Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 2 . , 2023. Page 96-110 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 Pentingnya Menggali Karakteristik dan Klasifikasi Anak Berkebutuhan Khusus Secara Mental Emosional dan Akademik Opi Andriani1. Fajar Alkhairi Ramadhan2. Fadhlan Ramadhan3. Putri Wulandari4 1,2,3 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Muhammadiyah Muara Bungo adr@gmail. com1 fajaralkhairi11@gmail. com2, fadlanramadhan306@gmail. putriwulandari021@gmail. Submitted: 19-12-2. Reviewed: 20-12-2023 | Accepted: 22-12-2023 ABSTRAK Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang menyandang disabilitas atau cacat fisik, mental, intelektual, sosial atau emosional. Contoh dari anak-anak ini termasuk anak dengan autisme atau keterbelakangan mental, tuna rungu, anak dengan kesulitan belajar, gangguan konsentrasi dan anak yang memiliki bakat luar biasa. Dalam konteks pertumbuhan dan perkembangan, kebutuhan dan tantangan yang dihadapi oleh anak-anak ini seringkali sangat berbeda dan lebih kompleks dibandingkan dengan anak-anak seusianya. Untuk penelitian ini, kami menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode penelitian kepustakaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pentingnya mengenal ciri-ciri dan klasifikasi anak berkebutuhan khusus secara mental, emosional dan Dalam berbagai dimensi, seperti akademis, anak-anak ini mampu menjalani proses belajar dengan efektif. Dalam konteks sosial, mereka mampu berinteraksi dan beradaptasi dengan lingkungan sosial mereka. Dan dalam aspek emosional, mereka dapat mengarahkan emosi mereka ke arah yang Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat berbagai permasalahan yang dihadapi oleh orang tua sendiri, seperti kurangnya pengetahuan tentang ciri-ciri dan klasifikasi anak berkebutuhan khusus secara mental, emosional dan akademis. Kata Kunci: Akademik. Karakteristik. Klasifikasi Anak Berkebutuhan Khusus. Mental Emosional ABSTRACT Children with special needs are individuals who experience disabilities or impediments in physical, mental, intellectual, social, or emotional aspects. This group includes children with conditions such as autism or intellectual disabilities, hearing impairments, children with learning difficulties and concentration disorders in children and gifted children can have an impact which is significant to the growth or development process compared to other children his age. This research method uses descriptive qualitative. Where this research uses library research. This research aims to determine the importance of recognizing the characteristics and classification of children with special needs mentally, emotionally and academically. In various aspects, such as in the academic field, they are able to follow lessons well, in the social field, children are able to socialize with society and in the emotional field, children can channel their emotions into positive things. The results of the research show that there are various problems encountered by parents themselves, such as a lack of knowledge about the characteristics and classification of children with special needs mentally, emotionally and Keywords: Academic. Characteristic. Classification of Children with Special Needs. Mental Emotional. PENDAHULUAN Undang-undang sistem pendidikan Nasional No. 20/2003 ayat 1, menyebutkan bahwa Anak usia dini (AUD) merupakan sekelompok anak yang memiliki rentang usia 0-6 tahun JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 2 . , 2023. Page 96-110 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 yang dimana setiap anak atau individu mempunyai ciri-ciri yang unik dan berbeda-beda. berkebutuhan khusus (ABK) adalah anak yang memiliki perbedaan atau penyimpangan yang signifikan dalam aspek fisik, mental, intelektual, sosial, atau emosional dalam proses pertumbuhan dan perkembangan mereka dibandingkan dengan anak-anak seusianya. Karena perbedaan ini, mereka membutuhkan layanan pendidikan yang spesifik dan disesuaikan dengan kebutuhan mereka (Depdiknas, 2. Menurut (Heward, 2. , anak berkebutuhan khusus secara garis besar didefinisikan sebagai anak dengan ciri-ciri unik yang membedakannya dari anak-anak pada umumnya, dan tidak selalu terkait dengan ketidakmampuan dalam aspek mental, emosi, atau fisik. Istilah lain yang digunakan untuk merujuk pada anak berkebutuhan khusus adalah anak luar biasa atau anak dengan keterbatasan. Dalam terminologi yang lebih sederhana, anak berkebutuhan khusus dapat diartikan sebagai anak yang mengalami keterlambatan atau gangguan yang membuatnya menghadapi tantangan besar untuk mencapai kesuksesan di sekolah sebagaimana anak-anak pada umumnya. Menurut (Daroni, 2. populasi anak berkebutuhan khusus (ABK) di Indonesia terus bertambah dari tahun ke tahun. Diperkirakan oleh PBB bahwa minimal 10 persen dari total anak usia sekolah memiliki kebutuhan khusus. Di Indonesia, ada sekitar 42,8 juta anak berusia 5-14 tahun. Mengacu pada estimasi tersebut, dapat diasumsikan bahwa sekitar 4,2 juta anak di Indonesia memiliki kebutuhan khusus. Namun, belum ada data resmi dari pemerintah Indonesia terkait hal ini. Berdasarkan data terkini, terdapat sekitar 1. 184 anak berkebutuhan khusus di Indonesia, dengan 330. 764 anak . ,42%) di antaranya berusia 5-18 Dari jumlah tersebut, hanya 85. 737 anak berkebutuhan khusus yang mendapatkan pendidikan di sekolah. Ini berarti, masih ada sekitar 245. 027 anak berkebutuhan khusus yang belum mendapatkan akses pendidikan, baik di sekolah khusus maupun sekolah inklusif. Mengontrol emosi bagi anak tidaklah mudah untuk dilakukan, karena anak akan mengeluarkan apa yang anak rasakan dalam dirinya untuk mengambil menjadi tenang. Namun jika anak mengeluarkan emosinya dan bertingkah laku tidak normal yang tidak biasa anak sebaya lainnya keluarkan, maka sebagai orang tua tentunya harus waspada terhadap hal tersebut yang anak miliki. Karena bisa saja anak terkena gangguan pada emosi dan tingkah lakunya yang menyebabkan mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Senada dengan DIES dalam (Thompson, 2. , menyatakan bahwa JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 2 . , 2023. Page 96-110 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 kondisi itu biasa disebut sebagai anak berkebutuhan khusus mental emosional. Tetapi sebagai orang tua jangan langsung mengambil pemikiran bahwa anaknya mengalami tunalaras karena orang tua harus mengetahui gejala dan karakteristik yang dimiliki anak berkelainan mental emosional itu bagaimana, lalu jika memiliki beberapa gejala dan karakteristiknya maka orang tua harus konsultasi kepada dokter untuk memastikan lebih lanjut. (Kartono, 1. menjelaskan bahwa kata "mental" berasal dari bahasa Latin "mens" atau "metis" yang berarti jiwa, nyawa, sukma, atau semangat. Jadi, mental merujuk pada segala hal yang terkait dengan psikologi atau kejiwaan yang dapat mempengaruhi perilaku (Chaplin, 1. mendefinisikan "mental" sebagai hal yang berkaitan dengan pikiran, akal, ingatan, atau proses yang terkait dengan pikiran, akal, dan ingatan. Selain itu, (King, 2. menyatakan bahwa emosi memiliki berbagai jenis, termasuk amarah, sedih, rasa takut, cinta, kenikmatan, jengkel, dan kejutan. Menurut (Goleman, 2. , emosional adalah perasaan yang memiliki karakteristik khusus, melibatkan kondisi biologis dan psikologis serta berbagai elemen lainnya yang cenderung mendorong individu untuk melakukan tindakan tertentu. Dengan demikian, emosional dapat diartikan sebagai perasaan yang berasal dari dalam diri seseorang sebagai reaksi terhadap stimulus eksternal, yang kemudian mendorong atau merangsang individu tersebut untuk bertindak. Menurut Fadjar (Fadjar, 2. , akademik pada dasarnya merujuk pada proses belajar mengajar yang berlangsung di ruang kelas atau lingkungan sekolah. Sementara itu. A Canadian Perspective on Learning Disabilities oleh (Wiener & Siegel, 1. menjelaskan bahwa anak-anak dengan kesulitan belajar khusus adalah mereka yang mengalami tantangan dalam mengikuti pelajaran di sekolah meski kecerdasannya berada pada, sedikit di atas, atau sedikit di bawah rata-rata. Jika kecerdasannya lebih rendah dari kondisi tersebut, mereka tidak lagi termasuk dalam kategori kesulitan belajar. Anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) diklasifikasikan berdasarkan jenis gangguannya menjadi fisik, mental, serta karakter sosial dan akademik. (Abdullah, 2. merinci klasifikasi yang dibuat oleh Efendi tentang jenis-jenis kelainan mental. Pertama, kelainan mental, yang merujuk pada anak-anak yang menunjukkan penyimpangan dalam kemampuan berpikir secara kritis dan logis dalam merespons lingkungan mereka. Kelainan mental ini bisa berarti "lebih" atau "kurang". Contoh dari JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 2 . , 2023. Page 96-110 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 kategori "lebih" adalah anak yang belajar dengan cepat . apid learne. , anak yang berbakat . , dan anak yang jenius . xtremely gifte. Sedangkan kategori "kurang" mencakup anak tunagrahita, yang diidentifikasi memiliki tingkat kecerdasan di bawah normal. Kedua, kelainan perilaku atau tunalaras sosial merujuk pada anak yang menghadapi hambatan dalam beradaptasi dengan lingkungan, aturan, dan norma sosial. Anak-anak berkebutuhan khusus yang termasuk dalam kategori ini adalah anak-anak psikotik dan neurotik, anak dengan gangguan emosi, serta anak yang berperilaku nakal . Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk memahami pentingnya mengakui karakteristik dan klasifikasi anak berkebutuhan khusus dalam aspek mental, emosional, dan akademis. Tujuan lebih spesifiknya adalah untuk mengerti bagaimana karakteristik-karakteristik tersebut mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak berkebutuhan khusus serta untuk mengidentifikasi tantangan yang dihadapi oleh orang tua dalam mengenali karakteristikkarakteristik tersebut. Kebaruan artikel penelitian ini terletak pada penekanannya pada pengenalan karakteristik dan klasifikasi anak berkebutuhan khusus secara mental, emosional, dan Artikel ini menjawab tantangan yang dihadapi orang tua dalam memahami karakteristik tersebut dan dampaknya terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak berkebutuhan khusus. Metode deskriptif kualitatif dan teknik penelitian kepustakaan yang digunakan dalam penelitian ini berkontribusi terhadap kebaruan dengan memberikan pemahaman komprehensif tentang pentingnya mengenali karakteristik tersebut. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Metode deskriptif kualitatif adalah jenis penelitian yang ditujukan untuk memahami suatu peristiwa, seperti perilaku, kejadian, dan tindakan yang dialami oleh individu. Dalam penelitian deskriptif kualitatif ini, teknik pengumpulan data yang digunakan adalah penelitian perpustakaan . ibrary researc. Dengan mengumpulkan berbagai sumber referensi seperti buku, jurnal, dan dokumen yang kemudian peneliti membaca sumber tersebut, menelaah dan menganalisis sumber referensi tersebut untuk dijadikan sebagai bahan penulisan dalam jurnal. Pemilihan relevan sumber referensi tentunya yang sesuai dengan topik penelitian. Yang membahas karakteristik dan klasifikasi anak berkebutuhan khusus, baik secara langsung JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 2 . , 2023. Page 96-110 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 maupun secara tidak langsung, dan memberikan pengetahuan yang mendalam tentang topik Berikut adalah proses analisis data pada penelitian library research yang kami lakukan: Pengumpulan Data: Langkah pertama adalah mengumpulkan data dari berbagai sumber kepustakaan yang relevan dengan topik penelitian. Ini bisa melibatkan pencarian di perpustakaan fisik maupun online, menggunakan kata kunci yang sesuai untuk menemukan sumber-sumber yang relevan. Pemilihan Data: Setelah mengumpulkan sejumlah sumber, peneliti memilih yang paling relevan dan kredibel. Pembacaan dan Penjelasan: Langkah selanjutnya adalah membaca dan memahami sumbersumber yang telah dipilih. Ini melibatkan pencatatan ide-ide utama, argumen, bukti, dan temuan yang relevan dengan topik penelitian kami. Kodifikasi: mengkategorikan dan mengkodekan informasi yang telah dikumpulkan. Ini bisa melibatkan pembuatan tema atau kategori, dan penugasan setiap potongan informasi ke tema atau kategori yang sesuai. Interpretasi: Langkah ini melibatkan interpretasi dan analisis data yang telah dikodekan. Kami mencari pola, hubungan, atau temuan menarik dalam data, dan menjelaskannya dalam konteks penelitian serta menyimpulkan. Dengan menggunakan metode ini, penulis mengumpulkan sebanyak mungkin referensi yang dapat dimasukkan ke dalam pembahasan. Setelah mencari dan menemukan data yang sesuai dengan pentingnya mengenali karakteristik dan klasifikasi anak berkebutuhan khusus secara mental emosional dan akademik dengan metode yang sudah dijelaskan, maka penulis dapat menyusun pembahasan ini sebaik mungkin. Untuk memastikan bahwa interpretasi data dalam penelitian library research ini valid dan dapat dipertanggungjawabkan, peneliti menggunakan triangulasi sumber yaitu menggunakan berbagai sumber data yang berbeda guna membantu memvalidasi temuan. HASIL DAN PEMBAHASAN Anak berkebutuhan khusus adalah individu yang memiliki karakteristik khusus yang membedakan mereka dari anak-anak lainnya, dan ini tidak selalu berarti mereka memiliki keterbatasan dalam aspek mental, emosional, atau intelektual. (Erawati et al. , 2. JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 2 . , 2023. Page 96-110 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 mendefinisikan anak berkebutuhan khusus sebagai anak yang mengalami penyimpangan atau kelainan yang signifikan . aik fisik, mental, intelektual, sosial, atau emosiona. dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya, dibandingkan dengan anak-anak sebaya mereka, sehingga mereka membutuhkan layanan pendidikan khusus. Setiap anak berkebutuhan khusus memiliki karakteristik yang unik dan berbeda satu sama lain. Terdapat karakteristik dan klasifikasi anak berkebutuhan khusus mental emosional dan Anak Berkebutuhan Khusus Secara Mental Emosional Tunagrahita Anak berkebutuhan khusus yang sering menjadi fokus guru adalah anak Menurut (Ibrahim, 2. , anak tunagrahita atau anak dengan keterbelakangan mental adalah mereka yang memiliki kondisi mental secara keseluruhan di bawah rata-rata, yang muncul selama periode perkembangan dan berkaitan dengan kesulitan dalam menyesuaikan perilaku mereka dengan lingkungan. Akibatnya, fungsi sosial anak tunagrahita tidak berkembang dengan baik. (Mumpuniarti, 2. mengklasifikasikan tunagrahita menjadi empat tingkat, yaitu tunagrahita ringan, sedang, berat, dan sangat berat. A Tunagrahita Ringan Individu dengan tingkat kecerdasan atau IQ antara 50-70 cenderung lebih mudah menyesuaikan diri secara sosial dan berinteraksi dengan orang-orang yang tidak memiliki keterbelakangan mental. A Tunagrahita Sedang Individu dengan tingkat IQ antara 30-50 biasanya dapat merawat diri sendiri, beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya, dan melakukan tugas yang diulangulang meskipun masih membutuhkan pengawasan. A Tunagrahita Berat dan Sangat Berat Individu dengan tunagrahita berat dan sangat berat memiliki tingkat kecerdasan atau IQ di bawah 30. Mereka sangat bergantung pada orang lain sepanjang hidupnya dan hanya mampu berkomunikasi dalam cara yang sangat dasar dan Karakteristik tunagrahita menurut Astati dalam (Apriyanto, 2. JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 2 . , 2023. Page 96-110 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 Anak-anak dengan tunagrahita memiliki batasan yang signifikan dalam kecerdasan. Dalam aspek sosial, mereka menghadapi tantangan dalam berinteraksi dengan orang lain karena keterbatasan dalam kemandirian. Untuk fungsi mental lainnya, anak-anak dengan tunagrahita biasanya menghadapi tantangan dalam mempertahankan konsentrasi dan berpikir. Mereka cenderung kurang memiliki inisiatif positif dalam melindungi diri mereka sendiri, yang berkaitan dengan dorongan emosi. Dalam aspek organisme dan kondisi fisik, anak-anak dengan tunagrahita biasanya memiliki gerakan motorik yang lambat dan kesulitan membedakan hal-hal yang baik dan Tunalaras Menurut (Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 72, 1. tunalaras didefinisikan sebagai sebuah kondisi di mana terjadi gangguan, hambatan, atau kelainan dalam perilaku seseorang yang mengakibatkan mereka memiliki kesulitan dalam beradaptasi dengan lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Istilah ini dalam penggunaan sehari-hari seringkali disamakan dengan istilah "anak nakal". Adapun karakteristik anak tunalaras menurut Faturrahman, 2018 dalam (Agustina et , 2. , karakteristik umum dapat seperti : A Anak mungkin merasa cemas yang ditandai dengan kurangnya rasa percaya diri, kekhawatiran berlebih, dan kecenderungan untuk mengisolasi diri dari lingkungan A Anak dapat menunjukkan gangguan perilaku, seperti sering berkelahi, memiliki konsentrasi yang rendah, merusak barang milik diri sendiri atau orang lain, atau berbohong, dan lainnya. A Mereka mungkin juga melakukan tindakan agresif, seperti menjalin lingkaran pertemanan yang kurang baik, sering meninggalkan rumah, dan sebagainya. A Anak tersebut mungkin menunjukkan tingkat kedewasaan yang rendah, seperti sering melamun, bersikap pasif, mudah dipengaruhi, dan lainnya. A Dari segi sosial dan emosional, mereka mungkin melanggar norma-norma masyarakat, merasa rendah diri, dan melakukan tindakan agresif dan JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 2 . , 2023. Page 96-110 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 Dalam buku "Pendidikan Inklusi untuk ABK" karya (Supena et al. , 2. mengkategorikan anak tunalaras ke dalam beberapa kategori, yaitu: A The semi-socialize child (Anak Semi-Sosiali. : Anak ini mampu berinteraksi secara sosial, namun hanya terbatas pada keluarga atau kelompoknya sendiri. A Children arrested at a primitive level of socialization (Anak dengan Tingkat Sosialisasi Primiti. : Kategori ini mencakup anak yang pertumbuhan sosialnya berhenti pada tingkat yang sangat dasar, yang kurang dalam hal sikap sosial dan terlepas dari Pendidikan. A Children minimum socialization capacity (Anak dengan Kapasitas Sosialisasi Minimu. : Ini adalah anak yang tidak memiliki kemampuan untuk mempelajari sikap sosial. A Neurotic behavior (Anak dengan Perilaku Neuroti. : Anak ini mampu berinteraksi secara sosial, namun tidak mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. A Children with psychotic processes (Anak dengan Proses Psikoti. : Anak ini memerlukan perawatan serta penanganan khusus. Autis Menurut (Septia et al. , 2. Autis adalah kondisi perkembangan yang kompleks yang berdampak pada komunikasi, interaksi sosial, dan aktivitas yang melibatkan imajinasi. Anak yang autistik adalah mereka yang memiliki kesulitan atau gangguan dalam berkomunikasi, berinteraksi sosial, memiliki masalah sensorik, pola bermain tertentu, dan emosi. (Iskandar & Indaryani, 2. mendefinisikan Autisme sebagai gangguan perkembangan yang muncul pada masa tumbuh kembang anak, menyebabkan mereka menghadapi tantangan dalam berkomunikasi, berinteraksi sosial, berperilaku, dan juga dalam aspek kognitif. Gejalanya biasanya muncul pada masa awal kanak-kanak, sebelum anak berusia 3 tahun. Sementara itu, (Mangunsong, 2. mengklasifikasikan anak autis dalam beberapa kategori: Autis Ringan Anak dengan autis ringan masih dapat melakukan kontak mata meski dalam jangka waktu singkat. Mereka mampu memberikan sejumlah kecil respons saat JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 2 . , 2023. Page 96-110 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 dipanggil namanya, menunjukkan ekspresi wajah, dan berkomunikasi secara dua arah, meski hal ini terjadi hanya sesekali. Autis Sedang Anak dengan autis sedang masih dapat melakukan sedikit kontak mata, tetapi tidak memberikan respons saat dipanggil namanya. Mereka cenderung menunjukkan perilaku agresif atau hiperaktif, menyakiti diri sendiri, acuh, dan memiliki gangguan motorik yang stereotipik yang cukup sulit untuk dikendalikan, namun masih dapat dikelola. Autis Berat Anak dengan autis derajat berat menunjukkan perilaku yang sangat sulit untuk dikendalikan. Biasanya, mereka akan memukul-mukulkan kepala mereka ke dinding berulang kali dan terus-menerus tanpa henti. Meski orang tua berupaya mencegah, anak tetap tidak memberikan respons dan terus melakukan aksi tersebut. Bahkan saat berada dalam pelukan orang tua, anak yang autis tetap memukulmukulkan kepalanya. Anak hanya akan berhenti setelah merasa lelah dan kemudian langsung tertidur (Mujiyanti et al. , 2. Anak Berkebutuhan Khusus Secara Akademik Anak Berkesulitan Belajar Menurut (Fatah et al. , 2. , kesulitan belajar merujuk pada berbagai bentuk hambatan nyata dalam melakukan aktivitas seperti mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, berpikir, dan/atau berhitung. Anak-anak yang mengalami kesulitan belajar biasanya disebut dengan istilah masalah belajar atau kesulitan belajar, yang termasuk dalam kelompok disabilitas belajar (LD) atau masalah belajar dalam pendidikan khusus. Anak-anak ini membutuhkan dukungan khusus karena hambatan yang mereka alami. Menurut (Hayden, 2. karakteristik anak dengan kebutuhan khusus yang mengalami kesulitan belajar dapat dilihat dari beberapa aspek berikut: Adanya kesenjangan antara potensi dan prestasi mereka. Keterbatasan dalam proses psikologis. Kesulitan dalam menyelesaikan tugas akademik dan proses belajar. (Suparno, 2. menyatakan bahwa klasifikasi anak yang mengalami kesulitan belajar spesifik dapat dilihat berdasarkan tingkat usia dan jenis kesulitannya, yaitu: JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 2 . , 2023. Page 96-110 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 Dispraksia Ini adalah gangguan yang berhubungan dengan keterampilan motorik. Anak-anak dengan dispraksia sering tampak kurang terampil dalam melakukan aktivitas motorik, seperti sering menjatuhkan benda yang dipegang atau memecahkan gelas saat minum. Dysgraphia Ini menunjukkan kesulitan dalam menulis, yang bisa disebabkan oleh gangguan motorik sehingga tulisan sulit dibaca oleh orang lain, aktivitas motorik yang sangat lambat, atau hambatan pada ideo motorik yang mengakibatkan sering terjadi kesalahan antara apa yang dikatakan dengan apa yang ditulis. Diskalkulia Ini adalah kesulitan dalam berhitung dan matematika, yang sering disebabkan oleh gangguan pada memori dan logika. Disleksia Ini adalah kesulitan dalam membaca, baik dalam hal membaca dasar maupun Disphasia Kesulitan: Ini menunjukkan kesulitan dalam berbahasa, di mana anak sering melakukan kesalahan dalam berkomunikasi, baik melalui tulisan maupun Body awareness Anak dengan kondisi ini tidak memiliki kesadaran tubuh yang baik, sering salah dalam memprediksi gerakan tubuh dan sering menabrak saat berjalan. Anak Berbakat Anak berbakat adalah individu yang memiliki kemampuan unggul yang memungkinkan mereka untuk mencapai prestasi yang tinggi. Istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan anak-anak yang memiliki kecerdasan atau kemampuan di atas rata-rata anak normal. Berikut ini adalah beberapa ciri-ciri anak Mereka memiliki rasa penasaran yang sangat tinggi. Mereka memiliki minat yang luas, termasuk terhadap isu-isu yang biasanya menarik bagi orang dewasa. JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 2 . , 2023. Page 96-110 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 Mereka memiliki inisiatif dan mampu bekerja secara independen. Mereka mampu memberikan jawaban yang baik. Mereka bisa menghasilkan banyak ide. Mereka fleksibel dalam berpikir dan terbuka terhadap rangsangan dari lingkungan. Mereka memiliki kemampuan pengamatan yang tajam. Mereka mampu berkonsentrasi untuk waktu yang lama, khususnya pada tugas atau bidang yang mereka minati. Mereka memiliki kemampuan berpikir kritis, termasuk mampu melakukan Berdasarkan standar Stanford Binet, anak-anak berbakat dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kategori, yaitu: Kategori rata-rata tinggi: ini adalah anak-anak yang memiliki kapasitas intelektual atau IQ antara 110 sampai 119. Kategori superior: Anak-anak dalam kategori ini memiliki kapasitas intelektual atau IQ antara 120 sampai 139. Kategori sangat superior: Anak-anak dalam kategori ini memiliki kapasitas intelektual atau IQ antara 140 sampai 169. Broken Home Dalam buku "Antara Broken Home dan Konsumerisme" yang ditulis oleh Yuni Retnowati, 'broken home' dijelaskan sebagai kondisi keluarga yang mengalami Dengan kata lain, 'broken home' merujuk pada situasi di mana seorang anak kehilangan perhatian dan kasih sayang keluarga, biasanya akibat perceraian orang tua. Sebagai hasilnya, anak tersebut hanya tinggal dengan satu orang tua kandung. Ciri-ciri anak broken home diantaranya seperti pemberontak, pendiam, temperamental, sulit percaya kepada orang lain, lebih peka, posesif dan selalu menyembunyikan perasaannya. ABK Berbakat CIBI (Cerdas Istimewa Berbakat Istimew. Anak CIBI adalah anak-anak yang memiliki kecerdasan dan kreativitas yang lebih tinggi dari rata-rata anak-anak lainnya. Mereka sering dikenal sebagai "anak berbakat" atau "gifted child". Mereka juga dianggap sebagai anak-anak dengan kebutuhan khusus karena tingginya tingkat kecerdasan dan kemampuan mereka JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 2 . , 2023. Page 96-110 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 seringkali membuat mereka kesulitan untuk berinteraksi dan bersosialisasi dengan Hal ini dapat membuat mereka merasa berbeda atau bahkan dianggap aneh oleh lingkungan sekitar mereka (Danastri & Desiningrum, 2. Beberapa karakteristik yang umumnya dimiliki oleh anak berbakat adalah mereka cenderung memiliki kepercayaan diri yang tinggi, berani mengambil resiko . engan pertimbangan yang matan. , selalu penasaran, dan lebih menyukai aktivitas yang bersifat kreatif (Idris. Menurut penelitian oleh (Alimin, 2. , ada empat area utama yang mencirikan anak berbakat: karakteristik belajar, motivasi, kreativitas, dan sosioemosional: Karakteristik belajar: Anak berbakat biasanya belajar lebih cepat dan lebih mudah dibandingkan anak-anak lainnya, suka tantangan dan tugas kompleks, memiliki pengetahuan luas, dan memiliki kosakata yang lebih baik dan lebih lancar daripada anak-anak seusianya. Mereka juga cenderung mahir dalam memecahkan masalah, suka mengajukan pertanyaan kritis dan tak terduga, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Karakteristik motivasi: Anak berbakat biasanya senang bekerja secara independen, memiliki komitmen yang kuat terhadap tugas yang mereka ambil, dan bertekad untuk menyelesaikan tugas tersebut. Karakteristik kreativitas: Anak berbakat biasanya memiliki kepekaan estetika yang tinggi, suka melakukan eksperimen, spontan dalam mengekspresikan humor, dan memiliki banyak ide ketika menghadapi tantangan. Karakteristik sosio-emosional: Anak berbakat biasanya memiliki kepercayaan diri yang tinggi, cenderung perfeksionis, mudah beradaptasi dengan situasi baru, dan lebih suka bersosialisasi dengan orang-orang yang lebih tua atau memiliki minat yang sama. Keterbatasan penelitian ini antara lain: interpretasi peneliti terhadap sumbersumber yang digunakan dapat mempengaruhi hasil penelitian, keterbatasan data penelitian bergantung pada ketersediaan sumber dan informasi yang ada. Jika informasi atau data tertentu tidak tersedia dalam literatur publik, ini dapat membatasi Selain itu sumber-sumber yang digunakan dalam library research juga bisa JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 2 . , 2023. Page 96-110 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 memiliki bias penulis asli, penelitian library research mungkin kurang dalam konteks empiris atau pengalaman langsung dengan fenomena yang diteliti. Hal ini bisa berdampak pada kapasitas peneliti untuk memahami dan menerjemahkan nuansa dan kompleksitas topik, hasil penelitian berdasarkan library research bisa jadi tidak dapat digeneralisasi ke populasi yang lebih luas karena data yang digunakan berasal dari sumber tertulis yang mungkin tidak mencerminkan populasi secara keseluruhan. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) adalah istilah yang digunakan untuk menggantikan "Anak Luar Biasa (ALB)", yang mengindikasikan adanya kondisi khusus atau unik. ABK memiliki karakteristik dan klasifikasi yang berbeda-beda, dan karena alasan ini, mereka membutuhkan pendidikan yang dirancang khusus sesuai dengan kemampuan dan potensi unik mereka. ABK adalah anakanak yang memiliki keterbatasan atau kelebihan dalam aspek fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial. Pendidikan untuk ABK termasuk dalam kategori pendidikan khusus, dan dapat diberikan melalui jalur formal pendidikan, mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Pendidikan Dasar, hingga Pendidikan Menengah. Penelitian di masa depan dapat lebih mendalami klasifikasi anak berkebutuhan khusus secara mental, emosional, dan akademis, serta mengeksplorasi cara-cara baru untuk mengidentifikasi dan memahami kebutuhan mereka. Penelitian lebih lanjut juga dapat memfokuskan pada aspek-aspek spesifik dari karakteristik dan klasifikasi anak berkebutuhan khusus, seperti pengembangan strategi pendekatan yang lebih efektif untuk mendukung kebutuhan mereka dalam bidang akademik, sosial, dan emosional. Penelitian di masa depan dapat mempertimbangkan pengembangan intervensi dan pendekatan pendidikan yang inovatif dan efektif untuk anak-anak berkebutuhan khusus, serta mengevaluasi dampaknya terhadap perkembangan mereka. Penelitian dapat memperluas fokusnya untuk melibatkan orang tua dan pendidik dalam memahami dan mendukung kebutuhan anak-anak berkebutuhan khusus, serta mengeksplorasi cara-cara untuk memperkuat keterlibatan mereka dalam proses JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 2 . , 2023. Page 96-110 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 UCAPAN TERIMA KASIH Kami ingin mengucapkan terima kasih yang tulus kepada semua pihak yang telah mendukung dan membantu dalam proses penelitian ini. Kepada blind-reviewers yang telah memberikan umpan balik dan saran yang sangat berharga dalam artikel ini. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua anak berkebutuhan khusus dan keluarga mereka, yang kehidupannya menjadi inspirasi dan motivasi untuk penelitian ini. Semoga penelitian ini dapat memberikan kontribusi dalam upaya untuk memahami dan memenuhi kebutuhan Terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan, baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam penelitian ini. Semoga hasil dari penelitian ini bisa memberikan manfaat dan menjadi inspirasi bagi penelitian selanjutnya. DAFTAR PUSTAKA