VOCAT : Jurnal Pendidikan Katolik Vol. No. Tahun 2024. Hal. 95 Ae 105 Website: https://ejournal. id/index. php/vocat KONSEPSI PENDIDIKAN KATOLIK MENURUT DOKUMEN MENDIDIK DI MASA KINI DAN MASA DEPAN SEMANGAT YANG DIPERBARUI (INSTRUMENTUM LABORIS) Angga Satya Bhakti Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak Email : anggasatya25@gmail. Abstrak : Pendidikan Katolik merupakan suatu pemahaman pendidikan yang dijiwai oleh spritualitas Kristiani. Pendidikan Katolik dapat berupa pengelolaan institusi pendidikan seperti sekolah dan perguruan tinggi dengan mengemban nama Katolik. Pendidikan Keagamaan Katolik dapat juga merupakan sarana penyediaan mata pelajaran maupun mata kuliah dalam ranah agama Katolik. Gereja Katolik merupakan institusi yang menganggap pendidikan sebagai suatu sarana pewartaan dengan konsep yang jelas. Aturan-aturan, makna, dan pandangan akan pendidikan Katolik menjadi perhatian khusus. Dokumendokumen Gereja seperti Gravissimum Educationis. Kitab Hukum Kanonik, dan Mendidik di Masa Kini dan Masa depan: Semangat yang diperbarui (Instrumentum Labori. menjadi bukti bentuk perhatian Gereja terhadap pendidikan. Tujuan penelitian ini ialah melihat kembali konsepsi pendidikan menurut pandangan Gereja secara khusus melalui Instrumentun Laboris. Konsepsi ini mampu menjadi permenungan akan pendidikan katolik serta relevansinya dengan konteks masa kini dan masa yang akan Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan library research. Peneliti mengumpulkan data-data dari studi pustaka, yakni dokumen gereja, jurnal-jurnal ilmiah. Konsepsi Pendidikan Katolik harus dapat bertindak secara kontekstual. Memperhatikan berbagai tantangan seperti perkembangan zaman dan menjalin kerja sama dengan berbagai pihak. Kata kunci: Pendidikan Katolik. Konsepsi. Dokumen Gereja Abstract : Catholic education is an understanding of education that is imbued with Christian spirituality. It can take the form of managing educational institutions such as Catholic schools and colleges. Catholic Religious Education can also be a means of providing subjects and courses in the realm of Catholic religion. The Catholic Church is an institution that considers education as a means of preaching with a clear concept. The rules, meaning, and perspectives of Catholic education are very important. Documents of the Church such as the Gravisimus Educationis, the Book of Canon Law, and Educating Today and Tomorrow: A Renewing Passion (Instrumentum Labori. provide evidence of the Church's attention to education. The purpose of this study is to reconsider the conception of education from the perspective of the Church in The conception of Catholic Education must be able to act contextually by paying attention to various challenges such as the development of the times and establish cooperation with various parties Key words: Catholic Educatiion. Conception. Document of The Church PENDAHULUAN Pendidikan selalu menjadi tema menarik dari dimensi kehidupan manusia. Pendidikan menjadi nilai dari suatu kehidupan yang juga membuat manusia menjadi bernilai. Dalam pengertian ini mereka yang memiliki, melaksanakan, memberi atau menerima pendidikan memiliki nilai dalam Pendidikan menjadi nilai tersendiri. Di sisi lain pendidikan mampu membawa manusia ke dalam kehidupan yang bernilai. Pendidikan merupakan usaha untuk membawa orang mendapatkan pengetahuan serta mendapatkan pemahaman untuk mengatasi kelemahan atau kekurangannya(Lintong & Pangalila, 2. Dimensi agama juga menjadi suatu aspek kehidupan yang di dalamnya memiliki nilai. Kombinasi pendidikan dengan semangat keagamaan juga menjadi realita pendidikan saat ini. Berbagai lembaga pendidikan menyertakan nama keagamaan dengan harapan nilai-nilai agama tersebut sebagai suatu semangat, prinsip, atau pedoman yang dilaksanakan dalam menyelenggarakan pendidikan. Katolik sebagai suatu institusi agama juga memiliki peran dalam membangun dunia. Gereja Katolik percaya bahwa pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam dunia pewartaan Pendidikan menjadi suatu cara dalam mengimplementasikan ajaran-ajaran Gereja. Pendidikan juga mampu membuka wacana pengetahuan sehingga manusia dapat sadar akan hal-hal yang baik dan benar untuk membangun dunia yang harmonis. Situasi ini membawa Gereja juga turut serta dalam mengembangkan dunia pendidikan dengan mendirikan sekolah-sekolah maupun perguruan tinggi dengan label institusi Katolik seperti sekolah-sekolah Katolik atau Perguruan Tinggi Katolik. Pendidikan Katolik pada akhirnya memiliki suatu kekhasan yang membedakan dengan pendidikan pada umumnya. Aspek pendidikan dan agama menjadi kesatuan sehingga menghasilkan kekhasan dalam proses penyelenggaraan Pendidikan Katolik. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk menelaah aspek atau nilai-nilai yang diperjuangkan oleh Gereja Katolik dalam memandang pendidikan, secara khusus pendidikan Katolik. Gereja Katolik sendiri memiliki sifat yang satu, kudus. Katolik dan apostolik. Dalam situasi ini Gereja yang satu tersebar di seluruh dunia, namun aspek mengenai ajaran-ajaran iman tentu tetap satu kesatuan. Maka aturan atau ajaran mengenai pendidikan Katolik dalam pandangan Gereja juga memiliki Dalam Kitab Hukum Kanonik (KHK) Kanon 747-755(Paulus II, 1. diterangkan bahwa tugas Gereja adalah mengajar. Pendidikan sangat berkaitan erat dengan pengajaran, sehingga Gereja Katolik sungguhlah memandang pendidikan juga sebagai substansi yang penting dalam aktualisasi iman. Konsepsi Pendidikan menjadi suatu petunjuk atau arahan bagi lembaga-lembaga pendidikan yang menggunakan nama Katolik maupun para pendidik terkhusus yang berperan dalam pendidikan iman seperti Guru Agama Katolik. Penelitian ini merupakan penelitian yang khas dengan novelty ingin melihat kembali secara faktual konsepsi pendidikan Katolik dalam sudut pandang Gereja Katolik. Penelitian terdahulu dilakukan oleh Gedo et al. , . , dengan hasil penelitian pendidikan Katolik memiliki kekhasan mendidik peserta didik secara integral agar bertumbuh dalam iman Kristiani. Penelitian yang berkaitan dengan pandangan Gereja terhadap pendidikan juga dilakukan oleh Panda . , yang melihat secara khusus ke Katolikkan dari suatu sekolah Katolik. Gereja Katolik termasuk institusi yang memberikan aturan yang jelas ketika suatu lembaga pendidikan ingin menggunakan nama Katolik. Prinsip-prinsip utama ke Katolikkan menjadi suatu pegangan. Dalam penelitian ini, ingin melihat konsepsi suatu pendidikan Katolik secara umun terkait dengan makna, dan unsur-unsur yang harus ditekankan dalam melaksanakan pendidikan Katolik. METODE Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah ialah kualitatif deskriptif dengan studi kepustakaan . ibrary researc. Studi kepustakaan ialah mencari data-data atau sumber informasi menggunakan data literasi atau kepustakaan. Literasi yang digunakan sebagai sumber utama yaitu dokumen-dokumen Gereja Katolik, artikel-artikel dari jurnal-jurnal yang berkaitan dengan tema ini, serta buku-buku ilmiah. Peneliti mengumpulkan data-data pustaka, secara khusus yaitu dokumen Gereja Mendidik Di masa Kini dan Masa Depan: Semangat yang Diperbarui (Insrtumentum Labori. , dilengkapi dengan dokumen-dokumen Gereja yang lainnya. Lalu peneliti mengumpulkan data dari buku-buku ilmiah serta jurnal-jurnal ilmiah yang relevan dan dapat menjadi objek kajian. Peneliti membaca, mencatat hal-hal yang menjadi pembahasan lalu mengolah data tersebut serta menganalisisnya sehingga dapat ditarik kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Instrumentum Laboris: Pendidikan di Masa Kini dan Masa Depan. Semangat Yang Diperbarui Insturmentum Laboris . ertas kerj. merupakan suatu refleksi dari pertemuan dalam rangka memperingati ulang tahun Gravissimum Educationis (GE) yang ke 50 tahun dan konstitusi Ex Corde Ecclesia yang ke 25 tahun pada tahun 2015. Persiapan acara besar ini didahuli sejak tahun 2012 dengan acara-acara seperti seminar pada Juni 2012 yang dihadiri oleh para ahli dan siding pleno pada Februari 2014 oleh para anggota Kongregasi. Dari sinilah Instumentum Laboris dihasilkan sebagai sebuah dokumen Gereja yang mengacu pada dua dokumen besar (Kongregasi Pendidikan Katolik, 2. Dokumen Pendidikan di Masa Kini dan Masa depan. Semangat Yang Diperbarui (Insturmentum labori. secara khusus berbicara mengenai sekolah dan universitas Katolik, dengan melihat tantanga-tantangannya. Tantangan menjadi perlu ditanggapi dengan program-program khusus yang harus menjadi perhatian mereka secara umum. Dalam perkembangannya setelah Konsili Vatikan II ajaran dari Bapa Paus menekankan pendidikan merupakan hal penting, dan komunitas kristiani harus memberikan sumbangsih. Maka Dokumen Pendidikan di Masa Kini dan Masa depan. Semangat Yang Diperbarui (Insturmentum Labori. menjadi suatu acuan penting bagi komunitas Kristiani dalam merefleksikan pendidikan Katolik sebagai sarana evangelisasi baru. Dokumen ini berisikan beberapa bagian. Selain pendahuluan dan penutup, terdiri dari 3 bagian besar dengan sub bagian di dalamnya (Kongregasi Pendidikan Katolik, 2. Bab I menjelaskan tentang acuan pokok dari dokumen ini ialah Gravissimum Educatinois dan Konstitusi Apostolik Ex Corde Ecclesiae. Bab II menerangkan suatu bentuk konsepsi pendidikan yang harus dihayati oleh sekolah dan universitas Katolik. Konsepsi ini menjadi kekhasan pendidikan Katolik yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga pendidikan Katolik. Bab ini juga melihat bagaimana identitas dari pendidikan Katolik. Bab i membahas mengenai tantangan-tantangan yang perlu ditanggapi oleh lembaga-lembaga pendidikan Katolik. Pada bagian setelah penutup dokumen ini memiliki Kuesioner tersebut merupakan suatu pertanyaan refleksi yang mampu menjadi permenungan bagi dunia pendidikan Katolik. Kuesioner ini terdiri dari permenungan kana, identitas dan misi, subjek yang merupakan orang-orang yang terlibat secara umum, seperti orang tua, imam, guru, dan terutama peserta didik. Formasi atau pembinaan mengenai strategi pembinaan, dan pengelolaan, serta permenungan-permenungan akan tantangan-tantangan dalam pembahasan bab i. Dalam pembahasan, penelitian ini secara khusus ingin melihat nilai-nilai umum pendidikan menurut pandangan Gereja Katolik dengan berpedoman pada dokumen-dokumen Gereja secara khusus Dokumen Pendidikan di Masa Kini dan Masa Depan. Semangat Yang Diperbarui. Nilai-nilai ini mampu menjadi suatu acuan dan refleksi mengenai peran serta umat Kristiani dalam menyelenggarakan pendidikan. Konsepsi pendidikan Katolik merupakan serangkaian kajian akan pandangan Gereja terhadap konteks pendidikan di masa kini secara khusus lembaga pendidikan yang menggunakan istilah ke Katolikkan. Identitas Sekolah dan Perguruan Tinggi Katolik Sekolah dan perguruan tinggi merupakan salah satu aspek penting yang harus diperhatikan oleh para pendidik. GE no 5 menyatakan bahwa sekolah memiliki makna istimewa. Sekolah dan perguruan tinggi atau lembaga pendidikan menjadi tempat untuk proses yang secara berkelanjutan dalam menumbuhkembangkan kemampuan baik akal-budi, maupun karakter (Konsili Vatikan II. Lembaga pendidikan membantu manusia untuk menyadari tata nilai kehidupan, dan warisan budaya yang telah diperjuangkan oleh generasi-generasi sebelumnya. Lembaga pendidikan juga menjadi perwujudan cinta kasih, dengan kemampuan untuk membangun kesadaran menjalin persahabatan orang-orang yang ada di dalamnya dengan keunikan karakter, keanekaragaman budaya, maupun perbedaan ekonomi. Semangat persahabatan adalah semangat yang harus ada di dalamnya dan sebagai dasar untuk membentuk bonum commune. Ketentuan dan pengertian Sekolah Katolik dan Perguruan Tinggi Katolik, ditegaskan dalam KHK 796-821(Paulus II, 1. Beberapa hal di antaranya ialah Gereja Katolik menghendaki sekolah-sekolah maupun perguruan tinggi yang menggunakan nama Katolik harus sesuai dengan ketentuan-ketentuan dari Gereja Katolik. Dalam hal ini gereja Katolik merupakan suatu institusi yang memiliki susunan hirarki, dengan pemimpin utama para Uskup. Aturan-aturan tersebut demi menjaga kredibilitas dan kualitas Gerejawi karena sekolah dan perguruan tinggi Katolik, menjadi suatu bentuk implementasi Gereja dalam turut serta mengembangkan misi Gereja, serentak dengan mengembangkan kemajuan dunia, serta penghargaan terhadap martabat manusia. Panda, . menyatakan bahwa sekolah Katolik memiliki visi adikodrati. Allah adalah dasar sekaligus tujuan utama dari keberadaan sekolah Katolik. Pertumbuhan manusia harus mampu menjadikan manusia memiliki cinta kasih kepada Allah dan sesama. Manusia dipanggil menuju kekudusan melalui Dokumen Gereja. Ex Corde Ecclesiae berbicara mengenai Pendidikan Tinggi Katolik yang memiliki 4 ciri khusus dibandingkan perguruan tinggi pada umumnya. Kempaat prinsip tersebut meliputi pertama inspirasi kristiani yakni sebagai komunitas kristiani untuk segenap civitas academica, kedua, refleksi secara terus menerus menurut terang iman Katolik. Ketiga, setia dalam pewartaan, keempat, pelayanan terhadap umat Allah menuju sang Transenden (Yohanes Paulus II. Martabat manusia merupakan hal yang harus diperjuangkan oleh komunitas akademis. Kegiatan-kegiatan akademis yang dilakukan perguruan tinggi Katolik menjadi khas dengan melaksanakan amanat konstitusi ini (Karyanto & Tedjoworo, 2. Pendidikan Tinggi Katolik merupakan suatu sistem pendidikan yang berdasarkan pada terang iman Kristiani, baik dari visi misi, hingga ke seluruh aspek pengelolaan di dalamnya. Pendidikan Katolik merupakan pendidikan yang bersifat integral antara intelektual, spiritual, moral, dan emosional. (Bhakti, 2. Nilai-nilai Kristiani merupakan dasar dalam pelaksanaan Pendidikan Katolik. Makna Pendidikan Katolik Di dalam kehidupan-Nya Yesus Kristus banyak melakukan tindakan pengajaran. Peranan Yesus mengajar secara biblis banyak di temukan di dalam Kitab Suci seperti Matius 4: 23. AuYesus pun berkeliling di seluruh Galilea. Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu. Ay Dan tentunya masih banyak lagi landasan biblis mengenai Yesus yang mengajar di antaranya Markus 4:1-9. Lukas 20:1, dan lain sebagainya (LBI, 1. Yesus banyak mengajarkan bagaimana pentingnya iman kepada Allah. Pengajaran yang dilakukan oleh Yesus bukan sekedar tindakan retorika saja, melainkan teladan. Terdapat integrasi atas apa yang dikatakan dengan dilakukan Yesus Kristus terhadap orang-orang di sekitar-Nya. Peristiwa mengenai pengampunan. Yesus banyak mengajarkan kepada para murid-Nya untuk mampu mengampuni sesama manusia, puncaknya ialah dalam tindakan yang dilakukan Yesus sendiri ketika Ia mengampuni mereka yang menyalibkanNya. Yesus Kristus adalah guru bagi banyak orang. Ajaran cinta kasih yang Ia wartakan. Ia wujudkan dengan memberi perhatian kepada orang-orang di sekitar-Nya, terutama mereka yang Seluruh Kisah hidup Yesus merupakan semangat, dan inspirasi bagi umat Kristiani. Dunia pengajaran yang dilakukan oleh Yesus Kristus merupakan semangat hidup yang diteruskan oleh mereka yang menjadi murid-murid-Nya. Menurut Azi, . semangat Kristus sebagai Sang Guru adalah panggilan misi bagi Gereja Katolik dalam dunia pendidikan. Lumen Gentium no 11 menyatakan umat Kristiani secara khusus dipanggil menjadi saksi Kristus. Dengan sakramen baptis mereka dipanggil untuk menjadi anggota Gereja, dan dengan sakramen penguatan mereka menjadi saksi Kristus untuk mewartakan iman mereka akan Kristus (Paus Paulus VI, 1. Pendidikan sangat erat kaitannya dengan pengajaran. Pengajaran merupakan sarana pewartaan. Gereja Katolik memandang pendidikan sebagai sarana pewartaan akan nilai-nilai cinta kasih. Seperti yang diamanatkan dalam Lumen Gentium no 17, bahwa setiap umat beriman Katolik dan sudah dibaptis memiliki tugas menjadi seorang pewarta (Paus Paulus VI. Mereka dipanggil untuk memberikan pengajaran akan kebenaran. proses ini tentu melalui pendidikan, maka pendidikan Krsitiani dipandang sebagai hak bagi semua umat Kristiani. Menurut dokumen Mendidik Di Masa Kini dan Masa Depan (Instrumentum Labori. no 1b, pendidikan iman tidak boleh terpisah dengan pendidikan manusia (Kongregasi Pendidikan Katolik, 2. Pendidikan ini berjalan secara bersamaan, karena kehidupan beriman merupakan satu kesatuan dengan setiap aspek kehidupan manusia. Kehidupan beriman mampu menjadi acuan dalam tingkah laku manusia. Manusia dituntut mampu bertindak sesuai dengan imannya untuk menjadi pegangan akan kebenaran yang dihayati. Manusia mampu menjadi makhluk yang mampu merenungi setiap hal yang ia lakukan. Pendidikan ini merupakan tindakan reflektif atas tindakan-tindakan yang dilakukan oleh manusia. Gereja Katolik memandang pendidikan sebagai suatu usaha yang mampu menjadikan masyarakat menjadi semakin manusiawi dan mengembangkan pribadinya. Maka Gereja menyatakan pendidikan sebagai kebaikan bersama. Secara khusus Dokumen Mendidik Di Masa Kini dan Di Masa depan: Semangat Yang Diperbarui dan GE menitikberatkan pendidikan yang harus dilakukan oleh sekolah-sekolah dan universitas-universitas Katolik. Dalam dokumen Mendidik Di Masa Kini dan Di Masa Depan: Semangat Yang Diperbarui No 2 dinyatakan bahwa pelayanan dalam pendidikan menjadi penting dengan memperhatikan kualitasnya. Tujuan dari pendidikan tinggi yakni menyadarkan para siswa atau mahasiswa untuk turut serta mengambil tanggung jawab akan budaya, sosial dan tanggung jawab akan persoalan religius atau iman yang menjadi kebutuhan mereka. Pendidikan merupakan usaha membentuk pribadi manusia untuk mampu bergandengan tangan menciptakan kesatuan dan damai di bumi. (Mardiatmadja, 2. Bonum Commune . omunitas yang baik/ kebaikan bersam. merupakan cita-cita bersama melalui pendidikan. Hal ini menjadi catatan penting bagi mereka yang berkarya dalam dunia pendidikan. Sekolah-sekolah Katolik memiliki ciri khas sekolah dengan lingkungan bersama yang memperoleh semangat Injil dengan kebebasan dan cinta kasih. Makna sakramen baptis juga menjadi suatu ciri yakni mengenai ciptaan baru. Para peserta didik dengan pengembangan kepribadian mereka dalam pendidikan mereka menjadi ciptaan baru. (GE no . Sekalipun secara khusus berbicara mengenai identitas dan tugas dari sekolah-sekolah atau universitas-universitas Katolik, namun terdapat nilai-nilai khas dari ke Katolikkan yang harus dihayati oleh semua pendidik agama Katolik atau mereka yang beragama Katolik yang berkarya di mana pun baik institusi pendidikan swasta umum maupun negeri. Kekhasan atau nilai-nilai tersebut ialah martabat manusia dan keunikan pribadi sebagai dasar pendidikan dan pengajaran, menumbuh kembangkan kemampuan dan talenta dari para siswa, balencing antara kognitif, afektif sosial, professional etic dan spiritual, membangun kemampuan siswa dalam kerja sama dan rasa solidaritas, penelitian yang ditujukan pada kebenaran, dengan kesadaran akan keterbatasan manusia dalam pengetahuan, dan sikap pikiran yang terbuka serta hati yang besar, menghargai ide-ide, dialog, dan interaksi serta mampu bekerja sama dengan semangat kebebasan dan kepedulian. Para pendidik juga memiliki peranan membawa siswa dalam ranah penelitian. Tugas para pendidik ialah mampu memberikan rasa tertarik para siswa maupun mahasiswa terhadap pengetahuan dan kesadaran untuk memahami cara mencapai serta menerapkannya. Ilmu pengetahuan juga harus berjalan bersama etika dan transendensi . ituasi yang Ilah. Ketiga aspek ini bukanlah suatu yang bertentangan (Mendidik Di Masa Kini dan Masa Depan: Semangat yang diperbarui no 2 ). Menurut fides et ratio akal budi yang merupakan ilmu dan iman menjadi sepasang sayap yang membawa kepada kebenaran (Paulus II, 1. Dalam dokumen Gereja Donum Vitae. Hormat Terhadap Hidup Manusia Tahap Dini, dikatakan ilmu pengetahuan dan Teknik merupakan sarana untuk menyempurnakan manusia. Konsekuensinya ilmu pengetahuan dan teknik ada untuk mengabdi kepada manusia dan tetap harus ada norma yang memperhatikan nilai-nilai moral. Ilmu harus disertai dengan hati nurani, bila tidak tentu akan mengakibatkan kebinasaan manusia (Kongregasi Iman Kepausan, 1. Gaudium et spess no 35 menegaskan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan kegiatan menurut rencana dan kehendak Allah harus selaras dengan kesejahteraan sejati umat manusia. Ilmu itu berasal dari Allah dan ditujukan untuk kebaikan manusia dengan memperhatikan martabatnya sebagai manusia (Konsili Vatikan II, 1. Gereja memandang pengajaran sebagai sarana untuk pendidikan. Istilah mengajar dan belajar saling berhubungan. Di dalamnya terkandung makna saling penghargaan, kepercayaan, penghormatan dan persahabatan. Maka pengajaran yang diharapkan ialah bagaimana cara mengajar yang mampu membuat peserta didik atau siswa menjadi aktif, terlibat dalam proses pembelajaran. Siswa dituntut mampu melakukan riset dan juga memberikan pemecahan masalah serta bekerja sama dalam tim bukan hanya sekedar menerima informasi tanpa mengabaikan hal yang fundamental dari informasi yang dibagikan (Mendidik Di Masa Kini dan Masa Depan: Semangat yang diperbarui no . Proses pembelajaran dan pendampingan peserta didik menjadi penting untuk diperhatikan. Pengaturan dari para pengajar menentukan proses belajar yang terjadi. Sarkim, . menyatakan unsur-unsur yang dapat diperhatikan ialah, pengaturan bahan yang dipelajari, urutan pembahasan, cara membahas materi pembelajaran, tugas-tugas yang harus dikerjakan, media pembelajaran dan teknik pengukuran perkembangan siswa. Dalam sisi lain seorang pengajar harus mampu menguasai model-model pembelajaran yang mampu membawa siswa dalam situasi yang aktif. Pembelajaran harus mampu memberikan kesempatan bagi para siswa agar dapat membuka hati dan budi terhadap misteri, keajaiban dunia dan alam semesta, kesadaran diri, pengenalan diri, tanggung jawab terhadap ciptaan, terhadap ke Maha besaran Pencipta (Mendidik Di Masa Kini dan Masa Depan: Semangat yang diperbarui no . Peningkatan Kualitas Sebagai Panggilan Gerejawi Kualitas pendidikan Katolik menjadi perhatian khusus bagi Gereja. Institusi pendidikan Katolik dihadapkan dengan berbagai macam tantangan. Konsekuensi yang terjadi ialah bagaimana institusi pendidikan Katolik mampu bertahan dengan semangat kerasulan Kristiani dalam mendidik dan mendampingi para peserta didik. Unsur-unsur yang ada dalam suatu sistem pendidikan haruslah memiliki nilai lebih dan menjadi kualitas yang khas dari institusi pendidikan Katolik. Dalam Sekolah. GE no 8 menegaskan para guru haruslah mereka yang telah dipersiapkan secara matang. Ijasah-ijasah maupun kemahiran mendidik mampu menjadi indikator dari proses penyediaan tenaga pendidik yang berkualitas. Guru yang dikukuhkan dengan ijazah diharapkan menghasilkan tenaga pendidik yang profesional dan memiliki keahlian sesuai dengan bidangnya (Agusta Kurniati, 2. Instrumentum Laboris no 1 point K menyatakan bahwa para guru juga memerlukan suatu pelatihan-pelatihan yang mampu mengembangkan kualitas mereka. Pelatihan dapat dilakukan sesuai dengan kebutuhan mereka. Pelatihan-pelatihan tersebut dapat diadakan dari pihak Gereja maupun negara serta kelompok-kelompok pengada pelatihan. Pelatihan yang diadakan oleh Gereja dapat di lakukan di Keuskupan. Kongregasi Religius. Perguruan Tinggi Katolik, dan Pelatihan yang diadakan oleh pihak Gereja juga diharapkan mampu menjadi sarana pembinaan iman sebagai bentuk dukungan akan kebutuhan spiritual para Guru seperti retret. Pelatihan yang dilakukan secara umum dapat diadakan oleh lembaga-lembaga yang memiliki perhatian khusus terhadap dunia pendidikan, seperti perguruan tinggi umum, lembaga pemerintah seperti pelatihan untuk sertifikasi guru dan institusi-institusi yang kredibel dalam pendidikan. Kualitas pendidikan Katolik bukan sekedar upaya yang dilakukan untuk menumbuhkan wilayah pengetahuan saja, melainkan hati nurani dan karya-karya dalam rupa tindakan nyata. Pendidikan integral menjadi suatu kualitas yang harus dimiliki dan dikembangkan oleh institusi pendidikan Katolik. Kebutuhan peserta didik tidaklah melulu persoalan pengetahuan atau kemampuan intelektual, lebih dari itu kepribadian juga menjadi perhatian penting. Kepribadian dapat ditemukan melalui ketrampilan peserta didik dalam kehidupannya berelasi terhadap sesama dan bertumbuh sebagai manusia. Keterampilan tersebut dapat berupa daya reflektif, yang mampu membawa peserta didik bertanggungjawab atas tindakannya, terampil dalam memutuskan suatu Keterampilan ini melibatkan integrasi antara hati nurani, berpikir kritis yang membawa mereka terhadap tindakan yang kreatif dan transformatif. Perkembangan zaman di era modern mampu menjadikan sekolah maupun perguruan tinggi bukan sebagai satu-satunya sarana untuk membuat orang menjadi terdidik. Teknologi modern menyediakan informasi-informasi yang mampu membuat manusia berpikir dan belajar lebih jauh. Institusi pendidikan diharapkan mampu menerapkan pembelajaran yang melibatkan teknologi modern ini sebagai sarana pendukung dalam pembelajaran. Pengembangan sarana dan prasarana menjadi suatu cara bagi pendidikan Katolik mengembangkan kualitasnya. Kemampuan beradaptasi dengan teknologi digital menjadi suatu tuntutan bagi para pendidik atau mereka yang berada dalam lingkup pendidikan masa kini maupun dimasa yang akan datang. Kendati demikian kemampuan ini juga harus memperhatikan pemikiran kritis yang diajarkan kepada peserta didik dalam menelaah, dan mengolah informasi-informasi yang diterima. Peserta didik dituntut menjadi pribadi yang kreatif dalam pemanfaatan teknologi modern ini (Mendidik Di Masa Kini dan Masa depan: Semangat Yang Diperbarui no 1D. E dan No 2B). Secara khusus. Pendidikan Tinggi harus mampu menjamin kualitas sistem akademik yang Tujuan dan muatan pendidikan tinggi harus menjadi patokan, dalam mengkaji nilai dari kegiatan yang dilaksanakan. Aspek monitoring dan evaluasi memiliki fungsi publik dan internal. Fungsi publik berbicara mengenai sistem studi yang transparan agar dapat dipercaya, sedangkan fungsi internal menjelaskan bagaimana tujuan institusi dapat dicapai oleh para pemangku kepentingan dan usaha memperbaiki serta mengembangkannya lebih lanjut melalu refleksi hasil (Mendidik Di Masa Kini dan Di Masa depan: Semangat Yang Diperbarui, no 2. Pendidikan Tinggi diharapkan mampu melakukan tindakan-tindakan Tridarma yang diarahkan pada kebenaran dan demi kebaikan masyarakat. Keberagaman Sebagai Tantangan dan Kesempatan Dalam dunia global saat ini keberagaman merupakan suatu realita kehidupan. Keberagaman dapat berupa suku, agama, budaya. Dalam dunia yang beragam ini keberagaman merupakan suatu anugerah dan kekayaan bukan. Gereja menghendaki agar hal ini disyukuri bukan dianggap sebagai Dengan keberagaman nilai-nilai keterbukaan terhadap yang lain menjadi suatu sarana bagi dialog yang didasari semangat cinta kasih. Keberagaman juga menjadi suatu tantangan ketika dengan adanya perbedaan maka mampu menimbulkan konflik atau perpecahan. Perbedaan pandangan dengan sikap eksklusif terhadap keegoisan pribadi maupun kelompok, dapat membinasakan yang lainnya. Dimensi egoisitas menjadikan perbedaan sebagai suatu bencana. Setiabudi dkk. , . menyatakan bahwa kasus intoleransi di Indonesia masih cenderung terjadi. Penelitiannya menjelaskan kasus intoleransi dapat berupa pelarangan pendirian rumah ibadah, perusakan terhadap rumah ibadah, pelarangan menggunakan atribut agama orang lain, pelarangan ibadah yang sedang berlangsung, dan aksi kekerasan atas nama agama. Keberagaman yang seharusnya menjadi kebanggaan bangsa Indonesia dan modal sosial justru menjadi suatu permasalahan yang mendesak untuk diatasi. Disisi lain dengan adanya keberagaman, rentan akan situasi hidup yang terbawa arus, sehingga manusia kehilangan identitas khasnya yang dapat mereka peroleh dari budaya dan iman Irmania dkk. ,( 2. menyatakan kemajuan teknologi di masa kini keterbukaan informasi menjadi suatu hal yang lumrah. Setiap orang dapat mengetahui hal-hal yang ada di seluruh dunia. Kebudayaan termasuk menjadi salah satu hal yang dapat tereksplorasi sehingga kebudayaan yang satu dapat mempengaruhi kebudayaan lainya. Sisi positif dan negatif akan selalu ada. Sisi positif kebudayaan yang dianggap baik dapat diterima oleh kebudayaan lain untuk memajukan Sisi negatif di antaranya budaya asing mampu mempengaruhi hidup seseorang, hingga seseorang melupakan identitas budaya aslinya dan cenderung mencintai budaya asing. Pengaruh globalisasi modern seperti ini mampu membawa manusia terhadap hilangnya identitas Manusia menjadi lebih cenderung menjadi pengagum sekaligus berusaha sama menjadi seperti idolanya. Krisis identitas menjadi salah satu konsekuensi logis. Sholahudin, . berpendapat globalisasi mampu mengaburkan batas-batas tradisional yang memisahkan keanekaragaman suku, budaya, agama, negara dan batas sosial lainya. Keunikan dan kekhasan menjadi tidak terlalu tampak. Maka dalam dua aspek ini Gereja tetap menghendaki agar keberagaman sebagai usaha untuk membangun semangat cinta kasih dalam tindakan toleran, menghargai apa yang menjadi kekhasan dari para peserta didik. Dalam suatu pendidikan iman yang khas, dapat ditujukan sebagai sarana pembentukan karakter religius. Karakteristik tersebut memiliki dua hal dasar yakni intensitas iman kepercayaan dan sikap terbuka terhadap yang lainnya (Siswantara et al. , 2. Intensitas iman kepercayaan merupakan suatu konsistensi secara mendalam terhadap apa yang diyakininya. Kemampuan untuk terus menerus merenungi pengalaman hidup dalam kacamata iman, menjadi suatu wujud tindakan reflektif. Keterbukaan terhadap yang lain juga menjadi suatu implementasi sikap iman yang ingin menerima dan memandang kebaikan dari yang lain sebagai bentuk cinta Dua hal tersebut mampu membawa seseorang dalam pemahaman keselamatan Allah ada dalam perwujudan iman dengan menjalankan nilai-nilai dan ritual keagamaannya, sekaligus memandang bahwa Allah mampu melaksanakan karya keselamatan tersebut dengan berbagai cara, termasuk melalui keanekaragaman agama, budaya maupun media. Refleksi atau experiential learning merupakan suatu metode yang mampu membawa seseorang ke dalam pemahaman mendalam akan hal ini. Dalam pendidikan di Indonesia secara khusus terdapat realita keberagaman yang didasarkan oleh suku, agama, dan budaya. Salah satu alternatif yang bisa dilakukan ialah dengan mengadakan pendidikan multikultural. Pendidikan multikultural dapat menjadi sarana bertumbuhnya sikap AupeduliAy dan mau mengerti . , atau politics of recognition . olitik pengakuan terhadap orang-orang dari kelompok minorita. hal ini sesuai dengan prinsip Gereja katolik preferential option foor the poor (Sutono, 2. Pendidikan multikultural dapat membuka kesempatan sebagai sarana memberi kesaksian tanpa harus bertindak sebagai ekstrimis. Keterbukaan terhadap yang lain dapat meningkatkan penghargaan satu dengan yang lain hingga dalam melakukan kegiatan-kegiatan memajukan nilai-nilai kemanusiaan. Kegiatan-kegiatan sosial seperti pelayanan sosial mampu menjadi sarana bagi para siswa untuk dapat bekerja sama memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan secara universal. Para siswa dapat melakukan tindakan ini dengan pendampingan yang diberikan oleh pihak lembaga pendidikan dan bekerja sama dengan banyak pihak . Dokumen Mendidik Di Masa Kini Dan Masa Depan: Semangat Yang Diperbarui no 5 dan 6 menjelaskan mengenai kebinekaan para siswa dan pluralisme lembaga pendidikan. Keragaman psikologis, sosial, kultural serta merupakan suatu kondisi riil yang terjadi, hal ini dipandang sebagai peluang dan anugerah. Tidak dibenarkan situasi ini menjadi suatu perlakuan yang tidak adil bagi pendidikan Katolik dalam penyelenggaraan pendidikan. Hal ini menolak tindakan diskriminasi terhadap suatu yang berbeda. Pendidikan ditantang untuk bertindak secara kontekstual melihat karakter dari para peserta didik. Lembaga pendidikan Katolik ditantang untuk mampu bertindak secara inklusif. Lembaga Pendidikan Katolik juga berada dalam situasi yang beragam. Kehadirannya ada di beberapa tempat dengan kondisi yang berbeda-beda. Lembaga Pendidikan Katolik dituntut untuk mampu bekerja sama dengan lembaga pendidikan non-Katolik dengan sikap mendengarkan dan membangun dialog konstruktif untuk menciptakan kebaikan bersama. Pendidikan Suatu Usaha Bersama (GE no . Gereja memahami bahwa pendidikan bukan sekedar urusan pribadi, namun merupakan suatu kebutuhan bersama. Gereja mengajak semua unsur terlibat dalam penanganan masalah akan Secara khusus pendidikan Katolik. Gereja menghendaki agar Gereja lokal bekerja sama dengan pemerintah, dan seluruh aspek lainnya agar dapat melaksanakan kebutuhan ini. Gereja menyadari tanggung jawab utama pembinaan iman ada dalam diri Gereja sendiri, namun dalam kompleksitas dunia masa kini, kerja sama merupakan suatu tindakan relasional dalam usaha menciptakan dunia yang bermartabat. Usaha bersama yang dilakukan juga bersifat internal. Dalam kategori internal, seluruh unsur yang terdapat di dalam pendidikan tinggi baik sekolah maupun perguruan tinggi dapat saling bekerja Tata Kelola lembaga menjadi aspek yang menentukan kemajuan suatu lembaga pendidikan. Dalam dokumen Mendidik Di Masa Kini dan Di Masa depan: Semangat Yang Diperbarui, beberapa hal yang menjadi tata kelola ialah syarat akses mahasiswa, sumber dana dan mekanisme, tingkat otonomi dan peranan perguruan tinggi dalam masyarakat modern, dan struktur tatata Kelola dalam institusi akademik. Dalam wilayah otonomi perguruan tinggi memiliki kebebasan demi mengejar tujuan akademis mereka tanpa tekanan dari pihak luar. Kekuatan Visi Misi dan struktur yang ada menjadi arah, tujuan dan juga perlindungan terhadap hal ini. Seluruh orang yang berada dalam institusi memiliki peranan dan tanggung jawab yang sesuai dan berpedoman terhadap cita-cita perguruan tinggi. KESIMPULAN Pendidikan Katolik merupakan pendidikan yang berpegang pada nilai-nilai dan semangat Kristiani. Gereja Katolik memiliki aturan dan pedoman yang khas sebagai institusi keagamaan yang memiliki perhatian khusus dalam pendidikan Katolik. Dokumen Mendidik Di Masa Kini dan Di Masa Depan: Semangat yang Diperbarui merupakan penegasan kembali akan penyelenggaraan pendidikan Katolik seturut dokumen-dokumen Gereja Gravissimum Educationis dan Ex Corde Ecclesia. Gereja secara khusus mengatur penyelenggaraan pendidikan Katolik, sebagai sarana implementasi semangat Kristiani dalam mengembangkan peradaban manusia. Konsepsi Pendidikan Katolik mengedepankan martabat manusia sebagai hal utama yang harus diperjuangkan. Pendidikan Katolik dalam ranah lembaga seperti sekolah Katolik dan Perguruan tinggi Katolik, diharapkan mampu merealisasikan semangat dan jiwa dari Kekatolikkan itu sendiri. Gereja menyadari di masa kini dan masa yang akan datang, akan banyak tantangan yang dihadapi dalam pendidikan Katolik. Dengan dokumen-dokumennya Gereja berusaha memberikan arah dan dasar bagi pendidikan Katolik. Gereja mengharapkan lembaga pendidikan Katolik mampu untuk berefleksi terhadap situasi perkembangan zaman sehingga mampu berbenah dan bertindak secara kontekstual. Pendidikan Katolik harus mampu melihat situasi perkembangan zaman. Situasi riil seperti kemajuan teknologi dan keberagaman menjadi perhatian penting bagi penyelenggara pendidikan. Sikap terbuka terhadap kemajuan teknologi dan keberagaman merupakan suatu usaha inklusif tanpa harus menghilangkan identitas yang khas dari pendidikan Katolik. Gereja juga mengharapkan adanya bentuk Kerja sama atau kolaborasi antara lembaga pendidikan maupun stake holder yang berkaitan dengan penyelenggara pendidikan. Kerja sama dan dialog ini dilaksanakan demi bonum commune, yakni kebaikan bersama umat manusia. DAFTAR PUSTAKA