Implementasi Bimbingan Kelompok Teknik Problem Based Learning Terhadap Efikasi Diri Akademik Peserta Didik SMA IMPLEMENTASI BIMBINGAN KELOMPOK TEKNIK PROBLEM BASED LEARNING TERHADAP EFIKASI DIRI AKADEMIK PESERTA DIDIK SMA Saufina Nur Azmiya Program Studi Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Surabaya Email: saufina21060@mhs. Denok Setiawati Program Studi Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Surabaya Email: denoksetiawati@unesa. Abstrak Efikasi diri akademik adalah keyakinan yang dimiliki individu terhadap kemampuannya untuk melaksanakan tuntutan akademik seperti tugas atau ujian dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Efikasi diri akademik mempunyai peranan penting dalam berbagai aspek prestasi peserta didik dan dalam mengendalikan motivasi untuk mencapai target-target akademik. penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui implementasi bimbingan kelompok Problem based Learning terhadap efikasi diri akademik peserta didik SMA. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode kuantitatif dengan desain penelitian pre-eksperimental one group pre-test post-test, serta analisis data dalam penelitian ini menggunakan statistic non parametric yaitu Uji Wilcoxon. Pengumpulan data yang digunakan yaitu instrumen angket untuk mengukur efikasi diri akademik peserta didik kelas X-12 SMA Negeri 1 Manyar. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 8 peserta didik kelas X-12 yang memiliki efikasi diri akademik rendah dan sedang. Pada penelitian ini terlihat perubahan peserta didik dari sebelum dan sesudah mendapatkan perlakuan, dilihat dari perbandingan hasil pre-test dan post-test diperoleh peningkatan sebesar 17 poin. Berdasarkan hasil interpretasi Uji Wilcoxon dengan SPSS Statistics 26 diperoleh nilai Asymp. Sig . -taile. Nilai tersebut lebih kecil dari 0. 05 sehingga dapat disimpulkan bahwa Ha diterima yang artinya Bimbingan kelompok Problem Based Learning dapat meningkatkan efikasi diri akademik peserta didik SMA. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi referensi bagi berbagai pihak sehingga layanan bimbingan kelompok dapat lebih berkembang. Kata kunci: efikasi diri akademik, bimbingan kelompok, problem based learning Abstract Academic self-efficacy is the belief that individuals have in their ability to carry out academic demands such as assignments or exams with different levels of difficulty. Academic self-efficacy has an important role in various aspects of learner achievement and in controlling motivation to achieve academic targets. This study is intended to determine the implementation of Problem-based Learning group guidance on the academic self-efficacy of high school students. The research method used is a quantitative method with a pre-experimental one group pre-test post-test research design, and data analysis in this study using nonparametric statistics, namely the Wilcoxon Test. Data collection used is a questionnaire instrument to measure the academic self-efficacy of students in class X-12 SMA Negeri 1 Manyar. The subjects in this study amounted to 8 students in class X-12 who had moderate and low academic self-efficacy. In this study, there were changes in students from the average increase obtained before and after treatment of 17 points. Based on the results of the Wilcoxon Test interpretation with SPSS Statistics 26, the Asymp. Sig . -taile. value of 0. This value is smaller than 0. 05 so it can be concluded that Ha is accepted, which means that Problem Based Learning group guidance can increase the academic self-efficacy of high school The results of the study are expected to be a reference for various parties so that group guidance services can be further developed. Keywords: academic self-efficacy, group guidance, problem based learning PENDAHULUAN Pendidikan merupakan hal terpenting dalam kehidupan individu, artinya setiap individu berhak mendapatkannya dan diharapkan untuk selalu berkembang di dalamnya, serta berperan penting dalam mempersiapkan dan mengembangkan sumber daya manusia yang handal, mampu bersaing secara sehat namun juga berjiwa solidaritas dengan sesama manusia (Alpian et al. , 2. Implementasi Bimbingan Kelompok Teknik Problem Based Learning Terhadap Efikasi Diri Akademik Peserta Didik SMA Pendidikan merupakan keseluruhan pengetahuan yang diperoleh sepanjang hidup, di segala tempat dan dalam segala kondisi, yang mempunyai dampak positif bagi perkembangan setiap individu (Pristiwanti et al. , 2. Pendidikan mengambil peran krusial dalam membentuk karakter dan kepribadian individu, mengajarkan wawasan serta keahlian yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan di masa depan. Pendidikan sangat erat kaitannya dengan nilai akademik dan non akademik. Nilai akademik yang diperoleh peserta didik dapat dipengaruhi oleh beragam faktor, salah satunya yaitu kemampuan efikasi diri akademik mereka. Efikasi diri didefinisikan sebagai keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam meraih tujuan dan mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi. Sementara itu, efikasi diri akademik mengacu pada keyakinan individu terhadap kemampuannya untuk menyelesaikan berbagai tuntutan akademik seperti tugas maupun ujian yang memiliki tingkat kesulitan beragam. Individu yang yakin dengan kemampuannya akan melakukan usaha yang keras karena meyakini bahwa kemampuan yang dimiliki membantunya mengatasi rintangan untuk meraih prestasi akademik yang tinggi (Khotimah et al. , 2. Efikasi diri berperan penting dalam kehidupan sehari-hari, individu akan mampu mengembangkan potensinya secara maksimal ketika efikasi diri mendukungnya (Fatimah et al. , 2. Efikasi diri sangat diperlukan dalam proses pembelajaran karena berperan penting mengendalikan motivasi dalam mencapai suatu target akademik yang sudah ditetapkan (Rahmawati et al. Keyakinan akan kemampuan diri memotivasi peserta didik untuk menghadapi tantangan belajar dengan lebih baik, meningkatkan kemandirian, dan mengurangi tingkat stres dalam menghadapi tugas dan ujian. Individu dengan efikasi diri yang tinggi mampu berpikir positif, tidak mudah menyerah, mampu mengembangkan potensinya secara maksimal, dan mampu menjadi pribadi yang mandiri. Peserta didik dengan tingkat efikasi diri akademik yang tinggi cenderung lebih percaya diri dalam menyelesaikan tugas akademik, sehingga motivasi dan level energi yang dimiliki akan lebih tinggi, dibandingkan peserta didik dengan efikasi diri rendah yang cenderung kurang gigih dalam belajar, lebih suka menghindar, dan mudah menyerah (Khotimah et al. , 2. Berdasarkan data yang peneliti peroleh di SMA Negeri 1 Manyar terdapat 18% peserta didik kelas X-12 yang memiliki efikasi diri rendah dan 73% memiliki efikasi diri sedang, dan hanya 9% peserta didik yang memiliki efikasi diri tinggi. Hal tersebut menunjukkan bahwa masih banyak peserta didik yang mengalami kendala dalam meningkatkan efikasi diri akademiknya. Fenomena terkait efikasi diri akademik yang ditemukan peneliti pada peserta didik kelas X-12 di SMA Negeri 1 Manyar diantaranya yaitu peserta didik cenderung menghindari tugas yang dirasa sulit baginya, kurang gigih dalam kegiatan belajar mengajar, serta kurang yakin dengan kemampuan yang dimilikinya. Peserta didik cenderung pesimis dalam menyelesaikan tugas dan meragukan kemampuan dirinya. Peserta didik terkadang langsung menyerah apabila merasa tidak sanggup terhadap suatu mata pelajaran dan cenderung mengandalkan bantuan temannya ketika mengerjakan tugas. Fenomena yang terjadi pada peserta didik terkait efikasi diri, yaitu upaya untuk mendapatkan nilai bagus cenderung menyimpang dan biasanya mereka melakukan tindakan curang, seperti menyontek pada saat ulangan (Yolantia et , 2. Hal itu terjadi karena adanya rasa kurang percaya akan kemampuan yang dimilikinya. Sejalan dengan Sintadewi et al. , . alam Safitri, 2. menjelaskan bahwa peserta didik yang meragukan kemampuannya, cenderung pasif ketika kegiatan belajar mengajar, dan mengalami kecemasan ketika mendapatkan tugas termasuk dalam kategori efikasi akademik rendah. Permasalahan efikasi diri akademik pada peserta didik dapat menimbulkan dampak yang negatif. Sejalan dengan (Arviani et al. , 2. mengungkapkan rendahnya efikasi diri pada peserta didik dapat memberikan pengaruh besar pada proses pembelajaran, seperti menghindari tugas yang menantang, meyakini bahwa situasi dan tugas yang sulit berada di luar kemampuan, mudah menyerah dalam menghadapi tugas dan situasi yang sulit, tidak memiliki usaha yang kuat untuk meningkatkan prestasi, dan rendahnya tingkat partisipasi dalam kegiatan yang Sehingga efikasi diri akademik perlu ditingkatkan karena efikasi diri akademik yang baik bermanfaat membantu peserta didik mencapai tujuan akademik secara optimal dan memiliki manajemen belajar yang bagus (Janah & Rahman, 2. Efikasi diri dapat mempengaruhi hasil belajar karena peserta didik yang memiliki keyakinan terhadap kemampuannya cenderung lebih siap untuk menghadapi tugas-tugas yang diberikan. Selaras dengan penelitian (Cahyani & Winata, 2. bahwa efikasi diri berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap pencapaian belajar. Dalam mengembangkan efikasi diri akademik diperlukan pendekatan secara khusus sehingga mampu mengoptimalkan hasil belajar peserta didik. Salah satu alternatif layanan bimbingan dan konseling untuk membantu peserta didik mengembangkan kemampuan efikasi diri akademiknya dapat diberikan melalui layanan bimbingan kelompok. Menurut (Setiawati et al. , 2. bimbingan kelompok adalah salah satu layanan unggulan juga penting untuk menunjang perkembangan, khususnya karier, sosial dan peningkatan kesadaran diri yang dalam pelaksanaannya diperlukan inovasi, baik dalam penggunaan metode, teknik maupun media. Anggara et al. Implementasi Bimbingan Kelompok Teknik Problem Based Learning Terhadap Efikasi Diri Akademik Peserta Didik SMA . alam Hidayat & Fergina, 2. mengungkapkan bahwa layanan bimbingan kelompok bisa dijadikan alternatif untuk membantu peserta didik meningkatkan efikasi diri akademiknya, sehingga peserta didik harus bersungguh-sungguh mengikuti kegiatan layanan bimbingan kelompok agar memperoleh ilmu, pengalaman, dan pengetahuan. Adapun layanan bimbingan kelompok yang dirasa cocok untuk diberikan kepada peserta didik dalam mengatasi permasalahan efikasi diri akademik adalah dengan teknik Problem Based Learning. Hal ini karena bimbingan kelompok dengan teknik Problem Based Learning memiliki beberapa keunggulan seperti yang dinyatakan oleh Qomariyah. , . alam AzZahra et al. , 2. sebagai berikut : . melatih peserta didik memiliki keterampilan pemecahan masalah dalam kehidupan sehari-hari. melatih komunikasi dan interaksi peserta didik dalam berlangsungnya kegiatan pembelajaran. melatih peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan secara mandiri sepanjang proses pembelajaran. melatih peserta didik untuk fokus pada permasalahan sehingga dapat meninggalkan materi yang tidak perlu dipelajari. Melalui bimbingan kelompok Problem Based Learning peserta didik diajak untuk berpikir cara menyelesaikan persoalan mereka untuk menumbuhkan kemandirian belajar dan meningkatkan efikasi diri akademik mereka. AuProblem Based Learning didasarkan pada fase kelompok kecil berupa pembelajaran mandiri, penyelidikan, dan pemecahan masalah di bawah bimbingan guruAy (Habsy et , 2. Dengan model layanan tersebut memungkinkan peserta didik untuk meningkatkan keterampilan problem solving, kerja sama kelompok, dan peningkatan keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri. Berdasarkan uaraian di atas, peneliti tertarik melakukan penelitian secara lebih mendalam mengenai Implementasi Bimbingan Kelompok Teknik Problem Based Learning Terhadap Efikasi Diri Akademik Peserta Didik SMA. Namun, penelitian empiris yang mengkaji peningkatan efikasi diri akademik peserta didik SMA melalui bimbingan kelompok Problem Based Learning masih terbatas. Maka dari itu, penelitian ini dilakukan untuk mengisi kesenjangan tersebut dengan mengkaji secara lebih mendalam tentang bagaimana bimbingan kelompok Problem Based Learning dapat meningkatkan efikasi diri akademik peserta didik di SMA Negeri 1 Manyar. kuantitatif yaitu data berupa angka (Wajdi et al. , 2. Desain penelitian yang digunakan yaitu pre-eksperimental One group pretest-posttest yang diberikan kepada satu kelompok dan tidak ada kelompok pembanding, kemudian kelompok tersebut diberikan tes awal dan tes akhir disamping perlakuan (Sukmadinata, 2. Dengan demikian, dapat diketahui lebih akurat dengan melihat hasil sebelum dan sesudah diberi perlakuan. Desain penelitian ini dapat dilihat pada gambar berikut: Gambar 1. Pre-Test Post-Test Design Pre-test Treatment Post-test Keterangan: O1 : Kondisi awal sebelum diberikan treatment X : Pemberian layanan bimbingan kelompok Problem Based Learning O2 : Kondisi akhir setelah treatment Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini yaitu 33 peserta didik kelas X-12 di SMA Negeri 1 Manyar. Dari populasi tersebut diambil 8 peserta didik dengan teknik purposive sampling, yaitu memilih sampel dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2. Sampel dipilih berdasarkan pertimbangan yang telah dirumuskan terlebih dahulu oleh Perhitungan jumlah sampel didasarkan pada pendapat Arikunto . yaitu 10% dari populasi. Sehingga jumlah sampel minimal yang dapat diambil yaitu 3,3. Berdasarkan hal tersebut dan juga POP BK, peneliti menetapkan sampel sebanyak 8 peserta didik kelas X-12 dengan kriteria memiliki efikasi diri akademik kategori rendah dan sedang. Teknik dan Alat Pengumpulan Data Peneliti melakukan pengumpulan data dengan menyebarkan skala penelitian tertutup yaitu angket efikasi diri akademik yang berjumlah 38 butir pernyataan yang disajikan dalam bentuk Google Formulir. Peneliti menggunakan skala likert yang telah dimodifikasi dengan empat alternatif jawaban, yaitu: sangat tidak setuju, tidak setuju, setuju, dan sangat setuju. Peneliti melakukan itu untuk menghindari jawaban bias di mana responden memilih jawaban netral . untuk semua pertanyaan dalam instrumen. Selaras dengan pendapat (Hadi, 1. bahwa modifikasi skala likert dilakukan untuk menghapus kekurangan yang ada dalam skala lima METODE Rancangan Penelitian Penelitian ini termasuk pendekatan kuantitatif, yang mengutamakan penghimpunan dan analisis data Uji Validitas dan Reliabilitas Uji validitas pada penelitian ini dilakukan pada 06 November 2024 dengan bantuan SPSS statistic 26. Implementasi Bimbingan Kelompok Teknik Problem Based Learning Terhadap Efikasi Diri Akademik Peserta Didik SMA Instrumen dikatakan valid apabila r hitung lebih besar dari r tabel. Pada penelitian ini nilai r tabel sebesar 0. 1519, dari 40 item pernyataan terdapat 38 item yang memiliki nilai r hitung lebih besar dari r tabel sehingga item pernyataan tersebut dinyatakan valid. Adapun, uji reliabilitas diperoleh nilai CronbachAos Alpha sebesar 0,941. Nilai tersebut masuk pada kategori koefisien yang sangat Tabel 1. Hasil Uji Reliabilitas Cronbach's Alpha Kategori tinggi = . ean SD) ke atas = . ke atas = 100 ke atas Berdasarkan pada pengkategorian di atas maka diperoleh hasil bahwa dari 33 subjek yang disebarkan angket sebagai pengukuran awal terdapat 6 subjek dengan kategori rendah, 24 subjek dengan kategori sedang, dan 3 subjek dengan kategori tinggi. Berdasarkan pada hasil tersebut dipilih 3 subjek dengan kategori rendah dan 5 subjek dengan kategori sedang. Subjek yang dipilih yaitu AFA. AMI. AAP. DFA. MFR. MHS. MRF, dan TP. Selanjutnya, subjek yang dipilih diberikan perlakuan . berupa bimbingan kelompok Problem Based Learning selama 6 kali pertemuan pada 23 Januari sampai 07 Februari 2025. Setelah itu dilakukan post-test untuk mengetahui apakah perlakuan yang diberikan dapat mempengaruhi efikasi diri akademik peserta didik. Setelah dilakukan analisis terhadap pre-test dan post-test ditemukan adanya peningkatan skor pada semua subjek penelitian. Berikut tabel perbandingan pretest dan post-test: Tabel 2. Hasil Perbandingan Pre-test dan Post-test N of Items Teknik Analisa Data Teknik analisis data yang digunakan oleh peneliti yaitu Wilcoxon Matched Pairs Test karena subjek penelitian relatif kecil dan data yang didapatkan adalah data ordinal. Adapun tahapan untuk melakukan Uji Wilcoxon dengan bantuan aplikasi SPSS adalah sebagai Buat tabel skor hasil pre-test dan post-test Masukkan data ke SPSS lalu tekan analyze, tekan nonparametrics dan tekan 2 related sample Kemudian, muncul intruksi memasukkan skor pretest pada variable 1 serta post-test pada variable 2, kemudian centang Wilcoxon dan tekan oke Hasil Uji Wilcoxon sudah keluar, lalu analisis dengan membandingkan hasil pada taraf signifikansi 5% . Buat keputusan berupa kesimpulan dari hasil Uji Wilcoxon, dimana: Ho diterima jika, . araf kesalaha. 5% O A (Asymp. Sig . -taile. ) Ho ditolak dan Ha diterima jika . araf Hipotesis pada penelitian ini adalah sebagai berikut: Ho : Bimbingan kelompok Problem Based Learning tidak dapat meningkatkan efikasi diri akademik peserta didik SMA Ha : Bimbingan kelompok Problem Based Learning dapat meningkatkan efikasi diri akademik peserta didik SMA Skor Kategori Skor Kategori Sedang Rendah Sedang Sedang Rendah Sedang Sedang Rendah Tinggi Sedang Tinggi Sedang Sedang Tinggi Sedang Sedang Pening Skor Sedang Tinggi Pre-test Nama AFA AMI AAP DFA MFR MHS MRF Ratarata Post-test Berdasarkan tabel diatas diketahui adanya perbedaan setelah mendapatkan treatment bimbingan kelompok dengan teknik Problem Based Learning. Pada pre-test rata-rata skor yang diperoleh yaitu 74. Setelah diberikan perlakuan, rata-rata skor menunjukkan kenaikan Selanjutnya, dilakukan perbandingan hasil menggunakan Uji Wilcoxon dengan bantuan SPSS Statistics 26. Berdasarkan hasil tabel test statistics diperoleh hasil 0. Nilai tersebut lebih kecil dari 0. sehingga dapat disimpulkan bahwa Ha diterima yang artinya Bimbingan kelompok Problem Based Learning dapat meningkatkan efikasi diri akademik peserta didik SMA. Berikut hasil perhitungan Uji Wilcoxon : HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pada penelitian ini, pre-test dilaksanakan pada tanggal 20 Januari 2025 di kelas X-12. Dari hasil penyebaran angket, dikategorikan menjadi rendah, sedang, dan tinggi. Pengkategorian tersebut dapat dilihat dari perhitungan berikut: Kategori rendah = . ean Ae SD) ke bawah = . Ae . ke bawah = 62 ke bawah . Kategori sedang = . ean Ae SD) sampai . ean SD) = . Ae . = 62 sampai 100 Tabel 3. Hasil Uji Wilcoxon Test Statistics Asymp. Sig. -taile. Pembahasan Penelitian ini dilaksanakan kepada 8 subjek peserta didik kelas X-12 yang memiliki efikasi diri Implementasi Bimbingan Kelompok Teknik Problem Based Learning Terhadap Efikasi Diri Akademik Peserta Didik SMA akademik rendah dan sedang. Peneliti memilih 8 subjek yang diantaranya 5 peserta didik kategori sedang dan 3 peserta didik kategori rendah. Peserta yang terpilih yakni AFA. AMI. AAP. DFA. MFR. MHS. MRF, dan TP. Pemberian bimbingan kelompok Problem Based Learning kepada peserta didik dilaksanakan sebanyak 6 kali pertemuan pada 17 Januari Ae 07 Februari 2025 dengan durasi selama 45 menit setiap pertemuannya. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diperolah hasil pre-test sebesar 74 dan post-test sebesar 91 yang kemudian hasil tersebut diuji dengan menggunakan Uji Wilcoxon SPSS Statistics 26, diketahui bahwa nilai Aysms. Sig . -taile. Nilai tersebut lebih kecil dari 0. 05 sehingga dapat disimpulkan bahwa Ha Maka dapat dikatakan terdapat perbedaan skor sebelum dan sesudah diberikan bimbingan kelompok dengan teknik Problem Based Learning. Hal ini selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh (Zulfiantina & Setiawati, 2. yang menunjukkan yang menunjukkan hasil Aysms. Sig . -taile. 01 yang artinya Ha dterima dan Ho ditolak, karena nilai 0. 01 lebih kecil dari Bimbingan kelompok menjadi layanan dasar yang berperan penting dalam perkembangan kemampuan resiliensi peserta didik, hal ini diperjelas dengan penelitian yang dilakukan oleh (Setiawati, 2. bahwa layanan dasar merupakan komponen yang digunakan untuk membantu aktivitas penyiapan pengalaman terstruktur secara klasikal maupun kelompok yang model dan pelaksanaannya dilakukan secara sistematis untuk mengembangkan kemampuan penyesuaian diri yang Jenis layanan dasar yang dapat diterapkan untuk meningkatkan resiliensi adalah layanan bimbingan klasikal dan layanan bimbingan kelompok. Layanan bimbingan kelompok teknik Problem Based Learning menunjukkan peningkatan 8 subjek penelitian dan terdapat indikator yang mengalami paling banyak peningkatan yaitu indikator tingkat . kesulitan individu terhadap upaya yang dilakukan dengan deskriptor tingkat kemampuan peserta didik dalam menyelesaikan tugas akademik dan tingkat kesulitan tugas Adanya peningkatan kemampuan tersebut dibuktikan dari keaktifan mengikuti aktivitas diskusi kelompok untuk memahami materi dan kasus yang Perbedaan peningkatan skor dari pre-test dan post-test dipengaruhi banyak faktor yang salah satunya adalah persuasi verbal. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh (Amelia et al. , 2. menunjukkan terdapat hubungan positif antara pesuasi verbal dengan efikasi diri. Sesuai dengan teori Bandura mengatakan bahwa individu yang mendapatkan arahan dan nasehat bisat mengembangkan kapasitasnya terkait kemampuan yang dimiliki sehingga mampu mencapai tujuan yang Individu yang berhasil diyakinkan secara verbal akan menunjukkan upaya yang lebih gigih dibandingkan dengan individu yang meragukan dirinya dan hanya fokus pada kekurangan diri saat menjumpai Hasil post-test menunjukkan individu yang mengalami kenaikan paling sedikit adalah AFA dengan hasil pre-test sebesar 97 dan hasil post-test sebesar 107, hal tersebut dipengaruhi bagaimana AFA sangat piawai mendalami sebuah kasus dan tahu hal apa yang perlu dilakukan dalam kondisi tersebut. Selain itu, bekal kemampuan efikasi diri akademik yang dimiliki individu tersebut berasal dari prinsipnya bahwa ketika mengalami kegagalan tidak boleh mudah menyerah begitu saja, harus coba lagi dan lagi sampai bisa. Pada pertemuan pertama bimbingan kelompok. AFA menunjukkan antusias yang penuh untuk mengikuti kegiatan. AFA tidak mengalami kesulitan dalam melakukan interaksi dengan anggota kelompok yang lainnya, karena mereka berada dalam kelas yang sama dan sudah saling mengenal. Pada pertemuan kedua hingga keenam. AFA menunjukkan keaktifan yang konsisten dalam penyelesaian kasus. Sehingga kemampuan AFA semakin terasah dan menunjukkan efikasi diri akademik dalam dirinya terbukti bagaimana ia semakin memahami hasil diskusi yang AFA mampu berpikir positif ketika mengalami kegagalan dan tidak mudah putus asa. Sikap AFA menunjukkan rasa percaya diri, di mana rasa percaya diri tersebut membuat ia bersikap positif dalam menghadapi sesuatu (Yulikhah et al. , 2. Kemudian terdapat individu AMI mengalami peningkatan yang masuk kategori sedang dengan indikator paling meningkat adalah tingkat . Pada awal pertemuan AMI menunjukkan pribadi yang pendiam dan cuek ketika diajak interaksi dengan peneliti. Seiring berjalannya waktu. AMI menunjukkan perubahan sikap dan perilaku terhadap peneliti, ia terlihat cukup banyak berbicara dan terlihat memperhatikan. Pada pertemuan kedua hingga keenam, ketika berdiskusi AMI selalu turut andil dalam memberikan banyak opsi pilihan jawaban pada teman sekelompoknya. Hal tersebut menunjukkan bahwa AMI mempunyai keyakinan diri yang cukup dalam mengerjakan suatu hal. Selain itu. AMI mampu mengajak teman sekelompoknya untuk terlibat dalam diskusi kasus dan mampu berpikir dengan cepat dalam mencari jawaban. Sikap AMI tentang keyakinan diri berkaitan dengan pendapat Bandura . alam Syalviana, 2. tentang dimensi tingkat . bahwa apabila tugas-tugas yang dihadapi sesuai dengan kemampuannya, maka individu akan merasa yakin dapat menyelesaikannya. Selain itu, individu AAP masuk pada kategori tinggi mengalami peningkatan 14 poin dari skor pre-test Implementasi Bimbingan Kelompok Teknik Problem Based Learning Terhadap Efikasi Diri Akademik Peserta Didik SMA 89 menjadi 103 dengan indikator paling meningkat adalah kekuatan . AAP mempunyai keyakinan diri tinggi terhadap tindakan yang dilakukan akan memberikan hasil yang sesuai dengan apa yang diharapkan. Sebagaimana pendapat yang dikemukakan oleh Schunk dan Pajares . alam Zagoto, 2. bahwa efikasi diri memberi ketahanan dan kekuatan bagi peserta didik untuk menghadapi kondisi sulit di sekolah, sikap tidak mudah bosan, tidak mudah menyerah dan cepat ketika menyelesaikan suatu masalah dan tugas di sekolah merupakan ciri peserta didik yang mempunyai efikasi diri Pada pertemuan pertama AAP terlihat pendiam dan malu ketika berpendapat. Subjek AAP terlihat ragu-ragu dan kurang percaya diri, ia membutuhkan adaptasi yang cukup lama. Meski demikian, pada pertemuan kedua sampai keenam AAP mampu menunjukkan bagaimana penyelesaian kasus secara kreatif dan terlibat aktif dalam diskusi kelompok. AAP semakin menunjukkan penyesuaian diri meskipun belum dengan teman laki-laki karena ia merasa malu dan kurang mengenal mereka meskipun berada dalam satu kelas yang sama. Disisi lain terdapat DFA yang mengalami peningkan skor pre-test 76 menjadi 99 kategori sedang dengan indikator paling meningkat adalah tingkat . DFA adalah satu-satunya subjek penelitian yang menjadi atlet pencak silat, yang mampu membagi waktu antara belajar dan latihan untuk kegiatan atletnya. Pada pertemuan pertama DFA menunjukkan komunikasi yang baik serta antusias dalam pengenalan bimbingan Pada pertemuan kedua. DFA terlihat sedikit lelah karena kegiatan latihan sehingga ia kurang bersemangat dan sedikit mengalami kebingungan dalam menganalisis kasus. Sehingga ia memberikan kesempatan pada teman sekelompoknya untuk memulai lebih dulu. Hal tersebut dapat dipengaruhi oleh faktor Physiological Maryam . alam Amelia et al. , 2. menjelaskan bahwa Physiological states merupakan faktor yang berkaitan dengan kondisi fisik seperti lelah, tegang, cemas, apabila kondisi fisik tersebut dirasakan sebagai tantangan maka akan memperkuat efiksi diri peserta didik. Pada pertemuan ketiga hingga keenam. DFA terlihat mampu memahami kasus yang diberikan dan aktif dalam diskusi kelompok. Kemudian terdapat MFR yang mengalami peningkatan yang paling banyak yaitu 27 poin dari skor pre-test 61 menjadi 88 masuk pada kategori sedang, dengan ndikator yang paling meningkat adalah penguasaan . Pada pertemuan pertama MFR menunjukkan antusias dan rasa penasaran yang tinggi. mampu membangun interaksi yang baik dengan peneliti dan anggota kelompok. MFR menjadi peribadi yang sering bertanya apabila ia mengalami kesulitan dalam memahami materi dan kasus yang diberikan oleh peneliti. Sehingga pada pertemuan kedua hingga keenam. MFR mampu terlibat aktif dalam diskusi kelompok dan memahami materi, juga kasus yang diberikan dengan baik. Hal ini menunjukkan bahwa MFR mampu mengatasi hambatan yang ia alami selama kegiatan. Kemampuan tersebut dapat dipengaruhi oleh efikasi diri MFR, sebagaimana diungkapkan oleh (Hussain et al. , 2. bahwa efikasi diri membuat individu yakin akan kemampuan mereka untuk mengatasi hambatan yang dapat menghambat tujuan Selain itu. MHS mengalami peningkatan skor pre-test 98 menjadi 109 masuk pada kategori tinggi. Indikator yang paling banyak meningkat adalah tingkat . di mana MHS memiliki keyakinan diri yang tinggi terhadap kemampuannya dalam melakukan atau mengerjakan suatu hal. Pada pertemuan pertama. MHS terlihat sangat pendiam dan gugup ketika berinteraksi dengan peneliti maupun anggota kelompok. MHS terlihat malu-malu dalam menjawab dan mengemukakan pendapat, namun ada MRF yang mampu mendorong dan memberikan semangat kepada MHS agar berani Perilaku MRF terhadap MHS termasuk ke dalam faktor Verbal Persuasion yang merupakan dukungan verbal dari lingkungan. Maryam . alam Amelia et al. , 2. mengemukakan bahwa ketika peserta didik berhasil dan mendapatkan dukungan verbal maka keyakinan dirinya akan meningkat begitupun sebaliknya. Pada pertemuan kedua hingga keenam MHS mulai rileks dan nyaman, ia mulai aktif melakukan interaksi dan memberikan jawaban dalam diskusi kelompok. Selain itu individu MRF yang mengalami peningkatan 20 poin dari hasil pre-test 69 menjadi 89 dengan indikator paling meningkat adalah tingkat . dan kekuatan . MRF merupakan pribadi yang ceria dan mudah bergaul, ia mampu mencairkan suasana dalam bimbingan kelompok. Ia juga mampu mendorong anggota kelompok yang masih malu-malu berpendapat untuk lebih berani dan percaya diri. Pada pertemuan kedua MRF mengalami sedikit kesulitan dalam memahami kasus, namun ia tetap berusaha untuk memahaminya sampai bisa. Sehingga pada pertemuan ketiga hingga keenam MRF terlihat aktif dalam diskusi kelompok dan berinisiatif untuk membuka presentasi hasil diskusi. Perilaku MRF yang tidak mudah menyerah ketika mengalami kesulitan dalam memahami kasus dapat dipengaruhi oleh tingkat kekuatan MRF terhadap Bandura . alam Syalviana, 2. menjelaskan tentang keyakinan diri bahwa tindakan yang dilakukan akan memberikan hasil sesuai dengan yang diharapkan individu menjadi dasar dirinya melakukan usaha yang keras, bahkan ketika menemui kendala Implementasi Bimbingan Kelompok Teknik Problem Based Learning Terhadap Efikasi Diri Akademik Peserta Didik SMA Kemudian terdapat individu TP yang mengalami peningkatan skor pre-test 55 menjadi 71 dengan indikator paling meningkat adalah tingkat . Pada pelaksanaan bimbingan kelompok pertemuan pertama TP terlihat pendiam dan mengalami ketegangan apabila melakukan interaksi dengan peneliti. Namun ketika mengenal lebih dekat. TP mampu menghilangkan rasa tegangnya dan menjadi pribadi yang cukup cerewet. Pada pertemuan kedua hingga keenam TP aktif berkontribusi memberikan opsi pilihan jawaban kepada teman sekelompoknya. mampu mengajak teman sekelompoknya untuk berpikir kritis dan unik dalam menemukan jawaban. Hasil perkembangan TP berfokus pada kenaikan indikator level yang terlihat sejak awal bimbingan di mana ia mampu memahami materi dan kasus yang diberikan dengan baik. Perilaku yang ditunjukkan TP tersebut sesuai dengan tujuan bimbingan kelompok Problem Based Learning. Seperti yang diungkapkan oleh Hosnan . alam Mayasari et al. , 2. bahwa tujuan utama dari Problem Based Learning tidak hanya menyampaikan pengetahuan kepada peserta didik, melainkan juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kemampuan pemecahan masalah serta kemampuan peserta didik untuk aktif memperoleh pengetahuan sendiri. Dari hasil pelaksanaan kegiatan selama 6 kali pertemuan ini membuktikan bahwa efikasi diri akademik bisa ditingkatkan dengan layanan bimbingan kelompok teknik Problem Based Learning dengan menggunakan media yang menarik menunjukkan kedelapan subjek penelitian mengalami perbedaan kenaikan skor pre-test dan post-test. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan (Puspita, 2. terhadap peserta didik di SMP Al-Falah Deltasari Sidoarjo yang bertujuan untuk meningkatkan pemecahan masalah dengan teknik Problem Based Learning. Hasil analisis menunjukkan terjadinya peningkatan skor 4 poin dari pre-test 92 Penelitian tersebut menunjukkan bahwa teknik Problem Based Learning dengan bantuan media yang menarik mampu mengembangkan kemampuan problem solving peserta didik. kesulitan individu terhadap upaya yang dilakukan. Dengan menggunakan teknik analisa data Uji Wilcoxon diperoleh hasil Test Statistics sebesar 0. Nilai tersebut lebih kecil dari 0. 012<0. sehingga dapat disimpulkan bahwa Ha diterima dan Ho ditolak yang artinya Bimbingan Kelompok Problem Based Learning Dapat Meningkatkan Efikasi Diri Akademik Peserta Didik SMA. Saran Berdasarkan hasil penelitian, peneliti membuat beberapa masukan sebagai berikut: Bagi sekolah, diharapkan dapat memberikan jam pembelajaran/layanan BK untuk mengetahui permasalahan dan perkembangan yang dialami oleh peserta didiknya. Bagi guru BK, diharapkan dapat memanfaatkan teknik Problem Based Learning dalam pemberian layanan bimbingan untuk meningkatkan efikasi diri akademik peserta didik. Bagi peserta didik, hendaknya perlu untuk mengembangkan kemampuan efikasi diri akademik dalam kegiatan belajar mengajar sehingga mampu mencapai hasil belajar yang optimal. Bagi peneliti selanjutnya, penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi untuk menyempurnakan berbagai keterbatasan penelitian yang dilakukan sebelumnya, dan dapat merancang penelitian dengan metode yang lebih baik. DAFTAR PUSTAKA