Original Research Paper Kelayakan Kawasan Nglanggeran. Gunungkidul sebagai Lokasi Pelepasliaran Burung Pemangsa Feasibility of the Nglanggeran. Gunungkidul Area as a Location for Releasing Birds of Prey Gunawan1. Tugimayanto1. Andri Novi Susdihanto1. Ngatiran1. Rury Eprilurahman2, * Balai Konservasi Sumber Daya Alam Yogyakarta. Jl. Rajiman Km. 0,4 Wadas. Tridadi. Sleman. Yogyakarta 55514. Indonesia. Depertemen Biologi Tropika. Fakultas Biologi. Universitas Gadjah Mada. Jalan Teknika Selatan. Sekip Utara. Yogyakarta, 55281. Indonesia. *Corresponding Author: rurybiougm@ugm. Abstrak: Pelepasliaran burung pemangsa membutuhkan habitat yang sesuai untuk memastikan keberhasilan dan kelangsungan hidup satwa di alam. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan penilaian habitat di kawasan Nglanggeran. Gunungkidul, sebagai lokasi potensial pelepasliaran burung pemangsa. Metode yang digunakan meliputi penjelajahan untuk mencari lokasi potensial pengamatan burung pemangsa. untuk mencatat jenis, jumlah individu, dan pergerakan burung pemangsa. Selain itu, juga dicatat jenis burung dan satwa lain yang potensial menjadi mangsa burung pemangsa. Potensi ancaman diperoleh melalui wawancara semistruktural kepada warga di sekitar lokasi pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan Nglanggeran adalah habitat alami bagi 8 ekor Elang ular bido (Spilornis cheel. , 5 ekor Alap-alap sapi (Falco moluccensi. , satu ekor Elang-alap cina (Accipiter soloensi. , dan 5 ekor Sikep-madu Asia (Pernis ptilorhynchu. Selain itu, tercatat 28 jenis burung lain dan 11 jenis satwa lainnya yang potensial menjadi sumber pangan burung pemangsa. Masyarakat setempat menyatakan bahwa perburuan telah dilarang di kawasan tersebut sehingga kawasan Nglanggeran cukup aman sebagai lokasi pelepasliaran burung pemangsa. Kata kunci: konservasi, ornitologi, habitat, raptor, yogyakarta Abstract: The successful release of birds of prey necessitates access to suitable habitats to ensure their survival and adaptation in the wild. This research aims to evaluate the Nglanggeran area in Gunungkidul as a potential site for releasing these birds. The methodology includes field explorations to identify potential observation locations for raptors, as well as stationary monitoring at four stations to record the types, numbers, and movements of birds of prey. Additionally, we documented various bird species and other animals that could serve as prey for these raptors. Information on potential threats was gathered through semi-structured interviews with local residents surrounding the observation sites. The findings indicate that the Nglanggeran area is a natural habitat for eight Crested Serpent Eagle (Spilornis cheel. , five Spotted Kestrel (Falco moluccensi. , single individual Chinese Goshawk (Accipiter soloensi. , and five Oriental Honey Buzzard (Pernis ptilorhynchu. Furthermore, 28 other bird species and 11 additional animal species were identified as potential food sources for birds of prey. According to the local community, hunting has been prohibited in the area, making Nglanggeran a relatively safe location for the release of these birds. Copyright: A 2025. Berkala Ilmiah Biologi (CC BY 4. Keywords: habitat preferences, ornithology, raptor, wildlife conservation, yogyakarta Dikumpulkan: 19 Desember 2024 Direvisi: 11 Maret 2025 Diterima: 20 Agustus 2025 Dipublikasi: 31 Agustus 2025 A 2025 Gunawan . This article is open access Gunawan, et al. Berkala Ilmiah Biologi, 16 . : 99 Ae 106 DOI: http://dx. org/10. 22146/bib. Pendahuluan Pelepasliaran satwa adalah proses pengembalian satwa yang telah keluar dari habitat alaminya untuk dikembalikan ke habitat aslinya atau lokasi lain yang memiliki karakteristik serupa dengan habitat asalnya, serta berada dalam wilayah sebaran alaminya (Alikodra, 2000. Widodo, 2009. Alfarisi et al. Satwa dapat keluar dari habitatnya baik secara sengaja, seperti akibat perburuan, maupun tidak sengaja, misalnya karena kecelakaan yang memerlukan perawatan di luar habitatnya. Salah satu jenis satwa yang sering keluar dari habitatnya adalah burung pemangsa. Burung pemangsa memiliki peran penting dalam ekosistem, di antaranya sebagai pengendali populasi mangsa dan indikator kesehatan ekosistem (Rodryguez-Estrella et al. Poirazidis et al. , 2007. Sergio et al. , 2. Tercatat setidaknya 71 spesies raptor diurnal, diantaranya 10 spesies endemik di Indonesia (Sukmantoro et. , 2. Semua jenis burung pemangsa dilindungi oleh undang-undang di Indonesia (Noerdjito & Maryanto, 2001. Republik Indonesia, 2. , tetapi mereka kerap menjadi korban perburuan dan perdagangan ilegal (Gunawan, 2017a. Iqbal, 2. Data Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta menunjukkan bahwa selama lima tahun terakhir . , terdapat 88 individu burung pemangsa dari berbagai jenis yang diterima melalui sitaan atau penyerahan Keberhasilan pelepasliaran burung pemangsa sangat bergantung pada habitat yang Gunawan et al. menegaskan bahwa penilaian suatu habitat . abitat Penilaian ini meliputi kesesuaian habitat, ketersediaan pakan, lokasi bersarang, dan potensi Chou et al. juga menjelaskan bahwa burung pemangsa memiliki preferensi habitat spesifik untuk bersarang seperti halnya pohon yang tinggi, lokasi dengan tebing yang tidak jauh dari sumber air, dan terlindung dari aktivitas manusia. Salah satu lokasi potensial untuk pelepasliaran burung pemangsa di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta adalah kawasan A 2025 Gunawan . This article is open access Nglanggeran. Gunungkidul. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis burung pemangsa yang dapat dilepasliarkan di kawasan Nglanggeran melalui penilaian habitatnya, ketersediaan jenis pakan, dan mengetahui potensi Bahan dan Metode Lokasi Penelitian Nglanggeran adalah sebuah desa yang secara administratif merupakan bagian dari Kapanewon Patuk. Kabupaten Gunungkidul. Daerah Istimewa Yogyakarta. Indonesia. Desa ini ditetapkan sebagai desa terbaik ASEAN tahun 2017 dengan obyek wisata unggulan Gunung Api Purba Nglanggeran yang secara geografis terletak pada 449227 ME, 9133265 MS. UTM zona 49 M. Desa Nglanggeran meliputi wilayah seluas 7,62 Km2 yang mempunyai topografi berbukit-bukit dengan ketinggian antara 200-700 mdpl dengan suhu udara rata-rata 23o C Ae 27o C. Secara klimatologis, berdasarkan klasifikasi Koppen. Kawasan Nglanggeran termasuk beriklim Awa. Sedangkan menurut SchmidtFergusson disebutkan memiliki tipe curah hujan A (Ardiani et al. , 2. dan C-B agak basah dan mempunyai 3 bulan kering dan 7 bulan basah (GAP, 2015. Kalurahan Nglanggeran, 2. Wilayah Desa Nglanggeran berbatasan dengan Desa Ngoro-oro di bagian utara. Desa Nglegi di bagian timur. Desa Putat di bagian selatan dan Desa Salam di bagian barat. Sebagian besar wilayahnya digunakan untuk lahan pertanian, perkebunan, ladang dan pekarangan. Jenis vegetasi dominan di wilayah ini diantaranya adalah: jati, sengon, akasia, mahoni dan berbagai jenis tanaman buah seperti durian dan rambutan (GAP, 2015. Kalurahan Nglanggeran, 2. Bahan dan Alat Alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: Binokuler Omicron 8x42 untuk pengamatan burung. Kamera Canon SX70 untuk mendokumentasikan kondisi habitat maupun spesies burung yang dijumpai selama penelitian. Formulir pencatatan data untuk dokumentasi Peta wilayah untuk menentukan lokasi pengamatan menggunakan Google Earth. Google Gunawan, et al. Berkala Ilmiah Biologi, 16 . : 99 Ae 106 DOI: http://dx. org/10. 22146/bib. Maps dan diaplikasikan ke dalam peta offline melalui Avenza Maps. Buku panduan lapangan untuk identifikasi burung menggunakan Mackinnon et. berjudul BurungBurung di Sumatera. Jawa. Bali dan Kalimantan. Metode Koleksi Data Data diperoleh melalui beberapa tahapan sebagai berikut (Bibby et al. , 2. Pengamatan Jelajah Eksplorasi di kawasan Nglanggeran untuk mengidentifikasi lokasi potensial yang dapat menjadi habitat burung pemangsa. Pengamatan dilakukan pada tanggal 11 hingga 13 Oktober 2023 di pagi dan sore hari, yaitu saat aktivitas burung pemangsa paling intens. Metode Stasioner Pada empat lokasi potensial yang telah diidentifikasi, dilakukan pengamatan stasioner. Lokasi tersebut adalah di Lapangan Sepakbola (R1: 7A51'25. 30"S, 110A32'44. 67"E). Embung Nglanggeran (R2: 7A50'51. 06"S, 110A32'49. 16"E). Kedung Kandang (R3: 7A50'54. 02"S, 110A32'14. 04"E), dan Bukit Nglanggeran di sisi Kampung Pitu (R4: 7A50'39. 80"S, 110A32'37. 75"E) (Gambar . Pengamatan ini bertujuan untuk mencatat jenis, jumlah, perilaku, dan pergerakan burung Pencatatan Keanekaragaman Satwa Selain burung pemangsa, peneliti juga mencatat keberadaan jenis burung lain dan satwa mangsa potensial yang ditemukan di lokasi pengamatan. Identifikasi spesies mengikuti Mackinnon et al. dan Taufiqurrahman et al. Pendataan Ancaman Potensi ancaman terhadap burung pemangsa yang akan dilepasliarkan dilakukan dengan A 2025 Gunawan . This article is open access wawancara semi-terstruktur dengan masyarakat sekitar dipilih 4 orang narasumber utama yang sering bersinggungan dengan dunia burung. Wawancara mencakup persepsi masyarakat terhadap burung pemangsa, aktivitas manusia di sekitar habitat, dan ancaman potensial lainnya. Analisis Data Data dianalisis secara deskriptif untuk mengidentifikasi kesesuaian habitat berdasarkan ketersediaan pakan, lokasi bersarang, potensi ancaman, dan aktivitas burung pemangsa. Data dari wawancara diolah secara deskriptif untuk memahami potensi ancaman dan persepsi masyarakat terhadap burung pemangsa. Hasil dan Pembahasan Kawasan Nglanggeran terdiri atas bukitbukit yang didominasi oleh vegetasi tanaman perkebunan dan pekarangan, seperti jati, mahoni, akasia, serta berbagai tanaman buah dan perkebunan (Gambar . Kondisi ekologis ini menyediakan habitat yang mendukung bagi beberapa jenis burung pemangsa (Chou et al. Berdasarkan pengamatan, terdapat dua jenis burung pemangsa penetap, yaitu delapan ekor Elang ular bido (Spilornis cheel. dan lima ekor Alap-alap sapi (Falco moluccensi. , serta dua jenis burung pemangsa migran, yaitu satu ekor Elang-alap cina (Accipiter soloensi. dan Sikep-madu (Pernis ptilorhynchu. (Tabel 1 dan Gambar . Status burung pemangsa tersebut mengacu pada Supriatna . Lokasi perlintasan dan perkiraan jelajah dari masingmasing burung pemangsa yang ada di area Nglanggeran dapat dilihat pada Gambar 2. Gunawan, et al. Berkala Ilmiah Biologi, 16 . : 99 Ae 106 DOI: http://dx. org/10. 22146/bib. Gambar 1. Area Perbukitan Nglanggeran. Gunungkidul. Daerah Istimewa Yogyakarta Gambar 2. Lokasi perjumpaan, perlintasan dan perkiraan jelajah burung pemangsa di Kawasan Nglanggeran. Gunungkidul. Daerah Istimewa Yogyakarta. Indonesia. Titik R1-R4: Stasiun stasioner (Peta disusun dengan Google Earth, 2. Burung menggunakan kawasan ini untuk beraktivitas dan bersarang. Sebagai contoh. Alap-alap sapi (Falco moluccensi. cenderung membangun sarang di area terbuka di sekitar bukit berbatu, sebagaimana dikemukakan oleh Chou et. bahwa burung pemangsa memilih habitat spesifik untuk sarang. Sementara itu. Elang-ular bido (Spilornis cheel. , yang bersifat kosmopolitan, ditemukan melintasi berbagai lokasi di kawasan ini sesuai dengan pengamatan lapangan (Gokula, 2. Selain itu, burung pemangsa migran seperti Sikep-madu asia (Pernis ptilorhynchu. memanfaatkan kawasan Nglanggeran sebagai lokasi melintas dan mencari makan. Makanan utama jenis ini adalah lebah madu, larva, dan madunya (Liang et al. , yang relevan banyaknya kegiatan budidaya lebah madu di kawasan ini. Saat pengamatan, jumlah individu paing sedikit adalah Elang-alap cina (Accipiter soloensi. yang hanya dijumpai satu individu saja saat sedang terbang. Potensi Habitat untuk Pelepasliaran Gambar 1 menunjukkan bahwa Nglanggeran pelepasliaran burung pemangsa, terutama jenis Elang ular bido, berdasarkan jumlah individunya yang paling mudah dijumpai. Habitat di kawasan ini juga dinilai layak untuk A 2025 Gunawan . This article is open access Gunawan, et al. Berkala Ilmiah Biologi, 16 . : 99 Ae 106 DOI: http://dx. org/10. 22146/bib. pelepasliaran jenis burung pemangsa lain seperti Elang brontok (Nisaetus cirrhatu. dan Elang-alap jambul (Accipiter trivirgatu. dikarenakan kontur perbukitan dan beberapa pepohonan yang masih cukup tinggi dan susah dijangkau manusia. Tabel 1 menunjukkan bahwa kawasan Nglanggeran merupakan habitat bagi berbagai jenis burung, termasuk burung mangsa potensial seperti Gemak tegalan (Turnix suscitato. Tekukur (Streptopelia chinensi. Perkutut (Geopelia striat. , dan Ayam hutan (Gallus gallu. Keanekaragaman Satwa Pendukung Tabel 1. Daftar Spesies Burung yang dijumpai di Kawasan Nglanggeran. Gunungkidul Nama Lokal Alap-alap sapi Anis merah Ayam hutan hijau Bentet kelabu Blekok sawah Bondol jawa Bondol peking Burung-cabe jawa Burung-madu kelapa Burung-madu sriganti Caladi ulam Cekakak jawa Cekakak sungai Cinenen pisang Cipoh kacat Cucak kutilang Elang-alap cina Ilmiah Falco moluccensis Geokichla citrina Gallus varius Lanius schach Ardeola speciosa Lonchura leucogastroides Lonchura punctulata Dicaeum trochileum Anthreptes malacensis Cinnyris jugularis Dendrocopos macei Halcyon cyanoventris Todiramphus chloris Orthotomus sutorius Aegithina tiphia Pycnonotus aurigaster Accipiter soloensis Elang-ular bido Gemak loreng Kadalan birah Kareo padi Kirik-kirik senja Kucica kampung Layang-layang loreng Merbah cerukcuk Perkutut Prenjak coklat Sepah kecil Sikep-madu asia Tekukur biasa Walet linchi Wiwik uncuing Spilornis cheela Turnix suscitator Phaenicophaeus curvirostris Amaurornis phoenicurus Merops leschenaulti Copsychus saularis Cecropis striolata Pycnonotus goiavier Geophelia striata Prinia polychroa Pericrocotus cinnamomeus Pernis ptilorhynchus Spilopelia chinensis Collocalia linchi Cacomantis sepulcralis Status Dilindungi Migran Status Konservasi Oo LC. App II Oo - . LC. - . LC. - . LC. - . LC. - . LC. - . LC. - . LC. - . LC. - . LC. - . LC. - . LC. - . LC. - . LC. - . LC. - . LC. LC. App II Oo Oo LC. App II Oo - . LC. - . LC. - . LC. - . LC. - . LC. - . LC. - . LC. - . LC. - . LC. - . LC. LC. App II Oo - . LC. - . LC. - . LC. Keterangan: Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia No. 106/ MENLHK/SETJEN/KUM. 1/12/2018 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P. 20/MENLHK/SETJEN/KUM. 1/6/2018 tentang A 2025 Gunawan . This article is open access Gunawan, et al. Berkala Ilmiah Biologi, 16 . : 99 Ae 106 DOI: http://dx. org/10. 22146/bib. Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi IUCN (International Union for Conservation of Natur. : LC- Least Concern (Spesies dengan tingkat risiko renda. CITES . he Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flor. : App. II Ae Appendiks II Gambar 3. Burung pemangsa di Kawasan Nglanggeran: A. Sikep-madu Asia (Pernis ptilorhynchu. Alap-alap sapi (Falco moluccensi. Elang-ular bido (Spilornis cheel. Selain keanekaragaman satwa lain seperti serangga, mamalia, dan herpetofauna (Tabel . Herpetofauna, yang menjadi mangsa utama Elang ular bido maupun burung pemangsa lain (Chou et. Cubas-Rodriguez et al. , ditemukan cukup bervariasi di kawasan ini, sementara Alap-alap sapi yang lebih kecil cenderung memangsa serangga dan burung berukuran kecil (Hamzati & Aunurohim. Tabel 2. Daftar Spesies Satwa lainnya yang dijumpai di Kawasan Nglanggeran. Gunungkidul Nama Lokal Serangga Belalang kayu Lebah madu Mamalia Monyet ekor panjang Tupai kekes Bajing kelapa Herpetofauna Kadal kebun Tokek Katak pohon bergaris Cekibar Jawa Cicak Bunglon surai Status perlindungan Ilmiah Valanga nigricornis Apis sp. Macaca fascicularis Tupaia javanica Callosciurus notatus IUCN: Endangered. CITES: App II Eutropis multifasciata Gekko gecko Polypedates leocomystax Draco volans Hemidactylus spp. Bronchocela jubata CITES: App II Faktor Pendukung Pelepasliaran Menurut Widodo . , habitat dengan kondisi yang baik, minim gangguan manusia, dan kaya akan beragam sumber pakan cenderung mendukung keberadaan berbagai jenis burung. Tabel 2 menunjukkan sejumlah pakan alami yang sesuai dengan preferensi burung pemangsa. Keberadaan peraturan lokal yang melarang perburuan dan perusakan lingkungan di kawasan wisata Nglanggeran mendukung rencana pelepasliaran satwa liar, terutama burung pemangsa. Hal ini relevan dengan pendapat Gunawan et al. yang menekankan pentingnya faktor keamanan dalam menentukan lokasi pelepasliaran. Dengan kondisi habitat yang sesuai, keanekaragaman mangsa yang mencukupi, serta dukungan regulasi lokal, kawasan Nglanggeran memiliki potensi besar sebagai lokasi pelepasliaran burung pemangsa. Hal ini memberikan harapan bagi upaya konservasi burung pemangsa di Indonesia, khususnya di A 2025 Gunawan . This article is open access Gunawan, et al. Berkala Ilmiah Biologi, 16 . : 99 Ae 106 DOI: http://dx. org/10. 22146/bib. Alfarisi. Dhamsa. Ardi. Aktifitas Manusia dan Pengaruhnya terhadap Jumlah Jenis Burung di Cagar Alam Pulau Sempu. Laporan Penelitian. Fakultas Kehutanan. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta Alikodra. Pengelolaan Satwa Liar. Jilid I. Fakultas Kehutanan. Institut Pertaninan Bogor. Bogor. Ardiani. Wirianata. Noviana. Pengaruh Iklim terhadap Produksi Kakao di Kabupaten Gunungkidul. Jurnal Agro Industri Perkebunan. : 45-52. Bibby. Burges. Hill. , dan Mustoe. Bird Census Techniques . nd Edition ed. Academic Press. London. UK, pp. Chou. -C. Lee. -F. and Chen. -S. Breeding biology of the Crested Serpent-Eagle Spilornis cheela hoya in Kenting National Park. Taiwan. 557Ae 568 in Chancellor R. and Meyburg -U. [Eds. Raptors worldwide. World Working Group on Birds of Prey. Berlin. Germany, and MMEBirdLife Hungary. Budapest. Hungary. Cubas-Rodriguez. Antynez-Fonseca, . Muyoz-Ruyz. Martynez. and Cupul-Magaya. Birds as predators of herpetofauna: records of seven cases from Costa Rica and Honduras. 517Ae520. GAP. Informasi Geografis Gunung Api Purba Nglanggeran. https://w. com/pag es/detail/informasi-geografis (Accessed on December 18, 2. Gokula. Breeding ecology of the crested serpent eagle Spilornis cheela (Latham, (Aves: Accipitriformes: Accipitrida. in Kolli hills. Tamil Nadu. India. Taprobanica: The Journal of Asian Biodiversity. 4038/tapro. Gunawan. , & Noske A. The use of social media in the illegal trade in Indonesian raptors. Kukila 20: 1-10. (Accessed https://w. net/publicati on/317841629_The_illegal_trade_of_I ndonesian_raptors_through_social_me Gunawan. Pramono H. Djamaludin. Yuniar . Hardina K. Mulyati S. Kuswandono & Kristiana I. Release of confiscated raptors in Indonesia by Suaka Elang (Raptor Sanctuar. : protocols and progress to BirdingASIA (Accessed https://w. edu/37963960/ Release_of_confiscated_raptors_in_In donesia_by_Suaka_Elang_Raptor_San A 2025 Gunawan . This article is open access wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Kesimpulan Kawasan Nglanggeran Gunungkidul. Daerah Istimewa Yogyakarta, memiliki potensi besar sebagai lokasi pelepasliaran burung pemangsa. Habitatnya yang didominasi vegetasi perkebunan dan pekarangan, keanekaragaman hayati yang mencakup mangsa potensial, serta dukungan regulasi lokal yang melarang perburuan dan perusakan lingkungan, menjadikan kawasan ini sesuai untuk burung pemangsa yang teramati yaitu delapan ekor Elang-ular bido (Spilornis cheel. dan lima ekor Alap-alap sapi (Falco moluccensi. , serta dua jenis burung pemangsa migran, yaitu satu ekor Elang-alap cina (Accipiter soloensi. dan lima ekor Sikep-madu asia (Pernis ptilorhynchu. Faktor keamanan, kesesuaian habitat, serta ketersediaan pakan mendukung keberlanjutan pelepasliaran burung pemangsa di kawasan ini, baik spesies penetap maupun migran. Ucapan terima kasih Terima kasih kami sampaikan kepada Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Yogyakarta. Taufan Kharis, dan warga masyarakat Nglanggeran atas segala arahan, informasi, bantuan dan dukungan yang diberikan selama penelitian. Referensi