PNEUMA SEBAGAI DASAR KOSMOPOLITANISME: MENCARI TITIK TEMU DAN PISAH ETIKA KOSMOPOLITANISME STOA DAN PAULUS DALAM SURAT GALATIA 3:28 Magister Kebijakan Pendidikan. Universitas Negeri Yogyakarta E-mail: remigiustaolin@gmail. St. Johannes Berchmans School. Jakarta E-mail: yohanetheo@gmail. Abstract: This paper examines the discourse between the Apostle Paul and Stoic philosophy, with a focus on the concept of cosmopolitanism rooted in the idea of Pneuma. Rather than determining the direction of inyuence, the study aims to trace the points of convergence and divergence between these two centers of thought. For the Stoics. Pneuma is the rational spirit that unites all human beings regardless of status, ethnicity, or gender. With a similar vision. Paul interprets Pneuma as the Holy Spirit, which unites all people in Christ by transcending the boundaries of Jewish law and custom. Galatians 3:28 illustrates how Paul adapted the spirit of Hellenistic-Roman cosmopolitanism to afyrm the collective identity of Auchildren of GodAy for all believers. This concept of universal brotherhood is particularly relevant in Indonesia, a country known for its pluralism. Keywords: Paul. Stoicism. Pneuma. Cosmopolitanism. Abstrak: Tulisan ini mengkaji hubungan intelektual antara Rasul Paulus dan ylsafat Stoikisme, dengan fokus pada konsep kosmopolitanisme yang didasari gagasan Pneuma. Studi ini tidak bertujuan menetapkan arah pengaruh, melainkan menelusuri titik temu dan perbedaan prinsip kedua pusat pemikir ini. Bagi Stoa. Pneuma adalah roh rasional yang menyatukan seluruh manusia tanpa membedakan status, etnis, atau gender. Paulus, dengan visi serupa, menafsirkannya sebagai Roh Kudus yang mempersatukan semua orang dalam Kristus, melam195 Pneuma sebagai Dasar Kosmopolitanisme (Remigius Taolin & Yohanes The. paui batas hukum dan adat Yahudi. Perikop Galatia 3:28 menyoroti bagaimana Paulus mengadaptasi semangat kosmopolitanisme Helenis-Romawi untuk menegaskan identitas kolektif Auanak AllahAy bagi semua orang beriman. Pada akhirnya, gagasan persaudaraan universal ini penting bagi kita di Indonesia dengan ciri pluralitasnya. Kata-kata Kunci: Paulus. Stoikisme. Pneuma. Kosmopolitanisme. PENDAHULUAN Adanya hubungan antara Paulus dan Stoikisme bukanlah hal baru. Sudah sejak zaman St. Hieronimus (A. , telah beredar serangkaian surat yang konon merupakan korespondensi antara Paulus dan Seneca. Waktu persisnya mungkin kabur, tetapi ada yang mengatakan surat-surat itu berasal dari awal abad ke-4. dan sayangnya surat itu adalah satu-satunya bukti yang menyatakan adanya irisan antara paganisme (Sto. dan Kekristenan (Paulu. Korespondensi ini dibuktikan bersifat 1 Korespondensi kedua tokoh dari kedua aliran tersebut, bersama dengan tradisi-tradisi awal Abad Pertengahan mau menunjukkan apresiasi Kekristenan terhadap Stoikisme dan menunjukkan adanya hubungan . aling tidak secara intelektua. antara para Rasul dan para tokoh Stoikisme sezamannya. Ada beberapa penelitian yang telah menuliskan hubungan yang dimaksud, tetapi alih-alih mengkristenkan kaum Stoa, para peneliti ini lebih menempatkan Paulus sebagai salah satu murid . tau sangat dipengaruh. dari sekolah Stoa. Misalnya, tulisan Percy Gardner dalam Religious Experience of St. Paul mengatakan: AuTarsus, tempat kelahiran Paulus, adalah salah satu pusat utama ylsafat Stoa, dan sang Rasul terpapar akan ajaran etika sekolah ini. Apa pengaruhnya? Kata-kata yang ia gunakan dan cara pandangannya terhadap kejahatan jelas betul mengatakan bahwa ia James Albert Harrill. Paul the Apostle: His Life and Legacy in Their Roman Context (Cambridge: Cambridge University Press, 2. , 102. Frederick Clifton Grant. AuSt. Paul and StoicismAy. The University of Chicago Press. The Biblical World 45, no. 5 (May 1. : 268. DISKURSUS. Volume 21. Nomor 2. Oktober 2025: 195-219 dipengaruhi secara kuat oleh ajaran Stoikisme. Ay3 Kedua. Weiss dalam buku Paul and Jesus, mengatakan: AuDalam diri Paulus, kita menemukan gema pemikiran Stoa yang terus-menerus AAy. 4 Ketiga. Bacon menulis dalam The Story of Saint Paul: AuBeberapa gagasannya . aitu, gagasan Paulu. yang terdalam dan paling khas, tidak terutama berakar pada aliran Yudaisme, tetapi dari Stoikisme. Ay5 Bahkan. Troels Engberg-Pedersen menyebut Paulus sebagai seorang AuStoik terselubungAy . rypto-Stoi. 6 Singkatnya. Paulus yang tidak mengenal Yesus secara langsung dan hanya memiliki gambaran samar tentang kehidupan dan ajaran-Nya . ang sebagian besar disesuaikan dengan situasi dan kebutuhan dirinya sendir. mendapatkan gagasan-gagasannya, baik dalam teologi maupun etika, dari Stoisikme. Namun, tulisan kita ini mempunyai tujuannya sendiri. Bukan mencari siapa yang mempengaruhi siapa, tetapi menunjukkan sebisa mungkin adanya saling dan silang pengaruh antara Stoikisme dan Paulus. Sejak awal kita harus menyadari bahwa riset ini tidak dapat mencari jawabannya secara akurat. Tidak ada teks yang menunjukkan secara eksplisit irisan pemikiran antara dua kutub itu. Paulus tidak pernah memberikan AupengakuanAy kepada Stoikisme. ia pun juga tidak secara eksplisit memberikan kritik terhadap ajaran-ajaran ylsafat Stoa. Hubungan Stoa-Paulus yang akan kita coba selidiki ini tidak terlalu bergantung pada waktu kronologis, melainkan lebih pada pemahaman terhadap prinsip-prinsip Stoikisme dan Kekristenan Paulus. Penulis melihat bahwa keterkaitan antara Stoa dan Paulus terdapat pada konsep kosmopolitanisme yang justiykasinya ada pada konsep Pneuma. Percy Gardner. Religious Experience of St. Paul (New York: Williams & Norgate, 1. Johanes Weiss. Paul and Jesus, trans. Rev. Chaytor (LondonAiNew York: Harper & Brothers, 1. , 61. Bacon. The Story of Saint Paul (BostonAiNew York: Houghton. Mifyin and Company, 1. , 24. Troels Engberg-Pedersen. AuStoicism in the Apostle Paul: A Philosophical Reading,Ay in Stoicism: Traditions and Transformations, ed. Steven K. Strange dan Jack Zupko (Cambridge: Cambridge University Press, 2. , 73. Pneuma sebagai Dasar Kosmopolitanisme (Remigius Taolin & Yohanes The. Pada masa itu, ide mengenai kosmopolitanisme dan iklim AodemokrasiAo sedang naik daun dan menemukan representasi terbaiknya dalam moralitas Stoik. Kaum Stoa secara terbuka menyatakan bahwa dunia . I) adalah tanah air mereka. Epiktetos dengan tegas menegur seseorang yang tidak sabar terhadap budaknya, dan teguran itu didasarkan pada ajakan kepada persaudaraan universal: AuKamu sendiri adalah seorang budak, apakah kamu tidak dapat bersabar dengan saudaramu sendiri, kalian sama-sama menganggap Zeus sebagai leluhur, dan seperti seorang anak dari benih yang sama serta keturunan yang sama?Ay7 Laki-laki dan perempuan. Yunani dan Barbar, orang merdeka dan budak, semuanya disatukan dalam konsep kemanusiaan Stoa. Jika kita telusuri dari mana pandangan yang terbuka ini berasal, kita akan bertemu dengan sebuah istilah teknis yang sangat menarik sekaligus rumit, yaitu Pneuma. Setali tiga uang. Rasul Paulus juga mengusung sebuah tema kemanusiaan yang sama, bahwa semua orang itu bersaudara. Untuk mempromosikan konsep keselamatan versi Kristiani yang lebih universal. Paulus memanfaatkan pemikiran kosmopolitanisme Helenis-Romawi yang telah populer kala itu. Kosmopolitanisme Helenis-Romawi melihat bahwa ikatan-ikatan ysik yang membentuk identitas kita sama sekali bukan halangan bagi kita untuk menjadi seorang warga negara dunia, yang mana kita semua berbagi elemen yang sama. Maka dengan maksud yang sama. Paulus hendak menyadarkan pembacanya bahwa perbedaan antara Ausunat-tidak sunatAy bukanlah penghalang untuk menjadi Kristen, karena itu hanyalah soal AuhukumAy dan kebiasaan atau adat-istiadat yang membentuk identitas partikular. Sementara dalam Kristus, identitas seseorang mendapat bentuk baru yang bersifat kolektif-universal, yaitu Auanak AllahAy . Gal. Tulisan akan membahas prinsip ajaran Stoa yang punya kedekatan dengan Paulus. Pertama dan yang utama, penulis menjabarkan apa yang menjadi masalah tulisan dan hipotesis mengenainya. Perlahan, kita akan Frederick Clifton Grant. AuSt. Paul and StoicismAy, 273. DISKURSUS. Volume 21. Nomor 2. Oktober 2025: 195-219 menukik pada sebuah istilah yang ternyata digunakan oleh kaum Stoa dan Rasul Paulus untuk mendasari gagasan kosmopolitanisme itu, yakni Pneuma. Bagi Stoa. Pneuma bergeser pengertiannya dari inti segala sesuatu menjadi roh rasional. Kemudian, kita akan melihat pandangan Paulus mengenai ajaran itu secara khusus dalam surat Galatia 3:28, di mana Pneuma dimengerti sebagai Roh Kudus. Lalu kita akan membuat analisis lebih dalam dan melihat titik temu sekaligus titik pisah kedua aliran pemikiran ini. Tulisan akan diakhiri dengan evaluasi dan reyeksi penulis. PEMBAHASAN PNEUMA SEBAGAI INTI SEGALA SESUATU: ARAH TITIK TEMU Kita tidak bisa melihat Stoikisme hanya sebagai sebuah Aokomunitas belajar bersamaAo dengan sebuah ajaran dogmatis tertentu. Betul. Stoikisme adalah sebuah sekolah, tetapi prinsip-prinsip ajarannya tidak diambil dari buku atau kepercayaan tertentu, melainkan ajarannya bersumber dari kehidupan sehari-hari yang direyeksikan dengan sangat sistematis melalui aturan-aturan logika yang tepat dan benar, serta relevan terhadap konteks hidup bersama pada masanya. Hampir dalam rentang 450 tahun, mulai Zeno dari Citium membuka kelas-kelas awal di Stoa Poikily sampai pada periode kaisar Marcus Aurelius, ada begitu banyak AoguruAo dengan berbagai macam cara berpikir dan ajaran mewarnai keragaman tradisi Stoikisme. Sebagai pendiri. Zeno datang ke Athena pada akhir abad ke-4 SM dan mempelajari semua aliran ylsafat dengan lahap. untuk beberapa waktu, ia adalah seorang Sinis, dan dari kaum Sinis ia meminjam doktrin yang sangat terkenal mengenai Logos. Mereka memahami Logos sebagai akal budi dan sekaligus merupakan hukum dan dalang kreasi alam semesta. Ia mempunyai tugas untuk mempersatukan alam semesta. Kaum Stoa setelah Chrysippos sepertinya menggunakan istilah Pneuma daripada Logos. Mungkin juga ada pengaruhnya dari iklim Kekristenan. Yang pasti, pergeseran ini adalah ekspresi sekolah Stoa sebagai anak zamannya, yaitu kecenderungan menuju humanisme dan kemanusiaan Pneuma sebagai Dasar Kosmopolitanisme (Remigius Taolin & Yohanes The. Manusia disebut zoon koinonikon . akhluk sosia. karena logos-nya. Dengan logos yang sama, semua makhluk rasional, para dewa, dan manusia diikat menjadi penghuni rumah yang sama, yakni bumi. Secara umum, ada 3 bagian besar dalam ajaran Stoa: ysika, tentang analisa alam semesta dan pengaruhnya pada interaksi sosial manusia. logika, tentang kriteria untuk menentukan apakah suatu representasi benar, tepat atau keliru. dan etika, tentang reyeksi apa itu yang baik atau Pneuma sendiri dibahas dalam ranah ysika Stoa. Doktrin ysika Stoa banyak dijelaskan oleh the founding fathers Stoa (Zeno. Cleanthes. Chrysippo. dan doktrin ysikanya bertahan sedikitnya selama dua abad dalam lingkungan sains pada masa itu. Mereka menimba inspirasi dari dua pemikir besar: Aristoteles dan Heraklitos. Dari Aristoteles, mereka mengatakan bahwa dunia ini adalah makhluk hidup, zyon, sedangkan dari Heraklitos mereka mengatakan bahwa substansi dasar dari dunia ini adalah api. Alam semesta muncul dari api dan akan kembali menjadi api pada akhirnya. Mereka mengapropriasi ajaran materialistik ini . ebagai perkembangan sains kontempore. dan menambahkan pemikirannya sendiri yang spiritual. Fisika Stoa secara ringkas dapat dirumuskan demikian: dunia ini berasal dari suatu substansi asali. Pneuma. Ia mengembang dan mengempis terus menerus. Pneuma adalah Tuhan atau Alam Semesta itu sendiri. Dalam analisisnya. Stoa mengatakan bahwa peran pneuma dalam alam sebagai entitas pengendali didasari oleh gerakan ganda yang disebut Aogerakan pneumatikAo. Pneuma bergerak AokeluarAo dan AomasukAo secara Hasil dari gerakan ganda ini adalah tegangan . 8 Tonos ini berperan terhadap kesatuan dan kualitas dari suatu materi. Gerakan ke dalam menyebabkan suatu materi menjadi ada dan satu. Sedangkan gerakan keluar menyebabkan dimensi-dimensi dan kualitas-kualitas. Pneuma ada di seluruh titik alam semesta dalam bentuk gradasi tegangan Long & D. Sedley. The Hellenistic Philosophers (Cambridge: Cambridge University Press, 1. , 47L, 283. Long & D. Sedley. The Hellenistic Philosophers, 47J, 283. DISKURSUS. Volume 21. Nomor 2. Oktober 2025: 195-219 . yang berbeda-beda. Gradasi ini mempengaruhi sifat dasar dari suatu objek itu. Mulai dari benda . yang paling sederhana sampai yang paling kompleks. Stoa membaginya menjadi empat bagian besar: , daya yang memampukan adanya ikatan obyek-obyek ysik sehingga tidak tercerai berai, . , daya yang memampukan tanaman bertumbuh, . , daya yang memampukan adanya persepsi dan gerakan suatu hewan, dan . jiwa rasional . suchy logik. , daya yang memampukan manusia untuk berpikir rasional. 10 Dengan demikian memang tidak ada perbedaan antara makhluk hidup dan benda-benda, manusia dan hewan, yang ada hanya gradasi tegangannya saja . tau dalam bahasa lain, berbeda dalam susunan internalnya/panjang gelombangny. Benda-benda, fenomena-fenomena, lahir dari benih Pneuma. Apa wujudnya Pneuma itu? Mereka mengatakan bahwa Pneuma adalah campuran antara udara dan api . da juga yang mengatakan hanya udar. Pada Pneuma inilah ada hubungan antara manusia dan Alam Semesta. Pneuma adalah daya hidup alam semesta dan manusia. Dalam tatanan makro. Pneuma adalah jiwa kosmos. pada manusia, pneuma adalah daya hidupnya atau jiwanya itu sendiri. Pneuma sudah dimiliki sejak lahir dalam rupa semen . memberikan nafas kehidupan dan gerakan bagi 12 Pneuma sebagai prinsip aktif kosmos berhubungan dengan semen pada manusia. Hubungan keduanya dikatakan bahwa semen pria terdiri dari dua komponen, cairan dan mengandung pneuma . dara-ap. Ketika seorang bayi lahir, ia membawa panas bawaan . nnate hea. dari Bayi itu belum berjiwa sampai ia bernafas. Tarikan nafas pertama bayi-lah yang mendinginkan panas bawaan itu karena udara luar lebih dingin. Udara yang ke luar menjadi panas karena udara itu telah 10 John Sellars. Stoicism (Stocksyeld: Acumen, 2. , 105. 11 F. Sandbach. Stoics (London: Bristol Classical Press, 1. , 73. 12 Ioanes Ab Arnim. Stoicorum Veterum Fragmenta I-IV (Leipzig: Stutgardiae in Aedibus Teubneri, 1. 135, 137-8. 13 Ioanes Ab Arnim. Stoicorum Veterum Fragmenta. II. 741, 742. Pneuma sebagai Dasar Kosmopolitanisme (Remigius Taolin & Yohanes The. melakukan kontak dengan panas bawaannya. 14 Chysippos semakin memperjelas bahwa ada koneksi antara manusia dan alam semesta. Apa-apa yang terjadi di alam juga ada di dalam diri manusia. Di depan itu, sikap kita . adalah menyelaraskan diri dengan alam semesta . sebagai suatu kesatuan yang hidup, teratur sempurna. Dalam pandangan ini, manusia sebagai bagian kecil dari dunia . seharusnya menyesuaikan dirinya dengan tatanan besar alam semesta . Pandangan ini erat kaitannya dengan ajaran Amor Fati, yaitu mencintai takdir, yang menekankan penerimaan terhadap nasib sebagai bagian dari kehendak semesta. Sebagai elemen kecil dalam kosmos, manusia diharapkan untuk hidup mengikuti hukum-hukum alam. Dengan menjalani kehidupan yang logis dan bermoral, manusia dapat meraih kebahagiaan sejati, atau eudaimonia. PNEUMA SEBAGAI ROH RASIONAL Pendasaran ontologis kosmopolitanisme ylsafat Helenis-Romawi ialah rasionalitas. Misalnya saja dalam kacamata antropologi-teologi Stoa, setiap manusia itu setara, bermartabat dan bersaudara karena manusia memiliki kodrat yang sama yaitu berakal budi yang sifatnya ilahi. Setiap manusia berasal dari yang ilahi dan lewat akal budinya manusia bersekutu dengan yang ilahi itu. Meskipun demikian, yang ilahi di sini bukanlah Tuhan sebagaimana dipahami dalam monoteisme, melainkan alam semesta yang sempurna. Konsep kosmopolitanisme Stoa terungkap amat jelas seperti yang diajarkan Epiktetos berikut: Ketika ditanya dari negara mana engkau berasal, jangan pernah menjawab bahwa engkau adalah orang Athena atau orang Korintus, tetapi katakanlah bahwa engkau adalah warga dunia. ] Dari Tuhan telah diturunkan benih-benih bukan hanya kepada ayah dan kakekku, tetapi kepada semua makhluk yang dilahirkan di bumi dan yang diciptakan, dan terutama kepada makhluk rasionalAisebab hanya makhluk inilah yang secara kodrati dibentuk untuk bersekutu dengan Tuhan, karena melalui akal budi mereka bersatu dengan-NyaAimengapa 14 David E. Hahm. The Origins of Stoic Cosmology (Ohio: Ohio State University Press, 1. , 100. DISKURSUS. Volume 21. Nomor 2. Oktober 2025: 195-219 orang seperti itu tidak menyebut dirinya warga semesta? Mengapa ia tidak menyebut dirinya anak Allah?15 Epiktetos mengikuti konsep antropologi Aristoteles yang melihat manusia sebagai Aubinatang berakal budiAy. Akal budi ini menjadi semacam AusaranaAy manusia untuk terhubung dengan yang ilahi itu. Relasi intim antara manusia dan yang ilahi ini kemudian menjelaskan mengapa secara partikular setiap ras manusia selalu memiliki konsep Universal tentang Auyang ilahiAy. Pada gilirannya, relasi dengan Yang Ilahi ini berimplikasi dalam relasi dengan sesama. Kodrat manusia sebagai Aubinatang berakal budiAy menjadi dasar bahwa setiap manusia harus saling menghargai satu sama lain dan saling terikat dalam kesatuan dengan Yang Ilahi itu sebagai akal budi universal. 17 Dalam ke-universal-an yang Ilahi ini, yang partikular tetap dipelihara dan dihargai. Dalam keuniversalan itu, setiap partikularitas manusia diikat oleh ikatan kodratiah yaitu sebagai AuAnak-anak AllahAy. Sebagai AuAnak-anak AllahAy kita punya tuntutan akal budi untuk saling mengasihi satu sama lain, sebagaimana Epiktetos berkata: Jika seseorang benar-benar dapat memahami, sebagaimana seharusnya, pemikiran ini: bahwa kita semua secara kodrat adalah kerabat satu sama lain, dan bahwa adalah bagian dari kesalehan untuk berbuat baik kepada sesama serta bersabar terhadap mereka, maka ia tidak akan pernah berpikir dengan marah atau bersikap keras terhadap orang lain. 15 Epictetus. Discourse, trans. George Long (London: George Bell and Sons, 1. IX, 3031. 16 Karin B. Neutel. A Cosmopolitan Idea: PaulAos Declaration AoNeither Jew nor Greek. Neither Slave nor Free, nor Male and FemaleAo in the Context of First Century Thought (London: Bloomsbury, 2. , 132. 17 A. Long. Epictetus: Stoic and Socratic Guide to Life (Berkeley: University of California, 2. , 148. 18 Epictetus. Discourse. II. Vi, 118-123. Pneuma sebagai Dasar Kosmopolitanisme (Remigius Taolin & Yohanes The. Dengan gagasan yang sama. Seneca menulis suratnya ketika ia bicara soal emosi amarah: Jika adalah kewajibanku untuk mencintai negeriku, maka aku juga harus berbuat baik kepada sesama warganya. jika penghormatan . ada keutamaa. pantas diberikan kepada keseluruhan, maka keutamaan juga harus diberikan kepada bagian-bagiannya: dan adalah kepentingan bersama untuk menjaga keduanya. Kita semua adalah anggota dari satu tubuh, dan adalah hal yang wajar untuk saling tolong-menolong, sebagaimana tangan menolong kaki, atau mata menolong tangan. Tanpa kasih dan perhatian terhadap bagian-bagian, keseluruhan tidak akan pernah terjaga. Kita harus saling mengampuni, karena kita dilahirkan untuk hidup bermasyarakatAidan masyarakat tidak dapat bertahan tanpa kepedulian terhadap masing-masing anggotanya. Filsafat Stoa mendasarkan konsep kosmopolitanismenya pada keyakinan bahwa setiap orang memiliki kemampuan untuk berpikir rasional yang memungkinkannya untuk hidup bersama dalam keutamaan. Dengan demikian, dasar kosmopolitanisme Stoa yang terletak pada kesetaraan kodratiah, bahwa setiap manusia memiliki akal budi menjadi mungkin pula untuk hidup bersama kendati terdapat banyak perbedaan . tnis, status, gende. oleh karena dimampukan oleh akal budinya, yaitu hidup berkeutamaan. Dalam kebersamaan, hidup berkeutamaan menjadi identitas kolektif tak terhapuskan sebagai sesama Auwarga negara duniaAy. identitas kolektif bukan lagi terletak pada hal-hal lahiriah yang partikular seperti adat-istiadat, ras, hukum, ataupun bahasa. Seperti yang dituliskan Plutarkhos ketika ia menggambarkan Zeno si pendiri Stoa: Selain itu. Republic-nya Zeno yang sangat dikagumiAipendiri mazhab StoaAidapat dirangkum dalam satu prinsip utama ini: bahwa semua manusia tidak seharusnya hidup terpisah di kota-kota dan komunitas-komunitas yang berbeda seturut hukum masing-masing, melainkan kita harus menganggap mereka sebagai satu komunitas dan satu keseluruhan politik, dan bahwa kita harus menjalani hidup bersama dalam suatu tatanan yang bersifat umum bagi kita semua, layaknya berkumpul yang merumput bersama dan berbagi padang bunga yang 19 Seneca. On Anger, trans. Robert A. Kaster (USA: University of Chicago Press, 2. , 31. DISKURSUS. Volume 21. Nomor 2. Oktober 2025: 195-219 Markasnya sebagai benteng dan perlindungan mereka, semua orang baik sebagai kerabat mereka, dan hanya orang jahat sebagai orang asing. mereka tidak seharusnya membedakan antara orang Yunani dan orang asing berdasarkan jubah Yunani dan perisai bundar, atau pedang melengkung dan jaket. tetapi tanda pembeda orang Yunani seharusnya terletak pada keutamaannya, dan tanda pembeda orang asing pada pakaian dan makanan, pernikahan dan cara hidup harus mereka pandang sebagai milik bersama semua orang, menyatu menjadi satu oleh ikatan darah dan anak. Selanjutnya, secara khusus terkait dengan hukum, sebelum adanya komunitas politis yang mengenal hukum positif, hukum kodrat . ex natura. ada dalam akal budi manusia. Bagi Cicero, hukum kodrat adalah hukum tertinggi . umma le. yang memungkinkan setiap manusia dapat hidup berkeutamaan, yang asalnya dari akal budi Tuhan sendiri. 21 Melalui akal budi, manusia menaati tuntunan hukum kodrat yang sifatnya universal dan menyatukan umat manusia demi kebaikan bersama. Dalam kacamata Cicero, hidup bersama dimungkinkan jika manusia dengan akal budinya hidup seturut hukum kodrat itu, yang menjadi panduan yang baik dan tak menyesatkan. Cicero menulis demikian: ] dalam hal ini kita harus mengikuti Alam sebagai pembimbing kita, untuk berkontribusi pada kebaikan umum melalui pertukaran tindakan kebaikan, dengan memberi dan menerima, dan dengan demikian melalui keterampilan, ketekunan, dan bakat kita untuk mempererat masyarakat manusia, antarmanusia. Jika kita mengikuti Alam sebagai panduan kita, kita tidak akan pernah tersesat, tetapi kita akan mengejar apa yang pada hakikatnya berwawasan jernih dan tajam (Kebijaksanaa. , apa yang disesuaikan untuk memajukan dan memperkuat masyarakat (Keadila. , dan apa yang kuat dan berani (Ketabaha. Namun, hakikat kepatutan ditemukan 20 A. Long & D. Sedley. The Hellenistic Philosophers, 67A, 429. Bdk. Seneca. On Providence. XXIV, 3. 21 Laurie A. Wilson and Isaac D. Blois. AuA Stoic Reading of Internal Obedience in Romans 1:18-2:29,Ay dalam Religions 14: 579, 3. https://doi. org/10. 3390/rel14050579 Tullius Cicero. De Ofyciis, transl. Walter Miller, (Cambridge: Cambridge University Press, 1. , i. 22 Cicero. De Ofyciis. Pneuma sebagai Dasar Kosmopolitanisme (Remigius Taolin & Yohanes The. dalam pembagian kebajikan yang sekarang sedang dibahas (Kesederhanaa. Apa yang secara kodratiah melekat dalam diri setiap orang itu, disebut oleh Seneca sebagai Aupenyelenggaraan IlahiAy. Bagi Seneca. Pneuma itu melekat dalam diri setiap orang dan menjadi penyelenggara hidup yang Dalam suratnya kepada Lucilius, ia menulis: ] Allah ada di dalam dirimu, ia bersamamu, ia ada di dalam batinmu. Beginilah yang kumaksudkan. Lucilius: ada roh kudus yang bersemayam dalam diri kita, yang memperhatikan dan menjaga semua perbuatan baik dan jahat kita. Roh itu akan memperlakukan kita sebagaimana kita memperlakukannya. Tidak seorang pun bisa menjadi orang yang baik tanpa pertolongan Allah. Dapatkah seseorang mengatasi nasib buruk kecuali bila Allah membantunya untuk bangkit? Dialah yang memberikan nasihat-nasihat luhur dan lurus. Di dalam setiap orang yang baik, bersemayam suatu bentuk ketuhananAimeski kita tidak tahu pasti siapa Dia. ] Jika kamu pernah melihat seorang yang tidak gentar menghadapi bahaya, yang tidak terperangkap dalam nafsu, yang bahagia di tengah kemalangan, yang tenang dalam badai, yang memandang manusia dari atas, dan yang memandang para dewa sebagai rekan, tidakkah kamu akan dipenuhi rasa kagum padanya? Tidakkah kamu akan berkata bahwa dalam diri orang seperti itu ada kekuatan yang lebih tinggi daripada manusia biasa?24 Pneuma yang ada dalam diri manusia yang diyakini kaum Stoa menjadi alasan mengapa manusia mampu hidup berkeutamaan. Akan tetapi, bagi kaum Stoa, keutamaan tetaplah sesuatu yang harus diupayakan dan bukan semata-mata hasil penyelenggaraan ilahi. Manusia tetap harus mengolah akal budinya untuk hidup berkeutamaan, supaya hidupnya dikendalikan oleh rasio dan bukan oleh emosi dan hasrat-hasrat, sehingga ia pun dapat menjadi tuan atas diri sendiri. Dengan demikian hidup berkeutamaan menjadi mungkin, yakni ketika terjadi harmonisasi antara 23 Cicero. De Ofyciis. 24 Seneca. Epistulae Morales, trans. by Richard M. Gummere, (London: William Heinemann, 1. XLI. DISKURSUS. Volume 21. Nomor 2. Oktober 2025: 195-219 Pneuma yang ada dalam diri manusia dan Pneuma yang mengatur alam PNEUMA SEBAGAI ROH KUDUS MENURUT PAULUS: TITIK PISAH Meskipun Stoikisme dimulai di Yunani, tepatnya di beranda sebuah kuil di Athena, gemanya tersiar ke kota-kota sekeliling. Pada saat Stoikisme mencapai Roma . engan Panaetius . Ae112 SM] sebagai penandany. Stoikisme telah menjadi sebuah agama dan berhasil menggantikan pemikiran religius lama di kalangan kelas terpelajar. Filsafat (Sto. tidak hanya ditemukan dalam teori-teori spekulatif dari segelintir orang yang pintar cemerlang saja, tetapi telah menjadi cara pandang masyarakat Filsafat pada masa itu bukan teori rumit yang kompleks, tetapi ylsafat adalah seni hidup. Semangat zaman atau ylsafat semacam inilah yang ditengarai memengaruhi Paulus. Walaupun demikian. Stoikisme tidak pernah menjadi agama yang benar-benar populer di kalangan rakyat, karena Stoikisme sangat rasional serta menolak mitos, ritual, atau kepercayaan pada dewa-dewi manapun. Sekalipun ada kemungkinan ajaran Stoa merembes pada pemikiran Paulus muda dan ikut membentuk karakternya sebagai Rasul besar . tau misionaris yang bertemu dengan para ylsuf di sana-sin. , disposisinya batinnya semakin kuat untuk mengikuti Kristus. 26 Untuk memberitakan kerajaan Allah yang lebih luas lagi. Paulus pergi ke berbagai tempat, termasuk salah satu diantaranya adalah Athena. Tujuan Paulus pergi ke Athena bukan sekedar untuk jalan-jalan biasa, tetapi untuk sebuah misi yang luar biasa. Ia membawa suatu pemikiran baru yang sangat jauh berbeda dengan masyarakat Athena saat itu. Di Athena Paulus sangat sedih hatinya karena banyak melihat patung-patung berhala. Dari keprihatinan itu ia banyak bertukar pikiran dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang Athena sendiri yang dijumpainya di pasar . Saat itu iklim akademis kota Athena sedang didominasi sekolah Stoa, di mana 25 Engberg-Pedersen. AuStoicism in the Apostle Paul,Ay 73. 26 Frederick Clifton Grant. AuSt. Paul and StoicismAy, 275. Pneuma sebagai Dasar Kosmopolitanisme (Remigius Taolin & Yohanes The. mereka memandang semuanya secara logis dan terbuka. Di dalam situasi seperti itulah Paulus memperkenalkan ajaran Kristus sebagai tawaran ajaran yang baru. Salah satu ajaran Paulus yang sungguh baru dan revolusioner adalah perihal keselamatan. Konsep keselamatan Agama Kristen sungguh berbeda dengan agama induknya yaitu Yudaisme. Dalam upaya mempromosikan konsep keselamatan yang baru inilah Paulus membawa juga konsep kosmopolitanisme-nya. Salah satu teks yang menurut para ahli menunjukkan kosmopolitanisme Paulus adalah Galatia 3:28. Maka, pada kesempatan ini, kita cukupkan diri dengan berfokus pada teks Galatia 3:28 untuk melihat konsep kosmopolitanisme Paulus. Galatia 3:28 berbunyi demikian: Audalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus. Ay Sebelum melihat lebih jauh makna dari Galatia 3:28, pertama-tama, baiklah kita perhatikan konteks jemaat Galatia zaman Paulus. Galatia terletak di bagian tengah wilayah Asia Kecil . ekarang Turki tenga. Nama AuGalatiaAy berasal dari orang-orang Galia (Celti. yang bermigrasi dari Eropa Barat ke wilayah itu sekitar abad ke-3 SM. Secara budaya, orangorang Galatia dengan cepat mengalami proses Helenisasi dan kemudian Romanisasi. Sementara itu Paulus, sebagaimana dinyatakan oleh Konsili Yerusalem . M), diutus untuk mewartakan Injil kepada bangsa-bangsa non-Yahudi. Kepergiannya ke Galatia merupakan perjalanan misionarisnya yang pertama. 27 Surat Galatia 3:28 ditujukan kepada orang Kristen . ang baru saja menjadi Kriste. tetapi bukan berasal dari tradisi Yudaisme . ang tak bersuna. Jemaat Galatia yang baru saja Aulahir baruAy itu memunculkan pertanyaan soteriologis: Apakah untuk mencapai keselamatan yang dijanjikan, orang Kristen tetap harus disunatAiseperti jemaat Kristen yang 27 Cicero, de Ofyciis, ed. Page, trans. Walter Miller (London: Loeb Classical Library, 1. DISKURSUS. Volume 21. Nomor 2. Oktober 2025: 195-219 dulunya beragama Yahudi? Jawaban Paulus sederhana, keselamatan bukan soal disunat atau tidak disunat, melainkan karena iman. Surat Galatia 3:28 adalah usaha Paulus untuk memperkenalkan konsep keselamatan yang baru, yang bersifat inklusif. Menurut Paulus ukuran keselamatan bukan lagi pemenuhan hukum adat-istiadat berupa sunat yang berakar sangat kuat dalam tradisi Yudaisme, melainkan pembaptisan yang ada dalam kekristenan. Lewat pembaptisan, konsep keselamatan diperluas cakupannya. Keselamatan tidak bersifat eksklusif, yaitu hanya untuk orang-orang bersunat, namun bersifat inklusif yaitu bagi siapa saja . erlepas dari etnisitas, status sosial, atau genderny. Dengan demikian, konsep keselamatan yang diperkenalkan Paulus, bukan saja lebih inklusif tetapi juga berciri spiritual . ensyaratkan ima. alih-alih ysikal/material . ensyaratkan suna. Selain itu ukuran keselamatan yang diperkenalkan Paulus juga lebih berciri antropologis-kristologis, yakni menekankan keutamaan moral yang berpusat pada Kristus ketimbang keselamatan yang berciri legalistik . emenuhan hukum Taura. Usaha Paulus itu bukan tanpa strategi. Untuk keluar dari jerat Yudaisme seraya menggaungkan konsep baru tentang keselamatan, ia menekankan dan menegaskan Aukarunia RohAy. Bahwa dengan menerima pembaptisan. Roh menjadikan mereka sebagai Auanak-anak AllahAy yang menerima warisan Allah, yaitu keselamatan. Betz menduga bahwa jemaat di Galatia ketika itu telah menerima rahmat Roh Kudus . Gal. 3:2,. Hal ini semakin jelas ketika Paulus sendiri dalam suratnya itu menyapa jemaat di Galatia sebagai Auyang rohaniAy, yang siap memimpin orang ke jalan yang benar . Gal. Di samping pengalaman jemaat Galatia yang mengalami sendiri Augerak RohAy dalam diri mereka, penekanan Paulus soal pembaptisan dalam 28 Jeehei Park. A Cosmopolitanism Reading of Unity and Diversity in PaulAos Letters, (Leiden: Brill, 2. , 108. 29 Neutel. Cosmopolitan Ideal, 22. 30 Hans Dieter Betz. Galatians: A Commentary on PaulAos Letter to the Churches in Galatia (Philadelphia: Fortress Press, 1. , 28. Lih. James D. Dunn. The Theology of PaulAos Letter to the Galatians (Cambridge: Cambridge University Press, 1. , ePub edition. Pneuma sebagai Dasar Kosmopolitanisme (Remigius Taolin & Yohanes The. Galatia 3:26-28 sendiri juga sungguh revolusioner karena membawa implikasi sosial-politis. Baginya, perubahan ini merupakan hasil dari penebusan Kristus dan pembaptisan yang membawa pada perubahan radikal, yakni menjadi Auciptaan baruAy sebagai Auanak-anak AllahAy. Arnold Ehrhardt mengatakan bahwa Kekristenan pada abad-abad awal merupakan gerakan revolusi yang radikal. Ungkapan Paulus dalam Galatia 3:28 sama sekali bukan bentuk AupencitraanAy atau idealisme utopis, melainkan sebuah realitas kontekstual. Perlu dipertegas di sini bahwa intensi Paulus dalam Galatia 3:28 sama sekali bukan meniadakan atau meleburkan Auyang partikularAy . tnis, status, gende. ke dalam Auyang universalAy . , melainkan pendekatannya lebih bersifat multikulturalistik, yaitu perbedaan ysik-partikular . tnis, status sosial, gende. tetap dipertahankan. Meskipun ada banyak perbedaan, namun bukan hambatan bagi jemaat untuk bersatu dalam Kristus. Lalu, bagaimana hubungan antara hidup berkeutamaan sebagai warga negara dunia dan konsep pembaptisan yang dimaksud oleh Paulus? Untuk menjawab ini, baiklah kita lihat tulisan-tulisan lain dari Paulus, seperti Roma 6:1-11 yang bicara tentang kuasa dosa yang memperbudak manusia dan hidup baru sebagai manusia bebas berkat Kristus yang wafat dan bangkit serta melalui pembaptisan orang beriman bersatu dengan-Nya. Lewat pembaptisan, manusia dipersatukan dengan Kristus, memperoleh rahmat-Nya untuk bisa hidup berkeutamaan. Konsep ini jelas sangat dekat dengan konsep Stoikisme tentang Pneuma yang sudah dibahas sebelumnya. Stoikisme meyakini bahwa Pneuma adalah roh ilahi yang meresapi segala hal di dunia, yang bersifat rasional dan yang memampukan manusia untuk hidup berkeutamaan. Akan tetapi dalam kenyataannya, manusia tidak selalu mampu hidup sepenuhnya berkeutamaan. Ada kondisi-kondisi yang membuat manusia seolah-olah menjadi irasional. Dalam terminologi Yunani dike31 Betz. Galatians, 190. 32 Jeehei Park. All Citizens of Christ, 115. DISKURSUS. Volume 21. Nomor 2. Oktober 2025: 195-219 nal dengan akrasia atau Aulemah kehendakAy. Kondisi semacam ini dialami sendiri oleh Paulus, ketika ia tidak melakukan apa yang dikehendakinya tetapi justru melakukan apa yang ia benci (Lih. Rom. Kondisi akrasia terjadi ketika manusia hanya menjalani hukumAimeminjam istilah PaulusAidengan Aukeinginan dagingAy, tanpa hidup menurut Roh (Pneum. Paulus yakin bahwa problem akrasia dapat diatasi jika hidup kita dipimpin oleh Roh (Pneum. , dan bukan oleh Aukeinginan dagingAy . Gal. 5:16-. Menurut Engberg-Pedersen, dalam konteks pemikiran Yunani kuno, jika seseorang dibimbing oleh Roh, itu artinya ia memiliki Aukeutuhan karakterAy yang niscaya selalu memilih dan melakukan hal yang Dalam konteks jemaat di Galatia, soal hukum sunat. Paulus sama-sekali tidak bermaksud meniadakan hukum. Dia tidak berpikir bahwa hukum tidak lagi relevan, lalu cukup menyerahkan diri pada penyelenggaraan Pneuma semata. Tentu di sini ada bahaya, bahwa hukum dan adat-istiadat diabaikan, dan orang lantas berbuat sesukanya. Padahal, bagi Paulus Pneuma itu selalu bersifat menyatukan dan bukan merusak tatanan serta persatuan komunitas yang sudah ada. 34 Untuk mencapai keselamatan, manusia tetap membutuhkan hukum. Namun, hukum hanyalah instrumen untuk membawa manusia pada hidup berkeutamaan. Dalam bahasa Paulus, hukum dan adat-istiadat . hanyalah AupendidikAy yang fungsinya Aumenjaga, mengontrol, mengawasiAy, bahkan dalam arti peyoratif AumengurungAy sampai iman akan Kristus 35 Jadi, ketika manusia mampu beriman pada Kristus dan menerima Pneuma lewat baptis, sehingga ia mampu hidup berkeutamaan, maka hukum dan adat-istiadat mesti dilampaui. Karena keselamatan bukan hasil dari menjalankan hukum dengan setia . melainkan hidup 33 Engberg-Pedersen. AuStoicism in the Apostle Paul,Ay 65, 69. 34 Dunn. Theology of PaulAos Letter, bab. 35 Park. All Citizens of Christ, 112. Pneuma sebagai Dasar Kosmopolitanisme (Remigius Taolin & Yohanes The. berkeutamaan dalam iman akan Yesus Kristus dan dalam tuntunan Roh (Pneum. TITIK TEMU DAN TITIK PISAH: SEBUAH RANGKUMAN Dalam Stoikisme. Pneuma sudah ada dalam diri manusia secara kodratiah, sementara itu dalam kacamata iman Paulus. Pneuma ilahi baru diterima lewat pembaptisan, di mana seseorang Aubersatu dalam Kristus. Ay Persatuan dengan Kristus itu berarti juga seseorang diadopsi menjadi Auanak AllahAy dan menjadi satu keluarga . Gal. Maka, sebagai anak Allah, orang menyerahkan seluruh hidupnya dipimpin oleh Roh Allah . Rom. 8:14-. Kekeluargaan semesta ini didasarkan pada status Auanak AllahAy yang dipersatukan dalam Kristus lewat pembaptisan. Lewat persatuan itu, daya ilahi Kristus menjadi nyata dalam diri orang yang menerima-Nya, mengubah orang tersebut dan memampukannya untuk hidup seturut Pneuma ilahi. Berkat . pembaptisan, seseorang diubah secara kognitif-epistemologis menerima AukebenaranAy dan menerima Aubuah-buah rohAy untuk hidup berkeutamaan dalam kebersamaan, seperti yang Paulus katakan dalam Galatia 5:22-23: Aukasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Ay 37 Dengan demikian, manusia beriman yang telah dibaptis mampu hidup rasional sekaligus menjadi makhluk sosial yang hidup berkeutamaan bersama orang lain sebagai Ausesama saudaraAy. 38 Atas dasar anggapan inilah Paulus mempromosikan persaudaraan semesta . karena setiap manusia terlepas dari partikularitasnya . tnis, status sosial, 36 Jacobus M. Vorster. AuThe Theological-Ethical Implications of Galatians 3:28 for a Christian Perspective on Equality as a Foundational Value in the Human Rights Discourse,Ay In die Skriyig 53, no. : 6. 37 Kevin McGinnis. AuAoAll One in Christ Jesus:Ao Physical and Moral Equality in Galatians 3:28,Ay Journal of Religious Competition in Antiquity 3, no. : 24. Lihat juga Engberg-Pedersen. AuStoicism in the Apostle Paul,Ay 67-68, di mana dijelaskan secara ylosoys kaitan teori Oikeiosis dan transformasi perspektif orang beriman dari diri AuAkuAy menjadi diri AuKristusAy. 38 Troels Engberg-Pedersen. AuStoicism in early Christianity: The Apostle Paul and the Evangelist John as Stoics,Ay in The Routledge Handbook of the Stoic Tradition, ed. John Sellars (Routledge: New York, 2. , bab 2. DISKURSUS. Volume 21. Nomor 2. Oktober 2025: 195-219 gende. memiliki dasar universalitas yaitu memiliki Pneuma yang sama, yang berasal dari Allah sebagai AuBapaAy yang memanggil semua AuanakanakAy-Nya untuk saling mengasihi . Gal. 5:13-. Sampai pada titik ini, kita sepakat bahwa Stoa dan Paulus memiliki konsep antropologi-teologi-kosmopolitanisme yang mirip. Namun, pandangan keduanya tidak bisa begitu saja dianggap sama. Karena Paulus hanya memanfaatkan konsep-konsep ylosoys zamannya untuk menjelaskan visi teologinya. Sekurang-kurangnya terdapat tiga perbedaan jelas antara Paulus dan Stoa. Pertama. Pneuma ilahi yang dimaksud Paulus adalah Roh Kristus yang hanya diterima manusia lewat pembaptisan, sementara pada Stoikisme. Pneuma adalah bagian dari alam semesta yang melingkupi segalanya sehingga ada secara imanen dalam diri manusia. 39 Dalam Stoikisme. Pneuma merupakan suatu prinsip impersonal yang menjadi sumber dan penyelenggara segala sesuatu, sementara dalam Paulus. Pneuma dipahami sebagai pribadi . ilahi, yaitu Roh Kudus yang juga adalah Roh Kristus sendiri. Pneuma sebagai pribadi ilahi inilah yang menjadi dasar relasi manusia beriman dengan Kristus . Gal. Pneuma-nya Stoikisme adalah roh duniawi, dan ini jelas berbeda dari Roh Kudus yang berdimensi transenden, yang oleh Paulus dipercaya sebagai Roh Kristus sendiri . Gal. Kedua, tidak seperti yang diajarkan Stoikisme, menurut Paulus untuk hidup berkeutamaan tidak cukup hidup secara rasional, karena Paulus melihat dalam diri manusia terdapat AudosaAy yang AumendagingAy dalam tubuh manusia sehingga terjadilah fenomena akrasia. Meskipun secara kognitif manusia menginginkan yang baik dan benar, namun yang secara faktual dilakukan justru sebaliknya. Maka, di sinilah peran penting Pneu39 Betz. Galatians, 33. 40 Dunn. The Theology of Paul, bab 6. Gordon D. Fee. GodAos Empowering Presence: The Holy Spirit in the Letters of Paul (Peabody: Hendrickson, 1. , 829. Grant. AuSt. Paul and Stoicism,Ay 279. 41 Troels Engberg-Pedersen. Cosmology and Self in the Apostle Paul: The Material Spirit (Oxford: Oxford University Pres. , 90-92. Grant. AuSt. Paul and Stoicism,Ay 278. Pneuma sebagai Dasar Kosmopolitanisme (Remigius Taolin & Yohanes The. ma yang diterima orang beriman lewat pembaptisan dan yang menurut Paulus membimbing pada Aubuah-buah RohAy, yaitu Aukasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diriAy . Galatia 5:. 42 Karena itulah. Dunn menyebut etika Paulus sebagai etika karismatik atau etika yang didasarkan pada tuntunan Roh Kudus sendiri. Ketiga, etika Paulus bersifat teologis-kristosentris, karena baginya hidup berkeutamaan . irtuous lif. tidak cukup dicapai dengan menjalani hidup secara rasional seperti yang dihayati oleh kaum Stoa. Bagi Paulus, hidup berkeutamaan berarti mengimani Yesus Kristus dalam hidup, di mana orang harus benar-benar Aumengenakan KristusAy dalam dirinya, mengidentiykasi dirinya dengan Kristus. Tentu saja, hidup etis ini bukan hasil sekali jadi ketika seseorang menerima pembaptisan, tetapi lebih dipahami sebagai usaha dan proses terus-menerus sepanjang hayat. Dalam ketiga perbedaan inilah kita bisa lihat bahwa meskipun Paulus memanfaatkan ylsafat ketika ia berteologi tentang keselamatan, ia tetap menempatkan Yesus Kristus sebagai tokoh sentral dalam peristiwa keselamatan manusia. Paulus juga mengajak setiap manusia tanpa kecuali untuk hidup berkeutamaan dalam semangat kosmopolitanisme dengan pendasaran universalitasnya pada akal budi. Akan tetapi, meski pandangan Paulus khususnya yang tertuang dalam Galatia 3:28 sungguh revolusioner, dalam konteks Kosmopolitanisme yang lebih luas, konsep Pneuma Paulus ini sebetulnya malah lebih eksklusif ketimbang ylsafat Helenis-Romawi . hususnya Stoikism. , karena Paulus menjadikan pembaptisan dan iman akan Yesus Kristus sebagai syarat persaudaraan 42 Engberg-Pedersen. AuStoicism in the Apostle Paul,Ay 65. Engberg-Pedersen bahkan mengatakan bahwa iman dapat diperbandingkan dengan sophia dalam terminologi Stoa, yang menjadi aktif karena buah Roh yaitu cinta. 43 Dunn. The Theology, bab 5. Fee menegaskan betapa krusialnya peran Pneuma dalam keseluruhan etika Paulus, yakni sebagai kuasa yang mengarahkan orang beriman pada tujuan yang benar (Alla. , sesuai dengan teladan (Yesus Kristu. dan prinsip . inta kasi. , lih. Fee. GodAos Empowering Presence, 879. 44 Betz. Galatians, 33. Dunn. The Theology, bab 5. Lih. Wilson and Blois. AuA Stoic Reading,Ay 5, 10. DISKURSUS. Volume 21. Nomor 2. Oktober 2025: 195-219 RELEVANSI DI INDONESIA Dalam konteks masyarakat multikultural seperti di Indonesia, kosmopolitanisme Stoa-Paulus sangatlah relevan. Kosmopolitanisme Stoa-Paulus yang berciri multikulturalistik tidak mengabaikan partikularitas. Apa yang menjadi identitas individu yang unik dan partikular . tnis, status sosial, gende. tetap dapat dihayati dalam universalitasnya, yaitu sebagai manusia dengan Pneuma ilahi. Konsep ini sangat dekat dengan spirit Bhinneka Tunggal Ika . erbeda-beda tetapi tetap sat. Segala hal yang berbeda itu sesuatu yang partikular dan sifatnya material, sedangkan yang AusatuAy adalah yang spiritual/non-material yakni peri-kemanusiaan. Dalam konteks hidup beragama di Indonesia, kosmopolitanisme Paulus mendapat tempat yang layak untuk tumbuh. Sebagai negara yang mementingkan kepercayaan dan agama. Indonesia dapat mengadalkan agama menjadi agen kunci dalam mempromosikan ide-ide kosmopolitanisme, terutama dalam konteks dialog antar-agama. Kendati agama dengan bobot teologinya sering menjadi eksklusif, bukan berarti agama tidak punya kemampuan untuk mewujudkannya. Justru para pemeluk agama punya misi besar yaitu untuk bekerja sama dan berdialog demi persaudaraan universal. Paus Fransiskus dalam Fratelli Tutti A271 mengungkapkan Pelbagai agama, berdasarkan rasa hormat kepada setiap pribadi manusia sebagai makhluk yang dipanggil untuk menjadi anak Allah, memberikan sumbangan berharga untuk membangun persaudaraan dan membela keadilan dalam masyarakat. Dialog antar pemeluk agama yang berbeda tidak dilakukan semata-mata atas dasar diplomasi, kesopansantunan, atau toleransi. Tentu pada saat yang sama. Paus Fransiskus juga mengingatkan bahwa agama sejati adalah agama yang mempromosikan cinta kasih dan persaudaraan universal. Paus mengingatkan bahwa beragama tidak sekadar Aumenyembah AllahAy lewat kepatuhan legalistik, melainkan lebih daripada itu berarti mengasihi sesama, terutama yang kecil, lemah dan tersing- Pneuma sebagai Dasar Kosmopolitanisme (Remigius Taolin & Yohanes The. kir seperti yang diteladankan AuOrang Samaria yang baik hatiAy . Luk. 10:25-. Bagi Paus, dasar dan inti hidup beragama seperti yang dituliskan oleh Yohanes . Yoh. tidak lain adalah kasih, karena Ausiapa yang tidak mengasihi, tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah KasihAy (A56. Dalam ensiklik Fratelli Tutti tersebut, kita temukan gema kosmopolitanisme Paulus yang berdasar pada iman akan Yesus Kristus dan Pneuma (Roh Kudu. Paus Fransiskus menegaskan bahwa dasar kosmopolitanisme haruslah diletakkan di atas iman bahwa kita adalah saudara karena memiliki AuBapa yang samaAy, karena jika hanya didasarkan pada akal budi saja tidaklah cukup (A. Selain itu, agama punya panggilan penting di tengah budaya materialisme, yakni untuk Aumembangkitkan kekuatan spiritualAy di tengah dunia. Tujuannya adalah untuk bersama-sama dengan setiap pihak dalam rangka berdialog dan bekerjasama membangun persaudaraan universal (A. Dialog tersebut perlu melibatkan segala pihak dan bersifat lintas ilmu, terutama ylsafat yang selama berabad-abad telah menjadi rekan agama mencari kebenaran. Secara khusus bagi bagi umat Kristiani. Paus menegaskan: AuSumber martabat dan persaudaraan manusiawi ini ditemukan dalam Injil Yesus Kristus. Dari situ muncul bagi pemikiran Kristiani dan bagi tindakan Gereja, keutamaan yang diberikan pada hubungan, pada perjumpaan dengan misteri suci orang lain, pada persekutuan universal dengan seluruh umat manusia sebagai panggilan untuk semua orangAy (A . KESIMPULAN Titik temu antara Stoa dan Paulus ada pada konsep Pneuma. Kata ini begitu kompleks tetapi menjadi dasar untuk menjelaskan kosmopolitanisme. Kita semua berkeluarga karena berasal dari Pneuma yang sama dan memiliki kapasitas untuk hidup rasional. Hidup semacam ini membawa kita pada kenyataan bahwa kita semua bersaudara karena samasama memiliki rasionalitas dan dengan demikian mampu hidup bersama sebagai anak-anak Allah. Jika dalam Paulus. Pneuma dimulai lewat pembaptisan. Stoa mengatakan bahwa Pneuma sudah ada berbarengan DISKURSUS. Volume 21. Nomor 2. Oktober 2025: 195-219 dengan kelahiran orang tersebut. Paulus tampaknya hanya meminjam konsep Pneuma Stoikisme . engingat konteks buday. untuk menggolkan agenda teologisnya yaitu keselamatan atas dasar iman pada Yesus Kristus lewat pembaptisan. Namun, apakah kemudian tafsiran Paulus atas Pneuma ini tidak bisa dimanfaatkan secara universal? Tidak juga, karena gagasan ini dapat dipahami pula oleh setiap orang non-Kristiani, mengingat fokusnya pada rasionalitas, dan setiap orang punya akal budi terlepas dia dibaptis atau tidak. Hanya saja menurut keyakinan Paulus, sakramen baptis memuat rahmat yang memampukan setiap orang yang menerimanya untuk hidup lebih rasional dan berkeutamaan karena bersatu dengan Kristus, sang Keutamaan itu sendiri. Keterhubungan Paulus dengan Stoikisme tidak berjalan secara singkat dan langsung, melainkan secara pelan-pelan dan acak. Hubungan itu baru mulai tersistematisasi setelah melewati kabut samar pemikiran sinkretistik yang menjadi ciri khas diaspora Yahudi. Dalam bentuk Stoikisme yang sudah terlarut dalam budaya umum, kita hanya bisa berspekulasi bahwa Stoikisme masuk ke dalam alam pikir Paulus. Bahasa populer yang bernuansa Stoa mungkin telah membantu Paulus dalam merumuskan dan mengekspresikan tesis teologinya, tetapi tidak menyentuh dasar pemikirannya. Sebagai seorang Kristen. Paulus yakin bahwa dia dibimbing oleh Roh Kudus. Lepas dari itu semua. Paulus dan Stoa memiliki tujuan yang sama, yaitu kemanusiaan universal, walau dari sudut pandang dan keyakinan yang berbeda. DAFTAR RUJUKAN Arnim. Ioanes Ab. Stoicorum Veterum Fragmenta Vol. I-IV. Leipzig: Stutgardiae in Aedibus B. Teubneri, 1964. Bacon. The Story of Saint Paul. BostonAiNew York: Houghton. Mifflin and Company, 1904. Betz. Hans Dieter. Galatians: A Commentary on PaulAos Letter to the Churches in Galatia. Philadelphia: Fortress Press, 1979. Cicero. De Ofyciis, translated by Walter Miller, edited by T. Page. London: Loeb Classical Library, 1913. Pneuma sebagai Dasar Kosmopolitanisme (Remigius Taolin & Yohanes The. Dunn. The Theology of PaulAos Letter to the Galatians . Pub versio. Cambridge: Cambridge University Press, 1993. Engberg-Pedersen. Troels. Cosmology and Self in the Apostle Paul: The Material Spirit. Oxford: Oxford University Press, 2010. _____. AuStoicism in the Apostle Paul: A Philosophical Reading. Ay In Stoicism: Traditions and Transformations, edited by Steven K. Strange and Jack Zupko. Cambridge: Cambridge University Press, 2004. https://doi. org/10. 1017/CBO9780511498374. _____. AuStoicism in early Christianity: The Apostle Paul and the Evangelist John as Stoics. Ay In The Routledge Handbook of the Stoic Tradition, edited by John Sellars. Routledge. New York, 2016. https://doi. org/10. 4324/9781315771588 Epictetus. Discourse, translated by George Long. London: George Bell and Sons, 1890. Fee. Gordon D. GodAos Empowering Presence: The Holy Spirit in the Letters of Paul. Peabody: Hendrickson, 1994. Gardner. Percy. Religious Experience of St. Paul. New York: Williams & Norgate, 1913. Grant. Frederick Clifton. AuSt. Paul and StoicismAy, published by The University of Chicago Press. The Biblical World 45, no. 5 (May 1. Hahm. David E. The Origins of Stoic Cosmology. Ohio: Ohio State University Press, 1977. Harrill. Albert. Paul the Apostle: His Life and Legacy in Their Roman Context. Cambridge: Cambridge University Press, 2012. Long. & D. Sedley. The Hellenistic Philosophers 1. Cambridge: Cambridge University Press, 1987. McGinnis. Kevin. AuAuAll One in Christ Jesus:Ay Physical and Moral Equality in Galatians 3:28. Ay Journal of Religious competition in Antiquity 3, no. https://soar. edu/jrca/vol3/iss1/1 Neutel. Karin B. A Cosmopolitan Ideal: PaulAos Declaration AoNeither Jew nor Greek. Neither Slave nor Free, nor Male and FemaleAo in the Context of First Century Thought. London: Bloomsbury, 2015. Park. Jeehei. All Citizens of Christ: A Cosmopolitanism Reading of Unity and Diversity in PaulAos Letters. Leiden: Brill, 2023. Sandbach. Stoics. London: Bristol Classical Press, 1989. Sellars. John. Stoicism. Stocksyeld: Acumen, 2006. DISKURSUS. Volume 21. Nomor 2. Oktober 2025: 195-219 Seneca. On Anger, translated by Robert A. Kaster. Chicago: University of Chicago Press, 2012. ______. Epistulae Morales, translated by Richard M. Gummere. London: William Heinemann, 1925. Vorster. AuThe Theological-Ethical Implications of Galatians 3:28 for a Christian Perspective on Equality as a Foundational Value in the Human Rights Discourse. Ay In die Skriyig 53, no. https:// org/10. 4102/ids. Weiss. Johanes. Paul and Jesus. Translated by Rev. Chaytor. LondonAi New York: Harper & Brothers, 1909. Wilson. Laurie A. and Isaac D. Blois. AuA Stoic Reading of Internal Obedience in Romans 1:18-2:29. Ay Religions 14, no. https://doi. org/10. 3390/rel14050579.