JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Vol. No. November 2024: hlm 1161-1170 EISSN 2622-545X PENGARUH PERENDAMAN TERHADAP NILAI KUAT UJI TEKAN YANG DIPADATKAN DENGAN CARA PROCTOR PADA BENGKOL Josia Mariano Nicky Abel1 dan Gregorius Sandjaja Sentosa2 Program Studi Sarjana Teknik Sipil. Universitas Tarumanagara. Jl. Letjen S. Parman No. Jakarta. Indonesia 325200015@stu. Program Studi Sarjana Teknik Sipil. Universitas Tarumanagara. Jl. Letjen S. Parman No. Jakarta. Indonesia gregoriuss@ft. Masuk: 26-06-2024, revisi: 15-07-2024, diterima untuk diterbitkan: 24-09-2024 ABSTRACT Soil is an important factor in construction. one of the important soil parameters is the unconfined compressive test strength where the unconfined compressive test strength value is the stress value at the maximum strength that can be supported by an object before experiencing damage caused by compressive forces. One of the factors that influences the strength value of the unconfined compression test is water. This research aims to find a decrease in the strength value of the free compression test caused by immersion. This research is based on standards from ASTM D698. ASTM D1557. SNI 1744. ASTM D2166. ASTM D2216, dan ASTM D4318. The highest compressive test strength values for compaction are in dry conditions and modified compaction types. And it has a significant decrease in compressive test strength value after soaking. The lowest compressive test strength value is found in dry conditions and standard compaction after soaking. The higher the water content after passing the optimum water content, the soil experiences a large decrease in the unconfined compressive strength test value. Keywords: Soil. unconfined compressive test strength. ABSTRAK Tanah merupakan salah satu faktor penting dalam konstruksi. salah satu parameter tanah yang penting adalah kuat uji tekan bebas dimana nilai kuat uji tekan bebas adalah nilai tegangan pada kekuatan maksimum yang dapat ditopang oleh suatu benda sebelum mengalami kerusakan yang disebabkan oleh gaya tekan. Salah satu faktor yang mempengaruhi nilai kuat uji tekan bebas adalah air. Penelitian ini bertujuan untuk mencari penurunan nilai kuat uji kuat tekan yang diakibatkan perendaman. Penelitian ini berstandar dari ASTM D698. ASTM D1557. SNI 1744. ASTM D2166. ASTM D2216, dan ASTM D4318. Nilai kuat tekan tertinggi pada pemadatan berada dalam kondisi kering dan jenis pemadatan modifikasi. Dan memiliki penurunan nilai kuat tekan yang signifikan setelah direndam. Nilai kuat tekan terendah terdapat pada kondisi kering dan pemadatan standar setelah direndam. Semakin tinggi kadar air setelah melewati kadar air optimum tanah mengalami penurunan nilai uji kuat tekan bebas yang cukup besar. Kata kunci: Tanah. kuat uji tekan bebas. PENDAHULUAN Tanah merupakan salah satu faktor penting dalam konstruksi. Salah satu parameter tanah yang penting adalah kuat uji tekan bebas dimana nilai kuat uji kuat tekan adalah nilai tegangan pada kekuatan maksimum yang dapat ditopang oleh suatu benda sebelum mengalami kerusakan yang disebabkan oleh gaya tekan. Salah satu faktor yang mempengaruhi nilai uji kuat tekan adalah air. Penelitian ini bertujuan untuk mencari penurunan nilai kuat uji kuat tekan yang diakibatkan perendaman. Nilai tegangan runtuh uji kuat tekan . pada tanah yang dipadatkan dan distabilisasi telah banyak dilakukan dan Nilai qu setelah distabilisasi menggunakan variasi campuran semen dengan memberikan variasi enersi pemadatan meniliki hasil yang berbeda beda (Ayeldeen et al. , 2. Nilai qu tanah dapat bervariasi tergantung pada berbagai faktor, termasuk tingkat pemadatan dan stabilitasi. Temuan menunjukkan bahwa pemadatan dengan energi yang lebih tinggi dapat membuat tanah lebih rentan terhadap kepecahan, meskipun nilai qu-nya mungkin lebih tinggi. Nilai qu dengan stabilisasi semen bisa meningkat lebih tinggi setelah proses curing (Yusuf et al. , 2. Nilai qu juga dapat ditingkatkan dengan menambahkan limbah seperti serbuk kaca, sehingga penambahan limbah dapat mengikat partikel, serta mengisi rongga pada partikel tanah yang menghasilkan kepadatan rongga menjadi lebih tinggi dan kuat tekan pada sampel tanah menjadi lebih tinggi (Stainlaus & Prihatiningsih, 2. Penambahan semen putih menghasilkan nilai kuat tekan bebas yang lebih besar daripada penambahan menggunakan semen hitam (Elendra & Pengaruh Perendaman terhadap Nilai Kuat Uji Tekan yang Dipadatkan dengan Cara Proctor pada Bengkol Abel dan Sentosa . Prihatiningsih, 2. Nilai qu juga dapat ditingkatkan setelah mencampur bahan kimia dan pemeraman setelah beberapa hari (Aribudiman et al. , 2. Semakin rendah kadar air maka nilai uji desak semakin tinggi kuat tekan dan kuat gesernya begitupun sebaliknya semakin tinggi kadar air semakin rendah pula kuat tekan dan kuat gesernya (Ningsih et al, 2. Penambahan abu sawit yang berlebihan dapat membuat penurunan nilai qu (Kusuma et al. Penambahan fly ash yang berlebihan pada tanah yang direndam akan menyebabkan fly ash rusak sehingga menyebabkan nilai qu menurun (Leta et al, 2. Penelitian ini merupakan penelitian yang melanjutkan penelitian yang dilakukan oleh Sentosa et al. yang bertujuan mengeksplorasi beberapa nilai qu untuk tanah dari lokasi yang berbeda, dan merupakan bagian dari analisis karakteristik tanah dasar untuk fondasi jalan raya dikarenakan pada penelitian sebelumnya terapat bebetapa kekurangan yaitu tidak memperhitungkan nilai qu apabila tanah terendam. METODE PENELITIAN Penelitian dilakukan di Laboratorium Mekanika Tanah Universitas Tarumanagara. Jakarta. Sampel tanah diuji karakteristik dan parameter tanah, dengan uji specific grafity, atterberg limit . atas plasti. , grain size . kuran buti. dengan tujuan untuk menentukan ukuran butir tanah. Kemudian dilakukan uji kepadatan dengan pemadatan standar dan modifikasi, untuk mendapatkan kepadatan tanah kering maksimum dan kadar air optimum. Pengujian uji kuat tekan dilakukan pada contoh tanah yang dipadatkan pada dmax, 98% dari dmax pada sisi kering dan sisi basah. Sebelum diuji sampel akan terlebih dahulu direndam selama 4 hari. Penelitian ini berstandar dari ASTM D698. ASTM D1557. SNI 1744. ASTM D2166. ASTM D2216, dan ASTM D4318. Penelitian ini menggunakan sampel tanah yang diambil dari daerah Bengkol. Sulawesi Utara . Sampel tanah Bengkol sudah pernah diuji dan diketahui mengandung tanah lanau 84,7% (Sentosa et. al, 2. Sistematika penelitian: Semua sampel tanah yang akan digunakan diuji karakteristiknya . ndex propertie. meliputi: Spesific gravity, atterberg limit, sebaran ukuran butir. Melakukan pemadatan tanah. Melakukan perendaman. Melakukan unconfined compression test (UCT). Pengolahan data yang didapat dari hasil percobaan. Diagram alir tahapan penelitian dari pengujian index properties hingga pengujian UCT dapat dilihat pada Gambar 1. HASIL PENGUJIAN DAN PEMBAHASAN Berdasarkan Tabel 1, tanah pada daerah Bengkol merupakan tanah lanau kelempungan dikarenakan sebaran butiran halus lanau sebanyak 63,92% dan lempung sebanyak 31,45%. Batas cair tanah sebesar 65,92%, batas plastis sebesar 40,33% dan indeks plastisitas sebesar 25,59%. Berdasarkan parameter tersebut tanah Bengkol dapat dikategorikan dengan simbol MH dalam sistem klasifikasi USCS dan dalam sistem klasifikasi AASHTO dapat dikategorikan dalam kelompok A-7-5. Sampel tanah ketika dipadatkan menggunakan metode pemadatan standar . tandard compaction test. ASTM . dan pemadatan modifikasi . odified compaction test. ASTM 1. menghasilkan kurva seperti pada Gambar 2. Berdasarkan Gambar 2 dan Tabel 2 kadar air optimum (Wop. sebesar 38,5% dengan berat isi kering . sebesar 11,89 kN/m3, 98% dari dmax . isi kerin. sebesar 34,5% dengan d sebesar 11,65 kN/m3, serta 98% dari dmax . isi basa. dari dmax sebesar 42,5% dengan d sebesar 11,65 kN/m3untuk pemadatan standar, sedangkan untuk pemadatan modifikasi didapatkan dmax sebesar 37,4% dengan d sebesar 12,43 kN/m3, 98% dari dmax (Sisi kerin. sebesar 35% dengan d sebesar 12,18 kN/m3, serta 98% dari dmax . isi basa. sebesar 42,5% dengan d sebesar 12,18 kN/m3. Dari Gambar 3, nilai kuat uji tekan terbesar terdapat pada kondisi pemadatan modifikasi tanpa direndam diikuti kondisi pemadatan standar tanpa direndam, kondisi pemadatan modifikasi setelah direndam 4 hari dan yang terkecil adalah kondisi pemadatan standar setelah direndam selama 4 hari. JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Vol. No. November 2024: hlm 1161-1170 EISSN 2622-545X Gambar 1. Diagram alir dari pengujian kompaksi hingga pengujian UCT Pengaruh Perendaman Terhadap Nilai Kuat Uji Tekan Yang Dipadatkan Dengan Cara Proctor Pada Bengkol Abel dan Sentosa . Tabel 1. Parameter perencanaan (Hardiyatmo, 2. Uji Laboratorium Spesific Gravity Atterberg Limit Grain Size Batas Cair(%) Batas Plastis(%) Indeks Plastisitas (%) Gravel(%) Pasir(%) Lanau(%) Lempung(%) Klasifikasi Tanah (USCS) Klasifikasi Tanah (AASHTO) Hasil Pengujian 2,67 65,9235 40,3303 25,5932 0,028 4,628 63,9248 31,4472 A-7-5 Gambar 2. Hasil uji pemadatan standar dan modifikasi Tabel 1. Rangkuman kadar air dan berat isi kering bengkol Kadar Air Pemadatan (%) Standar Modifikasi Kondisi Pemadatan 98% dari dmax (Sisi Kerin. 98% dari dmax (Sisi Basa. Berat Isi Kering . N/m. Standar Modifikasi 11,65 12,18 11,89 12,43 11,65 12,18 JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Vol. No. Bulan terbit Tahun: hlm x-x EISSN 2622-545X Gambar 3. Perbandingan nilai uji kuat tekan tanah yang diuji dengan pemadatan standar dan modifikasi dengan kondisi 98% dari dmax . isi kerin. Keterangan Gambar 3: A SK = Hasil uji kuat tekan setelah dipadatkan dengan metode pemadatan standar pada kondisi 98% dari dmax . isi kerin. A SK . = Hasil uji kuat tekan setelah dipadatkan dengan metode pemadatan standar pada kondisi 98% dari dmax . isi kerin. dan telah direndam selama 4 hari. A MK = Hasil uji kuat tekan setelah dipadatkan dengan metode pemadatan modifikasi pada kondisi 98% dari dmax . isi kerin. A MK . = Hasil uji kuat tekan setelah dipadatkan dengan metode pemadatan modifikasi pada kondisi 98% dari dmax . isi kerin. dan telah direndam selama 4 hari. A S. 1 = Sampel 1 hasil uji kuat tekan. A S. 2 = Sampel 2 hasil uji kuat tekan. A S. 3 = Sampel 2 hasil uji kuat tekan. Dari Gambar 4, nilai kuat uji terbesar terdapat pada kondisi pemadatan modifikasi tanpa direndam diikuti kondisi pemadatan standar tanpa direndam, kondisi pemadatan modifikasi setelah direndam 4 hari dan yang terkecil adalah kondisi pemadatan standar setelah direndam selama 4 hari. Dari Gambar 5, nilai qu terbesar terdapat pada kondisi pemadatan modifikasi tanpa direndam diikuti kondisi pemadatan standar tanpa direndam, untuk kondisi pemadatan modifikasi setelah direndam 4 hari dan kondisi pemadatan standar setelah direndam selama 4 hari memiliki nilai qu yang hampir sama. Berdasarkan Tabel 3 nilai qu tertinggi terdapat pada pemadatan modifkasi yang memiliki kondisi 98% dari dmax . isi kerin. dengan nilai sebesar 1176,87 kN/m2, dan menunjukkan penurunan nilai qu yang signifikan setelah direndam 4 hari, hingga mencapai 125,11 kN/m2. Penurunan nilai qu mencapai 89,37%. Untuk kondisi pemadatan standar nilai qu terbesar terdapat pada kondisi dmax dengan nilai qu sebesar 444,83 kN/m2 dan mengalami penurunan nilai qu setelah direndam 4 hari sebesar 110,77 kN/m2. Penurunan nilai qu mencapai 74,18%. Nilai qu paling rendah terdapat pada sampel tanah yang direndam ketika kondisi 98% dari dmax . isi kerin. pemadatan standar, yaitu sebesar 52,40 kN/m2, jika tidak direndam nilai qu mencapai 343,85 kN/m2. Penurunan terbesar terjadi pada sampel tanah dengan kondisi 98% dari dmax . isi kerin. pada pemadatan modifikasi, yang nilainya mencapai penurunan sebesar 89,37%, sedangkan penurunan terkecil terjadi pada kondisi sampel tanah yang dipadatkan dengan metode pemadatan standar, yaitu nilainya sebesar 62,89%. Swelling tertinggi terjadi pada sampel tanah dengan kondisi 98% dari dmax . isi kerin. pemadatan modifikasi sebesar 2,87% dan swelling terendah terjadi pada sampel tanah dengan kondisi 98% dari dmax . isi basa. pada pemadatan modifikasi, yaitu sebesar 0,11%. Pengaruh Perendaman Terhadap Nilai Kuat Uji Tekan Yang Dipadatkan Dengan Cara Proctor Pada Bengkol Abel dan Sentosa . Gambar 4. Perbandingan nilai uji kuat tekan tanah yang diuji dengan pemadatan standar dan modifikasi dengan kondisi dmax Keterangan Gambar 4: A SO = Hasil uji kuat tekan setelah dipadatkan dengan metode pemadatan standar pada kondisi dmax. A SO . = Hasil uji kuat tekan setelah dipadatkan dengan metode pemadatan standar pada kondisi dmax dan telah direndam selama 4 hari. A MO = Hasil uji kuat tekan setelah dipadatkan dengan metode pemadatan modifikasi pada kondisi dmax. A MO . = Hasil uji kuat tekan setela dipadatkan dengan metode pemadatan modifikasi pada kondisi dmax dan telah direndam selama 4 hari. A S. 1 = Sampel 1 hasil uji kuat tekan. A S. 2 = Sampel 2 hasil uji kuat tekan. A S. 3 = Sampel 2 hasil uji kuat tekan. Gambar 5. Perbandingan nilai uji kuat tekan tanah yang diuji dengan pemadatan standar dan modifikasi dengan kondisi 98% dari dmax . isi basa. Keterangan Gambar 5: JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Vol. No. Bulan terbit Tahun: hlm x-x EISSN 2622-545X A SB = Hasil uji kuat tekan setelah dipadatkan dengan metode pemadatan standar pada kondisi 98% dari dmax . isi basa. A SB . = Hasil uji kuat tekan setelah dipadatkan dengan metode pemadatan standar pada kondisi 98% dari dmax . isi basa. dan telah direndam selama 4 hari. A MB = Hasil uji kuat tekan setelah dipadatkan dengan metode pemadatan modifikasi pada kondisi 98% dari dmax . isi basa. A MB . = Hasil uji kuat tekan setelah dipadatkan dengan metode pemadatan modifikasi pada kondisi 98% dari dmax . isi basa. dan telah direndam selama 4 hari. A S. 1 = Sampel 1 hasil uji kuat tekan. A S. 2 = Sampel 2 hasil uji kuat tekan. A S. 3 = Sampel 2 hasil uji kuat tekan. Tabel 2. Rangkuman nilai uji kuat tekan, qu . N/m. Nilai qu Kondisi Sampel SK . Har. SO . Har. SB . Har. MK . Har. MO . Har. MB . Har. Penurunan qu 426,44 60,36 444,83 144,15 239,38 98,49 841,93 125,11 767,77 113,84 709,62 110,52 432,16 52,40 558,34 123,24 300,55 88,84 896,27 111,70 843,42 138,45 721,47 108,95 343,85 53,94 451,98 110,77 369,28 99,00 1176,87 106,74 765,02 158,06 709,01 102,40 qu Max qu Min 432,16 60,36 558,34 144,15 369,28 99,00 1176,87 125,11 843,42 158,06 721,47 110,52 343,85 52,40 444,83 110,77 239,38 88,84 841,93 106,74 765,02 113,84 709,01 102,40 Max Min 86,03 84,76 74,18 75,10 73,19 62,89 89,37 87,32 81,26 85,12 84,68 85,56 Kadar Air w, (%) 34,93 45,11 37,41 45,98 42,15 43,77 35,11 43,84 36,98 40,82 41,74 44,60 Berat Isi Kering d, . N/m. 11,67 11,70 11,69 12,00 11,64 11,65 12,37 12,16 12,52 12,49 12,19 12,29 Swelling (%) 1,73 0,95 0,54 2,87 0,43 0,11 Gambar 6-9 memperlihatkan beberapa sampel tanah yang telah diuji dengan metode uji kuat tekan. Gambar 6. Hasil pengujian kuat tekan bebas kondisi pemadatan standar 98% dari dmax . isi kerin. Gambar 7. Hasil pengujian kuat tekan bebas kondisi pemadatan standar 98% dari dmax . isi kerin. setelah direndam Pengaruh Perendaman Terhadap Nilai Kuat Uji Tekan Yang Dipadatkan Dengan Cara Proctor Pada Bengkol Abel dan Sentosa . Gambar 8. Hasil pengujian kuat tekan bebas kondisi pemadatan modifikasi 98% dari dmax . isi kerin. Gambar 9. Hasil pengujian kuat tekan bebas kondisi pemadatan modifikasi 98% dari dmax . isi kerin. setelah Berdasarkan Gambar 6-9 kerusakan tanah paling tinggi terjadi pada tanah yang lebih basah dan pada kondisi pemadatan standar. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Pemadatan modifikasi dengan nilai qu sebesar 1176,87 kN/m 2 lebih besar dibandingkan pemadatan standar dengan 558,34 kN/m2 dikarenakan pemadatan modifikasi menggunakan hammer yang lebih berat. Untuk pemadatan standar tanah Bengkol sebaiknya dipadatkan dengan kondisi 98% dari dmax . isi basa. dalam desain karena penurunan terkecil terjadi sebesar 62,89% hingga 73,19% dan swelling tanah cukup kecil yaitu sebesar 0,54% saat terendam. Untuk pemadatan modifikasi tanah Bengkol sebaiknya dipadatkan dengan kondisi dmax dalam desain karena penurunan terkecil terjadi sebesar 81,26% hingga 85,12% dan swelling tanah cukup kecil yaitu sebesar 0,43% saat terendam. Saran Perlu diteliti lagi pengaruh mold selama proses perendaman untuk mengetahui besar penurunan jika perendaman tanpa mold. Perlu melakukan pengujian lebih lanjut untuk mencari faktor yang mengakibatkan penurunan nilai qu. DAFTAR PUSTAKA