ANALISIS INTERVENSI KEGIATAN MERONCE UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MOTORIK HALUS PADA ANAK USIA PRASEKOLAH DI TK BINA INSAN KABUPATEN TANGERANG Abstract STUDI KASUS Rizka Aulia Juni Purnamasari 2 * Elfira Awalia Rahmawati 3 Isnayati 4 1,2,3 Departemen Keperawatan Anak. Program Studi Diploma Tiga Keperawatan. Akademi Keperawatan Pelni. Jakarta. Indonesia Departemen Keperawatan Medikal Bedah. Program Studi Diploma Tiga Keperawatan. Akademi Keperawatan Pelni. Jakarta. Indonesia Korespondensi: Juni Purnamasari email: junipurnamasari@akper-pelni. Kata Kunci: Anak Prasekolah Motorik Halus Meronce Diterima: 2 Januari 2026 Diperbaiki: 19 Januari 2026 Dipublikasikan: 31 Januari 2026 E-ISSN Anak usia prasekolah sering mengalami tahap perkembangan pada keterampilan motorik halus yang kurang maksimal. Pada tahap perkembangan anak dengan rentang usia 3-6 tahun sangat penting untuk meningkatkan aktivitas keterampilan motorik halus yang melibatkan kemampuan fisik dengan jari-jemari serta koordinasi antara tangan dan mata. Salah satu metode yang efektif untuk ini adalah melalui kegiatan meronce yang menggunakan sedotan dan tali yang sudah ditempelkan sesuai pola roncean berdasarkan urutannya. Penelitian ini bertujuan menerapkan intervensi bermain meronce dalam meningkatkan keterampilan motorik halus pada anak usia prasekolah di Tk Bina Insan Kabupaten Tangerang. Metode penelitian ini menggunakan desain studi kasus dengan melibatkan 2 responden anak usia prasekolah yang mengalami tahap perkembangan kategori belum berkembang dan mulai berkembang. Intervensi dilakukan dengan bermain meronce menggunakan sedotan dengan durasi 15 menit setiap hari selama 3 hari. Pengukuran dilakukan menggunakan lembar Check list motorik halus dan SOP meronce pada saat pretest dan posttest. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata skor keterampilan motorik halus pada kategori mulai berkembang menjadi berkembang sesuai harapan. Perubahan terjadi pada kedua responden dengan responden I meningkat dari hasil skor 25% dengan kategori belum berkembang menjadi hasil skor 62,5% dengan kategori berkembang sesuai harapan, responden II meningkat dari hasil skor 37,% dengan kategori mulai berkembang menjadi hasil skor 62,5% dengan kategori berkembang sesuai Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kegiatan bermain meronce menggunakan sedotan dan tali meningkatkan keterampilan motorik halus pada anak usia prasekolah. Penelitian ini dapat dijadikan alternative oleh orang tua maupun guru dalam meningkatkan keterampilan motorik halus. Sitasi artikel ini: Aulia. Purnamasari. Rahmawati. Isnayati. Analisis Intervensi Kegiatan Meronce Untuk Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Pada Anak Usia Prasekolah di Tk Bina Insan Kabupaten Tangerang. Volume 2 . , . https://journal. id/index. php/jkpp PENDAHULUAN Anak prasekolah merupakan anak-anak berada dalam fase yang sangat membutuhkan rangsangan dan bimbingan demi perkembangan optimal mereka. Usia 3 sampai 6 tahun merupakan masa penting. Pada masa emas ini, keterampilan motorik halus anak akan meningkat secara signifik. Keterampilan tersebut melibatkan kemampuan fisik yang terbentuk melalui penggunaan otot-otot kecil serta koordinasi antara tangan dan otot. Aktivitas yang melibatkan gerakan tangan, seperti penggunaan jari-jemari,koordinasi Jurnal Keperawatan Degeneratif Pelni. Volume 2. Issue 1. Januari 2026 AULIA. PURNAMASARI. RAHMAWATI. ISNAYATI. e-ISSN: 3089-34337 antara mata dan tangan, memiliki peranan penting dalam melatih anak untuk mengamati dan mengingat berbagai hal yang mereka lihat (Yuliana et al. , 2. Berdasarkan data Menurut World Health Organization (WHO) tahun 2020, masalah pertumbuhan anak di seluruh dunia masih menjadi perhatian serius. Di Amerika Serikat, prevalensinya berkisar antara 12% hingga 16%, sementara di Thailand mencapai angka yang lebih tinggi, yaitu 24%, dan di Argentina sekitar 22%. Di Indonesia, khususnya di Jawa Barat, estimasi prevalensi masalah pertumbuhan anak berada antara 13% hingga 18%. Dari data SKI 2023, deteksi dini masalah tumbuh kembang anak usia prasekolah di Provinsi Banten menunjukkan bahwa 98,2% anak telah menjalani pemeriksaan, termasuk di Kabupaten Tangerang. informasi dari Dana Pertolongan Internasional Anak Perserikatan BangsaBangsa United Nations International ChildrenAos Emergency Fund (UNICEF) menyebutkan bahwa sekitar 27,5% anak mengalami gangguan perkembangan motorik. Dalam tahap pengembangan keterampilan motorik halus, memberikan stimulasi yang tepat sangatlah penting agar anak dapat mencapai potensi optimal dalam proses perkembangannya. Salah satu metode yang efektif untuk ini adalah melalui kegiatan meronce. Melalui aktivitas tersebut, anak tidak hanya dapat mengasah keterampilan motorik halus yang dimiliki, tetapi juga meningkatkan kemampuan mereka untuk melaksanakan berbagai aktivitas secara mandiri (Kusumadewi et al. , 2. Hasil dari beberapa penelitian telah menunjukkan keberhasilan dari kegiatan meronce menggunakan sedotan untuk meningkatkan keterampilan motorik halus anak usia prasekolah. Berdasrkan studi penelitian Miyasih . di Tk Dharma Wanita Mojotengah 2 menunjukkan nilai pretest menghasilkan presentasenya adalah 20% kemudian meningkat 93. 3% pada penilaian akhir dengan dilakukakknya Postest setelah diberikan terapi kegiatan meronce. Menurut penelitian Nasarudin . dilihat dari grafik perkembangan kemampuan motorik halus anak antara pra tindakan dengan presentase anak yang menunjukkan perkembangan motorik halus yang baik sangat minim pada pra tindakan hanya 27% kemudian meningkat menjadi mencapai 82% pada hasil posttest menunjukkan keterangan kriteria baik. Selain itu, berdasarkan penelitian Isnawati,Sapii . hasil yang dicapai pada pre tindakan jumlah score 27% sebelum dilakukan pemberian kegiatan meronce dan diperoleh jumlah score 90% dari hasil setelah dilakukan pmberian kegiatan meronce tersebut dilakukan selama 3 hari pemberian bermain meronce. Berdasarkan data dan penjelasan tersebut, pertumbuhan dan perkembangan anak terhadap motorik halus perlu diasah untuk menstimulus motorik halus teradap keterampilan dan dapat dilihat dari kemampuan anak mengembangkan suatu kreativitasnya dengan melatih jari jemari yang berkontribusi terhadap koordinasi mata dan tangan. Oleh karena itu, kegiatan meronce merupakan suatu cara yang efektif untuk meningkatkan keterampilan motorik halus. Meronce sangat cocok untuk memupuk kemandirian anak usia prasekolah, sekaligus memberikan penilaian terhadap kemampuan Jurnal Keperawatan Degeneratif Pelni. Volume 2. Issue 1. Januari 2026 AULIA. PURNAMASARI. RAHMAWATI. ISNAYATI. e-ISSN: 3089-34337 evaluatif mereka. Dengan latar belakang ini,penelitian ini bertujuan melakukan intervensi kegiatan meronce untuk meningkatkan motorik halus anak usia prasekolah. METODE Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan studi kasus. Tempat penelitian di Taman KanakKanak (TK) Bina Insan Kabupaten Tangerang,Banten. Populasi yang terdiri dari 2 anak usia prasekolah yang perlu peningkatan terhadap keterampilan motorik halus sebagai subjek penelitian dari 78 anak usia prasekolah. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah anak dengan usia prasekolah 4-6 tahun, anak laki-laki dan perempuan,anak dalm keadaan sehat,anak yang kooperatif, dan orang tua yang bersedia menjadikan anak mereka sebagai responden. Sedangkan kriteria ekslusi yaitu anak yang kurang kooperatif,anak yang sedang sakit,dan orang tua yang tidak setuju dan tidak bersedia menjadikan anaknya sebagai responden. Penelitian ini menggunakan lembar observasi Check List motorik halus yang terdiri dari 4 pertanyaan dan dari pertanyaan tersebut meiliki 4 kriteria dalam motorik halus pada kegiatan meronce dengan menggunakan nilai perkembangan Keterampilan ditentukan berdasarkan skor : BB,MB,BSH dengan kategori Belum berkembang (BB) 0% - 25% . Mulai Berkembang (MB) 26% - 50% . Berkembang Sesuai harapan (BSH) 51% - 75% . Berkembang Sangat Baik (BSB) 76% - 100% . angat bai. Standar Operasional Prosedur (SOP) kegiatan meronce digunakan juga sebagai panduan dalam pelaksanaan intervensi Prosedur intervensi dilakukan dengan cara dimulai dari memasukkan tali kedalam sedotan yang sudah tersusun dengan pola melingkar dibagian cangkang dari siput dilakukan selama 10-20 menit setiap Pengukuran keterampilan motorik halus dilakukan sebelum dilakukan intervensi dan setelah intervensi 3 hari. Hak responden dilakukan dengan meminta persetujuan tertulis dari orang tua/wali melalui informed consent, menjaga kerahasiaan identitas anak,serta memastikan tidak ada paksaan selama partisipan HASIL Karakteristik Responden Tabel 1 Karakteristik Responden Nama Responden Usia Jenis Kelamin Pendidikan Anak An. 5 tahun 8 4 tahun 9 Laki-laki Perempuan An. Jurnal Keperawatan Degeneratif Pelni. Volume 2. Issue 1. Januari 2026 AULIA. PURNAMASARI. RAHMAWATI. ISNAYATI. e-ISSN: 3089-34337 Responden I bernama An. H dengan usia 6 tahun 3 bulan, jenis kelamin perempuan. Responden I merupakan anak pertama dari dua bersaudara dan tinggal Bersama dengan kedua orang Berpenampilan bersih dan rapih,memiliki sikap sopan,tidak memiliki cacat fisik,kulit kuning langsat,memakai hijab,dengan berat badan 21 Kg dan tinggi badan 110 cm. Saat ini subjek I bersekolah di Tk Bina Insan dan belum dilakukan penilaian motorik halus oleh orang tua maupun Responden II bernama An. I dengan usia 4 tahun 9 bulan, jenis kelamin laki-laki. Responden i merupakan anak kedua dari 2 bersaudar kembar dan tinggal bersama orang tuanya. Berpenampilan bersih dan rapih memiliki sikap sopan, tidak memiliki cacat fisik, kulit sawo matang,memakai hijab, dengan berat badan 21 Kg dan tinggi badan 105 cm. Saat ini subjek i bersekolah di Tk Bina Insan dan belum dilakukan penialaian motorik halus oleh orang tua maupun guru. Kondisi Sebelum dilakukan Intervensi . Responden I Setelah dilakukan wawancara, diperoleh hasil yang menunjukan pada subjek I mampu mengetahui pola yang terdapat sedotan, dari hasil pretest dan observasi pada anak serta melakukan wawancara data demografi kepada orang tua pada tanggal 03 juni 2025, menunjukkan hasil keterampilan motoik halus kegiatan meronce anak dengan jumlah skor 43,7%. anak masih perlu bantuan dalam meronce dan masih belum rapih. Responden II Setelah dilakukan wawancara, diperoleh hasil yang menunjukkan pada subjek i tampak kebingungan dengan alur sedotan yang ada di roncean dan dari hasil pretest dan observasi pada anak serta melakukan wawancara data demografi kepada orang tua pada tanggal 03 juni 2025, menunjukkan hasil keterampilan motorik halus kegiatan meronce anak dengan skor 37,5%. Anak belum bisa melakukan meronce sesuai dengan perintah , anak tidak mampu mengerjakan dengan rapi dan sesuai dengan alur roncean. Kondisi Setelah dilakukan Intervensi . Responden I Setelah dilakukan intervensi kegiatan meronce selama 3 hari dimulai dari 03 juni sampai 05 juni 2025 pada pukul 08:30-08-50, responden I mengalami peningkatan keterampilan motorik halus dari kurang menjadi baik dengan score 75%. Hasil tersebut didapatkan melalui posttest dengan lembar observasi keterampilan motorik halus yang dilakukan pada hari ketiga intervensi An. H anak sudah bisa melakukan meronce dengan benar dan rapi. Responden II Jurnal Keperawatan Degeneratif Pelni. Volume 2. Issue 1. Januari 2026 AULIA. PURNAMASARI. RAHMAWATI. ISNAYATI. e-ISSN: 3089-34337 Setelah dilakukan intervensi kegiatan meronce selama 3 hari dimulai dari 03 juni sampai 05 juni 2025 pada pukul 08:30-08-50, responden i mengalami peningkatan keterampilan motorik halus dari kurang menjadi baik dengan score 62,5%. Hasil tersebut didapatkan melalui posttest dengan lembar observasi keterampilan motorik halus yang dilakukan pada hari ketiga intervensi An. I anak sudah bisa melakukan meronce dengan benar dan rapi. Perbandingan Sebelum dan Sesudah diberikan Kegiatan Meronce Perbandingan Responden I,II Pre Post Responden I Responden II Grafik 4. 1 Perbandingan Skor Motorik Halus Hasil penelitian yang sudah dilakukan bahwa meronce dapat meningkatkan keterampilan motorik halus pada anak usia prasekolah dikatakan efektf dengan perbandingan skor motorik halus responden pada pretest dan posttest intervensi meronce menggunakan sedotan adanya peningkatan skor dan hasil nilai perkembangan motorik halus,serta terlihat adanya perubahan perkembangan anak. PEMBAHASAN Pada pembahasan dalam peneitian ini akan menyajikan perbedaan dan perbandingan anatara 4 responden untuk menghasilkan kesimpulan mengenai perbedaan keterampilan motorik halus anak usia prasekolah sebelum dan setelah dilakukan kegiatan meronce mennggunakan sedotan. Jenis Kelamin Dari empat responden yang diberikan intervensi kegiatan meronce menggunakan sedotan oleh peneliti,keterampilan motorik halus anak perempuan lebih teliti dan sabar dibandingkan satu anak laki-laki. Dalam kegiatan ini anak perempuan menunjukkan kreativitas yang lebih unggul dibandingkan laki-laki, karena anak laki-laki lebih menunjukkan keahliannya dalam berimajinasi. Sesuai dengan kontruksi jenis kelamin,hal ini umumnya berasal dari kondisi,pengalaman, dan kemungkinan teretentu yang bervariasi disetiap budaya. (Lestari, 2. Jurnal Keperawatan Degeneratif Pelni. Volume 2. Issue 1. Januari 2026 AULIA. PURNAMASARI. RAHMAWATI. ISNAYATI. e-ISSN: 3089-34337 Genetik Pada penelitian ini dari empat responden masing- masing memiliki genetic yang berbeda. Responden I memiliki kulit kuning langsat, memakai hijab,dengan berat badan 21 Kg dan tinggi badan 110 cm memiliki cacat fisik. Responden II dengan warna kulit sawo matang,memakai hijab,berat badan 21 Kg dan tinggi badan 105 cm tidak memiliki cacat fisik. Responden IV warna kulit putih,memakai hijab,dengan berat badan 23 Kg dan tinggi badan 115 cm tidak memiliki cacat fisik. Faktor genetik adalah dasar yang penting dan berperan utama dalam menentukan hasil akhir dari proses pertumbuhan dan perkembagan anak. Hal ini dapat dilihat dari ciri-ciri fisk seperti warna kulit,rambut dan tinggi badan. (Daro et al. , 2. Pola Asuh Berdasarkan hasil wawancara penelitian ini, responden I tinggal Bersama orang tua dan adiknya An. dijaga dan diantar jemput oleh ibu nya, responden II tingal bersama orang tuanya dan adik serta kakanya An. I diasuh oleh ibunya tetapi diantar jemput oleh kakanya. Pola asuh orang tua diartikan sebagai metode dan usaha yang dilakukan orang tua dalam mendidik dan membimbing anak secara konsisten. (Yapapalin, 2. Rangsangan/ Stimulus Pada penelitian ini dilihat dari empat responden ketepatan anak saat penggunaan jari jemari,keterampilan tangan saat melakukan kegiatan meronce,koordinasi tangan dengan mata saat melakukan kegiatan meronce,dan kerapihan hasil dari membuat kegiatan meronce sesuai dengan polanya. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan anak adalah stimulasi. Stimulasi merupakan rangsangan yang berasal dari lingkungan eksternal anak. (Tahun et al. , 2. Lingkungan Penelitian ini dilakukan di Tk Bina Insan dengan lingkungan atau fasilitas yang tersedia untuk dilakukan kegiatan meronce. Pada proses perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan, yang merupakan faktor penting setelah faktor bawaan. Lingkungan memiliki dampak besar terhadap pendidikan karena dapat mempengaruhi perkembangan karakter anak. (Nabilla & Desmon, 2. KESIMPULAN Karakteristik responden pada penelitian ini yaitu responden I jenis kelamin perempuan berusia 6 tahun 3 bulan, responden II jenis kelamin perempuan berusia 4 tahun 9 bulan. Perkembangan keterampilan motorik halus pada 2 responden sebelum dilakukan intervensi kegiatan meronce dengan keterangan Responden I dengan hasil score 43,7% dikatakan mulai berkembang. Responden II mendapat hasil score 37,5% dikatakan mulai berkembang. Keterampilan motorik halus pada 2 responden setelah dilakukan intervensi kegiatan meronce menggunakan sedotan mengalami peningkatan. Responden I mendapat score 75% dengan keterangan berkembang sesuai harapan. Responden II dengan score 62,5% dengan keterangan berkembang sesuai Jurnal Keperawatan Degeneratif Pelni. Volume 2. Issue 1. Januari 2026 AULIA. PURNAMASARI. RAHMAWATI. ISNAYATI. e-ISSN: 3089-34337 Terdapat dari hasil perhitungan bahwa adanya perbedaan yang dialami oleh responden sebelum dan setelah dilakukan intervensi keiatan meronce menggunakan sedotan. Responden I mengalami peningkatan score 31,8%. II mengalami peningkatakn 25%. UCAPAN TERIMA KASIH Peneliti mengucapkan terima kasih kepada responden dan semua pihak yang terlibat dan bekerja sama sehingga peneliti dapat menyelesaikan penelitian ini dengan mudah dan lancer. PERNYATAAN BEBAS KONFLIK KEPENTINGAN Tidak terdapat konflik kepentingan yang terjadi pada saat melakukan penelitian PENDANAAN Penelitian ini tidak ditanggung oleh pihak manapun tetapi ditanggung menggunakan dana pribadi KONTRIBUSI PENULIS Rizka Aulia : Penulis utama. Konseptualisasi,metodologi,analisis, dan refrensi Juni Purnamasari : Menghasilkan ide, konseptualisasi, analisis formal, dan kurasi data. Elfira Awalia Rahmawati : Validasi, analisis formal, dan kurasi data Isnayati : Validasi, analisis formal, dan kurasi data ORCiD ID Rizka Aulia ORCiD ID : Tidak tersedia Juni Purnamasari ORCiD ID : 0009-0005-4822-2731 Elfira Awalia Rahmawati ORCiD ID : 0000-0002-0383-2203 Isnayati ORCiD ID : 0009-0005-6290-6785 Jurnal Keperawatan Degeneratif Pelni. Volume 2. Issue 1. Januari 2026 AULIA. PURNAMASARI. RAHMAWATI. ISNAYATI. e-ISSN: 3089-34337 REFERENSI