(Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kriste. Vol. No. Desember 2025 . e-ISSN 2614-3135 p-ISSN 2615-739X https://w. id/e-journal/index. php/kurios Menuju gereja sebagai komunitas pembelajar: Rekonstruksi teologi pendidikan agama Kristen berbasis spiritualitas partisipatif Haposan Simanjuntak Sekolah Tinggi Teologi REAL Batam Correspondence: haposanmei2018@gmail. DOI: https://doi. 30995/kur. Article History Submitted: Sep. 30, 2025 Reviewed: Oct. 27, 2025 Accepted: Dec. 30, 2025 Keywords: Christian religious faith formation. learning community. participatory spirituality. theological reconstruction. eklesiologi transformatif. formasi iman. komunitas belajar. pendidikan agama Kristen. rekonstruksi teologis. spiritualitas partisipatif Copyright: A2025. Authors. License: Abstract: This study arises from a theological concern that Christian Religious Education (CRE) has been reduced to doctrinal transmission, thereby neglecting the dialectical dimension of faith formation. The prevailing instructive-hierarchical paradigm has produced congregations that are cognitively informed yet fail to mature into hermeneutical communities capable of collectively interpreting faith. This research aims to reconstruct the theological foundations of CRE through the framework of participatory spirituality. Employing a qualitative approach grounded in systematic literature review and a reflective-analytical approach to pastoral theology, faith pedagogy, and ecclesiological praxis, this study argues that participatory spirituality enables CRE to be reconceived as a dialogical, interactive, and transformative process of faith formation. The church is repositioned as a learning community wherein liturgy, ministry, and fellowship constitute the locus of formative encounter. In conclusion, this reconstruction offers an ecclesiological reorientation affirming the church's nature as the Body of Christ, growing through a relational learning ecology that cultivates reflective, participatory, and contextual faith. Abstrak: Penelitian ini berangkat dari kegelisahan teologis atas reduksi Pendidikan Agama Kristen (PAK) sebagai transmisi doktrinal yang mengabaikan dimensi dialektis pembentukan iman. Paradigma instruktif-hierarkis telah melahirkan jemaat yang terinformasi secara kognitif, namun tidak bertumbuh sebagai komunitas hermeneutis yang menafsirkan iman secara kolektif. Penelitian ini bertujuan merekonstruksi landasan teologis PAK melalui kerangka spiritualitas partisipatif. Dengan pendekatan kualitatif berbasis studi literatur sistematis dan pendekatan reflektif-analitis terhadap literatur teologi pastoral, pedagogi iman, serta praksis eklesiologis, penelitian ini merumuskan bahwa spiritualitas partisipatif memungkinkan PAK dipahami sebagai proses formasi iman yang dialogis, interaktif, dan transformatif. Gereja diposisikan sebagai learning community di mana liturgi, pelayanan, dan persekutuan menjadi locus pembentukan iman. Kesimpulannya, rekonstruksi ini menawarkan reorientasi eklesiologis yang menegaskan hakikat gereja sebagai Tubuh Kristus yang bertumbuh melalui ekologi pembelajaran relasional, membentuk iman yang reflektif, partisipatif, dan kontekstual. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 805 H. Simanjuntak. Menuju gereja sebagai komunitasA Pendahuluan Gereja kerap dipahami semata-mata sebagai ruang peribadatan dalam komunitas rohani, namun belum secara serius diperlakukan sebagai ekosistem pembelajaran iman yang berlangsung secara berkelanjutan. Dalam praktiknya, pemahaman terhadap fungsi edukatif gereja sering mengalami reduksi menjadi aktivitas pengajaran yang bersifat monologis dan terpusat pada peran pemimpin rohani atau pengajar resmi. Pendidikan Agama Kristen di lingkungan gereja masih didominasi oleh pendekatan instruksional satu arah. Dalam konteks ini, tanggung jawab pendeta terkait proses pembinaan iman jemaat terutama diwujudkan melalui fungsi pengajaran. 1 Dalam banyak konteks gerejawi masa kini, proses pendidikan iman masih cenderung berpusat pada sosok pendeta atau pengajar sebagai satu-satunya pemegang otoritas rohani. Belum dapat dipastikan apakah pelayanan pendidikan Kristen tersebut sudah dilakukan dengan baik atau keberadaannya hanya bersifat formalitas belaka, yang diperparah dengan ketidakseriusan dalam mengelolanya. 2 Pola ini akhirnya menghasilkan struktur pembelajaran yang informatif, tetapi kurang menyediakan ruang bagi dinamika pertumbuhan iman yang lahir dari keterlibatan reflektif dan pengalaman dialogis jemaat. Kehidupan yang dinamis dapat menjadi saksi, sementara bentuk statis tidak memperlihatkan sebuah sinyal kehidupan dan cenderung mati. Fenomena tersebut menyingkap adanya kesenjangan konseptual antara teologi gereja yang secara doktrinal menekankan persekutuan tubuh Kristus dan pola pendidikan yang masih menempatkan jemaat sebagai objek pembinaan. Pendidikan agama Kristen bukan hanya menjadi sekadar penghafal ayat . spek kogniti. , tetapi juga pelaksana ayat. 4 Gereja harus mampu menggeser fokusnya dari model tradisional ke model yang lebih responsif terhadap perubahan sosial, teknologi, dan budaya. 5 Di tengah perkembangan pemikiran pedagogi modern dan kesadaran eklesiologis, muncul gagasan bahwa gereja perlu bergerak melampaui paradigma institusi pengajar menuju bentuk komunitas yang belajar secara kolektif dan reflektif. Iman bukan sekadar kumpulan doktrin yang dihafal, melainkan kesadaran eksistensial yang terus diperbarui melalui interaksi dan pengalaman, maka proses belajarnya pun harus memberi ruang bagi partisipasi aktif seluruh jemaat. Teori belajar harus berupaya memperkaya peserta didik mengenal jati dirinya sebagai makhluk sosial, agar dengan demikian, mereka dapat memainkan peran sebagai Augaram dan terang dunia. Ay6 Dalam konteks ini, pendidikan di gereja tidak hanya menyampaikan ajaran, tetapi membuka pengalaman iman sebagai ruang dialog dan pembentukan bersama. Kondisi tersebut menuntut adanya rekonstruksi teologi Pendidikan Agama Kristen yang tidak berhenti pada pembenahan metode, tetapi meninjau ulang dasar konseptualnya. Rekonstruksi di sini dimaknai sebagai upaya menyusun ulang 1 Uli Napa. AuKepemimpinan Gembala: Analisis Konsep Kepemimpinan Gembala Berdasarkan Injil Yohanes 10:1Ae18 dan Implikasinya terhadap Tanggung Jawab Pendeta sebagai Pemimpin di Klasis Makale TengahAy. Disertasi PhD, (Toraja: Institut Agama Kristen Negeri Toraja, 2. 2 Johanes Waldes Hasugian. AuKurikulum Pendidikan Kristen bagi Orang Dewasa di Gereja,Ay Kurios: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 5, no. : 36-53. 3 Harls Evan R. Siahaan. AuKarakteristik Pentakostalisme Menurut Kisah Para Rasul,Ay DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani 2, no. : 12Ae28. 4 Yusuf Siswantara. AuMakna Kisah Panggilan Para Murid Yesus Bagi Metode Pendidikan Agama Kristen: The Meaning of JesusAo DisciplesAo Vocation for the Christian Education Method,Ay Societas Dei: Jurnal Agama dan Masyarakat 8, no. : 57Ae84. 5 Jerry Donni. AuPenguatan Pendidikan Iman dalam Jemaat: Tantangan dan Pendekatannya di Gereja Kontemporer,Ay Danum Pambelum: Jurnal Teologi dan Musik Gereja 3, no. : 265Ae270. 6 Junihot M. Simanjuntak. AuBelajar sebagai Identitas dan Tugas Gereja,Ay Jurnal Jaffray 16, no. : 1Ae24. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 806 KURIOS. Vol. No. Desember 2025 fondasi teologis PAK gereja agar lebih selaras dengan hakikat gereja sebagai komunitas yang hidup dari relasi, bukan dari pola otoritas tunggal. Spiritualitas partisipatif dihadirkan sebagai landasan reflektif untuk merumuskan kembali peran jemaat bukan hanya sebagai penerima ajaran, tetapi sebagai subjek yang ikut bertanggung jawab terhadap proses pembelajaran iman jemaat yang lain. Ketika jemaat diberi kesempatan untuk terlibat aktif dalam membagikan pengalaman imannya kepada sesama anggota jemaat, proses tersebut tidak hanya menjadi sarana edifikasi komunal. Ia menjadi momentum ganda. di satu sisi kisah atau pengalaman iman tersebut menguatkan dan menginspirasi komunitas, di sisi lain sang pencerita sendiri mengalami pendalaman iman melalui tindakan merefleksikan, menyusun, dan menyampaikan pengalaman rohaninya. Keterlibatan dalam mengajar atau tindakan bersaksi, individu tidak hanya merefleksikan karya Allah dalam hidupnya, melainkan juga memperdalam keyakinannya dan mengembangkan kompetensi dalam kesaksian kristiani yang autentik dan kontekstual. Dennis E. Collins berkata. AuPendidikan pembebasan adalah sebuah pendekatan yang memfokuskan pada pembelajaran kritis, yang mana siswa/i diajak untuk memahami realitas sosial, mengidentifikasi berbagai bentuk penindasan, dan berupaya untuk transformasi sosial. Ay7 Dengan demikian, pendidikan gerejawi dapat bergerak dari model yang bersifat sentralistik menuju model yang membentuk ekologi belajar bersama, di mana iman ditransferkan dan dihayati secara kontekstual melalui perjumpaan dan diskursus komunitatif. Dalam kerangka itulah, penelitian ini disusun dan tidak dimaksudkan untuk menolak model pengajaran gereja yang sudah berlangsung selama ini, tetapi untuk mengkritisi dan memperluas cakrawala pemahamannya dengan menempatkan pendidikan iman sebagai proses yang berlangsung dalam jejaring relasi umat, bukan hanya melalui struktur formal pengajaran. Oleh karena itu, pertanyaan mendasar yang muncul bukan lagi: "Bagaimana mengajarkan iman dengan lebih efektif?" tetapi "Bagaimana membangun gereja sebagai komunitas pembelajar yang menghidupi iman secara partisipatif?" Melalui pendekatan reflektif teologis, penelitian ini berupaya menawarkan kerangka konseptual baru yang dapat membuka wawasan bagi pengembangan PAK yang lebih dialogis, partisipatif, dan sejalan dengan spiritualitas persekutuan gereja. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka . ibrary researc. , yaitu pendekatan yang berfokus pada pengumpulan, analisis, dan sintesis data sekunder berupa teori-teori, konsep-konsep, serta temuan penelitian terdahulu yang relevan dengan permasalahan yang Metode kualitatif yaitu data yang diperoleh dari kata-kata yang dideskripsikan dan diinterpretasikan. Pendekatan dengan studi literatur sistematis yang dianalisis dalam usaha memaknai data. Metode ini dipilih untuk menyusun deskripsi komprehensif berdasarkan bukti ilmiah terkini mengenai gereja sebagai komunitas pembelajar yang kontekstual dengan basis spiritualitas partisipatif. Desain dan sumber data diperoleh dari sumber primer seperti jurnal ilmiah dan buku akademik. Spiritualitas Partisipatif sebagai Paradigma Teologis Spiritualitas partisipatif sebagai paradigma teologis merupakan kegiatan pembinaan iman yang dirancang secara responsif terhadap kebutuhan aktual jemaat, dengan memberikan ruang bagi setiap umat untuk turut terlibat, menentukan arah, dan fokus pengajaran yang relevan dengan konteks hidup dan pergumulannya. Dalam langkah praktisnya, pembinaan iman Lasino. AuPendidikan Agama Kristen Deliberatif sebagai Implementasi Pendidikan yang Membebaskan: Kajian tentang Student-Centered Learning,Ay KURIOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 10, no. 66Ae76. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 807 H. Simanjuntak. Menuju gereja sebagai komunitasA menekankan individu atau kelompok tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga terlibat secara intelektual, emosional, dan spiritual dalam pengambilan keputusan, perencanaan, dan pelaksanaan. Dalam pendekatan ini, iman tidak hanya diukur dari kepatuhan terhadap ajaran, melainkan dari kesediaan untuk hadir, berperan, dan berbagi dalam kehidupan komunal. Spiritualitas partisipatif dalam kerangka teologis menandai pergeseran mendasar dalam cara kita memandang iman Kristen, bukan sebagai kumpulan doktrin yang beku dan final, melainkan sebagai perjalanan kolektif yang hidup, di mana setiap anggota jemaat tanpa terkecuali bukan sekadar penonton atau penerima pasif, melainkan mitra aktif dalam membentuk, menafsirkan, dan menghidupi makna iman. Dalam paradigma ini, kebenaran iman tidak diturunkan dari puncak hierarki lalu diterima tanpa tanya, melainkan dibangun bersama dalam dialog antara Kitab Suci, pengalaman hidup, konteks sosial, dan karya Roh Kudus yang bebas. Misalnya, dalam sebuah komunitas jemaat di perkotaan, isu keadilan perumahan bagi pekerja tidak dibahas hanya oleh majelis gereja, tetapi juga melibatkan anggota jemaat yang lain dan bahkan warga non-Kristen yang tinggal di sekitar. Mereka bersama-sama membaca Alkitab tentang kota yang adil, berbagi kisah tentang ketimpangan yang mereka saksikan, lalu merancang program tempat tinggal sementara yang dikelola secara gotong royong. Di sini, iman bukan hanya dipercayai tetapi juga diimplementasikan dalam tindakan nyata. Paradigma ini muncul karena kesadaran bahwa dunia tidak lagi bisa dijawab dengan formula teologis yang Generasi muda saat mulai menolak iman yang hanya menuntut ketaatan buta, dan justru mencari ruang di mana keraguan, kreativitas, dan tanggung jawab sosial diakui sebagai bagian sah dari kehidupan rohani. Kurangnya komunikasi yang relevan dan dua arah menimbulkan persepsi bahwa gereja tidak memahami atau tidak peduli dengan kebutuhan dan cara berpikir generasi muda. 8 Generasi muda mencari makna dalam cara yang berbeda dari generasi sebelumnya. isu-isu seperti krisis iklim, ketimpangan sosial, dan kecemasan eksistensial membutuhkan respons iman yang konkret, bukan sekadar rumus doktrinal. Mereka semakin menemukan cara-cara baru yang relevan, kontekstual, dan bermakna untuk mengekspresikan, merenungkan, dan mewujudkan iman dalam realitas yang terus berubah. Lebih dari itu, pembinaan harus dirancang dengan strategi yang matang dan disesuaikan dengan kebutuhan serta tantangan yang dihadapi oleh generasi muda saat ini. 9 Misalnya, di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, banyak komunitas jemaat mulai menggunakan platform daring tidak hanya untuk ibadah virtual, tetapi juga untuk diskusi teologis partisipatif . enomena debat agama di aplikasi TikTo. , pendampingan rohani berbasis aplikasi, atau kampanye keadilan sosial melalui media sosial. Kepercayaan terhadap institusi gereja mengalami tren terus menurun, dan pencarian makna menjadi semakin personal namun kolektif. Dengan demikian, spiritualitas partisipatif bukan sekadar metode baru, melainkan ekspresi teologis dari keyakinan bahwa Roh Allah terus berbicara bukan hanya melalui para pemimpin, tetapi juga melalui suara anak kecil, lansia, orang miskin, dan mereka yang selama ini diam dalam struktur gereja. Dalam arus inilah, gereja kembali menjadi tempat di mana iman bukan hanya diwariskan, tetapi diciptakan ulang setiap hari secara bersama, dalam kasih, dan dengan keberanian untuk berubah. Paskah Parlaungan Purba. AuDari Kesenjangan Menjadi Jembatan: Transformasi Kepemimpinan Kristiani Intergenerasional,Ay KURIOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 11 . : 160Ae172. 9 Tupa Pebrianti Lumbantoruan dan Andreas Yonatan Gultom. AuStrategi Pembinaan Warga Gereja,Ay Berkat: Jurnal Pendidikan Agama dan Katolik 2, no. : 20Ae33. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 808 KURIOS. Vol. No. Desember 2025 Beberapa prinsip spiritualitas partisipatif dalam gereja dapat dipahami sebagai berikut: Pertama, setiap umat adalah subjek rohani yang setara. Tidak ada hierarki mutlak dalam pengalaman spiritual. Kelompok anak, remaja, dewasa, lansia, penyandang disabilitas, atau mereka yang dianggap diam dalam struktur formal tetap mampu menjadi pembawa pesan Tuhan. Kedudukan laki-laki dan perempuan sama dalam status manusia yang diberikan oleh Allah. 10 Martabat spiritual melekat pada setiap pribadi sebagai citra Allah . mago De. , bukan pada jabatan, pendidikan, status, atau usia. Ini berarti tidak ada pengalaman iman yang lebih suci atau autentik hanya karena seseorang menjabat sebagai pendeta, memiliki gelar teologi, atau telah lama menjadi anggota jemaat. Sebaliknya. Roh Kudus bekerja secara bebas dan tak Melalui interaksi antara pendidik dan peserta didik, serta antar sesama peserta didik. Roh Kudus berkarya sehingga terbangun komunikasi dan relasi yang akrab serta saling melengkapi. 11 Ini diterima sebagai media untuk menyampaikan pesan bagi gereja sebagai tindakan yang lebih produktif dalam menjawab tantangan di masyarakat. Misalnya, melalui kesaksian lansia yang hidup dalam kesederhanaan, atau bahkan melalui diamnya seorang penyandang disabilitas yang justru menghadirkan kehadiran Allah dalam kerentanan. Kedua, keterlibatan holistik. Spiritualitas partisipatif menegaskan bahwa iman bukan sekadar keyakinan intelektual yang bersemayam di kepala, melainkan praktik hidup yang menyentuh seluruh dimensi kemanusiaan. Oleh karena itu, iman yang utuh adalah iman yang berpikir, merasakan, bergerak, dan bertindak yang tidak hanya memenuhi ruang ibadah tetapi keluar mentransformasi dunia. Tuhan Allah mengambil realitas manusia dan turun ke dunia untuk menyelamatkan manusia. 12 Hal ini mendorong umat Tuhan untuk bertindak membela yang tidak adil, berbagi dengan yang membutuhkan, dan membangun relasi yang Injil itu sendiri bersifat inkarnasional. Yesus tidak hanya mengajar di Bait Suci, tetapi juga menyembuhkan di jalan, makan bersama orang berdosa, dan menantang struktur yang menindas. Solidaritas tumbuh dari rasa empati dan kepedulian yang diaktualisasikan dalam kerelaan untuk memberikan pengorbanan. ada hal yang harus direlakan atau dilepaskan. Ketiga, kontekstualitas sebagai tuntutan spiritual. Manusia pada dasarnya belajar melalui karena itu, iman yang terpisah dari realitas mudah kehilangan daya transformasinya. Spiritualitas partisipatif selalu berakar pada realitas lokal dan responsif terhadap perkembangan zaman. Dalam konteks PAK multikultural, dialog tidak hanya terjadi antara guru dan murid, tetapi juga antara tradisi religius dan budaya. 14 Oleh sebab itu, iman yang diwujudkan secara kontekstual tidak lagi sekadar ajaran dogmatis atau ritual formal, melainkan menjadi kekuatan yang hidup dan relevan dengan dinamika manusia sehari-hari. Allah dan kasih-Nya harus ditemukan bukan hanya dalam gereja, tetapi dalam pergumulan nyata umat-Nya, melainkan dalam kemiskinan, ketidakadilan, krisis iklim, atau kecemasan digital. Jika gereja terus berbicara dengan bahasa yang asing dari pengalaman jemaat, maka Injil akan kehilangan daya Viter dan Malik Bambangan. AuMakna Imago Dei dalam Teologi Pastoral Berdasarkan Lukas 14:12Ae14 bagi Kaum Disabilitas dalam Kehidupan Gerejawi,Ay Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika 8, no. : 177Ae199. 11 Simanjuntak. AuBelajar sebagai Identitas. Ay 12 Jannes Eduard Sirait. AuSpiritualitas Inkarnatif sebagai Fondasi Pendidikan Kristiani yang Inklusif,Ay Kurios 9 . : 331Ae341. 13 Sirait. 14 Yuel. AuHarmoni Dalam Keberagaman: Penguatan Kompetensi Pedagogik Guru Pendidikan Agama Kristen Untuk Pembelajaran Multikultural Yang TransformatifAy. KURIOS 11, no. 1 (April 30, 2. : 66Ae79. https://sttpb. id/e-journal/index. php/kurios/article/view/1143. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 809 H. Simanjuntak. Menuju gereja sebagai komunitasA Sebaliknya, ketika iman diungkapkan dalam bentuk yang relevan dengan kehidupan nyata, ia membangkitkan keterlibatan, memperdalam makna, dan mendorong tindakan nyata. Kearifan lokal, sebagai pengetahuan dan nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat lokal selama berabad-abad, memiliki potensi besar untuk memperkaya perspektif pedagogi multikultural. Iman yang diwujudkan secara kontekstual tidak lagi sekadar ajaran dogmatis atau ritual formal, melainkan menjadi kekuatan yang hidup dan relevan dengan dinamika manusia sehari-hari. Keempat. Roh Kudus sebagai guru dan penggerak utama. Dalam kehidupan komunitas iman yang autentik, keputusan, arah pelayanan, atau pemahaman teologis tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, pengalaman, atau keterampilan organisasi manusia, melainkan lahir dari kerendahan hati kolektif untuk membuka diri pada karya Roh Kudus. Hal ini menunjukkan bahwa dalam teologi Kristiani, ketekunan belajar dapat dipahami sebagai karu-nia dari Roh Kudus sekaligus sebagai respons manusia terhadap karya Roh Kudus. 15 Roh itu tidak terikat pada struktur, gelar, atau suara mayoritas. Ia bebas, hidup, dan sering kali berbicara justru melalui hal-hal yang dianggap lemah, sederhana, atau tak terduga oleh standar dunia. Kelima. Gereja sebagai komunitas pembelajar yang terus dibentuk. Gereja bukanlah lembaga yang sudah selesai, dengan doktrin dan struktur yang beku untuk selamanya, melainkan komunitas yang terus belajar dan bertumbuh agar mampu beradaptasi dengan realitas dunia tanpa kehilangan identitasnya. Gereja tidak bisa terus menggunakan cara-cara lama dalam mengajar, membina, atau mewartakan iman jika ingin tetap relevan dan menyentuh hati manusia di zaman yang terus berubah. Seperti halnya pendidikan umum yang berevolusi dari metode hafalan ke pembelajaran berbasis proyek, atau dunia bisnis yang beradaptasi dengan kecerdasan buatan dan platform digital, gereja pun ditantang untuk memperbarui metode dan strateginya mengajar. Bukan demi mengikuti tren, tetapi demi setia pada misinya membawa Injil ke dalam konteks nyata kehidupan umat. Membuka diri pada pendekatan yang lebih partisipatif, kontekstual, dan responsif, seperti pembelajaran berbasis cerita, pendampingan rohani melalui aplikasi, diskusi iman dalam format podcast, atau pelayanan yang melibatkan seni, teknologi, dan aksi sosial sebagai media ekspresi iman. Dengan memadukan prinsip-prinsip ini, pembelajaran iman dalam gereja tidak lagi dipahami sebagai kegiatan administratif atau programatik, tetapi sebagai struktur kesadaran yang membentuk identitas komunitas. Gereja tidak hanya menyelenggarakan pembelajaran iman, melainkan menjadi wujud dari pembelajaran itu sendiri. Menciptakan komunitas yang terus bertanya, merenung, memperbarui diri, dan menyatakan imannya melalui tindakan nyata. Jika spiritualitas partisipatif menjadi basis, maka gereja tidak dapat dipahami semata sebagai lembaga yang menyampaikan ajaran, tetapi sebagai komunitas yang menghidupi proses belajar iman secara terus-menerus. Dalam kerangka ini, gereja sebagai komunitas pembelajar bukan slogan pedagogis modern, tetapi konsekuensi logis dari eklesiologi yang memahami iman sebagai proses yang bersifat relasional, terbuka, dan dinamis. Gereja yang menghayati dirinya sebagai komunitas pembelajar tidak puas hanya dengan memastikan bahwa ajaran telah diberikan, tetapi menciptakan ruang bagi umat untuk terlibat aktif, merefleksi, dan menafsirkan pengalaman iman bersama. Ruang-ruang persekutuan, pelayanan, bahkan liturgi, dipahami bukan sekadar sebagai agenda spiritual, tetapi sebagai arena pembelajaran iman yang membentuk kebiasaan berpikir teologis dan misiologis. Dengan demikian, orientasi utama bukan Baginda Sitompul. AuRoh Kudus Dan Ketekunan Belajar: Eksplorasi Spiritualitas Pembelajar Melalui Permodelan Komunitas Gereja Perdana Dalam Narasi Kisah Para Rasul 2:42Ay. KURIOS 11, no. 1 (April 30, 2. 51Ae65. https://sttpb. id/e-journal/index. php/kurios/article/view/1022. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 810 KURIOS. Vol. No. Desember 2025 lagi otoritas yang mengajar, tetapi relasi yang membentuk. Paradigma ini mengubah posisi pendidik iman dari instruktur ajaran menjadi fasilitator spiritual yang menyadari bahwa Roh Allah juga bekerja melalui suara, pengalaman, dan pergumulan jemaat. Ketekunan belajar dalam konteks pendidikan Kristiani dapat dikonstruksikan sebagai praktik spiritual yang memiliki dimensi pneumatologis. 16 Pada titik inilah rekonstruksi teologis menemukan pijakan. PAK bukan hanya bagian dari struktur gereja, tetapi juga bentuk konkret dari cara gereja belajar menghidupi imannya. Integrasi Konsep: Rekonstruksi Pendidikan Teologi Pendidikan Agama Kristen (PAK) dan spiritualitas partisipatif bukan dua entitas yang berdiri terpisah, melainkan dua arus yang saling mengalir dan memperkaya satu sama lain dalam membentuk cara hidup iman yang utuh. PAK yang berakar pada spiritualitas partisipatif tidak lagi berfungsi sebagai saluran penyampaian doktrin dari atas ke bawah, tetapi menjadi ruang di mana iman dipelajari, dipertanyakan, dihidupi, dan dibagikan bersama. Dengan demikian, hubungan keduanya bersifat sirkular dan transformatif. Proses pendidikan iman dirancang secara holistik agar peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan kognitif tentang Kristus, melainkan juga mengalami kehadiran-Nya secara personal serta merespons panggilan-Nya dalam konteks kehidupan sehari-hari. Selain itu, peserta didorong untuk meneladani jalan hidup Kristus melalui tindakan nyata dan mewujudkan kesaksian iman dalam seluruh aspek eksistensinya, sebagai bentuk partisipasi aktif dalam misi Allah bagi dunia. Dalam dinamika ini, gereja bukan lagi sekadar lembaga yang mengajar, namun mengubah dirinya menjadi komunitas yang belajar bersama dengan umat Tuhan. Kerangka inilah yang menjadi dasar rekonstruksi teologis yang diajukan oleh penelitian ini. Rekonstruksi yang dimaksud tidak sekadar mengganti strategi pengajaran atau menambah aktivitas pembinaan iman, tetapi meninjau ulang orientasi teologis pendidikan gerejawi agar sejalan dengan dinamika iman yang hidup, reflektif, dan partisipatif. Dengan demikian, proses belajar iman tidak berhenti pada penerimaan isi ajaran, tetapi berkembang menjadi pengalaman komunal yang memperdalam kedewasaan spiritual umat. Kerangka konseptual yang menempatkan gereja sebagai komunitas belajar berlandaskan spiritualitas partisipatif membawa sejumlah konsekuensi teologis dan praktis yang signifikan terhadap cara gereja memahami dirinya serta merancang praksis pendidikannya. Implikasi ini tidak hanya berhubungan dengan perubahan orientasi teologis, tetapi juga menuntut penataan ulang struktur pelayanan dan pola interaksi dalam kehidupan berjemaat. Dalam pelaksanaannya, gereja perlu menyediakan ruang yang memungkinkan jemaat menyuarakan kebutuhan mereka, sehingga terbentuk sebuah ekosistem gerejawi yang responsif dan partisipatif. Misalnya, dalam sebuah sidang jemaat remaja tidak hanya diajak mengikuti ibadah Minggu, tetapi juga terlibat aktif dalam merancangnya. Mereka diberi ruang untuk menyuarakan kebutuhan rohani, minat ekspresi, serta isu-isu yang mereka hadapi seperti tekanan akademik, pencarian identitas, pergaulan, atau kerinduan akan makna hidup. Kepemimpinan intergenerasional dimulai dengan kerendahan hati dan kemauan untuk mendengarkan. 17 Lalu mengintegrasikan hal-hal tersebut ke dalam tata ibadah, mulai dari pemilihan tema, lagu pujian, dan bentuk doa hingga penyampaian firman dalam bentuk drama, diskusi, atau multimedia. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan keterlibatan mereka, tetapi juga melatih kepemimpinan, kreativitas, dan kepemilikan terhadap iman mereka sendiri. Sitompul. Paskah Parlaungan Purba. AuDari Kesenjangan Menjadi Jembatan: Transformasi Kepemimpinan Kristiani Intergenerasional,Ay KURIOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 11 . : 160Ae172. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 811 H. Simanjuntak. Menuju gereja sebagai komunitasA Dengan demikian, ibadah Minggu bukan lagi rutinitas yang pasif, melainkan ruang sakral yang hidup, dinamis, dan dibentuk bersama oleh generasi muda sebagai wujud nyata dari gereja yang inklusif dan responsif terhadap suara setiap anggotanya. Peran strategis orang tua . hususnya generasi tu. dalam mentransmisikan kearifan lokal sebagai bagian dari pendidikan iman di gereja. Mereka tidak hanya dipandang sebagai figur yang perlu dilayani, tetapi juga dilibatkan secara aktif sebagai guru kearifan lokal di tengah Melalui cerita rakyat, pepatah, nyanyian tradisional, praktik adat, atau cara mereka menjalani hidup sehari-hari. Para lansia menyampaikan hikmat yang telah diuji oleh waktu, contohnya tentang hormat kepada sesama, keselarasan dengan alam, kesabaran dalam pergumulan, dan makna kebersamaan. Dalam konteks pendidikan iman, kearifan ini tidak dibiarkan berdiri sendiri, melainkan ditempatkan dalam dialog dengan narasi Alkitab, sehingga jemaat muda memahami bahwa iman Kristen tidak menghapus identitas budaya mereka, tetapi menyucikannya dan memberinya arah baru dalam terang Injil. Misalnya, dalam budaya suku Batak, ada tiga kesatuan tujuan utama kelompok etnik Batak Toba atau falsafah etnik Batak Toba yang tertuju pada sahala, yaitu, hagabeon . ebahagiaan, memiliki keturuna. , hasangapon . ehormatan yang dicapai lewat pendidikan dan pengalama. , dan hamoraon . 18 Ketika seorang nenek dari budaya Batak menceritakan nilai AuhamoraonAy . emuliaan hidup melalui pelayanan, bukan kekayaa. , hal itu dapat dikaitkan dengan ajaran Yesus tentang Aomenjadi yang terutama dengan menjadi pelayanAo (Mrk. 10:43Ae. Kisah Yusuf yang memaafkan saudaranya dapat dikaitkan dengan prinsip Aumarhula-hulaAy dalam budaya Batak. Di tengah masyarakat Jawa yang menjunjung tinggi unggah-ungguh . ata kram. , tepa selira . , dan rukun . , orang-orang tua dilibatkan sebagai penjaga nilai-nilai luhur ini dalam kehidupan jemaat. Etika Jawa yang terintegrasi dengan aspek religiusitas juga memiliki pengaruh signifikan dalam membentuk karakter 19 Mereka mengajarkan melalui tutur kata yang lembut, peribahasa seperti Auwiting tresno jalaran soko kulinoAy . inta tumbuh karena kebiasaan merawa. , atau praktik gotong royong saat mengadakan acara gereja. Dalam pendidikan iman, nilai-nilai ini tidak diabaikan, melainkan dihubungkan dengan ajaran Alkitab. Tepa selira mencerminkan mengasihi sesama seperti diri sendiri (Mat. , sementara rukun mengejawantahkan satu tubuh dalam Kristus . Kor. 12:12Ae. Dengan demikian, iman Kristen tidak menghapus kehalusan budaya Jawa, tetapi menguduskannya sebagai ekspresi kasih dan kerendahan hati yang Injili. Kabupaten Rote Ndao adalah contoh nyata masyarakat multikultural, yang terbentuk dari keragaman etnik dan agama. Di sana praktik Dalek Esa sebagai bentuk hospitalitas Kristen menjadi model relasional yang menghargai perbedaan tanpa menjadikannya konflik. Dalam situasi Indonesia yang kian terpolarisasi, nilai ini sangat relevan untuk membangun teologi publik yang tidak eksklusif, melainkan terbuka melalui dialog dengan budaya lokal. Karena Dalek Esa sudah hidup dalam masyarakat Rote Ndao, ia menjadi dasar budaya bagi ekspresi iman Kristen yang kontekstual dan dialogis. Realitas multikulturalisme dengan segala dinamikanya, dalam konteks masyarakat Kabupaten Rote Ndao, telah terkonsepkan secara baik dengan adanya kearifan lokal Dalek Esa, di mana dalam segala perbedaan antar etnis, agama. Chandra Susilo Simamora. Kembarto Marbun, dan Sandro Simanjorang. AuHamoraon. Hagabeon. Hasangapon: Konsep dan Pengaruhnya bagi Pembentukan Karakter Masyarakat Batak Toba,Ay Perspektif 10, no. : 121Ae135. 19 Annida Rizky Novi Fitriani. Sarah Setyaningrum, dan Gede Agus Siswadi. AuIntegrasi Nilai Etika Jawa dengan Etika Hindu dalam Menumbuhkan Karakter Anak Usia Dini,Ay Jataka: Jurnal Kajian Keluarga. Gender, dan Anak 1, no. : 33Ae45. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 812 KURIOS. Vol. No. Desember 2025 dan budaya, masyarakat berupaya untuk saling memahami, menjaga kebersamaan, dan terlibat dalam berbagai interaksi sosial yang terjadi. Seorang ibu muda berbagi kisah tentang bagaimana ia tetap memilih mengampuni suaminya yang berselingkuh, bukan karena mudah tetapi karena ia merasa dipegang oleh kasih Allah yang tak bersyarat. Ceritanya tidak hanya membuat jemaat menangis, tetapi juga memicu diskusi mendalam tentang makna pengampunan dalam relasi modern. Bagi sang ibu, proses menulis dan menyampaikan kisah itu yang awalnya penuh keraguan justru menjadi titik balik. Ia menyadari bahwa luka yang dialaminya bukan akhir, melainkan tempat Allah Kesaksian pribadi yang jujur dan kontekstual justru menjadi jembatan paling efektif untuk menyampaikan Injil. Dalam contoh konteks ini, orang tua bukan sekadar simbol masa lalu, tetapi mitra aktif dalam membentuk iman masa kini. Dengan demikian, gereja menjadi ruang intergenerasional di mana iman diwariskan bukan hanya melalui doktrin, tetapi juga melalui kisah, praktik, dan kehadiran hidup orang-orang tua yang penuh hikmat yang menjadi jembatan antara masa lalu yang bijak dan masa depan yang beriman. Ketika nilai-nilai yang hidup dalam budaya setempat ditempatkan dalam dialog dengan narasi Alkitab, firman Tuhan tidak lagi terasa seperti teks asing yang jatuh dari langit tanpa akar di bumi, melainkan firman yang menyentuh tanah, berbicara dalam bahasa lokal, dan menyapa realitas keseharian umat. Pendidikan iman yang demikian melahirkan umat yang berakar dalam Kristus sekaligus berpijak pada tanah Dalam menyikapi hal di atas, peran gereja dan para pendeta perlu mengalami pergeseran Bukan lagi sebagai pemegang tunggal otoritas spiritual, melainkan sebagai fasilitator, pendengar aktif, dan rekan seperjalanan dalam komunitas iman. Untuk mengatasi persoalan ketidaksetaraan, eksklusi, atau dominasi suara tertentu, gereja harus mengubah pola kepemimpinannya dari model hierarkis menjadi kolaboratif. Pendeta dan majelis secara sadar melepaskan monopoli atas penafsiran teologis dan pengambilan keputusan, lalu memilih memimpin dari tengah dengan membuka ruang bagi partisipasi lintas usia, latar belakang, dan Dampak jangka panjangnya akan signifikan, di mana jemaat tidak lagi bergantung sepenuhnya pada pendeta untuk berbicara tentang Allah, melainkan menjadi saksi aktif dalam keluarga, tempat kerja, dan media sosial. Komunitas gereja pun berubah dari kumpulan pendengar pasif menjadi jaringan saling membangun, di mana setiap suara dari remaja hingga lansia dipandang sebagai bagian dari karya Roh yang terus menerangi jalan iman bersama. Langkah konkret dimulai dengan membangun praktik pendengaran sistematis, seperti Aulistening circles,Ay survei naratif, atau kunjungan pastoral yang bertanya lebih banyak daripada menasihati sebagai bentuk pengakuan bahwa Roh Kudus berbicara melalui pergumulan nyata umat. Inklusivitas harus menjadi prinsip utama dalam merancang program pendidikan agar semua kalangan dapat merasakan manfaatnya. 21 Proses pendidikan agama Kristen dan tata ibadah perlu didesain ulang agar memungkinkan keterlibatan holistik. Anak diberi ruang memimpin doa dengan bahasanya sendiri, remaja mengekspresikan refleksi Alkitab melalui seni digital, dan lansia berbagi hikmat melalui narasi kehidupan. Gereja juga perlu melatih jemaat awam perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas sebagai fasilitator spiritual, seDaud Alfons Pandie dan Fibry Jati Nugroho. AuDalek Esa Sebagai Aointegrating forceAo: Sebuah Konstruksi Teologis Interaksi Sosial Masyarakat Multikultural Berbasis Kearifan Lokal Di Kabupaten Rote Ndao Ay. KURIOS 11, no. 1 (April 30, 2. : 144Ae159. https://sttpb. id/e-journal/index. php/kurios/article/view/1018. 21 Jerry Donni. AuPenguatan Pendidikan Iman dalam Jemaat: Tantangan dan Pendekatannya di Gereja Kontemporer,Ay Danum Pambelum: Jurnal Teologi dan Musik Gereja 3, no. : 265Ae270. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 813 H. Simanjuntak. Menuju gereja sebagai komunitasA hingga kepemilikan atas kehidupan iman tidak terpusat pada figur Auklerikal. Ay Evaluasi kritis terhadap struktur dan bahasa gereja pun penting. Dengan demikian, gereja menghidupi kembali identitasnya sebagai tubuh Kristus yang utuh, di mana penderitaan dan sukacita satu anggota menjadi milik bersama . Kor. Di tengah dunia yang semakin terpecah, komunitas semacam ini menjadi kesaksian nyata bahwa Kerajaan Allah dinyatakan bukan melalui kekuasaan, tetapi melalui kerendahan hati, saling menghargai, dan keberanian mendengar suara yang paling lembut sekalipun. Alasan mendesaknya prinsip ini mulai diterapkan karena krisis relevansi gereja di era kontemporer. Faktanya adalah bahwa banyak orang cenderung bertahan dengan apa yang mereka ketahui dan menghindari situasi atau tantangan di mana mereka dapat dipaksa untuk mempelajari sesuatu yang baru. 22 Dalam dunia yang terus berubah dengan kecepatan tinggi, pendidikan Kristen di gereja tidak bisa lagi terlalu kaku, tetapi harus menanggalkan cara berpikir, kebiasaan mengajar, atau asumsi lama yang dulu dianggap benar. Namun kini justru menghambat relevansi iman dalam konteks zaman. Banyak orang, terutama generasi muda saat ini, semakin meninggalkan komunitas iman bukan karena kehilangan kepercayaan pada Allah, tetapi karena merasa tidak dihargai sebagai subjek, melainkan hanya sebagai objek pelayanan atau sasaran program. Ketika gereja berani mengakui kesetaraan spiritual semua anggotanya, dampaknya transformatif: kepercayaan dipulihkan, kreativitas iman tumbuh, dan komunitas menjadi tempat di mana setiap orang merasa ada dan diperlukan. Di tengah dunia yang sering membeda-bedakan orang berdasarkan status, usia, atau kemampuan, gereja yang menerapkan prinsip ini menjadi bukti nyata bahwa dalam Kerajaan Allah, martabat seseorang tidak ditentukan oleh apa yang ia lakukan, melainkan oleh keberadaannya sendiri karena di dalam dirinya Roh Allah tinggal dan berkarya dengan maksimal. Kesimpulan Pendidikan Agama Kristen dalam banyak konteks gerejawi masih dijalankan dengan pendekatan yang menempatkan jemaat sebagai penerima materi ajar, bukan sebagai subjek yang berkontribusi dalam proses pembentukan iman. Pola ini melahirkan ketergantungan spiritual dan membentuk kebiasaan beriman yang pasif, di mana pengetahuan teologis dipahami sebagai informasi untuk dihafal, bukan sebagai kebenaran yang dihidupi secara reflektif dan relasional. Dalam situasi seperti ini. PAK kehilangan peran kritisnya sebagai proses pembentukan habitus iman yang tumbuh dari keterlibatan aktif seluruh tubuh Kristus. Spiritualitas partisipatif menawarkan koreksi mendasar terhadap pola pedagogi yang bersifat hierarkis dan informatif. Spiritualitas ini tidak mendefinisikan iman sebagai kepemilikan pribadi, melainkan sebagai dinamika relasional yang bertumbuh melalui kebersamaan, dialog, pelayanan, dan kepekaan terhadap karya Roh Kudus dalam kehidupan komunitas. Dengan demikian, pembelajaran iman tidak lagi dipusatkan pada satu arah transfer pengetahuan, tetapi bekerja melalui interaksi yang kreatif dan reflektif dalam kehidupan gereja. Rekonstruksi PAK menjadi mendesak karena gereja sedang menghadapi realitas sosial dan kultural yang kompleks, yang tidak dapat dijawab hanya dengan pengajaran doktrinal. Jemaat memerlukan ruang untuk bertanya, mengolah pengalaman, dan mengambil bagian dalam proses penafsiran iman secara kolektif. Tanpa pembaruan pendekatan. PAK akan berisiko terjebak dalam formalitas dan tidak lagi menyentuh dimensi praksis kehidupan seharihari. Dengan menata ulang PAK dalam kerangka spiritualitas partisipatif, gereja diarahkan Hersen Geny Wulur dan Calvin Sholla Rupa. AuRelevansi Konsep Learn. Unlearn, and Relearn dalam Pendidikan Kristen di Era Disrupsi,Ay Jurnal Ilmu Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 4, no. : 61Ae75. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 814 KURIOS. Vol. No. Desember 2025 untuk mengakui bahwa setiap anggota jemaat adalah peserta aktif dalam ziarah iman. Rekonstruksi ini membuka kemungkinan terbentuknya ekosistem pembelajaran yang lebih organik, di mana liturgi, relasi, pelayanan, dan pergumulan hidup bukan sekadar aktivitas terpisah, tetapi bagian integral dari kurikulum iman yang hidup. Dalam konfigurasi ini. PAK tidak hanya mengajarkan isi iman, tetapi juga membentuk cara baru menghayati iman melalui keterlibatan penuh dan kesadaran komunal. Referensi