e-ISSN: 2540-8348 p-ISSN: 2088-3390 Syarifan Nurjan, dkk. Analisis Teoritik: Kecenderungan ANALISIS TEORITIK KECENDERUNGAN PERILAKU DELINKUENSI REMAJA DI SEKOLAH/MADRASAH Syarifan Nurjan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Ponorogo syarifan_flo@yahoo. Azid Syukroni Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Ponorogo Edy Kurniawan Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Ponorogo edy@umpo. Maryono Alumnus Prodi Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta maryoahmada@gmail. Abstract Adolescent delinquency behavior begins with a transitional period or a transition period from childhood to adulthood, which undergoes various changes, namely biological, cognitive and social. Vulnerable adolescent age. early adolescence at 1215 years, middle adolescence at 16-18 years, and late adolescence at 19-21 years. Adolescent psychosocial development depends on family, peer, and school contexts that produce identity, independence, friendship, sexuality, and achievement. Adolescent delinquency is bad behavior that is a symptom of illness . socially caused by social neglect so that adolescents develop a form of deviant Juvenile delinquency refers to a wide range of socially unacceptable status offenses to criminal acts. Theoretical analysis of juvenile delinquency in schools/madrasahs are . the theory of adolescent behavior, . the theory of adolescent change, . the theory of juvenile delinquency which discusses the forms and factors of juvenile delinquency behavior, . meta-analysis of juvenile delinquency behavior, and ( . social ties as a factor in juvenile delinquency behavior. Keywords: Theoretical analysis, delinquency behavior, school/madrasahs PENDAHULUAN Masa remaja adalah masa unik yang merupakan masa transisi atau masa peralihan dari masa anak menuju masa dewasa. Masa ini individu mengalami berbagai perubahan, yaitu perubahan fisik maupun psikis. Perubahan fisik, di mana tubuh berkembangan pesat sehingga mencapai bentuk tubuh orang dewasa yang disertai dengan perkembangan kapasitas reproduktif. Perubahan psikis MUADDIB: Studi Kependidikan dan Keislaman. Vol. 12 No. 02 Juli-Desember 2022 e-ISSN: 2540-8348 p-ISSN: 2088-3390 Syarifan Nurjan, dkk. Analisis Teoritik: Kecenderungan diantaranya perubahan secara kognitif. mulai mampu berfikir abstrak seperti orang dewasa (Agustiani, 2. Perubahan yang terjadi dalam diri remaja, terdapat pula perubahan dalam lingkungan sebagai reaksi terhadap pertumbuhan dengan menampilkan tingkah laku yang dianggap pantas. Berbagai perubahan yang dialami remaja, membuat kebutuhan kebutuhan remaja semakin meningkat terutama kebutuhan sosial dan psikologisnya (Arifin, 2021. Santoso et al. , 2. Kebutuhan-kebutuhan tersebut memperluas lingkungan sosialnya seperti lingkungan teman sebaya dan masyarakat lainnya. Masa remaja dibagi menjadi tiga bagian (Steinberg, 2. , yaitu: . masa remaja awal . , yang mana individu mulai meninggalkan peran sebagai anak-anak dan berusaha mengembangkan diri sebagai individu yang unik, . masa remaja pertengahan . , yang ditandai dengan berkembangnya kemampuan berfikir yang baru, . masa remaja akhir . , yang ditandai oleh persiapan akhir untuk memasuki peran-peran orang dewasa yang dikenal sense of personal Proses perubahan dan interaksi antara beberapa aspek pada masa remaja yaitu perubahan fisik, perubahan emosionalitas, perubahan kognitif, dan implikasi psikososial yang mengurai lima hal, yaitu identity . engemukakan siapa diri sebagai individ. , autonomy . enetapkan rasa nyaman dan ketidak tergantunga. , intimacy . embentuk relasi dekan dengan orang lain, sexuality . engekspresikan perasaan senang jika kontak fisik dengan orang lain, dan achievement . endapatkan keberhasilan sebagai anggota masyaraka. (Hurlock, 1973. Lerner & Hultsch, 1. METODE Artikel ini menggunakan metode content analysis dengan pendekatan konvensional terhadap teori-teori yang berhubungan dengan perilaku delinkuensi (Hsieh & Shannon, 2. Content analysis merupakan alat penelitian yang digunakan dalam menentukan keberadaan kata, tema, atau konsep tertentu dalam beberapa data kualitatif (Cavanagh, 1. Melalui content analysis ini peneliti MUADDIB: Studi Kependidikan dan Keislaman. Vol. 12 No. 02 Juli-Desember 2022 e-ISSN: 2540-8348 p-ISSN: 2088-3390 Syarifan Nurjan, dkk. Analisis Teoritik: Kecenderungan mengukur dan menganalisas konsep-konsep perilaku delinkuensi remaja. Data yang digunakan dalam konten analisis berupa teks yang berhubungan dengan tema perilaku delinkuensi remaja. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Teoritik Perilaku Delinkuensi Teori Perilaku Remaja Teori perilaku membicarakan berbagai reaksi yang bersifat sederhana maupun bersifat kompleks pada remaja sebagai akibat dari stimulus, baik stimulus eksternal maupun internal. Reaksi perilaku remaja memiliki karakteristik yang menarik bersifat diferensial yaitu satu stimulus dapat menimbulkan lebih dari satu respons yang berbeda dan seterusnya. Ilustrasi stimulus respon dapat digambarkan pada gambar 1. (I) Gambar 1. Ilustrasi Stimulus dan Respon Ilustrasi di atas. S1. S2. S3. S4. S5 melambangkan bentuk stimulus lingkungan yang diterima oleh (I) yaitu remaja yang menimbulkan respons yang dilambangkan oleh R1. R2. R3. R4. R5. Respons R 4 dapat saja timbul dikarenakan stimulus S2 ataupun S5 dan stimulus S4 dapat saja menimbulkan respons R1 ataupun R4 dan seterusnya. Prediksi perilaku bisa dilakukan dengan memberikan dasar teoritik kuat melalui penyederhanaan model hubungan antar variabel-variabel penyebab perilaku dengan satu bentuk perilaku tertentu yang lebih memudahkan pemahamam (Azwar, 2. Rumusan suatu model hubungan perilaku oleh Kurt Lewin (Azwar, 2. mengatakan bahwa perilaku (B) adalah fungsi karakteristik individu (P) meliputi berbagai variabel seperti MUADDIB: Studi Kependidikan dan Keislaman. Vol. 12 No. 02 Juli-Desember 2022 e-ISSN: 2540-8348 p-ISSN: 2088-3390 Syarifan Nurjan, dkk. Analisis Teoritik: Kecenderungan motif, nilai-nilai, sifat kepribadian, dan sikap yang saling berinteraksi satu sama lain dan berinteraksi pula dengan faktor-faktor lingkungan dalam menentukan perilaku dan lingkungan (E), sehingga membentuk rumusan yaitu B= f (P. E). Studi ilmiah mengenai respons perilaku yang teramati serta diterminan-diterminan lingkungan oleh B. Skinner (Skinner, 1. menggambarkan bahwa pikiran, kesadaran atau ketidaksadaran, tidak dibutuhkan untuk menjelaskan perilaku dan perkembangan. Behaviorisme Skinner mengurai bahwa perkembangan adalah perilaku. Jeffrey Jensen Amett (Arnett, 1. menjelaskan bahwa perkembangan merupakan hasil belajar dan sering kali berubah seiring dengan pemerolehan pengalaman di lingkungan, dan modifikasi lingkungan dapat mengubah Albert Bandura (Bandura, 1. dengan teori kognitif sosial . ocial cognitive theor. menyatakan bahwa perilaku, lingkungan dan kognisi merupakan faktor-faktor penting dalam perkembangan seperti keyakinan, perencanaan dan berfikir dapat berinteraksi secara timbal balik yang kemudian teori ini berkembang dengan istilah teori pembelajaran sosial kognitif . ognitive social learning theor. yang meliputi self efficacy, self identity, dan self control. Urie Bronfenbrenner dengan teori kontekstual ekologis . cological contextual theor. menyatakan bahwa pengaruh lingkungan merupakan tekanan penting terhadap perkembangan perilaku remaja, yang mengidentifikasi lima lingkungan, yang berkisar dari interaksi langsung dengan agen-agen sosial sampai pada input budaya yang luas. Lima sistem tersebut adalah mikrosistem, mesosistem, ekosistem, makrosistem dan kronosistem. (Bronfenbrenner, 1. Kesimpulan sederhana teori perilaku remaja adalah reaksi respons remaja terhadap berbagai stimulus yang diterima olehnya baik stimulus eksternal maupun stimulus internal. Stimulus eksternal berasal dari lingkungan remaja. lingkungan keluarga, lingkungan sekolah/pesantren, lingkungan teman sebaya, dan media yang mempengaruhi banyak perilaku remaja. Stimulus internal dari berbagai self. self efficacy, self identity, dan self control. MUADDIB: Studi Kependidikan dan Keislaman. Vol. 12 No. 02 Juli-Desember 2022 e-ISSN: 2540-8348 p-ISSN: 2088-3390 Syarifan Nurjan, dkk. Analisis Teoritik: Kecenderungan Aspek Perubahan Remaja Proses perubahan dan interaksi antara beberapa aspek selama masa remaja sebagai berikut: Perubahan Fisik Perubahan fisik yang dialami remaja sangat jelas berlangsung pada masa pubertas, yaitu sekitar umur 11-15 tahun pada wanita dan 12-16 tahun pada pria (Nurjan et al. , 2. Hormonhormon diproduksi oleh kelenjer endokrin, dan membawa perubahan dalam seks primer serta memunculkan ciri-ciri seks sekunder. Gejala ini memberi isyarat bahwa fungsi reproduksi atau kemampuan untuk menghasilkan keturunan sudah mulai bekerja, berkonsekuensi mulai adanya perubahan seperti orang dewasa. Perubahan Emosional Perubahan emosionalitas pada remaja sebagai akibat dari perubahan fisik dan hormonal, dan pengaruh lingkungan yang terkait perubahan fisik. Keseimbangan hormonal yang baru menyebabkan individu merasakan hal-hal yang belum pernah dirasakan sebelumnya (Syam et , 2. Keterbatasan secara kognitif mengolah perubahan-perubahan baru ke perubahan besar dalam fluktuasi emosi, dengan kombinasi pengaruh-pengaruh sosial seperti tekanan dari teman sebaya, media masa, minat pada jenis seks, terorientasi secara seksual dan lain Perubahan Kognitif Perubahan kognitif menurut Piaget (Nurjan, 2. bahwa perubahan kognitif atau perubahan dalam kemampuan berfikir sebagai tahap akhir yang disebut tahap formal operation dalam perkembangan kognitifnya. Kemampuan berfikir ini memungkinkan individu remaja untuk berfikir secara abstrak, hipotesis dan kontrafaktual, yang pada gilirannya kemudian memberikan peluang untuk mengimajinasikan kemungkinan lain. Imajinasi ini terkait pada kondisi masyarakat, diri sendiri, aturan-aturan orang tua, atau apa yang akan dilakukan dalam MUADDIB: Studi Kependidikan dan Keislaman. Vol. 12 No. 02 Juli-Desember 2022 e-ISSN: 2540-8348 p-ISSN: 2088-3390 Syarifan Nurjan, dkk. Analisis Teoritik: Kecenderungan Implikasi Psikososial Perubahan-perubahan yang dialami remaja seringkali mengalami dilemma identitas diri, yang berupa perasaan tertentu yang berada dalam situasi krisis yang membutuhkan jawaban yang tepat tentang siapa sebenarnya dirinya. Menurut Erikson (Suparman et al. , 2. bahwa seorang remaja bukan sekedar mempertanyakan siapa dirinya, tapi bagaimana dan dalam konteks atau kelompok apa dia bisa menjadi bermakna atau dimaknakan. Disinilah adanya implikasi psikososial yaitu identity, autonomy, intimacy, sexuality dan achievement. Teori Delinkuensi Remaja Pengertian Delinkuensi Remaja Delinkuensi remaja berasal dari kata delinkuensi atau delinquent berasal dari bahasa latin AudelinquereAy yang berarti terabaikan, mengabaikan, yang kemudian diperluas artinya menjadi jahat, nakal, anti sosial, kriminal, pelanggar aturan, pembuat ribut, pengacau, peneror, durjana, dan lain sebagainya. Remaja biasa disebut juvenile berasal dari bahasa latin juvenilis yang artinya anak muda, ciri karakteristik pada masa muda, atau sifat-sifat khas pada periode remaja. Delinkuensi remaja atau juvenile delinquency atau kenakalan remaja adalah perilaku jahat atau kenakalan yang merupakan gejala sakit . secara sosial pada remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial, sehingga remaja mengembangkan bentuk perilaku menyimpang. Kartono menyatakan bahwa kenakalan remaja mengacu pada satu rentang yang luas, dari tingkah laku yang tidak dapat diterima sosial sampai pelanggaran status hingga tindak kriminal (Kartono, 1. tingkah laku yang menyimpang dari norma-norma hukum pidana (Santrock, 2007, 2. Bentuk dan Faktor Perilaku Delinkuensi Remaja Bentuk-bentuk perilaku delinkuensi remaja yang dikembangkan oleh K Kartono (Kartono, 2. dibagi menjadi empat, adalah delinkuensi terisolir, delinkuensi neurotik, delinkuensi psikopatik, dan delinkuensi defek moral yang disfungsi pada inteligensi. Faktor MUADDIB: Studi Kependidikan dan Keislaman. Vol. 12 No. 02 Juli-Desember 2022 e-ISSN: 2540-8348 p-ISSN: 2088-3390 Syarifan Nurjan, dkk. Analisis Teoritik: Kecenderungan perilaku delinkuensi remaja yang dikembangkan oleh Jhon W. Santrock (Santrock, 2. adalah identitas, kontrol diri, usia, jenis kelamin, harapan terhadap pendidikan dan nilai-nilai di sekolah, proses keluarga, pengaruh teman sebaya, kelas sosial ekonomi, kualitas lingkungan tempat tinggal. Meta Analisis Perilaku Delinkuensi Remaja Hasil penelitian sejumlah 89 jurnal yang memiliki karakteristik. penelitian delinkuensi remaja, faktor internal dan eksternal . remaja yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan teman sebaya, dan media sejumlah 41 jurnal, . penelitian delinkuensi remaja dan kontrol psikososial . ang berangkat dari teori kontrol diri, kontrol sosial, dan kontrol psikososia. sejumlah 21 jurnal, dan . penelitian religiusitas . eligiusitas keluarga, religiusitas persahabatan, kontrol diri dan konsep dir. sejumlah 27 jurnal (Nurjan et al. , 2. Perilaku delinkuensi remaja merupakan proses perkembangan remaja yang bisa didekati dengan pendekatan psikososial. Psikososial mengurai diri remaja dan lingkungannya sebagai Melemah dan menguatnya kontrol diasumsikan sebagai faktor kecenderungan remaja berperilaku delinkuensi. Mediasi kontrol psikososial bisa mengontrol perilaku delinkuensi remaja di mana berada. Kecenderungan perilaku delinkuensi remaja dalam beberapa penelitian di jurnal dengan meta-analisis lebih mengarah pada perilaku delinkuensi disebabkan kriminalitas, ini disebabkan kurangnya perhatian lingkungan keluarga, sekolah, dan dipengaruhi berbagai faktor-faktor internal yang menjadi budaya komunitas masyarakat remaja. Hasil meta-analisispu mengurai melalui media kontrol psikososial, perilaku delinkuensi remaja dipengaruhi faktor internal remaja berupa kontrol diri dan konsep diri, serta lingkungannya yaitu religiusitas sekolah, religiusitas keluarga, dan religiusitas pertemanan (Nurjan, 2. Ikatan Sosial Sebagai Faktor Perilaku Delinkuensi Remaja MUADDIB: Studi Kependidikan dan Keislaman. Vol. 12 No. 02 Juli-Desember 2022 e-ISSN: 2540-8348 p-ISSN: 2088-3390 Syarifan Nurjan, dkk. Analisis Teoritik: Kecenderungan Ciri masyarakat Indonesia yang sebagian besar remaja tinggal menurut Sarlito (Nurjan, 2. adalah masyarakat transisi yang dinamakan modenizing society. Masyarakat seperti ini berbeda dari traditional oriented society . asyarakat tradisiona. dan modern society . asyarakat moder. yaitu ingin mencoba membebaskan diri dari nilai-nilai masa lalu dan menggapai masa depan dengan terus menerus membuat nilai-nilai baru. Emile Durkheim (Nurjan, 2. mengungkapkan bahwa masyarakat transisi akan membawa individu kepada keadaan anomie adalah normalesness, yaitu suatu sistem sosial berupa tidak ada petunjuk atau pedoman untuk tingkah laku. Kondisi ini tidak hanya berlaku bagi masyarakat dewasa, tetapi juga bagi remaja. Merton (Nurjan, 2. mengungkapkan bahwa anomie juga menunjukkan kepada remaja yang ambivalent . idak jelas nilai yang dianutny. dan ambigious . idak jelas bentuk perilaku/kelakuanny. Tiga cara pandang terhadap delinkuensi remaja, seperti yang diungkapkan oleh Paulus (Nurjan, 2. , yaitu . teori motivasi . train theor. yang lebih menekankan pada pertanyaan dasar ialah mengapa seseorang melakukan perilaku delinkuensi . , . teori subkultural delinkuensi . ub-cultural delinqune. yang timbul karena perilaku delinkuensi menyesuaikan diri dengan seperangkat ukuran perilaku yang tidak dapat diterima oleh kelompok pemegang kekuasaan di masyarakat, . teori kontrol sosial oleh Travis Hirschi (Nurjan, 2. menyatakan bahwa individu di masyarakat yang sama, yakni menjadi AubaikAy atau AujahatAy , baikjahatnya seseorang sepenuhnya bergantung pada ikatan sosial yang kuat dengan masyarakatnya termasuk di sekolah/madrasah. Teori ikatan sosial ini memiliki unsur-unsur yaitu attachment . nternalisasi norma-norma masyaraka. , commitment . erhitungan untung rugi keterlibatan remaja dalam perilaku menyimpang, involvement . kut aktif dalam kegiatan masyaraka. , dan beliefs . ituasi keanekaragaman penghayatan kaidah-kaidah masyarakat. Rasionalisasi perilaku remaja, cenderung menetralisasikan segala perilaku delinkuensi atau perilaku menyimpang. MUADDIB: Studi Kependidikan dan Keislaman. Vol. 12 No. 02 Juli-Desember 2022 e-ISSN: 2540-8348 p-ISSN: 2088-3390 Syarifan Nurjan, dkk. Analisis Teoritik: Kecenderungan PENUTUP Remaja mengalami perubahan yang signifikan dengan ditandainya perubahan fisik, emosional, kognitif dan implikasi psikososial. Analisis teoritik perilaku delinkuensi remaja mengurai teori perilaku remaja, teori perubahan remaja, teori delinkuensi remaja. Membahas bentuk dan faktor perilaku delinkuensi remaja, meta analisis perilaku delinkuensi remaja, dan ikatan sosial seperti sekolah/madrasah, keluarga dan masyarakat sebagai faktor perilaku delinkuensi remaja. Perilaku delinkuensi remaja mengungkapkan bahwa ikatan sosial cenderung menetralisasikan segala perilaku delinkuensi atau perilaku menyimpang. Perilaku menyimpang dinilai dari unsur attachment, commitment , involvement, dan beliefs. Unsur-unsur ikatan social tersebut dapat menjadi pengendali perilaku menyimpang remaja. DAFTAR PUSTAKA