PALLANGGA JOURNAL OF AGRICULTURE SCIENCE AND RESEARCH Volume . No . Januari 2026 CFakultas Pertanian Universitas Bosowa Available online at https://journal. id/pallangga e-ISSN: 2987-5994C p-ISSN: 2987-4149CDOI: 10. 56326/pallangga. Penggunaan Modal Sosial antara Petani Kelapa dan Pengrajin Kopra Di Desa Bontotangnga. Kecamatan Bontoharu. Kabupaten Kepulauan Selayar Use of Social Capital Between Coconut Farmers and Copra Craftsmen In Bontotangnga Village. Bontoharu Subdistrict. Selayar Island District Qiqa Maysarah Ramadhani*. Faidah Azuz. Aylee Christine Alamsyah Sheyoputri Program Studi Agribisnis. Fakultas Pertanian. Universitas Bosowa *email: qiqamaysarahranadhani16@gmail. Diterima: 10 Maret 2025 / Disetujui: 30 Januari 2026 Abstract: This study aims to determine use of social capital between coconut farmers and copra craftsmen in Bontotangnga Village. Bontoharu District. Selayar Islands Regency in May 2024. Respondents consisted of 24 coconut farmers and 8 copra craftsmen. The data analysis technique used scoring techniques, the process of determining the score for the respondent's answer which was carried out by making suitable classifications and categories. The results showed that there are three components of social capital used between coconut farmers and copra artisans in Bontotangnga Village. Bontoharu District. Selayar Islands Regency, namely trust, networks, and norms. In terms of trust between farmers and craftsmen, the level of trust is dominant in the category of trust, meaning that farmers trust the craftsmen who work. In terms of network . , the relationship between farmers to craftsmen have a very good relationship. As for the norms . or the level of obedience shown by farmers to craftsmen included in the obedient category. In terms of trust . craftsmen against farmers, the level of trust . is dominant in the category of very trusting, meaning that craftsmen have a high level of trust in farmers. In terms of network . or the relationship that exists between craftsmen to farmers have a very good relationship. As for norms or the level of integrity shown by craftsmen to craftsmen is included in the very obedient category, meaning that craftsmen are very obedient to the rules and orders given by farmers. Keywords: Coconut Farmers. Copra Craftsman. Social Capita Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan modal sosial antara petani kelapa dan pengrajin kopra di Desa Bontotangnga. Kecamatan Bontoharu. Kabupaten Kepulauan Selayar pada bulan Mei 2024. Responden terdiri dari 24 petani kelapa dan 8 pengrajin kopra. Teknik analisis data menggunakan teknik skoring, proses penentuan skor atas jawaban responden yang dilakukan dengan membuat klasifikasi dan kategori yang cocok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga komponen modal sosial yang digunakan antara petani kelapa dan pengrajin kopra di Desa Bontotangnga. Kecamatan Bontoharu. Kabupaten Kepulauan Selayar yaitu kepercayaan . , jaringan . , dan norma . Dalam hal kepercayaan . petani terhadap pengrajin, tingkat kepercayaan . dominan pada kategori percaya, artinya petani percaya terhadap pengrajin yang Dalam hal jaringan . , jalinan hubungan yang terjalin antara petani terhadap pengrajin memiliki hubungan yang sangat baik. Adapun untuk norma . atau tingkat ketaatan yang ditunjukkan petani terhadap pengrajin termasuk dalam kategori taat. Dalam hal kepercayaan . pengrajin terhadap petani, tingkat kepercayaan . dominan pada kategori sangat percaya, artinya pengrajin memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap petani. Dalam hal jaringan . atau jalinan hubungan yang terjalin antara pengrajin terhadap petani memiliki jalinan hubungan yang sangat Adapun untuk norma . atau tingkat ketaatan yang ditunjukkan oleh pengrajin terhadap pengrajin termasuk dalam kategori sangat taat, artinya pengrajin sangat taat terhadap aturan dan perintah yang telah diberikan oleh petani. Kata Kunci: Petani Kelapa. Pengrajin Kopra. Modal Sosial This work is licensed under Creative Commons Attribution License 4. 0 CC-BY International license PENDAHULUAN Penggunaan Modal Sosial antara PetaniA. (Qiqa Maysarah Ramadhani. Faidah Azuz. Aylee Christine Alamsyah Sheyoputr. DOI: x x Salah satu hasil olahan kelapa yang banyak diusahakan oleh masyarakat Indonesia adalah kopra. Pengolahan buah kelapa ini juga merupakan usaha penganekaragaman produk kelapa baik pada industri skala besar maupun kecil. Produk utama kelapa yang diandalkan sebagai sumber penghasilan petani dan negara adalah daging buah. Daging buah merupakan bahan baku pembuatan kopra. Proses pengerjaan kelapa yang diolah menjadi kopra, bukan hanya dikerjakan oleh pekerja saja. Namun, relasi masih terbangun antara pemilik kebun kelapa dengan pekerja. Karena masih kental sistem tolong menolong, bahu membahu dalam menyelesaikan pekerjaan pengolahan kelapa menjadi kopra (Baharuddin, 2021. Nuryanti dkk. Modal sosial memiliki peranan terhadap industri kopra. Modal sosial hanya dapat dibangun ketika tiap individu belajar dan mau belajar mempercayai individu lain. Adanya kepercayaan membuat mereka mau menghasilkan komitmen yang dapat dipertanggungjawabkan untuk mengembangkan bentuk Ae bentuk hubungan yang saling menguntungkan (Yanti dan Indarwati, 2. Terdapat banyak definisi modal sosial, namun yang umum digunakan berasal dari tiga ahli yaitu Robert David Putnam. James Coleman, dan Piere Bourdieu. Putnam dalam Prayitno . mendefinisikan modal sosial sebagai gambaran kehidupan sosial yang memungkinkan para partisipan dalam hal ini masyarakat dalam suatu wilayah bertindak bersama secara lebih efektif untuk mencapai tujuan bersama. Sedangkan menurut Coleman dalam Prayitno . modal sosial adalah sumber penting bagi individu dan sangat berpengaruh pada kemampuan mereka untuk bertindak dan mencapai kualitas hidup mereka. Menurut Bourdieu dalam Usman . , modal sosial diartikan sebagai sumber Ae sumber aktual dan potensial yang berhubungan dengan jaringan yang saling mengetahui atau menghargai. Terdapat tiga komponen pembentuk modal sosial menurut Putnam dalam Situmorang . yaitu kepercayaan . , jaringan . , dan norma . Dalam pandangan Putnam, ketiga komponen modal sosial inilah yang dapat menjadi sumber pendukung dalam sebuah ikatan kerjasama dalam masyarakat. Usaha kopra membutuhkan modal sosial antara petani kelapa dan pengrajin kopra. Hal ini dilihat di Desa Bontotangnga Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar yang memiliki potensi kelapa dan kopra yang baik. Potensi kelapa yang cukup baik di Desa Bontotangnga berimplikasi pada modal sosial petani dan pengrajin kopra METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di Desa Bontotangnga. Kecamatan Bontoharu. Kabupaten Kepulauan Selayar pada bulan Mei 2024. Lokasi penelitian dipilih secara sengaja . dengan pertimbangan daerah ini merupakan daerah penghasil kelapa dan terdapat banyak industri kopra. Metode pengambilan sampel dalam penilitian ini menggunakan metode . imple random samplin. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif, sumber data yang digunakan yaitu data primer dan data sekunder dengan menggunakan beberapa metode pengumpulan data dengan alat penelitian berupa kuisioner. Data diolah dengan menggunakan teknik skoring. Jumlah populasi petani dan pengrajin kopra adalah 212 orang, terdiri dari 159 petani dan 53 pengrajin kopra. Proses penentuan skor atas jawaban responden yang dilakukan dengan membuat klasifikasi dan kategori yang cocok. Skoring dengan jawaban responden, misalnya :15 = sangat percaya . , 10 = percaya . , 5 = tidak percaya . HASIL DAN PEMBAHASAN Identitas responden dalam penelitian ini meliputi umur, tingkat pendidikan, luas lahan, dan pengalaman berusahatani sebagai berikut: Umur Responden Pallangga: Journal of Agriculture Science Research C Volume 4 No. 1 (Januari, 2. C 23 Ae 33 Umur berpengaruh terhadap kapabilitas sesorang dalam beradaptasi disegala sisi aktivitasnya termasuk dalam berusahatani karena mempengaruhi kemampuan fisik serta cara berpikir seseorang. Umur responden disajikan dalam Tabel 1 berikut: Tabel 1. Tingkat Umur Responden di Desa Bontotangnga. Kecamatan Bontoharu. Kabupaten Kepulauan Selayar Tingkat umur . Total Petani kelapa . (%) . Pengrajin kopra (%) Sumber Data: Diolah dari data primer, 2024 Berdasarkan Tabel 1 dapat dilihat bahwa rata Ae rata umur responden merupakan umur produktif dalam melakukan aktivitas kerja, kelompok umur yang paling dominan untuk petani kelapa adalah interval 45-54 tahun sebanyak 9 orang atau 38 persen, sedangkan kelompok umur yang paling dominan untuk pengrajin kopra adalah interval 45-54 tahun sebanyak 6 orang atau 75 persen. Tingkat Pendidikan Responden Tingkat pendidikan responden umumnya akan mempengaruhi cara berfikir dan mengambil keputusan yang berhubungan dengan perkembangan usaha taninya. Tingkat pendidikan responden disajikan dalam pada Tabel 2. Tabel 2. Tingkat Pendidikan Responden di Desa Bontotangnga. Kecamatan Bontoharu. Kabupaten Kepulauan Selayar Tingkat pendidikan . SMP-SMA Total Petani kelapa . (%) . Pengrajin kopra (%) Sumber Data: Diolah dari data primer, 2024 Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat bahwa tingkat pendidikan responden paling dominan pada petani kelapa adalah tingkat pendidikan SMP-SMA yakni sebanyak 16 orang atau 67 persen, sedangkan tingkat pendidikan paling dominan pada pengrajin kopra adalah tingkat pendidikan SMP-SMA yakni sebanyak 5 orang atau 62%. Hal ini berarti tingkat pendidikan responden termasuk pada tingkat pendidikan menengah yaitu SMP dan SMA. Luas Lahan Petani Kelapa Luas lahan berpengaruh terhadap tingkat pendapatan usahatani kelapa karena luas lahan merupakan faktor produksi bagi usahatani tersebut. Luas lahan responden disajikan pada Tabel 3. Tabel 3. Luas Lahan Responden di Desa Bontotangnga. Kecamatan Bontoharu. Kabupaten Kepulauan Selayar Luas lahan . <1 ha >1 ha Total Petani kelapa . (%) Sumber Data: Diolah dari data primer, 2024 Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat bahwa luas lahan yang dikelola menunjukkan bahwa luas lahan petani kelapa sama banyak antara luas lahan <1 ha dan luas lahan >1 ha dengan presentase 50 persen. Adapun luas lahan terbesar adalah 3 ha, dan luas lahan terkecil adalah 0,8 ha. Penggunaan Modal Sosial antara PetaniA. (Qiqa Maysarah Ramadhani. Faidah Azuz. Aylee Christine Alamsyah Sheyoputr. DOI: x x Lama Berusahatani Semakin lama seseorang menekuni usahatani semakin banyak juga pengalaman yang didapat seseorang dalam mengelola usahatani tersebut. Lama berusahatani petani kelapa dan pengalaman bekerja pengrajin kopra disajikan pada Tabel 4. Tabel 4. Lama Berusahatani dan Pengalaman Bekerja Responden di Desa Bontotangnga. Kecamatan Bontoharu. Kabupaten Kepulauan Selayar Lama berusahatani . 4 Ae 14 15 Ae 25 26 Ae 36 Total Petani kelapa . (%) Pengalaman Bekerja . 5 Ae 10 11 Ae 16 17 Ae 22 Total Pengrajin kopra . (%) Sumber Data: Diolah dari data primer, 2024 Berdasarkan Tabel 4 dapat dilihat bahwa pengalaman berusahatani yang memiliki frekuensi terbesar adalah rentang 4 Ae 14 tahun dengan presentase sebesar 46 persen. Sedangkan pengalaman bekerja yang memiliki frekuensi terbesar adalah rentang 5 Ae 10 tahun dengan presentase sebesar 38 persen. Dalam bekerja, waktu selama kurang lebih 20 tahun atau 20 tahun ke atas adalah waktu yang cukup untuk mendapatkan berbagai informasi dan pengalaman kerja, sehingga dapat terus berinovasi dan mengembangkan produksi kopra. Modal Sosial (Petani Terhadap Pengraji. Terdapat tiga komponen modal sosial yaitu kepercayaan . , jaringan . , dan norma . Ketiga komponen inilah yang menjadi landasan dalam sebuah ikatan kerjasama dalam masyarakat untuk mencapai tujuan yang menguntungkan bagi semua pihak. Kepercayaan . Tingkat kepercayaan . petani kelapa terhadap pengrajin kopra di Desa Bontotangnga Kecamatan Bontoharu dapat dilihat pada gambar di bawah ini: Tingkat Kepercayaan . Petani Kelapa 45,83% 54,17% O 59 . Ou 59 . angat percay. N = 24 Petani Sumber : Diolah dari data primer, 2024 Gambar 1. Tingkat Kepercayaan . Petani Kelapa Berdasarkan Gambar 1 dapat dilihat bahwa kepercayaan . petani terhadap pengrajin dengan kategori percaya lebih besar dengan presentase 54,17 persen dibandingkan kategori sangat percaya. Dalam hal kepercayaan . petani terhadap pengrajin berbeda Ae Ada beberapa pertanyaan yang diajukan kepada petani dalam hal kepercayaan . pengrajin kopra seperti kejujuran dalam mengerjakan kopra, hasil kopra yang dikerjakan, keberadaan pengrajin lebih memudahkan pekerjaan, hasil penjualan yang disetorkan pengrajin, dan lain-lain. Dari beberapa pertanyaan inilah peneliti mengambil kesimpulan untuk melihat kepercayaan . petani terhadap pengrajin kopra. Pallangga: Journal of Agriculture Science Research C Volume 4 No. 1 (Januari, 2. C 23 Ae 33 Jaringan . Jaringan . dapat berupa interaksi antar individu dalam suatu kelompok. Adapun jaringan . petani kelapa terhadap pengrajin kopra di Desa Bontotangnga Kecamatan Bontoharu dapat dilihat pada Gambar 2. Jaringan . Petani Kelapa 54,17% 45,83% O 47 . Ou 47 . angat bai. N = 24 Petani Sumber : Diolah dari data primer, 2024 Gambar 2. Jaringan . Petani Kelapa Berdasarkan Gambar 2 dapat dilihat bahwa hubungan yang terjalin antara petani kelapa dan pengrajin kopra dikategorikan hubungan yang baik dan baik sekali. Jaringan . petani kelapa terhadap pengrajin kopra yang memiliki hubungan sangat baik lebih besar dengan presentase 54,17 persen. Beberapa pertanyaan yang diajukan dalam penelitian ini antara lain seberapa sering interaksi petani dan pengrajin, latar belakang dalam memilih pengrajin, apakah pengrajin yang bekerja harus memiliki hubungan keluarga, dan lain-lain. Pada lokasi penelitian, hubungan yang terjalin antara petani kelapa terhadap pengrajin kopra memiliki hubungan yang sangat Hal paling utama dikarenakan kebanyakan petani sudah saling mengenal pengrajin yang bekerja dengannya. Norma . Norma . dapat berupa aturan yang tidak tertulis namun dipahami sebagai penentu pola tingkah laku yang baik dalam hubungan sosial. Adapun norma . atau aturan petani kelapa terhadap pengrajin kopra di Desa Bontotangnga Kecamatan Bontoharu dapat dilihat pada gambar di bawah ini: Norma . Petani Kelapa 45,83% 54,17% O 61 . Ou 61 . angat taa. N = 24 Petani Sumber : Diolah dari data primer, 2024 Gambar 3. Norma . Petani Kelapa Berdasarkan Gambar 3 dapat dilihat bahwa tingkat ketaatan pengrajin kategori taat lebih besar dengan presentase 54,17 persen dari total keseluruhan. Sedangkan tingkat ketaatan pengrajin kategori sangat taat lebih kecil dengan presentase 45,83 persen dari total Penggunaan Modal Sosial antara PetaniA. (Qiqa Maysarah Ramadhani. Faidah Azuz. Aylee Christine Alamsyah Sheyoputr. DOI: x x Dapat disimpulkan bahwa ketaatan pengrajin dalam penelitian ini dikatakan pada kategori taat atau patuh terhadap aturan dan norma . yang telah disetujui dan disepakati dari petani. Adapun pertanyaan yang diajukan dalam penelitian ini yaitu tingkah laku pengrajin dalam menaati aturan, kejujuran pengrajin, sikap adil, sanksi jika tidak menaati aturan, dan lain-lain. Modal Sosial (Petani Terhadap Pengraji. Kepercayaan . Unsur terpenting dalam modal sosial adalah kepercayaan . , yang merupakan perekat bagi langgengnya kerjasama dalam kelompok masyarakat, dengan kepercayaan . orang Ae orang akan bekerja secara lebih efektif (Ismail, 2. Adapun gambaran mengenai tingkat kepercayaan . pengrajin kopra terhadap petani kelapa dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Tingkat Kepercayaan . Pengrajin Kopra 37,50% 62,50% Ou 54 . angat percay. N = 8 Pengrajin < 54 . Sumber : Diolah dari data primer, 2024 Gambar 4. Tingkat Kepercayaan . Pengrajin Kopra Berdasarkan Gambar 4 dapat dilihat bahwa kepercayaan . pengrajin terhadap petani dengan kategori sangat percaya lebih besar dengan presentase 62,50 persen dibandingkan kategori percaya. Sedangkan kepercayaan . pengrajin terhadap petani dengan kategori percaya lebih kecil dengan prsentase 37,50% dari total keseluruhan. Maka dapat disimpulkan bahwa kepercayaan . pengrajin ke petani sangat tinggi. Adapun beberapa pertanyaan yang diajukan untuk melihat tingkat kepercayaan . pengrajin terhadap petani yaitu apakah pengrajin selalu mengikuti prosedur kerja yang ditetapkan petani, kesesuaian produk yang dikerjakan terhadap harapan petani, sistem bagi hasil yang diberikan oleh petani, dan lain-lain. Jaringan . Jaringan sosial terjadi karena adanya keterkaitan antara individu dan komunitas atau individu dalam suatu kelompok, seperti jaringan atau hubungan yang terjalin antara pengrajin kopra dan petani kelapa. Adapun hubungan yang terjalin antara pengrajin kopra terhadap petani kelapa di Desa Bontotangnga Kecamatan Bontoharu dapat dilihat pada Gambar 5: Pallangga: Journal of Agriculture Science Research C Volume 4 No. 1 (Januari, 2. C 23 Ae 33 Jaringan . Pengrajin Kopra 37,50% 62,50% Ou 55 . angat bai. < 55 . N = 8 Pengrajin Sumber: Diolah dari data primer, 2024 Gambar 5. Jaringan . Pengrajin Kopra Berdasarkan Gambar 5 dapat dilihat bahwa hubungan yang terjalin antara pengrajin kopra dan petani kelapa dikategorikan hubungan yang baik dan sangat baik. Jaringan . pengrajin kopra terhadap petani kelapa yang memiliki hubungan sangat baik lebih besar dengan presentase 62,50 persen. Sedangkan jaringan . pengrajin kopra terhadap petani kelapa yang memiliki hubungan baik lebih kecil dengan presentase 37,50 Hubungan yang terjalin antara pengrajin kopra ke petani memiliki jaringan . atau hubungan yang sangat baik. Jaringan . antara pengrajin kopra ke petani kelapa sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang efisien dan saling menguntungkan. Norma . Norma . dalam modal sosial diartikan sebagai cara pandang komunitas yang diterima sebagai aturan yang tidak tertulis yang diterima sebagai norma pada komunitas Adapun norma . atau aturan pengrajin kopra terhadap petani kelapa di Desa Bontotangnga Kecamatan Bontoharu dapat dilihat pada gambar di bawah ini: Norma . Pengrajin Kopra Ou 65 . angat taa. < 65 . N = 24 Petani Sumber : Diolah dari data primer, 2024 Gambar 6. Norma . Pengrajin Kopra Berdasarkan Gambar 6 dapat dilihat bahwa tingkat ketaatan pengrajin kategori sangat taat lebih besar dengan presentase 75% dari total keseluruhan. Sedangkan tingkat ketaatan pengrajin kategori taat lebih kecil dengan presentase 25% dari total keseluruhan. Norma . dalam hubungan antara pengrajin terhadap petani mencakup praktik dan prinsip yang harus dipatuhi agar hubungan kerja dapat berlangsung dengan baik dan saling Adapun salah satu contoh norma . atau aturan yang harus ditaati adalah kepatuhan pada kualitas, pengrajin kopra diharapkan untuk memproses kelapa sesuai dengan standar kualitas yang disepakati. Hal ini mencakup menjaga kebersihan dan teknik pemrosesan yang baik agar produk akhir . memiliki kualitas yang tinggi. Penggunaan Modal Sosial antara PetaniA. (Qiqa Maysarah Ramadhani. Faidah Azuz. Aylee Christine Alamsyah Sheyoputr. DOI: x x Produksi Petani Penjualan Kelapa Milik Petani Dari hasil panen petani, tidak semua hasil panen diolah menjadi kopra. Ada beberapa hasil panen yang dijual biasa atau dijual dalam bentuk kelapa biji. Adapun gambaran mengenai penjualan kelapa milik petani kelapa di Desa Bontotangnga Kecamatan Bontoharu, dapat dilihat pada Gambar 7 di bawah ini. Penjualan Kelapa Miliki Petani Full 45,83% Jual 54,17% Sumber : Diolah dari data primer, 2024 Gambar 7. Penjualan Kelapa Miliki Petani Berdasarkan Gambar 7 dapat dilihat bahwa penjualan kelapa milik petani menunjukkan bahwa yang paling banyak adalah hasil panen yang dijual biasa sebagian dengan presentase 54,17% dari total keseluruhan, sedangkan yang lain hasil panennya dijual dan diolah menjadi kopra full dengan presentase 45,83% dari total keseluruhan. Penjualan kelapa milik petani tergantung pada tiap Ae tiap petani, dengan alasan dan latar belakang yang kebanyakan petani pada lokasi penelitian hasil panennya tidak hanya dijual untuk diolah menjadi kopra saja, ada beberapa butir yang dijual biasa. Penyebab petani membagi penjualan kelapa karena menyakini bahwa jika dijual biasa masih ada keuntungan lain yang diterima selain hasil penjualan kopra. Sistem Kerja dan Bagi Hasil Sistem kerja dan bagi hasil setiap kegiatan pertanian atau produksi hasil pertanian berbeda Ae beda tergantung kesepakatan yang telah disetujui. Adapun gambaran sistem kerja dan bagi hasil petani kelapa di Desa Bontotangnga Kecamatan Bontoharu dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Sistem Kerja dan Bagi Hasil 33,33% 66,67% Bagi dua dari Bagi tiga dari N = 8 Pengrajin N = 24 Petani Sumber : Diolah dari data primer, 2024 Gambar 8. Sistem Kerja dan Bagi Hasil Berdasarkan Gambar 8 dapat dilihat bahwa sistem bagi hasil para petani kelapa dan pengrajin kopra di lokasi penelitian terbagi menjadi dua yaitu bagi dua dari penghasilan dan bagi tiga dari penghasilan. Sistem bagi hasil yang paling banyak digunakan adalah sistem bagi Pallangga: Journal of Agriculture Science Research C Volume 4 No. 1 (Januari, 2. C 23 Ae 33 tiga dari penghasilan dengan presentase 66,67 persen dari total keseluruhan. Terdapat dua sistem bagi hasil di lokasi penelitian disebabkan karena tidak semua petani menanggung biaya produksi, namun terdapat juga biaya produksi yang ditanggung terlebih dahulu oleh pengrajin. Sistem bagi tiga dari penghasilan, berarti petani yang menanggung semua biaya produksi serta lebih mudah saat pembagian penghasilan. sedangkan untuk bagi dua dari penghasilan berarti petani tidak menanggung semua biaya produksi, namun ada beberapa biaya yang ditanggung tanggung terlebih dahulu oleh pengrajin. Produksi Kopra Produksi dan Penerimaan Dalam produksi kopra jumlah yang dihasilkan berbeda Ae beda, karena tergantung berapa butir kelapa yang diolah untuk produksi kopra. Adapun jumlah produksi kopra yang dapat dihasilkan oleh pengrajin dapat dilihat pada gambar di bawah ini: Jumlah Produksi Kopra 75,00% 25,00% N = 8 Pengrajin Sumber : Diolah dari data primer, 2024. Gambar 9. Jumlah Produksi Kopra Pengrajin Berdasarkan Gambar 9 dapat dilihat bahwa jumlah produksi kopra yang dihasilkan oleh pengrajin kopra dapat dilihat bahwa jumlah produksi paling banyak adalah > 400 Kg dengan presentase 75%, sedangkan jumlah produksi paling sedikit adalah < 400 Kg dengan presentase 25%. Dapat disimpulkan bahwa pengrajin dapat memproduksi kopra lebih dari 400 Kg dalam satu kali produksi, perlu diketahui bahwa jumlah hasil produksi kopra tergantung berapa butir kelapa yang diolah untuk menjadi kopra. Penerimaan Pengrajin Kopra Penerimaan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah penerimaan yang diperoleh dengan mengalikan harga jual kopra dengan jumlah produksi. Adapun gambaran mengenai penerimaan pengrajin kopra dapat dilihat pada Gambar 10. Berdasarkan Gambar 10 dapat dilihat bahwa penerimaan pengrajin kopra yang paling besar adalah penerimaan > Rp 1. 000 dengan presentase 75,00 persen. Sedangkan penerimaan kopra yang paling kecil adalah adalah penerimaan < Rp 1. 000 dengan presentase 25,00 persen. Penerimaan yang diterima oleh pengrajin kopra merupakan total hasil penjualan kopra yang telah dibagi dengan petani. Adapun dalam pembagian hasil penjualan, ada yang menggunakan sistem bagi tiga dari hasil penjualan dan bagi dua dari Penggunaan Modal Sosial antara PetaniA. (Qiqa Maysarah Ramadhani. Faidah Azuz. Aylee Christine Alamsyah Sheyoputr. DOI: x x Penerimaan Pengrajin Kopra 75,00% 25,00% > Rp 1. < Rp 1. N = 8 Pengrajin Sumber : Diolah dari data primer, 2024 Gambar 10. Penerimaan Pengrajin Kopra Sistem Bagi Hasil Sistem bagi hasil adalah metode pembagian keuntungan antara pihak Ae pihak yang terlibat dalam sebuah usaha yang keuntungan dari usaha tersebut dibagi sesuai dengan kesepakatan awal. Adapun gambaran sistem bagi hasil pengrajin kelapa di Desa Bontotangnga Kecamatan Bontoharu dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Sistem Bagi Hasil Pengrajin Kopra 62,50% Bagi tiga dari penghasilan 37,50% Bagi dua dari penghasilan N = 8 Pengrajin Sumber: Diolah dari data primer, 2024 Gambar 11. Sistem Bagi Hasil Pengrajin Kopra Berdasarkan Gambar 11 dapat dilihat bahwa sistem bagi hasil yang digunakan yaitu bagi dua dan bagi tiga dari penghasilan. Sistem bagi hasil yang paling banyak digunakan adalah sistem bagi tiga dari penghasilan dengan presentase 62,50 persen. Sedangkan sistem bagi hasil yang paling sedikit digunakan adalah sistem bagi dua dari penghasilan dengan presentase 37,50 persen. Maka dapat disimpulkan bahwa sistem bagi hasil yang paling banyak digunakan oleh responden adalah sistem bagi tiga dari penghasilan, karena kebanyakan petani yang menanggung semua biaya produksi. KESIMPULAN DAN SARAN Penggunaan modal sosial antara petani kelapa dan pengrajin kopra di Desa Bontotangnga. Kecamatan Bontoharu. Kabupaten Kepulauan Selayar, dalam hal kepercayaan . petani terhadap pengrajin, tingkat kepercayaan . dominan pada kategori percaya, artinya petani percaya terhadap pengrajin yang bekerja dengannya. Dalam hal jaringan . , jalinan hubungan yang terjalin antara petani terhadap pengrajin memiliki hubungan yang sangat baik. Adapun untuk norma . atau tingkat ketaatan yang ditunjukkan petani tehadap pengrajin termasuk dalam kategori taat. Pallangga: Journal of Agriculture Science Research C Volume 4 No. 1 (Januari, 2. C 23 Ae 33 Sedangkan dalam hal kepercayaan . pengrajin terhadap petani, tingkat kepercayaan . dominan pada kategori sangat percaya, artinya pengrajin memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap petani. Dalam hal jaringan . atau jalinan hubungan yang terjalin antara pengrajin terhadap petani memiliki jalinan hubungan yang sangat baik. Adapun untuk norma . atau tingkat keataan yang ditunjukkan oleh pengrajin terhadap pengrajin termasuk dalam kategori sangat taat, artinya pengrajin sangat taat terhadap aturan dan perintah yang telah diberikan oleh petani. Terdapat perbedaan penggunaan modal sosial antara petani terhadap pengrajin dan antara pengrajin terhadap petani. DAFTAR PUSTAKA