https://ejournal. org/index. php/AhsaniTaqwim e-ISSN: 3a047-2563. p-ISSN: 3047-2571. Hal. MEMBANGUN MORALITAS REMAJA MELALUI INTERNALISASI NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER Ardian Al Hidaya STAI Madiun ardian@staimadiun. Fikri Yandi Universitas Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan fikriyandi802@gmail. SuAodak Mariana Universitas Labuhan Batu sudamariana@gmail. Article History: Received: Agustus 30, 2025. Accepted: September 25, 2025. Published: Oktober 26, 2025. Keywords: Internalization Of Values. Character Education. Adolescent Morality. Role Models. Personality Formation Abstract. The process of internalizing educational character values in the formation of adolescent morality, especially amidst social dynamics and technological advances that often influence the behavior of the younger generation. Adolescence is a crucial developmental phase, where individuals are searching for identity and are vulnerable to negative influences from their surroundings, such as social media, promiscuity, and identity In this context, character education plays a crucial role as a foundation for the formation of a strong and moral personality. Through a qualitative approach with a literature study method, this study found that the internalization of character values such as honesty, responsibility, tolerance, discipline, and cooperation must be carried out continuously and integrated through various approaches, including role models from teachers and parents, positive habits in the school environment, and support from the These values, if instilled from an early age, can shape adolescent morality that is strong and adaptive to the challenges of the times. The results of the study indicate that character education does not only function as part of the formal curriculum, but must also become an inherent culture in everyday life, both in the educational environment and the Thus, the internalization of character values is a longterm investment in shaping a young generation that is not only intellectually intelligent, but also morally and socially mature. Abstrak. Proses internalisasi nilai-nilai pendidikan karakter dalam pembentukan moralitas remaja, terutama di tengah dinamika sosial dan kemajuan teknologi yang kerap memengaruhi perilaku generasi muda. Masa remaja merupakan fase perkembangan yang krusial, di mana individu sedang mencari jati diri dan rentan terhadap pengaruh negatif dari lingkungan sekitar, seperti media sosial, pergaulan bebas, dan krisis identitas. Dalam konteks ini, pendidikan karakter memainkan peran penting sebagai pondasi pembentukan kepribadian yang kuat dan bermoral. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur, penelitian ini menemukan bahwa internalisasi nilai-nilai karakter seperti kejujuran, tanggung jawab, toleransi, disiplin, dan kerja sama 699 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 2 No. 3 Oktober 2025 Membangun Moralitas Remaja Melalui Internalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Karakter | Ardian Al Hidaya. Fikri Yandi. SuAodak mariana harus dilakukan secara berkelanjutan dan terintegrasi melalui berbagai pendekatan, termasuk keteladanan guru dan orang tua, pembiasaan positif di lingkungan sekolah, serta dukungan dari masyarakat. Nilai-nilai ini jika ditanamkan sejak dini dapat membentuk moralitas remaja yang kokoh dan adaptif terhadap tantangan zaman. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak hanya berfungsi sebagai bagian dari kurikulum formal, tetapi juga harus menjadi budaya yang melekat dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan pendidikan maupun keluarga. Dengan demikian, internalisasi nilai-nilai karakter merupakan investasi jangka panjang dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan sosial. PENDAHULUAN Masa remaja merupakan periode transisi yang kompleks dalam siklus kehidupan manusia, di mana individu mengalami perubahan biologis, psikologis, sosial, dan emosional secara signifikan. Pada tahap ini, remaja mulai mencari identitas diri, membangun nilai-nilai pribadi, dan menentukan arah masa depan mereka. Namun, dalam proses pencarian jati diri tersebut, remaja sering kali dihadapkan pada berbagai pengaruh eksternal yang dapat nilai-nilai penyalahgunaan teknologi, serta lunturnya peran keluarga dan sekolah sebagai pusat nilai (Nangus et al. , 2. Fenomena kemerosotan moral pada remaja menjadi tantangan serius bagi dunia pendidikan dan masyarakat secara luas. Tindakan seperti bullying, menunjukkan bahwa aspek moral dan etika tidak selalu berkembang seiring kemajuan intelektual remaja. Oleh karena itu, diperlukan upaya sistematis untuk membentuk kepribadian remaja yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter dan moralitas yang kuat. Salah satu pendekatan strategis yang dapat diambil adalah melalui internalisasi nilainilai pendidikan karakter. Internalisasi ini merupakan proses menanamkan nilai-nilai luhur ke dalam diri individu sehingga nilai tersebut menjadi bagian dari cara berpikir, bersikap, dan bertindak. Pendidikan karakter, yang meliputi nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, empati, dan toleransi, tidak hanya diterapkan melalui pembelajaran di kelas, tetapi juga melalui 700 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 2 No. 3 Oktober 2025 https://ejournal. org/index. php/AhsaniTaqwim e-ISSN: 3a047-2563. p-ISSN: 3047-2571. Hal. keteladanan guru, pembiasaan dalam lingkungan sekolah, serta kerja sama dengan keluarga dan masyarakat (Judrah et al. , 2. Berbagai penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa remaja yang mendapatkan pendidikan karakter secara konsisten memiliki kecenderungan untuk menunjukkan perilaku moral yang lebih positif. Misalnya, mereka lebih mampu mengendalikan emosi, membuat keputusan yang etis, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Pendidikan karakter yang efektif menuntut sinergi antara institusi pendidikan, keluarga, dan lingkungan sosial sebagai ekosistem pembentuk moralitas. Dengan mempertimbangkan pentingnya peran pendidikan karakter dalam pembentukan moralitas remaja, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji lebih dalam bagaimana internalisasi nilai-nilai tersebut dapat diimplementasikan secara efektif dalam kehidupan remaja (Aburaera et al. , 2. Melalui pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoritik maupun praktis dalam upaya penguatan moralitas remaja melalui pendidikan karakter yang terencana, terstruktur, dan berkelanjutan. Dalam pendidikan agama Islam, proses pembentukan karakter dan moralitas peserta didik menjadi bagian yang sangat penting, bahkan bisa dikatakan sebagai tujuan utama dari proses pembelajaran itu sendiri. Pendidikan agama bukan sekadar menyampaikan pengetahuan teoretis semata, melainkan lebih jauh diarahkan pada penanaman nilai-nilai luhur yang bersumber dari ajaran Islam, dengan harapan bahwa peserta didik mampu mewujudkannya dalam sikap dan perilaku sehari-hari. (Nur et al. , 2. Salah satu pendekatan yang digunakan dalam pendidikan agama adalah internalisasi nilai, yaitu proses menanamkan nilai-nilai tertentu ke dalam diri individu sehingga nilai tersebut menjadi bagian dari kepribadiannya. Proses ini melibatkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik peserta didik. Dengan demikian, pendidikan nilai bukan hanya menyentuh pengetahuan tentang baik dan buruk, tetapi juga bagaimana individu merasa terlibat secara emosional dan mampu mewujudkan nilai tersebut dalam tindakan konkret. Dalam konteks remaja, yang sedang berada pada fase pencarian jati diri dan cenderung mudah dipengaruhi oleh lingkungan, internalisasi nilai menjadi 701 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 2 No. 3 Oktober 2025 Membangun Moralitas Remaja Melalui Internalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Karakter | Ardian Al Hidaya. Fikri Yandi. SuAodak mariana kunci penting dalam membentuk moralitas mereka. Ketika nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, toleransi, disiplin, dan kepedulian sosial berhasil ditanamkan melalui pendidikan agama, maka remaja akan memiliki landasan moral yang kuat dalam menjalani kehidupan. (Alifia et al. , 2. Proses internalisasi ini tidak bisa instan dan membutuhkan metode yang tepat serta berkelanjutan. Guru sebagai pendidik memegang peran sentral, tidak hanya sebagai penyampai ilmu, tetapi juga sebagai teladan dalam Keteladanan guru menentukan keberhasilan internalisasi nilai, karena peserta didik akan meniru apa yang mereka lihat dan rasakan secara langsung dalam interaksi sehari-hari. Selain itu, metode pembelajaran partisipatif, diskusi nilai, pembiasaan dalam aktivitas sekolah, serta pengintegrasian nilai ke dalam seluruh mata pelajaran agama juga merupakan langkah penting yang mendukung keberhasilan internalisasi. Lingkungan sekolah dan keluarga juga berperan penting dalam pembentukan moralitas. Sekolah yang menciptakan budaya positif, seperti budaya disiplin, budaya religius, dan budaya peduli terhadap sesama, akan memperkuat nilai-nilai yang ditanamkan di kelas. Sementara itu, peran orang tua dalam memberikan keteladanan di rumah menjadi pelengkap yang tak terpisahkan dari proses pembentukan karakter remaja. Dalam penerapannya, internalisasi nilai dalam pendidikan agama Islam harus dilakukan secara sistematis, konsisten, dan menyeluruh. Artinya, seluruh pihak yang terlibat dalam pendidikan guru, kepala sekolah, staf, bahkan sesama siswa harus memiliki komitmen yang sama untuk membangun lingkungan yang mendukung pembentukan karakter. Dengan begitu, moralitas remaja dapat terbentuk secara utuh, tidak hanya diukur dari pengetahuan agamanya, tetapi juga dari bagaimana ia bersikap dalam kehidupan nyata (Aburaera et al. , 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi pustaka . ibrary researc. Pendekatan ini dipilih untuk memberikan gambaran yang mendalam mengenai proses internalisasi nilai702 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 2 No. 3 Oktober 2025 https://ejournal. org/index. php/AhsaniTaqwim e-ISSN: 3a047-2563. p-ISSN: 3047-2571. Hal. nilai pendidikan karakter dan pengaruhnya terhadap pembentukan moralitas remaja berdasarkan kajian teoritis dari berbagai sumber ilmiah. Pengumpulan data dilakukan melalui penelusuran dan analisis terhadap berbagai dokumen relevan, seperti jurnal ilmiah, buku akademik, artikel pendidikan, serta hasil perkembangan moral remaja. Sumber-sumber literatur yang digunakan dipilih secara purposive, yaitu dengan mempertimbangkan relevansi dan kualitas akademik sumber, terutama yang diterbitkan dalam lima hingga sepuluh tahun Metode ini diharapkan mampu memberikan landasan konseptual yang kuat dan mendalam terkait strategi dan urgensi pendidikan karakter sebagai sarana pembentukan moralitas remaja dalam menghadapi tantangan HASIL DAN PEMBAHASAN Proses internalisasi nilai-nilai karakter pada remaja merupakan langkah yang sangat penting dalam pembentukan moralitas mereka. Pendidikan karakter tidak hanya melibatkan pengajaran kognitif tentang apa yang benar nilai-nilai diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Internalitas nilai-nilai tersebut, yang mencakup kejujuran, tanggung jawab, dan empati, harus ditanamkan dalam diri remaja secara menyeluruh. Menurut Astuti , internalisasi nilai-nilai karakter ini harus dimulai sejak dini dan dilakukan secara berkesinambungan melalui berbagai pendekatan, baik dari keluarga, sekolah, maupun masyarakat(Astuti et al. , 2. Keluarga memiliki peran sentral dalam mendidik dan menanamkan nilai-nilai moral pada remaja. Sebagai lingkungan pertama dan utama, keluarga menjadi tempat di mana remaja belajar tentang etika, sikap, dan perilaku yang baik. Keteladanan orang tua sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter remaja (Syahroni & Rofiq, 2. Jika orang tua mampu menunjukkan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai seperti kejujuran, kedisiplinan, dan rasa tanggung jawab, maka remaja cenderung akan meniru sikap tersebut dalam kehidupan mereka sehari-hari. Hal ini diperkuat oleh 703 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 2 No. 3 Oktober 2025 Membangun Moralitas Remaja Melalui Internalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Karakter | Ardian Al Hidaya. Fikri Yandi. SuAodak mariana temuan dari Mahmud . yang menyatakan bahwa pengaruh keluarga dalam membentuk moralitas remaja sangat kuat, karena orang tua merupakan sumber utama dalam memberikan nilai-nilai kehidupan yang akan dibawa sepanjang hidup mereka. Selain itu, sekolah juga memiliki peran yang tak kalah penting dalam mendukung internalisasi nilai karakter pada remaja. Pendidikan karakter di sekolah tidak hanya terbatas pada mata pelajaran formal, tetapi juga tercermin dalam aktivitas sehari-hari yang dilakukan siswa. Budaya sekolah yang mengedepankan nilai-nilai karakter, seperti saling menghormati, kerjasama, dan tanggung jawab, akan memperkuat nilai-nilai yang diajarkan kepada remaja (Saputra et al. , 2. Penelitian oleh Haris . menunjukkan bahwa sekolah yang menanamkan pendidikan karakter melalui kegiatan nonakademik, seperti ekstrakurikuler dan kegiatan sosial, memberikan dampak yang besar terhadap pembentukan karakter siswa. Oleh karena itu, penting bagi sekolah untuk menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya nilai-nilai moral pada siswa. Namun, meskipun terdapat berbagai upaya yang dilakukan oleh keluarga dan sekolah, proses internalisasi nilai-nilai karakter ini tidak lepas dari tantangan. Salah satu tantangan terbesar adalah pengaruh lingkungan sosial dan media yang dapat membawa nilai-nilai yang bertentangan dengan pendidikan karakter yang telah diajarkan. Media sosial, misalnya, seringkali menampilkan model perilaku yang jauh dari nilai moral yang diharapkan, seperti individualisme yang tinggi, hedonisme, dan sikap tidak peduli terhadap orang lain. Hal ini diperburuk oleh adanya pergaulan bebas yang berkembang di kalangan remaja yang sering kali berkonflik dengan nilai-nilai moral yang diajarkan di keluarga dan sekolah. Menurut Hidayat . , fenomena media sosial dan pergaulan bebas memberikan tantangan berat dalam proses internalisasi nilai-nilai karakter karena menciptakan realitas sosial yang seringkali tidak sejalan dengan norma dan etika yang diterapkan dalam pendidikan karakter. Namun demikian, meskipun tantangan tersebut ada, berbagai studi menunjukkan bahwa remaja yang mengalami internalisasi nilai karakter yang 704 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 2 No. 3 Oktober 2025 https://ejournal. org/index. php/AhsaniTaqwim e-ISSN: 3a047-2563. p-ISSN: 3047-2571. Hal. baik cenderung menunjukkan perilaku sosial yang lebih positif. Mereka lebih mampu mengelola emosi, membuat keputusan yang bijaksana, serta memiliki Sebuah Dewi mengungkapkan bahwa remaja yang dibesarkan dalam lingkungan yang menekankan nilai-nilai pendidikan karakter seperti empati, kejujuran, dan disiplin akan lebih mudah beradaptasi dan mengatasi tekanan sosial yang ada di sekitar mereka. Hal ini menunjukkan bahwa internalisasi nilai karakter yang dilakukan secara konsisten dan terintegrasi melalui berbagai aspek kehidupan dapat membentuk pribadi remaja yang lebih kuat, moral, dan siap menghadapi tantangan hidup (Zannatunnisya et al. , 2. Dapat disimpulkan bahwa internalisasi nilai-nilai pendidikan karakter pada remaja tidak hanya bergantung pada satu pihak, tetapi melibatkan kerjasama antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Untuk memastikan proses internalisasi ini berjalan dengan baik, diperlukan upaya kolaboratif dari semua pihak terkait untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan karakter remaja. Penerapan yang konsisten dan berkelanjutan dari nilai-nilai tersebut akan membentuk moralitas remaja yang tangguh, dengan kemampuan untuk menghadapi tantangan kehidupan yang semakin Dalam pendidikan agama Islam, proses pembentukan karakter dan moralitas peserta didik menjadi bagian yang sangat penting, bahkan bisa dikatakan sebagai tujuan utama dari proses pembelajaran itu sendiri. Pendidikan agama bukan sekadar menyampaikan pengetahuan teoretis semata, melainkan lebih jauh diarahkan pada penanaman nilai-nilai luhur yang bersumber dari ajaran Islam, dengan harapan bahwa peserta didik mampu mewujudkannya dalam sikap dan perilaku sehari-hari. (Mannan, 2. Salah satu pendekatan yang digunakan dalam pendidikan agama adalah internalisasi nilai, yaitu proses menanamkan nilai-nilai tertentu ke dalam diri individu sehingga nilai tersebut menjadi bagian dari kepribadiannya. Proses ini melibatkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik peserta didik. Dengan demikian, pendidikan nilai bukan hanya menyentuh pengetahuan tentang baik dan buruk, tetapi juga bagaimana individu merasa terlibat secara emosional 705 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 2 No. 3 Oktober 2025 Membangun Moralitas Remaja Melalui Internalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Karakter | Ardian Al Hidaya. Fikri Yandi. SuAodak mariana dan mampu mewujudkan nilai tersebut dalam tindakan konkret. (Ramadhanti et al. , 2. Dalam konteks remaja, yang sedang berada pada fase pencarian jati diri dan cenderung mudah dipengaruhi oleh lingkungan, internalisasi nilai menjadi kunci penting dalam membentuk moralitas mereka. Ketika nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, toleransi, disiplin, dan kepedulian sosial berhasil ditanamkan melalui pendidikan agama, maka remaja akan memiliki landasan moral yang kuat dalam menjalani kehidupan (Hidayatullah, 2. Proses internalisasi ini tidak bisa instan dan membutuhkan metode yang tepat serta berkelanjutan. Guru sebagai pendidik memegang peran sentral, tidak hanya sebagai penyampai ilmu, tetapi juga sebagai teladan dalam Keteladanan guru menentukan keberhasilan internalisasi nilai, karena peserta didik akan meniru apa yang mereka lihat dan rasakan secara langsung dalam interaksi sehari-hari. Selain itu, metode pembelajaran partisipatif, diskusi nilai, pembiasaan dalam aktivitas sekolah, serta pengintegrasian nilai ke dalam seluruh mata pelajaran agama juga merupakan langkah penting yang mendukung keberhasilan internalisasi. Lingkungan sekolah dan keluarga juga berperan penting dalam pembentukan Sekolah yang menciptakan budaya positif, seperti budaya disiplin, budaya religius, dan budaya peduli terhadap sesama, akan memperkuat nilainilai yang ditanamkan di kelas. Sementara itu, peran orang tua dalam memberikan keteladanan di rumah menjadi pelengkap yang tak terpisahkan (Kamila. Dalam penerapannya, internalisasi nilai dalam pendidikan agama Islam harus dilakukan secara sistematis, konsisten, dan menyeluruh. Artinya, seluruh pihak yang terlibat dalam pendidikan guru, kepala sekolah, staf, bahkan sesama siswa harus memiliki komitmen yang sama untuk membangun lingkungan yang mendukung pembentukan karakter. Dengan begitu, moralitas remaja dapat terbentuk secara utuh, tidak hanya diukur dari pengetahuan agamanya, tetapi juga dari bagaimana ia bersikap dalam kehidupan (Internalisasi et al. , 2. 706 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 2 No. 3 Oktober 2025 https://ejournal. org/index. php/AhsaniTaqwim e-ISSN: 3a047-2563. p-ISSN: 3047-2571. Hal. Tarekat Naqsyabandiyah Al-Hasanah Ujung Batu mengembangkan proses pembentukan akhlak yang sangat terstruktur melalui pendekatan Internalisasi nilai-nilai menyeluruh, mencakup pemahaman mendalam, pengalaman spiritual, hingga pengamalan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Tokoh sentral dalam proses ini adalah syekh atau mursyid, yang berperan sebagai pembimbing ruhani. Sosok guru ini dijadikan teladan oleh murid dalam hal akhlak dan spiritualitas. Nilai-nilai utama yang ditekankan adalah kesabaran, rasa syukur, serta penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan . Nilai-nilai ini menjadi dasar bagi relasi manusia dengan Sang Pencipta dan dengan sesama manusia. Praktik spiritual seperti zikir menjadi salah satu instrumen utama dalam menyucikan jiwa. Melalui zikir, khususnya zikir diam, murid diajak untuk mengontrol diri, meningkatkan kesadaran ruhani, dan menghindari penyakit hati. Proses internalisasi tidak sekadar terjadi di tingkat pikiran, tetapi juga menyentuh aspek emosional dan perilaku nyata dalam keseharian (Ahmad, 2. Dalam pengamalan nilai-nilai adab. Adab dalam konteks ini mencakup segala etika dan perilaku baik, baik saat dalam forum ibadah . maupun dalam kehidupan sehari-hari. Contoh nyata dari adab adalah menjaga kesucian wudhu, bersikap sopan kepada guru, mencium tangan guru, hingga membawa buah tangan sebagai bentuk penghormatan. Semua bentuk perilaku ini diajarkan bukan hanya sebagai norma sosial, tetapi sebagai bentuk pembentukan karakter spiritual. Pendidikan yang berlangsung dalam lingkungan tarekat ini bersifat informal namun sangat mendalam. Jika di institusi formal nilai-nilai karakter diajarkan secara akademik, maka dalam tarekat nilai-nilai tersebut dihidupkan secara langsung melalui keteladanan dan rutinitas(Syahroni & Rofiq, 2. Tasawuf dalam tarekat ini tidak dapat dipisahkan dari pembentukan Para murid dilatih untuk mematuhi aturan-aturan yang berlaku dalam setiap kegiatan, baik dalam zikir maupun halaqah. Misalnya, dalam forum 707 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 2 No. 3 Oktober 2025 Membangun Moralitas Remaja Melalui Internalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Karakter | Ardian Al Hidaya. Fikri Yandi. SuAodak mariana halaqah terdapat aturan posisi duduk yang harus dihormati. Bahkan posisi duduk mursyid tidak boleh digantikan sembarangan, kecuali oleh penerus yang sah secara rohani dan biologis. Disiplin spiritual ini bertujuan untuk menanamkan sifat rendah hati, keikhlasan, dan tidak cinta pujian. Proses ini dilakukan melalui rutinitas mingguan yang terstruktur, seperti kegiatan halaqah setiap malam Senin yang dilaksanakan secara konsisten. Dalam pendidikan agama Islam, proses pembentukan karakter dan moralitas peserta didik menjadi bagian yang sangat penting, bahkan bisa dikatakan sebagai tujuan utama dari proses pembelajaran itu sendiri (Rifki et al. , 2. Pendidikan agama bukan sekadar menyampaikan pengetahuan teoretis semata, melainkan lebih jauh diarahkan pada penanaman nilai-nilai luhur yang bersumber dari ajaran Islam, dengan harapan bahwa peserta didik mampu mewujudkannya dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Salah satu pendekatan yang digunakan dalam pendidikan agama adalah internalisasi nilai, yaitu proses menanamkan nilai-nilai tertentu ke dalam diri individu sehingga nilai tersebut menjadi bagian dari kepribadiannya (Taja & Aziz, 2. Proses ini melibatkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik peserta didik. Dengan demikian, pendidikan nilai bukan hanya menyentuh pengetahuan tentang baik dan buruk, tetapi juga bagaimana individu merasa terlibat secara emosional dan mampu mewujudkan nilai tersebut dalam tindakan konkret. Dalam konteks remaja, yang sedang berada pada fase pencarian jati diri dan cenderung mudah dipengaruhi oleh lingkungan, internalisasi nilai menjadi kunci penting dalam membentuk moralitas mereka. Ketika nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, toleransi, disiplin, dan kepedulian sosial berhasil ditanamkan melalui pendidikan agama, maka remaja akan memiliki landasan moral yang kuat dalam menjalani kehidupan (Sari & AsAoad, 2. Proses internalisasi ini tidak bisa instan dan membutuhkan metode yang tepat serta berkelanjutan. Guru sebagai pendidik memegang peran sentral, tidak hanya sebagai penyampai ilmu, tetapi juga sebagai teladan dalam Keteladanan guru menentukan keberhasilan internalisasi nilai, karena peserta didik akan meniru apa yang mereka lihat dan 708 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 2 No. 3 Oktober 2025 https://ejournal. org/index. php/AhsaniTaqwim e-ISSN: 3a047-2563. p-ISSN: 3047-2571. Hal. rasakan secara langsung dalam interaksi sehari-hari. Selain itu, metode pembelajaran partisipatif, diskusi nilai, pembiasaan dalam aktivitas sekolah, serta pengintegrasian nilai ke dalam seluruh mata pelajaran agama juga merupakan langkah penting yang mendukung keberhasilan internalisasi. (Putri et al. , 2. Lingkungan sekolah dan keluarga juga berperan penting dalam pembentukan moralitas. Sekolah yang menciptakan budaya positif, seperti budaya disiplin, budaya religius, dan budaya peduli terhadap sesama, akan memperkuat nilai-nilai yang ditanamkan di kelas. Sementara itu, peran orang tua dalam memberikan keteladanan di rumah menjadi pelengkap yang tak terpisahkan dari proses pembentukan karakter remaja. Dalam penerapannya, internalisasi nilai dalam pendidikan agama Islam harus dilakukan secara sistematis, konsisten, dan menyeluruh. Artinya, seluruh pihak yang terlibat dalam pendidikan guru, kepala sekolah, staf, bahkan sesama siswa harus membangun lingkungan mendukung pembentukan karakter (Bhoki et al. , 2. Dengan begitu, moralitas remaja dapat terbentuk secara utuh, tidak hanya diukur dari pengetahuan agamanya, tetapi juga dari bagaimana ia bersikap dalam kehidupan nyata. KESIMPULAN Berdasarkan hasil pembahasan, dapat disimpulkan bahwa internalisasi nilai-nilai pendidikan karakter memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan moralitas remaja. Proses ini tidak hanya mengandalkan pengetahuan tentang nilai-nilai moral, tetapi juga melibatkan penerapan nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari melalui keteladanan, pembiasaan, serta refleksi pribadi. Pendidikan karakter yang efektif memerlukan keterlibatan semua pihak, baik keluarga, sekolah, maupun masyarakat, dalam menciptakan lingkungan yang mendukung internalisasi nilai-nilai tersebut. Keluarga sebagai lingkungan pertama bagi remaja memainkan peran yang sangat krusial dalam proses ini. Keteladanan yang diberikan oleh orang tua sangat menentukan pembentukan karakter remaja, karena mereka cenderung meniru perilaku 709 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 2 No. 3 Oktober 2025 Membangun Moralitas Remaja Melalui Internalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Karakter | Ardian Al Hidaya. Fikri Yandi. SuAodak mariana orang dewasa yang ada di sekitarnya. Di sisi lain, sekolah memiliki tanggung jawab besar dalam memperkuat internalisasi nilai-nilai moral melalui kegiatan pembelajaran yang mengintegrasikan pendidikan karakter, baik dalam kegiatan akademik maupun non-akademik. Namun, proses internalisasi ini tidak tanpa tantangan. Pengaruh negatif dari media sosial, pergaulan bebas, dan lingkungan sosial yang tidak mendukung nilai-nilai moral dapat menghambat upaya pendidikan karakter. Oleh karena itu, diperlukan kerjasama yang lebih erat antara keluarga, sekolah, dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pembentukan moralitas remaja. Secara keseluruhan, internalisasi nilai-nilai pendidikan karakter yang dilakukan secara konsisten dan terintegrasi dapat membentuk remaja menjadi individu yang memiliki moralitas yang baik, bertanggung jawab, dan mampu menghadapi tantangan kehidupan dengan Dengan upaya yang terkoordinasi, diharapkan generasi muda akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki integritas dan karakter yang kuat. REFERENSI