Jurnal Ilmiah Sosio Agribis (JISA) Volume 25. Nomor 2 : 296-302 ISSN: 1412-1816 . ISSN: 2614-4549 . ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN URBAN FARMING DI KOTA SURABAYA Analysis of Factors Influencing Community Participation in Urban Farming Management in Surabaya City Rico Yanuar Ardiansyah1. Hamidah Hendrarini2*. Wahyu Santoso3 1, 2*, 3 Program Studi Agribisnis. Fakultas Pertanian Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur *Correspondence Author: Hamidah Hendrarini Email: hamidah_h@upnjatim. ABSTRACT Urban Farming is an alternative solution to address limited agricultural land in urban areas while supporting food security. This study aims to analyze the level of community participation in managing Urban Farming in Surabaya City, focusing on economic, ecological, socio-cultural, educational & tourism, and health aspects. The study was conducted from AprilAeJune 2025 in three farmer groups in East Surabaya, involving 50 Data were collected through questionnaires, interviews, observations, and documentation, then analyzed using the Importance Performance Analysis (IPA) method. The results of the study indicate that overall Urban Farming has been running quite optimally, especially in the ecological, socio-cultural, educational & tourism, and health aspects, which received high scores on the importance and performance dimensions. The health aspect shows the highest satisfaction between community expectations and implementation in the field. Conversely, the economic aspect still shows the lowest performance with the largest gap, indicating the need for strengthening in terms of yield management, market access, and community economic empowerment. Thus. Urban Farming in Surabaya has been proven to provide significant environmental, social, and health benefits, but further strategies are needed so that its economic contribution can be optimally felt by the community. Keywords: Importance Performance Analysis (IPA). Food Security. Surabaya City. Community Participation. Urban Farming. ABSTRAK Urban Farming menjadi salah satu alternatif solusi untuk mengatasi keterbatasan lahan pertanian di wilayah perkotaan sekaligus mendukung ketahanan pangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan Urban Farming di Kota Surabaya dengan menekankan aspek ekonomi, ekologi, sosial budaya, edukasi & wisata, serta kesehatan. Penelitian dilakukan pada bulan AprilAeJuni 2025 di tiga kelompok tani di Surabaya Timur dengan melibatkan 50 responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner, wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan metode Importance Performance Analysis (IPA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan Urban Farming telah berjalan cukup optimal, terutama pada aspek ekologi, sosial budaya, edukasi & wisata, serta kesehatan, yang memperoleh nilai tinggi pada dimensi kepentingan dan kinerja. Aspek kesehatan menampilkan kesesuaian tertinggi antara harapan masyarakat dan pelaksanaan di lapangan. Sebaliknya, aspek ekonomi masih menunjukkan kinerja terendah dengan gap terbesar, menandakan perlunya penguatan dalam hal pengelolaan hasil, akses pasar, dan pemberdayaan ekonomi komunitas. Dengan demikian. Urban Farming di Surabaya terbukti memberikan manfaat lingkungan, sosial, dan kesehatan yang signifikan, namun perlu strategi lebih lanjut agar kontribusi ekonominya dapat dirasakan secara optimal oleh masyarakat. Kata kunci: Importance Performance Analysis (IPA). Ketahanan Pangan. Kota Surabaya. Partisipasi Masyarakat. Urban Farming. Rico Yanuar Ardiansyah, dkk Ae Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Partisipasi . PENDAHULUAN Indonesia dikenal sebagai negara agraris dengan kekayaan sumber daya alam yang berlimpah, namun tantangan ketahanan pangan masih terus dihadapi, terutama di kawasan Menurut Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, ketahanan pangan mencakup ketersediaan, keterjangkauan, distribusi, dan konsumsi pangan yang cukup, aman, serta bergizi. Di wilayah perkotaan, keterbatasan lahan menjadi kendala utama, sehingga diperlukan alternatif solusi yang mampu mendukung ketersediaan pangan, salah satunya melalui Urban Farming (Aprina et al. , 2. Kota Surabaya sebagai kota metropolitan memiliki jumlah penduduk mencapai 3,009 juta jiwa dengan kepadatan rata-rata 8. 958 jiwa/kmA. Kepadatan ini menyebabkan berkurangnya ruang terbuka hijau dan menyempitnya lahan pertanian. Kondisi tersebut berimplikasi pada tingginya ketergantungan Surabaya terhadap pasokan pangan dari luar daerah. Data Badan Pusat Statistik 2025 menunjukkan prevalensi ketidakcukupan konsumsi pangan (PKKP) di Surabaya tahun 2023 mencapai 4,06%, meningkat dibanding tahun 2019 yang hanya 3,09%. Meskipun angka ini masih tergolong rendah, tren peningkatannya mengindikasikan adanya tantangan dalam pemenuhan pangan bergizi yang merata di wilayah perkotaan. Urban Farming hadir sebagai salah satu alternatif solusi untuk mengatasi keterbatasan lahan dan memperkuat ketahanan pangan di perkotaan. Melalui pemanfaatan lahan sempit, seperti pekarangan rumah, atap bangunan, atau ruang publik, masyarakat dapat menghasilkan kebutuhan pangan secara mandiri sekaligus menekan biaya konsumsi rumah tangga (Kesmayanti, 2. Selain berkontribusi pada ketahanan pangan, praktik Urban Farming juga berdampak positif terhadap kualitas lingkungan, penyediaan ruang terbuka hijau, serta peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya pertanian berkelanjutan (Irawan et al. , 2. Secara global, praktik serupa juga terbukti berkontribusi pada ketahanan pangan perkotaan, misalnya di Havana. Kuba, yang berhasil memenuhi lebih dari 50% kebutuhan sayur perkotaan melalui Urban Farming (Altieri & Nicholls, 2. , maupun di Singapura dengan konsep Au30 by 30Ay yang menargetkan 30% kebutuhan pangan lokal dapat dipenuhi melalui pertanian perkotaan pada 2030 (Diehl, et al. Meskipun potensinya cukup besar, penerapan Urban Farming di Surabaya masih menemui berbagai kendala. Beberapa penelitian menunjukkan hambatan utama terletak pada keterbatasan pengetahuan teknis, minimnya akses terhadap teknologi, rendahnya dukungan kebijakan, serta belum optimalnya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan kegiatan pertanian perkotaan (Hodijah et al. , 2. Padahal, partisipasi aktif masyarakat merupakan faktor kunci dalam keberhasilan Urban Farming, baik dalam aspek perencanaan, pelaksanaan, maupun keberlanjutan program (Chrisnawati et al. , 2. Namun, kajian mengenai hubungan antara partisipasi masyarakat dalam Urban Farming dengan indikator ketahanan pangan perkotaan, khususnya di Surabaya, masih belum banyak Sebagian besar studi di Indonesia masih terbatas pada aspek teknis budidaya atau manfaat lingkungan, tanpa secara eksplisit mengaitkannya dengan tingkat partisipasi masyarakat dan keberlanjutan program di tingkat kota (Wardah & Niswah, 2. Hal ini menimbulkan kesenjangan penelitian yang perlu dijawab melalui analisis lebih komprehensif. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi partisipasi masyarakat dalam pengelolaan Urban Farming di Kota Surabaya, dengan menekankan aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan yang menjadi determinan utama keberlanjutan program (Deelstra & Girardet, 2000. Poulsen, 2. Kebaruan penelitian ini terletak pada upaya menghubungkan tingkat partisipasi masyarakat dengan konteks ketahanan pangan perkotaan, sekaligus membandingkannya dengan praktik serupa di wilayah lain. Dengan demikian, hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi empiris dalam pengembangan strategi pengelolaan Urban Farming yang lebih adaptif dan berkelanjutan di kota besar seperti Surabaya (Augustine et al. , 2024. Chintia et al. , 2025. Specht et al. , 2. JISA. ISSN: 1412-1816 . ISSN: 2614-4549 . Jurnal Ilmiah Sosio Agribis. Volume 25 (Nomor . , 2025: 296-302 METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2025 hingga Juni 2025 di wilayah Surabaya Timur, dengan lokasi penelitian pada tiga kelompok tani yaitu Maju Jaya Bersama (Kecamatan Tenggilis Mejoy. Kosagrha Lestari (Kecamatan Rungku. , dan Elok Green Lestari (Kecamatan Sukolil. Pemilihan lokasi dilakukan secara purposive dengan mempertimbangkan kepadatan penduduk, keterbatasan lahan hijau, serta intensitas program Urban Farming. Sampel penelitian berjumlah 50 responden, terdiri dari 45 anggota kelompok tani yang aktif minimal dua tahun dalam kegiatan Urban Farming, serta 5 staf Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Surabaya yang berperan sebagai informan kunci. Penentuan sampel mempertimbangkan keterwakilan populasi, efisiensi waktu, dan ketersediaan sumber daya penelitian. Data yang digunakan terdiri atas data primer dan sekunder. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner berskala Likert . = sangat tidak setuju hingga 5 = sangat setuj. , wawancara terstruktur, observasi lapangan, serta dokumentasi berupa foto dan arsip kegiatan. Data sekunder diperoleh dari publikasi Badan Pusat Statistik, laporan dinas terkait, serta literatur akademik. Pengujian kualitas data dalam penelitian ini dilakukan melalui uji validitas dan reliabilitas terhadap instrumen kuesioner yang digunakan dalam metode Importance Performance Analysis (IPA). Uji validitas bertujuan memastikan setiap butir pertanyaan mampu mengukur variabel yang diteliti, di mana item dinyatakan valid apabila nilai r hitung lebih besar dari r tabel (Hidayat. Selanjutnya, uji reliabilitas digunakan untuk menilai konsistensi instrumen dengan metode CronbachAos Alpha, di mana kuesioner dinyatakan reliabel jika memiliki nilai > 0,60 (Hidayat. Dengan demikian, kedua uji ini memastikan instrumen penelitian layak dan dapat dipercaya untuk analisis selanjutnya. Metode Importance Performance Analysis (IPA) digunakan dalam penelitian ini untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi partisipasi masyarakat dalam program Urban Farming di Kota Surabaya. Data diperoleh melalui kuesioner yang mengukur tingkat kepentingan . dan tingkat kinerja . , kemudian diolah menggunakan Microsoft Excel 2021. IPA membandingkan skor kepentingan dengan skor kinerja untuk menilai kesesuaian, sehingga dapat menentukan prioritas perbaikan (Saragih & Retang, 2. Analisis dilakukan melalui tiga tahap, yaitu: . menghitung rata-rata skor kepentingan dan kinerja tiap atribut, . menghitung rata-rata keseluruhan, dan . memetakan atribut ke dalam Diagram Kartesius dengan empat kuadran yang menunjukkan tingkat prioritas. Atribut yang diteliti meliputi aspek ekonomi, ekologi, sosial budaya, edukasi dan wisata, serta kesehatan. Tabel 1. Importance Performance Analysis Atribut Aspek Ekonomi Aspek Ekologi Aspek Sosial Budaya Aspek Edukasi dan Wisata Aspek Kesehatan Kepentingan Kinerja Gap HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Uji Kualitas Data Uji Validitas Pada penelitian ini, pengujian validitas menggunakan metode Pearson Product Moment, yaitu dengan mengkorelasikan skor masing-masing item dengan total skor keseluruhan. Suatu item dianggap valid apabila nilai Corrected Item-Total Correlation lebih besar dari nilai r tabel. Dengan jumlah responden sebanyak 45 orang dan tingkat signifikansi 5% ( = 0,. , nilai r tabel yang digunakan adalah 0,294. JISA. ISSN: 1412-1816 . ISSN: 2614-4549 . Rico Yanuar Ardiansyah, dkk Ae Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Partisipasi . Tabel 2. Hasil Uji Validitas Atribut R Hitung R Hitung Tingkat Uji Tingkat Kepentingan . Tabel Validitas Kinerja . Urban Farming meningkatkan 0,715 0,733 0,294 Valid pendapatan keluarga. Mengurangi pengeluaran untuk 0,701 0,716 0,294 Valid kebutuhan pangan sehari-hari. Urban Farming 0,847 0,602 0,294 Valid memanfaatkan lahan kosong menjadi produktif. Mengurangi limbah organik 0,446 0,676 0,294 Valid melalui pembuatan kompos. Meningkatkan interaksi sosial 0,597 0,769 0,294 Valid dan gotong royong antarwarga. Menumbuhkan budaya bercocok 0,777 0,807 0,294 Valid tanam di perkotaan. Urban Farming menjadi sarana 0,865 0,868 0,294 Valid edukasi masyarakat umum. Potensi pengembangan Urban 0,873 0,772 0,294 Valid Farming sebagai destinasi wisata Urban Farming menyediakan 0,888 0,841 0,294 Valid sayuran segar dan sehat bagi 10 Meningkatkan 0,856 0,796 0,294 Valid lingkungan dan udara di sekitar Sumber : Data Olahan Peneliti . Berdasarkan hasil analisis, seluruh item pada variabel Kepentingan (Y1AeY. dan Kinerja (X1AeX. memiliki nilai korelasi di atas r tabel . dengan rentang 0,321Ae0,855, sehingga dinyatakan valid dan layak digunakan dalam penelitian. Uji Reliabilitas Pada penelitian ini, pengujian reliabilitas menggunakan metode CronbachAos Alpha, yaitu salah satu teknik yang paling umum digunakan untuk mengevaluasi konsistensi internal Instrumen dinyatakan reliabel apabila nilai CronbachAos Alpha melebihi 0,70. Berdasarkan hasil analisis data, nilai CronbachAos Alpha pada: Variabel Kepentingan adalah sebesar 0,900 dan Variabel Kinerja adalah sebesar 0,911. Tabel 3. Hasil Uji Reliabilitas Atribut Nilai Hitung Cronbach Alpha Tingkat Kepentingan 0,900 Tingkat Kinerja 0,911 Sumber : Data Olahan Peneliti . Nilai R Tabel 0,900 0,900 Uji Reliabilitas Reliabel Reliabel Hasil uji menunjukkan instrumen kuesioner memiliki reliabilitas sangat tinggi sehingga konsisten dan dapat dipercaya dalam mengukur variabel penelitian. Analisis Partisipasi Masyarakat Tingkat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan Urban Farming di Surabaya diukur melalui dua dimensi, yaitu kinerja . elaksanaan aktua. dan kepentingan . arapan masyaraka. , yang mencakup lima aspek utama: ekonomi, ekologi, sosial budaya, edukasi & wisata, serta Penilaian dilakukan dengan skala Likert 1Ae5 pada masing-masing atribut, kemudian dihitung rata-rata nilai kinerja dan kepentingannya. Hasil tersebut dianalisis menggunakan metode Importance Performance Analysis (IPA) untuk menentukan prioritas pengembangan Urban Farming sesuai tingkat kepentingan dan kinerjanya. JISA. ISSN: 1412-1816 . ISSN: 2614-4549 . Jurnal Ilmiah Sosio Agribis. Volume 25 (Nomor . , 2025: 296-302 Berikut disajikan tabel rata-rata nilai kinerja dan kepentingan dari setiap atribut pengelolaan Urban Farming: Tabel 4. Hasil Perhitungan IPA Atribut Aspek Ekonomi Aspek Ekologi Aspek Sosial Budaya Aspek Edukasi dan Wisata Aspek Kesehatan Rata-Rata Sumber : Data Olahan Peneliti . Kepentingan 4,18 4,71 4,74 4,64 4,70 4,59 Kinerja 3,75 4,37 4,35 4,27 4,37 4,22 Gap 0,43 0,34 0,39 0,37 0,33 0,37 Analisis Importance Performance Analysis (IPA) menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat dalam Urban Farming di Surabaya dipengaruhi oleh lima aspek utama. Aspek ekonomi mendapat gap terbesar . , menandakan harapan tinggi masyarakat terhadap kontribusi ekonomi belum sepenuhnya terwujud karena keterbatasan akses pasar dan manajemen Aspek ekologi dan sosial budaya sama-sama memiliki skor kepentingan dan kinerja tinggi, meskipun masih ada gap . ,34 dan 0,. yang menunjukkan perlunya peningkatan dalam pengelolaan limbah organik serta inklusivitas sosial. Aspek edukasi dan wisata . ap 0,. dinilai penting, tetapi implementasi belum optimal karena terbatasnya fasilitas dan sinergi dengan sektor pendidikan serta pariwisata. Aspek kesehatan menunjukkan keselarasan terbaik . ap 0,. , mencerminkan bahwa Urban Farming sudah efektif menyediakan pangan sehat, meningkatkan kualitas lingkungan, serta memberi manfaat langsung pada kesehatan masyarakat. Dengan demikian, prioritas utama pengembangan terletak pada aspek ekonomi, sementara aspek lain perlu diperkuat agar berkelanjutan dan lebih inklusif. Rata-rata skor kinerja . dan kepentingan . menjadi batas pemisah dalam diagram IPA, yang terbagi ke dalam empat kuadran: Kuadran I . rioritas utam. Kuadran II . ertahankan kinerj. Kuadran i . rioritas renda. , dan Kuadran IV . inerja berlebi. Hasil ini menjadi dasar pemetaan serta interpretasi tiap aspek dalam penelitian. Gambar 1. Diagram Kartesius IPA JISA. ISSN: 1412-1816 . ISSN: 2614-4549 . Rico Yanuar Ardiansyah, dkk Ae Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Partisipasi . Hasil Importance Performance Analysis (IPA) menunjukkan bahwa empat aspek utama dalam pengelolaan Urban Farming, yaitu ekologi, sosial budaya, edukasi & wisata, serta kesehatan, berada pada Kuadran II atau kategori pertahankan prestasi. Hal ini berarti masyarakat tidak hanya menilai aspek-aspek tersebut penting, tetapi juga telah melaksanakan dan merasakan manfaatnya secara optimal. Keberhasilan ini mencerminkan bahwa Urban Farming di Surabaya mampu memberikan kontribusi nyata dalam hal keberlanjutan lingkungan, interaksi sosial, peningkatan pengetahuan, serta manfaat kesehatan, sehingga perlu terus dipertahankan dan Di sisi lain, aspek ekonomi berada pada Kuadran i atau kategori prioritas rendah, yang mengindikasikan bahwa kepentingan maupun kinerja pada aspek ini masih di bawah rata-rata. Dengan kata lain, masyarakat belum menaruh perhatian besar pada pemanfaatan Urban Farming sebagai sumber peningkatan pendapatan atau penghematan biaya, dan pelaksanaannya pun belum Walaupun bukan prioritas utama, aspek ekonomi tetap perlu didorong agar manfaat finansial dari Urban Farming dapat lebih dirasakan, misalnya melalui inovasi produk, pemasaran hasil panen, maupun pengembangan usaha berbasis komunitas (Soedarto & Ainiyah, 2. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpula Analisis tingkat partisipasi masyarakat menggunakan metode Importance Performance Analysis (IPA) menunjukkan bahwa pengelolaan Urban Farming di Kota Surabaya telah berjalan cukup optimal, terutama pada aspek ekologi, sosial budaya, edukasi & wisata, serta kesehatan, yang dinilai penting dan telah terlaksana dengan baik. Aspek kesehatan bahkan menampilkan kesesuaian tertinggi antara harapan dan pelaksanaan. Namun, aspek ekonomi masih menunjukkan kinerja terendah dengan kesenjangan terbesar, sehingga perlu mendapat perhatian lebih lanjut agar Urban Farming tidak hanya memberikan manfaat lingkungan, sosial, dan kesehatan, tetapi juga berkontribusi nyata terhadap peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat. Saran Diperlukan upaya lanjutan berupa pelatihan kewirausahaan, penguatan akses terhadap pasar, serta dukungan kelembagaan yang lebih memadai agar program Urban Farming tidak hanya memberikan manfaat sosial dan lingkungan, tetapi juga mampu menghasilkan nilai ekonomi yang nyata bagi masyarakat. Di sisi lain, aspek-aspek yang telah berjalan dengan baik perlu terus dijaga dan diperluas cakupannya agar dampaknya semakin merata dan berkelanjutan. DAFTAR PUSTAKA