Jurnal Pelita Sains dan Kesehatan (JPASAIK) Volume 4. No 2 Mei 2024 PENGARUH INISIASI MENYUSU DINI TERHADAP INVOLUSIO UTERUS PADA IBU POSTPARTUM DI PUSKESMAS PAMANDATI KABUPATEN KONAWE SELATAN Titi Rahayu Febrianti1. Andriyani2. Julian Jingsung3* STIKes Pelita Ibu * julianjingsung1990@gmail. Received: 11-03-2024 Revised: 15-05-2024 Approved: 25-05-2024 ABSTRACT This study aims to determine the effect of Early Breastfeeding Initiation (IMD) on the Incidence of Uterine Involution at the Pamandati Health Center. Konawe Selatan District. This type of research is a quantitative study with a cross sectional approach. The research instrument used is secondary data. This research was conducted for 14 days, starting from January 1 to January 14, 2023 at the Pamandati Health Center. Konawe Regency and the population taken was all 158 birth mothers with a total sample of 158 mothers. The results showed that there was a significant relationship between Early Initiation of Breastfeeding (IMD) and the Incidence of Uterine Involution. The results of the Chisqure statistical test at the age of the mother obtained a value of A value = 0. 001, which means that A value < 0. 05, which means that H0 is rejected and Ha is accepted which means there is an influence of Early Breastfeeding Initiation (IMD) on Uterine Involution Events. Keywords: Early Breastfeeding Initiation (IMD). Uterine Involution. PENDAHULUAN Menurut World Health Organization (WHO), sekitar 15% wanita hamil dapat mengalami komplikasi terkait kehamilan yang mengancam jiwa ibu dan janin (Feryanto. Data mengenai kematian ibu di Indonesia menunjukkan bahwa penyebab utama adalah perdarahan . %), eklampsia . %), infeksi . %), dan masalah nifas . %) (Kemenkes, 2. Pemerintah sedang mengembangkan kebijakan program nasional untuk periode postpartum yang mencakup empat kunjungan untuk mencegah masalah pasca persalinan, salah satu penyebab kematian ibu. Kunjungan ini dilakukan pada enam hari, dua minggu, dan enam minggu setelah melahirkan untuk mengevaluasi kesehatan ibu dan bayi baru lahir, serta untuk mengidentifikasi dan menangani masalah yang mungkin Kegiatan selama fase nifas juga termasuk mendorong menyusui dini dalam satu jam setelah kelahiran dan memastikan involusi uterus berjalan dengan baik (Kemenkes. Involusi uterus adalah proses di mana rahim kembali ke ukuran pra-kehamilan, sekitar 60 gram, yang dimulai segera setelah plasenta dikeluarkan. Kontraksi rahim yang lebih intens terjadi setelah melahirkan, dipicu oleh penurunan volume intrauterin. Kompresi pembuluh darah intramiometrium adalah penyebab utama hemostasis Hormon yang disekresikan oleh kelenjar pituitari berperan dalam hemostasis, kompresi pembuluh darah, dan regulasi kontraksi uterus. Intensitas dan keteraturan kontraksi dapat bervariasi dalam satu atau dua jam pertama setelah Oleh karena itu, ibu dianjurkan untuk menyusui bayi mereka segera setelah lahir untuk membantu menjaga kontraksi rahim. Bayi yang menyusui sendiri segera setelah lahir memiliki peluang lebih baik untuk terjadinya inisiasi menyusui dini (IMD), yang meningkatkan stimulasi sekresi oksitosin. Refleks saraf yang dipicu ketika bayi Jurnal Pelita Sains dan Kesehatan (JPASAIK) Volume 4. No 2 Mei 2024 menyusui mendorong kelenjar pituitari untuk melepaskan hormon oksitosin, yang mempercepat involusi dan mengurangi kehilangan darah (Person, 2. Dengan izin untuk melakukan kontak kulit-ke-kulit, bayi dapat menyusui sendiri. Memulai menyusui lebih awal memiliki manfaat signifikan untuk keberhasilan Bayi yang menyusui dalam satu jam pertama setelah lahir memiliki risiko kematian 22% lebih rendah. Sebaliknya, penundaan menyusui dapat meningkatkan risiko kematian, dengan kemungkinan meningkat 2,4 kali bahkan jika menyusui ditunda hingga setelah hari pertama (Sari, 2. Data dari SDKI 2017 menunjukkan bahwa penerapan IMD di Indonesia hanya mencapai 40,21%. Rendahnya angka IMD dan pemberian ASI eksklusif dapat disebabkan oleh faktor-faktor seperti kurangnya dukungan keluarga, karakteristik ibu seperti pendidikan, pekerjaan, dan usia, serta kondisi kesehatan bayi baru lahir. Dengan dukungan IMD, ibu merasa lebih bahagia menyambut bayi baru mereka, dan keberhasilan menyusui eksklusif meningkat. Stimulasi saat menyusui juga merangsang produksi hormon oksitosin, yang penting untuk produksi ASI, menenangkan ibu, dan meningkatkan kontraksi rahim untuk mengurangi perdarahan pasca persalinan (Sinaga dan Siregar, 2. IMD diyakini mempercepat proses involusi uterus, yang penting untuk meminimalkan perdarahan pada wanita postpartum. Proses ini dimulai segera setelah plasenta dikeluarkan, dan kontraksi rahim yang intens akibat penurunan volume intrauterin berkontribusi pada hemostasis postpartum. Selama satu atau dua jam pertama setelah melahirkan, intensitas kontraksi dapat berkurang dan menjadi tidak teratur, sehingga menyusui saat ini sangat dianjurkan untuk menjaga kontraksi rahim (Ningsih, 2. Periode postpartum dimulai segera setelah melahirkan dan berlangsung selama beberapa minggu, biasanya enam minggu, di mana saluran reproduksi kembali ke keadaan normal. Selama masa nifas, organ reproduksi mengalami pemulihan, dan hemostasis dibantu oleh penghambatan pembuluh darah. Involusi uterus, yaitu proses kembalinya rahim ke ukuran sebelum kehamilan, sangat penting untuk mengurangi kemungkinan perdarahan postpartum, yang merupakan penyebab utama kematian ibu. Inisiasi menyusui dini adalah salah satu faktor yang mempengaruhi proses ini (Manuaba, 2. Tabel 1 Data Capaian Inisiasi Menyusui Dini di Rumah Sakit Umum Bahteramas Sulawesi Tenggara tahun 2018-2022 No Periode Tahun Persalinan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) Persentase 70,97 92,22 90,64 86,08 95,31 (Sumber: Data Profil Rumah Sakit Umum Bahteramas Sulawesi Tenggara, 2. Tabel diatas menunjukkan bahwa capaian inisiasi menyusui dini di Rumah Sakit Umum Bahteramas Sulawesi Tenggara dari tahun 2018 hingga 2022 mengalami fluktuasi, dengan jumlah kasus tertinggi pada tahun 2022 sebanyak 935. Jurnal Pelita Sains dan Kesehatan (JPASAIK) Volume 4. No 2 Mei 2024 Tabel 2 Data Capaian Inisiasi Menyusui Dini di Rumah Sakit Umum Kabupaten Konawe Selatan Tahun 2019-2022 No Periode Tahun Persalinan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) Persentase 92,86 77,08 84,36 86,50 93,69 (Sumber: Data Profil Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Konawe Selatan. Tabel diatas menunjukkan bahwa capaian inisiasi menyusui dini di Rumah Sakit Umum Kabupaten Konawe Selatan dari tahun 2018 hingga 2022 juga mengalami fluktuasi, dengan jumlah kasus tertinggi pada tahun 2022 sebanyak 892. Tabel 3 Data Capaian Inisiasi Menyusui Dini di Puskesmas Pamandati Kabupaten Konawe Selatan Tahun 2018-2022 No Periode Tahun Persalinan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) Persentase 77,24 71,83 89,94 73,95 77,83 (Sumber: Data Buku Registrasi Puskesmas Pamandati Konawe Selatan, 2. Tabel diatas menunjukkan bahwa capaian inisiasi menyusui dini di Puskesmas Pamandati Kabupaten Konawe Selatan dari tahun 2018 hingga 2022 juga mengalami fluktuasi, dengan jumlah kasus tertinggi pada tahun 2022 sebanyak 158. Penelitian oleh Widi Maulana Andriana dkk. berjudul "The Relationship of Early Breastfeeding Initiation to Uterine Involution in Postpartum Mothers" menunjukkan bahwa mayoritas ibu pasca melahirkan . ,6%) yang memulai menyusui dini mengalami involusi rahim yang normal, membuktikan adanya hubungan antara Melihat manfaat IMD bagi ibu dan bayi serta rendahnya cakupan IMD di Puskesmas Pamandati, penelitian ini berjudul "Pengaruh IMD Terhadap Involusi Uterus pada Ibu Post Partum di Puskesmas Pamandati Kabupaten Konawe Selatan. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan desain survei analitis dengan pendekatan crosectional, yang bertujuan untuk menganalisis hubungan antara faktor risiko dan hasil Dilaksanakan di Puskesmas Pamandati Kabupaten Konawe Selatan pada Januari-April 2023, populasi penelitian terdiri dari 203 wanita yang melahirkan secara normal pada tahun 2022, dengan sampel sebanyak 56 subjek yang diambil secara acak. Data dikumpulkan melalui observasi menggunakan lembar pengamatan yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, dengan fokus pada inisiasi menyusui dini dan involusi Pengolahan data melibatkan proses coding, editing, scoring, dan tabulating untuk menghasilkan informasi yang diperlukan. Analisis data dilakukan secara univariat dan regresi logistik untuk menguji hubungan antara variabel independen dan dependen. Hasil disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan narasi untuk memudahkan Jurnal Pelita Sains dan Kesehatan (JPASAIK) Volume 4. No 2 Mei 2024 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Gambaran Karakteristik Responden Penelitian ini mengeksplorasi karakteristik responden berdasarkan umur, pendidikan, dan pekerjaan. Tabel 4 Distribusi Karakteristik Umur Ibu Bersalin di Puskesmas Pamandati Kabupaten Konawe Selatan Tahun 2022 Umur Ibu Jumlah . Persentase (%) Berisiko (< 20 tahun dan > 35 tahu. Tidak Berisiko . - 35 tahu. Total Dari Tabel 4, dapat dilihat bahwa 26 ibu . ,4%) berada dalam kategori umur berisiko, sedangkan 30 ibu . ,6%) berada dalam kategori umur tidak berisiko di Puskesmas Pamandati pada tahun 2022. Tabel 5 Distribusi Karakteristik Pendidikan Ibu Bersalin di Puskesmas Pamandati Kabupaten Konawe Selatan Tahun 2022 Pendidikan Jumlah . Persentase (%) Pendidikan Rendah (SD dan SMP) Pendidikan Tinggi (SMA dan PT) Total Dari Tabel 5 terlihat bahwa 13 ibu . ,2%) memiliki pendidikan rendah, sedangkan 43 ibu . ,8%) memiliki pendidikan tinggi pada tahun 2022. Tabel 6 Distribusi Karakteristik Pekerjaan Ibu Bersalin di Puskesmas Pamandati Kabupaten Konawe Selatan Tahun 2022 Pekerjaan Jumlah . Persentase (%) IRT PNS Swasta Total Dari Tabel 6, diketahui bahwa 31 ibu . ,4%) berprofesi sebagai IRT, 14 ibu . ,0%) sebagai PNS, dan 11 ibu . ,6%) bekerja di sektor swasta pada tahun 2022. Analisis Univariat Penelitian ini dilakukan dengan analisis deskriptif atau univariat yang berfokus pada variabel Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dan kejadian involusi uteri. Hasil kategori disajikan dalam tabel dengan penjelasan singkat mengenai 56 ibu bersalin di Puskesmas Pamandati. Kabupaten Konawe Selatan tahun 2022. Tabel 7 Distribusi Karakteristik Inisiasi Menyusu Dini (IMD) di Puskesmas Pamandati Kabupaten Konawe Selatan Tahun 2022 IMD Jumlah . Persentase (%) Baik Kurang Total Jurnal Pelita Sains dan Kesehatan (JPASAIK) Volume 4. No 2 Mei 2024 Dari Tabel 7, terlihat bahwa 36 ibu . ,3%) memiliki kategori IMD yang baik, sedangkan 20 ibu . ,7%) memiliki kategori kurang pada tahun 2022. Tabel 8 Distribusi Karakteristik Involusio Uterus di Puskesmas Pamandati Kabupaten Konawe Selatan Tahun 2022 Involusio Uterus Jumlah . Persentase (%) Baik . -13 c. Buruk (> 12-13 c. Total Dari Tabel 8, diketahui bahwa 39 ibu . ,6%) menunjukkan involusi uterus yang baik, sementara 17 ibu . ,4%) menunjukkan involusi yang buruk pada tahun 2022. Analisis Regresi Logistik Tabel 9 Tabel Kelayakan Model Uji Hosmer and Lemeshow Test Step Chi-square Df Sig. 0,861 0,139 Nilai signifikansi 0,139 > 0,05 menunjukkan bahwa model uji layak untuk menjelaskan pengaruh Inisiasi Menyusu Dini (IMD) terhadap kejadian involusi uterus. Tabel 11 Tabel Pengaruh Inisiasi Menyusu Dini (IMD) Terhadap Kejadian Involusio Uterus Variables in the Equation 95% C. EXP(B) Wald Sig. Exp(B) Lower Upper Step 1a IMD Constant -4. Variable. entered on step 1: IMD. Nilai signifikansi 0,001 < 0,05 menunjukkan adanya pengaruh signifikan dari inisiasi menyusu dini (IMD) terhadap kejadian involusi uterus. Dengan nilai B (Exp(B)) sebesar 9,300, artinya responden yang melakukan inisiasi menyusu dini memiliki risiko 9,300 kali lebih tinggi mengalami involusi uterus. Tabel 11 Besar Pengaruh Inisiasi Menyusu Dini (IMD) Terhadap Kejadian Involusio Uterus Step -2 Log likelihood Cox & Snell R Square Nagelkerke R Square 55,932 0,205 0,289 Nilai Nagelkerke R Square sebesar 0,289 menunjukkan bahwa 28,9% variasi kejadian involusi uterus dapat dijelaskan oleh inisiasi menyusu dini (IMD). Pembahasan Hasil penelitian diketahui bahwa distribusi Inisiasi Menyusu Dini (IMD) menunjukkan bahwa 36 responden . ,3%) berada dalam kategori baik, sedangkan 20 responden . ,7%) berada dalam kategori kurang. Tabel 4. 5 menunjukkan bahwa 39 responden . ,6%) memiliki involusi uterus yang baik, sementara 17 responden . ,4%) menunjukkan involusi yang buruk. Nilai signifikansi 0,001 < 0,05, yang mengindikasikan adanya pengaruh signifikan dari inisiasi menyusu dini (IMD) terhadap kejadian involusi uterus. Hal ini menyebabkan hipotesis alternatif (H. diterima dan Jurnal Pelita Sains dan Kesehatan (JPASAIK) Volume 4. No 2 Mei 2024 hipotesis nol (H. ditolak, yang berarti IMD berpengaruh terhadap involusi uterus. Nilai X (B) untuk inisiasi menyusu dini adalah 9,300, menunjukkan bahwa responden yang melakukan IMD memiliki risiko 9,300 kali lebih tinggi untuk mengalami involusi uterus. Menyusui dini adalah praktik membiarkan bayi menyusui secara alami dalam satu jam pertama setelah kelahiran dan memungkinkan kontak kulit-ke-kulit antara ibu dan bayi (Tjahjo dan Paramita, 2. Prosedur ini, yang dikenal sebagai "inisiasi menyusui dini," terjadi saat bayi menyusui atas kemauannya sendiri dalam satu jam pertama setelah persalinan (Wulandari, 2. Inisiasi Menyusui Dini (IMD) memfasilitasi bayi untuk menyusui dalam satu jam pertama setelah lahir, sering kali dikenal sebagai "The Breast Crawl," di mana bayi merangkak untuk menemukan payudara (Maryunani, 2. IMD membantu menghentikan perdarahan dan mendukung pengeluaran plasenta. Kontak bayi dengan puting susu ibu memicu pelepasan hormon oksitosin yang esensial untuk kontraksi rahim, membantu mengurangi perdarahan dan memicu involusi uterus, serta meningkatkan aliran ASI (Depkes, 2. Proses involusi uterus adalah pemulihan rahim ke bentuk pra-kehamilan, yang dimulai segera setelah plasenta dikeluarkan akibat kontraksi otot polos rahim (Nuryani. Setelah melahirkan, rahim berinvolusi kembali ke bentuk awalnya, dengan kontraksi yang terjadi akibat rendahnya kadar oksitosin yang dilepaskan oleh kelenjar hipofisis posterior pada hari pertama nifas (Bari, 2. Seluruh sistem reproduksi secara bertahap kembali ke keadaan pra-kehamilan melalui proses involusi uterus (Wiknjosastro, 2. Penelitian oleh Helen Evalina Siringoringo et al. dengan judul "Early Initiation of Breastfeeding Accelerates Uterine Involution in Maternity Women" menemukan bahwa proporsi wanita yang tidak memulai menyusui dini dan memiliki involusi uterus abnormal adalah 45,8% lebih rendah dibandingkan mereka yang melakukannya, dengan nilai p 0,00 dari uji Chi Square. Studi ini menunjukkan adanya korelasi antara IMD dan involusi uterus. Selanjutnya, penelitian Widi Maulana Andriana dkk. berjudul "Hubungan Inisiasi Menyusui Dini terhadap Involusio Uterus Pada Ibu Pospartum" menunjukkan bahwa mayoritas . ,6%) ibu postpartum yang melakukan IMD segera setelah melahirkan mengalami involusi uterus secara normal, dengan hasil uji statistik Chi Square menunjukkan p-value = 0,001 ( < 0,. , yang berarti ada hubungan signifikan antara IMD dan involusi uterus. Peneliti berasumsi bahwa pentingnya memperioritaskan pemberian Inisiasi Menyusu Dini (IMD) disebabkan oleh banyaknya manfaat IMD bagi bayi baru lahir, termasuk membantu proses involusi uterus dan menekan terjadinya perdarahan pasca KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh signifikan dari Inisiasi Menyusu Dini (IMD) terhadap kejadian involusi uterus di Puskesmas Pamandati Kabupaten Konawe Selatan, dengan nilai p-value 0,001 < 0,05. Oleh karena itu, disarankan agar tenaga kesehatan, khususnya bidan, meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya IMD bagi ibu bersalin. Selain itu, peneliti selanjutnya diharapkan melakukan penelitian lebih lanjut mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi involusi uterus yang berkaitan erat dengan IMD pada ibu bersalin. DAFTAR PUSTAKA