokoh yang telah memberikan kontribusi penting bagi desa atau keluarga. Salah satu tokoh yang dihormati dalam konteks ini adalah Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten. Menurut Kiai Tabiin, asal-usul konsep "ngunjung" bisa dianalisis dari dua sudut pandang. yaitu agama dan budaya. Dalam perspektif Islam, "selametan" atau pesta upacara untuk mendoakan almarhum dianggap sebagai suatu perintah. Tradisi peringatan, seperti 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, dan upacara tahunan, merupakan bagian integral dari budaya masyarakat. KUSUMA: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat E-ISSN 3089-2805 Vol. No. Tahun 2024 | Hal. 25 Ae 33 https://ojs. id/index. php/kjpkm/index Di masyarakat Kedokanbunder, "selametan" yang diadakan sekali setahun dihubungkan dengan adat istiadat dan dikenal sebagai "unjungan" atau "ngunjung. Ziarah ke kuburan merupakan tradisi yang terus berkembang di kalangan masyarakat Jawa, dengan berbagai motivasi dan tujuan. Kepercayaan akan keutamaan makam-makam yang dianggap suci oleh orang Jawa sangat dipengaruhi oleh warisan Hindu-Jawa. Pada masa itu, raja dipandang sebagai perwujudan dewa, sehingga segala sesuatu yang berhubungan dengan raja, termasuk makam dan situs suci lainnya, dianggap suci. Pemahaman ini masih dilestarikan hingga saat ini, dengan banyak orang meyakini bahwa mengunjungi makam leluhur atau tokoh terkenal yang memiliki kekuatan mistis tertentu dapat memberikan mereka pengaruh khusus. Kisah-kisah mengenai keunggulan tokoh yang dimakamkan di sana sering menarik minat masyarakat, yang berharap bisa meraih berkat dan prestise yang sama. Syekh Nawawi al-Bantani mengemukakan ada empat tujuan utama dalam mengunjungi kuburan: untuk mengingatkan diri tentang kematian dan kehidupan setelahnya, untuk mendoakan almarhum, untuk mencari berkah, serta untuk menjalankan kewajiban terhadap individu yang layak dikunjungi di kuburan. Dalam pelaksanaan "ngunjung buyut" di desa Kedokanbunder, kegiatan biasanya diawali dengan prosesi yang diwarnai oleh tarian topeng. Tarian ini dianggap sebagai salah satu warisan budaya yang diberikan oleh para leluhur, dan selalu disertakan dalam setiap tradisi terkait leluhur. Anak-anak dan remaja yang mewarisi keterampilan menari dari nenek moyangnya sering kali menjadi pelaku dari tarian Tidak hanya atraksi wisata yang menjadi daya tarik pengunjung, tetapi juga tradisi yang kaya tersebut. Keberadaan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi di Jawa, khususnya Indramayu, tentunya menjadi magnet bagi para wisatawan. Salah satu tradisi yang menarik perhatian adalah "ngunjung buyut," yang memungkinkan pengunjung untuk menyaksikan keunikan daerah melalui beragam pertunjukan, seperti tarian topeng, wayang orang, dan prosesi, masing-masing menawarkan pengalaman yang berbeda setiap tahunnya. Di bawah ini adalah beberapa peristiwa yang terdokumentasi, yang turut memeriahkan tradisi "ngunjung buyut" di desa Kedokanbunder. KUSUMA: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat E-ISSN 3089-2805 Vol. No. Tahun 2024 | Hal. 25 Ae 33 https://ojs. id/index. php/kjpkm/index Gambar: Prosesi Acara Dalam Rangka Memeriahkan Tradisi Ngunjung Buyut Nilai Kearifan Lokal Pada Tradisi Ngunjung Masyarakat Desa Kedokanbunder Motto "Bhineka Tunggal Ika", yang berarti "persatuan dalam keberagaman", mencerminkan keragaman suku, bahasa, kepercayaan, dan tradisi yang telah menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang tangguh hingga saat ini. Di setiap sudut KUSUMA: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat E-ISSN 3089-2805 Vol. No. Tahun 2024 | Hal. 25 Ae 33 https://ojs. id/index. php/kjpkm/index tanah air, kita menemukan tradisi yang dijaga dengan baik, masing-masing menyimpan kearifan lokal yang unik. Salah satu contoh adalah tradisi ngunjung yang ada di Desa Kedokanbunder. Kecamatan Kedokanbunder. Tradisi ngunjung tidak hanya sekadar kebiasaan, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai kearifan lokal, seperti religiusitas, toleransi, integritas, dan gotong royong. Nilai religiusitas terlihat jelas dalam praktik ngunjung. Rahima . menjelaskan bahwa religiusitas merujuk pada nilai-nilai yang terinternalisasi dalam diri individu melalui ajaran agama, yang tercermin dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Siswantara . menambahkan bahwa religiusitas berasal dari kepercayaan seseorang kepada kekuasaan Tuhan, yang ditunjukkan lewat iman. Secara keseluruhan, religiusitas adalah kepercayaan kepada ajaran Tuhan Yang Mahakuasa yang diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya, nilai toleransi juga integral dalam tradisi ngunjung. Raihani dalam Pangalila dan Mantiri . menyatakan bahwa toleransi adalah sikap dan tindakan yang menghormati perbedaan agama, suku, pendapat, serta tindakan orang lain. Anang dan Zuhroh dalam Widiatmaka et al. menegaskan bahwa toleransi merupakan sikap yang menghargai keyakinan dan pandangan orang lain. Dari sini, kita dapat menyimpulkan bahwa nilai toleransi yang terwujud dalam tradisi ngunjung terlihat dari sikap masyarakat yang tidak mengganggu aktivitas ngunjung satu sama lain. Selain itu, nilai integritas juga terjalin dalam tradisi ini. Sutikno et al. mendefinisikan integritas sebagai kesatuan antara pola pikir, perasaan, ucapan, dan tindakan yang selaras dengan hati nurani serta norma yang berlaku. Dalam konteks ngunjung, integritas tampak dalam perilaku masyarakat Kedokanbunder yang sopan kepada para pengunjung dan bertanggung jawab untuk memastikan kelancaran setiap Terakhir, nilai gotong royong juga menjadi bagian penting dari tradisi Rahman dalam Wiediharto et al. menjelaskan bahwa gotong royong adalah bentuk kolaborasi sukarela antara individu maupun kelompok, bertujuan untuk memudahkan setiap kegiatan. Hidayat dan Supriatna . menambahkan bahwa gotong royong mencerminkan partisipasi aktif masyarakat dalam menyelesaikan masalah demi kebaikan bersama. Dengan demikian, nilai gotong royong dalam tradisi ngunjung adalah sebuah bentuk kolaborasi yang memudahkan dan meringankan beban tantangan yang dihadapi. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa tradisi ngunjung buyut masih dipelihara dan dilaksanakan secara rutin oleh masyarakat di Indramayu, khususnya di Desa Kedokanbunder. Kecamatan Kedokanbunder. Tradisi ini tidak hanya memiliki nilai sosial dan budaya yang tinggi, tetapi juga diyakini oleh masyarakat KUSUMA: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat E-ISSN 3089-2805 Vol. No. Tahun 2024 | Hal. 25 Ae 33 https://ojs. id/index. php/kjpkm/index dapat memberikan pengaruh positif dari kehadiran leluhur dalam kehidupan mereka. Selain sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, ngunjung buyut berperan sebagai sarana untuk melestarikan nilai-nilai tradisional dan mempererat hubungan antar anggota keluarga. Meskipun modernisasi telah membawa banyak perubahan, masyarakat Desa Kedokanbunder tetap menjaga tradisi ngunjung buyut sebagai bagian integral dari identitas budaya dan warisan mereka. Kisah tradisi ngunjung di Kedokanbunder pun memiliki cerita unik yang memuat latar belakang tradisi tersebut. Tradisi ini bermula ketika seorang bangsawan dimakamkan di Desa Kedokanbunder dan mendorong masyarakat untuk menyelenggarakan selametan. Bangsawan tersebut adalah Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten, istri kedua Sunan Gunung Jati. Tradisi ini melibatkan serangkaian kegiatan tahunan, seperti sedekah bumi, prosesi, pertunjukan tari topeng, wayang, dan tahlil . oa untuk arwah para leluhu. Ngunjung buyut di Desa Kedokanbunder mencerminkan nilai-nilai kearifan lokal, termasuk religiositas, toleransi, integritas, dan gotong royong di dalam masyarakat setempat. DAFTAR PUSTAKA