BIYAN: Jurnal Ilmiah Bidang Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial P-ISSN: 2685-6700 E-ISSN: 2685-6719 https://jurnal. id/index. php/biyan IMPLEMENTASI TERAPI REALITAS WDEP AC TERHADAP PENINGKATAN KONTROL DIRI KORBAN PENYALAHGUNAAN NAPZA DI YAYASAN SEKAR MAWAR BANDUNG DOI: https://doi. org/ 10. 31595/biyan. Ummul Khair Polytechnic of Social Welfare Bandung. Indonesia Khairulummul@gmail. Epi Supiadi Polytechnic of Social Welfare Bandung. Indonesia epi_supiadi@poltekesos. Moch. Zaenal Hakim Polytechnic of Social Welfare Bandung. Indonesia zaenalhakim@gmail. Journal History Received: 01 July 2024 Accepted: 24 September 2024 ABSTRACT WDEP AC reality therapy is therapy with the Want. Doing. Evaluation. Planning. Acceptance, and Commitment procedures. WDEP AC reality therapy is a development of Want. Doing. Evaluation Reality Therapy. WDEP AC Reality Therapy uses a cognitive approach that aims to analyze the effect of WDEP AC reality therapy on increasing the self-control of drug abuse victims at the Sekar Mawar Foundation. The specific aim of this research is to analyze the level of self-control of drug abuse victims before, during, and after the implementation of WDEP AC Reality Therapy. The research method used is quantitative research with an experimental model. This research uses a Single Subject Design (SSD) with a Reversal A-B-A design. The target behavior observed in this research is lazy behavior, unable to express oneself, and being easily distracted/unable to determine priorities The instruments used were observation, interviews, questionnaires, and documentation studies. The subjects in this study were three victims of drug abuse at the Sekar Mawar Foundation who were inpatient residents, were no longer drug dependent, were male, and had behavior that lacked self-control. Based on the results of the data analysis that has been carried out, it can be concluded that WDEP AC Reality Therapy is effective in increasing the self-control of drug abuse victims at the Sekar Mawar Foundation. This is proven by the decrease in the behavior of the three research subjects, namely ES. DK, and BG. WDEP AC Reality Therapy can be a reference in refining the concept of reality therapy and contributes to providing the development of a reality therapy model in social work practice with drugs. KEYWORDS: Victims of Drug Abuse. Self-Control. WDEP AC ABSTRAK Terapi realitas WDEP AC adalah terapi dengan prosedur Want. Doing. Evaluation. Planing. Acceptance, dan Commitment. Terapi realitas WDEP AC merupakan pengembangan Terapi Realitas Want. Doing. Evaluation. Terapi Realitas WDEP AC menggunakan pendekatan kognitif yang bertujuan menganalisis pengaruh terapi realitas WDEP AC terhadap peningkatan kontrol diri korban penyalahgunaan napza di Yayasan Sekar Mawar. Tujuan khusus penelitian ini yaitu menganalisis tingkat kontrol diri korban penyalahgunaan napza sebelum, selama dan setelah Implementasi Terapi Realitas WDEP AC. Penelitian ini menggunakan desain Single subject Design (SSD) pendekatan kuantitatif dengan model eksperimen. desain Reversal A-B-A. Perilaku sasaran yang di observasi yaitu perilaku malas, tidak dapat mengekpresikan dirinya, dan mudah terdistraksi/tidak dapat menentukan Instrumen yang digunakan yaitu observasi, wawancara, kuesioner dan studi dokumentasi. Subjek yaitu tiga orang korban penyalahgunaan napza di Yayasan Sekar Mawar yang merupakan residen rawat inap, sudah tidak ketergantungan napza, berjenis kelamin laki-laki, dan memiliki perilaku kurang kontrol diri. Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa Terapi Realitas WDEP AC efektif untuk meningkatkan kontrol diri korban penyalahgunaan napza di Yayasan Sekar Mawar. Dibuktikan dengan penurunan perilaku ketiga orang subjek penelitian yaitu ES. DK, dan BG. Terapi Realitas WDEP AC dapat menjadi referensi dalam penyempurnaan konsep terapi realitas dan Author correspondence email: Khairulummul@gmail. Available online at: https://jurnal. id/index. php/biyan Copyright . 2024 by BIYAN: Jurnal Ilmiah Bidang Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial Ummul Khair, et al. berkontribusi dalam memberikan pengembangan model terapi realitas dalam praktik pekerjaan sosial dengan NAPZA KataKunci: NAPZA. Kontrol Diri. WDEP AC PENDAHULUAN Permasalahan penyalahgunaan NAPZA marak terjadi di Indonesia. Bahaya penyalahgunaan NAPZA tersebut menjalar ke segala kalangan bukan hanya pada usia dewasa melainkan juga pada remaja. Penyalahgunaan napza permasalahan sosial atau disfungsi sosial penggunaannya. Persebaran penyalahgunaan NAPZA di Indonesia menjadi isu permasalahan nasional yang sangat penting untuk ditangani. Hasil Syrvei BNN dan PMB-LIPI 2019, prevelensi penyalahgunaan narkoba di tingkat nasional dalam setahun sebesar 1,80% dari populasi indonesia berusia 15 hingga 64 tahun. Hasil pendataan BNN RI terkait data penguna narkoba di IndonesiA Tahun 2021 menyatakan korban penyalahgunaan NAPZA sebanyak 36. 763 dengan proporsi jumlah laki-laki 585 dan perempuan 9. Hasil surnas lahgun dan edar gelap narkoba 2023 dengan perhitungan jumlah pddk indonesia usia 15-64 thn sebesar 192. 354 jiwa. Terdata jumlah penyalahgunaan napza di Jawa Barat pada tahun 2021 mengalami peningkatan sebesar 950. 000 jiwa atau setara dengan 1,28%. Salah satu program pemerintah terkaitt permasalahan napza yaitu program rehabilitasi. Secara umum penyalahguna napza menjalani masa rehabilotasi selama periode antara 1 hingga 4 bulan atau lebih. Rehabilitasi meliputi berbagai program yang bertujuan mencapai proses pemulihan. Individu yang berhasil mencapai tahap ini akan mengikuuti program pascarehabilitasi atau aftercare, yang merupakan upaya pemberdayaan selama proses pemulihan dari penyalahgunaan napza. Selama proses rehabilitasi, penyalahgunaan napza akan mendapatkan berbagai layanan seperti Yayasan Sekar Mawar yakni menggunakan Therapeutic Community (TC). Therapeutic Community dalam hal ini digunakan Penyalahgunaan Napza (KPN). Salah satu jenis terapi yang diberikan dalam program TC tersebut yakni terapi realitas yang diimplemetasikan dalam konseling oleh konselor. Terapi realitas merupakan terapi yang digunakan oleh Yayasan Sekar Mawar yang berfokus pada tingkah laku saat Terapi realitas disampaikan oleh konselor adiksi untuk korban penyalahgunaan napza. terapi realitas bertujuan sebagai salah satunya untuk meningkatkan kontrol diri klien terhadap plan/rencana yang telah dibuat. Terapi realitas yang diterapkan dengan mengguanakan metode Wants. Doing. Evaluation, and Planning (WDEP) adalah prosedur yang digunakan dalam intervensi. Studi mengenai penerapan terapi realitas yang mengatur kontrol diri seorang remaja mengatur kontrol diri seorang remaja yang terlibat dalam perilaku bullying di Desa Bandet. Kecamatan Diwek. Kabupaten Jombang, menghasilkan analisis hasil penelitan yang dilakukan oleh Amamiyatul Amali . Penelitin tersebut menyatakan bahwa klien mudah tersinggung dan tidak dapat mengendalikan dirinya menyebabkan bullying dan menjadi bahan ejekan bahkan dihindari di sekolah. Dari segi klien telah menyadari bahwa melukai dan bertindak dendam terhadap orang lain merupakan faktor utama yang menyebabkan keadaan saat ini, dengan perilaku bullying seperti membentak, mudah tersingung, perilaku memukul bahkan merusak barang disekitarnya. Saat ini klien sudah mengendalikan kontrol dirinya agar sesuatu yang dilakukannya lebih terarah. Berdasarkan fenomena diatas diperlukan pengembangan model terapi realitas untuk meningkatkan kontrol diri korban penyalahgunaan NAPZA di Yayasan Sekar Mawar. Terapi realitas dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kognitif menurut teori William Glesser dalam (Roliyah, 2. Terapi realitas pelaksanaan di Yayasan Sekar Mawar berutujuan untuk meningkatkan kontrol diri residen sehingga proses pemulihan dan rencana kedepannya dapat berjalan dengan lancar. penelitian ini dapat lebih meningkatkan penerimaan diri klien terhadap plan/perencanaan dan kemampuan klien agar meningkatkan komitmen yang dibuat. Namun, penggunaan teknik WDEP terdapat beberapa hal yang perlu Berdasarkan praktikum di Galih Pakuan Penerapan terapi realitas dengan prosedur WDEP dirasa memiliki kelemahan dalam implementasinya. Kelemahan yaitu perubahan perilaku yang telah direncanakan bersifat sementara. Korban penyalahgunaan napza menunjukkan bahwa tidak konsistennya terhadap renacana yang telah disusun, sementara terdapat kecemasan atau kurangnya penerimaan diri korban penyalahgunaan narkoba jika hasilnya tidak sesuai dengan harapan sehingga dapat menimbulkan kurangnya kontrol diri seperti emosional yang tinggi, agresif sehingga kecenderungan akan relapse. Ditemukan klien dengan kondisi serupa yang memiliki kecenderungan yang sama di Yayasan Sekar Mawar. Menurut (Tifeni, 2. Terapi penerimaan dan komitmen, sebagai pendekatan yang berorientasi pada kognitif, menunjukkan kesamaan dengan metode terapi lain yang juga berpusat pada aspek kognitif. Pendekatan ini berpotensi membantu individu dalam proses pemulihan dari kecanduan rokok. Tujuan intervensi dalalam bimbingan konseling penerimaan dan komitmen agar adanya perubahan perilaku yang lebih baik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa terapi penerimaan dan komitmen efektif dalam meningkatkan hasil prosedur penyembuhan untuk korban penyalahgunaan Berdasarkan fenomena diatas bahwa terapi penerimaan dan komitmen terbukti efektif dalam mengurangi ketergantungan narkoba serta meningkatkan kotrol diri. Selain itu, sangat dianjurkan untuk mengkombinasikan pada BIYAN: Jurnal Ilmiah Bidang Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial | IMPLEMENTASI TERAPI REALITAS WDEP AC TERHADAP PENINGKATAN KONTROL DIRI KORBAN penyembuhan adiksi narkoba dengan terapi penerimaan dan komitmen, karena dianggap hal tersebut dapat meningkatkan kualitas korban penyalahgunaan napza dan dapat mengontrol diri sehingga perilaku yang lebih baik. Berdasarkan penggunaan teknik WDEP yang akan dilakukan praktikan menganalisa beberapa kebutuhan dalam penyempurnaan teknik WDEP dalam terapi realitas. Diharapkan dengan pengembangan model terapi WDEP AC dapat meningkatkan kontrol diri dari korban penyalahgunaan napza yaitu dengan penambahan teknik acceptance . and commitment . dalam acceptance and commitment therapy. Penambahan acceptance commitment dalam pelaksanaannya terapi ini dilakukan melalui proses want, direction, evaluation, planing, acceptance and commitment. Menurut Prochaska & Norcross dalam Mulawarman . bahwa terdapat 6 fase perubahan yaitu pra-kontemplasi, kontemplasi, persiapan, aksi/tindakan, pemeliharaan, dan relapse. Proses pelaksanaan terapi realitas mengikuti tahap fase perubahan pada klien. Pelaksana Wants. Doing. Evaluation, and Planning (WDEP) diletakkan pada fase awal yaitu fase aksi yang merupakan tahap dimana korban penyalahguna memulai langkah nyata untuk dapat berubah yang artinya adanya keinginan dan mengarah untuk berubah. Kemudian korban penyalahguna memilih jalan atau rencana sesuai dengan kondisi dan dukungan yang dimilikinya. Pelaksanaan Acceptance Commitment (AC) setelah WDEP yaitu fase pemeliharaan atau maintenance yang menunjukkan klien yang melakukan berbagai upaya untuk perubahan perilaku, kemudian menjaga agar kebiasaan tidak terulang. METHODS Penelitian ini menerapkan pendekatan kuantitatif jenis eksperimen dengan desain single subject design (SSD) model A-BA. Perilaku yang diamati pada kontrol diri klien yaitu aspek perilaku yakni malas, aspek kontrol kognitif yakni dan aspek dalam pengambilan keputusan yakni mudah terditraksi/tidak dapat menentukan prioritas. Sasaran dari implementasi Terapi Realitas WDEP AC adalah korban penyalahgunaan napza yang sudah tidak ketergantungan napza, korban penyalahgunaan NAPZA yang sedang melaksanakan rawat inap di Yayasan Sekar Mawar, korban penyalahgunaan napza dengan 20-40 tahun, korban penyalahgunaan napza yang berjenis kelamin laki-laki dan korban penyalahgunaan napza yang memiliki perilaku kurang kontrol diri. Penelitian yang dilakukan oleh peneliti, menggunakan Purposive sampling adalah teknik pemilihan sampel di mana peneliti menentukan sampel berdasarkan penilaian mereka tentang yang paling sesuai dengan tujuan penelitian dan mampu mewakili populasi dengan baik. ugiyono, 2019:. Sampel yang akan diteliti yaitu 3 klien korban penyalahgunaan napza. Teknik pengumpulan data dalam penelitian yaitu observasi langsung, wawanacara, pemberian kuesioner dan studi dokumentasi. Peneliti menganalisis data dengan memanfaatkan teknik analisis visual baik dalam kondisi maupun antar Analisis visual dibagi menjadi dua yaitu dalam kondisi dan antar kondisi. Analisis dalam kondisi mengacu pada evaluasi perubahan data dalam satu keadaan, seperti pada tahap baseline atau tahap intervensi. Komponen analisis dalam kondisi sebanyak 6 . komponen yakni Panjang kondisi, estimasi kecenderungan arah, kecenderungan stabilitas, jejak data, level stabilitas dan rentang, level perubahan. Sedangkan, analisis antar kondisi, data yang stabil harus tersedia sebelum kondisi tersebut dapat dianalisis. Selain kestabilan data, keberhasilan intervensi terhadap variabel terikat juga bergantung pada tingkat perubahan level, serta seberapa besar overlap yang terjadi antara dua kondisi yang sedang dianalisis. Analisis antar kondisi memiliki lima komponen yaitu jumlah variabel yang diubah, perubahan kecenderungan dan efeknya, perubahan stabilitas, perubahan level, dan data overlap. Adapun prosedur pelaksanaan dilakukan dalam penelitian Fase A, disebut juga baseline (A. yaitu gambaran kondisi awal masalah dengan mengukur kontrol diri mengukur korban penyalahgunaan NAPZA sebelum diberikan teknik WDEP AC dalam terapi realitas. Fase A, disebut juga baseline (A. yaitu gambaran kondisi awal masalah dengan mengukur kontrol diri mengukur korban penyalahgunaan NAPZA sebelum diberikan teknik WDEP AC dalam terapi realitas. Fase A2, merupakan fase hasil atau fase akhir. Pada tahap ini peneliti melakukan asesmen kembali terhadap implemetasi teknik WDEP AC dalam terapi realitas dan melakukan pengukuran kembali pada subyek penelitian hingga mencapai kestabilan data dengan hasil pengukuran yang konsisten. DISCUSSION SUBJEK PENELITIAN ES PERILAKU MALAS Perilaku Malas Dari Subjek ES Grafik 1. Data Pengamatan Perilaku Malas 55 | BIYAN: Jurnal Ilmiah Bidang Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial Ummul Khair, et al. Grafik di atas menampilkan data hasil pengamatan subjek ES mulai dari kondisi baseline (A. , intervensi (B), hingga baseline (A. Grafik tersebut menunjukkan adanya penurunan perilaku malas, sehingga subjek ES berhasil meningkatkan pengendalian dirinya. Tabel 1. Analisis Dalam Kondisi Perilaku Malas Tabel 1 menunjukkan analisis perilaku malas pada subjek ES. Berdasarkan hasil analisis, terdapat penurunan perilaku malas ES dalam tiga fase pengamatan yang dilakukan, yaitu mulai dari kondisi baseline (A. , intervensi (B), dan baseline (A. Tabel 2. Analisis Antar kondisi perilaku malas ES Tabel 2 menunjukkan analisis antar kondisi perilaku ES. Berdasarkan hasil analisis ini, data perilaku malas ES dibandingkan antara fase baseline (A. dengan fase intervensi (B) serta antara fase intervensi (B) dengan fase baseline (A. PERILAKU TIDAK DAPAT MENGEKSPRESIKAN PEMIKIRAN Tidak Mengekpresikan Pemikirannya ES A22 Grafik 2. Grafik data pengamatan tidak mengekspresikan perasaannya BIYAN: Jurnal Ilmiah Bidang Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial | IMPLEMENTASI TERAPI REALITAS WDEP AC TERHADAP PENINGKATAN KONTROL DIRI KORBAN Grafik di atas menampilkan data hasil pengamatan subjek ES dari kondisi baseline (A. , intervensi (B), hingga baseline (A. Grafik tersebut menunjukkan adanya penurunan perilaku untuk mengungkapkan pikirannya, sehingga subjek ES dapat meningkatkan pengendalian dirinya. Tabel 3. Analisis dalam kondisi tidak dapat mengekspresikan pemikirannya Tabel 3 menunjukkan analisis perilaku malas pada subjek ES. Berdasarkan hasil analisis, terjadi penurunan perilaku ES yang tidak dapat mengekspresikan pikirannya dalam tiga fase pengamatan, yaitu kondisi baseline (A. , intervensi (B), dan baseline (A. Tabel 4. Analisis Antara Kondisi Perilaku Malas Tabel 4 menunjukkan analisis antar kondisi perilaku tidak mengekspresikan pikiran pada subjek ES. Hasil analisis ini membandingkan data antara fase baseline (A. dan fase intervensi (B), serta antara fase intervensi (B) dan fase baseline (A. PERILAKU MUDAH TERDISTRAKSI/TIDAK DAPAT MENENTUKAN PRIOTITAS Perilaku Mudah Terdistraksi/Tidak Dapat Menentukan Prioritas ES Grafik 3. Grafik data pengamatan perilaku 57 | BIYAN: Jurnal Ilmiah Bidang Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial Ummul Khair, et al. terdistraksi/tidak dapat menentukan prioritas ES Grafik tersebut menampilakn pengukuran hasil observasi subjek ES Hasil analisis ini membandingkan data antara fase baseline (A. dengan fase intervensi (B), serta antara fase intervensi (B) dengan fase baseline (A. Grafik menunjukkan adanya penurunan tingkah laku yang menyebabkan mudah terdistraksi atau kesulitan menentukan prioritas, sehingga subjek ES dapat meningkatkan pengendalian dirinya Tabel 5 Analsis Dalam Kondisi Perilaku Mudah Terdistraksi/Tidak Dapat Menentukan Prioritas Tabel 5 menampilkan analisis perilaku mudah terdistraksi/tidak dapat menentukan prioritas pada subjek ES. Berdasarkan hasil analisis, terdapat penurunan perilaku mudah terdistraksi/tidak dapat menentukan prioritas pada ES dalam tiga fase pengamatan, yaitu fase baseline (A. , intervensi (B), dan baseline (A. Tabel 6 Analisis Antar Kondisi Perilaku Mudah Terdistraksi/Tidak Dapat Menentukan Prioritas Tabel 6 menunjukkan analisis antar kondisi mudah terdistraksi/tidak dapat menentukan prioritas ES. Hasil data analisis antar kondisi perilaku mudah terdistraksi/tidak dapat menentukan prioritas pada subjek ES dibandingkan pada fase baseline (A. dan fase intervensi (B), dan fase baseline (A. SUBJEK PENELITIAN DK PERILAKU MALAS BIYAN: Jurnal Ilmiah Bidang Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial | IMPLEMENTASI TERAPI REALITAS WDEP AC TERHADAP PENINGKATAN KONTROL DIRI KORBAN Perilaku Malas Dari Subjek DK Gambar 4 Grafik Data Pengamatan perilaku Malas DK Grafik yang ditampilkan terkait hasil data observasi DK mulai dari kondisi baseline (A. , intervensi (B), dan baseline (A. yang dimana ada nurunan perilaku malas sehingga subjek DK dapat meningkatkan kontrol dirinya. Tabel 7 Analisis Dalam Kondisi Perilaku Malas DK `Tabel 7 menampilkan analisis dalam kondisi perilaku malas dari DK. Analisis data dalam kondisi terjdi penurunan perilaku malas DK dalam tiga tahap observasi yaitu mulai dari kondisi baseline (A. , intervensi (B), dan baseline (A. Tabel 8 Analisis Antar Kondisi Perilaku Malas DK 59 | BIYAN: Jurnal Ilmiah Bidang Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial Ummul Khair, et al. Tabel 8 menampilkan analisis antar kondisi perilaku DK. Data analisis perilaku malas DK pada kondisi pada fase baseline A1 dengan fase intervensi (B) dan antara fase intervensi (B) dengan fase baseline A2 PERILAKU TIDAK DAPAT MENGEKSPRESIKAN PEMIKIRAN DK Perilaku Tidak Mengekpresikan Pemikirannya DK Grafik 5 : Grafik diatas Tidak Dapat Mengekspresikan Pemikirannya Menampilakan data pengukuran subjek DK pada kondisi baseline (A. , intervensi (B), dan baseline (A. Grafik menunjukkan penurunan perilaku agar dapat mengeskpresikan pemikirannya sehingga subjek DK dapat meningkatkan kontrol dirinya. Tabel 9 Analisis Dalam Kondisi Perilaku Tidak Dapat Mengekspresikan Pemikirannya DK Tabel 9 menampilkan analisis kondisi perilaku tidak dapat mengekspresikan pemikirannya dari DK. Analisis data dalam kondisi terjadi penurunan perilaku tidak dapat mengekspresikan pemikirannya DK dalam tiga tahap observasi, mulai dari kondisi baseline (A. , intervensi (B), dan baseline (A. Tabel 10 Analisis Antar Kondisi Perilaku Tidak Dapat Mengekspresikan Pemikirannya DK BIYAN: Jurnal Ilmiah Bidang Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial | IMPLEMENTASI TERAPI REALITAS WDEP AC TERHADAP PENINGKATAN KONTROL DIRI KORBAN Tabel 10 menampilkan analisis antar kondisi tidak mengekspresikan pemikirannya DK. Data analisis antar kondisi pada perilaku tidak mengekspresikan pemikirannya DK pada pada tiga tahap yaitu baseline A1 dengan fase intervensi (B) dan antara fase intervensi (B) dengan fase baseline A2. Perilaku Mudah Terdistraksi/Tidak Perilaku Mudah Terdistraksi/Tidak Dapat Menentukan Prioritas DK Grafik 6: Mudah Terdistraksi/Tidak Dapat Menentukan Prioritas Menampilkan data pengukuran subjek DK mulai dari kondisi baseline (A. , intervensi (B), dan baseline (A. Grafik menunjukkan penurunan perilaku agar tidak mudah terdistraksi/tidak dapat menentukan prioritas sehingga subjek DK dapat meningkatkan kontrol dirinya. Tabel 11 Analisis Dalam Kondisi Perilaku Mudah Terdistraksi/Tidak Dapat Menentukan Prioritas DK Tabel 11 menampilkan analisis dalam kondisi perilaku Mudah Terdistraksi/Tidak Dapat Menentukan Prioritas dari DK. Analisis data dalam kondisi terjdi penurunan perilaku Mudah Terdistraksi/Tidak Dapat Menentukan Prioritas DK dalam tiga tahap observasi, mulai dari kondisi baseline (A. , intervensi (B), dan baseline (A. Tabel 10 Analisis Antar Kondisi Perilaku Mudah Terdistraksi/Tidak Dapat Menentukan Prioritas DK Tabel 10 menampilkan data analisis antar kondisi mudah terdistraksi/tidak dapat menentukan prioritas DK. Data analisis antar kondisi perilaku mudah terdistraksi/tidak dapat menentukan prioritas DK pada antar kondisi melalui tiga tahap yaitu baseline A1, fase intervensi (B) dan fase baseline A2. 61 | BIYAN: Jurnal Ilmiah Bidang Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial Ummul Khair, et al. SUBJEK PENELITIAN BG PERILAKU MALAS Perilaku Malas BG Grafik 7 Perilaku Malas BG Menampilkan data pengukuran hasil pengamatan subjek BG mulai dari kondisi baseline (A. , intervensi (B), dan baseline (A. Grafik menunjukkan penurunan perilaku malas sehingga subjek BG dapat meningkatkan kontrol dirinya. Tabel 11 Analisis Dalam Kondisi Pada Pengukuran Perilaku Malas BG Tabel 11 menampilkan analisis dalam kondisi perilaku malas dari BG. Analisis data dalam kondisi terjdi penurunan perilaku malas BG dalam tiga tahap observasi, mulai dari kondisi baseline (A. , intervensi (B), dan baseline (A. Tabel 12 Analisis Dalam Kondisi Pada Pengukuran Perilaku Malas BG Tabel 12 menampilkan data analisis antar kondisi perilaku BG. Data analisis antar kondisi perilaku malas BG pada kondisi melalui tiga tahap yaitu baseline A1, fase intervensi (B) dan fase baseline A2. BIYAN: Jurnal Ilmiah Bidang Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial | IMPLEMENTASI TERAPI REALITAS WDEP AC TERHADAP PENINGKATAN KONTROL DIRI KORBAN PERILAKU TIDAK DAPAT MENGEKSPRESIKAN PEMIKIRANNYA Perilaku Tidak Mengekpresikan Pemikirannya BG Grafik 8 Data Pengamatan perilaku tidak dapat mengekspresikan pemikirannya BG Grafik data pengukuran hasil observasi subjek BG mulai dari kondisi baseline (A. , intervensi (B), dan baseline (A. Grafik menunjukkan penurunan perilaku tidak dapat mengekspresikan pemikirannya sehingga subjek BG dapat meningkatkan kontrol dirinya. Tabel 13 Analisis Dalam Kondisi Pada Pengukuran Perilaku perilaku tidak dapat mengekspresikan pemikirannya BG Tabel 13 menampilkan analisis data kondisi perilaku tidak dapat mengekspresikan pemikirannya dari BG. Analisis data dalam kondisi terjadi penurunan perilaku malas BG dalam tiga tahap observasi mulai dari kondisi baseline (A. , intervensi (B), dan baseline (A. Tabel 14 Analisis Antar Kondisi Pada Pengukuran perilaku tidak dapat mengekspresikan pemikirannya BG 63 | BIYAN: Jurnal Ilmiah Bidang Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial Ummul Khair, et al. Tabel 14 menampilkan data antar kondisi perilaku tidak dapat mengekspresikan pemikirannya BG. Data analisis antar kondisi perilaku tidak dapat mengekspresikan pemikirannya BG pada kondisi antar kondisi antara fase baseline A1, antara fase intervensi (B) dan fase baseline A2. PERILAKU MUDAH TERDISTRAKSI/TIDAK DAPAT MENENTUKAN PRIORITAS Perilaku Mudah Terdistraksi/Tidak Dapat Menentukan Prioritas BG Grafik 9 Grafik Data Pengamatan perilaku Mudah Terdistraksi/Tidak Dapat Menentukan Prioritas BG Grafik data pengukuran hasil pengamatan subjek BG mulai dari kondisi baseline (A. , intervensi (B), dan baseline (A. Grafik menunjukkan penurunan perilaku Mudah Terdistraksi/Tidak Dapat Menentukan Prioritas sehingga subjek BG dapat meningkatkan kontrol dirinya. Tabel 15 Analisis dalam Kondisi Pada Pengukuran Perilaku Mudah Terdistraksi/Tidak Dapat Menentukan Prioritas Tabel 15 menampilkan analisis dalam kondisi perilaku Mudah Terdistraksi/Tidak Dapat Menentukan Prioritas dari BG. Analisis dalam kondisi terjadi penurunan perilaku Mudah Terdistraksi/Tidak Dapat Menentukan Prioritas BG dalam tiga observasi, mulai dari kondisi baseline (A. , intervensi (B), dan baseline (A. Tabel 16 Analisis Antar Kondisi Pada Pengukuran perilaku Mudah Terdistraksi/Tidak Dapat Menentukan Prioritas BIYAN: Jurnal Ilmiah Bidang Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial | IMPLEMENTASI TERAPI REALITAS WDEP AC TERHADAP PENINGKATAN KONTROL DIRI KORBAN Tabel 16 menampilkan analisis antar kondisi mudah terdistraksi/tidak dapat menentukan prioritas DK. Data analisis antar kondisi perilaku mudah terdistraksi/tidak dapat menentukan prioritas DK pada kondisi antara fase baseline A1 dengan fase intervensi (B) dan antara fase intervensi (B) dengan fase baseline A2. MODEL TERAPI REALITAS WDEP AC Nama teknologi yang dikembangkan oleh peneliti Ay. Terapi realitas WDEP AC merupakan pengembangan terapi Wants. Doing. Evaluation, dan Planning, acceptamce, commitmentAy. Terapi Realitas WDEP AC menambahkan dua tahapan yaitu acceptance/penerimaan dan commitmen atau komitmen. Tujuan Umum terapi WDEP AC untuk mengurangi perilaku kontrol diri yang negatif sehingga meningkatkan kemampuan pengendalian diri pada residen. Tujuan Khusus terapi WDEP AC untuk meningkatkan perilaku positif residen, memelihara perilaku positif residen, menerima diri jika rencana yang dilakukan tidak sesuai dengan keinginannya dan bertanggung jawab dalam menjalankan komitmen. Sasaran Terapi Realitas WDEP AC adalah korban penyalahgunaan napza yang sudah tidak ketergantungan napza yang berjenis kelamin laki-laki yang berusia 20-40 tahun, sedang melaksanakan rawat inap di Yayasan Sekar Mawar, dan korban penyalahgunaan napza yang memiliki perilaku kurang kontrol diri. Sistem dasar pekerjaan sosial yang terlibat ada 4 sistem. Sistem pelaksana perubahan yaitu konselor yang bekerja di yayasan sekar mawar, sistem klien yaitu korban penyalahgunaan napza, sistem sasaran yaitu korban penyalahguna napza atau narkoba, orangtua atau orang yang dianggap bersangkutan dengan korban penyalahgunaan napza, dan sistem kegiatan yaitu korban penyalaguna napza, konselor adiksi, dan orang tua atau orang bersangkutan. Metode yang digunakan terapi realitas WDEP AC social case work digunakan karena konselor menangani klien, hal ini residen yang sedang menjalani rehabilitasi di Yayasan Sekar Mawar. Teknik yang digunakan dalam terapi WDEP AC adalah probing, paraphrasing, small talk,ventilation, support, advice giving, evaluation, planing, observation, acceptance, confrontation, and committed action. Langkah-langkah terapi WDEP AC yaitu sebagai berikut: Gambar 11 Bagan Alur Terapi Realitas WDEP AC Intervensi melalui terapi WDEP AC diharapkan dapat meningkatkan perilaku kontrol diri. Hasil implementasi terapi realitas WDEP AC menunjukkan bahwa: Hasil asesmen yang dilakukan oleh peneliti dengan wawancara konselor adiksi menggunakan pre-test dan memiliki 5 kalisifikasi yaitu sangat rendah, rendah, sedang, tinggi dan sangat ketiga orang residen menunjukkan kategori sedang yang dimana kontrol diri masih dalam rentang batas bawah, sehingga diperlukan intervensi agar skor meningkat. Hasil pre-test dan post-test berdasarkan hasil jawaban kuesioner. Kuesioner kontrol diri menurut Averill dalam Qurrotin, . Hasil observasi dari ketiga klien memiliki peningkatan yang stabil misalnya pemikirannya pada klien DK baseline A1 persentase stabilitas sebesar 40%, intervensi 67%, dan baseline A2 sebesar 80%. Persentase stabilitas DK mengalami kenaikan maka kontrol diri dengan menggunakan terapi WDEP AC dapat dikatakan stabil meskipun kenaikan tidak terlalu tinggi. Namun hasil observasi dari ketiga klien juga ada yang memiliki peningkatan yang naik turun misalnya aspek malas pada klien ES baseline A1 persentase stabilitas sebesar 60% yang artinya variabel/tidak stabil, intervensi 83% artinya stabil, dan baseline A2 sebesar 80% yang artinya stabil. Meskipun rentang stabilitas naik turun namun dapat dilihat dari baseline A1 ke baseline A2 memiliki kenaikan dalam rentang stabilitasnya. Naik turunnya rentang stabilitas dikarenakan sesi yang dilakukan dalam penelitian pendek. Hasil observasi baseline A1 persentase stabilitas penelitian dari ketiga subjek sebesar 20-60%, sehingga data pada fase baseline A1 dapat dianggap variabel. Interveni (B) persentase stabilitas penelitian dari ketiga subjek rentang stabilitas sebesar 50-83%. Hasil observasi baselibe A2 dari ketiga subjek rentang stabilitas sebesar 80-100% yang dianggap stabil. Menurut Sunanto dalam Sari . , menyebutkan dan menggunakan persentase stabilitas sebesar 80% - 90% untuk menganggap suatu data stabil. Hasil analisis data antar kondisi pada tiga klien, tingkat perubahan dalam dan antara kondisi menunjukkan peningkatan pada level perubahan yang teramati. Beberapa level perubahan dalam beberapa kondisi tetap stabil karena jumlah total kejadian perilaku subjek pada awal dan akhir kondisi yang teramati. Level perubahan yang tidak berubah juga dapat disebabkan karena jumlah data karena data awal dan data akhir pada kondisi lain tidak ada perbedaan. 65 | BIYAN: Jurnal Ilmiah Bidang Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial Ummul Khair, et al. Hasil anaslis data pada data dalam kondisi yang telah dilakukan oleh peneliti menunjukkan adanya perilaku yang Hasil analisis data menunjukkan adanya pengaruh implementasi terapi realitas WDEP AC dalam meningkatkan kontrol diri residen di Yayasan Sekar Mawar. Hasil analisis data dalam kondisi pada kecenderungan arah pada ketiga subjek trend menurun atau stabil dan mendatar atau tidak ada perubahan. Kecenderungan jejak seperti dengan kecenderungana arah. Hal tersebut dikarenakan penentuan estimasi arah metode belah dua . plit middl. yakni dengan membagi data pada suatu fase berdasarkan median data poin dan nilai ordinat. Overlap tertinggi yaitu 68% dan terendah yaitu 0%. Data tersebut disebabkan jumlah kejadian pada beberapa sesi dalam suatu kondisi mempunyai jumlah sama. Keadaan tersebut disebabkan besar. Data overlap tersendah 0% yang dimana sering terjadi baik baseline maupun kondisi intervensi. Jumlah overlap 0% menunjukkan bahwa implementasi terapi realitas WDEP AC yang dilakukan oleh peneliti memiliki pengaruh dalam meningkatkan perilaku subjek penelitian. Pengaruh terapi realitas WDEP AC terhadap target perilaku ditujukan dengan adanya overlap data, yang dimana semakin kecil persentase overlap maka semakin baik pengaruh intervensi terhadap target perilaku (Sunanto, 2. CONCLUSION Kesimpulan terapi realitas WDEP AC bahwa terdapat pengaruh untuk mengontrol diri korban penyalahguna napza, yang dimana terapi WDEP AC dapat mengingkatkan kontrol diri korban penyalahgunaan napza pada saat sebelum implementasi, selama implementasi, dan setelah implementasi penerapan terapi realitas WDEP AC. Adanya penurunan perilaku kontrol diri yang negatif ketiga subjek peneliti yaitu ES. BG dan DK. Desain pengembangan terapi realitas WDEP AC untuk meningkatkan kontrol diri korban penyalahgunaan napza menghasilkan temuan yang berkaitan dengan teori yang mendasari penelitian, sehingga dapat dihasilkan model akhir. Berikut ini beberapa masukan untuk peneliti, konselor, dan peneliti berikutnya. Saran untuk implementasi terapi realitas WDEP AC yaitu Konselor diharapkan mempraktikkan terapi realitas WDEP AC dan menguasai serta model pengembangan terapi realitas yang akan diterapkan terlebih dahulu kemudian Konselor diharapkan untuk terus memantau perkembangan perilaku korban penyalahgunaan napza hingga mengamati perubahan yang terjadi. Saran untuk penelitian lanjutan yaitu Model terapi realitas WDEP AC dalam meningkatkan kontrol diri korban penyalahgunaan napza perlu dilakukan uji coba kembali di lokasi rehabilitasi napza lain kemudian Penelitian lanjutan juga dapat mengganti fokus varibel penelitian seperti disiplin sehinggaa dapat mengetahui apakah terapi realitas WDEP AC ini efektif juga untuk meningkatkan perilaku disiplin. DAFTAR PUSTAKA