Masruroh dan Ignasius. Analisis Kinerja Keuangan pada PT PLN (Perser. ISSN: 2302-4119 Analisis Kinerja Keuangan Pada PT PLN (Perser. Distribusi Jawa Barat dan Banten Masruroh Binus University masruroh2000@yahoo. Ignasius Dwi Martito Nugroho Binus University dwimartito@yahoo. Abstract The research objective would like to know the analysis of financial statements to assess the performance of the company at PT PLN (Perser. Distribusi Jawa Barat dan Banten. The research method is a method of time series analysis, which is done by comparing the financial statement for several years . , so that it can be seen developments and trends. Analysis using ratio analysis can provide an assessment of the companyAos financial performance, terms of the ratio of liquidity, solvency and profitability as well as itAos financial performance target are given from PT PLN Kantor Pusat, among others Biaya Pokok Penyediaan (BPP). OPEX Non Fuel. Umur Piutang Pelanggan (COP). Pertumbuhan Penjualan. Penyerapan Disburse Investasi APLN. Pengadaan Kendaraan Listrik dan Biaya Administrasi per Pelanggan. The data used is secondary data which includes the companyAos financial balance sheet and income statement for three . years 2011-2013. Conclude the performance of PT PLN (Perser. Distribusi Jawa Barat dan Banten viewed from the perspective of the general financial performance achievement in 2012 is better than in 2013 and 2011, while the achievement of the performance of the year 2013 at the lower of the two periods in 2011 and 2012 related to the change in policy and a good rule of the rule of the central government or Kantor Pusat PLN Keywords: Financial Statement Analysis. Financial Performance. Ratios Liquidity. Solvency Ratios. Profitability Ratios Abstrak Tujuan penelitian ingin mengetahui analisis laporan keuangan untuk menilai kinerja perusahaan pada PT PLN (Perser. Distribusi Jawa Barat dan Banten. Metode penelitian adalah metode analisis time series, yang dilakukan dengan membandingkan laporan keuangan selama beberapa tahun . , sehingga dapat dilihat perkembangan dan kecenderungannya. Analisis menggunakan analisis rasio dapat memberikan penilaian terhadap kinerja keuangan perusahaan, terms of ratio likuiditas, solvabilitas dan profitabilitas serta target kinerja keuangan yang diberikan dari PT PLN Kantor Pusat, antara lain Biaya Pokok Penyediaan (BPP). OPEX Non Bahan Bakar. Umur Piutang Pelanggan (COP). Pertumbuhan Penjualan. Penyerapan Disburse Investasi APLN. Pengadaan Kendaraan Listrik dan Biaya Administrasi per Pelanggan. Data yang digunakan adalah data sekunder yang mencakup neraca keuangan perusahaan dan laporan laba rugi selama tiga . tahun 2011-2013. Menyimpulkan kinerja PT PLN (Perser. Distribusi Jawa Barat dan Banten dilihat dari perspektif pencapaian kinerja keuangan umum pada tahun 2012 lebih baik dari tahun 2013 dan 2011, sedangkan pencapaian kinerja tahun 2013 berada di bawah dua periode tahun 2011 dan 2012 terkait dengan perubahan kebijakan dan aturan yang baik dari aturan pemerintah pusat atau Kantor Pusat PLN Kata Kunci: Analisis Laporan Keuangan. Kinerja Keuangan. Rasio Likuiditas. Rasio Solvabilitas. Rasio Profitabilitas Pendahuluan Tarif dasar listrik atau biasa disingkat TDL adalah tarif yang boleh dikenakan oleh pemerintah untuk para pelanggan PLN. PLN adalah satu-satunya perusahaan yang boleh menjual listrik secara langsung kepada masyarakat Indonesia, maka tarif dasar listrik bisa dibilang adalah tarif untuk penggunaan listrik di Indonesia. Kenaikan tarif dasar listrik atau TDL pada akhir-akhir ini sungguh membuat masyarakat dalam situasi ekonomi yang sulit, harga barang pokok yang ikut naik dan hal ini ternyata disebabkan oleh naiknya tarif dasar Kenaikan tarif dasar listrik dilaksanakan karena upaya pengurangan subsidi, pemerintah berusaha tentang kenaikan tarif dasar listrik ini agar tidak menyusahkan rakyat kecil. PLN mengakui bahwa kenaikan tarif dasar listrik dilaksanakan untuk meningkatkan kinerja PLN sendiri dan meringankan beban APBN. Dimulai dari penambahan pembangkit kecil dan genset untuk memenuhi kebutuhan listrik di daerah-daerah kecil yang membutuhkan listrik serta penambahan trafo di berbagai pembangkit listrik di daerah Jakarta dan kota besar lainnya, penambahan inilah salah satu faktor dari kenaikan tarif dasar listik. PT PLN (Perser. sebagai organisasi perusahaan yang bersifat profit sehingga dalam penilaian terhadap kinerja keuangan perusahaan tersebut dapat menggunakan analisis rasio. Untuk mengukur tingkat kinerja keuangan perusahaan dapat digunakan alat analisis yang disebut analisis rasio keuangan. Untuk melakukan analisis rasio keuangan, diperlukan perhitungan rasio-rasio keuangan yang mencerminkan aspek-aspek tertentu. Rasio-rasio keuangan mungkin dihitung berdasarkan atas angka-angka yang ada dalam neraca saja, dalam laporan rugi-laba saja, atau pada neraca dan laporan rugi-laba. Setiap analisis keuangan bisa saja merumuskan rasio tertentu yang dianggap mencerminkan aspek tertentu (Husnan, 2011 : Analisis laporan keuangan berarti menguraikan akun-akun laporan keuangan menjadi unit infromasi yang lebih kecil dan melihat hubungannya yang bersifat signifikan atau yang mempunyai makna antara yang satu dengan yang lain baik antara data kuantitatif mau- Jurnal Ekonomi. Manajemen dan Perbankan. Vol. 2 No. 3 Desember 2016: 125-133 pun data non-kuantitatif dengan tujuan untuk mengetahui kondisi keuangan lebih dalam yang sangat penting dalam proses menghasilkan keputusan yang tepat. (Harahap, 2009:. Perjalanan PT PLN Distribusi Jawa Barat dan Banten cukup panjang. Untuk memenuhi tuntutan perubahan dan perkembangan kelistrikan yang dari tahun ke tahun cenderung mengalami peningkatan, maka keluarlah Keputusan Direksi PT PLN (Perser. No. K/010/ DIR/2001 tanggal 20 Februari 2001 yang menjadi landasan hukum perubahan nama PT PLN (Perser. Distribusi Jawa Barat menjadi PT PLN (Perser. Unit Bisnis Distribusi Jawa Barat. Pada akhirnya, dengan mengacu pada Keputusan Direksi PT PLN (Perser. No. K/010/DIR/2002 tanggal 27 Agustus 2002. PT PLN (Perser. Unit Bisnis Distribusi Jawa Barat berubah lagi namanya menjadi PT PLN (Perser. Distribusi Jawa Barat dan Banten, di mana wilayah kerjanya meliputi Propinsi Jawa Barat dan Propinsi Banten, hingga saat ini. PT PLN (Perser. sebagai organisasi perusahaan yang bersifat profit sehingga dalam penilaian terhadap kinerja keuangan perusahaan tersebut dapat menggunakan analisis rasio. Dalam hal ini perusahaan yang dimaksud adalah PT PLN (Perser. Distribusi Jawa Barat dan Banten dilihat dari rasio likuiditas, solvabilitas dan Rumusan masalah dari penelitian ini adalah melihat bagaimana kondisi keuangan PT PLN (Perser. Distribusi Jawa Barat dan Banten pada periode 20112013 dan sejauh mana pencapaian kinerja keuangan sesuai target yang diberikan PT PLN (Perser. Kantor Pusat. Sedangkan penelitian ini bertujuan untuk menganalisis laporan keuangan terhadap kinerja keuangan selama periode 2011-2013 ditinjau dari likuiditas, solvabilitas, dan profitabilitas serta kinerja keuangan sesuai target yang diberikan dari PT PLN (Perser. Kantor Pusat. Tinjauan Literatur Analisis Laporan Keuangan Menurut Kasmir . , analisis laporan keuangan merupakan kegiatan yang dilakukan setelah laporan keuangan disusun berdasarkan data yang relevan, serta dilakukan dengan prosedur akuntansi dan penilaian yang benar, akan terlihat kondisi keuangan perusahaan yang sesungguhnya. Menurut Harahap . , analisis laporan keuangan berarti menguraikan akun-akun laporan keuangan menjadi unit infromasi yang lebih kecil dan melihat hubungannya yang bersifat signifikan atau yang mempunyai makna antara yang satu dengan yang lain baik antara data kuantitatif maupun data non-kuantitatif dengan tujuan untuk mengetahui kondisi keuangan lebih dalam yang sangat penting dalam proses menghasilkan keputusan yang tepat. Secara umum analisis laporan keuangan perusahaan pada dasarnya merupakan penghitungan rasio-rasio untuk menilai keadaan keuangan dalam rangka membantu mengevaluasi posisi keuangan dan hasil operasi perusahaan pada masa sekarang dan masa lalu, dengan tujuan untuk menentukan estimasi dan prediksi yang paling mungkin mengenai kondisi dan kinerja perusahaan pada masa mendatang. Ada beberapa cara yang dapat digunakan di dalam menganalisis keadaan keuangan perusahaan, tetapi analisis dengan menggunakan rasio merupakan hal yang ISSN: 2302-4119 sangat umum dilakukan di mana hasilnya akan memberikan pengukuran relatif dari operasi perusahaan. Data pokok sebagai input dalam analisis rasio ini adalah laporan laba-rugi dan neraca perusahaan. Dengan kedua laporan ini akan dapat ditentukan sejumlah rasio dan selanjutnya rasio ini dapat digunakan untuk menilai beberapa aspek tertentu dari operasi perusahaan. Menurut Syamsuddin . , pada pokoknya ada dua cara yang dapat dilakukan di dalam membandingkan rasio finansial perusahaan, yaitu Cross-sectional approach dan Time series analysis. Cross sectional approach adalah suatu cara mengevaluasi dengan jalan membandingkan rasio-rasio antara perusahaan yang satu dengan perusahaan lainnya yang sejenis pada saat yang bersamaan. Time series analysis dilakukan dengan jalan membandingkan rasio-rasio finansial perusahaan dari satu periode ke periode lainnya. Pembandingan antara rasio yang dicapai saat ini dengan rasio-rasio pada masa lalu akan memperlihatkan apakah perusahaan mengalami kemajuan atau kemunduran. Tujuan dan Manfaat Analisis Laporan Keuangan Ada beberapa tujuan dan manfaat bagi berbagai pihak dengan adanya analisis laporan keuangan. Menurut Munawir . , tujuan analisis laporan keuangan merupakan alat yang sangat penting untuk memperoleh informasih sehubungan dengan posisi keuangan dan hasil-hasil yang telah dicapai perusahaan yang bersangkutan. Data keuangan tersebut akan lebih berarti bagi pihak-pihak yang berkepentingan apabila data tersebut diperbandingkan untuk dua periode atau lebih, dan dianalisa lebih lanjut sehingga akan dapat diperoleh data yang akan dapat mendukung keputusan yang akan diambil. Kelemahan Analisis Laporan Keuangan Menurut Harahap . , kelemahan analisis laporan keuangan adalah: Analisis laporan keuangan didasarkan pada laporan keuangan, oleh karenanya kelemahan laporan keuangan harus selalu diingat agar kesimpulan dari analisis itu tidak salah. Objek analisis laporan keuangan hanya laporan Untuk menilai suatu laporan keuangan tidak cukup hanya angka-angka laporan keuangan. Kita juga harus melihat aspek-aspek lainnya seperti tujuan perusahaan, situasi ekonomi, situasi industri, gaya manajemen, budaya perusahaan dan budaya masyarakat. Objek analisis adalah data historis yang menggambarkan masa lalu dan kondisi ini bisa berbeda dengan kondisi masa depan. Rasio Keuangan Pengertian rasio keuangan menurut. Van Horne dalam Kasmir . merupakan indeks yang menghubungkan dua angka akuntansi dan diperoleh dengan membagi satu angka dengan angka lainnya. Rasio keuangan digunakan untuk mengevaluasi kondisi keuangan dan kinerja perusahaan. Dari hasil rasio keuangan ini akan terlihat kondisi kesehatan perusahaan yang bersang- Masruroh dan Ignasius. Analisis Kinerja Keuangan pada PT PLN (Perser. Menurut Harahap . , rasio keuangan merupakan angka yang diperoleh dari hasil perbandingan dari satu akun laporan keuangan dengan akun lainnya yang mempunyai hubungan yang relevan dan signifikan. Rasio keuangan ini hanya menyederhanakan informasi yang menggambarkan hubungan antara pos tertentu dengan pos lainnya. Dengan penyederhanaan ini dapat dinilai secara cepat hubungan antara pos dan dapat membandingkannya dengan rasio lain sehingga diperoleh informasi dan memberikan penilaian. Bentuk-bentuk Rasio Keuangan Untuk mengukur kinerja keuangan perusahaan dengan menggunakan rasio-rasio keuangan, dapat dilakukan dengan beberapa rasio keuangan. Berikut adalah bentuk-bentuk dari rasio keuangan, yaitu : Rasio Likuiditas (Liquidity Rati. Rasio Solvabilitas (Leverage Rati. Rasio Profitabilitas (Profitability Rati. Rasio Likuiditas (Liquidity Rati. Menurut Weston dalam Danang S. , dikatakan bahwa rasio likuiditas merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Sedangkan menurut Kasmir . , rasio likuiditas merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan untuk membayar utang-utang . jangka pendeknya yang jatuh tempo, atau rasio untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam membiayai dan memenuhi kewajiban . pada saat ditagih. Menurut Harahap . , rasio likuiditas merupakan rasio yang mengukur kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Untuk dapat memenuhi kewajibannya yang sewaktu-waktu ini, maka perusahaan harus mempunyai alat-alat untuk membayar yang berupa aset-aset lancar yang jumlahnya harus jauh lebih besar dari pada kewajiban-kewajiban yang harus segera dibayar berupa kewajiban-kewajiban lancar. Rasio Solvabilias (Leverag. Menurut Sutrisno . AuRasio Solvabilitas adalah rasio-rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi semua kewajibannya apabila perusahaan dilikuidasi. Ay Menurut Harahap . , rasio leverage merupakan rasio yang mengukur seberapa jauh perusahaan dibiayai oleh kewajiban atau pihak luar dengan kemampuan perusahaan yang digambarkan oleh ekuitas. Setiap penggunaan utang oleh perusahaan akan berpengaruh terhadap rasio dan pengembalian. Rasio ini dapat digunakan untuk melihat seberapa resiko keuangan perusahaan. Rasio Profitabilitas (Profitability Rati. Bagi perusahaan umumnya mempunyai tujuan paling utama adalah mendapatkan keuntungan yang optimal. Meskipun demikian masalah profitabilitas adalah lebih penting dari pada masalah laba, karena laba yang besar saja belumlah merupakan ukuran bagi perusahaan tersebut telah bekerja dengan efisien. Efisien baru dapat diketahui dengan membandingkan laba usaha perusahaan tersebut atau dengan kata lain adalah menghitung ISSN: 2302-4119 Menurut Sutrisno . AuProfitabilitas adalah hasil dari kebijaksanaan yang diambil oleh Rasio keuntungan untuk mengukur seberapa besar tingkat keuntungan menunjukkan semakin baik manajemen dalam mengelola perusahaan. Ay Menurut Husnan dan Pujiastuty . AuRasio Profitabilitas yang mengukur efisiensi penggunaan aktiva perusahaan atau mungkin sekelompok aktiva perusahaan. Ay Dari pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa profitabilitas suatu perusahaan merupakan pencerminan kemampuan modal perusahaan untuk mendapatkan keuntungan. Oleh karena, profitabilitas merupakan pencerminan efisiensi suatu perusahaan di dalam menggunakan modal kerja, maka cara menggunakan tingkat profitabilitas untuk ukuran efisiensi suatu perusahaan merupakan cara yang baik. Kinerja Kinerja adalah hasil yang diperoleh oleh suatu organisasi baik organisasi tersebut bersifat profit oriented dan non profit oriented yang dihasilkan selama satu periode waktu. Menurut Amstrong dan Baron dalam Fahmi . mengatakan kinerja merupakan hasil pekerjaan yang mempunyai hubungan kuat dengan tujuan strategis organisasi, kepuasan konsumen dan memberikan kontribusi ekonomi. Kinerja juga dapat digambarkan sebagai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi, visi perusahaan yang tertuang dalam perumusan strategi planning suatu perusahaan. Penilaian tersebut tidak terlepas dari proses yang merupakan kegiatan mengolah masukan menjadi keluaran atau penilaian dalam proses penyusunan kebijakan/ program/ kegiatan yang dianggap penting dan berpengaruh terhadap pencapaian sasaran dan tujuan. Oleh karena itu, tugas dalam konteks penilaian kinerja, tugas pertama pimpinan organisasi adalah menentukan perspektif kinerja yang mana yang akan digunakan dalam memaknai kinerja dalam organisasi yang Manajemen Kinerja Pengertian dari manajemen kinerja adalah suatu ilmu yang memadukan seni di dalamnya untuk menerapkan suatu konsep manajemen yang memiliki tingkat fleksibilitas yang representatif dan aspiratif guna mewujudkan visi dan misi perusahaan dengan cara mempergunakan orang yang ada di organisasi tersebut secara Suatu organisasi yang professional tidak akan mampu mewujudkan suatu manajemen kinerja yang baik tanpa ada dukungan yang kuat dari seluruh komponen manajemen perusahaan dan juga tentunya para pemegang saham. Karena dalam konteks manajemen modern suatu kinerja yang sinergis tidak akan bisa berlangsung secara maksimal jika pihak pemegang saham atau para komisaris perusahaan hanya bertugas untuk menerima keuntungan tanpa memperdulikan berbagai persoalan internal dan eksternal yang terjadi di perusahaan tersebut. Permasalah yang dihadapi oleh manajemen perusahaan juga menjadi masalah yang harus dipecahkan Jurnal Ekonomi. Manajemen dan Perbankan. Vol. 2 No. 3 Desember 2016: 125-133 oleh pihak pemegang saham. Penerapan manajemen kinerja menurut Wibowo dalam Fahmi . merupakan kebutuhan mutlak bagi organisasi untuk mencapai tujuan dengan mengatur kerja sama secara harmonis dan terintegrasi antara pemimpin dan bawahannya. Manajemen kinerja akan dapat diwujudkan jika ada hubungan dan keinginan yang sinergi antara atasan dan bawahan dalam usaha bersama-sama mewujudkan visi dan misi perusahaan. Untuk itu salah satu dasar mewujudkan konsep manajemen kinerja adalah dengan mengembangkan dan mengedepankan komunikasi yang efektif antar berbagai pihak baik di lingkungan internal perusahaan dan eksternal perusahaan. Fungsi dan Peran Manajemen Kinerja Adapun fungsi manajemen kinerja adalah mencoba memberikan suatu pencerahan dan jawaban dari berbagai permasalahan yang terjadi di suatu organisasi baik yang disebabkan oleh faktor internal dan eksternal, sehingga apa yang dialami pada saat ini tidak membawa pengaruh yang negatif bagi aktivitas perusahaan pada saat ini dan yang akan datang. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh suatu organisasi agar berfungsi dan berperannya manajemen kinerja dengan baik, yaitu : Pihak manajemen perusahaan harus mengedepankan konsep komunikasi yang bersifat multi Artinya manajemen perusahaan tidak menutup diri dengan berbagai informasi yang masuk dan mengkomunikasikan berbagai informasi tersebut namun tetap mengedepankan konsep filter information. Artinya informasi yang masuk diterima namun dianggap layak . dan tidak layak . untuk dijadikan input dan selanjutnya informasi tersebut di jadikan sebagai bahan kajian. Perolehan berbagai informasi yang diterima dari proses filter information di jadikan sebagai bahan kajian pada forum berbagai pertemuan dalam pengembangan manajemen kinerja terhadap pencapaian hasil kerja dan sebagainya. Menurut Robert Bacal dalam Fahmi . bahwa Aumanajemen kinerja dapat menyediakan forum-forum terjadwal untuk mendiskusikan kemajuan kerja, sehingga para karyawan dapat menerima umpan balik yang mereka perlukan untuk menilai seberapa jauh pencapaian mereka, dan mengetahui di mana posisi mereka Ay. Konsep ini dianggap efektif untuk terus melakukan perbaikan yang bersifat Pihak manajemen suatu organisasi menerapkan sistem standar prosedur yang bersertifikasi dan diakui oleh lembaga yang berkompeten dalam Pada tahun 1987 International Organization for Standardization (ISO) mengeluarkan lima standar sistem manajemen mutu. Kelima standar itu adalah: ISO 9000 Ae Quality management and quality assurance standart guidelines for selection and use. ISO 9001 Ae Quality systems-Model for quality assurance in design/development, production, installation, and servicing. ISO 9002 Ae Quality systems-Model for assur- ISSN: 2302-4119 ance in production and installation. ISO 9003 Ae Quality systems-Model for quality assurance in final inspection and test. ISO 9004 Ae Guidelines-Quality management and quality system elements. Pihak manajemen perusahaan menyediakan anggaran khusus untuk pengembangan manajemen kinerja yang diharapkan. Seperti mendirikan lembaga penjaminan mutu. Dimana lembaga mutu ini bertugas untuk menilai dan memberikan masukan kepada pihak-pihak yang dianggap tidak atau belum menjalankan fungsi sebagaiman mestinya. Seperti bagian produksi dianggap bekerja tidak sesuai dengan target, bagian produksi dianggap bekerja tidak sesuai dengan target, bagian marketing melakukan pemborosan biaya iklan yaitu dianggap promosi selama ini tidak efektif dan efisien sehingga jika dibiarkan bisa menurunkan angka penjualan, dan lain sebagainya. Pembuatan time schedule kerja yang realistis dan feasible . Pembuatan time schedule kerja bertujuan agar tercapainya pekerjaan sesuai dengan yang ditargetkan. Sebenernya banyak manfaat yang bisa diperoleh dari adanya time schedule kerja ini, yaitu: Pihak manajer perusahaan dapat menjadikan time schedule kerja sebagai salah satu acuan dalam melihat prestasi kerja karyawan. Para karyawan dapat bekerja secara lebih focus, dan bisa mengantisipasi berbagai permasalahan yang akan timbul karena segala sesuatu telah terjadwal, bahkan mereka bisa melaksanakan dan menyelesaikan pekerjaan lebih cepat dari waktu yang ditentukan. Permasalahn yang sering dijumpai adalah seringnya pembuatan time schedule kerja yang tidak realistis dan feasible. Dampaknya adalah para karyawan harus bekerja di bawah tekanan, kondisi ini memberi pengaruh kesehatan karyawan, dan jika terjadi kecelakaan kerja maka perusahaan harus menanggung biaya untuk pengobatan, bahkan jika sering terjadi akan menurunkan kredibilitas di mata publik dan mitra bisnis. Pihak manajemen perusahaan dalam menjalankan dan mengeluarkan berbagai kebijakan mengedepankan konsep prudential principle . rinsip kehati-hatia. Prudential principle ini penting untuk diterapkan karena suatu kebijakan yang telah dikerluarkantidak mungkin diubah lagi, jika pun itu diubah tidak boleh terlalu sering dapat dilakukan. Jika itu terlalu sering diubah maka perusahaan harus siap menanggung akibatnya seperti pihak manajemen dianggap tidak memiliki konsistensi dalam bersikap. Metode Penelitian Jenis metode yang digunakan dalam penelitian analisis laporan keuangan menggunakan metode time series Metode time series analysis dilakukan dengan cara membandingkan rasio-rasio laporan keuangan untuk beberapa tahun . , sehingga dapat diketahui perusahaan mengalami perkembangan atau kemunduran. Jenis data yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah data kuantitatif yaitu data yang dinyatakan Masruroh dan Ignasius. Analisis Kinerja Keuangan pada PT PLN (Perser. dalam angka dan dianalisis dengan teknik statistik yang meliputi laporan tahunan . nnual repor. Penelitian ini juga menggunakan data sekunder yaitu data yang diberikan oleh PT PLN (Perser. Distribusi Jawa Barat dan Banten. Teknik analisis laporan keuangan yang paling banyak dipakai dalam praktik. Dalam menggunakan teknik analisis rasio, yang perlu ditekankan adalah arti dan kegunaan dari masing-masing angka rasio tersebut. Teknik analisis yang digunakan oleh penulis dalam analisis rasio adalah A Rasio Likuiditas yang terdiri dari: rasio lancar, rasio cepat, rasio kas. A Rasio Solvabilitas yang terdiri dari: rasio hutang terhadap ekuitas, rasio hutang terhadap total asset. A Rasio Profitabilitas yang terdiri dari: margin laba penjualan, margin laba bersih, rasio pengembalian investasi (ROI), rasio pengembalian modal (ROE), rasio rentabilitas. Sistem penilaian tingkat kinerja perspektif keuangan PT PLN (Perser. Distribusi Jawa Barat dan Banten adalah A Biaya Pokok Penyediaan (BPP) A OPEX Non-Fuel A Biaya Administrasi per Pelanggan A Penyerapan Disburse Investasi APLN A Pertumbuhan Penjualan A Umur Piutang (COP) A Pengadaan Kendaraan Listrik Kemudian dilakukan analisis laporan keuangan dari setiap variabel yang ada, dengan tujuan akhir untuk menilai kinerja perusahaan PT PLN (Perser. Distribusi Jawa Barat dan Banten. Diharapkan hasil implikasi dari penelitian ini, perusahaan akan dapat melihat penilaian kinerja sehingga kedepannya perusahaan dapat mengembangkan dan meningkatkan produktivitas menjadi lebih Hasil dan Pembahasan Rasio Likuiditas Pada tabel 1, terlihat bahwa rasio lancar di tahun 2013 dalam keadaan sehat atau lebih baik bila dibanding dengan tahun 2011, dan tahun 2012, yang menandakan ISSN: 2302-4119 tingkat likuiditas perusahaan lebih baik. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat likuiditas atas rasio cepat perusahaan mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Menurunnya rasio kas perusahaan ini disebabkan oleh bertambahnya kas dan setara kas yang juga diikuti oleh kewajiban lancar perusahaan yang meningkat setiap tahunnya, terutama naiknya kewajiban lancar di tahun 2013 yang tidak diimbangi dengan peningkatan kas dan setara kas perusahaan sehingga rasio kas memperoleh persentase yang lebih kecil dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Rasio Solvabilitas Berdasarkan hasil perhitungan rasio hutang atas aktiva (Tabel . maka dapat dikatakan bahwa sebagian aktiva maupun investasi perusahaan masih didanai oleh hutang dikarenakan persentase rasio hutang atas aktiva yang semakin membesar dari tahun 2011 ke tahun 2012 dan menurun lagi pada tahun 2013. Berdasarkan hasil perhitungan rasio hutang atas ekuitas (Tabel . menunjukkan bahwa perusahaan dibiayai oleh utang semakin besar dari tahun ke tahun. Rasio Profitabilitas Berdasarkan hasil pada Tabel 6 dapat diketahui bahwa rasio marjin laba operasi semakin memburuk atas operasi suatu perusahaan. Tabel 7 menunjukkan rasio marjin laba bersih semakin memburuk atas operasi suatu Dari Tabel 8 dapat diketahui bahwa ROI semakin turun maka indikator tingkat efektivitas manajemen dalam menggunakan aktiva untuk memperoleh pendapatan semakin memburuk. Dari Tabel 9 dapat terlihat bahwa ROE perusahaan dari tahun 2011, 2012 dan 2013 sama nilainya sebesar 100% karena saldo Ekuitas di PLN Distribusi Jawa Barat dan Banten berasal dari laba bersih tahun berjalan. Dapat dilihat pada tabel 10 bahwa rasio rentabilitas menurun menunjukkan kemampuan dari Aktiva Tetap Aktiva Lancar suatu perusahaan untuk menghasilkan keuntungan masih belum optimal. Dari Tabel 11, dapat kita analisis sebagai berikut: A Untuk kinerja COP . mur piutang pelangga. tercapai dari target 2,75 hari realisasi 1,71 hari dengan bobot nilai 5. Tabel 1. Rasio Lancar Tahun Aktiva Lancar . utaan Rp. 812,210 872,763 4,824,053 Hutang Lancar . utaan Rp. 2,014,602 2,159,466 3,306,797 Rasio Lancar (%) Sumber: Hasil Pengolahan Data Tahun Aktiva Lancar . utaan Rp. 812,210 872,763 4,824,053 Tabel 2. Rasio Cepat Persediaan Hutang Lancar . utaan Rp. utaan Rp. 531,356 2,014,602 569,729 2,159,466 355,875 3,306,797 Rasio Cepat (%) Sumber: Hasil Pengolahan Data Jurnal Ekonomi. Manajemen dan Perbankan. Vol. 2 No. 3 Desember 2016: 125-133 ISSN: 2302-4119 Tabel 3. Rasio Kas Tahun Kas Bank . utaan Rp. Utang Lancar . utaan Rp. 2,014,602 2,159,466 3,306,797 Rasio Kas (%) Sumber: Hasil Pengolahan Data Tabel 4. Rasio Hutang atas Aktiva Tahun Total Hutang . utaan Rp. Total Aktiva . utaan Rp. 5,229,302 6,476,040 8,644,071 10,870,313 12,589,517 17,945,577 Sumber: Hasil Pengolahan Data Tahun Rasio Hutang atas Aktiva (%) Tabel 5. Rasio Hutang atas Ekuitas Total Hutang Modal Sendiri . utaan Rp. 5,229,302 6,476,040 8,644,071 Rasio Hutang atas Ekuitas (%) . utaan Rp. 16,509,758 13,333,833 2,834,324 Sumber: Hasil Pengolahan Data Untuk kinerja BPP . iaya pokok penyediaa. tidak tercapai dari target Rp. 836,13 realisasi Rp. 845,96 dengan nilai bobot 1,98. Untuk kinerja Biaya Administrasi per pelanggan tercapai dari target Rp. 45,696 realisasi Rp. 40,357 dengan nilai bobot 5. Untuk kinerja Pertumbuhan Penjualan tercapai dari target 6,19 % realisasi 6,90 % dengan nilai Tahun Dari Tabel 12, dapat kita analisis sebagai berikut: A Untuk kinerja BPP . iaya pokok penyediaa. tercapai dari target Rp. 951 realisasi Rp. 935 dengan nilai bobot 6. A Untuk kinerja COP . mur piutang pelangga. tercapai dari target 1,6 hari realisasi 0,96 hari dengan bobot nilai 4. A Untuk kinerja Biaya Administrasi per Pelanggan tercapai dari target Rp. 46,758,- realisasi Rp. Tabel 6. Rasio Marjin Laba Operasi Laba Operasi Pendapatan Operasi . utaan Rp. 16,566,374 13,408,687 2,979,785 Marjin Laba Operasi . utaan Rp. 51,351,009 55,269,999 51,620,257 (%) Sumber: Hasil Pengolahan Data Tahun Tabel 7. Rasio Marjin Laba Bersih Laba Bersih Penjualan . utaan Rp. utaan Rp. 16,509,758 51,351,009 13,333,833 55,269,999 2,834,324 51,620,257 Marjin Laba Bersih (%) Sumber: Hasil Pengolahan Data Tahun Tabel 8. Rasio Pengembalian Investasi (ROI) Laba Bersih Total Aktiva ROI utaan Rp. 16,509,758 13,333,833 2,834,324 (%) Sumber: Hasil Pengolahan Data . utaan Rp. 10,870,313 12,589,517 17,945,577 Masruroh dan Ignasius. Analisis Kinerja Keuangan pada PT PLN (Perser. ISSN: 2302-4119 Tabel 9. Rasio Pengembalian Modal (ROE) Tahun Laba Bersih Ekuitas ROE . utan Rp. 16,509,758 13,333,833 2,834,324 utaan Rp. 16,509,758 13,333,833 2,834,324 (%) Sumber: Hasil Pengolahan Data Tahun Tabel 10. Rasio Rentabilitas Laba Sebelum Rata-Rata . ktiva Pajak tetap aktiva lanca. utaan Rp. 16,509,758 13,333,833 2,834,324 utaan Rp. 10,441,666 11,315,789 14,796,191 Rentabilitas (%) Sumber: Hasil Pengolahan Data 42,402,- dengan nilai bobot 3. Untuk kinerja Penyerapan Disburse Investasi APLN tidak tercapai dari target program pemasaran Rp. 043,- realisasi 2. 991,dengan nilai bobot 2,99. Dari Tabel 13, dapat kita analisis sebagai berikut: A Untuk kinerja OPEX Non Fuel tercapai dari target Rp. 270 realisasi Rp. 923 dengan nilai A Untuk kinerja COP . mur piutang pelangga. tercapai dari target 2,6 hari realisasi 2,3 hari dengan bobot nilai 7. A Untuk kinerja Penyerapan Disburse Investasi APLN tidak tercapai karena dari target Rp. 782,- realisasi Rp. A Untuk kinerja Pengadaan Kendaraan Listrik tercapai dari target 100% realisasi 100% dikarenakan terciptanya 1 buah kendaraan mobil listrik. Kesimpulan dan Saran Simpulan Berdasarkan dari hasil analisis dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa : Kondisi keuangan PT PLN (Perser. Distribusi Jawa Barat dan Banten dalam 3 . tahun ber- turut-turut tahun 2011, 2012 dan 2013 adalah sebagai berikut: Rasio Likuiditas : secara keseluruhan menunjukkan kearah perbaikan antara lain rasio lancar dan rasio cepat, hal ini menunjukkan tingkat likuiditas perusahaan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Rasio Solvabilitas : menunjukkan bahwa perusahaan dibiayai oleh hutang semakin besar dari tahun ke tahun. Rasio Profitabilitas : menunjukkan bahwa kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tahun 2013 belum optimal diluar kendali perusahaan. enaikan yang cukup signifikan atas beban bunga obligasi da ruigi kurs bersih disbanding tahun-tahun sebelumny. Kinerja PT PLN (Perser. Distribusi Jawa Barat dan Banten dalam 3 . tahun berturut-turut tahun 2011, 2012 dan 2013 adalah sebagai berikut: Penilaian tingkat kinerja tahun 2011: yang mencapai target ada 3 . indikator yaitu Umur Piutang Pelanggan (COP). Biaya Administrasi per Pelanggan dan Pertumbuhan Penjualan, sedangkan yang tidak mencapai target ada 1 . indikator yaitu Biaya Pokok Tabel 11. Penilaian Tingkat Kinerja Tahun 2011 Sumber: PT PLN (Perser. Distribusi Jawa Barat dan Banten Jurnal Ekonomi. Manajemen dan Perbankan. Vol. 2 No. 3 Desember 2016: 125-133 ISSN: 2302-4119 Tabel 12. Penilaian Tingkat Kinerja Tahun 2012 Sumber: PT PLN (Perser. Distribusi Jawa Barat dan Banten Tabel 13. Penilaian Tingkat Kinerja Tahun 2013 Sumber: PT PLN (Perser. Distribusi Jawa Barat dan Banten Penyediaan (BPP), dikarenakan tidak tercapainya kWh Penjualan Tenaga Listrik. Penilaian tingkat kinerja tahun 2012 yang mencapai target ada 3 . yaitu indikator Biaya Pokok Penyediaan (BPP). Umur Piutang Pelanggan (COP) dan Biaya Administrasi per Pelanggan, sedangkan yang tidak mencapai target ada 1 . indikator yaitu Penyerapan Disburse Investasi APLN dikarenakan tidak tercapainya pelaksanaan investasi Program Pemasaran. Penilaian tingkat kinerja tahun 2013 yang mencapai target ada 3 . indikator yaitu OPEX Non Fuel. Umur Piutang Pelanggan dan Pengadaan Kendaraan Listrik sedangkan yang tidak mencapai target ada 1 . indikator yaitu Penyerapan Disburse Investasi APLN, dikarenakan penjualan tenaga listrik tidak tercapai dan penyerapan investasi Program Perkuatan Jaringan serta Pembebasan Tanah. Saran