JPKM Jurnal Profesi Kesehatan Masyarakat http://jurnal. id/index. php/jpkm A Corresponding Author. email address : ekoanastasia3@gmail. Received : 30 Agustus 2022 Revised : 10 Oktober 2022 Accepted : 30 Oktober 2022 Pengaruh Pendidikan Kesehatan Metode Demonstrasi terhadap Pengetahuan Pertolongan Pertama Cedera Kepala pada Anggota PMR Anas Tasia Eko Widianto & 2Eddy Wasito Program Studi Keperawatan STIKES Bhakti Husada Mulia Madiun. Indonesia AProgram Studi Kesehatan Masyarakat SIKES Bhakti Husada Mulia Madiun. Indonesia ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Pendidikan Kesehatan dengan Metode Demonstrasi terhadap Pengetahuan tentang Pertolongan Pertama Cedera Kepala pada Anggota PMR Di SMAN 1 Nglames. Desain Penelitian ini adalah Pra-eksperimen dengan rancangan penelitian one group pretest-posttest. Sampel penelitian ini berjumlah 44 responden dengan teknik purposive sampling dan pengumpulan data dengan lembar kuisioner. Hasil penelitian menggunakan Uji Paired T-Test menunjukkan nilai p (Sig. 2-taile. sebesar 0,000 < . sehingga H1 diterima, yang berarti pendidikan kesehatan berpengaruh dalam meningkatkan pengetahuan tentang pertolongan pertama cedera kepala pada anggota PMR. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum dilakukan pendidikan kesehatan didapatkan skor pengetahuan rerata 46,93 dan sesudah pendidikan kesehatan didapatkan skor pengetahuan rerata 84,20. Diharapkan dengan dilakukannya pendidikan kesehatan pertolongan pertama cedera kepala mampu meningkatkan pengetahuan Anggota PMR dalam mengatasi kasus korban cedera kepala dan anggota PMR bisa mendemonstrasikan pertolongan pertama cedera kepala ini ke anggota PMR yang baru maupun ke masyarakat. Kata Kunci: Pendidikan Kesehatan. Pengetahuan. Pertolongan Pertama Cedera Kepala. The Effect of Health Education Demonstration Method on Knowledge of Head Injury First Aid in PMR Members ABSTRACT This study aims to determine the effect of health education with the demonstration method on knowledge about first aid for head injuries in PMR members at SMAN 1 Nglames. This research design is a preexperiment with a one group pretest-posttest research design. The sample of this study amounted to 44 respondents with purposive sampling technique and data collection with a questionnaire sheet. The results of the study using the Paired T-Test showed a p value (Sig. 2-taile. 000 < . so that H1 was accepted, which means that health education has an effect on increasing knowledge about head injury first aid for PMR members. From the results of the study, it was shown that prior to health education, the average knowledge score was 46. 93 and after health education, the average knowledge score was 84. It is hoped that the health education of head injury first aid will be able to increase the knowledge of PMR members in dealing with cases of head injury victims and PMR members can demonstrate this head injury first aid to new PMR members as well as to the community. Keywords: Health Education. Knowledge. First aid for head injury. DOI : 10. 47575/jpkm. 369 | VOL. 3 NO. 2 OKTOBER 2022 | ISSN (Onlin. : 2774-8502 | Page : 141-149 This Journal is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Anas Tasia Eko Widianto & Eddy Wasito. Pengaruh Pendidikan Kesehatan Metode Demonstrasi PENDAHULUAN Cedera kepala adalah masalah kesehatan secara global/menyeluruh yang berakibat kematian dan cacat mental. Cedera kepala menjadi penyebab kematian utama pada usia muda, biasanya penderita cedera kepala mengalami kelebihan cairan di intraseluler maupun ekstraseluler di otak (Carney dkk. , 2. Cedera kepala merupakan benturan secara langsung maupun tidak langsung yang berdampak buruk berupa luka pada kulit kepala, kerusakan pada tengkorak, robekan selaput otak dan kerusakan jaringan otak, serta mengakibatkan gangguan saraf (Manarisip dkk. , 2. Kasus cedera kepala menjadi kasus yang beresiko mengakibatkan kematian maupun cacat permanen. Data World Health Organization (WHO) tentang cedera kepala setiap tahunnya di Amerika Serikat hampir 000 kasus cedera kepala. Dari jumlah 000 diantaranya mengalami kecacatan dan 50. 000 orang meninggal dunia. Pada tahun 2010 kejadian cedera kepala di eropa adalah 500 per 100. 000 populasi. Menurut data dari (Riskesdas, 2. di Indonesia terdapat kasus cedera kepala sebesar 11,9% dari 265 juta jiwa. Pada tahun 2018 di daerah kabupaten Magetan provinsi jawa timur terdapat 10% tingkat kejadian cedera kepala dari 691. Salah satu pencegahan keparahan akibat cedera kepala adalah dengan pengetahuan yang baik tentang pertolongan pertama cedera kepala, sehingga dapat mempengaruhi keterampilan dalam melakukan pertolongan pertama cedera kepala (Becker, 2. Berdasarkan hasil studi pendahuluan di SMAN 1 Nglames Kecamatan Madiun Kabupaten Madiun dengan mewawancarai 12 siswa tentang pengetahuan pertolongan pertama cedera kepala, hanya 3 dari 12 siswa tersebut hanya mengetahui sebagian saja yaitu dalam mengangkat korban cedera kepala ke lokasi yang lebih aman dengan menjajarkan kepala dan leher guna menjaga cedera tidak lebih fatal. Minimnya pengetahuan siswa pada pertolongan pertama cedera kepala dalam mencegah terjadinya cedera sekunder, sehingga diperlukannya pendidikan kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan siswa dalam pertolongan pertama cedera kepala dan dapat meningkatkan angka harapan hidup pada kasus berat seperti, pendarahan intracranial, cedera tulang leher, cedera kepala berat yang menyebabkan kematian. Tujuan utama pendidikan kesehatan adalah agar orang mampu mengatasi masalah dan mampu memutuskan kegiatan yang tepat agar taraf hidup yang sehat dan kesejahteraan. Manfaat pendidikan kesehatan yaitu, meningkatkan kemampuan masyarakat untuk memelihara dan meningkatan derajat kesehatan, menjadikan kesehatan sebagai kebutuhan utama, meningkatkan tanggung jawab dan kesadaran terhadap kesehatan. Media pembelajaran seperti buku maupun teks pada metode pembelajaran yang pasif, membaca dapat memberikan penguasaan materi sebesar 10%, sedangkan mendengar memberikan pengguasaan materi sebesar 20%, dan melihat secara langsung/melihat pemeragaan memberikan penguasaan materi sebesar 30% . Namun, jika melihat pembelajaran aktif, dimana ketika seseorang mengatakan, mengajarkan, memperagakan, atau berdiskusi, maka hal itu dapat memberikan 70% pemahaman dan daya ingat terhadap materi yang dikuasai, serta jika aktif dalam mengaplikasikan materi maka hal tersebut berkontribusi 90% terhadap pemahaman dan daya ingat. Pemberian materi dengan metode demonstrasi sangat pengalaman dan daya ingat yang kuat, serta ilmu yang bisa dipahami secara langsung. Dari penelitian terdahulu Sisca Crhistianingsih Dkk tentang Pengaruh pelatihan penanganan pertama cedera kepala terhadap pengetahuan siswa SMAN 6 Malang menyatakan bahwa Pendidikan kesehatan berpengaruh dalam meningkatkan pengetahuan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh pendidikan kesehatan metode demonstrasi terhadap pengetahuan pertolongan pertama cedera kepala pada anggota PMR. METODE PENELITIAN Penelitian penelitian kuantitatif dengan jenis metode pra eksperimental menggunakan one group pre-test and post-test design. Sampel dalam penelitian ini di observasi terlebih dahulu menggunakan kuisioner sebelum diberikan JPKM: Jurnal Profesi Kesehatan Masyarakat, 3. 2022: 141-149 | 143 Kemudian diberikan intervensi yaitu pengetahuan tentang pertolongan pertama cedera kepala. Selanjutya sampel tersebut di observasi kembali dengan menggunakan Populasi pada penenlitian ini adalah anggota kelompok palang merah remaja (PMR) SMAN 1 Nglames sebanyak 46 anggota. Jumlah sample minimal dalam penelitian dihitung dengan rumus besar sample. Teknik sampling dalam penelitian ini adalah purposive sampling, jumlah sample yang dibutuhkan dalam penelitian adalah sebanyak 44 responden. Untuk mengetahui informasi mengenai data umum dari responden dan beberapa faktor yang akan di teliti, peneliti membuat kuesioner yang berisi pertanyaan mengenai data demografi berupa: nama responden, usia, jenis kelamin, kelas, pengalaman benturan keras pada diri sendiri/keluarga/orang terdekat, pengalaman mengikuti seminar/ pelatihan tentang penanganan cedera kepala. Untuk mengukur tingkat pengetahuan tentang penanganan cedera kepala akan digunakan instrumen berupa kuesioner pengetahuan dalam bentuk pertanyaan tertutup. Sebagai uji coba instrumen, maka data yang digunakan dalam uji validitas sebanyak 30 responden dengan menggunakan analisis Pearson. Penentuan uji validitas jika r hasil > r tabel . maka pernyataan dinyatakan Jika r hasil < r tabel . maka pernyataan dinyatakan tidak valid. Hasil uji validitas pada kuisioner dari 20 item pernyataan tentang Pertolongan Pertama Cedera Kepala didapatkan 20 item pernyataan Sedangkan Uji reliabilitas instrumen pengetahuan, keterampilan dan efikasi diri dalam penelitian ini akan menggunakan rumus Alphacronbach atau tes dimana perhitungan dilakukan dengan menghitung interkorelasi di antara butir-butir pertanyaan dalam kuesioner. Variabel dikatakan reliabel jika nilai alphanya Ou 0,6. Hasil uji reliabilitas dari 20 soal adalah 0,861, yang dimana dapat disimpulkan bahwa nilai alphanya yaitu 0,861 Ou 0,6 kuesioner terkait pertolongan pertama cedera kepala HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan tabel 1 dapat diketahui bahwa rerata usia responden adalah 17,39 tahun dengan usia termuda 16 tahun dan usia tertua 19 tahun. Tabel 1 Distribusi Frekuensi Responden Anggota PMR SMAN 1 Nglames Berdasarkan Umur Mean Median Std Deviasi Minimal Maximal 17,00 1,124 17,39 Sumber: Data Primer Diolah, 2022 Tabel 2 Distribusi Frekuensi Responden Anggota PMR SMAN 1 Nglames Berdasarkan Kelas Kelas Frekuensi Persentase(%) 54,55 45,45 Total Sumber: Data Primer Diolah, 2022 Tabel 3 Distribusi Frekuensi Responden Anggota PMR SMAN 1 Nglames Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Frekuensi Persentase(%) Laki-laki 36,36 Perempuan 63,64 Total Sumber: Data Primer Diolah, 2022 Anas Tasia Eko Widianto & Eddy Wasito. Pengaruh Pendidikan Kesehatan Metode Demonstrasi Tabel 4 Distribusi Frekuensi Responden Anggota PMR SMAN 1 Nglames Berdasarkan Lama Menjadi Anggota Pmr Lama menjadi anggota PMR Frekuensi Persentase(%) 54,55 <1 Tahun 45,45 1-2 Tahun Total Sumber: Data Primer Diolah, 2022 Tabel 5 Distribusi Frekuensi Responden Anggota PMR SMAN 1 Nglames Berdasarkan Pengalaman Pernah Menemui Kejadian Cedera Kepala Pengalaman Frekuensi Persentase(%) 75,00 Tidak Pernah Pernah 25,00 Total Sumber: Data Primer Diolah, 2022 Tabel 6 Distribusi Frekuensi Responden Anggota PMR SMAN 1 Nglames Berdasarkan Pengalaman Pernah Mengalami Kejadian Cedera Kepala Pengalaman Frekuensi Persentase(%) Tidak Pernah Pernah Total Sumber: Data Primer Diolah, 2022 Berdasarkan tabel 2 dapat diketahui bahwa sebagian besar anggota PMR dikelas 11 dengan jumlah 24 orang . ,55%), sebagian kecil dikelas 12 dengan jumlah 20 orang . ,45%). Berdasarkan tabel 3 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan dengan jumlah 28 orang . ,64%), sebagian kecil berkelamin laki-laki dengan jumlah 16 orang . ,36%). Berdasarkan tabel 4 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden pada anggota PMR di <1 Tahun sebesar 24 orang . ,55%). Berdasarkan tabel 5 menunjukkan bahwa distribusi frekuensi mengenai pengalaman pernah menemui kejadian cedera kepala sebagian besar di tidak pernah sebesar 33 orang . ,00%), dan sebagian kecil pernah menemui kejadian cedera kepala sebesar 11 orang . ,00%). Berdasarkan tabel 6 menunjukkan bahwa seluruh anggota sebesar 44 orang . %), tidak pernah mengalami kejadian cedera kepala. Berdasarkan tabel 7 menunjukkan bahwa seluruh anggota sebesar 44 orang . %), tidak pernah mengikuti pelatihan pertolongan pertama cedera kepala. Berdasarkan tabel 8 menunjukkan bahwa sebagian besar responden mempunyai rerata pengetahuan 46,93, sebelum dilakukan pendidikan kesehatan tentang pertolongan pertama cedera kepala skor paling tinggi 65 dan terendah 25. Berdasarkan tabel 9 dapat diketahui dari 44 responden anggota PMR dapat diketahui bahwa sesudah dilakukannya Pendidikan kesehatan mempunyai rerata 84,20 dan skor paling tinggi 100 dan terendah 70. Berdasarkan tabel 10 didapatkan hasil uji normalitas dengan menggunakan Shapiro Wilk, pengetahuan mendapatkan signifikan pre test sebesar . 287 dan signifikan post test 060 sehingga berdistribusi normal karena hasil normalitas data tersebut tersebut > . Sehingga berdasarkan hasil uji normalitas data tersebut peneliti melakukan JPKM: Jurnal Profesi Kesehatan Masyarakat, 3. 2022: 141-149 | 145 uji statistik dengan menggunakan uji Paired T-Test untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan dengan metode demonstrasi terhadap pengetahuan tentang pertolongan pertama cedera kepala pada anggota Palang Merah Remaja (PMR). Hasil uji Paired T-Test menunjukkan nilai p value (Sig. 2 taile. 000 < a . sehingga dari nilai tersebut menyatakan H1 diterima, yang berarti bahwa pendidikan kesehatan berpengaruh dalam meningkatkan pengetahuan tentang pertolongan pertama cedera kepala pada anggota palang merah remaja (PMR). Pengetahuan tentang Pertolongan Pertama Cedera Kepala pada Anggota PMR Sebelum Dilakukan Pendidikan Kesehatan tentang Pertolongan Pertama Cedera Kepala dengan Metode Demonstrasi Berdasarkan tabel 8 menunjukkan bahwa sebagian besar responden mempunyai rerata 46,93, sebelum dilakukan pendidikan kesehatan tentang pertolongan pertama cedera kepala skor paling tinggi 65 dan terendah 25. Kurangnya pengetahuan mengenai pertolongan pertama akan mempengaruhi tindakan yang akan dilakukan oleh guru tersebut ketika cedera terjadi (Syahrizal, dkk. , 2. Pendidikan kesehatan sangat mempengaruhi pengetahuan, menurut Notoatmodjo, . bahwa apabila seseorang tersebut tidak memiliki pengetahuan yang baik maka menyebabkan perilaku yang buruk. Adapun yang dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang menurut Notoatmodjo, . bahwa salah satunya adalah pengalaman. Pengalaman dalam mendapatkan informasi salah satunya melalui penyuluhan kesehatan dari sumber yang akurat dapat meningkatkan pengetahuan seseorang dalam melakukan suatu prosedur (Anisah & Parmilah, 2. Hal ini dikarenakan seseorang cenderung akan mencari kebenaran pengetahuannya, caranya dengan mengulang kembali pengalaman di masa lalu dalam menyelesaikan masalah dengan kemampuan mengambil keputusan yang baik. Selaras dengan penelitian dari Christianingsih. Wihastuti & Fathoni, . menyatakan bahwa trauma menjadi penyebab utama terjadinya kematian diseluruh dunia. Penyebab paling umum yang memicu terjadinya cedera kepala adalah kecelakaan kendaraan bermotor. Prevalensi cedera tertinggi berdasarkan karakteristik responden yaitu pada kelompok umur 15-24 tahun . ,7% tingkat pendidikan kesehatan siswa SMA dalam memberikan pertolongan pertama pada cedera kepala sebelum dilakukan edukasi masih belum sempurna dan di dapatkan data pretest bahwa responden berpengetahuan kurang sebanyak 31 responden . %). Peneliti berpendapat bahwa pengetahuan yang kurang tentang pertolongan pertama cedera kepala tersebut disebabkan oleh banyak hal diantaranya adalah pengalaman dan sumber materi terkait pertolongan pertama cedera Pengalaman ini akan menjadi gambaran anggota PMR dan menjadi acuan bagi anggota Tabel 7 Distribusi Frekuensi Responden Anggota PMR SMAN 1 Nglames Berdasarkan Pengalaman Pernah Mengikuti Pelatihan Pertolongan Pertama Cedera Kepala Pengalaman Frekuensi Persentase(%) Tidak Pernah Pernah Total Sumber: Data Primer Diolah, 2022 Tabel 8 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Pertolongan Pertama Cedera Kepala pada Anggota PMR sebelum Dilakukan Pendidikan Kesehatan tentang Pertolongan Pertama Cedera Kepala Mean Median Std Min Max 46,93 45,00 9,777 25,00 65,00 Sumber: Data Primer Diolah, 2022 Anas Tasia Eko Widianto & Eddy Wasito. Pengaruh Pendidikan Kesehatan Metode Demonstrasi Tabel 9 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Pertolongan Pertama Cedera Kepala pada Anggota PMR Sesudah Dilakukan Pendidikan Kesehatan tentang Pertolongan Pertama Cedera Kepala Mean Median Min Max 84,20 85,00 7,992 Sumber: Data Primer Diolah, 2022 Tabel 10 Pengaruh Pendidikan Kesehatan dengan Metode Demonstrasi terhadap Pengetahuan Tentang Pertolongan Pertama Cedera Kepala pada Anggota Palang Merah Remaja (PMR) Sebelum dan Sesudah Dilakukan Pendidikan Kesehatan Pengetahuan Mean Normalitas P-value 46,93 9,77752 Pre-Test Post-Test 84,20 7,99296 Sumber: Data Primer Diolah, 2022 PMR untuk melakukan tindakan. Sedangkan dari sumber materi terkait pertolongan pertama cedera kepala, anggota PMR belum bisa memanfaatkan sumber informasi seperti media internet, televisi, dan buku terkait pertolongan pertama cedera kepala yang akan dipergunakan oleh anggota PMR untuk mendapatkan pengetahuan terkait pertolongan pertama cedera Hasil analisis pada kuisioner sebelum dilakukan pendidikan kesehatan dengan metode demonstrasi menunjukkan dari 20 pernyataan diketahui bahwa pernyataan paling banyak dijawab dengan benar ditunjukkan pada pernyataan No. 1 yaitu tentang pengertian cedera kepala terdapat 37 responden yang menjawab benar dan paling sedikit dijawab dengan benar ditunjukkan pada pernyataan No. 12 dan No. 13 yaitu tentang kaidah dalam menjaga tulang leher dan kaidah melepas helm terdapat 15 responden yang menjawab benar. Menurut Marbun dkk. , . bahwa pengetahuan terkait langkah-langkah pertolongan pertama memang sulit dipahami jika responden tidak mengerti atau tidak mengetahui terkait materi pertolongan pertama sehingga responden belum bisa melakukan pertolongan pertama tersebut. Penyebab sulitnya pemahaman terkait langkah-langkah pertolongan pertama menurut penelitian Christianingsih dkk. bahwa trauma menjadi penyebab utama terjadinya kematian diseluruh dunia. Penyebab paling umum yang memicu terjadinya cedera kepala adalah kecelakaan kendaraan bermotor. Prevalensi cedera tertinggi berdasarkan karakteristik responden yaitu pada kelompok umur 1524 tahun . ,7% Pelatihan pertolongan pertama terkait langkah-langkah membutuhkan pemahaman yang spesifik, jika siswa tidak mengerti langkah-langkah pertolongan pertama cedera kepala secara spesifik maka juga akan menimbulkan cedera sekumder terhadap Peneliti berpendapat bahwa rendahnya pengetahuan terkait langkah-langkah pertolongan pertama cedera kepala dikarenakan anggota PMR tersebut belum pernah mengikuti pelatihan pertolongan pertama cedera kepala. Pengetahuan tentang Pertolongan Pertama Cedera Kepala pada Anggota PMR Sesudah Dilakukan Pendidikan Kesehatan tentang Pertolongan Pertama Cedera Kepala dengan Metode Demonstrasi Berdasarkan tabel 9 dari 44 responden anggota PMR dapat diketahui bahwa sesudah dilakukannya Pendidikan kesehatan mempunyai rerata 84,20 dan skor paling tinggi 100 dan terendah 70. Menurut Notoatmodjo, . mengungkapkan bahwa seseorang yang telah paham terhadap objek atau materi dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari. Berdasarkan penelitian dari Christianingsih. Wihastuti & Fathoni, . bahwa trauma menjadi penyebab utama terjadinya kematian diseluruh dunia. Penyebab paling umum JPKM: Jurnal Profesi Kesehatan Masyarakat, 3. 2022: 141-149 | 147 yang memicu terjadinya cedera kepala adalah kecelakaan kendaraan bermotor. Prevalensi cedera tertinggi berdasarkan karakteristik responden yaitu pada kelompok umur 15-24 tahun . ,7% sesudah dilakukan Pendidikan kesehatan didapatkan peningkatan pengetahuan bahwa sebagian besar responden berpengetahuan baik sebanyak 30 responden . ,8%). Pengetahuan dapat ditingkatkan melalui Pendidikan dan pelatihan (Hariyadi & Setyawati, 2. Peneliti berpendapat bahwa setelah dilakukannya pendidikan kesehatan dengan metode demonstrasi tentang pertolongan pertama cedera kepala responden mengalami peningkatan pengetahuan. Hal ini dikarenakan dengan pendidikan kesehatan dengan metode demonstrasi, responden telah mendapat sumber materi dan ketertarikan dalam ikut mendemonstrasikan sehingga mendapatkan gambaran yang jelas, karena responden lebih mudah memahami dan fokus terhadap pembelajaran pertolongan pertama cedera Hasil analisis pada kuisioner sesudah dilakukan pendidikan kesehatan dengan metode demonstrasi menunjukkan dari 20 pernyataan diketahui bahwa pernyataan paling banyak dijawab dengan benar ditunjukkan pada pernyataan No. 1,2,20 yaitu tentang pengertian cedera kepala, penyebab cedera kepala, dan cara mengehentikan pendarahan pada korban cedera kepala terdapat 44 responden yang menjawab benar dan paling sedikit dijawab dengan benar ditunjukkan pada pernyataan No. 9 dan No. 15 yaitu tentang kaidah dalam melepas helm dan jalan nafas korban cedera kepala tersumbat terdapat 34 responden yang menjawab benar. Pengetahuan terkait pengertian dari materi memang mudah dipahami dikarenakan membutuhkan tingkat daya ingat atau proses berfikir (Saptiningrum & Widaryati, 2. Pada umumnya ada beberapa hal yang mempengaruhi tingkat pengetahuan terkait langkah-langkah pertolongan pertama yang memang sulit untuk di ingat dan juga ada beberapa faktor yaitu dibutuhkan keterampilan yang spesifik terkait pertolongan pertama (Wawan & Dewi, 2. Menurut Notoatmodjo, . menyatakan bahwa pengetahuan dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu internal . ntelegensia dan kondisi fisi. , faktor eksternal . eluarga, masyarakat, dan metode pembelajara. Peneliti berpendapat bahwa setelah dilakukannya pendidikan kesehatan dengan metode demonstrasi tentang pertolongan pertama cedera kepala mempengaruhi Hal ini dikarenakan responden sudah mendapatkan materi terkait pertolongan pertama cedera kepala yang menggunakan metode demonstrasi, akan tetapi juga masih ada pada bagian pernyataan yang dimana pernyataan tersebut masuk dalam kategori pertolongan pertama cedera kepala. Hal tersebut dikarenakan anggota PMR belum pernah melakukan simulasi terkait pertolongan pertama cedera kepala dan langkah-langkah pertolongan pertama cedera kepala memang sulit untuk dipahami secara cepat, sehingga dibutuhkan pemahaman yang cukup lama untuk memahami materi terkait pertolongan pertama cedera kepala. Pengaruh Pendidikan Kesehatan dengan Metode Demonstrasi terhadap Pengetahuan tentang Pertolongan Pertama Cedera Kepala pada Anggota Palang Merah Remaja (PMR) Di SMAN 1 Nglames Kecamatan Madiun Kabupaten Madiun Berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan Uji Paired T-Test dengan bantuan SPSS 25, didapatkan nilai P-Value . pendidikan kesehatan dengan metode demonstrasi berpengaruh dalam meningkatan pengetahuan pertolongan pertama cedera Media pembelajaran seperti buku maupun teks pada metode pembelajaran yang pasif, membaca dapat memberikan penguasaan materi sebesar 10%, sedangkan materi sebesar 20%, dan melihat secara langsung/melihat pemeragaan memberikan penguasaan materi sebesar 30% . Namun, jika melihat pembelajaran aktif, dimana ketika seseorang mengatakan, mengajarkan, memperagakan, atau berdiskusi, maka hal itu dapat memberikan 70% pemahaman dan daya ingat terhadap materi yang dikuasai, serta jika aktif dalam mengaplikasikan materi maka hal tersebut berkontribusi 90% terhadap 148 | Anas Tasia Eko Widianto & Eddy Wasito. Pengaruh Pendidikan Kesehatan Metode Demonstrasi pemahaman dan daya ingat. Pemberian materi dengan metode demonstrasi sangat efektif dikarenakan memberikan pengalaman dan daya ingat yang kuat, serta ilmu yang bisa dipahami secara langsung (Munawaroh. Selaras dengan Christianingsih dkk. menyatakan bahwa trauma menjadi penyebab utama terjadinya kematian diseluruh Penyebab paling umum yang memicu terjadinya cedera kepala adalah kecelakaan kendaraan bermotor. Prevalensi cedera tertinggi berdasarkan karakteristik responden yaitu pada kelompok umur 15-24 tahun . ,7% Menunjukkan adanya perubahan tingkat pengetahuan yang signifikan dari sebelum dan sesudah diberikannya pendidikan kesehatan dengan metode demonstrasi. Hal ini sesuai dengan penelitian Ibrahim & Adam . yang menyatakan bahwa setelah dilakukan demonstrasi diperoleh bahwa pengetahuan responden mengalami peningkatan hal ini ditunjukan dengan hasil uji beda dimana ada perbedaan pengetahuan sebelum dan sesudah dilakukan pendidikan kesehatan dengan metode demonstrasi. Peneliti berasumsi bahwa metode demonstrasi dapat menjadikan pengetahuan pertolongan pertama cedera kepala mengalami peningkatan, dapat dilihat dari hasil uji statistik yang menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah dilakukan Pendidikan kesehatan dengan metode demostrasi. Sehingga perubahan ini menunjukkan bahwa metode demonstrasi berpengaruh terhadap pengetahuan pertolongan pertama cedera kepala. Hasil analisis selisih skor pada kuisioner sebelum dan sesudah dilakukan pendidikan kesehatan tentang pertolongan pertama cedera kepala dengan metode demonstrasi menunjukkan dari 44Responden diketahui bahwa selisih total skor tertinggi yaitu dengan selisih skor sebanyak 50, dan selisih terendah ditunjukkan yaitu dengan selisih skor sebesar Hasil analisis pada selisih pernyataan yang banyak dijawab oleh responden sebelum dan sesudah dilakukanya pendidikan kesehatan dengan metode demonstrasi terhadap pengetahuan tentang pertolongan pertama cedera kepala terdapat 44 responden dalam keterangan pengetahuan meningkat dalam arti ada pengaruh terhadap pengetahuan, yang dimana selisih pernyataan terbanyak yaitu pada nomer 19 sebesar 24 dengan pernyataan tentang kaidah melepaskan helm, dan selisih pernyataan terendah yaitu pada nomer 01 sebesar 7 dengan pernyataan tentang pengertian cedera kepala. Menurut Najihah & Ramli . bahwa pemberian informasi melalui pendidikan dan pelatihan akan meningkatkan pengetahuan, selanjutnya akan menimbulkan kesadaran dan akhirnya seseorang akan melakukan praktik sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki. Peneliti berpendapat bahwa adanya pengaruh terhadap pengetahuan dari lembar hasil observasi yang di mana responden dapat menjawab dan mempraktekkan terkait langkah-langkah pertolongan prtama cedera kepala sehingga dapat disimpulkan bahwa pendidikan kesehatan pertolongan pertama cedera kepala dengan metode demonstrasi sangat mempengaruhi pengetahuan. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian Pengaruh Pendidikan Kesehatan dengan Metode Demonstrasi terhadap Pengetahuan tentang Pertolongan Pertama Cedera Kepala pada Anggota PMR sudah menjawab tujuan peneliti sebagai berikut: Anggota PMR mempunyai rerata 46,93 tentang pengetahuan pertolongan pertama cedera kepala sebelum dilakukannya pendidikan kesehatan dengan metode demonstrasi. Anggota PMR mempunyai rerata 84,20 tentang pengetahuan pertolongan pertama cedera kepala sesudah dilakukannya pendidikan kesehatan dengan metode demonstrasi, serta Pendidikan kesehatan metode demonstrasi berpengaruh terhadap pengetahuan terkait pertolongan pertama cedera kepala pada anggota PMR. PUSTAKA ACUAN