Ilmu Al-QurAoan (IQ) Jurnal Pendidikan Islam Volume 6 No. ISSN: 2338-4131 (Prin. 2715-4793 (Onlin. DOI: https://doi. org/10. 37542/tdsp9t65 Kurikulum PAI pada Perguruan Tinggi Umum di Politeknik Negeri Bengkalis dan Pengembangannya Fatimah Uri1. Chanifuddin2 1,2Institut Agama Islam Negeri Datuk Laksemana Bengkalis fatimahury45@gmail. chanifudin@kampusmelayu. Abstract: Islamic Religious Education (PAI) in vocational higher education plays a strategic role in shaping students who are not only technically skilled but also spiritually grounded and ethically professional. This study aims to describe and analyze the PAI curriculum at Politeknik Negeri Bengkalis and to formulate development strategies to make it more contextual and Using a descriptive qualitative approach with a case study method, data were collected through document analysis, in-depth interviews, observation, and open-ended The findings reveal that the current PAI curriculum covers theological, moral, and socio-religious aspects, but lacks full integration with the skill-based and work-oriented characteristics of vocational education. The main challenges include the absence of curriculum standardization, limited interdisciplinary collaboration, and inadequate digital innovation. This study proposes three strategic directions for curriculum development: integration of Islamic values with professional contexts, adoption of digital learning technologies, and institutional curriculum coordination. Consequently. PAI in vocational education can function as a tool for fostering both religious character and professional ethics. Keywords: Islamic Religious Education. Vocational Curriculum. Value Integration. Learning Innovation Abstrak: Pendidikan Agama Islam (PAI) di perguruan tinggi vokasi memegang peran strategis dalam membentuk karakter mahasiswa yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga memiliki integritas spiritual dan etika profesional. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan Fatimah Uri. Chanifuddin menganalisis kurikulum PAI di Politeknik Negeri Bengkalis serta merumuskan strategi pengembangannya agar lebih kontekstual dan transformatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui studi dokumentasi, wawancara mendalam, observasi, dan kuesioner terbuka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurikulum PAI yang diterapkan telah mencakup aspek teologis, moral, dan sosial keislaman, namun masih belum sepenuhnya terintegrasi dengan karakteristik pendidikan vokasi yang berbasis keahlian dan dunia kerja. Tantangan utama terletak pada tidak adanya standardisasi kurikulum, kurangnya sinergi lintas prodi, dan keterbatasan inovasi pembelajaran digital. Penelitian ini merekomendasikan tiga strategi pengembangan: integrasi nilai keislaman dengan konteks profesi, pemanfaatan teknologi pembelajaran, dan koordinasi kurikulum secara institusional. Dengan demikian. PAI di pendidikan vokasi dapat menjadi instrumen pembentukan karakter religius sekaligus etika profesional mahasiswa. Kata kunci: Pendidikan Agama Islam. Kurikulum Vokasi. Integrasi Nilai. Inovasi Pembelajaran Pendahuluan Pendidikan vokasi di Indonesia memainkan peranan penting dalam menyiapkan tenaga kerja profesional yang memiliki kompetensi teknis dan karakter kepribadian yang kuat. Politeknik Negeri Bengkalis (Polben. , sebagai salah satu perguruan tinggi vokasi negeri, menyelenggarakan pendidikan yang menekankan keterampilan aplikatif dan kolaboratif dalam berbagai bidang teknik dan bisnis. Dalam rangka membentuk lulusan yang tidak hanya unggul secara teknis tetapi juga berintegritas moral, mata kuliah Pendidikan Agama Islam (PAI) diselenggarakan sebagai bagian dari kurikulum umum yang wajib diikuti oleh seluruh Celah utama yang menjadi sorotan adalah belum optimalnya integrasi antara materi PAI dengan konteks keahlian profesional mahasiswa. Kurikulum PAI yang berjalan cenderung masih bersifat normatif dan tidak sepenuhnya kontekstual terhadap tantangan yang dihadapi lulusan vokasi di dunia kerja. Hal ini dapat menimbulkan kesenjangan antara idealisme nilai yang diajarkan dalam mata kuliah PAI dengan realitas praktik profesi di lapangan. Sebagaimana ditegaskan oleh Muhaimin, pendidikan agama tidak boleh hanya bersifat transfer Politeknik Negeri Bengkalis. AoKurikulum Institusional Dan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) Tahun Akademik 2022/2023. Bengkalis: Polbeng PressAo, 2023. 124 | IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 6 No. Kurikulum PAI pada Perguruan Tinggi Umum di Politeknik Negeri Bengkalis dan Pengembangannya of knowledge, tetapi harus mendorong transformasi sikap dan perilaku yang kontekstual dan Keberadaan PAI di lingkungan politeknik memiliki tantangan tersendiri. Berbeda dari perguruan tinggi keagamaan atau umum, pendidikan agama di politeknik harus mampu menjembatani kebutuhan profesional dengan pembentukan karakter religius mahasiswa. Undang-Undang No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi Pasal 35 mengamanatkan bahwa kurikulum pendidikan tinggi harus mencakup mata kuliah agama untuk membentuk kecerdasan intelektual, akhlak mulia, dan keterampilan. 3 Namun, pelaksanaan kurikulum PAI pada pendidikan vokasi sering kali belum terstandarisasi secara nasional, dan pelaksanaannya diserahkan pada masing-masing institusi dan dosen pengampu. Hal ini menjadikan desain dan penyampaian PAI sangat bervariasi dan tergantung pada konteks local. Sejumlah penelitian terdahulu telah menyoroti pentingnya transformasi pembelajaran PAI di pendidikan tinggi. Siregar. Taufiq, dan Jumadi menunjukkan bahwa kurikulum PAI perlu diadaptasi dengan karakter generasi milenial dan dunia industri. 5 Hambali dan Asyafah menekankan bahwa pembelajaran PAI di lingkungan vokasi masih minim inovasi, dan belum sepenuhnya terintegrasi dengan ranah keilmuan mahasiswa. 6 Temuan serupa juga ditunjukkan oleh Arifin, yang merekomendasikan pengembangan materi PAI berbasis nilai profesi untuk menjawab kebutuhan dunia kerja. 7 Namun, kebanyakan studi tersebut masih berfokus pada lingkup umum dan belum secara spesifik mengangkat kasus di Politeknik Negeri Bengkalis. Oleh karena itu, dibutuhkan penelitian yang lebih mendalam dan berbasis data empiris terkait implementasi dan pengembangan kurikulum PAI di lingkungan politeknik, termasuk strategi yang relevan untuk mengontekstualisasikan nilai-nilai keislaman dengan pendidikan keahlian. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kurikulum PAI harus dikembangkan tidak hanya sebagai sarana penyampaian pengetahuan normatif, tetapi juga sebagai pembentuk karakter yang kontekstual dengan kehidupan nyata mahasiswa. Al-Attas menegaskan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah menghasilkan manusia yang baik, bukan sekadar manusia yang Muhaimin. AoReorientasi Pendidikan Islam: Menjawab Tantangan Perubahan Zaman. Jakarta: RajaGrafindo PersadaAo, 2019. Kemdikbud. AoKementerian Pendidikan Dan Kebudayaan. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi. JakartaAo:, 2012. Nuryani. AoKurikulum PAI Di Pendidikan Tinggi Vokasi: Studi Kasus Politeknik. Ay Jurnal Ilmiah Pendidikan Agama Islam 11. No. : 45Ae60. Ao, 2023. and Jumadi Siregar. Abdul Taufiq. AoIntegrasi PAI Dan Keahlian Vokasional Dalam Era Revolusi Industri Ay Jurnal Pendidikan Islam Vokasional 6. No. : 90Ae105. Ao, 2023. Hambali Deni and Asyafah Abas. AoImplementasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di Pendidikan Tinggi VokasiAo. Jurnal Kajian Pendidikan Umum, 2020. Arifin. AoPengembangan Materi Pendidikan Agama Islam Berbasis Nilai Profesi Di Perguruan Tinggi. Ay Jurnal Pendidikan Islam 8. No. : 33Ae45. Ao, 2022. IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 6 No. 02 2023 | 125 Fatimah Uri. Chanifuddin Maka. PAI harus diarahkan untuk membentuk akhlak dan etika, terutama dalam konteks profesi dan dunia kerja. Dalam literatur kurikulum. Doll menyatakan bahwa pengambilan keputusan dalam pengembangan kurikulum harus mempertimbangkan landasan filosofis, historis, dan sosial budaya peserta didik. Kurikulum yang efektif harus mampu merespons dinamika masyarakat dan perubahan zaman. Dalam pendidikan vokasi. PAI perlu mengintegrasikan prinsip keislaman ke dalam nilai profesionalisme, kejujuran, dan tanggung jawab sosial. Lebih lanjut, pendekatan pendidikan agama berbasis outcome-based education (OBE) juga diakui penting. Ubaidillah mengemukakan bahwa capaian pembelajaran PAI harus meliputi dimensi spiritual, sosial, dan profesional. 10 Hal ini dipertegas oleh Muhaimin, yang menyatakan bahwa PAI seharusnya tidak hanya menumbuhkan pemahaman keagamaan, tetapi juga kesadaran kritis terhadap nilai dan etika dalam kehidupan modern. Namun demikian, sebagian besar kajian lebih banyak berfokus pada pendidikan agama di universitas atau madrasah, sementara pengkajian secara khusus terhadap kurikulum PAI di lingkungan politeknik masih minim. Kesenjangan ini membuka ruang bagi penelitian yang lebih mendalam dan aplikatif tentang bagaimana kurikulum PAI dapat dirancang secara kontekstual untuk menjawab tantangan zaman, kebutuhan dunia kerja, dan pembentukan karakter mahasiswa vokasi. Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) yang diterapkan di Politeknik Negeri Bengkalis belum sepenuhnya dikembangkan secara kontekstual dan transformatif, sehingga belum optimal dalam menjawab kebutuhan pendidikan vokasional yang integratif antara nilainilai keislaman dan keterampilan profesional. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan implementasi kurikulum Pendidikan Agama Islam di Politeknik Negeri Bengkalis, menganalisis kesesuaian kurikulum tersebut dengan visi, misi, dan tujuan institusi, dan merumuskan strategi pengembangan kurikulum PAI yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, kebutuhan profesional, dan tantangan global dalam konteks pendidikan vokasi. Naquib Al-Attas. AoThe Concept of Education In Islam (Kuala Lumpur : ABIM)Ao, 1980, p. Ronald C. Doll. AoCurriculum Improvement: Decision Making and Process. 9th Ed. Boston: Allyn and BaconAo, 1996. Ubaidillah. AoPengembangan Kurikulum Pendidikan Agama IslamAo. Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam, 01 . , pp. 159Ae70, doi:10. 52166/tabyin. Muhaimin. AoReorientasi Pendidikan Islam: Menjawab Tantangan Perubahan Zaman. Jakarta: RajaGrafindo PersadaAo. 126 | IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 6 No. Kurikulum PAI pada Perguruan Tinggi Umum di Politeknik Negeri Bengkalis dan Pengembangannya Dengan pendekatan ini, diharapkan kurikulum PAI tidak hanya berfungsi sebagai pengajaran nilai keagamaan normatif, tetapi juga sebagai instrumen pembentukan karakter dan etika profesional dalam konteks pendidikan vokasional. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus intrinsik yang bertujuan untuk memperoleh pemahaman mendalam mengenai desain, implementasi, dan pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) di lingkungan pendidikan vokasional, khususnya di Politeknik Negeri Bengkalis. Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan peneliti menjelajahi konteks nyata secara langsung dan memperoleh data empiris tentang bagaimana nilai-nilai keislaman diintegrasikan dalam sistem pembelajaran yang berorientasi keterampilan. Subjek dalam penelitian ini meliputi dosen pengampu mata kuliah PAI, ketua program studi teknik, dan mahasiswa yang telah menempuh mata kuliah PAI. Pemilihan subjek dilakukan secara purposif berdasarkan pertimbangan relevansi dan keterlibatan langsung dengan pelaksanaan kurikulum PAI. Sumber data utama berasal dari dokumen institusional seperti Rencana Pembelajaran Semester (RPS), kontrak perkuliahan, kurikulum institusi, serta hasil wawancara dan observasi di lapangan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui tiga metode utama, yaitu: . studi dokumentasi untuk menelaah kebijakan kurikulum dan struktur pembelajaran PAI. wawancara mendalam semi-terstruktur kepada dosen dan ketua program studi untuk menggali perspektif pengelola kurikulum. observasi non-partisipatif terhadap proses pembelajaran untuk melihat bagaimana nilai-nilai agama diimplementasikan di kelas dan lingkungan kampus. Selain itu, kuesioner terbuka diberikan secara terbatas kepada mahasiswa sebagai instrumen pelengkap untuk mendapatkan persepsi terkait relevansi kurikulum PAI. Data dianalisis dengan menggunakan analisis tematik, yaitu teknik yang memfokuskan pada identifikasi pola, tema, dan makna dari data kualitatif yang terkumpul. Analisis dilakukan melalui tiga tahap: reduksi data, penyajian data secara naratif dan tematik, serta penarikan kesimpulan secara interpretatif. Untuk menjamin validitas data, digunakan teknik triangulasi sumber dan metode, serta konfirmasi data . ember checkin. kepada informan kunci. Seluruh proses penelitian dijalankan dengan prinsip etika riset, termasuk persetujuan partisipan dan kerahasiaan data. Peneliti berfungsi sebagai instrumen utama . uman instrumen. yang secara aktif merancang instrumen bantu seperti panduan wawancara dan lembar observasi. Peran aktif IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 6 No. 02 2023 | 127 Fatimah Uri. Chanifuddin peneliti dalam proses pengumpulan dan interpretasi data menjadi bagian integral dalam menjamin kedalaman dan keabsahan hasil penelitian ini. Hasil Penelitian dan Pembahasan Profil Kurikulum PAI di Politeknik Negeri Bengkalis Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) di Politeknik Negeri Bengkalis dirancang sebagai bagian dari kelompok mata kuliah wajib institusional yang harus ditempuh oleh seluruh mahasiswa lintas program studi. Mata kuliah ini umumnya ditempatkan pada semester pertama dengan bobot 3 SKS, bertujuan membentuk dasar religiusitas dan etika kepribadian mahasiswa sejak awal perkuliahan. Dalam praktiknya, penyusunan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) disusun secara mandiri oleh dosen pengampu, namun tetap mengacu pada pedoman umum institusi, serta peraturan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi yang mewajibkan keberadaan mata kuliah agama di semua program studi. Konten kurikulum PAI di Polbeng mencakup materi-materi dasar keislaman seperti aqidah, syariah, akhlak, serta pembahasan isu-isu kontemporer seperti Islam dan pluralisme, tantangan modernitas, dan kontribusi Islam terhadap peradaban dunia. Materi ini dikembangkan dalam kerangka pembelajaran berbasis karakter yang bertujuan membentuk pribadi mahasiswa yang religius, bertanggung jawab, jujur, dan toleran. Capaian pembelajaran tersebut sejalan dengan prinsip student outcomes dalam pendidikan vokasi yang mengutamakan integritas, profesionalisme, dan sikap sosial sebagai bagian dari kompetensi Strategi pembelajaran yang digunakan mencakup pendekatan campuran antara teachercentered learning (TCL) dan student-centered learning (SCL), seperti ceramah interaktif, diskusi kelompok, tugas portofolio, serta studi kasus keagamaan dalam konteks kehidupan Metode ini memungkinkan mahasiswa untuk tidak hanya memahami ajaran Islam secara kognitif, tetapi juga menginternalisasikannya dalam sikap dan perilaku. Namun demikian, dari hasil observasi dan dokumentasi, ditemukan bahwa pelaksanaan kurikulum masih bersifat desentralistik dan bergantung pada kreativitas individu dosen. Belum Kemdikbud. AoKementerian Pendidikan Dan Kebudayaan. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi. JakartaAo: Fullan. AoThe New Meaning of Educational Change. Teachers College Press. Ao. Teachers College Press. , 2015. Aisyah Kurniawati. Sutarno Sutarno, and Sariman Sariman. AoIntegration of Islamic Spiritual Emotional and Intellectual Education in Vocational High SchoolsAo. Ta Dib Jurnal Pendidikan Islam, 11. , pp. 229Ae 40, doi:10. 29313/tjpi. 128 | IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 6 No. Kurikulum PAI pada Perguruan Tinggi Umum di Politeknik Negeri Bengkalis dan Pengembangannya terdapat kurikulum institusional yang distandardisasi secara menyeluruh untuk seluruh prodi. Hal ini menyebabkan adanya variasi dalam penyampaian materi, penekanan capaian pembelajaran, serta metode evaluasi antar kelas. Kondisi ini sesuai dengan temuan Hambali & Asyafah, yang menyatakan bahwa lemahnya struktur koordinatif dalam pelaksanaan PAI di pendidikan vokasi berdampak pada ketidakterpaduan pesan nilai dan output pembelajaran. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun kurikulum PAI telah dirancang dengan niat baik dan mencakup materi penting, implementasinya masih menghadapi tantangan struktural dan pedagogis. Untuk itu, diperlukan penguatan sistem kurikulum yang tidak hanya fleksibel, tetapi juga terstandarisasi dan kontekstual dengan karakter pendidikan vokasi. Kesesuaian Kurikulum dengan Visi. Misi, dan Karakter Pendidikan Vokasi Analisis dokumen dan wawancara menunjukkan bahwa kurikulum PAI secara umum telah diselaraskan dengan visi Politeknik Negeri Bengkalis sebagai perguruan tinggi vokasi yang unggul secara nasional dan internasional, yang tidak hanya unggul dalam keahlian teknis tetapi juga berkarakter religius, bertanggung jawab, dan berwawasan global. Materi pembelajaran seperti Paradigma QurAoani untuk Kehidupan Modern. Islam dan Tantangan Modernisasi, serta Kontribusi Islam terhadap Peradaban Dunia menunjukkan adanya orientasi global dan relevansi sosial dalam pendidikan keislaman. Selain itu, capaian pembelajaran yang ditetapkanAiyakni bertakwa, bertanggung jawab, jujur, dan toleranAisejalan dengan misi institusi dalam membentuk lulusan yang religius dan profesional. Namun, dalam praktiknya, implementasi capaian tersebut belum sepenuhnya bersifat kontekstual dan adaptif terhadap dinamika pendidikan vokasi. Belum terdapat kerangka pembelajaran yang mengaitkan secara eksplisit antara materi keislaman dan bidang keahlian mahasiswa, seperti teknik mesin, perkapalan, atau teknologi informasi. Kurikulum masih dominan bersifat normatif, sehingga nilai-nilai PAI sering kali dianggap sebagai pengetahuan tambahan, bukan bagian integral dari pembentukan sikap profesional mahasiswa. Hal ini senada dengan temuan Arifin, yang mengemukakan bahwa kurikulum PAI di perguruan tinggi perlu dikembangkan berbasis nilai profesi untuk menumbuhkan sensitivitas etika dalam konteks keilmuan mahasiswa. 16 Demikian pula. Siregar. Taufiq, dan Jumadi dalam kajian mereka menekankan bahwa integrasi nilai-nilai Islam dalam pendidikan vokasi sangat penting untuk menciptakan sinergi antara kompetensi teknis dan karakter spiritual. Kurikulum Deni and Abas. AoImplementasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di Pendidikan Tinggi VokasiAo. Arifin. AoPengembangan Materi Pendidikan Agama Islam Berbasis Nilai Profesi Di Perguruan Tinggi. Ay Jurnal Pendidikan Islam 8. No. : 33Ae45. Ao IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 6 No. 02 2023 | 129 Fatimah Uri. Chanifuddin yang gagal mengaitkan antara nilai religius dan praktik keahlian justru berisiko menciptakan disonansi dalam kesadaran moral mahasiswa. Kesesuaian dengan pendidikan vokasi seharusnya tidak hanya dinilai dari sejauh mana kurikulum PAI mengajarkan nilai-nilai moral secara umum, seperti kejujuran dan tanggung jawab, tetapi terutama dari seberapa jauh kurikulum tersebut mampu merespons tantangan etis yang spesifik dalam dunia profesi. Pendidikan vokasional mempersiapkan mahasiswa untuk menghadapi realitas kerja yang sarat dilema moral, seperti manipulasi data, pelanggaran keselamatan kerja, hingga penyalahgunaan wewenang dalam lingkungan industri dan layanan Oleh PAI dikontekstualisasikan secara langsung dengan praktik profesional di bidang masing-masing program studi. Rahman dan Nurlaelawati menegaskan bahwa kurikulum keislaman dalam pendidikan vokasi harus diarahkan pada pembentukan moral reasoning berbasis nilai-nilai Islam yang mampu menjadi panduan dalam pengambilan keputusan etis di tempat kerja. 18 Senada dengan itu. Siregar. Taufiq, dan Jumadi menyarankan agar materi PAI dirancang secara transdisipliner, dengan menyisipkan studi kasus dari dunia industri dan simulasi dilema etika yang relevan dengan bidang keahlian mahasiswa. 19 Strategi ini akan memperkuat keterkaitan antara dimensi religius dan realitas profesi, serta memperluas daya guna kurikulum PAI dalam menyiapkan lulusan vokasi yang profesional sekaligus bermoral. Kurniawati. Sutarno, dan Sariman juga menekankan pentingnya desain pembelajaran PAI yang menyentuh aspek emosional dan intelektual secara simultan. 20 Dengan model pembelajaran yang integratif dan kontekstual. PAI tidak lagi sekadar menyampaikan doktrin, tetapi menjadi ruang pembinaan nilai-nilai kerja Islami yang adaptif terhadap tuntutan era 0 dan masyarakat digital. Oleh karena itu, pengembangan kurikulum PAI yang responsif terhadap karakteristik vokasional harus menjadi agenda strategis lembaga pendidikan tinggi vokasi seperti Politeknik Negeri Bengkalis. and Jumadi. Siregar. Taufiq. AoIntegrasi Pendidikan Islam Dan Pendidikan Vokasi: Kajian Pustaka Tentang Pemantapan Keahlian Dan Nilai Spiritual. " Ahdyf: Jurnal Pendidikan Agama Islam 2. No. : 1Ae18. Ao, 2023. Rahman and E. Nurlaelawati. AoModel Integrasi Kurikulum Keislaman Dan Kejuruan Di Perguruan Tinggi Vokasi," Tadris: Jurnal Pendidikan Islam 17. No. : 88Ae105,Ao 2022. Siregar. Abdul Taufiq. AoIntegrasi PAI Dan Keahlian Vokasional Dalam Era Revolusi Industri 4. Ay Jurnal Pendidikan Islam Vokasional 6. No. : 90Ae105. Ao Kurniawati. Sutarno, and Sariman. AoIntegration of Islamic Spiritual Emotional and Intellectual Education in Vocational High SchoolsAo. 130 | IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 6 No. Kurikulum PAI pada Perguruan Tinggi Umum di Politeknik Negeri Bengkalis dan Pengembangannya Lebih lanjut. Marvianasari. Fitri, dan Aziz menekankan bahwa pengembangan kurikulum PAI di era digital tidak dapat dilepaskan dari pemahaman terhadap karakteristik pekerjaan masa kini yang menuntut kecepatan, efisiensi, dan integritas tinggi. 21 Oleh sebab itu, pendidikan agama di politeknik harus bertransformasi dari pendekatan normatif-konvensional menjadi pendidikan etika aplikatif yang berorientasi pada pembentukan kepribadian profesional berbasis nilai. Analisis Kebutuhan Pengembangan Kurikulum: Kontekstual. Transformatif, dan Digital Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) yang saat ini diterapkan di Politeknik Negeri Bengkalis masih cenderung bersifat normatif dan belum sepenuhnya disesuaikan dengan karakteristik mahasiswa vokasi yang pragmatis, adaptif terhadap teknologi, serta berorientasi langsung pada dunia kerja. Sebagian besar materi ajar berfokus pada aspek teologis dan moral dasar, tanpa penguatan yang cukup terhadap nilai-nilai keislaman dalam konteks profesi dan industri yang relevan dengan program studi masingmasing. Hal ini menegaskan pentingnya pengembangan kurikulum PAI yang bersifat kontekstual, yakni disusun dengan mempertimbangkan realitas sosial, keilmuan, dan profesional mahasiswa. Dalam konteks pendidikan vokasi, materi seperti kejujuran dalam pengelolaan proyek, etika kerja dalam industri, hingga pemanfaatan teknologi secara etis menjadi sangat relevan untuk diangkat dalam kurikulum PAI. Sebagaimana ditegaskan oleh Muhaimin, pembelajaran PAI harus mampu menjawab tantangan zaman, menanamkan nilainilai religius dalam kehidupan nyata, serta tidak terjebak pada pendekatan dogmatis yang terlepas dari dinamika kehidupan modern. Selain kontekstualisasi, transformasi kurikulum juga menjadi kebutuhan mendesak. Kurikulum transformatif bukan hanya menyampaikan ajaran, tetapi mendorong peserta didik menjadi subjek aktif yang mampu menginternalisasi dan menerapkan nilai-nilai agama dalam berbagai situasi. Fullan menyebutkan bahwa perubahan pendidikan yang bermakna harus melibatkan rekonstruksi makna oleh peserta didik dalam konteks sosialnya. 23 Oleh karena itu. R Marvianasari. A Z Fitri, and A Aziz. AoLandasan Dan Paradigma Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI)Ao. Pendekar: Jurnal . Muhaimin. AoReorientasi Pendidikan Islam: Menjawab Tantangan Perubahan Zaman. Jakarta: RajaGrafindo PersadaAo. Fullan. AoThe New Meaning of Educational Change. Teachers College Press. Ao IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 6 No. 02 2023 | 131 Fatimah Uri. Chanifuddin PAI perlu diposisikan sebagai wahana transformasi kesadaran dan sikap mahasiswa terhadap realitas etis yang mereka hadapi. Pengembangan kurikulum PAI di lingkungan vokasi juga harus mengikuti arus Untuk meningkatkan efektivitas dan relevansi kurikulum PAI di pendidikan vokasi, desain pengalaman belajar perlu diarahkan pada integrasi pendekatan kontekstual, pemanfaatan teknologi digital, metode aktif, serta penilaian holistik yang mampu membentuk internalisasi nilai Islami secara lebih mendalam dan aplikatif. 24 Mahasiswa generasi Z tumbuh dalam lingkungan teknologi, sehingga pembelajaran PAI yang berbasis ceramah satu arah menjadi kurang efektif. Pemanfaatan Learning Management System (LMS), media interaktif, dan simulasi berbasis kasus keagamaan dapat meningkatkan efektivitas dan keterlibatan mahasiswa dalam proses pembelajaran. Hasil studi Fadillah dan Fauzan menunjukkan bahwa penerapan strategi pembelajaran PAI berbasis digital di pendidikan vokasi berhasil meningkatkan pemahaman konsep, relevansi materi, serta keterlibatan emosional mahasiswa. Selaras dengan itu, penelitian Kurniawati. Sutarno, dan Sariman menekankan pentingnya integrasi dimensi spiritual, emosional, dan intelektual dalam pendidikan vokasional keagamaan, di mana penguatan nilai-nilai Islam harus menyatu dengan pendekatan pedagogi digital dan pembelajaran aktif. Ini menunjukkan bahwa inovasi kurikulum PAI tidak hanya dituntut dari sisi isi materi, tetapi juga metode, media, dan strategi evaluasinya. Dengan demikian, kebutuhan pengembangan kurikulum PAI di lingkungan politeknik harus diarahkan pada tiga aspek pokok: . kontekstualisasi nilai keislaman dalam dunia profesi dan industri. transformasi pedagogi menuju pendekatan reflektif dan berbasis pengalaman nyata. digitalisasi media dan strategi pembelajaran untuk menjangkau karakteristik mahasiswa generasi modern. Strategi Sinergi dan Implementasi Kurikulum Antarprodi Kurangnya sinergi antarprogram studi di Politeknik Negeri Bengkalis menjadi salah satu tantangan utama dalam implementasi kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) secara Berdasarkan temuan penelitian ini, proses perancangan dan pelaksanaan kurikulum PAI masih dilakukan secara terpisah-pisah oleh dosen pengampu tanpa koordinasi substansial and Nasrun Harahap. Suhernawati. AoDesain Pengalaman Belajar PAI Yang Ideal Di Era Digital. IMTIYAZ: Jurnal Ilmu Keislaman 9. No. : 46Ae60. Ao, 2025. and R. Fauzan Fadillah. AoStrategi Pembelajaran PAI Berbasis Digital Di Perguruan Tinggi Vokasi. Jurnal Pendidikan Islam Kontemporer 9. No. : 45Ae60. Ao, 2023. Kurniawati. Sutarno, and Sariman. AoIntegration of Islamic Spiritual Emotional and Intellectual Education in Vocational High SchoolsAo. 132 | IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 6 No. Kurikulum PAI pada Perguruan Tinggi Umum di Politeknik Negeri Bengkalis dan Pengembangannya dengan tim kurikulum prodi maupun dosen rumpun keilmuan lain. Akibatnya, integrasi nilainilai keislaman dengan keahlian vokasional mahasiswa belum terbangun secara sistematis. Kurikulum PAI cenderung bersifat generalis dan kurang kontekstual terhadap kebutuhan masing-masing bidang keahlian. Padahal, pendekatan lintasdisipliner sangat diperlukan untuk mengaitkan ajaran Islam dengan dunia profesi mahasiswa. Misalnya, dalam program studi Teknik Elektro, topik-topik seperti tanggung jawab terhadap keselamatan kerja . afety awarenes. , integritas dalam pengujian alat, serta etika dalam riset dan inovasi teknologi dapat diperkaya melalui perspektif etika Islam. Kolaborasi ini akan menciptakan ruang belajar yang lebih reflektif, praktis, dan bermakna bagi mahasiswa. Salah satu strategi yang disarankan adalah pembentukan Tim Pengembang Kurikulum PAI Terintegrasi di tingkat institusi. Tim ini harus terdiri dari dosen PAI, perwakilan dosen keahlian prodi, serta pihak penjamin mutu akademik. Kolaborasi ini dapat mengarah pada pengembangan modul PAI kontekstual, yang mengakomodasi ragam bidang keahlian serta menerapkan model pembelajaran berbasis proyek lintas prodi (Project-Based Integrated Learnin. Strategi tersebut diperkuat oleh studi Arifin, yang menyatakan bahwa pengembangan materi PAI berbasis profesi mampu menjembatani kesenjangan antara teori keislaman dan praktik profesional mahasiswa. 27 Hal senada dikemukakan oleh Hambali dan Asyafah, yang menemukan bahwa pelaksanaan PAI di pendidikan vokasi akan lebih efektif jika dilakukan melalui integrasi konten keagamaan dengan konteks industri, keahlian, dan kerja praktik. Lebih lanjut. Qomar dan Fitri menegaskan pentingnya pelibatan lintasdisiplin dalam perencanaan kurikulum agar nilai-nilai PAI tidak hanya diajarkan secara normatif, tetapi dapat diinternalisasikan dalam kultur akademik dan profesional kampus. Dengan demikian, upaya implementasi kurikulum PAI yang efektif di lingkungan vokasi tidak cukup dilakukan secara individual oleh dosen, melainkan membutuhkan pendekatan kolaboratif dan interdisipliner. Pendekatan ini akan mendorong terciptanya kurikulum integratif, yakni kurikulum yang tidak hanya mengajarkan nilai-nilai Islam, tetapi juga mengaitkannya dengan realitas sosial dan profesional mahasiswa secara langsung dan Arifin. AoPengembangan Materi Pendidikan Agama Islam Berbasis Nilai Profesi Di Perguruan Tinggi. Ay Jurnal Pendidikan Islam 8. No. : 33Ae45. Ao Deni and Abas. AoImplementasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di Pendidikan Tinggi VokasiAo. and Agus Zaenul Fitri Mujamil Qomar. AoKurikulum Merdeka Dalam Pembelajaran PAI Berbasis Industri. Ay Jurnal Kurikulum Dan Teknologi Pembelajaran 8. No. : 12Ae29. Ao, 2024. IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 6 No. 02 2023 | 133 Fatimah Uri. Chanifuddin Implikasi Nilai-Nilai Islam dalam Pendidikan Karakter Mahasiswa Vokasi Secara filosofis, pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) berangkat dari pandangan bahwa pendidikan merupakan proses yang tidak hanya mentransmisikan pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter dan makna hidup peserta didik. Dalam perspektif pendidikan Islam, manusia dipandang sebagai makhluk yang harus dikembangkan secara holistik, mencakup dimensi kognitif, afektif, psikomotorik, dan spiritual. Oleh karena itu, pendidikan Islam menekankan prinsip integratif antara ilmu pengetahuan dan akhlak mulia. Nilai-nilai Islam yang diajarkan dalam mata kuliah Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki kontribusi yang signifikan dalam membentuk karakter mahasiswa vokasi agar tidak hanya unggul dalam aspek keahlian teknis, tetapi juga berintegritas secara moral dan spiritual. Penerapan nilai-nilai moderasi dalam kurikulum PAI sangat penting untuk membentuk karakter mahasiswa vokasi yang toleran, adil, dan berjiwa kebangsaan. Penanaman nilai-nilai ini dapat dilakukan melalui integrasi materi dan keteladanan, sebagaimana dikemukakan bahwa Auguru Akidah Akhlak secara langsung memberikan contoh teladan bagi siswa/i dalam hal toleransi, menghargai pluralitas, serta menjunjung etika kebangsaan dan keberagaman Konsep-konsep etik seperti siddiq . , amanah . apat dipercay. , fathanah . , dan tabligh . merupakan nilai-nilai inti dalam etika kerja Islami yang sangat relevan dengan tuntutan dunia kerja modern. Dalam konteks pendidikan vokasi yang berorientasi pada keterampilan praktis, nilai-nilai ini dapat membentuk etos kerja profesional yang bertanggung jawab, disiplin, dan berpihak pada kemaslahatan. Berdasarkan temuan observasi dan tanggapan mahasiswa, nilai-nilai keislaman menjadi lebih bermakna ketika dikaitkan dengan realitas sosial dan dinamika dunia kerja. Misalnya, pembahasan tentang etika bisnis, kepemimpinan Islami, atau tanggung jawab profesional dalam konteks proyek teknik atau industri memberikan pengalaman belajar yang lebih aplikatif dan reflektif. Ini sejalan dengan pandangan Lickona yang menyatakan bahwa pendidikan karakter akan efektif ketika terintegrasi dalam kehidupan nyata dan dipraktikkan secara konsisten dalam konteks keseharian peserta didik. Jamil Abdul Aziz. Ahamad Solihin, dan Guntur Wijaya. AoPeran Guru Akidah Akhlak Dalam Penanaman Nilai-Nilai Moderasi Beragama Pada Siswa. IQ: Jurnal Pendidikan Islam 7. No. : 224. Ao, 2024. Thomas Lickona. AoEleven Principles of Effective Character EducationAo. Journal of Moral Education, 1 . , pp. 93Ae100, doi:10. 1080/0305724960250110. 134 | IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 6 No. Kurikulum PAI pada Perguruan Tinggi Umum di Politeknik Negeri Bengkalis dan Pengembangannya Lebih jauh. Syakiroh. Nurazizah, dan Nurhalipah menekankan bahwa nilai-nilai PAI memainkan peran sentral dalam membentuk karakter religius mahasiswa di era globalisasi, di mana tekanan gaya hidup instan dan arus budaya global dapat mengaburkan landasan moral peserta didik. Pendidikan karakter berbasis Islam dalam pendidikan vokasi menjadi penting untuk membangun daya tahan moral . oral resilienc. , keterampilan sosial, dan sikap kerja yang beretika. Studi lain oleh Sari. Pahrudin, dan Jatmiko juga menunjukkan bahwa desain kurikulum PAI yang mengintegrasikan pengetahuan, etika, dan spiritualitas mampu membentuk profil lulusan vokasi yang memiliki kompetensi ganda: keterampilan teknis dan akhlak mulia. Dalam hal ini, pengajaran nilai-nilai keislaman tidak cukup berhenti pada ranah kognitif, melainkan harus menekankan pembiasaan . dan keteladanan . sebagai strategi pedagogis utama. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa PAI dalam pendidikan vokasi tidak hanya berperan sebagai penguat nilai normatif, tetapi juga sebagai sarana pembentukan identitas profesional yang berlandaskan akhlak Islami. Penanaman nilai-nilai Islam secara sistematis, aplikatif, dan lintas disiplin sangat dibutuhkan untuk membentuk lulusan vokasi yang siap kerja sekaligus siap hidup secara bertanggung jawab di masyarakat. Implikasi Pengembangan Kurikulum Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa pengembangan kurikulum PAI di Politeknik Negeri Bengkalis perlu diarahkan pada tiga strategi utama: pertama, penguatan integrasi nilai Islam dengan konteks keilmuan dan profesi. kedua, pemanfaatan teknologi digital dalam penyampaian materi dan evaluasi. dan ketiga, standardisasi dan sinkronisasi kurikulum antarprogram studi melalui forum kurikulum institusional. Strategi ini diharapkan dapat menjawab kebutuhan mahasiswa vokasi yang tidak hanya membutuhkan pembekalan spiritual, tetapi juga kemampuan etis dalam dunia kerja. Pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) di lingkungan pendidikan vokasional menuntut adanya integrasi antara nilai-nilai spiritual Islam dan kompetensi profesional yang relevan dengan dunia kerja. Sejumlah literatur mutakhir menegaskan Inten Syakiroh. Nurazizah Nurazizah, and Nurhalipah Nurhalipah. AoStrategi Penanaman Nilai PAI Dalam Memebentuk Karakter Religius Di Era GlobalisasiAo. AL-KAINAH: Journal of Islamic Studies, 2. 79Ae90, doi:10. 69698/jis. and K. Koderi. Sari. Pahrudin. Jatmiko. AoDesain Kurikulum PAI Berbasis Karakter: Integrasi Pengetahuan. Etika. Dan Spiritualitas. " Journal of Education Research 5. No. : 6597Ae6604. Ao. IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 6 No. 02 2023 | 135 Fatimah Uri. Chanifuddin pentingnya pembaruan paradigma pembelajaran agama di politeknik agar tidak semata-mata bersifat normatif, tetapi juga kontekstual dan transformatif. Al-Attas menyatakan bahwa tujuan utama pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang baik . nsan kami. , bukan sekadar manusia yang terampil. Oleh karena itu, kurikulum PAI di institusi vokasi harus mampu mencerminkan nilai-nilai teologis sekaligus etika profesi. Menurut Doll, desain kurikulum yang efektif harus dibangun atas dasar filosofi pendidikan yang menyatu dengan kebutuhan sosial, budaya, dan psikologis peserta didik. Ini menegaskan bahwa pendekatan PAI harus mempertimbangkan karakter mahasiswa vokasi yang cenderung pragmatis dan berorientasi karier. 35 Dalam konteks ini. Siregar. Taufiq, dan Jumadi menekankan pentingnya integrasi pendidikan Islam dengan kompetensi keahlian vokasional sebagai bentuk adaptasi terhadap tantangan Revolusi Industri 4. Mereka menunjukkan bahwa lulusan pendidikan vokasi memerlukan penguatan spiritual sebagai landasan moral dalam dunia kerja yang kompetitif. Hal senada dikemukakan oleh Kurniawati. Sutarno, dan Sariman, yang menawarkan pendekatan pendidikan holistik melalui integrasi aspek spiritual, emosional, dan intelektual dalam kurikulum sekolah kejuruan. Model ini tidak hanya membentuk religiositas mahasiswa, tetapi juga mendorong peningkatan motivasi dan kesadaran sosial. 37 Sementara itu. Hambali. Aryanti, dan Asyafah menemukan bahwa pembelajaran PAI di perguruan tinggi vokasi cenderung normatif dan kurang terhubung dengan praktik keahlian mahasiswa, sehingga diperlukan strategi berbasis proyek dan simulasi dunia kerja. Lebih lanjut. Mahmudi dan Wahidah mencatat bahwa belum adanya kolaborasi antardosen rumpun keahlian dan PAI menghambat pengembangan kurikulum yang sinergis. Mereka merekomendasikan penguatan integrasi kurikulum melalui desain kolaboratif 39 Pandangan ini diperkuat oleh Mujamil Qomar dan Agus Zaenul Fitri, yang menawarkan strategi pembelajaran PAI berbasis Kurikulum Merdeka dengan metode kontekstual, pemanfaatan teknologi, serta proyek integratif yang melibatkan dunia industri. Al-Attas. AoThe Concept of Education In Islam (Kuala Lumpur : ABIM)Ao. Doll. AoCurriculum Improvement: Decision Making and Process. 9th Ed. Boston: Allyn and BaconAo,. Siregar. Abdul Taufiq. AoIntegrasi PAI Dan Keahlian Vokasional Dalam Era Revolusi Industri 4. Ay Jurnal Pendidikan Islam Vokasional 6. No. : 90Ae105. Ao Kurniawati. Sutarno, and Sariman. AoIntegration of Islamic Spiritual Emotional and Intellectual Education in Vocational High SchoolsAo. Deni and Abas. AoImplementasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di Pendidikan Tinggi VokasiAo. and Wahidah Mahmudi. Ahmad. AoSinergi Kurikulum PAI Dan Keahlian Dalam Pendidikan Vokasi. Ay Jurnal Integrasi Kurikulum Islam 7. No. : 58Ae72Ao, 2023. and A. Fitri. Qomar. AoInnovative Learning Strategies for Islamic Religious Education Based on Merdeka Belajar Curriculum in Vocational High Schools. Ay Al-Hayat: Journal of Islamic Education 8. No. : 966Ae981. Ao, 2024. 136 | IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 6 No. Kurikulum PAI pada Perguruan Tinggi Umum di Politeknik Negeri Bengkalis dan Pengembangannya Dalam kerangka yang lebih luas. Burhanuddin. Sahri, dan Nafi menyoroti pentingnya internalisasi nilai-nilai Islam multikultural dalam pendidikan vokasi. Pendidikan PAI perlu mengakomodasi toleransi, etika kerja lintas budaya, dan kesadaran global, mengingat peserta didik di politeknik seringkali berasal dari latar belakang sosial yang beragam. Secara umum, studi-studi tersebut menyimpulkan bahwa pengembangan kurikulum PAI di pendidikan vokasi harus bersifat adaptif, kolaboratif, dan integratif. Hal ini selaras dengan gagasan Muhaimin yang menyatakan bahwa pembelajaran agama harus mengarahkan peserta didik menjadi subjek aktif yang mampu menjawab tantangan zaman secara kritis dan 42 Dengan demikian, literatur yang ada memberikan justifikasi teoretis kuat untuk mengembangkan kurikulum PAI yang tidak hanya menjawab kebutuhan spiritual mahasiswa, tetapi juga mendukung kesiapan mereka menghadapi dunia kerja. Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) di Politeknik Negeri Bengkalis telah diimplementasikan sebagai mata kuliah umum wajib yang memuat nilai-nilai keislaman mendasar, seperti aqidah, ibadah, akhlak, serta tema-tema kontekstual seperti pluralitas dan modernitas. Meskipun terdapat kesesuaian antara materi ajar dengan visi institusi dalam membentuk lulusan yang religius dan profesional, struktur dan pelaksanaannya masih bersifat desentralistik dan sangat bergantung pada inisiatif individu dosen pengampu. Kurikulum PAI yang berlaku saat ini belum sepenuhnya terintegrasi dengan karakteristik pendidikan vokasi yang berbasis keahlian dan teknologi. Hasil penelitian PAI dikontekstualisasikan dengan dunia kerja dan profesi mahasiswa. Tantangan utama yang dihadapi adalah belum adanya standardisasi kurikulum di tingkat institusional dan kurangnya sinergi antara pengampu PAI dengan program studi keahlian. Oleh karena itu, pengembangan kurikulum PAI perlu diarahkan pada pendekatan yang lebih transformatif, integratif, dan responsif terhadap kebutuhan mahasiswa vokasi di era digital dan global. Studi ini menyimpulkan bahwa penguatan kurikulum PAI di politeknik perlu dilakukan melalui tiga strategi utama: . pengintegrasian nilai-nilai Islam ke dalam konteks keilmuan and M. Ainul Yaqin Nafi. Burhanuddin. Jajat. Sahri. AoPenguatan Nilai-Nilai Islam Multikultural Dalam Kurikulum PAI Vokasi. Ay Jurnal Pendidikan Islam Indonesia 10. No. : 15Ae30. Ao, 2025. Muhaimin. AoReorientasi Pendidikan Islam: Menjawab Tantangan Perubahan Zaman. Jakarta: RajaGrafindo PersadaAo. IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 6 No. 02 2023 | 137 Fatimah Uri. Chanifuddin dan profesi mahasiswa. pemanfaatan teknologi dan strategi pembelajaran inovatif yang sesuai dengan karakteristik generasi digital. penyusunan kurikulum PAI secara sistemik dan kolaboratif antarprogram studi guna menciptakan standar pembelajaran yang relevan dan Dengan demikian. PAI di pendidikan vokasi tidak hanya menjadi sarana transmisi nilai-nilai normatif, tetapi juga instrumen pembentukan karakter, etika profesional, dan kepekaan sosial yang dibutuhkan dalam kehidupan kerja dan masyarakat luas. Saran Berdasarkan hasil temuan dan simpulan penelitian, terdapat beberapa rekomendasi strategis yang dapat menjadi dasar pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) di Politeknik Negeri Bengkalis maupun institusi pendidikan vokasi lainnya: Standardisasi dan Koordinasi Kurikulum. Diperlukan penyusunan kurikulum PAI secara institusional yang melibatkan tim lintas program studi untuk menjamin keselarasan antara isi materi, capaian pembelajaran, dan karakteristik mahasiswa vokasi. Kurikulum yang disusun bersama dapat mengurangi disparitas implementasi antardosen dan memperkuat arah pendidikan nilai secara sistemik. Penguatan Integrasi Keilmuan dan Nilai Profesi. Kurikulum PAI hendaknya dikembangkan dengan mengaitkan nilai-nilai Islam dengan konteks keilmuan dan profesi mahasiswa, seperti teknik, bisnis, dan teknologi informasi. Integrasi ini dapat dilakukan melalui studi kasus, proyek berbasis nilai, serta refleksi etik terhadap praktik kerja nyata. Penggunaan Strategi Pembelajaran Inovatif dan Digital. Mengingat karakter mahasiswa generasi digital, dosen PAI perlu mengadopsi pendekatan pembelajaran berbasis teknologi, seperti pemanfaatan Learning Management System (LMS), media interaktif, dan metode pembelajaran kolaboratif. Hal ini akan meningkatkan keterlibatan mahasiswa dan memperkuat internalisasi nilai secara kontekstual. Pelatihan Dosen dan Kolaborasi Lintas Disiplin. Institusi perlu menyelenggarakan pelatihan dosen PAI dalam hal pedagogi vokasional, integrasi kurikulum, serta pengembangan media pembelajaran berbasis profesi. Kolaborasi antara dosen PAI dan dosen bidang keahlian juga perlu difasilitasi untuk merancang pembelajaran yang lebih Evaluasi Kurikulum Berkelanjutan. Evaluasi kurikulum PAI perlu dilakukan secara berkala dengan melibatkan dosen, mahasiswa, dan pemangku kepentingan eksternal 138 | IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 6 No. Kurikulum PAI pada Perguruan Tinggi Umum di Politeknik Negeri Bengkalis dan Pengembangannya . eperti mitra industr. , agar kurikulum tetap relevan dengan perkembangan dunia kerja, tantangan sosial, dan kebutuhan mahasiswa. Daftar Pustaka