Prosiding Seminar Nasional Bahasa. Sastra, dan Seni 2022 Fakultas Bahasa dan Seni. Universitas Negeri Jakarta PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENDIRIAN KAMPUNG BAHASA SEBAGAI BAGIAN DARI WISATA EDUKASI: PERSEPSI MULTIPIHAK Rahayu Purbasari1. Atikah Ruslianti2. Ati Sumiati3. Hudiyekti Parasetyaningtyas4. Nurul Adha Kurniati5. Rahmat Darmawan6 Padma Azzahra7. Winda Sukma Ardhianti8 Universitas Negeri Jakarta 1,2,3,4,5,6 ,7,8 Email Address rpurbasari@unj. Keywords: language village, educational tourism, multi-perceptions Abstrak This multi-year service community activity is expected to improve the lives of the villagers whose village as one of the educational tourism Therefore, a need analysis is conducted for the first year. As part of the need analysis this paper aims to expose the stakeholdersAo perception for the establishment of a language village at Desa Cisaat. Kecamatan Ciater. Subang. West Java. Desa Cisaat. Ciater. Subang as a fostered village of Jakarta State University (UNJ) has enormous potential for community development and empowerment, especially in the areas of education, tourism as well as culture and art. Establishing a language village requires many aspects. Two prominent aspects are the village potentials and the stakeholderAos perception for the establishment of language village. Interviews and delivering questionnaires were used to collect data from the multi parties as the stakeholders for four themes: prior knowledge, the potential, preparation and model. The data which present the stakeholderAos perception of the four themes show that the villagers welcome the establishment of a language village at Desa Cisaat. Ciater. Subang because it will support the community empowerment and They are also highly motivated in learning foreign language as they are aware of the importance of language skill. Pendahuluan Upaya pemerintah untuk mengembangkan dan memberdayakan masyarakat agar mampu melakukan perubahan dalam rangka meningkatkan kualitas potensi daerah dikenal dengan pemberdayaan masyarakat (Hayati, 2. Pemberdayaan masyarakat lokal dalam pengembangan pariwisata tak terlepas dari partisipasi masyarakat (Adebayo and Butcher, 2022. Novelli, 2015. Okazaki, 2. Noe & Kangalawe . menyebutkan community-based tourism . ariwisata berbasis masyarakat atau CBT) merupakan salah satu pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan bottom-up Masyarakat diharapkan bisa berpartisipasi tidak hanya sebagai konsumen tetapi juga dapat menyampaikan aspirasi mereka serta memiliki posisi tawar. Hal ini ditegaskan oleh Murphy . Aupemberdayaan memberi masyarakat kemampuan untuk mengartikulasikan perspektif mereka sendiri dan mewujudkannyaAy. Desa Binaan merupakan salah satu sarana dalam menerapkan pembedayaan masyarakat. Desa Cisaat. Kecamatan Ciater. Kabupaten Subang, yang menjadi salah satu desa binaan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) sejak tahun 2020, merupakan desa wisata yang mengembangkan wisata edukasi yang kegiatannya bersifat rekreatif-edukatif yang dikemas dalam pola perjalanan wisata. Dari sisi wisata edukasi, desa ini sangat potensial untuk dikembangkan baik dari sumber daya alam maupun sumber daya manusianya. Salah satu yang bisa dikembangkan adalah pendirian kampung bahasa. Di Indonesia, kampung bahasa pertama kali ada di Pare. Kediri. Jawa Timur yang disebut Kampung Inggris Pare yang berdiri sejak tahun 1977. Dalam studi etnografinya yang bertajuk English Education Village Tourism Budi Hermawan . mengamati bahwa Kampung Inggris berkembang menjadi Kampung Wisata Pendidikan yang dalam hal ini wisata merupakan alasan yang berpengaruh atas kunjungan pembelajar, khususnya kaum milineal, datang ke kampung Inggris. Selain belajar, di akhir pekan mereka berwisata di daerah sekitar Pare. Kediri . Fenomena ini menarik banyak pihak: siswa, orang tua, guru, 205 | Rahayu Purbasari pengusaha, dll. Pada tahun 1990 muncul kampung atau desa bahasa di kawasan nusantara dengan konsep yang mirip atau berbeda dari Kampung Inggris Pare. Desa-desa tersebut adalah Desa Inggris Bandung. Desa Bahasa Borubudur. English Camp Lembah Harau Sumatera Barat, dll yang dikelola oleh pihak swasta. Kampung bahasa terbaru ada di Gresik yang diluncurkan oleh Dinas Pendidikan Daerah (Dispendi. pada Juli 2022 dengan konsep: belajar bahasa Inggris sambil jalan-jalan. Desadesa bahasa tersebut di atas menunjukkan bahwa pendirian kampung bahasa masih prospektif. Mualifah dan Roekminiati . dalam artikelnya mengemukakan bahwa masyarakat Kampung Inggris di Pare. Kediri, dengan datangnya mahasiswa dari luar daerah yang memelajari berbagai bahasa seperti bahasa Inggris. Arab. Mandarin dan lain-lain mendatangkan pendapatan pasif hingga 40% bagi masyarakat Desa Tulungrejo dan Desa Pelem. Dengan demikian, pemberdayaan masyarakat bisa diwujudkan melalui pendirian kampung bahasa. Metode Metode pelaksanaa yang digunakan di dalam kegiatan pengabdian ini adalah metode survey melalui wawancara dan pemberian kuesioner sebagai bagian dari analisis kebutuhan untuk mengetahui persepsi sejumlah pihak dalam pendirian kampung bahasa. Berdasarkan uraian di atas, penulis ingin mengkaji lebih mendalam alasan dan saran responden terkait dengan pendirian kampung bahasa di Desa Cisaat. Ciater. Subang. Jawa Barat. Kegiatan pengabdian yang bersifat muti tahun ini, untuk tahun pertama, adalah menampung aspirasi masyarakat, kesiapan masyarakat dan persiapan yang diperlukan terkait pendirian kampung bahasa. Responden yang diwawancara dapat dilihat di tabel 1 berikut ini: Tabel. 1 Pemangku kepentingan yang disurvei terkait pendirian Kampung Bahasa di Desa Cisaat. Subang Pemangku kepentingan yang diwawancara Jumlah yang diwawancara Kode Sekdes Pokdarwis Pengelola homestay Petani Guru Dosen Dsn Mahasiswa Mhs Pengelola UPT Bahasa Aparat Desa Mayarakat Desa Akademisi Dari ketujuhbelas responden, tujuh orang diwawancari secara langsung dan direkam dengan persetujuan partisipan dan hasil wawancara ditranskrip. enam orang menjawab melalui kuesioner dan dua orang melalui voice notes (VN) dengan persetujuan partisipan dan ditranskrip hasil VN nya. Tema wawancara meliputi empat hal: . pengetahuan tentang kampung bahasa. potensi Desa Cisaat dalam pendirian kampung bahasa. hal-hal yang perlu diperiapkan. model kampung Tabel 2 Ringkasan hasil wawancara Kategori Aparat Desa tentang kampung Pernah mendengar apa itu kampung potensi Desa Cisaat dalam kampung bahasa hal-hal yang Sarana prasarana Kampung Prosiding Seminar Nasional Bahasa. Sastra, dan Seni 2022 | Masyarakat Desa Akademisi Ada yang sudah dan ada yang belum pernah mendengar apa itu kampung tahu apa itu kampung bahasa Sarana prasarana Sarana prasarana Hasil dan Pembahasan Pembahasan hasil kegiatan wawancara dan pemberian kuesioner dilihat dari responden yang Seperti yang terlihat dalam Tabel 2 di atas, ada tiga kategori responden dalam kegiatan ini dengan empat tema utama yang diajukan. Selanjutnya pembahasan hasil wawancara dan kuesioner berdasarkan empat tema utama Pengetahuan tentang kampung bahasa Dari tema ini, ada dua kelompok yakni aparat desa dan masyarakat desa yang bisa dikatakan masuk kategori belum sepenuhnya terinformasi tentang apa itu kampung bahasa. Aparat dan masyarakat desa yang dimaksud di sini adalah aparat dan masyarakat Desa Cisaat. Ciater. Subang. Perangkat atau aparat desa dalam hal ini diwakili oleh sekretaris desa dan anggota kelompok sadar wisata . sedangkan masyarakat diwakili oleh pendidik, pengelola homestay dan petani. Secara umum, dari pihak aparat desa mengaku pernah mendengar apa yang disebut dengan kampung bahasa. sedangkan dari masyarakat desa, pengelola homestay dan petani mengaku belum pernah mendengar sedangkan tiga pendidik mengaku sudah mendengar bahkan bisa memberi gambaran apa itu kampung bahasa: Kalau menurut saya mah, kampung bahasa itu mungkin di desa itu ada suatu sekolah yang ada bahasanya, misalnya Bahasa Inggris. Di kampung itu, warganya menggunakan suatu bahasa seperti Bahasa Inggris tadi. (Gr. Kalau menurut saya. Kampung Bahasa itu jadiA Di suatu kampung itu terdiri dari beberapa bahasa yang digunakan di kampung tersebut seperti bahasa Indonesia. Sunda. Inggris, mungkin untuk dipelajari dan digunakan untuk berkomunikasi. (Gr. Pernyataan di atas memperlihatkan bahwa perangkat dan masyarakat desa masih perlu mendapat informasi lebih lengkap dan lebih rinci mengenai apa itu kampung bahasa. Informasi ini diperlukan agar pendirian kampung bahasa sesuai dengan situasi dan kondisi dari masyarakat desa dan bisa memenuhi kebutuhan pelanggan nantinya. Masih ada satu hal penting lagi yang perlu diperhatikan terkait kampung bahasa. Salah seorang akademisi menyarankan untuk memperhatikan istilah kampung bahasa: AuA Dari konteks wisata antara desa wisata dan kampung wisata memiliki pemaknaan yang berbeda . sebetulnya ini lebih dilihat dari perspektif geografis sajaAy (Dsn . Selain peristilahan, jika konsep bahasa merujuk kepada bahasa asing responden dari akademisi kajian pariwisata ini berpandangan sebagai berikut: AuA jangan sampai nanti ketika kampung bahasa ini berjalan baik A konsep bahasa asing, namun tetap bahasa lokalnya atau mungkin bahasa Indonesianya sebagai bahasa nasional tidak terkikis, tapi justru ini akan menjadi penambahan skill baru bagi masyarakat setempat maupun masyarakat pendatangAy (Dsn . Dengan demikian, pada tema pengetahuan tentang kampung bahasa ada tiga hal yang perlu diperhatikan: peristilahan, sosialisasi dan konsep kampung bahasa. Potensi Desa Cisaat dalam pendirian kampung bahasa 207 | Rahayu Purbasari Semua kelompok menyatakan bahwa Desa Cisaat. Ciater. Subang sangat berpotensi dalam pendirian kampung bahasa dikarenakan lokasi desa Cisaat yang dekat dengan sejumlah destinasi wisata di sekitar Lembang. Selain itu. Desa Cisaat memiliki potensi umum yang meliputi empat industri pengolahan . engolahan nanas pengolahan arang, pengolahan susu, kerajinan Bonsa. Sport industry . aralayang, cross country, biking, trackin. , pengolahan biogas dan pupuk organik. Lapangan olahraga Zidane, sumber mata air pegunungan sebagai bahan baku air mineral, agrowisata perkebunan sayuran, budidaya Ikan Koi/Nila Merah, wisata ziarah Situs Cikahuripan, kesenian Jaipong dan Sisingaan, dan UMKM (Batik dan pengolahan makana. Potensi ini memperlihatkan relevansi kampung bahasa dengan wisata edukasi. Salah satu akademisi yang bergerak di kajian pariwisata mengatakan: A Kampung bahasa ini masih relevan dengan wisata edukasi, menurut saya, tentu saja dalam konsep kampung bahasa yang saya pahami. Dari beberapa literatur, . ini menawarkan nilai pembelajaran pengalaman baru atau mungkin juga belajar dengan cara yang berbeda di mana sebelumnya pengunjung belum pernah merasakan atmosfer yang ada di tempat asalnya. (Dsn . Namun demikian, ada satu pendapat responden yang perlu dipertimbangkan mengenai potensi dan relevansi tersebut. Beliau mengatakan: AuA perlu dipertimbangkan juga dengan sekarang sudah sangat menggunakan digital, jadi saat seandainya nanti betul-betul terbentuk kampung Bahasa di Desa Cisaat mungkin A tim akan sangat baik sekali jika memang mampu mengombinasikan atau memadukan antara kekayaan alam di sana dengan perkembangan tekhnologi khususnya digital. Ay (M) Beliau lebih lanjut menyampaikan pemikirannya mengenai usulan kegiatan berkenaan dengan potensi pendirian kampung bahasa mengingat tantang yang cukup besar dalam pendirian kampung AuA Mungkin kita balik bu, jadi artinya Kampung Bahasa di sini Ibu mengundang misalnya sekolah boarding school anak-anaknya sambil liburan di sana, justru mereka dengan kita buat game yang fun, mereka yang mengajarkan Bahasa Inggris untuk anak-anak disana. Atau Ibu mengundang misalnya perusahaan-perusahaan asing yang karyawannya setau saya sudah banyak membuat program ke Nah jadi justru pegawai-pegawai dari perusahaan asing itu atau lokal, mereka sambil liburan ke Cisaat, sambil mereka memberikan pelatihan Bahasa Inggris untuk masyarakat disana. Tapi memang ini tidak menjadikan income, tidak mendapatkan income untuk desa itu, tapi menjadi salah satu daya tarik kegiatan sosial dari sekolah dan sebagainya. Mungkin pada saat ini bisa bekerjasama dengan pariwisatanya, jadi sebetulnya saat mereka pariwisata disitu, harganya sudah ditambahkan dengan pada saat mereka memberikan pelatihan Bahasa Inggris Mengingat potensi alam, budaya dam SDM yang ada di Desa Cisaat merupakan aset dan modal yang cukup bisa menarik kosumen datang belajar bahasa sambil berwisata, usulan di atas perlu Hal-hal yang perlu dipersiapkan Tidak dipungkiri bahwa pendirian kampung atau desa bahasa merupakan projek besar yang memerlukan persiapan yang cukup lumayan menantang. Ketiga kelompk menyadari hal tersebut. Hasil wawancara memperlihatkan tiga jenis persiapan terkait persiapan pendirian kampung bahasa. Table 3. Jenis Persiapan Pendirian Kampung Bahasa Jenis Persiapan Persiapan makro Kesiapan dari daya manusia Keterangan Analisis potensi yang ada: product exploration berbasis alam, budaya maupun man made Ketersediaan SDM Desa Cisaat tutor/mentor/pengajar dikaitkan dengan pengelolaan eduwisata atau wisata edukasi dan dikaitkan dengan konsep cbt atau community-based tourism yang dalam konsep ini keterlibatan masyarakat lokal menjadi sangat penting Prosiding Seminar Nasional Bahasa. Sastra, dan Seni 2022 | Pemenuhan komponen 4A destinasi wisata . ampung atau desa Accessibility: bagaimana kampung/desa wisata Amenity: atau amenitas adalah segala macam sarana dan prasarana yang diperlukan oleh wisatawan selama berada di daerah tujuan wisata. Sarana dan prasarana yang dimaksud seperti: penginapan, rumah makan, transportasi dan agen Attraction: Apa yang dikembangkan menjadi atraksi wisata itulah yang disebut modal atau sumber kepariwisataan. Modal atraksi yang menarik kedatangan wisatawan itu ada tiga, yaitu . Natural Resources . , . Atraksi wisata budaya, dan . Atraksi buatan manusia itu sendiri Ancillary: Pelayanan tambahan harus disediakan oleh Pemda dari suatu daerah tujuan wisata baik untuk wisatawan maupun untuk pelaku pariwisata. Pelayanan yang disediakan termasuk pemasaran, pembangunan fisik . alan raya, rel kereta, air minum, listrik, telepon, dan lain-lai. serta mengkoordinir segala macam aktivitas dan dengan segala peraturan perundang-undangan baik di jalan raya maupun di objek Ancilliary juga merupakan halAehal yang mendukung sebuah kepariwisataan, seperti lembaga pengelolaan. Tourist Information. Travel Agent dan stakeholder yang berperan dalam kepariwisataan. Bicara mengenai persiapan makro, desa Cisaat sudah memenuhi product exploration yang berbasis alam, budaya dan manmade seperti yang disebutkan dalam poin b di atas. Sementara itu, kesiapan SDM merupakan tantangan terbesar karena SDM yang ada terbatas secara kuantitas dan kualitas. Hal ini diakui oleh sekretaris desa: AuA desa kami Aokan desa wisata. Kalau misalnya ada untuk A meningkatkan sumber daya manusianya mungkin kurang yah AuYa mungkin bisa, tapi syaratnya itu kita belum tau persis gimana minimal orang yang ngajar dari dari latar belakang pendidikan apa A Ao. Namun demikian, dilihat dari potensi kemampuan berbahasa Inggris masyarakat, semua responden dari akademisi yang melakukan kegiatan pelatihan bahasa asing di Desa Cisaat. Ciater. Subang menyatakan bahwa masyarakat desa Cisaat dari anak-anak PAUD, para guru, pengelola homestay, anggota pokdarwis mempunyai potensi berbahasa asing. Antusias dari para pembelajar harus ditindaklanjuti dengan program yang berkesinambungan. Hal ini sejalan dengan pendapat responden yang merupakan kepala pusat pelatihan bahasa di UNJ ketika diminta pendapat mengenai keterlibatan UPT Bahasa UNJ dalam memberikan pelatihan yang berkesinambungan: Au. saya rasa sangat baik sekal jika UPT Bahasa diberikan kepercayaan untuk memberikan training of trainer untuk masyarakat disana. Namun ada sedikit masukan A untuk kegiatan yang kedua ini adalah, mengingat sumber daya manusia di UPT juga sangat terbatas. A bahwa sebaiknya pelatihan disana tidak hanya sesaat. Memang kita tau lah kalau Bahasa inggris kalau cuma sekali-sekali saja sulit untuk menjadi terampil. Mungkin kita bisa sama-sama membuat program training of trainer ini pesertanya adalah mahasiswa prodi Bahasa Inggris. Nah jadi, saya rasa langkah pertama mungkin UPT Bahasa bekerjasama dengan prodi Bahasa Inggris, kami membantu menyediakan modul dan sebagainya untuk prodi Bahasa Inggris membantu mencarikan mahasiswa yang siap ditempatkan di Desa Cisaat, misalnya di program KKL atau PKL sehingga mereka akan stay disana at least enam bulan, membantu masyarakat disana untuk belajar Bahasa Inggris, nah nanti disana kita melakukan sebagai training of Jadi ada beberapa tahapan yang harus dilakukan. Nah nanti setelah mahasiswa berangkat ke sana sebagai trainer kemudian mereka melatih masyarakat yang terpilih disana sebagai fasilitator dibantu dengan UPT Bahasa. Mudah-mudahan dengan program yang kesinambungan dan terus menerus seperti itu, kemampuan Bahasa Inggris masyarakat disana juga menjadi meningkat untuk menjadi fasilitator. Ay (M) 209 | Rahayu Purbasari Untuk jenis persiapan ketiga, yang paling menonjol adalah A ke-dua, amenitas dan ke-empat Ancillary, terutama yang terkait sarana dan prasarana. Desa Cisaat sudah memiliki homestay dan kelompok sadar wisata, namun rumah makan, akses internet dan provider telepon seluler sebagai kebutuhan utama di era digital masih terbatas. Akses jalan sudah ada beraspal, namun moda transportasi umum belum ada. Baru transportasi pribadi dan belum dala skala besar, mini bus dan Kolaborasi dari berbagai pihak terutama pihak-pihak pemegang kebijakan dan kewenangan sangatlah penting karena dampak ekonomi dan sosial yang akan diperoleh dari pendirian kampung atau desa bahasa tentunya akan besar. Selain itu, perlu juga dibangun kerjasama dengan mitra dengan pendampingan dari UNJ sebagai pembina desa. Model Kampung Bahasa Model kampung atau desa bahasa adalah tema yang ingin digali dengan tujuan melihat gambaran kampung bahasa seperti apa yang cocok buat Desa Cisaat menurut persepsi para responden walaupun pada tema poin a di atas informasi lengkap tentang kampung bahasa itu belum banyak diketahui. Di Indonesia, setidaknya sudah terdapat enam model kampung bahasa: . Bahasa Inggris dan pendidikan Agama Islam . i Par. Bahasa Inggris dan traveling seperti rafting, mengunjungi Candi, dll . i Borobudur. Magelan. Bahasa Inggris dengan sistem asrama . i Sumatera Bara. Bahasa Inggris dan outbound (Bandun. Bahasa Inggris. Agama dan Budaya (Malan. Bahasa Inggris dan Percakapan (EEC-Jakart. Namun demikian, tiga kelompok memiliki persepsi masing-masing. Dari kelompok aparat desa, model kampung bahasa yang diinginkan adalah kampung bahasa yang berikon. AuKalau saya mah gini sasarannya, kita itu tidak di satu dusun saja, tapi yang menjadi icon Kampung Bahasa itu adalah desa Cisaat secara umum. Nah, icon-icon kampung tersebut dijadikan bahasa yang spesifik, misalnya di kampung ini Bahasa Inggris, kampung yang ini Bahasa Arab, tergantung potensi dan keperluan mereka. Jadi tidak mesti satu kampung saja, adapun kalau mau diselenggarakan di satu kampung ya boleh-boleh saja. Hanya lebih efektifnya kena satu kampung ada Bahasa Inggris. Bahasa Inggris saja, pegangannya satu kampung itu, jadi fokus. Tapi kalau misalnya dicampur-campurkan, memang jadi kawer untuk kemampuan penalaran, penangkapan ilmunya. Jadi kalau di satu kampung ini di fokuskan ke satu bahasa, ya orang-orang tersebut jadi fokus terhadap bahasa tersebut. Jadi mengendalikannya agak ringan untuk Kampung Bahasa. Ini mah pandangan saya ya, efektifnya seperti itu, jadi satu kampung, satu bahasa. Ay (S) Jika aparat desa menginginkan kampung bahasa berikon, perwakilan dari masyarakat desa menyatakan belum memiliki gambaran model seperti apa walaupun sudah dijelaskan mengenai kampung Inggris Pare. Mereka perlu sosialisasi model kampung bahasa dan akan ikut dengan keputusan pemerintah desa. Berikut kutipannya: AuKalau menurut saya mah, harus disosialisasikan terlebih dahulu. Karena disini ada yang ke sawahnya, dan sekarang-sekarang ini ke kebun tehnya, pabrik. Jadi disosialisasikan dulu Kampung Bahasa-nya. Terutama saya juga berharap sosialisasinya ke anak-anak muda di sini. Ay (Gr. AuOh, yang penting sosialisasikan dulu ke pemerintah, nanti dari pemerintah ke warga karena warga akan manut. Kalau kayak gini aja, masyarakat akan beranggapan Aungapain?Ay. Mungkin kalau didamping oleh pemerintah, mungkin bisa didengar. Ay (Gr. Ketika diberi tiga opsi mengenai model kampung bahasa dalam kuesioner yang disebarkan kepada akademisi yang melakukan pelatihan bahasa di desa Cisaat bahwa Kampung Bahasa yang mungkin bisa diwujudkan di Cisaat adalah Kampung Bahasa yang: . merupakan perkampungan tempat kumpulan kursus bahasa asing. merupakan perkampungan tempat belajar bahasa asing dengan fokus pada potensi desa sebagai desa wisata. merupakan perkampungan tempat belajar budaya lokal dengan bahasa asing sebagai bahasa pengantar, sebagian besar kelompok akademisi memilih nomor 2 dan 3. Hal ini bisa dimaknai bahwa model yang diinginkan kelompok akademisi adalah model terintegrasi. Pendapat ini dikuatkan oleh akademisi dari kajian pariwisata di bawah ini AuA barangkali sangat baik jika pengelolaan Kampung bahasa ini bisa dibangun secara integrasi dengan potensi-potensi yang ada di lokus tersebut A . Bagaimana pembelajaran bahasa ini juga melihat dari sisi budaya lokal kemudian wisata Heritage lokalnya maupun kehidupan masyarakat yang Prosiding Seminar Nasional Bahasa. Sastra, dan Seni 2022 | sesungguhnya dalam beberapa pengamatan baik itu contoh kampung wisata, desa wisata, kampung literasi terkadang pola pengelolaannya masih bersifat parsial ini sebetulnya Sangat disayangkan karena sebaiknya potensi yang ada juga itu bisa diintegrasikanAy . Perlu digarisbawahi bahwa pola pengelolaan kampung bahasa harus bersifat menyeluruh agar dampak kebermanfaatannya dirasakan oleh semua pihak terutama oleh masyarakat desa. Simpulan Makalah ini telah mengeksplorasi persepsi pemangku kepentingan terhadap pemberdayaan masyarakat dalam pendirian kampung bahasa menggunakan empat tema: pengetahuan tentang kampung bahasa, potensi Desa Cisaat dalam pendirian kampung bahasa, hal-hal yang perlu dipersiapkan dan model kampung bahasa Peristilahan, konsep dan sosialisasi tentang kampung bahasa perlu dibahas dan ditindaklanjuti karena dengan konsep kampung bahasa yang benar akan membantu membuat perencanaan . rand desig. pendirian Kampung Bahasa di Desa Cisaat. Ciater. Subang yang bisa memenuhi kebutuhan masyarakat desa dan calon pengunjung atau konsumen. Desa Cisaat. Ciater. Subang. Jawa Barat memiliki potensi untuk mendirikan kampung atau desa bahasa mengingat potensi sumber daya alam, manusia dan budaya yang ada di desa tersebut. Apalagi berbagai fasilitas tersedia di desa tersebut, seperti kelompok sadar wisata, homestay, pusat kesenian dan lain sebagainya. Potensi tersebut juga perlu memperhatikan digitalisasi sebagai dampak kemajuan teknologi yang tidak bisa dihindari. Potensi dan fasilitas tersebut masih perlu didukung dengan kesiapan sumber daya manusia antara lain kemampuan bahasa asing masyarakat, minimal bahasa Inggris, dalam menyambut Kemampuan berbahasa Inggris merupakan kebutuhan yang tidak dapat dihindari di destinasi wisata potensial seperti Desa Cisaat yang telah dicanangkan sebagai desa wisata edukasi. Kemitraan dengan UNJ memungkinkan untuk diadakan pelatihan kemampuan berbahasa asing yang berkelanjutan. Kemitraan dengan pihak DUDI pun bisa merupakan peluang untuk meningkatkan kemampuan berbahasa asing tersebut walau mungkin tidak menghasilkan pendapatan, namun bisa meningkatkan pencitraan desa Cisaat . sebagai desitinasi wisata edukasi melalui pemenuhan komponen 4A destinasi wisata terutama terkait dengan amenitas dan Model kampung bahasa yang diharapkan tak terlepas dari konsep kampung bahasa yang sudah disebutkan di atas. Walau setidaknyanya ada enam model kampung bahasa yang ada di Indonesia, responden memiliki dua persepsi mengenai model kampung bahasa: kampung berikon dan kampung terintegrasi. Penggalian persepsi mutipihak sebagai bagian kegiatan analisis kebutuhan pendirian kampung bahasa melalui dalam kegiatan pengabdian pada tahun pertama merupakan salah satu bentuk upaya identifikasi kebutuhan dalam pendirian kampung bahasa yang melibatkan pemberdayaan dan pengembangan potensi masyarakat Desa Cisaat. Kecamatan Ciater. Kabupaten Subang dalam menghadapi kunjungan wisatawan asing yang diprediksi akan terus meningkat. Selain itu, dengan berdirinya kampung bahasa di Desa Cisaat. Ciater Subang dapat membantu dinas pariwisata dalam mempromosikan daerahnya dengan memberikan informasi yang berkualitas. Peningkatan kualitas tidak lepas dari keterlibatan semua pihak. UNJ sebagai pembina, pemerintah Desa Cisaat, dan mitra terkait. Selain itu, pembentukan kampung bahasa diharapkan dapat berdampak pada perekonomian masyarakat desa tersebut. Daftar Rujukan Murphy. Community-based interventions: Philosophy and action. Springer Novelli. Tourism and development in sub-saharan Africa: Current issues and local Routledge. Adebayo. Adenike D. & Jim Butcher . : Community Empowerment in NigeriaAos Tourism Industry: An Analysis of StakeholdersAo Perceptions. Tourism Planning & Development, https://doi. org/10. 1080/21568316. Mualifah. Nurul & Sri Roekminiat . Pemberdayaan Masyarakat Kampung Inggris AeJurnal Ilmiah Manajemen Publik dan Kebijakan Sosial - Vol. 2 No. 1, hal. http://dx. org/10. 25139/jmnegara. 211 | Rahayu Purbasari Noe. , & Kangalawe. Wildlife protection, community participation in conservation and . empowerment in Southern Tanzania. Conservation and Society, 13. , 244Ae253. https://doi. org/10. 4103/0972-4923. Okazaki. A community-based tourism model: Its conception and use. Journal of Sustainable Tourism, 16. , 511Ae529. https://doi. org/10. 1080/09669580802159594 Hayati. Nurul. Digital Press Social Sciences and Humanities 6: 00009 Optimization of Community Empowerment Through Improving the Potential of the Community in The New Normal Era https://doi. org/10. 29037/digitalpress. Hermawan. Budi. English Education Village Tourism AuKampung Inggris Pare-KediriAy: An Ethnography Study. The Fifth National and the Third International Conference 2018, 331- 341. https://w. net/publication/326440860_English_Education_Village_Tourism_Ka mpung_Inggris_Pare-Kediri