Psikosains: Jurnal Penelitian dan Pemikiran Psikologi https://journal. id/index. php/psikosains GAMBARAN WORK-LIFE INTEGRATION PADA FULL TIME EMPLOYEES Naila Khansa Almaira1. Rafa Akbar Salivian Alkahfi2. Valerie Alicia Erica Rumbajan3. Agnes Vania Yahya4. Daniel Lie5*. 1,2,3,4,5 Fakultas Psikologi. Universitas Tarumanagara Article Info Article History Submitted: 29th April Final Revised: 13th August Accepted: 13th August 2025 Abstract Background: This study explores the depiction of work-life integration among full-time employees. Changes in organizational culture and technology have blurred the boundaries between work and personal life, requiring employees to manage professional demands while maintaining personal well-being. WLI, which consists of work-to-life and life-to-work dimensions, emphasizes dynamic integration rather than strict separation, potentially enhancing productivity and reducing stress. Objective: The aim of this research is to further understand and explore the depiction of work-life integration (WLI) among full-time employees. Method: A quantitative approach was used with non-probability sampling techniques and purposive sampling methods involving 110 full-time employees as respondents. Results: The findings indicate that the level of work-life integration among full-time employees falls within the moderate category (M = The work-to-life dimension shows a higher level of integration (M = 4. compared to the life-to-work dimension (M = 3. Conclusion: These findings suggest that the integration between work and personal life is at a moderate level, indicating a fairly balanced relationship between the two domains. Keywords: Work-life-integration. Work-to-life, life-to-work, full-time worker. This is an open access article under the CC-BY-SA license Copyright A 2025 by Author. Published by Universitas Muhammadiyah Gresik Abstrak Latar Belakang: Penelitian ini membahas gambaran mengenai work-life integration pada pekerja full-time. Perubahan budaya organisasi dan kemajuan teknologi telah megaburkan batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, sehingga menunut karyawan untuk mengelola tuntutan profesional sambil tetap menjaga kesejahteraan personal. WLI, yang terdiri dari dimensi pekerjaan terhadap kehidupan pribadi dan kehidupan pribadi terhadap pekerjaan, menekankan integrasi dinamis dibandingkan pemisahan ketat, sehingga berpotensi meningkatkan produktivitas dan mengurangi stres. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mengeksplorasi lebih lanjut dalam memahami gambaran mengenai work-life integration (WLI) pada pekerja full-time. Metode: Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan teknik non-probability sampling dan metode purposive sampling terhadap 110 responden yang bekerja secara full-time. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat integrasi pekerja full-time berada di kategori sedang (M=3. Dimensi work-to-life menunjukkan tingkat integrasi yang lebih tinggi (M=4. dibandingkan dimensi life-to-work (M=3. Kesimpulan: temuan ini dikategorikan sedang yang artinya menunjukkan bahwa integrasi antara pekerjaan dan kehidupan pribadi berada pada tingkat yang cukup seimbang Kata kunci: Integrasi-kehidupan-kerja. Pekerja penuh waktu. Karyawan Psikosains. Vol. No. Agustus 2025, hal 161-174 p-ISSN 1907-5235 e-ISSN 2615-1529 *email: daniell@fpsi. Psikologi. Universitas Tarumanagara Letjen S. Parman St No. Jakarta Barat. PENDAHULUAN Setiap organisasi bertujuan untuk mencapai kesuksesan dalam mewujudkan visi dan Di dunia kerja modern, perkembangan teknologi dan transformasi budaya organisasi terus mengubah cara individu berinteraksi dengan pekerjaannya. Transformasi digital membawa perubahan dalam struktur organisasi dan budaya kerja, memungkinkan karyawan untuk bekerja secara efisien dari mana saja (Ahmetya dkk, 2. Seiring dengan perubahan ini, batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi semakin kabur, karena pekerjaan tidak lagi terbatas pada ruang kantor atau jam kerja yang kaku (Eurofound, 2. Banyak perusahaan menerapkan kebijakan yang memungkinkan pekerjaan dilakukan dari berbagai lokasi dan waktu yang lebih fleksibel, memberikan keleluasaan bagi pekerja untuk menyesuaikan ritme kerja mereka (Kossek dkk, 2. Namun, perubahan ini juga membawa tantangan tersendiri, terutama bagi pekerja fulltime yang harus mengelola berbagai tuntutan profesional sambil tetap menjaga keseimbangan kehidupan pribadinya. Sebagai elemen utama dalam organisasi, pekerja full-time memiliki peran krusial dalam memastikan kelangsungan dan pencapaian tujuan perusahaan. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) pada Februari 2024 menyatakan bahwa pekerja full-time merupakan penduduk bekerja dengan jumlah jam kerja di atas 35 jam seminggu dengan rata-rata 7-8 jam kerja per harinya. Berdasarkan data BPS pada Februari 2024, sebanyak 65,5% dari total penduduk bekerja merupakan pekerja full-time, dengan 25% pekerja paruh waktu dan 8% pengangguran. Hal ini menandakan dominannya peran pekerja fulltime dalam struktur ketenagakerjaan Indonesia. Meskipun pekerja full-time memegang peran dominan dalam struktur ketenagakerjaan, tantangan yang mereka hadapi tidak hanya terbatas pada beban kerja, tetapi juga pada keseimbangan antara kehidupan profesional dan pribadi. Sebuah studi yang diterbitkan dalam American Sociological Review pada tahun 2017 menemukan bahwa 70% pekerja di Amerika Serikat berjuang untuk mencapai keseimbangan yang memadai antara pekerjaan dan kehidupan Selain itu, survei yang dilakukan oleh Hay Group . mengungkapkan bahwa 39% responden merasa tidak memiliki keseimbangan yang tepat antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, dan 27% responden bekerja di perusahaan yang tidak mendukung keseimbangan tersebut, sehingga mereka berencana mencari pekerjaan baru dalam dua tahun ke depan. Berdasarkan laporan dari The Health and Safety Executive (HSE) tahun 2023, sekitar 50% pekerja di berbagai sektor melaporkan bahwa mereka bekerja lebih dari 40 jam per minggu, dengan sebagian besar masih terlibat dalam pekerjaan mereka di luar jam kerja forma. Hal tersebut menunjukkan bahwa fenomena ini telah mengubah karakteristik waktu kerja, memungkinkan komunikasi dan tugas pekerjaan berlangsung di luar jam kantor, sehingga batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi semakin kabur (Eurofound, 2. Fenomena ini terlihat dari bagaimana pekerja full-time sering kali membawa pekerjaan ke dalam kehidupan pribadinya, seperti mengecek e-mail kantor di waktu Work-Life-Integration pada Full-time Worker Naila Khansa. Rafa Akbar Salivian Alkahfi. Valerie Alicia. Agnes Vania. Daniel Lie senggang, menghadiri rapat virtual di luar jam kerja, atau menyelesaikan tugas saat akhir pekan. Bahkan, beberapa pekerja merasa sulit untuk benar-benar melepaskan diri dari tanggung jawab pekerjaan meskipun sedang berada di rumah atau dalam waktu luang mereka. Hal ini dapat memberikan fleksibilitas lebih besar untuk mewujudkan tanggung jawab atas pekerjaan dan kehidupan pribadi. Situasi ini mencerminkan bagaimana batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi semakin kabur, di mana aspek profesional dan personal saling menyatu dalam keseharian Konsep yang menjelaskan fenomena ini dalam ilmu psikologi adalah Work-Life Integration (WLI). WLI merupakan kemampuan adaptasi para pekerja yang secara penuh menggabungkan dan mengkombinasikan saat bekerja dan saat bersama dengan keluarga (Rachmawati dkk, 2. WLI terdiri atas dua dimensi. Pertama. Work-to Life (WTL) dan Life-to work (LTW) yang menggambarkan bagaimana pekerjaan dapat mempengaruhi kehidupan pribadi dan sebaliknya (Wepfer dkk 2. Pendekatan ini menekankan pentingnya mengintegrasikan tanggung jawab pekerjaan ke dalam kehidupan sehari-hari tanpa mengorbankan kesejahteraan pribadi, yang berpotensi meningkatkan produktivitas serta mengurangi stres. Berbeda dengan Work-Life Balance (WLB) yang menekankan pemisahan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. WLI menggambarkan bagaimana individu menyesuaikan kedua aspek tersebut secara dinamis agar dapat berjalan bersamaan. (Wepfer dkk, 2. Pendekatan ini menekankan pentingnya mengintegrasikan tanggung jawab pekerjaan ke dalam kehidupan seharihari tanpa mengorbankan kesejahteraan pribadi, yang berpotensi meningkatkan produktivitas serta mengurangi stres. Selain fleksibilitas. WLI juga menawarkan beberapa keuntungan yang membuatnya semakin diminati oleh organisasi dan pekerja. Pertama. WLI dapat meningkatkan produktivitas dengan memungkinkan pekerja untuk mengatur jadwal kerja mereka sesuai dengan ritme pribadi mereka, yang dapat meningkatkan fokus dan efektivitas kerja (Kossek dkk, 2. Kedua, pendekatan ini dapat mengurangi tingkat stres, karena individu tidak dipaksa untuk memilih antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, tetapi justru dapat mengelola keduanya secara lebih harmonis (Allen dkk, 2. Mengingat pentingnya WLI dalam kehidupan pekerja, berbagai penelitian telah dilakukan untuk memahami sejauh mana individu dapat mengintegrasikan kehidupan kerja dan pribadi Namun, hasil penelitian menunjukkan tingkat WLI yang bervariasi di berbagai kelompok Dengan menggunakan skala Likert 1-7, mean hipotetik WLI yang menjadi batas antara kategori rendah dan tinggi. Penelitian oleh Tawfik . , menemukan bahwa dokter di Amerika Serikat memiliki tingkat WLI yang rendah dengan mean 3,02. Di sisi lain, studi oleh Jena et al. menunjukkan bahwa perawat di rumah sakit India berada pada tingkat sedang dengan mean 3,73. Sementara itu. Panatik dkk . menemukan bahwa staf pendidikan tinggi memiliki tingkat WLI yang tinggi dengan mean 4,98. Variasi dalam tingkat WLI ini menunjukkan bahwa belum ada pola yang konsisten. Selain itu, sejauh ini belum ada penelitian yang secara khusus meneliti WLI dengan fokus pada pekerja full-time. Oleh karena itu, penelitian ini perlu dilakukan kembali guna mengeksplorasi lebih lanjut dalam memahami gambaran mengenai WLI pada pekerja full-time. Work-Life-Integration pada Full-time Worker Naila Khansa. Rafa Akbar Salivian Alkahfi. Valerie Alicia. Agnes Vania. Daniel Lie METODE PENELITIAN Sampel atau Populasi Kriteria partisipan dalam penelitian ini adalah pekerja full-time yang bekerja minimal 8 jam per hari di kantor selama 5 hari dalam seminggu, dengan pengalaman kerja minimal satu tahun dan pendidikan minimal SMA atau sederajat. Berdasarkan data yang dikumpulkan, partisipan terdiri atas 120 partisipan, namun terdapat 10 partisipan yang dieliminasi karena tidak sesuai dengan kriteria partisipan. Partisipan merupakan pekerja full-time di berbagai sektor industri di Indonesia, terdiri dari 44 laki-laki . %) dan 66 perempuan . %). Mayoritas partisipan berusia 20-25 tahun . ,9%), diikuti oleh kelompok usia 26-30 tahun . ,3%) dan 31-35 tahun . ,5%). Dari segi pendidikan, sebagian besar memiliki tingkat pendidikan S1 . ,5%), sedangkan lainnya berasal dari latar belakang SMA/SMK/Sederajat . ,5%). S2 . ,1%), dan Diploma . ,9%). Mayoritas partisipan bekerja sebagai karyawan tetap . ,5%), sementara 30,9% berstatus kontrak, dan sisanya merupakan magang . ,8%) atau pemilik usaha . ,8%). Partisipan berasal dari berbagai bidang industri, dengan sektor terbesar adalah Food and Beverage. Pariwisata, dan Hospitality . ,9%), disusul oleh Keuangan dan Asuransi . ,8%). Manufaktur . ,9%). Ritel dan Grosir . ,0%), serta bidang lainnya. Sebagian besar partisipan memiliki pengalaman kerja 1-2 tahun . ,5%), diikuti oleh mereka yang telah bekerja selama 3-4 tahun . ,1%) dan kelompok dengan pengalaman kerja lebih lama. Dari segi pola kerja, mayoritas bekerja 5 hari dalam seminggu . ,9%) dengan durasi kerja 8-9 jam per hari . ,3%). Dalam aspek tempat tinggal, 56,4% partisipan masih tinggal bersama orang tua, sementara 43,6% tinggal terpisah. Sebagian besar partisipan belum menikah . ,5%), 30% sudah menikah, dan sisanya berstatus cerai hidup . ,9%) atau tidak menikah dengan alasan lain . ,6%). Mayoritas partisipan tidak memiliki anak . ,5%), sementara 9,1% memiliki 1 anak, 13,6% memiliki 2 anak, dan 2,7% memiliki 3 anak. Dalam hal status pekerjaan pasangan, 64,5% partisipan belum atau tidak menikah, sedangkan dari mereka yang sudah menikah, 26,4% memiliki pasangan yang bekerja, dan 9,1% memiliki pasangan yang tidak bekerja. Terakhir, sebagian besar partisipan tidak memiliki Asisten Rumah Tangga . %), sementara 20% memiliki ART di rumah mereka. Tabel 1. Data Demografik Demografik Jenis Kelamin Usia Frekuensi Persentase ( %) Laki-laki Perempuan Work-Life-Integration pada Full-time Worker Naila Khansa. Rafa Akbar Salivian Alkahfi. Valerie Alicia. Agnes Vania. Daniel Lie Pendidikan Status Pekerjaan Bidang Usaha Hari Bekerja >46 SMA/SMK Sederajat Diploma Karyawan tetap Karyawan kontrak Magang Pemilik Food and Beverage. Pariwisata, dan Hospitality Keuangan dan Asuransi Manufaktur Ritel dan Grosir Layanan Masyarakat dan pemerintahan Konstruksi. Properti, dan Desain Jasa Transportasi dan Logistik Lain-lain Work-Life-Integration pada Full-time Worker Naila Khansa. Rafa Akbar Salivian Alkahfi. Valerie Alicia. Agnes Vania. Daniel Lie Tinggal dengan Orang Tua Tidak Status Pernikahan Menikah Belum Menikah Tidak menikah Cerai Hidup Tidak Punya Saya belum/tidak Tidak Bekerja Bekerja Memiliki Tidak Memiliki Jam Bekerja Jumlah Anak Status Pekerjaan Pasangan Kepemilikan Asisten Rumah Tangga Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan secara dalam jaringan . melalui platform Google Form, yang dapat diakses melalui tautan yang dibagikan kepada partisipan yang merupakan pekerja full-time di perusahaan. Setelah partisipan mengklik tautan tersebut, partisipan akan diarahkan ke kuesioner yang terdiri dari empat bagian. Pada bagian pertama, partisipan diminta untuk membaca informed consent yang menjelaskan tujuan penelitian, hak partisipan, serta jaminan kerahasiaan data. Partisipan diberikan dua pilihan jawaban, yaitu AuYa, saya bersediaAy dan AuTidak, saya tidak bersedia. Ay Hanya partisipan yang memilih AuYa, saya bersediaAy Work-Life-Integration pada Full-time Worker Naila Khansa. Rafa Akbar Salivian Alkahfi. Valerie Alicia. Agnes Vania. Daniel Lie yang dapat melanjutkan pengisian kuesioner. Bagian kedua berisi instruksi umum mengenai cara mengisi kuesioner dan dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan terkait variabel penelitian. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Work-Life Boundary Enactment Scale (WLBES) yang dibuat oleh Wepfer dkk . dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh peneliti. Kuesioner ini terdiri dari total 20 butir pernyataan, yang terbagi ke dalam dua dimensi utama, yaitu WTL dan LTW. Setiap dimensi terdiri dari 10 butir pernyataan, yang terbagi lagi menjadi lima pernyataan positif dan lima pernyataan negatif. Contoh pernyataan positif adalah AuSaya sering berkomunikasi dengan orang-orang dari pekerjaan saya selama waktu istirahatAy sedangkan contoh pernyataan negatif adalah AuSaya tidak pernah membawa pekerjaan ke rumahAy. Setiap pernyataan dalam kuesioner ini diukur menggunakan skala Likert 7 poin, di mana partisipan memilih angka 1 hingga 7 sesuai dengan perilaku mereka. Semakin dekat pilihan partisipan dengan suatu pernyataan, maka semakin mencerminkan perilaku partisipan. Semakin rendah skornya . menunjukkan WLI yang rendah, yang berarti partisipan memiliki batas yang jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, sedangkan semakin tinggi skornya . menunjukkan bahwa WLI tinggi, yang berarti batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi sangat tipis atau semakin tidak jelas. Uji reliabilitas terhadap kuesioner ini menunjukkan nilai CronbachAos Alpha sebesar dimensi WTL sebesar 0. 808 dan LTW sebesar 0. 777 yang menandakan bahwa instrumen memiliki tingkat konsistensi internal yang baik. Setelah menjawab seluruh butir kuesioner, partisipan diarahkan ke bagian ketiga yang berisi informasi data diri. Pada bagian ini, partisipan diminta untuk mengisi data diri mereka, termasuk inisial, jenis kelamin, usia, pendidikan terakhir, jabatan, bidang usaha, status pekerjaan, lama bekerja, serta informasi keluarga dan Terakhir, pada bagian keempat, partisipan akan diarahkan ke halaman penutup yang berisi ucapan terima kasih atas partisipasi mereka dalam penelitian ini serta informasi untuk membantu menyebarkan kuesioner. Teknik Analisis Data Analisis data dalam penelitian ini dilakukan menggunakan aplikasi SPSS. Tahap pertama dalam analisis data adalah melakukan uji normalitas menggunakan Kolmogorov-Smirnov test untuk menentukan apakah data berdistribusi normal atau tidak. Setelah itu, dilakukan perhitungan mean untuk setiap dimensi, mean per soal, serta mean total untuk menggambarkan tingkat WorkLife Integration secara rinci. Selanjutnya, untuk mengetahui perbedaan Work-Life Integration berdasarkan jenis kelamin, dilakukan uji beda menggunakan Independent Samples t-Test. HASIL Berdasarkan hasil uji normalitas, diketahui bahwa Work-Life Integration (WLI), yang terdiri atas dua dimensi yaitu Work-to-Life (WTL) dan Life-to-Work (LTW), memiliki distribusi data yang normal. Hasil uji Kolmogorov-Smirnov menunjukkan bahwa nilai signifikansi untuk skor total WLI adalah p = 0. 540 (> 0. , nilai signifikansi untuk dimensi WTL adalah p = 0. (> 0. , dan nilai signifikansi untuk dimensi LTW adalah p = 0. 007 (> 0. Karena seluruh nilai signifikansi tersebut lebih besar dari 0. 05, maka dapat disimpulkan bahwa data pada ketiga komponen tersebut terdistribusi secara normal. Work-Life-Integration pada Full-time Worker Naila Khansa. Rafa Akbar Salivian Alkahfi. Valerie Alicia. Agnes Vania. Daniel Lie Tabel 2. Mean Hipotetik Mean Hipotetik Kategori Sangat Rendah X<2. Rendah 45. Kategorisasi didasarkan pada mean hipotetik. Mean hipotetik dapat diperoleh dengan menghitung rata-rata dan rentang dari data. Dalam penelitian ini, kategorisasi dibagi menjadi lima kategori, yaitu: sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah, dan sangat rendah. Mean hipotetik dapat dilihat pada hasil kategorisasi yang disajikan dalam Tabel 2. Tabel 3. Mean Total & Dimensi Mean Kategori Work Life Integration Sedang Work-to-Life Tinggi Life-to-Work Sedang Berdasarkan hasil analisis deskriptif pada tabel 3, nilai mean secara keseluruhan menunjukkan bahwa tingkat WLI berada pada kategori sedang dengan nilai M = 3. Kategori sedang ini ditentukan berdasarkan rentang skala yang digunakan yaitu skala Likert 7 poin. Analisis lebih lanjut dilakukan terhadap masing-masing dimensi, yaitu WTL dan LTW. Hasil menunjukkan bahwa dimensi WTL memiliki mean lebih tinggi (M = 4. dibandingkan dengan dimensi LTW (M = 3. , sebagaimana ditunjukkan dalam Tabel 3. Selain itu, analisis per butir dalam instrumen WLI menunjukkan adanya variasi dalam nilai mean setiap pernyataan. Beberapa butir memiliki mean yang lebih tinggi dibandingkan yang lain. Butir dengan nilai mean tertinggi adalah butir 4 (M = 4. , sedangkan butir dengan nilai mean terendah adalah butir 7 (M = 3. Perbedaan ini mencerminkan variasi dalam persepsi responden terhadap aspek-aspek spesifik dalam WLI. Work-Life-Integration pada Full-time Worker Naila Khansa. Rafa Akbar Salivian Alkahfi. Valerie Alicia. Agnes Vania. Daniel Lie Rata-rata . skor per butir pada instrumen WLI menunjukkan sejauh mana responden memberikan penilaian terhadap masing-masing pernyataan yang diukur. Tabel berikut menyajikan nilai mean untuk setiap butir: Tabel 4. Mean Per butir No. Butir Mean Kategori Sedang Saya tidak pernah membawa pekerjaan ke rumah AN1 AN2 AN3 AN4 AN5 AN6 AN7 Saya sering pekerjaan ke Saya tidak pernah AN1 AN2 AN3 AN4 AN5 AN6 AN7 Saya sering lembur Sedang Saya tidak pernah bekerja setelah jam kerja atau di akhir AN1 AN2 AN3 AN4 AN5 AN6 AN7 Saya sering bekerja setelah jam kerja atau di akhir Sedang Saya tidak pernah memikirkan masalah pekerjaan selama waktu istirahat saya AN1 AN2 AN3 AN4 AN5 AN6 AN7 Saya sering masalah pekerjaan selama waktu istirahat saya Tinggi Saya tidak pernah dengan orang-orang kantor selama cuti AN1 AN2 AN3 AN4 AN5 AN6 AN7 Saya sering dengan rekan kerja selama cuti Sedang Saya tidak pernah mengurus hal-hal pribadi saat berada di tempat kerja saya AN1 AN2 AN3 AN4 AN5 AN6 AN7 Saya sering mengurus hal-hal pribadi saat berada di tempat kerja Rendah Saya tidak pernah datang terlambat untuk bekerja atau pulang lebih awal, untuk mengurus halhal pribadi AN1 AN2 AN3 AN4 AN5 AN6 AN7 Saya sering datang terlambat untuk bekerja atau pulang lebih awal, untuk hal-hal Rendah Saya tidak pernah mengurus hal-hal pribadi selama jam kerja yang sudah AN1 AN2 AN3 AN4 AN5 AN6 AN7 Saya sering mengurus hal-hal pribadi selama jam kerja yang sudah Rendah Work-Life-Integration pada Full-time Worker Naila Khansa. Rafa Akbar Salivian Alkahfi. Valerie Alicia. Agnes Vania. Daniel Lie Saya tidak pernah memikirkan hal-hal pribadi ketika sedang AN1 AN2 AN3 AN4 AN5 AN6 AN7 Saya sering memikirkan halhal pribadi ketika sedang bekerja Sedang Saya tidak pernah dengan keluarga dan teman saya saat sedang bekerja AN1 AN2 AN3 AN4 AN5 AN6 AN7 Saya sering dengan keluarga dan teman saat saya sedang Sedang Berdasarkan data tersebut, butir dengan nilai mean tertinggi adalah Butir 4 (M = 4. yang menunjukkan bahwa pernyataan pada butir tersebut mendapatkan tingkat persetujuan paling tinggi dari responden. Sementara itu, butir dengan nilai mean terendah adalah Butir 7 (M = 3. yang mengindikasikan bahwa pernyataan pada butir ini cenderung kurang disetujui oleh responden dibandingkan butir lainnya. Secara umum, sebagian besar butir berada pada kategori sedang hingga tinggi jika merujuk pada klasifikasi mean hipotetik yang telah dijelaskan sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa persepsi responden terhadap aspek-aspek WLI yang diukur cenderung positif, meskipun terdapat beberapa aspek yang masih dapat ditingkatkan. Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan dalam tingkat WLI berdasarkan faktor demografis, peneliti melakukan uji perbedaan menggunakan metode statistik yang sesuai, seperti t-test atau ANOVA tergantung pada jumlah kelompok dalam variabel demografis yang dianalisis. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam WLI berdasarkan faktor-faktor demografis yang diuji, termasuk usia, jenis kelamin, status pernikahan, dan lama bekerja. Hal ini ditunjukkan oleh nilai signifikansi . -valu. yang lebih besar dari 0. 05 pada seluruh kategori demografis PEMBAHASAN 139Berdasarkan hasil penelitian, tingkat WLI pada pekerja full-time berada pada kategori sedang jika merujuk pada mean hipotetik. Hal ini menunjukkan bahwa integrasi antara pekerjaan dan kehidupan pribadi berada pada tingkat yang cukup seimbang, tetapi tidak terlalu baik atau Ini menunjukkan bahwa sebagian besar orang merasa cukup bisa mengelola pekerjaan dan kehidupan pribadi mereka (Aditya et al. , 2. Namun, perlu ditekankan bahwa hasil ini tidak mencerminkan adanya keseimbangan yang seimbang antara segmen pekerjaan-ke-kehidupan . ork-to-lif. dan kehidupan-ke-pekerjaan . ife-to-wor. Perbedaan tersebut justru mengindikasikan bahwa dalam usaha menciptakan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, karyawan lebih mengutamakan kualitas kehidupan kerjanya daripada kualitas kehidupan pribadinya (Jessica dkk, 2. Jika dilihat dari masing-masing dimensi, ditemukan bahwa Work-Life-Integration pada Full-time Worker Naila Khansa. Rafa Akbar Salivian Alkahfi. Valerie Alicia. Agnes Vania. Daniel Lie dimensi WTL memiliki mean yang lebih tinggi dibandingkan dengan dimensi LTW. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan dan tuntutan dari pekerjaan (WTL) cenderung lebih mempengaruhi kehidupan pribadi individu dibandingkan dengan sebaliknya, yaitu kehidupan pribadi yang mempengaruhi pekerjaan (LTW). Perbedaan pada kedua segmen ini menunjukkan bahwa dalam usaha untuk mencapai keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, karyawan cenderung lebih memprioritaskan kualitas kehidupan kerja dibandingkan dengan kualitas kehidupan pribadi (Aditya dkk, 2. Pekerja sering merasa perlu untuk membawa pekerjaan mereka ke dalam kehidupan pribadi, seperti terus memikirkan pekerjaan di luar jam kerja atau membawa tugas pekerjaan yang belum selesai ke rumah. Menurut Zaky . , kehidupan kerja dan kehidupan pribadi terbukti memberikan pengaruh positif yang signifikan terhadap kepuasan dan kinerja karyawan, dengan pentingnya mengimplementasikan strategi yang mendukung untuk meningkatkan kepuasan dan kinerja karyawan. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun pekerja fulltime berusaha untuk mengintegrasikan pekerjaan dan kehidupan pribadi mereka, fokus utama mereka tertuju pada aspek profesional dan tuntutan pekerjaan yang semakin meningkat. Beberapa hal ini disebabkan oleh faktor-faktor seperti tekanan untuk memenuhi ekspektasi di tempat kerja, kebutuhan untuk mencapai target, atau bahkan kecenderungan untuk membawa pekerjaan ke Salah satu butir yang memiliki nilai tertinggi adalah butir 4, yang berbunyi "Saya sering memikirkan permasalahan pekerjaan selama waktu istirahat saya. " Hal ini mengartikan bahwa pekerja merasa kesulitan untuk sepenuhnya melepaskan diri dari pekerjaan, bahkan di luar jam kerja mereka. Hal ini menunjukkan bahwa pekerja lebih mampu membawa elemen pekerjaan ke dalam kehidupan pribadi mereka dibandingkan sebaliknya. Salah satu alasan yang dapat menjelaskan temuan ini adalah fleksibilitas dalam pekerjaan yang memungkinkan karyawan menyesuaikan jadwal kerja mereka agar lebih selaras dengan kehidupan pribadi, seperti yang dijelaskan oleh Samtharam dan Baskaran . Namun, hal ini bukan berarti keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi terbagi rata. Tupamahu dkk . , menyatakan bahwa karyawan tidak hanya menghabiskan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan tetapi juga memiliki kehidupan di luar pekerjaan, seperti kehidupan sosial dan keluarga, sehingga menciptakan keseimbangan yang dapat meningkatkan kepuasan kerja. Temuan ini juga mencerminkan bahwa terdapat kebutuhan untuk mengelola batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi secara lebih Ketika batas tersebut menjadi kabur, pekerja dapat mengalami kesulitan dalam menciptakan ruang pemulihan yang memadai di luar jam kerja. Dalam upaya menyeimbangkan pekerjaan dan kehidupan pribadi, karyawan lebih cenderung memprioritaskan kualitas kehidupan kerja dibandingkan dengan kualitas kehidupan Menurut Zaky . , kehidupan kerja dan kehidupan pribadi terbukti memberikan pengaruh positif yang signifikan terhadap kepuasan dan kinerja karyawan, dengan pentingnya mengimplementasikan strategi yang mendukung untuk meningkatkan kepuasan dan kinerja Hal ini menunjukkan bahwa meskipun pekerja full-time berusaha untuk mengintegrasikan pekerjaan dan kehidupan pribadi mereka, fokus utama mereka tertuju pada aspek profesional dan tuntutan pekerjaan yang semakin meningkat. Beberapa hal ini disebabkan Work-Life-Integration pada Full-time Worker Naila Khansa. Rafa Akbar Salivian Alkahfi. Valerie Alicia. Agnes Vania. Daniel Lie oleh faktor-faktor seperti tekanan untuk memenuhi ekspektasi di tempat kerja, kebutuhan untuk mencapai target, atau bahkan kecenderungan untuk membawa pekerjaan ke rumah. Oleh karena itu, hasil penelitian ini dapat menjadi dasar pertimbangan bagi organisasi untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih mendukung keseimbangan tersebut. Misalnya, melalui pengaturan beban kerja yang lebih realistis, pemberian waktu istirahat yang cukup, serta menciptakan budaya kerja yang menghargai waktu pribadi karyawan. Dengan demikian, keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi bukan hanya menjadi tanggung jawab individu semata, tetapi juga memerlukan peran aktif dari organisasi. Ketika pekerja merasa didukung dalam menjaga keseimbangan ini, maka bukan hanya kepuasan kerja yang meningkat, tetapi juga loyalitas dan produktivitas mereka terhadap perusahaan. Dalam penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan. Salah satu keterbatasan yang mungkin mempengaruhi hasil adalah bahwa pengumpulan data dilakukan secara daring, yang membuat peneliti tidak dapat sepenuhnya mengontrol kejujuran dan objektivitas jawaban peserta. Kamsurya . , menyatakan kualitas daya yang diperoleh melalui survei daring dapat dipengaruhi beberapa faktor, termasuk cara penentuan sampel, pola respon dari peserta, format pernyataan, serta alat yang digunakan untuk mengumpulkan tanggapan. Faktor ini dapat mempengaruhi keakuratan hasil, karena responden mungkin memberikan jawaban yang tidak sepenuhnya mencerminkan pengalaman atau pandangan mereka yang sebenarnya. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan untuk menggunakan metode pengumpulan data yang lebih terkontrol atau metode kombinasi antara wawancara langsung dan survei secara langsung untuk mendapatkan gambaran yang lebih akurat mengenai WLI pada pekerja. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, secara keseluruhan pekerja full-time masih mengalami tantangan dalam mengintegrasi antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi. Tingkat integrasi tersebut berada pada kategori sedang. Jika dilihat per dimensi. WTL berada pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan dengan LTW. Hal ini menunjukkan bahwa pekerja cenderung lebih mampu menyesuaikan atau mengintegrasikan pekerjaan ke dalam kehidupan pribadi, namun sebaliknya pekerja masih mengalami kesulitan dalam menyesuaikan kehidupan pribadi ke dalam lingkungan kerja. Hasil penelitian ini memberikan wawasan penting dalam merancang kebijakan yang mendukung keseimbangan antara kerja dan kehidupan pribadi bagi pekerja full-time. Jika tingkat WLI pekerja tinggi, perusahaan perlu mempertahankan kondisi ini dengan terus memberikan fleksibilitas dan dukungan terhadap kesejahteraan pribadi karyawan. Sebaliknya, jika WLI pekerja tergolong rendah, perusahaan disarankan untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebab ketidakseimbangan tersebut dan memperkenalkan kebijakan yang lebih mendukung kesejahteraan pribadi, seperti penyesuaian beban kerja dan waktu istirahat yang lebih baik, untuk menjaga keseimbangan antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi, serta meningkatkan kepuasan dan kinerja karyawan dalam organisasi. Work-Life-Integration pada Full-time Worker Naila Khansa. Rafa Akbar Salivian Alkahfi. Valerie Alicia. Agnes Vania. Daniel Lie Saran Teoritis Peneliti menyarankan di penelitian selanjutnya untuk menambah luas penelitian dengan jumlah responden dan waktu penelitian sehingga memperoleh hasil yang lebih akurat, serta dapat menambah variabel independen lainnya yang berpengaruh terhadap pekerja full-time. Selain itu, disarankan untuk menambahkan variabel independen lain, seperti job demands . untutan pekerjaa. dan perceived organizational support . ukungan organisasi yang dirasaka. , karena kedua variabel ini diketahui berpengaruh terhadap kemampuan pekerja full-time dalam mengintegrasikan kehidupan kerja dan pribadi. Tuntutan pekerjaan yang tinggi dapat memperburuk Work-Life Integration, sementara dukungan dari organisasi dapat membantu pekerja mengelola keseimbangan tersebut dengan lebih baik. Selain itu juga, disarankan untuk melakukan penelitian secara langsung, berupa wawancara atau observasi agar memperoleh data yang lebih akurat dan terkontrol. Saran Praktis Peneliti menyarankan terhadap tingkat WLI yang rendah dengan pekerja harus menciptakan lingkungan kerja yang mendukung dan memastikan adanya komunikasi terbuka untuk mengatur kebutuhan pribadi. Kemudian, untuk meningkatkan WLI, perusahaan wajib mengenalkan kebijakan yang lebih mendukung kesejahteraan pribadi seperti memberikan penyesuaian beban kerja, dan menetapkan waktu istirahat yang lebih baik. DAFTAR PUSTAKA