Jurnal Pendidikan Multidisipliner Volume 8 Nomor 11. November 2025 ISSN: 27342488 PENERAPAN TEKNIK KOLASE UNTUK MENINGKATKAN KREATIVITAS PADA KEGIATAN MENGGAMBAR SISWA-SISWI KELAS VIIA SMPK STA. MARIA ASSUMPTA KUPANG Santisima Sentika Pong1. Krisensia W. Harum2. Stanislaus Sanga Tolan3 Email: santisimasentikapong@gmail. Universitas Katolik Widya Mandira Kupang ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kreativitas siswa kelas VIIA SMPK St. Maria Assumpta Kupang melalui penerapan teknik kolase dalam kegiatan menggambar. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya tingkat kreativitas siswa yang terlihat dari hasil observasi awal, di mana sebagian besar siswa belum berani menampilkan ide-ide orisinal dan kurang antusias dalam berkarya. Berdasarkan pandangan Carl R. Rogers . , kreativitas akan berkembang optimal apabila individu merasa diterima, dihargai, dan bebas mengekspresikan diri tanpa tekanan. Metode yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis dan McTaggart yang dilaksanakan dalam tiga pertemuan. Subjek penelitian terdiri atas 25 siswa kelas VIIA. Pada pertemuan pertama siswa menggambar bentuk simetris sederhana, pada pertemuan kedua menggambar bebas berdasarkan imajinasi, dan pada pertemuan ketiga diterapkan kegiatan kolase berbasis kelompok dengan pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD). Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kreativitas siswa yang signifikan. Siswa menjadi lebih aktif, berani bereksperimen, dan mampu menghasilkan karya seni rupa yang lebih bervariasi serta bermakna. Dengan demikian, penerapan teknik kolase dapat dijadikan alternatif pembelajaran untuk menumbuhkan kreativitas dan keaktifan siswa dalam kegiatan menggambar. Kata Kunci: Kreativitas. Kolase. Siswa SMPK St. Maria Assumpta. ABSTRACT This study aims to improve the creativity of class VIIA students of SMPK St. Maria Assumpta Kupang through the application of collage techniques in drawing activities. This study was motivated by the low level of student creativity as seen from the results of initial observations, where most students did not dare to present original ideas and were less enthusiastic in creating works. Based on the view of Carl R. Rogers . , creativity will develop optimally if individuals feel accepted, appreciated, and free to express themselves without pressure. The method used was the Classroom Action Research (CAR) model of Kemmis and McTaggart which was carried out in three meetings. The research subjects consisted of 25 class VIIA students. In the first meeting, students drew simple symmetrical shapes, in the second meeting, they drew freely based on their imagination, and in the third meeting, group-based collage activities were implemented with the development of Student Worksheets (LKPD). The results of the study showed a significant increase in student creativity. Students became more active, dared to experiment, and were able to produce more varied and meaningful works of art. Thus, the application of collage techniques can be used as an alternative learning method to foster students' creativity and activeness in drawing activities. Keywords: Creativity. Collage. Students Of SMPK St. Maria Assumpta. PENDAHULUAN Masa remaja merupakan tahap peralihan dari masa kanak-kanak menuju kedewasaan, ditandai oleh berbagai perubahan fisik, emosional, sosial, dan kognitif. Menurut Hurlock . , masa remaja berlangsung antara usia 12 hingga 18 tahun, yaitu masa ketika individu mulai mencari jati diri dan menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya. Pada tahap ini, remaja mulai berpikir lebih matang, berani mengemukakan pendapat, dan memiliki kebutuhan untuk diakui oleh orang lain. Dalam konteks pendidikan, fase ini merupakan periode penting untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kreatif dan kemandirian belajar siswa. Guru berperan sebagai fasilitator yang menciptakan suasana belajar menyenangkan, sedangkan orang tua memberikan dukungan moral dan lingkungan yang kondusif di rumah. Salah satu cara efektif menumbuhkan kreativitas remaja adalah melalui kegiatan seni, karena kegiatan ini memberikan ruang bagi siswa untuk berekspresi dan berimajinasi. Salah satu bentuk kegiatan seni yang relevan adalah kolase, yaitu teknik seni rupa yang dibuat dengan menempelkan berbagai bahan seperti kertas, kain, biji-bijian, atau potongan gambar pada bidang dasar untuk menghasilkan komposisi visual baru dan menarik. Melalui teknik ini, siswa dapat mengasah imajinasi, kepekaan estetika, serta keberanian bereksperimen dalam berkarya. Berdasarkan hasil observasi awal di SMPK St. Maria Assumpta Kupang, kreativitas siswa kelas VIIA masih tergolong rendah. Hal ini terlihat dari kurangnya antusiasme dan keberanian siswa dalam menggambar serta keterbatasan mereka dalam menerapkan unsur seni seperti komposisi, proporsi, dan keselarasan warna. Kondisi ini menunjukkan perlunya penerapan metode pembelajaran yang lebih kreatif dan interaktif. Oleh karena itu, penerapan teknik kolase dipandang sebagai strategi pembelajaran yang dapat menumbuhkan imajinasi, meningkatkan semangat belajar, dan mengembangkan kemampuan berpikir kreatif siswa. ME TODE PE NE LITIA N Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis dan McTaggart yang terdiri atas empat tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Penelitian dilaksanakan dalam tiga pertemuan yang difokuskan pada peningkatan kreativitas siswa melalui kegiatan menggambar dan kolase. Subjek penelitian adalah 25 siswa kelas VIIA SMPK St. Maria Assumpta Kupang. Data dikumpulkan melalui observasi, penilaian hasil karya, dan refleksi guru pada setiap Tahapan tindakan adalah sebagai berikut: Pertemuan pertama: siswa menggambar bentuk simetris sederhana untuk mengamati tingkat kreativitas awal. Pertemuan kedua: siswa menggambar bebas berdasarkan imajinasi masing-masing. Pertemuan ketiga: guru membentuk lima kelompok dan menerapkan kegiatan kolase dengan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD). HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi Kondisi Awal Sebelum pelaksanaan tindakan, guru melakukan observasi terhadap kegiatan pembelajaran Seni Budaya di kelas VII SMPK St. Maria Assumpta Kupang. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa sebagian besar siswa menunjukan minat yang rendah dalam Dari total 25 siswa, hanya sebagian yang terlihat antusias dan aktif mengerjakan tugas menggambar. sedangkan sisanya masih tampak pasif dan kurang percaya Karya yang dihasilkan siswa umumnya seragam, cenderung meniru contoh dari guru, dan belum menunjukan ide atau inovasi baru. Hal ini menunjukan bahwa kemampuan berpikir kreatif siswa masih terbatas. Guru juga mengaku bahwa selama ini kegiatan menggambar belum pernah dikombinasikan dengan teknik kolase, padahal teknik tersebut berpotensi meningkatkan daya imajinasi dan variasi bentuk karya siswa. Pelaksanaan Tindakan Penelitian ini dilaksanakan dalam tiga kali pertemuan dengan menggunakan model Kemmis dan McTaggart yang meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Pertemuan Pertama A hari/tanggal: Senin, 08 September 2025 A Tujuan: Mengamati tingkat kreativitas awal siswa melalui kegiatan menggambar bentuk simetris sederhana A Kegiatan: Guru menjelaskan materi tentang prinsip menggambar dan bentuk simetris, kemudian memberikan tugas menggambar bentuk simetris sederhana A Hasil Observasi: sebagian besar siswa masih terlihat pasif dan ragu-ragu. Hanya beberapa siswa yang mencoba menambahkan detail pada gambarnya. Berdasarkan penelitian awal rata-rata skor kreativitas siswa berada pada kategori . %). Karya masih terkesan kaku dan belum memperlihatkan variasi baru. A Refleksi Guru: Guru menyimpulkan bahwa siswa membutuhkan stimulus atau metode baru yang dapat membangkitkan minat mereka, serta media yang memungkinkan mereka berkarya dengan bahan yang berbeda. Pertemuan Kedua A Hari/Tanggal: Senin, 06 oktober 2025 A Tujuan: memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengekspresikan diri melalui menggambar bebas berdasarkan imajinasi masing-masing A Kegiatan: Guru menjelaskan prinsip dasar menggambar alam benda dan mencontohkan cara menyusun komposisi. Siswa diberi kebebasan untuk memilih tema gambar sesuai minat mereka. A Hasil Observasi: Antusiasme siswa meningkat. Sebanyak 15 dari 25 siswa aktif bertanya dan berdiskusi. Beberapa karya mulai menampilkan ide baru, meski komposisi dan pewarnaan sebagian masih perlu diperbaiki. Rata-rata skor kreativitas meningkat menjadi 65% . ategori sedan. A Refleksi Guru: Media yang lebih konkret dan menantang diperlukan untuk mendorong siswa mengekspresikan imajinasi lebih tinggi. Oleh karena itu, pertemuan selanjutnya menggunakan teknik kolase sebagai media utama. Pertemuan Ketiga A Hari/Tanggal: Senin 27 Oktober 2025 A Tujuan: Meningkatkan kreativitas siswa melalui penerapan tekni kolase dalam kegiatan A Kegiatan: Guru menyiapkan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yang berisi petunjuk membuat kolase. Siswa dibagi menjadi lima kelompok yang masing-masing beranggotakan 5 orang. Bahan yang digunakan antara lain: biji-bijian seperti: kacang hijau, jagung, kacang merah, kacang kedelai putih dan hitam, kuaci. Guru memberikan karya kolase sederhana, kemudian siswa diminta membuat karya tersebut. A Hasil Observasi: Hampir seluruh siswa terlihat antusias dan aktif berpartisipasi. Mereka bekerja sama memilih bahan, menyusun komposisi, dan menempelkan bahan pada bidang gambar. Karya kelompok menunjukkan keberagaman ide dan komposisi warna Rata-rata skor kreativitas meningkat menjadi 82% . ategori tingg. A kelompok 1 menggunakan bahan kuaci, kacang kedelai putih, kacang hijau, beras, dan jagung untuk menggambarkan lebah. A kelompok 2 menggunaan bahan beras, kuaci, jagung, kacang hijau, kacang kedelai putih, kacang merah untuk menggambarkan kura-kura. A kelompok 3 menggunakan bahan kacang hijau, kacang merah, jagung, beras, dan kacang kedelai putih untuk menggambarkan kura-kura. A kelompok 4 menggunakan bahan jagung, kacang kedelai putih dan hitam, beras, kacang hijau, kacang merah untuk menggambarkan kupu-kupu. A kelompok 5 menggunakan bahan jagung, kuaci, kacang hijau, kacang kedelai putih, beras utnuk menggambarkan kupu-kupu. Guru memberikan apresiasi berupa pujian dan menampilkan karya terbaik depan Berdasarkan hasil penelitian, rata-rata kreativitas siswa naik menjadi 82% . atedori Aspek yang mengalami peningkatan paling signifikan adalah keberanian bereksperimen, variasi ide, dan kerapian karya. A Refelksi Guru: Guru menyimpulkan bahwa teknik kolase mampu membangkitkan minat siswa dalam berkarya. Selain itu, kerja kelompok membuat siswa lebih terbuka terhadap ide teman dan termotivasi untuk menghasilkan karya yang lebih baik. Analisis Peningkatan Kreativitas Peningkatan kreativitas siswa dapat dilihat melalui hasil penilaian tiap pertemuan berdasarkan empat indikator utama: Keberanian mengemukakan ide kemampuan mengembangkan imajinasi dalam karya ketepatan komposisi dan penggunaan warna kemandirian dan kerja sama dalam berkarya Pertemuan Rata-rata Kategori Rendah Sedang Tinggi Dari tabel diatas, terlihat adanya peningkatan kreativitas sebesar 72 poin dari pertemuan pertama hingga pertemuan ketiga. Hal ini menunjukan bahwa penerapan teknik kolase berpengaruh positif terhadap perkembangan kemampuan berpikir kreatif dan ekspresi visual siswa. Hasil penelitian ini sejalan dengan teori Rogers . yang menyatakan bahwa kreativitas tumbuh optimal ketika individu merasa bebas berekspresi tanpa tekanan. Dalam kegiatan kolase, siswa diberikan ruang untuk berimajinasi, memilih bahan, serta menata komposisi sesuai selera mereka. Selain itu. Temuan ini memperkuat pendapat munandar . bahwa kreativitas siswa dapat dikembangkan melalui pengalaman belajar yang memberikan kesempatan untuk mencoba, membuat kesalahan, dan memperbaikinya. Aktivitas kolase memungkinkan siswa melakukan eksplorasi bahan dan bentuk secara langsung, sehingga mereka belajar dari pengalaman visual dan taktil . Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kreativitas siswa melalui penerapan teknik kolase dalam kegiatan menggambar. Peningkatan ini terlihat dari beberapa aspek, yaitu keberanian mengemukakan ide, kemampuan mengembangkan imajinasi, ketepatan komposisi dan penggunaan warna, serta kemandirian dan kerja sama dalam berkarya. Pada pertemuan kedua, saat siswa menggambar bebas berdasarkan imajinasi, sebagian siswa mulai menunjukkan keberanian bereksperimen. Namun, beberapa siswa masih belum mampu mengatur komposisi dan pewarnaan dengan optimal. Hal ini mengindikasikan bahwa kreativitas siswa membutuhkan media yang lebih konkret dan menantang untuk mendorong ekspresi ide secara maksimal. Penerapan teknik kolase pada pertemuan ketiga terbukti efektif dalam menumbuhkan kreativitas siswa. Aktivitas kolase memberikan kesempatan bagi siswa untuk bereksplorasi secara langsung dengan bahan-bahan nyata seperti biji-bijian . acang hijau, jagung, beras, kacang merah, kuac. Dalam proses ini, siswa belajar mengatur komposisi, menyesuaikan warna, dan bekerja sama dengan teman sekelompoknya untuk menghasilkan karya yang unik. Temuan ini sejalan dengan teori Carl R. Rogers . yang menyatakan bahwa kreativitas berkembang optimal ketika individu merasa bebas berekspresi tanpa tekanan. Selain itu, sesuai dengan pendapat Munandar . , pengalaman belajar yang memberikan kesempatan mencoba, melakukan kesalahan, dan memperbaiki kesalahan akan meningkatkan kreativitas peserta didik. Aktivitas kolase menggabungkan aspek visual dan taktil, sehingga siswa belajar melalui pengalaman langsung dan interaksi dengan lingkungan belajar. Lebih lanjut, kerja kelompok dalam kegiatan kolase mendorong siswa untuk terbuka terhadap ide teman, belajar menghargai perbedaan, dan meningkatkan keterampilan sosial. Hasil ini menunjukkan bahwa kolase tidak hanya berfungsi sebagai media pengembangan kreativitas, tetapi juga sebagai sarana pembentukan sikap kolaboratif dan komunikasi antar Secara keseluruhan, penerapan teknik kolase terbukti meningkatkan minat, keaktifan, dan kemampuan berpikir kreatif siswa dalam kegiatan menggambar. Kegiatan ini juga memungkinkan siswa untuk menampilkan gaya pribadi dan ciri khas masing-masing dalam karya yang dihasilkan, sehingga kreativitas mereka berkembang secara lebih bermakna. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah dilakukan dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) mengenai penerapan teknik kolase pada kegiatan menggambar di Kelas VIIA SMPK St. Maria Assumpta Kupang, dapat ditarik beberapa simpulan pokok sebagai berikut: Peningkatan Kreativitas Secara Signifikan: Penerapan teknik kolase terbukti efektif dan signifikan dalam meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa. Keefektifan ini ditunjukkan dengan lonjakan rata-rata skor kreativitas siswa dari 55% pada Pertemuan Pertama . ategori renda. menjadi 82% pada Pertemuan Ketiga . ategori tingg. Peningkatan ini memvalidasi bahwa teknik kolase merupakan strategi pembelajaran yang Perbaikan Indikator Kreativitas: Peningkatan tertinggi terjadi pada aspek keberanian bereksperimen, variasi ide, dan kerapian karya. Teknik kolase berhasil mengatasi kondisi awal siswa yang pasif dan cenderung meniru, menjadi aktif, antusias, dan mampu menghasilkan karya seni rupa yang lebih beragam dan bermakna. Dukungan Teori dan Proses Pembelajaran: Hasil temuan ini sejalan dengan teori psikologi humanistik Carl R. Rogers . yang menekankan bahwa kreativitas berkembang optimal ketika individu diberikan kebebasan penuh untuk berekspresi tanpa tekanan. Selain itu, teknik kolase memperkuat pendapat Munandar . karena melibatkan pengalaman belajar yang konkret, visual, dan taktil, memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencoba, bereksplorasi bahan nyata, dan memperbaiki karya mereka. Pengembangan Keterampilan Sosial: Pelaksanaan kegiatan kolase secara berkelompok pada Pertemuan Ketiga turut berfungsi sebagai sarana pembentukan sikap kolaboratif dan komunikasi yang efektif antar siswa. Kerja kelompok terbukti membuat siswa lebih terbuka terhadap ide teman dan termotivasi untuk menghasilkan karya yang lebih baik. Secara keseluruhan, teknik kolase dapat dijadikan alternatif pembelajaran yang relevan untuk menumbuhkan imajinasi, meningkatkan minat, dan mengembangkan kemampuan berpikir kreatif siswa pada mata pelajaran Seni Budaya. DAFTAR PUSTAKA