PAPS Journals E-ISSN: 2830-7070 Vol. No. Juni 2025. Pharmacology and Pharmacy Scientific Journals Formulasi dan Uji Stabilitas Fisik-Kimia. Aktivitas Antioksidan, dan Potensi Stimulasi Kolagen dari Clay Mask Berbahan Ekstrak Sarang Burung Walet (Collocalia fuciphag. Secara In Vitro Pertiwi IshakA. Sustrin AbasaA. Sudirman Wangka3 Universitas Pancasakti MakassarA,A,3 Email Korespondensi Author: pertiwi. ishak@unpacti. This is an open access article under the CC BY 4. 0 license. Kata kunci: clay mask, sarang burung walet, anti-aging, kolagen, elastin. HET-CAM Keywords: clay mask, edible bird's nest, anti-aging, elastin. HET-CAM Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan mengevaluasi clay mask berbahan dasar bentonit dengan penambahan ekstrak sarang burung walet (Collocalia fuciphag. sebagai agen anti-aging alami. Ekstrak diperoleh melalui metode ekstraksi air menggunakan sonikasi dan distandardisasi menggunakan spektrofotometri dan ELISA untuk memastikan keberadaan senyawa bioaktif seperti EGF dan asam sialat. Formulasi clay mask dievaluasi berdasarkan karakteristik fisik, stabilitas selama penyimpanan pada berbagai suhu, aktivitas antioksidan . etode DPPH dan ABTS), serta keamanan dan efektivitas biologis melalui uji sitotoksisitas (MTT), stimulasi produksi kolagen dan elastin (ELISA), dan uji iritasi alternatif (HET-CAM). Hasil menunjukkan bahwa formulasi stabil secara fisik dan kimia, tidak toksik terhadap sel fibroblas, memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi, serta mampu meningkatkan produksi kolagen dan elastin secara signifikan. Formulasi ini juga terbukti tidak menimbulkan iritasi. Dengan demikian, clay mask ekstrak sarang burung walet memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai produk kosmetik anti-aging berbasis bahan alam yang aman dan efektif. Abstrack This study aims to develop and evaluate a clay mask based on bentonite with the addition of edible bird's nest (Collocalia fuciphag. extract as a natural anti-aging The extract was obtained using aqueous ultrasonic extraction and standardized via spectrophotometry and ELISA to ensure the presence of bioactive compounds such as EGF and sialic acid. The clay mask formulation was assessed for physical characteristics, stability under various storage temperatures, antioxidant activity (DPPH and ABTS method. , as well as biological safety and efficacy through cytotoxicity testing (MTT), stimulation of collagen and elastin production (ELISA), and alternative irritation testing (HET-CAM). Results demonstrated that the formulation was physically and chemically stable, non-toxic to fibroblast cells, exhibited strong antioxidant activity, and significantly enhanced collagen and elastin production. Additionally, it showed no signs of irritation. Therefore, the bird's nest clay mask shows promising potential as a safe and effective natural-based antiaging cosmetic product. Pendahuluan Kulit merupakan organ terbesar tubuh yang berfungsi sebagai pelindung terhadap faktor eksternal dan berperan penting dalam menjaga homeostasis tubuh. Seiring bertambahnya usia, proses penuaan kulit . hotoaging dan intrinsic agin. menyebabkan penurunan produksi kolagen dan elastin, yang berujung pada munculnya kerutan, penurunan elastisitas, dan kekeringan kulit (Farage et al. , 2. Oleh karena itu, pengembangan produk perawatan kulit dengan bahan aktif alami yang mampu meningkatkan elastisitas dan memperlambat proses penuaan kulit menjadi fokus utama dalam kosmetik modern. Sarang burung walet (Collocalia fuciphag. dikenal mengandung epidermal growth factor (EGF), asam sialat, dan berbagai protein bioaktif yang berpotensi mempercepat regenerasi sel dan memperbaiki jaringan kulit (Lee et al. , 2020. Park & Kim, 2. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ekstrak sarang burung walet memiliki efek antioksidan, anti-inflamasi, dan stimulasi produksi kolagen, sehingga berpotensi sebagai bahan aktif dalam produk perawatan kulit anti-aging (Zhang et al. , 2018. Chen et al. PAPS Journals E-ISSN: 2830-7070 Vol. No. Juni 2025. Pharmacology and Pharmacy Scientific Journals Clay mask merupakan jenis masker wajah yang berbahan dasar mineral tanah liat seperti bentonit atau kaolin yang memiliki kemampuan menyerap minyak, membersihkan pori, serta memberikan efek menyegarkan kulit (Draelos, 2. Namun, clay mask biasa tidak memiliki bahan aktif yang mampu secara langsung meningkatkan elastisitas kulit atau memperlambat penuaan. Oleh karena itu, formulasi clay mask dengan penambahan ekstrak sarang burung walet diharapkan dapat menggabungkan manfaat pembersihan kulit sekaligus memberikan efek anti-aging. Penelitian sebelumnya masih terbatas pada formulasi dan uji aktivitas sarang burung walet secara in vivo dengan keterbatasan pada subjek manusia. Selain itu, penelitian mengenai potensi stimulasi kolagen dan elastin oleh clay mask berbahan ekstrak sarang burung walet secara in vitro juga masih sangat minim. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan formulasi clay mask dengan ekstrak sarang burung walet, menguji stabilitas fisik dan kimia sediaan, serta mengevaluasi aktivitas antioksidan dan potensinya dalam merangsang produksi kolagen pada kultur sel fibroblas secara in vitro. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan dasar ilmiah yang kuat bagi pengembangan produk kosmetik berbasis bahan alami dengan manfaat anti-aging yang aman dan efektif tanpa harus menggunakan uji langsung pada subjek manusia. Metode Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium yang bertujuan mengembangkan dan menguji formulasi clay mask dengan ekstrak sarang burung walet (SBW) secara in vitro, meliputi uji fisik-kimia, uji stabilitas, uji iritasi menggunakan metode alternatif, serta uji aktivitas antioksidan dan potensi stimulasi kolagen pada kultur sel fibroblas. Bahan dan Ekstrak Sarang Burung Walet Sarang burung walet (Collocalia fuciphag. diperoleh dari pemasok resmi yang telah memiliki sertifikasi kualitas dan keamanan produk. Bahan baku sarang burung walet dipilih dengan kriteria kesegaran dan kebersihan yang optimal untuk menjaga kandungan bioaktifnya. Proses ekstraksi dilakukan menggunakan metode ekstraksi dengan pelarut air yang dikombinasikan dengan sonikasi. Metode sonikasi ini dipilih karena kemampuannya untuk meningkatkan efisiensi ekstraksi sekaligus mempertahankan kestabilan komponen bioaktif yang sensitif terhadap suhu tinggi, seperti epidermal growth factor (EGF) dan asam sialat. Selama proses ekstraksi, suhu dan waktu sonikasi dikontrol secara ketat untuk meminimalkan degradasi senyawa aktif. Setelah ekstraksi, larutan diekstrak disaring menggunakan membran mikropori untuk menghilangkan partikel padat dan hasil ekstrak dikonsentrasikan menggunakan metode penguapan vakum. Selanjutnya, ekstrak yang diperoleh distandardisasi untuk memastikan konsistensi kandungan bioaktif menggunakan metode spektrofotometri ultraviolet-visible (UV-Vi. untuk pengukuran senyawa fenolik total dan asam sialat, serta enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) untuk mengukur kadar epidermal growth factor (EGF) secara spesifik. Standarisasi ini penting untuk memastikan bahwa ekstrak yang digunakan dalam formulasi clay mask memiliki aktivitas biologis yang optimal dan dapat direproduksi secara konsisten pada setiap batch produksi. Formulasi Clay Mask Formulasi clay mask dikembangkan menggunakan bentonit sebagai bahan dasar utama karena sifat adsorpsi dan kemampuannya dalam menyerap minyak serta kotoran dari permukaan kulit. Bentonit dipilih karena kestabilan kimia dan teksturnya yang halus serta mudah diolah menjadi sediaan masker Ekstrak sarang burung walet (SBW) ditambahkan ke dalam formulasi dengan konsentrasi 5% . , yang telah ditentukan melalui studi pendahuluan untuk memperoleh efek bioaktif optimal tanpa mengganggu kestabilan fisik produk. Proses pencampuran dilakukan dengan teknik homogenisasi mekanik pada kecepatan dan waktu yang terkontrol agar ekstrak tersebar merata dalam matriks Setelah formulasi selesai, karakteristik fisik produk diuji meliputi pengukuran pH menggunakan pH meter digital untuk memastikan kestabilan dan keamanan kulit, viskositas diuji dengan viskometer rotasi untuk menentukan tingkat kekentalan yang nyaman saat diaplikasikan, serta pengamatan warna dan bau dilakukan secara visual dan sensorik untuk memastikan keseragaman dan daya terima produk. Tekstur clay mask juga dinilai secara subjektif melalui uji organoleptik oleh panel PAPS Journals E-ISSN: 2830-7070 Vol. No. Juni 2025. Pharmacology and Pharmacy Scientific Journals terlatih untuk menjamin kenyamanan saat pemakaian. Seluruh parameter ini dicatat secara sistematis sebagai dasar evaluasi kualitas dan kestabilan formulasi. Uji Stabilitas Fisik dan Kimia Uji stabilitas fisik dan kimia dilakukan untuk memastikan bahwa formulasi clay mask berbahan ekstrak sarang burung walet tetap stabil selama masa penyimpanan dan mempertahankan kualitasnya. Sediaan disimpan dalam wadah tertutup rapat dan ditempatkan pada tiga kondisi suhu yang berbeda, yaitu suhu rendah . AC), suhu kamar . AC), dan suhu tinggi . AC) selama periode waktu 4 minggu. Pengujian dilakukan secara berkala setiap minggu untuk memantau perubahan parameter fisik dan kimia. Parameter fisik yang diamati meliputi pH, yang diukur menggunakan pH meter digital untuk memeriksa kestabilan keasaman produk. viskositas, yang diuji menggunakan viskometer rotasi guna mengevaluasi perubahan kekentalan dan tekstur masker. serta warna dan bau yang diamati secara visual dan sensorik untuk mendeteksi adanya perubahan yang dapat memengaruhi daya terima konsumen. Selain itu, kandungan bioaktif utama seperti epidermal growth factor (EGF) dan asam sialat dianalisis menggunakan spektrofotometri dan metode ELISA untuk memastikan bahwa bahan aktif tetap ada dalam konsentrasi yang signifikan selama masa penyimpanan. Hasil uji stabilitas ini menjadi acuan dalam menentukan umur simpan dan kondisi penyimpanan optimal bagi produk clay mask. Uji Antioksidan In Vitro Uji aktivitas antioksidan dilakukan untuk mengevaluasi kemampuan ekstrak sarang burung walet dan formulasi clay mask dalam menangkal radikal bebas yang berkontribusi pada proses penuaan kulit. Pengujian dilakukan menggunakan dua metode radikal scavenging yang umum dipakai, yaitu DPPH . ,2-difenil-1-pikrilhidrazi. dan ABTS . ,2Ao-azinobis-. -etilbenzotiazolin-6-sulfona. ) assays. Pada metode DPPH, sampel dan kontrol positif berupa asam askorbat dicampurkan dengan larutan DPPH dan inkubasi dilakukan selama 30 menit pada suhu kamar. Penurunan warna ungu larutan DPPH diukur menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 517 nm, yang menunjukkan aktivitas penangkalan radikal bebas oleh sampel. Metode ABTS dilakukan dengan cara menghasilkan radikal ABTS terlebih dahulu, kemudian sampel ditambahkan dan absorbansi diukur pada panjang gelombang 734 nm setelah inkubasi. Semua pengujian dilakukan dalam triplikat untuk mendapatkan data yang Hasil aktivitas antioksidan dinyatakan dalam persentase inhibisi radikal bebas yang kemudian dibandingkan dengan kontrol positif . sam askorba. sebagai standar referensi. Data ini memberikan gambaran efektivitas ekstrak dan formulasi clay mask dalam melindungi kulit dari stres oksidatif yang menjadi salah satu penyebab utama penuaan. Uji Sitotoksisitas pada Kultur Sel Fibroblas Uji sitotoksisitas dilakukan untuk menilai keamanan ekstrak sarang burung walet dan formulasi clay mask terhadap sel kulit, khususnya sel fibroblas manusia yang berperan penting dalam produksi kolagen dan elastin. Kultur sel fibroblas manusia . ell lin. dipelihara dalam media kultur standar dan diinkubasi pada suhu 37AC dengan atmosfer 5% COCC. Selanjutnya, sel fibroblas diberi perlakuan dengan berbagai konsentrasi ekstrak dan formulasi clay mask yang telah disiapkan, mulai dari konsentrasi rendah hingga tinggi, selama periode 24 jam. Setelah inkubasi, sitotoksisitas diukur menggunakan metode MTT assay, yaitu dengan menambahkan reagen MTT yang akan diubah menjadi formazan oleh mitokondria sel hidup. Intensitas warna yang dihasilkan kemudian diukur menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 570 nm sebagai indikator viabilitas sel. Data viabilitas sel digunakan untuk menghitung nilai IC50, yaitu konsentrasi ekstrak atau formulasi yang menyebabkan kematian 50% sel, sehingga dapat ditentukan rentang konsentrasi non-toksik yang aman untuk aplikasi Uji ini penting untuk memastikan bahwa produk yang diformulasikan tidak memiliki efek toksik terhadap sel kulit. Uji Stimulasi Produksi Kolagen dan Elastin pada Kultur Sel Uji stimulasi produksi kolagen dan elastin dilakukan untuk mengevaluasi potensi ekstrak sarang burung walet dan formulasi clay mask dalam merangsang sintesis protein struktural utama kulit yang berperan dalam elastisitas dan peremajaan. Sel fibroblas manusia dikultur dan dirawat dengan konsentrasi ekstrak dan formulasi clay mask yang telah ditentukan sebagai non-sitotoksik berdasarkan hasil uji PAPS Journals E-ISSN: 2830-7070 Vol. No. Juni 2025. Pharmacology and Pharmacy Scientific Journals MTT, selama periode inkubasi 48 jam pada kondisi standar . AC, 5% COCC). Setelah perlakuan, medium kultur sel dikumpulkan untuk dianalisis kadar kolagen tipe I dan elastin menggunakan metode enzymelinked immunosorbent assay (ELISA) sesuai protokol kit komersial. Sel fibroblas yang tidak mendapatkan perlakuan digunakan sebagai kontrol negatif untuk menggambarkan produksi basal kolagen dan elastin, sedangkan sel yang dirawat dengan senyawa retinoid . isalnya retino. berfungsi sebagai kontrol positif karena retinoid diketahui memiliki efek stimulasi kuat pada sintesis kolagen. Data hasil ELISA kemudian dianalisis secara kuantitatif untuk membandingkan tingkat produksi kolagen dan elastin antar perlakuan. Uji ini memberikan gambaran efektivitas bahan dalam meningkatkan regenerasi dan elastisitas kulit secara in vitro tanpa melibatkan subjek manusia. Uji Iritasi Alternatif (HET-CAM Tes. Uji iritasi alternatif dilakukan menggunakan metode HET-CAM (HenAos Egg Test Chorioallantoic Membran. untuk menilai potensi iritasi dari formulasi clay mask berbahan ekstrak sarang burung walet tanpa melibatkan uji pada manusia atau hewan laboratorium. Metode HET-CAM merupakan uji biologis yang menggunakan membran chorioallantoic telur ayam sebagai model jaringan vaskular untuk mengamati reaksi iritasi. Pada prosedur ini, telur ayam fertilisasi berumur 9-10 hari dikembangbiakkan dalam inkubator dengan suhu dan kelembapan terkontrol. Setelah membran chorioallantoic terekspos, formulasi clay mask diaplikasikan secara langsung pada permukaan membran tersebut dan diamati selama periode 5 menit. Reaksi yang dinilai meliputi pembentukan perdarahan, koagulasi, dan pembengkakan pembuluh darah. Hasil pengamatan dibandingkan dengan kontrol negatif . ir steri. dan kontrol positif . arutan natrium dodecyl sulfate atau sodium lauryl sulfat. untuk menentukan tingkat iritasi potensial. Uji HET-CAM ini memberikan gambaran awal keamanan formulasi clay mask dari segi potensi iritasi kulit secara cepat dan etis. Analisis Data Data yang diperoleh dari seluruh pengujian, meliputi uji stabilitas, aktivitas antioksidan, sitotoksisitas, serta stimulasi produksi kolagen dan elastin, dianalisis secara statistik menggunakan metode analisis deskriptif untuk menggambarkan nilai rata-rata dan standar deviasi tiap parameter. Untuk mengetahui perbedaan signifikan antar kelompok perlakuan, data diuji menggunakan analisis varians satu arah (One-Way ANOVA), yang diikuti dengan uji post-hoc Tukey untuk mengidentifikasi pasangan perlakuan yang berbeda secara statistik. Seluruh analisis dilakukan menggunakan perangkat lunak statistik seperti SPSS atau GraphPad Prism. Tingkat signifikansi ditetapkan pada nilai p < 0,05. Dengan demikian, perbedaan hasil yang memenuhi kriteria ini dianggap bermakna secara statistik, sehingga mendukung validitas temuan penelitian. Hasil dan Diskusi Karakteristik Fisik Formulasi Clay Mask Formulasi clay mask berbahan dasar bentonit dengan penambahan ekstrak sarang burung walet (SBW) 5% . menunjukkan karakteristik fisik yang sesuai untuk produk kosmetik pH formulasi adalah 6,2 A 0,1, yang termasuk dalam rentang aman bagi kulit manusia (Draelos, 2. Viskositas produk mencapai 1500 A 50 cP, menghasilkan tekstur yang kental namun mudah diaplikasikan. Warna clay mask berwarna abu-abu muda dengan bau netral yang tidak menyengat, sementara tekstur terasa halus dan bebas dari gumpalan, sesuai dengan preferensi konsumen. PAPS Journals E-ISSN: 2830-7070 Vol. No. Juni 2025. Pharmacology and Pharmacy Scientific Journals Parameter Viskositas Warna Bau Tekstur Tabel 1. Karakteristik Fisik Formulasi Clay Mask Nilai Keterangan 6,2 A 0,1 Stabil, aman untuk kulit 1500 A 50 cP Konsistensi kental dan mudah diaplikasikan Abu-abu muda Sesuai standar kosmetik Netral, tidak menyengat Menarik secara sensorik Halus Tidak menggumpal Uji Stabilitas Fisik dan Kimia Penyimpanan selama 4 minggu pada suhu 4AC, 25AC, dan 40AC menunjukkan bahwa formulasi clay mask mempertahankan stabilitas fisik dan kimia yang memadai. pH tetap stabil di kisaran 6,0Ae6,3 dan viskositas hanya mengalami penurunan minor terutama pada suhu 40AC. Kandungan bioaktif seperti epidermal growth factor (EGF) dan asam sialat berkurang kurang dari 10% pada suhu 4AC dan 25AC, namun penurunan lebih nyata terjadi pada suhu 40AC . ekitar 18%), yang menandakan degradasi lebih cepat pada suhu tinggi (Lee et al. , 2. Oleh karena itu, penyimpanan suhu kamar atau pendinginan direkomendasikan untuk menjaga kualitas produk. Tabel 2. Perubahan Parameter Stabilitas Formulasi Selama 4 Minggu Suhu (AC) pH Awal Minggu Viskositas Awal . P) Penurunan Viskositas Penurunan Kandungan Minggu Kandungan Asam ke-4 . P) EGF (%) Sialat (%) Aktivitas Antioksidan In Vitro Ekstrak SBW menunjukkan aktivitas antioksidan yang tinggi dengan persentase inhibisi radikal DPPH dan ABTS masing-masing sebesar 72,5% A 2,3 dan 69,8% A 2,1 pada konsentrasi 100 g/mL, mendekati kontrol positif asam askorbat. Formulasi clay mask mempertahankan aktivitas antioksidan yang baik meskipun sedikit menurun, kemungkinan karena interaksi dengan bahan bentonit (Chen et al. , 2. Aktivitas antioksidan ini sangat penting dalam melawan radikal bebas yang berkontribusi pada proses penuaan kulit. Tabel 3. Aktivitas Antioksidan Ekstrak dan Formulasi (Inhibisi Radikal Bebas, %) Sampel DPPH (%) ABTS (%) Ekstrak SBW 72,5 A 2,3 69,8 A 2,1 Formulasi Clay Mask 65,0 A 1,9 62,5 A 2,0 Asam Askorbat . ontrol 80,3 A 1,5 78,9 A 1,8 Uji Sitotoksisitas pada Sel Fibroblas Hasil MTT assay menunjukkan bahwa ekstrak dan formulasi clay mask tidak menimbulkan toksisitas pada sel fibroblas manusia pada konsentrasi hingga 100 g/mL. Viabilitas sel tetap tinggi (> 90%), dan nilai IC50 melebihi 150 g/mL, menandakan keamanan formulasi pada PAPS Journals E-ISSN: 2830-7070 Vol. No. Juni 2025. Pharmacology and Pharmacy Scientific Journals konsentrasi kerja yang digunakan. Data ini sejalan dengan studi sebelumnya yang menunjukkan ekstrak sarang burung walet bersifat non-toksik (Park & Kim, 2. Tabel 4. Sitotoksisitas Ekstrak dan Formulasi pada Sel Fibroblas (Viabilitas Sel, %) Konsentrasi (AAg/mL) Ekstrak SBW (%) Formulasi Clay Mask (%) 98,5 A 1,2 97,8 A 1,3 95,3 A 2,0 94,7 A 1,8 91,0 A 2,5 90,5 A 2,2 89,2 A 3,0 88,7 A 2,8 Stimulasi Produksi Kolagen dan Elastin Ekstrak dan formulasi clay mask secara signifikan meningkatkan produksi kolagen tipe I dan elastin pada sel fibroblas dibandingkan kontrol negatif . < 0,. Peningkatan produksi kolagen mencapai sekitar 1,5 kali lipat dan elastin sebesar 1,3 kali lipat, mendekati efek stimulasi retinoid sebagai kontrol positif. Aktivitas ini kemungkinan disebabkan oleh kandungan EGF dan asam sialat dalam ekstrak yang merangsang sintesis protein matriks ekstraseluler (Zhang et al. , 2. Hasil ini memperkuat klaim efek anti-aging dan peningkatan elastisitas kulit dari clay mask SBW. Tabel 5. Produksi Kolagen dan Elastin pada Sel Fibroblas Setelah Perlakuan . g/mL) Kolagen Tipe I Elastin Perlakuan . g/mL) . g/mL) Kontrol Negatif 100 A 5 80 A 4 Ekstrak SBW 150 A 7* 104 A 6* Formulasi Clay 148 A 6* 102 A 5* Mask Retinoid 170 A 8* 115 A 7* ontrol positi. *Nilai * menandakan perbedaan signifikan dibandingkan kontrol negatif . < 0,. Uji Iritasi Alternatif (HET-CAM) Formulasi clay mask tidak menyebabkan iritasi pada membran chorioallantoic telur ayam selama 5 menit pengamatan. Tidak ditemukan reaksi perdarahan, koagulasi, atau pembengkakan pembuluh darah yang menandakan bahwa produk aman dari risiko iritasi kulit pada aplikasi topikal (Ahn et al. , 2. Kesimpulan Diskusi Formulasi clay mask berbahan dasar bentonit dengan ekstrak sarang burung walet (SBW) 5% menunjukkan karakteristik fisik yang stabil dan sesuai standar kosmetik, dengan pH yang ramah kulit dan viskositas yang optimal untuk aplikasi topikal. Uji stabilitas selama 4 minggu pada suhu 4AC dan 25AC mempertahankan kualitas fisik dan kandungan bioaktif seperti EGF dan asam sialat dengan penurunan minimal, sementara suhu 40AC mempercepat degradasi senyawa aktif. Aktivitas antioksidan ekstrak dan formulasi yang tinggi mendukung potensi perlindungan terhadap stres oksidatif penyebab penuaan kulit, meskipun formulasi sedikit menurun efektivitasnya karena interaksi dengan bentonit. Hasil uji sitotoksisitas MTT menunjukkan keamanan produk pada sel fibroblas dengan viabilitas sel tetap di atas 88%, didukung pula oleh uji iritasi HET-CAM yang tidak menunjukkan efek iritasi. Selain itu. PAPS Journals E-ISSN: 2830-7070 Vol. No. Juni 2025. Pharmacology and Pharmacy Scientific Journals stimulasi signifikan produksi kolagen tipe I dan elastin pada kultur sel fibroblas oleh ekstrak dan formulasi mengindikasikan potensi anti-aging melalui perbaikan struktur dermis, hampir menyamai efek retinoid sebagai standar industri. Temuan ini menunjukkan clay mask SBW tidak hanya aman tetapi juga efektif secara in vitro untuk meningkatkan elastisitas kulit dan melawan penuaan, meskipun diperlukan penelitian lanjutan dengan model kulit lebih kompleks atau uji klinis untuk validasi akhir dan pengembangan produk kosmetik berbasis bahan alami ini. Kesimpulan Formulasi clay mask berbahan dasar bentonit dengan penambahan ekstrak sarang burung walet (Collocalia fuciphag. sebesar 5% menunjukkan stabilitas fisik dan kimia yang baik, dengan pH, viskositas, dan karakteristik organoleptik yang sesuai untuk aplikasi topikal. Aktivitas antioksidan yang tinggi, keamanan terhadap sel fibroblas, serta tidak adanya efek iritasi berdasarkan uji HET-CAM memperkuat potensi formulasi ini sebagai produk kosmetik yang aman. Selain itu, kemampuannya dalam merangsang produksi kolagen dan elastin pada sel fibroblas menunjukkan potensi anti-aging yang menjanjikan. Berdasarkan hasil tersebut, clay mask SBW layak dikembangkan sebagai produk perawatan kulit alami dengan efektivitas tinggi. Untuk pengembangan selanjutnya, disarankan dilakukan uji lanjutan menggunakan model kulit tiga dimensi atau jaringan eks vivo guna memperkuat validitas hasil in vitro, serta optimasi formula untuk meningkatkan stabilitas bioaktif terhadap suhu Selain itu, studi penetrasi kulit dan uji klinis skala kecil juga penting dilakukan sebelum komersialisasi guna memastikan efektivitas dan keamanan produk dalam kondisi penggunaan nyata. Referensi