JOURNAL OF ECONOMICS AND REGIONAL SCIENCE Vol. 4 No. 1 Edisi Maret 2024 P-ISSN: 2776-2939 E-ISSN: 2776-3196 Pengaruh Suku Bunga dan Jumlah Uang Beredar (M. Terhadap Inflasi di Sumatera Utara: Peran Bank Sentral Sebagai Otoritas Moneter Ainur Oktania1. Jeane Alisya2. Noubel Putra Nainggolan3. Dwi Nabilla Putri4. Frido Evindey Manihuruk5 1, 2, 3, 4, 5Ilmu Ekonomi. Fakultas Ekonomi. Universitas Negeri Medan. Jl. William Iskandar Ps. Kabupaten Deli Serdang, 20221. Indonesia Histori Artikel: Pengajuan: 24 Januari 2024 Revisi: 13 Maret 2024 Diterima: 20 Maret 2024 Keywords: Inflation. Monetary. Supply. Interest Rate Money Abstract This study analyzes the effect of interest rates (BI rat. and money supply (M. on inflation in North Sumatra Province by looking at the role of Bank Indonesia as the monetary Quantitative methodology with multiple regression analysis is used in data processing in this study and uses annual data . obtained from the Central Bureau of Statistics of North Sumatra. Bank Indonesia and the Indonesian national website which is also a source of analysis. The results show a positive and significant impact of interest rates on inflation, while money supply (M. has a positive but insignificant impact. With a coefficient of determination of 36%, most of the variation in inflation is explained by interest rates (BI rat. and money supply (M. The results have important implications for economic policy formulation and effective decision making in maintaining price stability at the regional level by Bank Indonesia. Citation: Oktania. Alisya. Nainggolan. Putri, , & Manihuruk. Pengaruh Suku Bunga dan Jumlah Uang Beredar (M. Terhadap Inflasi di Sumatera Utara: Peran Bank Sentral Sebagai Otoritas Moneter. Journal Of Economics and Regional Science, 4. , 24-36. Abstraksi Penelitian ini menganalisis pengaruh suku bunga (BI rat. dan jumlah uang beredar (M. terhadap inflasi di Provinsi Sumatera Utara dengan melihat peranan Bank Indonesia sebagai otoritas moneter. Metodologi kuantitatif dengan analisis regresi berganda digunakan dalam olah data pada penelitian ini dan menggunakan data tahunan . yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik Sumatera Utara. Bank Indonesia serta situs web nasional Indonesia yang juga menjadi sumber analisis. Hasil menunjukkan dampak positif Journal of Economics and Regional Science Vol 4. No 1 Edisi Maret 2024 Kata Kunci: Inflasi. Moneter. Jumlah Uang Beredar. Suku Bunga dan signifikan suku bunga terhadap inflasi, sedangkan jumlah uang beredar (M. memberikan dampak positif namun tidak signifikan. Dengan koefisien determinasi 36%, sebagian besar variasi inflasi dijelaskan oleh suku bunga (BI rat. dan jumlah uang beredar (M. Dari hasil tersebut memiliki implikasi penting untuk perumusan kebijakan ekonomi dan pengambilan keputusan yang efektif dalam menjaga stabilitas harga di tingkat regional yang dilakukan oleh Bank Indonesia. JEL Classification: E31. E42. E51. E43 Penulis Korespondesi: Nama Penulis : Frido Evindey Manihuruk Telpon/HP : 083163258425 Email : fridomanihuruk289@gmail. PENDAHULUAN Dalam jangka panjang fokus perekonomian adalah pertumbuhan ekonomi, sedangkan dalam jangka pendek adalah mencapai stabilitas ekonomi. Untuk mencapai tingkat kestabilan dalam ekonomi bukanlah sesuatu hal yang mudah. Salah satu sumber utama ketidakstabilan perekonomian yang dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan harga secara umum dan terus menerus atau yang biasa disebut dengan inflasi (Bugis et al. , 2. Merujuk pada informasi yang disampaikan oleh Bank Indonesia, inflasi adalah fenomena yang mencakup kenaikkan secara umum dan berkelanjutan terhadap harga barang dan jasa dalam periode tertentu. Inflasi tidak hanya terbatas pada peningkatan harga beberapa barang, tetapi melibatkan kenaikan secara menyeluruh yang dapat mempengaruhi harga barang dan jasa lainnya (Amaliyah & Aryanto, 2. Di sisi lain, deflasi mengacu pada penurunan umum dalam tingkat harga. Inflasi akibat tarikan permintaan karena permintaan produk barang dan jasa di pasar totalnya lebih besar dibandingkan dengan ketersediaan barang yang ada sehingga mendorong kenaikan harga (Lubis, 2. Inflasi telah menjadi isu ekonomi yang signifikan dalam perkembangan ekonomi global dan regional. Di Sumatera Utara, periode antara tahun 2005 hingga 2020 menyaksikan fluktuasi yang signifikan dalam tingkat inflasi, mencerminkan Journal of Economics and Regional Science Vol 4. No 1 Edisi Maret 2024 tantangan ekonomi yang serius bagi wilayah ini. Dalam periode tersebut, tingkat inflasi Sumatera Utara mengalami perubahan yang cukup signifikan, dengan angka inflasi mencapai puncak tertinggi sebesar 22,41 persen pada tahun tertentu, dan serangkaian penurunan serta kenaikan yang mencolok. Pemerintah daerah sebagai perpanjangan tangan dari pemerintah pusat juga harus mengambil bagian dalam menyelesaikan masalah inflasi yang ada di provinsi Sumatera Utara (Panjaitan et al. Perekonomian Sumatera Utara menunjukkan keberagaman dan dinamika yang memengaruhi pertumbuhan wilayah ini. Sebagai contoh konkret, pada tahun 2013, provinsi ini menghadapi tantangan signifikan yang berdampak langsung pada kondisi ekonominya. Kenaikan harga bahan komoditas dalam lingkup global dan kebijakan peningkatan harga subsidi bahan bakar minyak (BBM) bulan Juni pada tahun tersebut secara signifikan berdampak pada tingkat inflasi yang mencapai puncaknya sekitar 22,41%. Peristiwa ini menjadi poin kritis yang memerlukan analisis mendalam, terutama dalam konteks dampaknya terhadap stabilitas ekonomi Sumatera Utara, yang pada dasarnya didorong oleh kenaikan harga BBM dan perubahan dalam dinamika ekonomi global. Pada tahun tersebut, bank sentral merespons lonjakan inflasi dengan mengambil langkah-langkah kebijakan moneter yang berfokus pada penyesuaian suku bunga BI Rate. Penurunan dari 7,5% menuju 3,75% mencerminkan strategi untuk merangsang pertumbuhan ekonomi dan meredakan dampak kenaikan harga. Kebijakan moneter yang adaptif dan responsif menjadi esensial sebagai langkah pertumbuhan dan stabilitas dalam perekonomian, terutama dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global. Salah satu variabel yang telah lama dikenal memiliki dampak signifikan pada inflasi adalah suku bunga. Fluktuasi suku bunga (BI rat. telah menjadi fokus perhatian dalam konteks kebijakan moneter di Indonesia. Pertumbuhan ekonomi, pengaruh uang beredar, dan faktor-faktor lain juga berperan dalam mempengaruhi tingkat inflasi. Tabel tingkat inflasi dan suku bunga serta jumlah uang beredar dapat dilihat sebagai berikut: Journal of Economics and Regional Science Vol 4. No 1 Edisi Maret 2024 Tabel 1. Data Tingkat Inflasi. Suku Bunga, dan Jumlah Uang Beredar di Sumatera Utara Tahun 2005-2020 Tahun Inflasi (%) Suku Bunga (%) JUB (Miliya. 22,41 12,75 140,00 6,11 9,75 013,00 6,60 8,00 055,00 10,72 9,25 787,00 2,61 6,50 824,08 8,00 6,50 410,53 3,67 6,00 991,17 3,86 5,75 721,50 10,18 7,50 081,01 8,17 7,75 942 221,34 3,34 7,50 439,82 6,34 4,75 642,57 3,20 4,25 806,95 1,23 6,00 149,68 2,33 5,00 358,00 1,96 3,75 624,80 Sumber: BPS_Sumut . Bank Indonesia . Dari data pada tabel diatas dapat di peroleh informasi perubahan laju inflasi menunjukkan fluktuasi yang relatif naik dan turun dengan rata-rata 6,30% dari data yang diperoleh. Terlihat laju inflasi tertinggi pada tahun 2005 sebesar 22,41%, sedangkan terendah pada tahun 2018 sebesar 1,23%. Sama dengan tingkat inflasi, tingkat suku bunga di Sumatera Utara menunjukkan fluktuasi yang relative abstrak dengan rata-rata 6,93%. Jumlah Uang Beredar pada data diatas terlihat mengalami fluktuasi yang relative meningkat. BI rate merupakan panduan dalam mengimplementasikan kebijakan moneter untuk memastikan bahwa suku bunga SBI 1 bulan, yang dihasilkan dari lelang/jual pada instrumen operasi pasar terbuka diusahakan berada pada kisaran BI rate yang telah ditetapkan. Ini diharapkan dapat memengaruhi tingkat suku bunga pasar uang antar bank dan suku bunga jangka waktu yang lebih panjang kemudian pada akhirnya Journal of Economics and Regional Science Vol 4. No 1 Edisi Maret 2024 perubahan BI rate (SBI tenor 1 bula. ditetapkan secara konsisten dan bertahap dalam kelipatan 25 basis poin (Ferdiansyah, 2. Bank Indonesia mendefinisikan uang atau uang beredar dalam arti sempit dan luas (Ferdiansyah, 2. Uang beredar dalam pengertian yang lebih terbatas atau disebut sebagai M1, melibatkan unsur-unsur uang yang secara langsung dapat digunakan untuk transaksi sehari-hari termasuk kartal dan giral yang dimiliki oleh masyarakat umum (Fordatkosu et al. , 2. Uang giral dalam konteks M1 mencakup saldo rekening giro individu dan perusahaan di bank . aldo rekening koran di bank lain/bank sentral serta saldo pemerintah tidak termasuk dalam kategori uang gira. (M. Aziz Toyibin, 1. Pengertian uang beredar yang lebih luas atau M2, juga mencakup deposito berjangka dan saldo simpanan di bank. Adapun definisi uang beredar paling inklusif yaitu M3, mencakup seluruh deposito berjangka dan saldo tabungan penduduk di bank dan lembaga keuangan non bank termasuk yang berdenominasi dalam mata uang asing (Manihuruk et al. , 2. Teori uang beredar telah menjadi subjek utama dalam ekonomi makro. Teori kuantitas uang oleh Irving Fisher mengatakan jumlah uang beredar berpengaruh langsung pada tingkat harga dalam ekonomi. Kenaikkan jumlah uang yang beredar akan mengakibatkan peningkatan tingkat harga. Teori Cambridge oleh Marshall dan Pigou penggunaannya dalam transaksi. Teori ini menyoroti alasan psikologis di balik permintaan akan uang. Kemudian, teori Liquidity Preference oleh Keynes menyoroti tiga alasan orang memegang uang adalah untuk transaksi, jaga-jaga, dan spekulasi. Dalam analisis Keynes, uang bukan hanya berfungsi sebagai alat tukar tetapi sebagai penyimpan nilai. Ini mempengaruhi bagaimana orang memegang uang dalam berbagai bentuk (Mankiw, 2. Sehingga, penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis kritis dan teoritis terhadap korelasi antara suku bunga BI Rate dan jumlah uang beredar (M. terhadap tingkat inflasi di Sumatera Utara dari tahun 2005 hingga 2020. Selain itu dapat memberikan wawasan yang lebih mendalam mengenai hal yang berkontribusi terhadap inflasi di daerah tersebut serta menguraikan bagaimana kebijakan moneter Journal of Economics and Regional Science Vol 4. No 1 Edisi Maret 2024 yang sesuai dan saran-saran yang relevan dapat dibentuk untuk mengatasi masalah inflasi dan menjaga stabilitas ekonomi Sumatera Utara. METODE Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan tujuan mengidentifikasi hubungan antara suku bunga (BI rat. , jumlah uang beredar (M. terhadap inflasi dari Data diperoleh dari sumber sekunder, termasuk Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara, website Satu Data Indonesia dan Bank Indonesia. Penelitian ini memungkinkan kontrol terhadap faktor-faktor lain yang dapat memengaruhi inflasi sehingga pada akhirnya akan ditentukan kebijakan moneter apa yang relevan diterapkan dan bagaimana mekanisme transmisi kebijakan moneter yang berjalan. Analisis menggunakan regresi linier berganda untuk mengevaluasi signifikansi dan dominasi suku bunga dan M1 terhadap inflasi, dengan uji asumsi klasik sebagai syarat pemenuhan sebelum memasuki tahap olah data berikutnya. Rumus persamaan analisis regresi linear berganda yang diterapkan yaitu : yaycuyceycoycaycycn = yu0 yu1 yaAya yu2 ycA1 yce A A A A A . Dimana: yaycuyceycoycaycycn = Nilai tukar rupiah yu0 = Koefisien = Suku Bunga = Jumlah Uang Beredar Pada analisis regresi linier berganda berbasis metode Ordinary Least Squares (OLS), penting untuk melakukan pemeriksaan asumsi klasik. OLS digunakan ketika terdapat lebih dari satu variabel independen dan satu variabel dependen. Menurut (Ghozali, 2. , untuk menilai akurasi model, diperlukan pengujian terhadap beberapa asumsi klasik, seperti uji normalitas pada data primer, uji multikolinieritas, uji heteroskedastisitas, dan uji autokorelasi. Data pada penelitian ini dipastikan telah lulus dari uji asumsi klasik, uji parsial, dan uji silmutan yang akan diperjelas pada bagian hasil pada penelitian ini. Journal of Economics and Regional Science Vol 4. No 1 Edisi Maret 2024 HASIL Berdasarkan perumusan masalah, hipotesis penelitian mencakup: . Suku Bunga (BI rat. memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap Inflasi di Provinsi Sumatera Utara. Jumlah Uang Beredar (M. memiliki pengaruh positif, namun tidak signifikan terhadap Inflasi di Provinsi Sumatera Utara. Secara bersama-sama. Jumlah Uang Beredar (M. dan Suku Bunga (BI rat. berpengaruh signifikan terhadap Inflasi di Provinsi Sumatera Utara. Uji Asumsi Klasik Dari hasil uji asumsi pada uji normalitas diperoleh nilai prob 0. 751890 dan jarque bera 570331 sehingga > 0,05 artinya tidak terjadi pelanggaran uji normalitas data. Tabel 2. Uji Autokorelasi F-Statistic Prob. Obs*R-Square Prob. Chi-Square Sumber: Pengolahan Data, 2023 Pada uji diatas, dapat dilihat nilai prob chi square sebesar 0. 0658, artinya tidak terdapat pelanggaran dalam uji autokorelasi data. Tabel 3. Uji Multikolineritas Variable Coefficient Variance Uncentered VIF Centered 74E-12 Sumber: Pengolahan Data, 2023 Nilai VIF sebesar 2. maa dapat disimpulkan tidak terjadi pelanggaran pada uji multikolinearity data. Tabel 4. Uji Heteoskedastisitas F-Statistic Prob. Obs*R-Square Prob. Chi-Square. Scaled xplained SS Prob. Chi-Square. Sumber: Pengolahan Data, 2023 Journal of Economics and Regional Science Vol 4. No 1 Edisi Maret 2024 Kemudian didapat nilai prob chi square sebesar 0. 2992, yang artinya tidak terjadi pelanggaran uji heteroskedastisitas data. Persamaan Regresi Tabel 5. Hasil Analisis Regresi Linear Berganda Variable Coefficient t-tabel t-statistic Prob. R-squared F-statistic 50E-06 Sumber: Pengolahan Data, 2023 yaycuyceycoycaycycn = Oe9. 099A yaAya 1. 50ya_06AycA1 yce A A A A A . Dari hasil persamaan regresi tersebut, diketahui bahwa konstanta sebesar -9. artinya jika Jumlah Uang Beredar (M. dan Suku Bunga (BI Rat. adalah nol, maka Inflasi di Provinsi Sumatera Utara menurun sebesar (-9. Koefisien regresi JUB (M. 099913, artinya jika Jumlah Uang Beredar (M. meningkat sebesar 1 milyar, maka Inflasi Provinsi Sumatera Utara meningkat sebesar 2. Koefisien regresi Suku Bunga (BI rat. 50E-06, artinya jika Suku Bunga (BI rat. naik sebesar 1%, maka Inflasi Provinsi Sumatera Utara akan juga naik sebesar 1. 50E-06%. Uji-t (Parsia. dan Uji-F (Silmuta. Pada uji-t secara parsial didapatkan hasil pada variabel Suku Bunga memiliki 399 t-hitung > 1. 770 t-tabel dan memiliki nilai Prob. sebesar 0,0053 < 0. 05, maka Suku Bunga mempengaruhi inflasi secara signifikan. Variabel Jumlah Uang Beredar memiliki hasil 0. 506 t-hitung < 1. 770 t-tabel dan memiliki nilai Prob. 05, berarti Jumlah Uang Beredar tidak mempengaruhi inflasi secara signifikan. Dari hasil uji-F atau secara simultan, diperoleh nilai F-hitung sebesar 12,387 > 81 F-tabel, dengan nilai Prob. 000 < 0. 05, maka dapat disimpulka terdapat pengaruh yang signifikan secara simultan antara variabel bebas dengan variabel Nilai R-squared sebesar 0. 673694, artinya variabel signifikan Suku Bunga dan Jumlah Uang Beredar terhadap nilai tukar rupiah sebesar 67,36 %, sedangkan sisanya 32,64 % dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak tercakup pada penelitian ini. Journal of Economics and Regional Science Vol 4. No 1 Edisi Maret 2024 PEMBAHASAN Pengaruh Suku Bunga (BI rat. Terhadap Inflasi Dari hasil perhitungan dan analisis didapat bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan Suku Bunga terhadap tingkat Inflasi di provinsi Sumatera Utara. Hasil pengujian menunjukkan bahwa secara individual. Suku Bunga BI Rate berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat Inflasi di Sumatera Utara. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya oleh Perlambang . dan Ferdiansyah . Hasil ini mencerminkan mekanisme di mana kenaikan suku bunga mengakibatkan kenaikan biaya pinjaman, yang dapat mengurangi belanja konsumen dan investasi Dengan demikian, dampak ini dapat menghambat pertumbuhan ekonomi dan mengendalikan tingkat inflasi, menunjukkan efektivitas kebijakan moneter pemerintah dan bank sentral melalui penyesuaian suku bunga. Pengaruh Jumlah Uang Beredar (M. Terhadap Inflasi Hasil analisis diatas mengindikasikan bahwa pengaruh Jumlah Uang Beredar (M. terhadap tingkat Inflasi di provinsi Sumatera Utara bersifat positif tetapi tidak Hasil uji menunjukkan bahwa peningkatan Jumlah Uang Beredar (M. di Sumatera Utara secara positif berdampak pada tingkat Inflasi, meskipun tidak secara Hasil ini mendukung temuan sebelumnya yang dilaporkan oleh beberapa penelitian, termasuk karya Panjaitan. Purba, dan Damanik . Mahendra . Ferdiansyah . , dan Misbahuddin . Temuan ini juga sejalan dengan hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini. Dapat dikatakan bahwa, jika Jumlah Uang Beredar (M. meningkat akan menciptakan lebih banyak uang yang beredar di perekonomian. Peningkatan ini dapat terjadi melalui faktor-faktor kebijakan moneter yang longgar atau pertumbuhan ekonomi yang pesat. Dengan adanya lebih banyak uang yang beredar, ketersediaan dana di pasar dapat meningkat. Ini mendorong konsumen untuk meningkatkan belanja dan perusahaan untuk berinvestasi yang pada gilirannya dapat meningkatkan permintaan agregat. Mekanisme ini searah terhadap teori kuantitas uang, bahwa peningkatan jumlah uang beredar dapat menyebabkan inflasi jika peningkatan tersebut tidak diimbangi oleh peningkatan dalam output riil. Namun, jika hubungan Journal of Economics and Regional Science Vol 4. No 1 Edisi Maret 2024 ini tidak signifikan secara statistik, hal ini menunjukkan bahwa dampaknya mungkin tidak cukup besar untuk dianggap sebagai pengaruh yang pasti terhadap tingkat Bank Sentral Sebagai Otoritas Moneter Bank sentral mempunyai kewajiban untuk mencapai target inflasi yang telah ditetapkan, yang melibatkan memastikan agar tingkat inflasi berada dalam rentang yang ditetapkan. Untuk mencapai sasaran tersebut, bank sentral menggunakan beragam instrumen kebijakan moneter, termasuk pengaturan Suku Bunga BI Rate. Temuan dari penelitian ini mengindikasikan bahwa dampak positif dan signifikan dari Suku Bunga BI Rate terhadap inflasi mencerminkan efektivitas bank sentral dalam memanfaatkan alat ini untuk mengendalikan tingkat inflasi. Mekanisme transmisi oleh bank sentral melibatkan serangkaian tahapan. Pertama, perubahan suku bunga bank sentral akan mempengaruhi tingkat suku bunga di pasar keuangan, termasuk suku bunga pinjaman bank komersial kepada Kenaikan suku bunga bank sentral, seperti yang disarankan oleh hasil penelitian, dapat mengakibatkan peningkatan suku bunga pasar, yang pada gilirannya dapat mengurangi minat konsumen dan investasi perusahaan. Ini adalah tahap pertama dalam mekanisme transmisi kebijakan moneter. Kemudian, penurunan aktivitas konsumen dan investasi dapat mempengaruhi tingkat permintaan agregat di Ketika permintaan menurun, hal ini dapat mempengaruhi tingkat harga, yang dikenal sebagai efek dampak. Dalam hal ini, peran bank sentral adalah untuk mengawasi perkembangan ini dan memastikan bahwa target inflasi tetap Selain Suku Bunga BI Rate, bank sentral juga mengatur suplai uang di perekonomian melalui alat kebijakan lainnya. Dalam penelitian ini, hubungan positif namun tidak signifikan antara Jumlah Uang Beredar (M. dan inflasi membutuhkan pendekatan yang cermat dan responsif. Meskipun temuan menunjukkan adanya pengaruh positif, namun ketidaksignifikan menunjukkan kompleksitas dinamika ekonomi regional yang mungkin tidak sepenuhnya tercermin dalam analisis tersebut. Journal of Economics and Regional Science Vol 4. No 1 Edisi Maret 2024 Bank sentral perlu menjalankan perannya dengan cermat dalam menyesuaikan kebijakan moneter agar dapat merespons secara tepat terhadap kondisi ekonomi yang Pertama, bank sentral dapat memperkuat peranannya dalam mengawasi Jumlah Uang Beredar (M. dan menjalankan fungsi pengaturan moneter dengan lebih Selain itu, bank sentral dapat mempertimbangkan penerapan kebijakan makroprudensial untuk mengendalikan risiko-risiko yang mungkin terkait dengan peningkatan Jumlah Uang Beredar. Langkah-langkah ini mungkin termasuk pengaturan tingkat cadangan minimum atau batasan kredit tertentu untuk mengurangi potensi dampak tidak diinginkan pada stabilitas harga. SIMPULAN Berdasarkan hasil analisis regresi, ditemukan bahwa model memiliki kemampuan menjelaskan variasi sebesar 67,36% dari pengaruh suku bunga dan jumlah uang beredar terhadap inflasi di Sumatera Utara. Hasil regresi menunjukkan bahwa suku bunga berdampak positif dan signifikan terhadap inflasi, sementara jumlah uang beredar berdampak positif tetapi tidak memiliki pengaruh signifikan. Dalam mengatur kebijakan moneter, bank sentral memperkuat peran komunikasinya dengan pemangku kepentingan, termasuk pelaku ekonomi dan masyarakat, untuk memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai peran Jumlah Uang Beredar dalam pengaruh inflasi. Transparansi dan komunikasi yang efektif dapat membantu mengelola ekspektasi dan memitigasi ketidakpastian di pasar. Penting juga untuk memperkuat kerjasama dan koordinasi antara bank sentral, pemerintah daerah, dan lembaga-lembaga ekonomi lainnya. Langkah-langkah kolaboratif dapat mencakup penyelarasan kebijakan fiskal dan moneter untuk mencapai tujuan yang sejalan dengan stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. SARAN Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi dan masukan baik bagi Bank Indonesia sebagai pemegang otoritas moneter dan pemerintah daerah di Sumatera Utara dalam mengambil kebijakan. Penelitian lebih lanjut dapat Journal of Economics and Regional Science Vol 4. No 1 Edisi Maret 2024 dilakukan untuk memperdalam dan memperkuat pemahaman tentang pengaruh suku bunga dan jumlah uang beredar terhadap inflasi di Sumatera Utara. Penelitian yang lebih mendalam tentang sektor-sektor spesifik dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi inflasi juga dapat memberikan wawasan yang lebih lengkap untuk membantu mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih baik. Variabel yang mungkin dapat ditambahkan dalam mempengaruhi Inflasi yaitu ekpor, impor, jumlah penduduk, dan sebagainya. DAFTAR PUSTAKA