Jurnal Rekayasa Hijau ISSN: 2550-1070 No. 3 | Vol. November 2018 Analisis Hubungan Kualitas Air Terhadap Indeks Keanekaragaman Plankton dan Bentos Di Waduk Cirata Ilma Prasiwi dan Eka Wardhani Jurusan Teknik Lingkungan. Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan. Itenas. Bandung Email: ilmaprasiwi@yahoo. ABSTRAK Waduk Cirata merupakan salah satu danau buatan yang terdapat di Provinsi Jawa Barat. Waduk Cirata terletak berurutan . diantara Waduk Saguling dan Jatiluhur yang membendung Sungai Citarum. Telah diketahui kualitas air sungai yang masuk ke Waduk Cirata telah tercemar dan menyebabkan kualitas air Waduk Cirata menurun. Berdasarkan hal tersebut maka diperlukan suatu penelitian untuk mengetahui kualitas air menggunakan metode indeks pencemaran dengan indikator plankton dan bentos. Lokasi sampling dilakukan di Sungai Citarum. Cibalagung. Cicendo dan perairan Waduk Cirata di Desa Mande dan Margaluyu. Status mutu air sungai dan air Waduk Cirata dikategorikan cemar sedang. Parameter kualitas air sungai dan perairan Waduk Cirata yang melebihi baku mutu yaitu DO. BOD. Nitrit. Klorin Bebas. Timbal, dan Fenol. Total beban pencemaran dari 3 sungai yang masuk ke Waduk Cirata adalah BOD sebesar 10,839 kg/hari. Nitrit sebesar 0,336 kg/hari. Klorin Bebas sebesar 16,685 kg/hari. Timbal sebesar 0,083 kg/hari dan Fenol sebesar 0,008 kg/hari. Keanekaragaman plankton dan bentos di Desa Mande dan Margaluyu yaitu Di Desa Mande, spesies yang mendominasi fitoplankton yaitu Volvox sp. dan zooplankton yaitu Brachionus calyciflorus. Sedangkan bentos spesies yang mendominasi yaitu Filopaludina sp. Desa Margaluyu, spesies yang mendominasi fitoplankton yaitu Volvox sp. dan zooplankton yaitu Moina sp. Sedangkan bentos spesies yang mendominasi yaitu Macrobrachium sp. Kata Kunci: Cirata. Citarum. Kualitas Air. Beban Pencemaran. Plankton. Bentos ABSTRACT Cirata Reservoir is one of the artificial lakes in West Java Province. Cirata Reservoir is located in a cascade between Saguling and Jatiluhur Reservoir which damages the Citarum River. It is known that the quality of river water entering the Cirata Reservoir has been polluted and caused the water quality of the Cirata Reservoir to decrease. Based on this, a study is needed to find out the quality of water using the pollution index method with plankton and benthic indicators. Sampling locations were carried out in the Citarum. Cibalagung. Cicendo and Cirata Reservoir waters in Mande and Margaluyu Villages. The status of river water quality and the water of Cirata Reservoir are categorized as medium pollution. Parameters of river and water quality of the Cirata Reservoir that exceed the quality standards are DO. BOD. Nitrite. Free Chlorine. Lead and Phenol. The total pollution load from the 3 rivers that enter the Cirata Reservoir is BOD of 10. 839 kg/day. Nitrite of 336 kg/day. Free Chlorine of 16. 658 kg/day. Lead of 0. 083 kg/day and Fenol of 0. 008 kg/day. The diversity of plankton and benthos in Mande and Margaluyu villages is medium. In Mande Village, the species that dominates phytoplankton namely Volvox sp. and zooplankton are Brachionus Whereas the dominating benthic species. Filopaludina sp. In Margaluyu Village, the species that dominate the phytoplankton. Volvox sp. and zooplankton. Moina sp. Whereas the dominating benthic species are Macrobrachium sp. Keywords: Cirata. Citarum. Water Quality. Pollution Load. Plankton. Bentos Jurnal Rekayasa Hijau - 221 Ilma Prasiwi dan Eka Wardhani PENDAHULUAN Waduk Cirata merupakan salah satu danau buatan yang terdapat di Provinsi Jawa Barat. Pembangunan Waduk Cirata ditujukan untuk memenuhi kebutuhan listrik Jawa-Bali. Waduk Cirata dibangun tahun 1984 dengan cara membendung Sungai Citarum yang berhulu di Gunung Wayang Kabupaten Bandung dan bermuara di Laut Jawa Kabupaten Karawang setelah melalui Kabupaten Bandung. Bandung Barat. Purwakarta dan Karawang. Volume air maksimum waduk ini sebanyak A 2. 165 juta meter kubik (PT. Pembangkit Jawa Bali Unit Pengelola (PJB UP) Cirata, 2. Berkembangnya masyarakat di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, berpengaruh terhadap pola pemanfaatan sumber daya alam. Berdasarkan data yang diperoleh dari PT. PJB UP Cirata tahun 2017, status mutu air Waduk Cirata termasuk ke dalam kategori buruk. Parameter yang melebihi baku mutu yaitu DO. H2S. Tembaga (C. , dan Timbal (P. Baku mutu yang dipersyaratkan yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air (PKA) dan Pengendalian Pencemaran Air (PPA) untuk kelas II yaitu prasarana/sarana rekreasi air, pembudidayaan ikan tawar, peternakan, pertamanan, dan peruntukkan lain dengan syarat kualitas yang sama. Waduk Cirata selain berfungsi sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), juga dipergunakan sebagai sumber air irigasi, dan tempat budidaya Keramba Jaring Apung (KJA). Kualitas air suatu badan perairan dapat ditentukan oleh banyak faktor seperti zat terlarut, zat yang tersuspensi dan makhluk hidup yang ada di dalam badan perairan tersebut. Indikator biologi merupakan kelompok atau komunitas organisme yang kehadirannya atau perilakunya di alam berkorelasi dengan kondisi Plankton dan bentos dapat digunakan sebagai indikator biologi dalam suatu badan Beberapa biota air ini memang mempunyai peranan penting dalam perairan seperti dalam proses dekomposisi dan mineralisasi material organik yang memasuki perairan, serta menduduki beberapa tingkatan trofik dalam rantai makanan (Odum, 1. Sehubungan dengan tercemarnya Waduk Cirata maka diperlukan suatu penelitian untuk mengetahui kualitas air Waduk Cirata dan air sungai yang masuk ke waduk tersebut. Penelitian ini dapat memberikan gambaran yang lebih jelas tentang kondisi lingkungan di Waduk Cirata. Kabupaten Purwakarta. Provinsi Jawa Barat. Hasil penelitian diharapkan dapat dijadikan informasi yang berguna bagi masyarakat, dan acuan bagi pengelola Waduk Cirata dalam melakukan pengendalian pencemaran air di perairan tersebut. METODE PENELITIAN 1 Lokasi Pengambilan Sampel Pengambilan sampel air dilakukan pada tanggal 15 Agustus 2017 mewakili musim kemarau. Jumlah titik pengambilan sampel air, plankton dan bentos untuk di daerah perairan Waduk Cirata di ambil di 2 titik yaitu di Desa Mande dan Margaluyu, sedangkan pengambilan sampel air lainnya di 3 titik sungai yang masuk ke Waduk Cirata yaitu Sungai Citarum. Cibalagung dan Cicendo. Tabel 1 dan Gambar 1 menjelaskan lokasi titik sampling. Jurnal Rekayasa Hijau - 22 Analisis Hubungan Kualitas Air Terhadap Indeks Keanekaragaman Plankton dan Bentos Di Waduk Cirata Titik Sungai - Citarum Tabel 1. Lokasi Titik Sampling Lokasi Koordinat Jembatan Rajamandala 6o49Ao38. 05Ay S 107O19Ao22. 85Ay E - Cibalagung Jembatan Jangari 6o44Ao31. 05Ay S 107O15Ao59. 99Ay E - Cicendo Jembatan Cibogo 6o45Ao20. 16Ay S 107O19Ao47. 80Ay E Genangan Waduk Cirata Desa Mande - Mande (Permukaan. Kedalalaman 5 m dan 21 . Desa - Margaluyu (Permukaan. Margaluyu Kedalalaman 5 m dan 36 . Sumber: Hasil Survey lapangan, 2017 Alasan Merupakan sumber air utama yang masuk ke Waduk Cirata setelah Waduk Saguling. Daerah Aliran Sungai terdapat kegiatan domestik, pertanian dan Merupakan aliran sungai yang dekat dengan TPA Sarimukti. 6o43Ao31. 06Ay S 107O15Ao07. 97Ay E Merupakan daerah KJA. 6o46Ao24. 04Ay S 107O17Ao44. 72Ay E Bukan merupakan daerah KJA. Gambar 1. Peta Waduk Cirata Sumber: google earth, 2018 2 Metode Pengambilan Sampel Sampel Air di 5 Titik Sampling Pengambilan sampel air di 2 titik sampling yaitu Desa Mande dan Margaluyu dilakukan berdasarkan 3 kedalaman yaitu permukaan, kedalaman 5 meter berdasarkan kedalaman KJA, dan kedalaman 21 dan 36 m berdasarkan kedalaman dasar waduk daripada masing-masing titik sampling. Pengambilan sampel air sungai berdasarkan pada SNI 6989. 57:2008 tentang metode pengambilan contoh air permukaan, di mana air diambil pada permukaan sungai. Daerah kedalaman perairan lebih dari 30 m, maka berdasarkan SNI 6989. 57:2008 tentang pengambilan sampel dilakukan di tiga titik kedalaman yaitu permukaan, 5 m dan dasar waduk. Penanganan sampel air penting dilakukan agar kandungan pencemar pada sampel air ketika dilakukan pengujian di laboratorium sama dengan Jurnal Rekayasa Hijau - 22 Ilma Prasiwi dan Eka Wardhani kandungan polutan sampel air dilapangan. Alat ukur yang digunakan pada penelitian ini adalah WQC (Water Quality Checke. Parameter yang dianalisis meliputi suhu, pH, kekeruhan dan oksigen terlarut. Alat pengambilan sampel air yang digunakan adalah Vertical Water Sampler dengan volume 4 liter. Volume sampel air yang diambil untuk pemeriksaan kualitas air di laboratorium sebanyak 2 liter. Wadah contoh air yang digunakan adalah botol Winkler, botol PE, botol gelas dan botol gelas yang sudah disterilisasi. Penanganan contoh air dilakukan dengan penambahan beberapa bahan pengawet untuk mempertahankan konsentrasi analit terhadap beberapa parameter yang akan dilakukan pengujian, sehingga hasil pengujian akan menunjukan nilai sebenarnya sesuai dengan sampel Metode penanganan contoh air yang dilakukan adalah sebagai berikut: . Asam Nitrat (HNO. untuk parameter logam-logam selain merkuri (H. Asam Sulfat (H2SO. untuk parameter COD. NH3. NO3. Minyak dan Fenol. Natrium Hidroksida (NaOH) untuk parameter Sianida (CN). Seng Asetat untuk parameter Sulfida. untuk parameter BOD. Sampel Plankton dan Benthos Metode pengambilan sampel plankton dilakukan di 2 titik di Desa Mande dan Margaluyu dengan melakukan penyaringan sampel air sebanyak 30 liter menjadi 50 ml, dengan menggunakan plankton net nomor 25 yang dilengkapi tabung pengumpul plankton berukuran 50 ml. Sampel air yang mengandung plankton tersebut dikonsentrasikan ke dalam botol sampel plankton berukuran 1 ml dan diawetkan dengan larutan lugol 1,5-2 ml sampai warna sampel air menjadi kuning. Metode pengambilan sampel bentos . akro invertebrat. dilakukan dengan cara mengambil sampel lumpur/substrat dari permukaan waduk yang menempel di gulma atau bambu ataupun kayu yang Sampel yang mengandung bentos kemudian disimpan pada wadah dan diawetkan dengan menggunakan larutan formalin 4-10 persen. 3 Metode Analisis Sampel Kualitas Air Pengujian sampel air sungai dan air Waduk Cirata dilakukan di laboratorium Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Alam dan Lingkungan (P3SDAL) Universitas Padjadjaran Kota Bandung. Tabel 2 menjabarkan parameter dan metode pengujian kualitas air. Tabel 2. Parameter dan Metode Pengujian Kualitas Air Parameter Satuan Metode FISIKA Padatan Terlarut Total (TDS) SNI 06-6989. Padatan Tersuspensi Total (TSS) SNI 06-6989. KIMIA SNI 06-6989. Oksigen terlarut (DO) SNI 06-6989 14-2004 Kelindian (HCO. SNI 06-2421-1991 COD SNI 6989. 72:2009 BOD SNI 6989. 72:2009 Total Fosfat Sebagai P APHA 4500 P-D-2012 Nitrat (NO3-N) SNI 6989. 79:2011 Nitrit (NO2-N) SNI 06-6989. Klorin Bebas (Cl. Colometri Sulfida (H2S) SNI 6989. 70:2009 Jurnal Rekayasa Hijau - 22 Analisis Hubungan Kualitas Air Terhadap Indeks Keanekaragaman Plankton dan Bentos Di Waduk Cirata Parameter Satuan Minyak dan Lemak Tembaga (C. Seng (Z. Krom Heksavalen (Cr6 ) Timbal (P. Kadmium (C. Air Raksa (H. Arsen (A. Selenium (S. Fenol Boron (B) Kalsium (C. Kobal (C. Sianida (CN-) Detergen (MBAS) Sumber: PP No 82 Tahun 2011 tentang PKA dan PPA Metode SNI 6989. 10:2011 SNI 6989. 6:2009 SNI 6989. 7:2009 SNI 6989. 71:2009 SNI 6989. 8:2009 SNI 6989. 16:2009 SNI 6989. 78:2009 APHA 3114-C-2012 APHA 3114-C-2012 SNI 06-6989. US EPA Method No 200. SNI 06-6989 13-2004 SNI 6989. 68:2009 SNI 689. SNI 06-6989. Hasil analisa parameter kualitas air sungai dan air Waduk Cirata selanjutnya dibandingkan dengan PP No. 82 Tahun 2001 tentang PKA dan PPA kelas II. Sampel Plankton dan Bentos Analisis sampel plankton dan bentos dilakukan di laboratorium, dimana sampel plankton tersebut kemudian dideterminasi dan diidentifikasi dengan menggunakan kaca AuSedgwick-Rafter (S-R) counting cell chamberAy di bawah mikroskop binokuler. Jenis dan jumlah plankton dicatat berdasarkan kelompok taksonominya. Sampel bentos dilakukan penyaringan dan penyortiran berdasarkan jenis dengan cara menggunakan alat lup . aca pembesa. , pinset dan mikroskop binokuler. 4 Metode Analisis Data Metode Perhitungan Indeks Pencemaran (IP) Penilaian status mutu air bertujuan untuk mengetahui kualitas suatu badan air termasuk ke dalam cemar atau tidak. Penentuan status kualitas air dalam kajian ini dilakukan dengan metode indeks pencemar air sesuai Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 115 Tahun 2003 tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air. Rumus yang digunakan dalam perhitungan indeks pencemaran dapat di lihat pada Persamaan 1. ya ya &yaCya /yaUyaya . &yaCya /yaUyaya yaU yac yaayaOya = % . ya Lij = konsentrasi parameter kualitas air yang dicantumkan dalam baku mutu suatu peruntukan air . Ci = konsentrasi parameter kualitas air hasil pengukuran. Pij = Indeks Pencemaran bagi peruntukan (Tabel . (Ci/Li. M = Nilai Ci/Lij maksimum. (Ci/Li. R = Nilai Ci/Lij rata-rata. Jurnal Rekayasa Hijau - 22 Ilma Prasiwi dan Eka Wardhani Tabel 3. Evaluasi Terhadap Nilai Indeks Pencemar Nilai IP Status Air 0 O PIj O 1,0 Memenuhi baku mutu . ondisi bai. 1,0 < PIj O 5,0 Cemar ringan 5,0 < PIj O 10 Cemar sedang PIj > 10 Cemar berat Sumber: KEPMENLH No. 115 Tahun 2003 Metode Perhitungan Indeks Keanekaragaman Metode yang digunakan untuk menganalisis data biota air plankton dan bentos dengan cara menghitung nilai indeks keanekaragaman jenis menurut persamaan Shannon-Wiener. Nilai indeks keanekaragaman dapat dihitung menggunakan Persamaan 2. HAo = -Oc HAo = indeks diversitas Shannon-Weinner. ni = Jumlah total individu dari masing-masing jenis. N = Jumlah total individu seluruh jenis. Kriteria derajat pencemaran berdasarkan metode indeks keanekaragaman menurut Shannon & Wiener disajikan pada Tabel 4. Tabel 4. Kriteria Pencemaran Indeks Shannon&Wiener Derajat Indeks Diversitas Pencemaran (Keanekaragama. Komunitas biota tidak stabil . ualitas air tercemar bera. HAo<1 Stabilitas komunitas biota sedang . ualitas air tercemar sedan. 13 Sumber: Basmi, 1999 HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Analisis Kualitas Air Sungai yang Masuk Ke Waduk Cirata Parameter yang diuji sebanyak 27 parameter yang terdiri dari 2 parameter Fisika, 25 parameter Kimia. Seluruh kualitas air yang dipantau dibandingkan dengan baku mutu berdasarkan PP No. 82 Tahun 2001 tentang PKA dan PPA kelas II. Berdasarkan hasil pengukuran jumlah parameter kualitas air yang tidak memenuhi baku mutu di 3 sungai sebanyak 6 parameter. Jenis parameter yang melebihi baku mutu di sungai adalah BOD. Nitrit. Klorin Bebas. Timbal dan Fenol. Terkait parameter yang melebihi baku mutu lebih jelasnya dapat melihat uraian di bawah ini. Berdasarkan hasil pengukuran nilai DO di 3 titik sampling. Sungai Cibalagung dan Cicendo tidak memenuhi baku mutu yang dipersyaratakan dalam PP No. 82 Tahun 2001 tentang PKA dan PPA untuk kelas II sebesar 4 mg/L. Nilai masing-masing parameter DO di lokasi tersebut sebesar 3,5 mg/L dan 3,3 mg/L, untuk Sungai Citarum hasilnya memenuhi baku mutu. Tingginya kadar oksigen terlarut di Sungai Citarum dibandingkan Sungai Cibalagung dan Cicendo dapat disebabkan salah satunya oleh pergerakan . akibat derasnya aliran arus air. Kandungan oksigen terlarut dalam perairan Jurnal Rekayasa Hijau - 22 Analisis Hubungan Kualitas Air Terhadap Indeks Keanekaragaman Plankton dan Bentos Di Waduk Cirata juga berfluktuasi secara harian . dan musimam, tergantung pada percampuran . dan pergerakan . massa air, aktivitas fotosintesis, respirasi, dan limbah . yang masuk ke badan air (Effendi, 2. Konsentrasi DO di titik lokasi sampling sungai disajikan pada Gambar Berdasarkan hasil pengukuran nilai BOD di 3 titik sampling. Sungai Citarum dan Cibalagung tidak memenuhi baku mutu yang dipersyaratakan dalam PP No. 82 Tahun 2001 tentang PKA dan PPA kelas II sebesar 3 mg/L. Nilai masing-masing parameter BOD di lokasi tersebut sebesar 6,47 mg/L dan 4,95 mg/L, untuk Sungai Cicendo hasilnya memenuhi baku mutu. Tingginya kadar BOD di Sungai Citarum dan Cibalagung disebabkan adanya pencemaran yang terjadi di sekitar perairan tersebut, di mana Sungai Citarum dan Cibalagung merupakan perairan yang lingkungan sekitarnya memiliki berbagai macam aktivitas seperti pemukiman padat penduduk serta terdapat industri-industri yang limbah domestik maupun non-dometik dibuang ke sungai secara langsung tanpa adanya pengolahan sehingga mengakibatkan kadar BOD melebihi baku mutu. Kadar BOD di Sungai Cicendo lebih rendah dibandingkan kedua sungai lainnya, di mana Sungai Cicendo merupakan sungai yang alirannya berdekatan dengan TPA Sarimukti. Hal ini menunjukkan bahwa adanya keberadaan TPA Sarimukti tidak mempengaruhi kualitas sungai tersebut. Nilai BOD suatu perairan dapat dikatakan baik apabila nilai BOD memenuhi baku mutu yang diperbolehkan. Jika nilai BOD suatu perairan yang melebihi baku mutu maka dapat dikatakan telah terjadi pencemaran. Semakin tinggi nilai BOD maka semakin banyak oksigen yang dibutuhkan oleh bakteri untuk mengurai zat-zat organik dalam perairan (Davis and Cornwell, 1. Konsentrasi BOD di titik lokasi sampling sungai disajikan pada Gambar 3. Konsentrasi . g/L) Konsentrasi DO . g/L) Citarum Cibalagung Cicendo DO . g/L) Baku Mutu Gambar 2. Konsentrasi DO Citarum Cibalagung Cicendo BOD . g/L) 6,47 4,95 2,28 Baku Mutu Gambar 3. Konsentrasi BOD Berdasarkan hasil pengukuran nilai Nitrit di 3 titik sampling, hanya Sungai Citarum yang tidak memenuhi baku mutu yang disyaratakan dalam PP No. 82 Tahun 2001 tentang PKA dan PPA kelas II sebesar 0,06 mg/L. Nilai parameter Nitrit di lokasi tersebut sebesar 0,208 mg/L, sedangkan di Sungai Cibalagung dan Cicendo hasilnya memenuhi baku mutu. Penyebab tingginya kadar Nitrit di Sungai Citarum tidak terlepas dari sumber limbah industri dan limbah domestik yang membuang limbahnya secara langsung ke badan sungai tanpa adanya pengolahan terlebih dahulu dan disebabkan oleh masukan beban pencemar dari anak sungai yang alirannya masuk ke DAS Citarum. Kadar nitrit pada perairan relatif kecil karena nitrit dalam air segera dioksidasi menjadi nitrat. Perairan alami mengandung nitrit sekitar 0,001 mg/liter dan sebaiknya tidak melebihi 0,06 mg/liter (Canadian Council of Resource and Environmental Minister, 1. Kadar nitrit yang melebihi 0,05 mg/liter dapat bersifat toksik bagi organisme perairan yang sangat sensitif (Moore, 1. Konsentrasi Nitrit di titik lokasi sampling sungai disajikan pada Gambar 4. Jurnal Rekayasa Hijau - 22 Ilma Prasiwi dan Eka Wardhani 0,25 Konsentrasi . l/L) Konsentrasi . g/L) Berdasarkan hasil pengukuran nilai Klorin bebas di 3 titik sampling, semua sungai tidak memenuhi baku mutu yang disyaratakan dalam PP No. 82 Tahun 2001 tentang PKA dan PPA kelas II sebesar 0,03 mg/L. Nilai masing-masing parameter klorin bebas di lokasi tersebut sebesar 10,3 mg/L, 2,7 mg/L, dan 0,54 mg/L. Secara alami, klorin terdapat dalam bentuk ion klorida dengan jumlah relatif jauh lebih besar dibandingkan ion-ion halogen lainnya. Kadar klorin yang tinggi disebabkan oleh banyaknya limbah organik yang dibuang secara langsung ke perairan, hal ini akan berdampak pada lingkungan seperti menyebabkan air kekurangan kadar oksigen terlarut. Klorin dianggap sebagai senyawa yang beracun dan berbahaya bagi biota perairan terutama derivatnya seperti asam hipoklorin dan Kloramin. Klorin biasanya sering digunakan sebagai desinfektan untuk menghilangkan mikroorganisme yang tidak dibutuhkan, terutama bagi air yang diperuntukan untuk kepentingan domestik dan juga terkadang digunakan dalam berbagai indutri seperti klorin dalam bentuk asam klorida (HC. dapat digunakan pada industri logam sebagai bahan baku ektraksi. Konsentrasi Klorin Bebas di titik lokasi sampling sungai disajikan pada Gambar 5. 0,15 0,05 Citarum Cibalagung Cicendo Citarum Cibalagung Cicendo NO2-N . g/L) 0,208 0,031 0,014 Cl2 . g/L) 0,54 Baku Mutu 0,06 0,06 0,06 Baku Mutu 0,03 0,03 0,03 Gambar 4. Konsentrasi Nitrit Gambar Konsentrasi Klorin Bebas Berdasarkan hasil pengukuran nilai Timbal di 3 titik sampling, hanya di Sungai Citarum dan Cibalagung yang tidak memenuhi baku mutu yang disyaratakan dalam PP No. 82 Tahun 2001 tentang PKA dan PPA kelas II sebesar 0,03 mg/L. Nilai masing-masing parameter Timbal di lokasi tersebut sebesar 0,050 mg/L, dan 0,034 mg/L. Kadar timbal yang tinggi dalam perairan disebabkan oleh limbah industri dan limbah domestik yang dibuang ke badan air atau sungai secara langsung tanpa adanya pengolahan terlebih dahulu. Namun, kadar timbal dalam perairan biasanya relatif kecil karena tingkat kelarutannya rendah. Kadar timbal pada perairan tawar alami biasanya yaitu <0,05 mg/liter (Moore. Konsentrasi Timbal di titik lokasi sampling disajikan pada Gambar 6. Berdasarkan hasil pengukuran nilai Fenol di 3 titik sampling, hanya di Sungai Citarum dan Cicendo yang tidak memenuhi baku mutu yang disyaratakan dalam PP No. 82 Tahun 2001 tentang PKA dan PPA kelas II sebesar 0,001 mg/L. Nilai masing-masing parameter Fenol di 2 sungai yaitu sama sebesar 0,005mg/L. Penyebab kadar fenol tinggi dalam perairan dapat berupa limbah industri dan limbah Senyawa fenol ditemukan dari proses pemurnian minyak, industri kimia, tekstil, plastik, dan lain-lain. Dampak adanya keberadaan fenol di perairan dengan kadar lebih dari 0,01 mg/liter bersifat toksik bagi ikan (UNESCO/WHO/UNEP, 1. Konsentrasi Fenol di titik lokasi sampling sungai disajikan pada Gambar 7. Jurnal Rekayasa Hijau - 22 0,06 0,006 0,05 0,005 Konsentrasi . g/L) Konsentrasi . g/L) Analisis Hubungan Kualitas Air Terhadap Indeks Keanekaragaman Plankton dan Bentos Di Waduk Cirata 0,04 0,03 0,02 0,01 0,004 0,003 0,002 0,001 Citarum Cibalagung Cicendo Citarum Cibalagung Cicendo Pb . g/L) 0,0509 0,034 0,0085 Fenol . g/L) 0,005 0,005 Baku Mutu 0,03 0,03 0,03 Baku Mutu 0,001 0,001 0,001 Gambar 6. Konsentrasi Timbal (P. Gambar 7. Konsentrasi Fenol Indeks pencemaran merupakan salah satu metode yang digunakan untuk menetukan status mutu air suatu sumber air. Status mutu air menunujukan tingkat kondisi mutu sumber air dalam kondisi cemar atau kondisi baik dengan membandingkan dengan baku mutu yang telah ditetapkan. Hasil Perhitungan indeks pencemaran di 3 sungai disajikan pada Tabel 5. Tabel 5. Status Mutu Sungai Sungai Nilai Indeks Pencemar (IP) Citarum 9,75 Cibalagung 7,74 Cicendo 7,92 Sumber: Hasil Perhitungan Indeks Pencemar (IP), 2018 Status Cemar Sedang Cemar Sedang Cemar Sedang Berdasarkan Tabel 5 dapat dilihat bahwa nilai Indeks Pencemaran pada Sungai Citarum cenderung lebih besar dibandingkan Sungai Cibalagung dan Cicendo. Keadaan ini menunjukan besarnya masukan beban pencemar yang masuk ke Sungai Citarum sehingga tingkat beban pencemaran lebih Berdasarkan KepMenLH No. 115 Tahun 2003 tentang pedoman penentuan status mutu air, nilai indeks pencemaran yang berada pada kisaran 5,0