Jurnal Teologi Pambelum Volume 5. Nomor 1 (Agustus 2. : 20-31 ISSN: 2088-8767 (Prin. , 2829-0550 (Onlin. Link Jurnal: https://jurnal. stt-gke. id/index. php/pambelumjtp Published by: Unit Penerbitan dan Informasi STT GKE Doi Artikel: https://doi. org/10. 59002/jtp. Meningkatkan Kesadaran Lingkungan dalam Pengelolaan Sampah Berdasarkan Perspektif Theology of Hope Jyrgen Moltmann Gabriela Veren Kapoh1. Hellen Masambe2. Nontje Mery Timbuleng3 Fakultas Teologi. Universitas Kristen Indonesia Tomohon gabrielakapoh9@gmail. Abstract This study presents a waste management intervention model based on Jyrgen MoltmannAos Theology of Hope at the GMIM SION Woloan congregation in the Tomohon Two region. Employing a qualitative approach, data were collected through observation, documentation, interviews, and literature review, then analyzed descriptively. The results show that although the theological motivation for the importance of reduction, sorting, and recycling has been conveyed in sermons by designated ministers, these practices have not yet been implemented in the field. This is also underpinned by a lack of segregated facilities, technical understanding, and cross-sector synergy. Therefore, the formulation of integrated homiletics of hope, enhancements to infrastructure, and partnerships with government bodies and recycling institutions are key to realizing a sustainable ecological liturgy. These findings affirm that eschatological hope can mobilize the congregation to care for creation in concrete ways. Keywords: Congregation. Designated Ministers. Theology. Waste. Abstrak Penelitian ini menyajikan model intervensi pengelolaan sampah berbasis Theology of Hope Jyrgen Moltmann di Jemaat GMIM SION Woloan Wilayah Tomohon Dua. Menggunakan pendekatan kualitatif, data dikumpulkan melalui observasi, dokumentasi, wawancara, dan studi literatur, lalu dianalisis secara deskriptif. Hasil menunjukkan bahwa meskipun motivasi teologis tentang pentingnya pengurangan, pemilahan, dan daur ulang, telah disampaikan dalam khotbah oleh pelayan khusus, praktik tersebut belum diimplementasikan di lapangan. Hal ini juga dilatarbelakangi oleh kurangnya fasilitas terpilah, pemahaman teknis, dan sinergi lintas sektor. Oleh karena itu, penyusunan homiletika harapan yang terpadu, peningkatan infrastruktur, serta kemitraan dengan pemerintah dan lembaga daur ulang menjadi kunci untuk mewujudkan liturgi ekologi yang Temuan ini menegaskan bahwa harapan eskatologis dapat memobilisasi jemaat untuk merawat ciptaan secara konkret. Kata kunci: Jemaat. Pelayan Khusus. Sampah. Teologi. Diterima Redaksi: 16-05-2025 | Selesai Revisi: 19-08-2. Diterbitkan Online: 30-08-2025 Meningkatkan Kesadaran Lingkungan dalam Pengelolaan Sampah Berdasarkan Perspektif Theology of Hope Jyrgen Moltmann Pendahuluan Indonesia, sebagai salah satu negara dengan populasi terbesar di dunia, menghadapi tekanan serius dalam pengelolaan sampah (Kaza et al. , 2018, hlm. Setiap hari volume sampah yang dihasilkan terus meningkat, seiring dengan pertumbuhan penduduk dan perubahan pola konsumsi yang semakin beragam. Di kota-kota besar, jumlah sampah dapat mencapai puluhan bahkan ratusan ton per hari, sementara ketersediaan infrastruktur untuk pemilahan dan pengolahan masih jauh dari memadai (Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, 2. Kebijakan pengelolaan sampah yang berlaku di tingkat nasional maupun daerah cenderung menitikberatkan pada pendekatan akhir yaitu pengumpulan dari sumber, pengangkutan ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), dan pembuangan secara massal tanpa menekankan tahapan penting seperti pemilahan, daur ulang, ataupun pemulihan nilai guna sampah di tingkat rumah tangga atau komunitas lokal. Akibatnya, tumpukan sampah di TPA terus berkembang, melepaskan gas metana yang berkontribusi terhadap pemanasan global serta menimbulkan risiko kontaminasi air tanah dan pencemaran udara (Mulia & Setiawati, 2021, hlm. Kesadaran masyarakat terhadap potensi nilai dari sampah sebenarnya telah lama diabaikan (United Nations Environment Programme, 2015, hlm. Sampah organik, yang seharusnya dapat diolah menjadi kompos berkualitas untuk memperbaiki kesuburan tanah (Misra et al. , 2003, hlm. , masih banyak yang terbuang sia-sia. Sampah anorganik seperti plastik dan kertas, yang sesungguhnya memiliki nilai jual dan dapat didaur ulang, masih belum dimanfaatkan (Artiyani & Anggorowati, 2019, hlm. , dan sampah B3 (Bahan berbahaya dan beracu. yang memerlukan penanganan khusus agar tidak mencemari lingkungan masih belum dipisahkan. Paradigma lama yang memandang sampah sematamata sebagai sisa tanpa manfaat masih sangat kuat tertanam (Kaza et al. , 2018, hlm. bahkan dalam praktik penyusunan kebijakan dan penyediaan anggaran pemerintah. Di Kota Tomohon, target penanganan sampah rumah tangga sebesar 70% dan pengurangan timbulan 30% belum tercapai secara konsisten, dikarenakan oleh berbagai kendala seperti minimnya sarana pendukung, keterbatasan anggaran operasional, serta lemahnya penegakan sanksi terhadap pelanggaran ketentuan pengelolaan sampah turut menghambat implementasi kebijakan tersebut (Wawancara JK. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Tomohon. November 2. Dalam kerangka ini, perlunya partisipasi aktif masyarakat menjadi semakin relevan. Akan tetapi, observasi di lapangan mengungkapkan bahwa kesadaran warga seringkali masih sebatas formalitas. partisipasi dalam aksi bersih-bersih hanya terjadi saat momentum tertentu, tanpa berlanjut menjadi kebiasaan sehari-hari dan itu pun belum sampai pada tahap pemilahan sampah (Observasi peneliti di Jemaat GMIM Sion Woloan Wilayah Tomohon Dua. Februari 2. Rasa tanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan pun kerap dibebankan sepenuhnya kepada pemerintah atau petugas kebersihan, padahal UndangUndang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah menegaskan bahwa pengelolaan sampah adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat (Republik Indonesia. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Meningkatkan Kesadaran Lingkungan dalam Pengelolaan Sampah Berdasarkan Perspektif Theology of Hope Jyrgen Moltmann 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Pasal 5-. Di sinilah letak tantangan besar: bagaimana mengubah paradigma masyarakat dari sampah adalah urusan pemerintah menjadi pengelolaan sampah adalah bagian dari tanggung jawab pribadi dan komunal, sehingga tercipta pola hidup ramah lingkungan yang berkelanjutan. Lembaga keagamaan, khususnya gereja, memiliki potensi strategis untuk menjembatani kesenjangan antara kesadaran teologis dan praktik nyata pengelolaan sampah (Abdussamad & Handayani, 2022, hlm. Dalam perspektif teologi Kristen, konsep Imago Dei manusia diciptakan menurut gambar Allah menempatkan manusia sebagai pemelihara ciptaan yang dipercayakan Tuhan (Kej. 2:15. TB). Ajaran ini menekankan bahwa memelihara alam adalah bagian penting dari perintah ilahi. Selain itu, doktrin ekologi teologis yang dikemukakan Jyrgen Moltmann menyoroti pentingnya hubungan timbal-balik antara manusia dan lingkungan, di mana manusia dipanggil untuk berpartisipasi secara aktif dalam pemeliharaan ciptaan, bukan hanya mendominasi atau mengeksploitasinya (Moltmann, 1993a, hlm. Dalam konteks kepemimpinan gerejawi, teori servant leadership menekankan teladan pelayan sebagai pemacu perubahan sosial (Siagian, 2009, hlm. Pemimpin gereja yakni pendeta, penatua, dan diaken diharapkan tidak hanya mengampu khotbah, tetapi juga aktif mendampingi jemaat dalam proses pelatihan, monitoring, dan evaluasi pelaksanaan pengelolaan sampah. Penerapan pendekatan ini diharapkan memperkuat rasa memiliki jemaat terhadap program, sehingga partisipasi bukan lagi kewajiban pasif, melainkan panggilan iman yang diwujudkan melalui tindakan konkret. Meskipun potensi ini besar, kenyataannya peran gereja di Jemaat GMIM SION Woloan Wilayah Tomohon Dua masih terbatas pada himbauan moral dalam khotbah yang disesuaikan dengan pembacaan Alkitab mingguan, tanpa adanya program partisipatif yang melibatkan jemaat secara langsung dalam praktik pengelolaan sampah. Dari hasil observasi dan wawancara, banyak jemaat yang mengaku kurang memahami tahapan pemilahan sampah, serta minimnya akses terhadap sarana pendukung seperti tempat sampah terpilah dan pelatihan teknis. Praktik pembakaran sampah kering di pekarangan rumah masih sering terjadi, padahal kegiatan tersebut menimbulkan polusi udara dan risiko kesehatan. Titik-titik pembuangan sampah sembarangan di selokan, dan rumah kosong juga menjadi bukti bahwa edukasi gereja belum mampu mentransformasi kesadaran jemaat menjadi pola hidup Dalam konteks inilah kerangka Theology of Hope karya Jyrgen Moltmann menjadi sangat relevan. Moltmann menegaskan bahwa harapan eskatologis bukanlah sikap pasif menanti dunia baru, melainkan kekuatan dinamis yang memanggil umat percaya untuk menjadi agen pembaruan ciptaan di masa kini (Moltmann, 1967, hlm. Harapan ini berakar pada kebangkitan Kristus yang adalah simbol pembebasan dari kematian dosa dan kerusakan yang seharusnya menggerakkan komunitas iman untuk berperan aktif dalam merawat lingkungan. Dalam Theology of Hope, iman dipahami tidak sekadar sebagai keyakinan personal, tetapi sebagai panggilan moral dan praktis untuk memulihkan harmoni antara manusia dan alam. Dengan demikian, gereja dapat menerapkan prinsip harapan ini Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Meningkatkan Kesadaran Lingkungan dalam Pengelolaan Sampah Berdasarkan Perspektif Theology of Hope Jyrgen Moltmann pada pengelolaan sampah berarti menjadikan setiap tindakan pengurangan, pemilahan, dan daur ulang sebagai wujud konkret liturgi ekologi, perayaan iman yang memulihkan ciptaan. Meskipun teologi ekologi lintas tradisi telah banyak berkembang, kajian yang secara khusus menerjemahkan Theology of Hope Moltmann ke dalam praktik pengelolaan sampah di komunitas gereja lokal masih sangat terbatas. Sebagian besar penelitian memusatkan perhatian pada teologi penciptaan atau etika lingkungan secara luas (Conradie, 2012, hlm. , tanpa mengeksplorasi bagaimana eskatologi harapan dapat memotivasi tindakan kolektif dalam konteks sampah rumah tangga. McFague, misalnya, menyoroti pentingnya narasi teologis bagi etika lingkungan, namun tidak membahas aplikasi spesifik pada daur ulang atau pengurangan sampah (McFague, 1993, hlm. Penelitian terdahulu di GMIM Nazareth Tingkulu Kota Manado juga menunjukkan bahwa peran gereja dalam pengelolaan sampah masih terbatas pada imbauan moral tanpa adanya program konkret yang melibatkan jemaat secara aktif. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kesadaran jemaat terhadap kebersihan lingkungan masih rendah, sementara inisiatif gereja dalam mengembangkan strategi pengelolaan sampah yang sistematis juga belum optimal (Nelwan et al. , 2021, hlm. Oleh sebab itu, penelitian ini hadir untuk mengisi kekosongan tersebut dengan menyusun dan mengevaluasi model intervensi pengelolaan sampah di Jemaat GMIM SION Woloan Wilayah Tomohon Dua yang berangkat dari Theology of Hope. Dengan demikian, tulisan ini bukan hanya menawarkan kerangka teologis yang baru, tetapi juga bukti empiris tentang efektivitas panggilan harapan dalam memobilisasi jemaat untuk merawat bumi dalam hal ini peduli terhadap lingkungan. Dengan memosisikan gereja sebagai agen perubahan, penelitian ini tidak hanya akan menambah literatur ilmu di Fakultas Teologi Universitas Kristen Indonesia Tomohon, tetapi juga memberikan rekomendasi praktis: rancangan modul pelatihan, kemitraan dengan pemerintah daerah dan usaha daur ulang, serta indikator keberhasilan yang bisa digunakan gereja untuk memantau perkembangan program. Diharapkan, hasil penelitian ini dapat membangun model pengelolaan sampah berbasis gereja yang dapat dicontohi di jemaatjemaat lain, sekaligus memperkuat kolaborasi gereja dengan berbagai pihak dalam upaya mewujudkan lingkungan hidup yang bersih, sehat, dan berkelanjutan. Metode Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif (Moleong, 2016, hlm. yang menghasilkan data deskriptif untuk menjelaskan secara rinci fenomena di Jemaat GMIM SION Woloan khususnya peran gereja dalam meningkatkan kesadaran lingkungan melalui pengelolaan sampah berdasarkan Theology of Hope karya Jyrgen Moltmann. Data dikumpulkan melalui serangkaian teknik: observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi Setelah pengumpulan, data dianalisis melalui tahapan reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan untuk memperoleh pemahaman yang sistematis dan bermakna. Penentuan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling, dengan jumlah partisipan sebanyak 30 orang, terdiri dari 5 diaken, 10 penatua, 3 pendeta, serta masing-masing 4 Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Meningkatkan Kesadaran Lingkungan dalam Pengelolaan Sampah Berdasarkan Perspektif Theology of Hope Jyrgen Moltmann perwakilan PKB, 4 WKI, dan 4 pemuda. Untuk memastikan validitas data, peneliti menerapkan teknik triangulasi sumber. Keseluruhan prosedur penelitian ini dirancang agar proses berlangsung sistematis, terarah, dan dapat dipertanggungjawabkan. Hasil dan Pembahasan Theology of Hope Menurut Jyrgen Moltmann Jyrgen Moltmann menempatkan harapan eskatologis sebagai inti teologi Kristen, sebuah langkah radikal yang memindahkan eskatologi yang sebelumnya kurang mendapat perhatian serius menjadi landasan sekaligus pendorong utama seluruh pemikiran dan praktik Bagi Moltmann, tanpa harapan, iman hanya akan redup menjadi moralitas belaka. dan tanpa kekuatan iman yang didorong oleh harapan, tindakan gereja di dunia cenderung kehilangan arah dan semangat transformatifnya. Dalam karyanya Theology of Hope. Moltmann menegaskan bahwa Kristus adalah Pribadi yang wafat dan bangkit, membuka horizon baru: kematian tidak lagi menjadi akhir mutlak, melainkan pintu gerbang menuju kehidupan yang diperbarui. Harapan itu sendiri terbukti lebih tegas daripada sekadar keinginan akan masa depan yang lebih baik. Moltmann membedakan antara harapan Kristen dan optimisme sekuler. harapan Kristen bukan bersandar pada kemampuan manusia atau tren sejarah, melainkan pada janji ilahi yang dijamin oleh kebangkitan Kristus. Harapan ini bersifat konkret, ia bukan abstraksi yang jauh, melainkan realitas yang menembus kerapuhan eksistensi manusia dan menantang gereja untuk hidup dalam ketegangan antara now yang masih berlumur dosa dan not yet yang akan sepenuhnya diperbaharui (Moltmann, 1967, hlm. Dalam bingkai demikian, gereja dipanggil tidak semata-mata meramalkan masa depan, tetapi merayakan dan menghidupi janji-janji Allah saat ini. Liturgi, doa, pengajaran, dan pelayanan menjadi ladang perwujudan harapan setiap bacaan Kitab Suci, setiap doa syukur, dan setiap tindakan kasih menegaskan bahwa Allah sudah memulai karya pembaruan-Nya. Moltmann menekankan bahwa di dalam perjamuan ekaristi, umat percaya tidak sekadar mengenangkan Kristus masa lampau, melainkan mengalami kehadiran kuasa kebangkitan yang menggerakkan tubuh Kristus untuk bersekutu dan melayani dunia (Moltmann, 1993b, hlm. Lebih jauh, eskatologi Moltmann mengandung dimensi misi Missio Dei yang memanggil gereja untuk keluar dari tembok gedung ibadah dan terlibat dalam drama keselamatan yang meliputi seluruh ciptaan. Melalui Theology of Hope, ia menegaskan bahwa iman kepada Kristus yang bangkit harus menampakkan diri dalam upaya pembebasan sosial menghadapi kemiskinan, ketidakadilan, dan penindasan serta pemulihan relasi antar manusia dan antara manusia dengan lingkungan. Meski fokus tulisan ini membatasi pembahasan pada konteks gereja, penting dicatat bahwa Moltmann melihat misi gereja sebagai perpanjangan tangan harapan eskatologis gereja bukan saja mengabarkan Injil mulia, tetapi juga menghidupi Injil dengan tindakan nyata (Moltmann, 1967, hlm. Identitas gereja, menurut Moltmann, dibentuk oleh dua kutub: janji Allah dan penggenapannya kelak. Gereja berdiri di antara keduanya sebagai komunitas harapan. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Meningkatkan Kesadaran Lingkungan dalam Pengelolaan Sampah Berdasarkan Perspektif Theology of Hope Jyrgen Moltmann satu sisi, jemaat menyadari luka dunia perpecahan, konflik, dan sejarah dosa. di sisi lain, jemaat yakin akan kepastian bahwa kuasa kebangkitan akan menuntun ciptaan ke alam baru. Karena itu, persekutuan jemaat bukan semata kumpulan individu yang seiman, melainkan tubuh Kristus yang hidup dalam solidaritas eskatologis saling menopang dalam penderitaan dan saling memberi semangat dalam pengharapan (Moltmann, 1993a, hlm. Dalam kerangka pastoral. Moltmann menekankan pentingnya homiletika harapan. Khotbah gereja seharusnya bukan hanya penegasan ajaran moral atau eksposisi teks Alkitab semata, melainkan katekese harapan yang membangkitkan keberanian dan gairah untuk melangkah ke dalam tantangan zaman. Pendeta dan pemimpin gereja menjadi penyambung suara Allah yang berkata. AuAku akan mengakhiri duka, dan Aku akan menghapus air mataAy (Why. 21:4. TB), sehingga jemaat dapat menanggapi panggilan untuk memperluas Kerajaan Allah di bumi dengan sepenuh hati (Moltmann, 1967, hlm. Akhirnya. Moltmann menjalin harapan dengan esensi kebersamaan gerejawi. Komunitas yang dipersatukan oleh harapan eskatologis akan menampilkan ciri-ciri: kasih tanpa pamrih, kesediaan berkorban, dan komitmen untuk menegakkan keadilan. Kesetiaan pada janji Allah menumbuhkan keberanian menanggung bahu masalah duniawi, sementara keyakinan akan pemulihan ciptaan menantang setiap anggota jemaat untuk berinovasi dalam pelayanan dan membangun inisiatif yang mencerminkan kasih Kristus. Dengan demikian. Theology of Hope Moltmann bukan hanya membentuk doktrin, tetapi juga menata etos dan misi gereja sebagai komunitas yang hidup dalam now but not yet berharap dan bekerja untuk menggenapi janji Allah di tengah sejarah manusia. Karena itu, jemaat bukan sekadar sekumpulan individu yang kebetulan percaya sama, melainkan tubuh Kristus yang hidup. Dalam tubuh ini, setiap orang saling menopang, karena mereka sama-sama menantikan segala janji Allah tergenapi pada waktunya. Peran Gereja dalam Meningkatkan Kesadaran Lingkungan Melalui Pengelolaan Sampah di Jemaat GMIM SION Woloan Hasil wawancara menunjukkan bahwa pengelolaan sampah di lingkungan Gereja GMIM SION Woloan merupakan perwujudan nilai moral, spiritual, dan sosial yang mendalam dalam hal keimanan. Dari sudut pandang pelayan khusus, pengelolaan sampah tidak sekadar masalah, melainkan merupakan bagian penting dari tanggung jawab untuk menanamkan nilai-nilai kekristenan melalui pesan peduli lingkungan yang disisipkan dalam khotbah (Wawancara OL. LT. BR. GK. Februari-Maret 2. Pesan-pesan tersebut diharapkan mampu mendorong setiap jemaat untuk berubah, walaupun praktik pemilahan sampah yang ideal, seperti pengelompokan sampah berdasarkan jenis . ering, basah, dan B. , masih belum dijalankan (Wawancara MW. BP. JL. CG. RM. MK. Februari-Maret Hal ini menandakan bahwa upaya meningkatkan kesadaran individu melalui penyuluhan dan program edukatif seperti workshop merupakan langkah strategis yang perlu disusun sebagai dasar perubahan perilaku. Sementara itu, jawaban dari jemaat memberikan gambaran yang berbeda mengenai realitas implementasi kebersihan lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun ajaran Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Meningkatkan Kesadaran Lingkungan dalam Pengelolaan Sampah Berdasarkan Perspektif Theology of Hope Jyrgen Moltmann gereja tentang pentingnya menjaga lingkungan telah disampaikan melalui khotbah, namun implementasinya masih sangat umum (Wawancara EM. VS. AT. CK. JT. Februari-Maret Kebiasaan mengumpulkan semua jenis sampah dalam satu wadah untuk kemudian dijemput oleh armada pengangkut mencerminkan adanya keterbatasan dalam pemahaman serta penerapan teknik pemilahan yang lebih mendalam (Wawancara YM. EM. TT. KK. Februari-Maret 2. Dampak negatif dari tidak melakukannya pemilahan sampah yaitu meningkatkan volume sampah yang masuk ke TPA, serta memicu pencemaran tanah, air, dan udara. Hal ini juga dapat menimbulkan emisi gas rumah kaca dari proses pembusukan sampah dan berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat melalui penyebaran penyakit, semakin menekankan perlunya pendekatan yang lebih selaras antara pesan moral dan pelaksanaan teknis. Kesenjangan antara harapan ideal yang dijelaskan oleh pelayan khusus dan realitas kebiasaan jemaat mengungkapkan tantangan signifikan dalam mengubah kebiasaan pengelolaan sampah. Rendahnya kesadaran individu, keterbatasan informasi yang mendalam, serta kurangnya fasilitas pendukung, seperti tempat sampah yang dibedakan sesuai dengan jenisnya, menjadi hambatan utama dalam implementasi sistem pemilahan sampah secara terstruktur (Wawancara OL. MW. CP. LT. JL. BR. RLM. VW. MK. MM. GK. IK. VL. BP. JK. CG. RM. BM. Februari-Maret 2. Melalui data ini, meskipun pesan kebersihan yang mengakar pada nilai-nilai keimanan telah disampaikan, masih terdapat kekurangan dalam penerjemahan pesan tersebut ke dalam tindakan nyata yang berwujud di Responden menyarankan agar pengelolaan sampah diperkuat melalui penyediaan fasilitas yang memadai (Wawancara OL. MW. CP. LT. JL. BR. RLM. VW. MK. MM. GK. IK. VL. BP. JK. CG. RM. BM. Februari-Maret 2. , penyuluhan yang lebih terfokus (Wawancara YM. EM. VS. TT. JT. DP. Februari-Maret 2. , serta kolaborasi dengan instansi terkait guna menyediakan informasi dan infrastruktur yang diperlukan (Wawancara BP. JK. MM. MK. KK. CK. MJ. RK. Februari-Maret 2. Tantangan ini menggambarkan betapa pentingnya adaptasi ajaran ke dalam konteks budaya jemaat serta penyediaan sarana praktis seperti modul tertulis dan infrastruktur pemilahan agar rekomendasi khotbah tidak sekadar menjadi wacana, tetapi dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Lewat penelitian ini memperlihatkan bahwa peran gereja dalam meningkatkan kesadaran lingkungan melalui pengelolaan sampah tidak hanya terlihat sebagai upaya penyampaian pesan moral dan spiritual melalui khotbah di mimbar gereja dan kegiatan pewartaan lewat kolom, tetapi juga sebagai strategi praktis yang diharapkan dapat mengubah perilaku sosial dan ekologis jemaat secara berkelanjutan. Dengan menekankan kesadaran lingkungan berbasis gereja, bahwa nilai-nilai keimanan dan tanggung jawab moral memiliki potensi besar untuk membentuk perilaku masyarakat dalam rangka perawatan ciptaan Tuhan, di mana institusi keagamaan seharusnya berfungsi sebagai katalisator perubahan melalui pendidikan partisipatif dan penguatan efektivitas program. Melalui berbagai bentuk edukasi dari khotbah, hingga seminar dan workshop, gereja memegang peranan penting dalam mentransfer pengetahuan iman kepada jemaat. Efektivitas edukasi ini ditentukan oleh relevansi materi, metode penyampaian yang komunikatif, serta kemampuan pengkhotbah Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Meningkatkan Kesadaran Lingkungan dalam Pengelolaan Sampah Berdasarkan Perspektif Theology of Hope Jyrgen Moltmann atau fasilitator untuk mengaitkan nilai-nilai spiritual dengan tantangan kehidupan seharihari. Ketika pesan edukatif dirancang secara kontekstual, memadukan kisah Alkitab dengan studi kasus modern, jemaat merasa materi lebih hidup dan bermakna, sehingga motivasi untuk mengaplikasikan pelajaran iman menjadi lebih tinggi. Kunci sukses semua strategi di atas terletak pada kesinambungan dan konsistensi. Gereja yang hanya sesekali mengadakan seminar atau himbauan tematik seringkali gagal menanamkan nilai perubahan yang bertahan Sebaliknya, gereja yang merancang program pelatihan berkala, modul tindak lanjut, serta evaluasi rutin mampu menciptakan budaya belajar terus-menerus. Peran tokoh panutan juga tak bisa diabaikan. Ketika pendeta, penatua, atau diaken memberikan teladan baik dalam gaya hidup, pelayanan, maupun komitmen sosial jemaat cenderung meniru dan Kehadiran pemimpin yang konsisten menunjukkan keterlibatan dalam kegiatan sosial, kepedulian terhadap lingkungan, dan kehidupan doa yang dalam menjadi bukti nyata kekuatan ajaran. Teladan ini, jika disertai komunikasi terbuka mengenai tantangan dan keberhasilan, akan menumbuhkan semangat bahwa setiap individu pun mampu melakukan hal serupa. Relasi Theology of Hope dari Jyrgen Moltmann Melihat Peran Gereja dalam Meningkatkan Kesadaran Lingkungan Melalui Pengelolaan Sampah Sejarah mencatat bahwa sejak kejatuhan manusia dalam dosa, dunia mengalami kerusakan yang semakin mendalam, termasuk dalam cara manusia memandang dan mengelola sumber daya alam. Namun, karena kasih karunia Tuhan tetap menyediakan jalan untuk perbaikan dan pemulihan. Sama halnya dengan kisah Nuh yang diamanatkan membangun bahtera untuk menyelamatkan ciptaan dari kebinasaan, gereja pun dipanggil untuk mengambil bagian dalam upaya menyelamatkan lingkungan melalui kesadaran dan tindakan nyata yang berasal dari iman. Pengelolaan sampah yang bertanggung jawab menuntut kesadaran bersama untuk melihat lebih jauh dari sekadar penampilan fisik sampah itu sendiri. Setiap tumpukan limbah mengandung pesan akan ketidakseimbangan spiritual yang perlu diperbaiki melalui perubahan hati dan pola pikir. Dalam hal ini, prinsip-prinsip kekristenan mengajarkan bahwa segala sesuatu yang tampak rusak dapat diubah menjadi sesuatu yang indah apabila dikelola dengan kasih dan ketaatan kepada perintah Tuhan. Dalam pelayanan gerejawi, peran untuk mengubah pandangan terhadap sampah sangatlah Gereja, sebagai lembaga yang diilhami oleh nilai-nilai kebenaran, kasih, dan keadilan, memiliki tugas untuk mendidik dan membimbing jemaat agar memahami bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian penting dari pengamalan iman. Pengelolaan sampah yang dilakukan dengan penuh kasih adalah wujud nyata dari keinginan untuk hidup sejalan dengan kehendak Tuhan, yang mengutamakan kebaikan bersama dan kesejahteraan umat. Ini mengingatkan bahwa setiap upaya untuk mengolah sampah merupakan perwujudan nyata dari iman yang tidak hanya ditafsirkan melalui kata-kata, tetapi juga melalui tindakan. Setiap langkah kecil menuju pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan adalah persembahan hidup yang menguatkan hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Dengan kata lain, tanggung jawab untuk menjaga bumi bukan sekadar kewajiban teknis atau fungsional. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Meningkatkan Kesadaran Lingkungan dalam Pengelolaan Sampah Berdasarkan Perspektif Theology of Hope Jyrgen Moltmann melainkan bagian yang tidak terpisahkan dari panggilan rohani umat percaya. Melalui tindakan nyata dalam merawat lingkungan, jemaat dibimbing untuk menghidupi iman yang aktif, yang menghadirkan harapan serta mewujudkan kasih Tuhan secara nyata di tengah Dalam perspektif Theology of Hope Jyrgen Moltmann, eskatologi menempati posisi sentral dalam seluruh kehidupan dan pelayanan gereja, sehingga harapan Kristen bukan lagi semata-mata penantian pasif, melainkan kekuatan transformatif yang menggerakkan tindakan konkret di dunia saat ini. Moltmann menegaskan bahwa kebangkitan Kristus membuka horizon pemulihan ciptaan sepenuhnya, sehingga gereja tidak boleh terjebak dalam moralitas biasa tanpa dimensi eskatologis. kekuatan iman muncul tatkala jemaat hidup dalam ketegangan antara dunia yang masih tercemar dosa now dan janji pembaruan total not Dalam bingkai inilah pengelolaan sampah menjadi wujud praktis dari janji ilahi yang sudah bekerja, menegaskan bahwa setiap tindakan menjaga lingkungan adalah bagian dari persekutuan eskatologis yang menantikan pemulihan kosmos. Moltmann menggarisbawahi bahwa harapan Kristen mendasar dari optimisme sekuler, karena tidak bergantung pada kondisi manusia atau perkembangan sejarah, melainkan pada janji ilahi yang dijamin oleh kematian dan kebangkitan Kristus. Harapan ini bukan abstraksi, melainkan suatu realitas yang menembus kelemahan manusia dan menantang gereja untuk bertindak. Ketika jemaat memahami bahwa dunia menanti pembaruan total, tindakan sehari-hari, seperti memilah sampah menjadi bagian konkret dari iman mereka. Dengan demikian, pengelolaan sampah tidak hanya menjadi urusan teknis, melainkan praktik teologis yang membuktikan kehadiran kuasa kebangkitan dalam hidup Dalam karyanya Theology of Hope. Moltmann menekankan dimensi misi Missio Dei, di mana gereja dipanggil keluar dari gedung ibadah untuk berpartisipasi dalam karya keselamatan yang meliputi seluruh ciptaan. Panggilan ini mencakup pembebasan sosial dan pemulihan relasi antar manusia serta antara manusia dan lingkungan. Pengelolaan sampah, dalam konteks ini, menjadi salah satu arena di mana jemaat menyalurkan harapan eskatologis: dengan membersihkan dan merawat lingkungan dalam hal ini melakukan pemilahan sampah, mereka memerankan peran profetik yang menyuarakan janji pemulihan bahwa Tuhan akan mengakhiri duka dan menghapus penderitaan ciptaan-Nya. Di level praktis, wawancara dengan pelayan khusus GMIM SION Woloan menunjukkan bahwa pengelolaan sampah telah mendapatkan perhatian sebagai bagian dari khotbah pendidikan iman. Pesan-pesan peduli lingkungan disisipkan dalam homili untuk menumbuhkan kesadaran moral-spiritual bahwa merawat ciptaan adalah tanggung jawab Namun fakta yang ada di lapangan, praktik pemilahan belum sempat Hal ini menyebabkan semua sampah dikumpulkan tanpa diferensiasi, yang berakibat pada peningkatan volume sampah di TPA, pencemaran tanah, air, dan udara, serta emisi gas rumah kaca. Kondisi ini mengungkap kesenjangan antara ideal teologis yang dikhotbahkan dan praktik keseharian jemaat dalam pengelolaan lingkungan. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Meningkatkan Kesadaran Lingkungan dalam Pengelolaan Sampah Berdasarkan Perspektif Theology of Hope Jyrgen Moltmann Moltmann menyebut pelayanan khotbah sebagai homiletika harapan, yang bertujuan membangkitkan keberanian jemaat untuk melangkah ke tantangan zaman. Dalam konteks pengelolaan sampah, homiletika ini mesti dilengkapi dengan pendampingan teknis: pelatihan pemilahan . ering, basah. , komposting, dan daur ulang sebagai keterampilan Pendeta. Penatua, dan Diaken menjadi fasilitator perubahan, bukan hanya penyampai ajaran moral, melainkan pembimbing praktis yang menunjukkan bagaimana janji ilahi diwujudkan dalam rutinitas sehari-hari. Identitas gereja, menurut Moltmann, terbentuk di antara janji Allah dan penggenapannya kelak. Jemaat GMIM SION Woloan dipanggil hidup dalam solidaritas eskatologis yang tidak hanya menanggung persoalan sesama manusia, tetapi juga ciptaan. Solidaritas ini menuntut kesiapan berkorban: menyediakan sarana pemilahan sampah, seperti tempat sampah terpisah, poster edukasi, dan jadwal penjemputan khusus, merupakan bentuk kesetiaan pada janji pemulihan ciptaan. Dengan demikian, fasilitas semacam ini bukan sekadar infrastruktur, melainkan simbol kepercayaan akan kebangkitan dunia baru. Kesenjangan antara kesadaran moral dan praktik di lapangan muncul karena beberapa faktor: rendahnya pemahaman teknis, minimnya fasilitas, dan kurangnya kontinuitas penyuluhan. Jemaat umumnya masih mengandalkan armada pengangkut sampah tanpa peduli pemilahan di sumber. Dampaknya, sampah yang berpotensi didaur ulang tertimbun bersama sampah organik yang membusuk. Moltmann menyerukan agar gereja tak hanya mengobarkan semangat, tetapi juga membangun sistem pendukung yang berkelanjutan: workshop rutin, modul edukasi, dan kemitraan dengan dinas lingkungan hidup serta organisasi yang bergerak di bidang pelestarian lingkungan. Program edukatif yang lebih terstruktur, menurut pelayan khusus, dapat menurunkan kesenjangan antara ideal dan kenyataan: pelatihan tentang mengelola sampah, seminar pemilahan sampah, hingga lomba kreatifitas daur ulang di sekolah minggu. Inisiatif ini menjiwai liturgi baru di luar gereja, di mana setiap botol plastik yang dikumpulkan adalah persembahan simbolik atas janji pemulihan. Di sini, gereja mengubah ritus ibadah menjadi gaya hidup: bukan lagi sekadar khotbah satu arah, melainkan keterlibatan aktif jemaat di ladang misi penciptaan. Lebih jauh. Moltmann menekankan pentingnya komitmen jangka panjang. Pengelolaan sampah tidak cukup dijalankan sekedar proyek sesaat, melainkan harus menjadi praktik berkelanjutan dan bagian tak terpisahkan dari ritus keseharian. Pengelolaan sampah harus dipandang sebagai bagian dari ibadah dan pengabdian kepada Tuhan. Tindakan memilah, mendaur ulang, serta mengolah kembali sampah bukanlah sekadar rutinitas kebersihan, melainkan perwujudan iman yang mengajak manusia untuk hidup dalam kerukunan dengan alam. Dengan menata kembali apa yang dianggap tidak berguna, jemaat diundang untuk menemukan kembali potensi pembaruan yang tertanam dalam setiap aspek Dengan mengintegrasikan Theology of Hope Moltmann dalam pengelolaan sampah di GMIM SION Woloan, gereja mendemonstrasikan bahwa iman Kristen adalah iman yang hidup: iman yang menggerakkan tubuh Kristus untuk bertindak memulihkan ciptaan. Setiap Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Meningkatkan Kesadaran Lingkungan dalam Pengelolaan Sampah Berdasarkan Perspektif Theology of Hope Jyrgen Moltmann upaya memilah sampah, mengompos, atau mengedukasi tetangga, adalah perwujudan Missio Dei yang melampaui sekadar retorika teologis, menjadi gerakan nyata menghadirkan Kerajaan Allah di bumi. Dalam pelaksanaan, penting pula membangun sinergi lintas pihak: jemaat, gereja, pemerintah lokal. Kondisi ideal menurut Moltmann adalah ketika gereja tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi mitra aktif dalam penyelamatan ciptaan yang melibatkan berbagai elemen masyarakat. Akhirnya, semangat now but not yet mendorong jemaat untuk menanam benih-benih harapan hari ini melalui pengelolaan sampah sambil menantikan pemulihan penuh di masa depan. Theology of Hope bukan hanya dogma, melainkan jalan hidup: mengubah bumi yang rusak menjadi laboratorium eskatologis, di mana secarik kertas daur ulang, sekantong kompos, dan setiap botol plastik yang dikumpulkan, menjadi tanda sesungguhnya bahwa Tuhan sedang menulis kisah kebaharuan bagi seluruh ciptaan. Rekomendasi untuk Penelitian Lanjutan Karena keterbatasan penelitian ini, belum banyak dieksplorasi bagaimana perubahan perilaku jemaat dalam jangka panjang setelah penerapan program pengelolaan sampah berbasis gereja. Penelitian lanjutan perlu mengkaji dampak homiletika harapan terhadap transformasi kebiasaan jemaat secara berkelanjutan dalam konteks ekologis dan spiritual. Kesimpulan Theology of Hope Moltmann menegaskan bahwa iman Kristen yang hidup memadukan janji kebangkitan Kristus dengan tindakan nyata di dunia kini. Di GMIM SION Woloan, hal ini diwujudkan melalui usaha meningkatkan kesadaran pengelolaan sampah serta menjadikan setiap pemilahan dan aksi kebersihan sebagai liturgi ekologi. Meskipun motivasi teologis telah disampaikan lewat khotbah, tantangan praktis seperti keterbatasan fasilitas dan pemahaman teknis perlu diatasi dengan homiletika harapan yang terpadu: mengokohkan edukasi praktis, memperlengkapi infrastruktur pemilahan, serta menjalin kemitraan lintas sektor. Dengan demikian, gereja bukan hanya menyuarakan harapan eskatologis, tetapi juga menghadirkannya melalui perubahan kebiasaan konkret yang memulihkan ciptaan dan memperlihatkan Kerajaan Allah di tengah masyarakat. Daftar Rujukan Abdussamad. & Lestari Handayani. Eco-theological construction of waste management in the Rehobot Church congregation. Kupang City. East Nusa Tenggara. Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan, 10. , 228Ae239. https://doi. org/10. 22500/10202238628 Artiyani. & Anggorowati. Pengolahan Sampah Terpadu Desa Karangkates Untuk Mencapai Zero Waste. Industri Inovatif: Jurnal Teknik Industri, 9. , 15-20, https://doi. org/10. 36040/industri. Conradie. Christianity and Ecological Theology: Resources for Further Research. SUN Press. Kaza. Yao. Bhada-Tata. , & Van Woerden. What a Waste 2. 0: A Global Snapshot of Solid Waste Management to 2050. The World Bank https://doi. org/10. 1596/978-1-4648-1329-0. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Meningkatkan Kesadaran Lingkungan dalam Pengelolaan Sampah Berdasarkan Perspektif Theology of Hope Jyrgen Moltmann Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. 7,2 juta Indonesia https://w. id/72-juta-ton-sampah-di-indonesia-belum-terkeloladengan-baik. McFague. The Body of God: An Ecological Theology. Fortress Press. Misra. Roy. , & Hiraoka. On-farm composting methods (Land and Water Discussion Paper No. Rome: Food and Agriculture Organization of United Nations. Retrieved https://openknowledge. org/handle/20. 14283/9230 Moltmann. God in Creation: A New Theology of Creation and the Spirit of God. Fortress Press. Moltmann. The Church in the Power of the Spirit. Fortress Press. Moltmann. Theology of Hope: On the Ground and the Implications of a Christian Eschatology. Harper & Row. Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif. Remaja Rosdakarya. Mulia. & Setiawati S. Pengelolaan Lingkungan Hidup. MNC ISBN Nelwan. Binilang. & Rogahang H. Peran Gereja untuk Mendidik Jemaat dalam Pengelolaan Sampah di GMIM Nazareth Tingkulu Kota Manado. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan. Vol. No. https://doi. org/10. 5281/zenodo. Republik Indonesia. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Pasal 5-7. Siagian. Lead by Heart: Kepemimpinan andal yang menggunakan hati. ANDI. ISBN 9789792910568. United Nations Environment Programme. Global Waste Management Outlook. UNEP. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025