JURNAL AUDIENS Vol. No. Halaman: 210 Ae 220 https://doi. org/10. 18196/jas. Menelisik Komunikasi Interpersonal dalam Mewujudkan Ketahanan Masyarakat Nelayan di Teluk Nibung Kota Tanjung Balai Astri Rama Fitriani Program Studi Ilmu Komunikasi. Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Medan. Indoenesia astryputri909090@gmail. Sigit Hardiyanto Program Studi Ilmu Komunikasi. Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Medan. Indoenesia *) Corresponding author: sigithardianto@umsu. Diajukan: 15 April 2026. Direvisi: 16 Mei 2026. Diterima: 3 Juni 2026 Abstract Based on the researcher's observations, the problems experienced by the fishing community in Gudang Haji Daham. Teluk Nibung are quite diverse, ranging from economic, educational and skills fields, especially how fishermen explore and contribute to building community resilience, as well as its impact on their socio-economic resilience. Based on these problems, the purpose of this study seeks to provide a concrete description of the interpersonal communication process that occurs in the fishing community of Teluk Nibung District to realize social and economic resilience amidst the challenges of coastal life. The method used in this study is descriptive qualitative to provide an overview of interpersonal communication of fishermen in realizing fishermen's resilience in Teluk Nibung. Tanjung Balai City. Data collection techniques used in the study were interviews structured by preparing a draft of questions that have been prepared, observation and Data analysis techniques used include data reduction, data presentation and drawing conclusions. Based on the results of the study, communication carried out by the fishing community in everyday conversations is an open interpersonal communication technique. Fishermen not only share information, but also show concern for each other by providing moral, financial, and labour assistance in difficult The culture of mutual cooperation that they practice proves that interpersonal communication based on empathy can create closer relationships, not only as co-workers, but also as a family that looks after each other. Keywords: Communication patterns. Community resilience. Fishermen. Interpersonal communication Abstrak Berdasarkan observasi peneliti, masalah yang dialami oleh masyarakat nelayan di Gudang Haji Daham. Teluk Nibung cukup beragam, dari segi ekonomi, pendidikan dan keterampilan terutama cara nelayan mengeksplorasi dan berkontribusi dalam membangun ketahanan masyarakat, serta dampaknya terhadap ketahanan sosial-ekonomi mereka. Berdasarkan permasalahan tersebut, tujuan penelitian ini berupaya untuk memberikan gambaran secara konkrit tentang proses komunikasi antarpersonal yang terjadi di masyarakat Nelayan Kecamatan Teluk Nibung untuk mewujudkan ketahanan sosial dan ekonomi ditengah tantangan kehidupan pesisir. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif untuk memberikan gambaran tentang komunikasi interpersonal nelayan dalam mewujudkan ketahanan masyarakat nelayan di Teluk Nibung Kota Tanjung Balai. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian adalah wawancara terstruktur dengan mempersiapkan draft pertanyaan yang telah disusun, observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan meliputi reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, komunikasi yang dilakukan oleh masyarakat nelayan dalam percakapan sehari-hari merupakan teknik komunikasi interpersonal yang terbuka. Nelayan tidak hanya berbagi informasi, tetapi juga menunjukkan kepedulian satu sama lain dengan memberikan bantuan moral, finansial, serta tenaga dalam situasi sulit. Budaya gotong royong yang mereka lakukan membuktikan bahwa komunikasi interpersonal yang dilandasi oleh rasa empati dapat menciptakan hubungan yang lebih erat, bukan hanya sebagai rekan kerja, tetapi juga sebagai keluarga yang saling menjaga. Kata kunci: Ketahanan komunitas. Komunikasi interpersonal. Nelayan. Pola komunikasi Copyright A . Jurnal Audiens This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International (CC BY-SA) PENDAHULUAN Masyarakat nelayan merupakan kelompok yang kehidupannya bergantung pada hasil tangkapan laut dikarenakan kehidupan mereka banyak dihabiskan di daerah pesisir yang menjadi tempat tinggal sekaligus tempat mata pencaharian. Ketergantungan mereka terhadap sumber daya laut membuat kehidupan sehari-hari masyarakat nelayan sangat bergantung pada pemanfaatan sumber daya kelautan dan pesisir untuk kehidupanya. Ketergantungan dapat dilihat adanya bantuan-bantuan kepada nelayan berupa sarana dan prasarana seperti tempat pendaratan ikan, kapal dan alat tangkap (Rahayu. Hendri, & Nugroho, 2. Sumber daya laut tersebut antara lain adalah flora dan fauna yang menjadi tempat budidaya masyarakat dalam mempertahankan jumlah sumber daya setempat. Selain itu, ketergantungan ini membuat kehidupan sehari-hari masyarakat nelayan sering kali dipengaruhi oleh kondisi alam dan faktor eksternal lainnya. Wilayah pesisir Sumatera Utara menawarkan lingkungan yang beragam yang mendukung kehidupan dan tumbuhan laut serta stok ikan yang melimpah. Ekosistem ini merupakan rumah bagi berbagai jenis ikan dan kehidupan laut serta mendukung kegiatan ekonomi masyarakat setempat. Meskipun potensinya sangat besar, sektor perikanan Sumatera Utara menghadapi beberapa tantangan termasuk penangkapan ikan yang berlebihan, polusi laut, dan perubahan iklim, yang semuanya dapat memengaruhi ekosistem laut (Ismail, 2. Kota Tanjung Balai adalah daerah penghasil ikan terbesar di Provinsi Sumatera Utara yang mengekspor hasil tangkapannya hingga ke luar negeri. Salah satu daerah penghasil ikan terbesar di Tanjung Balai berada di Teluk Nibung yang memiliki ketersediaan bahan baku ikan segar dari berbagai jenis dan ukuran, baik yang bernilai ekonomis maupun non ekonomis yang jumlahnya sangat melimpah sehingga ada banyak potensi kekayaan laut yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan penduduk. Meski hasil tangkapan lautnya melimpah pada waktu tertentu, ketidakpastian dalam ketersediaan sumber daya laut kerap menjadi ancaman bagi stabilitas penghidupan masyarakat nelayan. Misalnya seperti kemiskinan, perubahan iklim yang membuat hasil tangkapan berkurang. Dalam menghadapi situasi ini, komunikasi interpersonal memiliki peran yang signifikan. Melalui komunikasi interpersonal yang baik, nelayan dapat membangun solidaritas, koordinasi, dan kerja sama tim untuk memaksimalkan hasil tangkapan, bahkan dalam kondisi sulit. Tantangan-tantangan ini mempengaruhi kemampuan masyarakat nelayan untuk bertahan dan beradaptasi. Potensi sosio-ekonomi masyarakat nelayan berdasarkan strategi ketahanan masyarakat dapat menjadi landasan yang kokoh untuk mencapai ketahanan masyarakat jangka panjang, khususnya dalam hal pengelolaan tangkapan (Jalil. Jers. Ashmarita. Alias, & Rahman, 2. Idealnya kualitas kesejahteraan dan ketahanan masyarakat dapat dilihat sejauhmana masyarakat mendapatkan kesetaraan ekonomi (Yoga, 2. Untuk mweujudkan kesetaran ekonomi diperlukan penguatan solidaritas dan kerjasama yang dilakukan guna pemenuhan hidup dalam rangka mencapai ketahanan ekonomi masyarakat. Kehadiran komunikasi antarpersonal dilakukan untuk memperkuat solidaritas akan ketergantungan kerjasama tidak hanya mendukung proses pengambilan keputusan melainkan juga meningkatkan efisiensi kerja dalam kegiatan operasional (Pical & Anaktototy, 2. Berdasarkan observasi peneliti, masalah yang dihadapi oleh nelayan di Teluk Nibung cukup beragam, dari segi ekonomi mayoritas nelayan harus menghadapi kerugian pada hasil tangkapan ikan yang melebihi ekspektasi dan harga ikan yang berfluktuasi pada musim tertentu terutama faktor cuaca yang buruk. Harga ikan seringkali turun di bawah harga pasar karena ketidakseimbangan kuantitas pasokan dan permintaan di antara konsumen tertentu. Dari sisi pendidikan, rendahnya tingkat pendidikan masyarakat nelayan ditambah dengan kondisi ekonomi yang lemah membuat mereka kesulitan dalam memberikan pendidikan yang layak untuk anak-anaknya. Kendala ini tidak hanya dalam hal ekonomi melainkan pemikiran mereka tentang pendidikan membutuhkan waktu yang lama serta biaya yang cukup besar dalam melaksanakannya. Faktor yang berpengaruh partisipasi pendidikan masyarakat nelayan diantaranya pendapatan yang rendah, usia dan jumlah tanggungan keluarga yang menyebabkan tingginya angka putus sekolah (Santi. Nurhayati. Apriliani, & Rizal, 2. Dilain sisi, mereka tidak mengetahui bahwa tingkat pendidikan mempengaruhi kehidupan mereka. Selain itu, keterampilan yang dimiliki nelayan cukup terbatas, terutama pada teknik penangkapan Keberadaan nelayan Indonesia pada masa saat ini, masih dikategorikan nelayan tradisional yang mempunyai produktivas rendahnya mutu SDM pada pengelolaan hasil tangkap ikan dari laut. Penyebab dari permasalahan tersebut disebabkan oleh rendahnya tingkat kualitas kemampuan pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat nelayan. Pendapatan yang diterima oleh nelayan ditentukan oleh pengalaman, usia dan tingkat pendidikan melalui cara berfikir dan menerima inovasi dengan baik (Sibagariang et al. Berdasarkan latar belakang di atas, penulis tertarik untuk mendalami lebih dalam pola komunikasi interpersonal dalam mewujudkan ketahanan masyarakat nelayan di Teluk Nibung Kota Tanjung Balai. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran tentang proses komunikasi antarpersonal yang terjadi di masyarakat Nelayan Kecamatan Teluk Nibung untuk mewujudkan ketahanan sosial dan ekonomi ditengah tantangan kehidupan pesisir. Penelitian ini juga telah berusaha mengungkapkan fenomena komunikasi antaranggota nelayan dalam menciptakan solidaritas, kerjasama serta kemampuan masyarakat dalam menghadapi tekanan ekonomi dan perubahan lingkungan. Dengan demikian, penelitian ini diyakini akan membantu untuk lebih memahami dinamika komunikasi interpersonal yang dilakukan oleh nelayan dalam memberikan perspektif baru untuk mewujudkan ketahanan masyarakat. KAJIAN PUSTAKA Setiap manusia tidak dapat menyangkal bahwa setiap hari memulai aktivitas komunikasi antarpersonal dengan keluarga, teman-teman di lingkungan sekolah atau tempat kerja (Liliweri, 2. Dalam berkomunikasi antarpersonal, setiap orang selalu berusaha membuat orang lain merasa nyaman. Sadar atau tidak sadar, ternyata dengan komunikasi antarpersonal kita membuat sesuatu yang tidak hanya menguntungkan diri sendiri tetapi juga menguntungkan orang lain seperti terciptanya suasana kebatinan yang tenang dan menyenangkan, misalnya komunikasi antarpersonal yang dilakukan oleh nelayan di Teluk Nibung Kecamatan Tanjung Balai menjadikan subjek utama dalam aktivitas mereka. Secara umum, komunikasi antarpersonal memiliki fungsi untuk meningkatkan hubungan antarmanusia, mengurangi potensi konflik antarorang dan berbagi pengetahuan ataupun pengalaman dengan orang lain. Komunikasi interpersonal memiliki peluang untuk meningkatkan hubungan antarpersonal antara pihak yang melakukan komunikasi antarpersonal. Dengan adanya komunikasi antarpersonal, manusia dapat membina hubungan yang baik sehingga mengurangi resiko konflik yang mungkin terjadi antarpihak tertentu (Ruliana, 2. Dapat diketahui bahwa komunikasi interpersonal memiliki banyak fungsi sesuai dengan tujuan pengirim dan penerima informasi. Komunikasi antarpersonal pada dasarnya berfungsi menyampaikan informasi yang umpan baliknya dapat langsung diterima saat komunikasi antarpersonal Komunikasi antarpersonal pada dasarnya komunikasi yang dilakukan antara dua orang dan bersifat privat dan ekslusif, identic dengan komunikasi secara tatap muka . ace to fac. Pada dasarnya yang menyebabkan seseorang atau manusia itu melakukan komunikasi adalah untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan kebutuhannya untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Komunikasi antarpersonal adalah komunikasi yang dilakukan dalam suatu hubungan interpersonal antara dua orang atau lebih baik secara verbal maupun non-verbal dengan tujuan untuk membangun/ mencapai kesamaan Dalam perspektif humanistik, komunikasi interpersonal dikaitkan dengan beberapa keterbukaan, sikap empati, sikap mendukung . , sikap positif dan kesetaraan. Pertama keterbukaan, menurut sudut pandang humanistik, proses komunikasi interpersonal harus menjadi proses yang efektif dimana seseorang individu harus terbuka terhadap individu lain yang diajak berkomunikasi. Kedua belah pihak harus memiliki kesediaan dalam membuka diri dan memberikan informasi. Dengan adanya keterbukaan antara kedua pihak, maka komunikasi interpersonal dapat berlangsung lebih efektif. Dengan tidak adanya hal yang ditutupi oleh tiap individu, maka pesan dalam komunikasi dapat tersampaikan secara utuh. Kedua sikap empati dapat didefenisikan sebagai kemampuan manusia dalam menempatkan diri pada posisi manusia lainnya. Memiliki empati artinya individu harus mampu memahami apa saja yang dirasakan oleh orang lain baik secara emosional maupun intelektual. Dengan adanya kemampuan empati dari kedua belah pihak, sistem komunikasi interpersonal dapat berjalan secara efektif dimana pesan dalam komunikasi dapat tersampaikan dengan baik. Sikap empati dibutuhkan agar kita dapat memahami apa yang dialami orang lain sehingga kita dapat memunculkan sikap percaya kepada orang Ketiga sikap mendukung juga sangat penting untuk menciptakan komunikasi interpersonal yang efektif, baik pembawa . dan penerima informasi . harus memberikan sifat mendukung terhadap isi pesan yang disampaikan. Individu seharusnya mengurangi sifat-sifat menentang informasi karena alasan persoalan seperti kecemasan, ketakutan dan hal lainnya. Penentangan yang dilakukan oleh salah satu atau kedua belah pihak dapat menggagalkan tujuan komunikasi interpersonal. Penentangan akan membuat individu memahami isi informasi yang diberikan maka hal itu menjadi salah satu sikap mendukung wajib yang dimiliki pelaku komunikasi interpersonal ketika terjadi kasus tersebut. Sikap mendukung antarindividu dapat mengurangi tingkat penetangan yang diakibatkan alasan personal. Sikap mendukung wajib dimiliki pihak yang melakukan komunikasi interpersonal agar komunikasi yang dilakukan berhasil. Dengan adanya kepercayaan, sikap saling mendukung dan sikap terbuka, maka komunikasi interpersonal akan lebih efektif. Hal ini didorong karena individu tersebut sudah padat saling mengerti, menghargai dan memiliki semangat untuk mengingatkan hubungan interpersonal antara kedua belah pihak. Ketiga perilaku inilah menjadi pendukung keberhasilan suatu sistem komunikasi interpersonal. Keempat sikap positif dalam perspektif humanistik, komunikasi interpersonal juga harus dilandasi oleh sikap positif antar kedua belah pihak . omunikator dan komunika. Pemberi dan penerima informasi harus memiliki pemikiran positif terhadap orang lain dan juga dirinya sendiri. Kelima sikap kesetaraan dalam komunikasi antarpersonal menjadi kunci untuk menciptakan komunikasi interpersonal yang efektif. Pihak yang memiliki sifat, pemikiran, nilai, dan kebiasaan yang sejalan cenderung dapat membangun komunikasi interpersonal yang lebih efektif (Ruliana, 2. Aktivitas komunikasi antarpersonal dapat dilihat bagaimana mereka membangun makna, kerjasama yang baik untuk menciptakan ketahanan ekonomi mereka. Komunikasi interpersonal berkaitan erat dengan empati dan dukungan sosial. Nelayan sering menghadapi ketidakamanan ekonomi dan risiko tinggi terhadap keselamatan mereka. Melalui komunikasi memusatkan empatik, mereka dapat memberikan dukungan emosional yang sangat berkontribusi dalam menjaga kesejahteraan psikologis dan moral mereka (Liliweri, 2. Percakapan atau conversation dianggap sebagai pembicaraan informal yang dilakukan sehari-hari dalam menentukan suatu hubungan yang berkelanjutan. Karena percakapan berlangsung dalam proses dua arah maka selalu melibatkan berbagai kontrol. Kompetensi komunikasi antarpersonal nelayan adalah kemampuan untuk berkomunikasi dalam cara yang diterima secara sosial. Hal ini disebabkan komunikasi antarpersonal melibatkan semua fikiran yang berbeda cara berkomunikasi individu, ide-ide, perasaan dan keinginan kepada orang lain atau sekelompok orang. Komunikasi interpersonal adalah cara untuk mengrim pesan kepada orang lain melalui gerak tubuh, kata-kata, postur dan ekspresi wajah (Liliweri. Mayoritas komunikasi interpersonal menggunakan pesan nonverbal misalnya kontak mata, nuansa vokal, kedekatan, gerak tubuh, postur, gaya berpakaian, dan ekspresi wajah. Mengingat bahwa orang bisa menafsirkan isyarat nonverbal yang berbeda, komunikasi bahkan tampak sederhana dengan orang lain dapat membuktikan sulit dikali. Joseph DeVito mengatakan bahwa komunikasi antarpersonal adalah proses penyampaian dan penerimaan pesan antara dua orang atau diantara seeklompok kecil orang dengan beberapa efek dan beberapa umpan balik seketika (Liliweri, 2. Konflik di komunitas nelayan tidak dapat dihindari, tetapi komunikasi aktif dapat berkontribusi pada penyelesaiannya. Melalui dialog terbuka dan saling pengertian, konflik dapat diredakan tanpa merusak kohesi sosial. Adanya kepercayaan penuh dan merasa senasib sepenanggungan sebagai dasar mewujudkan keharmonisan masyarakat nelayan (Arwan, 2. Ketahanan nelayan tidak hanya bergantung pada kondisi ekonomi dan lingkungan, tetapi juga pada kekuatan jaringan sosial yang dibangun melalui interaksi antarpribadi. Jaringan ini memberikan dukungan timbal balik dalam menghadapi kesulitan seperti kelaparan atau bencana. Oleh karena itu, komunikasi antarpribadi menawarkan kerangka analitis komprehensif untuk memahami bagaimana jaringan ini dapat memperkuat ketahanan komunitas nelayan. Komunikasi yang efektif yang lebih menekankan kepercayaan, berbagi pengetahuan, dan pembentukan aliansi yang kuat dengan cara membangun keterbukaan, keadilan, solidaritas untuk mencapai ketahanan secara kolektif. Dengan adanya komunikasi efektif dapat memperkuat saling percaya diri dan kebersamaan antar anggota (Putra. Putra, & Whidiandono, 2. METODE PENELITIAN Lokasi penelitian ini berada di Gudang Haji Daham. Kecamatan Teluk Nibung Kota Tanjung Balai. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif yang memaparkan situasi, kondisi dan kejadian tentang komunikasi interpersonal yang dilakukan oleh nelayan dalam mewujudkan ketahanan masyarakat nelayan di Teluk Nibung Kota Tanjung Balai. Dalam riset kualitatif, peneliti menggunakan cara berfikir induktif yang artinya peneliti membangun cara berfikir mulai dari hal yang khusus . akta empiri. menuju hal yang umum . ataran konse. (Kriyantono, 2. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara terstruktur dengan mempersiapkan beberapa pertanyaan yang telah disusun didalam pedoman wawancara berdasarkan komponen sistem komunikasi interpersonal dalam rangka membangun komunikasi interpersonal yang efektif meliputi keterbukaan, empati, sikap mendukung, sikap positif, kesetaraan dan dokumentasi kegiatan penelitian meliputi rekaman wawancara kepada subjek penelitian dan foto berlangsungnya kegiatan wawancara. Informan dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive mencakup penyeleksian nelayan berdasarkan kriteria seperti usia, pendidikan, dan pengalaman untuk mendukung tujuan penelitian mendeskripsikan temuan tentang komunikasi interpersonal dalam mewujudkan ketahanan masyarakat nelayan di Teluk Nibung Kota Tanjung Balai berdasarkan alasan ilmiah yang telah disusun didalam pedoman wawancara. Teknik analisis data yang dilakukan dengan cara reduksi data dengan cara memilah data yang pokok atau penting untuk menjawab rumusan masalah penelitian, penyajian data dengan cara menguraikan data secara naratif dan kesimpulan yang diambil dari hasil wawancara selama kegiatan penelitian dilapangan. HASIL DAN PEMBAHASAN Lokasi penelitian ini berada di Gudang Haji Daham tepatnya Jalan Sibaro. Perjuangan. Teluk Nibung. Nelayan disini masih menangkap ikan dengan menggunakan alat modern namun beberapa tetap ada yang menggunakan alat tangkapan tradisional. Lokasi gudang ikan menjadi tempat penyimpanan, pengolahan, serta transaksi ikan sebelum didistribusikan ke pasar lokal. Keberadaan gudang ini menjadi tempat nelayan dalam mendukung perekonomian masyarakat setempat. Aktivitas dalam gudang berlangsung sepanjang hari terutama ketika nelayan baru tiba dengan hasil tangkapan laut, dan aktivitas tersebut terjadi pada pagi hingga siang hari. Para nelayan dan tengkulak berinteraksi dalam proses bongkar muat ikan serta menyortir dan bernegosiasi terhadap harga pasar. Selain menjadi tempat distribusi, gudang ikan ini juga menjadi tempat bekerja masyarakat pesisir. Gudang Haji Daham telah beroperasi selama 35 tahun dengan jumlah nelayan sebanyak 30 orang dan pekerja gudang sebanyak 20 orang. Nelayan bisa memperoleh 1 sampai 2 ton ikan/bulan tergantung dari musim dan kondisi cuaca di laut. Para nelayan yang selesai berlayar biasanya langsung menepikan kapal dan membongkar muatan ikan dengan memilah jenis-jenis ikan yang ditangkap. Kemudian muatan ikan tersebut ditimbang lagi oleh pekerja gudang untuk dipasarkan kepada tengkulak yang sudah menunggu kedatangan nelayan untuk membeli ikan tersebut. Selain itu, aktivitas komunikasi sering mereka lakukan dengan berbagai pihak yang terlibat dalam industri perikanan antara lain nelayan, buruh gudang, tengkulak dan pedagang pasar. Setelah melakukan penelitian mengenai komunikasi interpersonal dalam mewujudkan ketahanan masyarakat nelayan di Teluk Nibung Kota Tanjung Balai, menghasilkan pembahasan yang menunjukkan bahwa komunikasi yang terjalin dapat mempererat hubungan antar nelayan. Kemampuan berkomunikasi merupakan bagian dari modal dasar dalam mengaktualisasikan aktivitas baik dalam diri maupun lingkungan (Hardiyanto et al. , 2. Berdasarkan pengertian komunikasi interpersonal menurut DeVito, komunikasi ini dapat menghubungkan individu secara langsung dengan meliputi kehidupan manusia sehingga terjadi interaksi di dalamnya. Komunikasi interpersonal yang dilakukan oleh nelayan dalam mewujudkan ketahanan masyarakat memiliki peran yang krusial dalam menjaga solidaritas dan kesejahteraan masyarakat nelayan. Dalam wawancara yang telah dilakukan, didapatkan bahwa nelayan menerapkan komunikasi yang saling terbuka dan mendukung. Hal ini sejalan dengan konsep komunikasi interpersonal menurut Devito. Kepercayaan yang dibangun melalui keterbukaan komunikasi dapat mendukung budaya kerja yang positif dan juga mencegah konflik destruktif antar individu (Febrianti. Ayumi. Panjaitan, & Manurung, 2024. Saragih. Sundari. Silalahi, & Siahaan, 2. Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan, bahwasanya pola komunikasi interpersonal masyarakat nelayan menggunakan perspektif teoritis Joseph A Devito yaitu keterbukaan, empati, dukungan, rasa positif dan kesetaraan. Dengan adanya komunikasi interpersonal, konteks komunikasi yang disampaikan secara verbal dan non-verbal memainkan peranan penting dalam membangun pengetahuan dan pemahaman, memperjelas konteks pesan dan interaksi interaksi yang lebih efektif (Firman & Hardiyanto, 2. Nelayan lebih terbuka dalam menyampaikan keluhan dan ide diantara mereka dibandingkan pemilik Komunikasi terbuka diantara nelayan mengarah pada percakapan tentang masalah yang mereka hadapi di laut, seperti kondisi cuaca, daerah penangkapan ikan, dan tantangan teknis lainnya. Pendekatan terbuka ini menunjukkan rasa kekeluargaan yang kuat, karena setiap nelayan bekerja sama untuk mencapai kesejahteraan kolektif. AuKita nih nelayan kalo saling berbagi informasi, kesejahteraan lebih terjamin. Misalnya, info lokasi ikan, cuaca buruk, atau harga ikan yang bagus di pasar lain. Tapi ya gitulah kadang ada juga yang nutupin info biar saingan nggak banyak. Kalau kita sama-sama berbagi informasi, jelas manfaatnya besar kali. Misalnya, kalau ada info soal cuaca buruk, kita bisa antisipasi dan biar nggak sampai rugi besar. Begitu pun sama lokasi tangkapan ikan, kalau ada yang udah nemu spot bagus, biasanya dikasih tahu ke yang lain biar nggak cuma satu dua orang yang dapat untung. Tapi ya, ada juga yang pilih tutup mulut supaya saingan berkurangAy (Wawancara Nelayan Teluk Nibung, 2. Komunikasi terbuka menjadi solusi dalam menyelesaikan konflik secara langsung agar tidak menjadi Jika terjadi kesalahpahaman atau perbedaan pendapat, masyarakat nelayan di Gudang Haji Daham lebih memilih untuk segera membicarakannya daripada menyimpan dendam satu sama lain. Semakin seseorang aktif dalam membangun relasi antar sesama, maka jaringan interpersonal akan terbangun lebih luas yang menghasilkan kompetensi berkualitas (Nasichah. Indriani. Fatah, & Putri. Dengan interaksi yang terbuka, para nelayan menciptakan lingkungan kerja yang lebih nyaman serta mengurangi potensi konflik. Nelayan cukup terbuka dalam menyampaikan keluhan atau saran, terutama saat berkomunikasi dengan sesama nelayan. Interaksi antar nelayan cenderung lebih bebas dan tanpa hambatan, sehingga memungkinkan diskusi yang lebih jujur dan langsung tentang permasalahan yang mereka hadapi di lapangan. Namun, kondisi berubah ketika mereka harus berbicara dengan pemilik Untuk memastikan bahwa pendapat mereka didengar oleh pemilik kapal, nelayan biasanya terlebih dahulu mendiskusikan masalah atau rekomendasi mereka dengan rekan-rekan sebelum menyampaikannya kepada pemilik kapal. Hal ini memungkinkan mereka untuk menyusun penyampaian yang lebih terstruktur. Meskipun penting, pertukaran informasi tidak selalu dilakukan secara terbuka. Hal ini dapat dilihat sebagian nelayan sangat ingin bertukar informasi, terutama informasi terkait keselamatan seperti kondisi cuaca laut. Mereka sering saling memberi tahu jika ada tanda-tanda cuaca buruk agar tidak ada yang terancam bahaya atau mengalami kecelakaan saat melaut. AuBetul memang keterbukaan itu bisa membantu, tapi nggak semua nelayan mau saling ngasih informasi. Misalnya, kalau ada yang tahu tempat tangkapan ikan yang bagus, seringnya disimpan sendiri biar nggak terlalu banyak yang datang. Tapi kalau soal cuaca, biasanya kita saling kasih tau, biar nggak ada yang celaka di lautAy (Wawancara Nelayan Teluk Nibung, 2. Faktor pendukung budaya gotong royong dapat dilihat adanya dukungan, partisipasi dan kesadaran masyarakat bahwa budaya gotong royong bukan hanya tugas pemerintah melainkan masyarakat (Fortuna. Naawi, & Yenni, 2. Nelayan tidak hanya berkomunikasi untuk saling berbagi informasi, tetapi juga untuk saling memahami dan mendukung dalam menghadapi kesulitan. Bentuk empati yang mereka tunjukkan berupa bantuan dana, dukungan moral, bahkan tenaga dalam memperbaiki alat tangkap ikan atau menggantikan pekerjaan rekan kerja yang sedang mengalami kesulitan. Budaya gotong royong yang mereka praktikkan menunjukkan bahwa komunikasi interpersonal yang dilandasi oleh rasa empati dapat menciptakan hubungan yang lebih dari sekedar rekan kerja, tetapi seperti keluarga yang saling menjaga. AuKalo hasil tangkapan lagi sedikit, kita coba cari kerjaan sementara, misalnya bantu bongkar ikan di pelabuhan atau ikut kerja di kapal lain. Kadang ada juga yang menjual barang buat nutupin kebutuhan sehari-hari. Kalau ada nelayan yang benar-benar nggak bisa makan, ya, kita bantu sebisanyaAy (Wawancara Nelayan Teluk Nibung, 2. Nelayan di Teluk Nibung sebagian besar mengandalkan komunikasi untuk meningkatkan kesejahteraan bersama. Sementara itu, umtuk meningkatkan pendapatan, mereka biasanya bertukar informasi tentang harga ikan di pasar lain, kondisi cuaca yang berpotensi membahayakan, dan lokasi dengan ikan yang melimpah. Mereka dapat meningkatkan hasil tangkapan dan mengurangi risiko melaut saat cuaca buruk dengan bertukar informasi. Dengan adanya koperasi merupakan salah satu strategi ekonomi berbasis masyarakat yang dirancang untuk memberikan akses permodalan dengan memberikan bunga yang relatif rendah. AuAda koperasi nelayan, tempat kita bisa pinjam modal tapi dengan bunga yang sedikit. Terus disini ada juga arisan nelayan buat bantu kalau ada yang kesulitanAy (Wawancara Nelayan Teluk Nibung, 2. Dengan adanya koperasi sebagai sarana penunjang pemberian modal kepada nelayan, maka akan membantu dan menjalin kemitraan sebagai media untuk peningkatan pendapatan nelayan (Arifandy. Norsain, & Firmansyah, 2. Meskipun memiliki keterbatasan, nelayan tetap lebih memilih arisan antar sesama nelayan sebagai bentuk perlindungan sosial yang lebih dapat diandalkan, dan nelayan biasanya mengumpulkan uang sebagai dana sosial mereka. Dukungan ini menunjukkan bahwa interaksi yang efektif dapat menciptakan rasa saling percaya, memberikan dukungan, serta memastikan kesejahteraan merata di komunitas nelayan Teluk Nibung. Hal mendasar yang harus dilakukan untuk menumbuhkan kebersamaan saat bekerja adalah dengan menunjukkan kebersamaan melalui komunikasi yang efektif untuk membangun solidaritas diantara mereka, seperti bercanda saat bekerja, yang akan menciptakan suasana yang positif diantara para nelayan. Kehidupan yang monoton di tengah laut memaksa para nelayan untuk bersatu dan saling terhubung satu sama lain agar terhindar dari stres saat bekerja. Nelayan memiliki tradisi makan dan bekerja bersama setelah melaut, dan kegiatan ini memberikan kesempatan untuk berbagi pengalaman selama bekerja di Meskipun tidak rutin dilakukan, kegiatan ini merupakan salah satu bentuk komunikasi yang menumbuhkan solidaritas dan menumbuhkan suasana kerja yang sehat. Kebersamaan dan solidaritas menjadi faktor utama dalam menjaga ketahanan masyarakat nelayan. AuKomunikasi itu penting, soalnya kalau kerja di laut, kita harus percaya sama rekan satu tim. Kita biasakan ngobrol terbuka, jangan ada yang saling curiga. Kadang bercanda juga penting biar nggak terlalu stres di laut. Susahlah hidup di laut kalo nggak punya rasa peduli. Kita kan di sini saling jaga, kalau ada yang kena musibah, harus dibantu, karena bisa saja besok gantian kita yang butuh bantuan. Jadi, sikap peduli itu bukan cuma soal kebaikan aja, tapi juga soal bertahan hidup bersamaAy (Wawancara Nelayan Teluk Nibung. Profesi nelayan sangat bergantung pada kerja sama tim, sehingga komunikasi yang baik menjadi elemen mendasar dalam menciptakan lingkungan kerja yang harmonis. Berbeda dengan pekerjaan di darat yang umumnya dapat dilakukan secara individual, menjadi nelayan menuntut adanya koordinasi yang erat untuk memastikan keselamatan dan kelancaran operasional. Oleh karena itu, nelayan di Teluk Nibung memilih menjalin komunikasi terbuka untuk menjaga keharmonisan sosial. Menjaga keharmonisan sebagai modal sosial ini dilakukan agar tidak terjadinya ketidakseimbangan menimbulkan kesenjangan sosial, yang mengancam keharmonisan dan stabilitas masyarakat nelayan. Modal sosial yang dibangun akan meningkatkan posisi tawar masyarakat terhadap kekuatan-kekuatan eksternal yang berusaha mengeksploitasi sumberdaya alam (Sadat. Basir. Cahyani. Salmatia, & Ayucandra, 2. Akibatnya, komunikasi yang setara memungkinkan semua nelayan untuk mengekspresikan ide-ide mereka, berbagi pengalaman mereka, dan memiliki akses yang sama terhadap informasi dan peluang Dalam kehidupan nelayan, keadilan merupakan komponen penting dalam membina kohesi sosial. Dengan membangun cita-cita keadilan, masyarakat nelayan dapat sepenuhnya bertahan terhadap cobaan hidup di laut. Solidaritas yang dibangun melalui komunikasi yang terbuka dan aktif memungkinkan nelayan untuk membentuk hubungan kerja yang saling menguntungkan, memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang tertinggal. Kesetaraan lebih dari sekadar akses yang sama terhadap peluang, ini juga tentang mengembangkan pola komunikasi yang mendorong individu untuk bekerja sama. Dengan menerapkan prinsip ini, masyarakat nelayan Teluk Nibung dapat lebih kuat dalam menghadapi tantangan, meningkatkan kesejahteraan bersama, dan memastikan bahwa tidak ada satu pun anggota komunitas yang tertinggal dalam perkembangan sosial maupun ekonomi. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa keterbukaan komunikasi antar nelayan menciptakan hubungan yang erat dan rasa kekeluargaan. Keterbukaan dalam komunikasi antar nelayan menciptakan hubungan yang erat dan rasa kekeluargaan di antara mereka. Namun, dalam beberapa situasi, terdapat dinamika antara kerja sama dan persaingan, terutama ketika nelayan memilih untuk menyimpan informasi tentang lokasi ikan yang melimpah guna menjaga stabilitas hasil tangkapan mereka. Namun, terdapat dinamika antara kerja sama dan persaingan, terutama dalam berbagi informasi lokasi ikan. Budaya gotong royong juga memperkuat hubungan mereka, baik dalam bentuk bantuan moral, finansial, maupun tenaga. Komunikasi interpersonal yang dilakukan oleh nelayan dalam mewujudkan ketahanan masyarakat memiliki peran yang krusial dalam menjaga solidaritas dan kesejahteraan masyarakat nelayan. Berdasarkan temuan penelitian didapatkan bahwa nelayan menerapkan komunikasi yang saling terbuka dan mendukung. Keterbukaan melalui komunikasi dapat dilihat berbagai aktivitas diantaranya sistem arisan dan dana sosial lebih dipercaya dibanding koperasi dalam mendukung ekonomi mereka. Nelayan tidak hanya saling memberikan informasi, tetapi juga menunjukkan perhatian satu sama lain dengan memberikan dukungan moral, bantuan finansial, serta tenaga dalam keadaan yang sulit. Tradisi gotong royong yang mereka terapkan membuktikan bahwa komunikasi antarpribadi yang didasari oleh rasa empati dapat membentuk ikatan yang lebih dekat, bukan hanya sebagai rekan kerja, tetapi juga sebagai keluarga yang saling melindungi. Kesetaraan dalam berkomunikasi merupakan elemen krusial yang mempertahankan keseimbangan sosial. Setiap individu nelayan berhak mendapatkan kesempatan yang setara untuk mengungkapkan pandangan, mendiskusikan pengalaman, serta memperoleh informasi dan kesempatan ekonomi. Melalui praktik komunikasi yang transparan dan dinamis, komunitas perikanan mampu memperkuat diri dalam menghadapi beragam tantangan yang bersifat sosial dan Komunikasi antarpersonal yang positif berperan dalam menciptakan lingkungan kerja yang harmonis, mengurangi stres, serta memperkuat solidaritas. Kesetaraan dalam komunikasi menjadi faktor penting yang menjaga keharmonisan sosial. Setiap nelayan memiliki kesempatan yang sama untuk menyampaikan pendapat, berbagi pengalaman, dan mengakses informasi maupun peluang ekonomi. Dengan menerapkan komunikasi yang terbuka dan aktif, masyarakat nelayan dapat lebih kuat dalam menghadapi berbagai tantangan sosial dan ekonomi mereka. Komunikasi yang baik memainkan peran penting dalam membangun lingkungan kerja yang sehat dan seimbang. Para nelayan seringkali melakukan lelucon saat bekerja, berkumpul untuk menikmati makanan usai melaut, serta saling bertukar cerita untuk meredakan ketegangan dari rutinitas yang membosankan. Kebiasaan-kebiasaan ini mengindikasikan bahwa komunikasi tidak hanya sekadar alat untuk menyampaikan hal-hal penting, tetapi juga berfungsi untuk memperkuat rasa solidaritas dan menjaga stabilitas emosional di dalam komunitas mereka. REFERENSI