Jurnal Inovasi Manajemen & Bisnis (JIMB) Website: ojs. itb-ad. id/index. php/JIMB | E-ISSN: 2830-3776 PENINGKATAN KREATIVITAS. KAPABILITAS INOVASI. DAN KEUNGGULAN BERSAING MELALUI PENDEKATAN QUINTUPLE HELIX: STUDI PADA INDUSTRI SEKTOR KULINER DI KOTA TANGERANG SELATAN Ayi Muhyidin1. Imal Istimal2(*) 1-2 Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan. Jakarta ABSTRACT INFORMASI ARTIKEL The main objective of this study is to explore the effect of the Quadruple Helix on competitive advantage through creativity and innovation capabilities in the creative economy sector in South Tangerang City. Structural Equation Modeling (SEM) with AMOS 23 was operated to test the research model with a sample of 135 respondents. The findings of this study reveal that the Quintuple helix (Intellectual. Government. Business. Civil society, and Environmen. has a positive and significant impact on competitive advantage. Creativity and innovation capability also positively and significantly impact competitive advantage. addition, the findings in this study show that creativity and innovation capability can mediate between the quintuple helix relationship and competitive advantage. This study contributes to the existing literature by investigating the quadruple helix concept in increasing competitive Dikirim: 20 November 2022 Ditelaah: 21 November 2022 Diterima: 23 November 2022 Publikasi daring: 25 November 2022 Kata Kunci: Quintuple helix. Creativity. Innovation Capability. Competitive advantage Juli Ae Desember 2022. Vol 1 . : Hal, 67-77 A2022 Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan Jakarta. All rights reserved. Korespondensi: ayimuhyidin1@gmail. com (Ayi Muhyidi. , istimalilham@gmail. com (Imal Istima. PENDAHULUAN Industri kreatif telah berkembang menjadi elemen penting bagi perekonomian dunia selama tiga dekade terakhir (Sung, 2. , lahir sebagai respon atas perubahan cepat yang terjadi baik dalam bidang ekonomi maupun sosial (Mazilu et al. , 2. Selain itu, industri kreatif berperan penting dalam mendorong pertumbuhan serta kelangsungan ekonomi nasional dengan tetap memperhatikan isu keberlanjutan (Andres & Round, 2015. treimikien & Kaserauskas, 2. dengan mengintegrasikan kreativitas, pengetahuan, dan pembelajaran teknologi (Sung, 2. Hingga saat ini, industri kreatif masih menjadi isu yang menarik bagi perekonomian di Negara maju (Lazzeretti et al. , 2. maupun Negara berkembang (Fahmi et al. , 2. Industri kreatif muncul sebagai bidang ekonomi yang dapat memberikan dampak nyata pada aspek sosial, seperti pendidikan, perdagangan (Che Arshad & Irijanto, 2. , lapangan kerja baru, dan kemakmuran di suatu daerah (Ahman et al. Machmud & Sumawidjaja, 2. Industri kreatif merupakan paradigma pembangunan ekonomi dan inovasi yang menghadirkan peran penting dalam peran dimana penciptaan nilai terletak pada proses mengubah ide kreatif menjadi produk atau jasa (Gasparin & Quinn, 2021. Gouvea et al. , 2. Di Indonesia terdapat 16 subsektor ekonomi kreatif, diantaranya seperti fashion, kuliner, kriya dan periklanan (Perpres No 72 Tahun 2. Industri kreatif di Indonesia mengalami pertumbuhan yang menggembirakan dari berbagai subsektor industri kreatif (Ahman et al. , 2. , begitu juga dengan kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB). Pada tahun 2017 kontribusi sektor ini senilai 989,1 triliun, sedangkan pada tahun 2018 mencapai 1,066 triliun (Setiawan, 2. dan meningkat menjadi 1. 153 triliun pada tahun 2019. Hingga tahun 2019, jumlah penduduk yang bekerja pada sektor industri kreatif berjumlah 19,2 juta orang . ,21% dari total tenaga kerja nasiona. , meningkat sebesar meningkat 4,02% jika dibandingkan dengan tahun 2018 (Abdin et al. , 2. Industri kreatif juga memberikan kontribusi terhadap eksport nasional sebesar 11% (US$ 19,6 M), subsektor industri kreatif yang menyumbang nilai ekspor paling besar yaitu fashion 62,04%. Craft 30,95%, kuliner 6,76% dan lainnya 0,25% (Kemenko Bidang Perekonomian, 2. Kendati demikian, industri kreatif masih memiliki berbagai permasalahan dan diperlukan dukungan dari berbagai pihak agar dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pembangunan ekonomi . reimikien & Kaserauskas, 2. Ahman et al. , . menunjukan kapabilitas sumber daya manusia merupakan permasalahan yang dihadapi oleh para pelaku industri kreatif saat ini, sehingga berdampak pada lemahnya keunggulan bersaing (Otache et al. , 2. Selain itu, industri kreatif juga masih lemah dalam menumbuhkembangkan kreativitas dan peningkatan kemampuan inovasi. Studi Ahman et al. , . menunjukan pelaku industri kreatif harus mampu mendorong kreativitas dan meningkatkan kapasitas inovasi agar dapat berkembang dan memiliki daya saing. Oleh karena itu, kajian pada aspek kreativitas dan perilaku inovatif menjadi topik pembahasan yang sangat penting karena dipandang sebagai salah satu faktor kunci dalam menciptakan keunggulan bersaing . Avila, 2021. Bulut et al. , 2022. Elidemir & Ozturen, 2020. Setyaningrum & Muafi, 2. Jurnal Inovasi Manajemen dan Bisnis (JIMB) Juli Ae Desember 2022. Vol. : hlm 67-77 Konsep helix diyakini dapat berperan sebagai pendorong kreativitas dan inovasi (Ahman et al. , 2. , gagasan dasar dari konsep helix merupakan kolaborasi yang melibatkan berbagai aktor seperti pemerintah, universitas, pelaku usaha, masyarakat dan alam (Carayannis & Campbell, 2. yang akan melahirkan inovasi, kreativitas, ide, serta keterampilan dalam mengembangkan ekonomi kreatif (Praswati, 2. Kolaborasi multipihak tersebut dikenal dengan konsep Quintuple helix, aktor yang terlibat memiliki kontribusi masing-masing sesuai dengan fungsi kelembagaannya di masyarakat. Pemerintah memiliki peran penting dalam memberikan dukungan penuh berupa kebijakan dan menyediakan infrastruktur yang dapat meningkatkan industri Universitas/intellectual berperan sebagai pusat transfer teknologi, serta menawarkan pengetahuan dan sumber daya manusia. Untuk membantu bisnis dalam mencapai tujuannya, industri . memberikan dukungan inkubator bisnis serta komersialisasi pengetahuan. Masyarakat sipil berbasis budaya dan media harus berpartisipasi secara formal dalam inisiatif bottom-up (Dzisah & Etzkowitz. Lingkungan alam diakui untuk mempromosikan pembangunan berkelanjutan dengan memberi orang akses ke sumber daya alam, tumbuhan, hewan, dan sumber daya (Carayannis et al. , 2012. Carayannis & Rakhmatullin, 2. Kelima aktor yang terlibat dalam quintuple helix harus bekerja secara terpadu sehingga dapat memainkan perannya secara optimal dalam mendukung tumbuhnya kreativitas dan inovasi para pelaku industri kreatif di Indonesia (Praswati, 2. Studi sebelumnya menunjukan bahwa kolaborasi antara aktor yang terlibat dalam Quadruple helix . ntelektual, pemerintah, bisnis dan masyarakat sipi. memiliki peran besar dalam mengembangkan kreativitas, namun belum mampu meningkatkan kemampuan inovasi para pelaku industri kreatif (Ahman et al. , 2. penelitian Nursiah, . menunjukan kolaborasi antara aktor yang terlibat dalam quadruple helix dapat meningkatkan kreativitas dan kemampuan inovasi. Konsep Quadruple Helix sangat penting dalam mendorong peningkatan kinerja secara berkelanjutan melalui kreativitas dan kemampuan inovasi (Setyanti, 2. yang akan berdampak pada hasil kinerja yang optimal dan keunggulan bersaing (Toole et al. Studi empiris pada konsep quintuple helix masih jarang dilakukan di Negara berkembang seperti Indonesia. Penelitian yang ada seperti Setyanti, . dan Ahman et al. , . masih terbatas pada model quadruple helix dalam meningkatkan keunggulan bersaing dengan kemampuan inovasi dan kreativitas sebagai variabel Harwiki & Malet, . telah memperluas konsep dengan mempertimbangkan konsep quintuple helix dan inovasi dalam meningkatkan kinerja industri kreatif, namun studi tersebut tidak menyoroti bagaimana dampak dari konsep helix terhadap kemampuan inovasi. Padahal. Quadruple/Quintuple Helix dipandang sebagai kerangka yang dapat merangsang inovasi (Carayannis et al. , 2. baik inovasi produk, inovasi proses atau kombinasi dari keduanya (HernyndezTrasobares & Murillo-Luna, 2. Oleh karena itu, penelitian ini mencoba mengisi kesenjangan literatur yang ada dengan berfokus pada konsep quintuple helix. Tujuan dari penelitian ini untuk menguji konsep quintuple helix dalam meningkatkan keunggulan bersaing dengan kreativitas dan inovasi sebagai variabel mediasi. Penelitian ini dilakukan pada Peningkatan Kreativitas. Kapabilitas Inovasi, dan Keunggulan Bersaing melalui Pendekatan Quintuple Helix: Studi Pada Industri Sektor Kuliner di Kota Tangerang Selatan (Ayi Muhyidin & Imal Istima. industri kreatif sektor kuliner di tangerang selatan, dengan harapan temuan baru dalam penelitian ini dapat memberikan kontribusi berupa implikasi teoritis dan manajerial bagi pelaku industri kreatif dan aktor yang terlibat dalam konsep quintuple helix agar dapat bekerja secara terpadu sehingga dapat memainkan perannya secara optimal dalam mendukung tumbuhnya kreativitas dan inovasi para pelaku industri kreatif. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan bentuk survei untuk mengeksplorasi fakta yang dapat diamati dan menyajikan penjelasan yang kuat untuk masalah yang diidentifikasi. Instrument survei dikembangkan untuk menyelidiki hubungan quintuple helix, kapabilitas inovasi, kreativitas dan keunggulan bersaing. Variabel penelitian dikembangkan dari studi sebelumnya, quintuple helix mengadopsi dari konsep (Carayannis et al. , 2. , kreativitas mengadopsi konsep dari (Nguyen et al. , 2. , kapabilitas inovasi dan keunggulan bersaing mengadopsi dari . Avila, 2. Konstruk penelitian diukur menggunakan skala tipe Likert lima poin, mulai dari 1 = Ausangat tidak setujuAy hingga 5 = Ausangat setujuAy. Pengujian model dilakukan dengan pendekatan Structural Equation Modeling (SEM) menggunakan perangkat lunak AMOS 22. 0 dan menggunakan prosedur dua langkah (J. Hair, 2. untuk menganalisis data dalam penelitian ini. Objek dalam penelitian ini adalah pelaku/pemilik usaha industri kreatif sektor kuliner di Tangerang Selatan. Sample yang terlibat dalam penelitian ini berjumlah 135 responden, menurut Hair et al. , . untuk penelitian kuantitatif, sampel sebanyak 100 sampai 200 termasuk dalam kategori sedang. Survei dilakukan dengan menggunakan kuesioner melalui google form dan disebarluaskan kepada seluruh Gambar. 1 Model Penelitian Creativity Competitive Advantage Quintuple Helix Innovation Capability HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik responden dalam penelitian ini disajikan pada Tabel 1 menunjukkan bahwa 68,89% responden adalah laki-laki . = . dan 31,11% Jurnal Inovasi Manajemen dan Bisnis (JIMB) Juli Ae Desember 2022. Vol. : hlm 67-77 responden adalah perempuan . = . Sebagian besar responden berasal dari kategori usia 22Ae39 tahun . ,11%, n = . , dan sebagian besar sudah menikah . ,93%, n = . dengan pendidikan sebagian besar sarjana . ,33%, n = . Penghasilan perbulan sebagian besar responden . %) berada di diantara 20-30 juta perbulan. Tabel. 1 Karakteristik Responden Gender Age Status Pendidikan Pendapatan Perbulan Laki-laki Perempuan < 22 Tahun 22-39 Tahun 40-59 Tahun Menikah Lajang SMA Sederajat Sarjana Magister Doktor < 10 jt 10-20 jt 20-30 jt > 30 jt 68,89 31,11 1,48 71,11 27,41 85,93 5,19 8,89 4,44 93,33 2,22 0,00 10,37 20,00 56,30 13,33 Konsisten dengan Anderson & Gerbing, . , prosedur analisis data dalam persamaan structural equation modeling (SEM) dilakukan dengan menggunakan teknik dua langkah. Hasil analisis AMOS dapat digunakan untuk menguji hipotesis penelitian apabila semua indikator dalam model telah memenuhi syarat validitas, contruk reability dan variance extracted. Uji validitas dilakukan dengan melihat muatan nilai loading factor masing-masing indikator terhadap konstruk. Dalam kebanyakan referensi, bobot faktor 0,5 atau lebih dianggap memiliki validasi yang cukup kuat untuk menjelaskan konstruk laten. Dalam penelitian ini, minimum accept loading factor adalah 0. 5 dan dengan ketentuan nilai CR masing-masing konstruk adalah > 7 dan nilai AVE > 0. 7 (Hair et al. , 2. Tabel. 2 Pengukuran Variabel Variabel Quintuple Helix Int Gov Civ Bus Nat Kreativitas Krt1 Krt2 Factor loading 0,83 0,79 0,84 0,84 0,87 Fixed 10,82 11,87 11,59 12,26 0,81 0,82 Fixed 11,26 Construct 0,92 0,92 Peningkatan Kreativitas. Kapabilitas Inovasi, dan Keunggulan Bersaing melalui Pendekatan Quintuple Helix: Studi Pada Industri Sektor Kuliner di Kota Tangerang Selatan (Ayi Muhyidin & Imal Istima. AVE 0,69 0,69 Krt3 Krt4 Krt5 Kapabilitas Inovasi Kpi1 Kpi2 Kpi3 Kpi4 Kpi5 Keunggulan Bersaing Kbs1 Kbs2 Kbs3 Kbs4 Kbs5 0,86 0,83 0,83 11,99 11,22 11,32 0,80 0,83 0,83 0,79 0,73 Fixed 10,43 10,37 9,85 9,10 0,80 0,84 0,83 0,84 0,77 Fixed 11,19 11,04 11,13 9,85 0,90 0,63 0,91 0,67 Tabel 2 menunjukan nilai muatan loading faktor memiliki nilai diatas nilai penerimaan yaitu 0,50, begitu juga dengan muatan nilai contruk reability dan variance extracted memiliki nilai lebih besar level minimum yaitu 0,70. Muatan nilai tersebut mengkonfirmasi bahwa indikator dari masing-masing konstruk reliabel dan dapat dilakukan pengujian menggunakan pemodelan structural equation modeling (SEM). Tabel. 3 Pengujian Model Hipotesis H1 : Quintuple Helix Ie Kreativitas H2 : Quintuple Helix Ie Kapabilitas Inovasi H3 : Kreativitas Ie Kapabilitas Inovasi H4 : Kreativitas Ie Keunggulan Bersaing H5 : Kapabilitas Inovasi Ie Keunggulan Bersaing Estimate 0,894 0,376 0,489 0,587 0,397 Critical ratio 9,823 2,437 3,282 3,996 2,649 p-Value 0,000 0,015 0,000 0,000 0,008 Result Supported Supported Supported Supported Supported Goodness of fit: CMIN/df = 3. CFI = 0. AGFI = 0. GFI = 0. IFI = 0. NFI = 0. TLI = 0. RMSEA = 0. SRMR = 0. Table. 3 mengkonfirmasi beberapa temuan dalam penelitian ini, quintuple helix berpengaruh positif dan signifikan terhadap kreativitas dan kapabilitas inovasi . endukung H1 dan H. Kreativitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap kapabilitas inovasi dan keunggulan bersaing . endukung H3 dan H. , dan kapabilitas inovasi berpengaruh terhadap keunggulan bersaing . endukung H. Quadruple helix diyakini dapat berperan sebagai pendorong kreativitas dan inovasi (Ahman et al. , 2. , gagasan dasar dari konsep helix merupakan kolaborasi yang melibatkan berbagai aktor seperti pemerintah, universitas, pelaku usaha, masyarakat dan alam (Carayannis & Campbell, 2. yang akan melahirkan inovasi, kreativitas, ide, serta keterampilan dalam mengembangkan ekonomi kreatif (Praswati, 2. Setiap aktor yang terlibat memiliki kontribusi masing-masing sesuai dengan fungsi kelembagaannya di masyarakat. Intelektual memiliki peran sebagai aktor yang menyebarkan ilmu pengetahuan, seni dan teknologi (Han, 2. serta sebagai sosok yang dapat mengembangkan industri kreatif di masyarakat (Jones & Corral de Zubielqui, 2. Hasil penelitian para intelektual dapat digunakan untuk menghasilkan konsep industri kreatif dan kemajuan manajemen bisnis (Jang et al. , 2. Pemerintah Jurnal Inovasi Manajemen dan Bisnis (JIMB) Juli Ae Desember 2022. Vol. : hlm 67-77 memiliki keterlibatan yang signifikan dalam membentuk ekosistem industri kreatif, dan pemerintah berperan sebagai inisiator dalam mengintegrasikan multi-aktor melalui kebijakan top-down dalam memfasilitasi kebutuhan para pelaku industri kreatif (Villegas-Mateos, 2. Selain itu, pemerintah juga perlu mengambil langkahlangkah untuk meningkatkan akses pembiayaan bagi industri kreatif (Otache et al. Peran bisnis adalah sebagai penggerak terbentuknya ruang publik, sehingga akan terjadi sharing yang dapat mengasah kreatifitas para pelaku bisnis. Terbentuknya komunitas bisnis tersebut akan mampu mengubah pola pikir para pelaku bisnis industri kreatif dan berbagi pengelolaan bisnis yang mengarah pada Masyarakat sipil diharapkan memiliki peran besar dalam pengembangan industri kreatif. Ia harus menjadi media komunikasi produk yang dihasilkan pelaku industri kreatif. Masyarakat sipil juga harus menciptakan budaya untuk menggunakan dan menjadi konsumen potensial yang mampu mendongkrak hasil produksi dalam negeri (Afonso, 2. Sumber daya alam merupakan kunci dalam industri kuliner, dimana limbah proses bahan baku maupun limbah sisa makanan memerlukan pemantauan khusus untuk menjaga kesehatan lingkungan alam, dan menuju pertumbuhan yang berkelanjutan. Carayannis & Campbell, . menyatakan bahwa quintuple helix mendukung terciptanya solusi win-win antara ahli ekologi, sains dan inovasi. Lingkungan bisnis yang berubah begitu cepat membutuhkan kreativitas dan inovasi agar dapat merespon kebutuhan konsumen sehingga industri mampu bersaing dan bertahan dalam persaingan yang begitu ketat (Ahman et al. , 2. Kreativitas telah diakui sebagai faktor penting dalam pengembangan inovasi Industri kreatif merasa lebih sulit untuk mengembangkan aktivitas kreatif dan mencapai inovasi, sehingga mempengaruhi daya saing mereka. Kemampuan kreativitas dan inovasi dipengaruhi oleh hubungan industri dengan berbagai stakeholder yang dapat memberikan kontribusi bagi proses pengembangan kreativitas dan kemampuan inovasi (Pollok et al. , 2. Makanyeza et al. , . mengatakan bahwa dukungan pemerintah dan kebijakan kelembagaan secara positif mepengaruhi kemampuan perusahaan untuk berinovasi. Ini menyiratkan bahwa pemerintah nasional maupun daerah dapat dengan sengaja mendorong inovasi di kalangan UKM dengan mendukung dan merancang kebijakan kelembagaan yang Sementara Wang, . berpendapat bahwa jaringan eksternal perusahaan dan kolaborasi dengan organisasi seperti perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan perusahaan lain dapat menawarkan input kunci untuk membangun kreativitas dan kapasitas inovasinya dan pada akhirnya akan berdampak terhadap kemampuan KESIMPULAN Quintuple helix . ntelektual, pemerintah, bisnis, masyarakat dan ala. memiliki peran besar dalam mengembangkan kreativitas, serta mampu meningkatkan kemampuan inovasi para pelaku industri kreatif. Diperlukan sinergi dari kelima aktor tersebut agar masing-masing aktor dapat melakukan perannya dalam mendorong tumbuhnya industri kreatif. Penelitian ini berfokus pada industri Peningkatan Kreativitas. Kapabilitas Inovasi, dan Keunggulan Bersaing melalui Pendekatan Quintuple Helix: Studi Pada Industri Sektor Kuliner di Kota Tangerang Selatan (Ayi Muhyidin & Imal Istima. kreatif sektor kuliner di kota tangerang selatan. Variabel yang diteliti dalam penelitian ini meliputi: quintuple helix . ntelektual, pemerintah, bisnis, masyarakat dan ala. , kreativitas, kapabilitas inovasi dan keunggulan bersaing. Penelitian ini masih memiliki keterbatasan dalam menetukan jumlah sampel yang diteliti. Sample yang terlibat dalam penelitian ini masih kecil yaitu 135 responden, padahal jumlah industri kreatif sektor kuliner di tangerang selatan sangat banyak. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat memilih objek penelitian yang lebih luas, serta menambahkan variabel lain yang dapat mempengaruhi keunggulan bersaing atau kinerja industri kreatif. Peneliti juga dapat memberikan perhatian pada sub sektor industri kreatif lainnya seperti subsektor desain komunikasi visual yang masih belum banyak perhatian dari peneliti, sehingga hasil yang diperoleh akan lebih bervariasi dalam pengembangan industri kreatif secara keseluruhan. DAFTAR PUSTAKA