JURNAL BASICEDU Volume 8 Nomor 4 Tahun 2024 Halaman 3104 - 3113 Research & Learning in Elementary Education https://jbasic. org/index. php/basicedu Analisis Keterampilan Pemecahan Masalah Siswa melalui Orientasi Masalah Berbasis Wawancara pada Model Problem Based Learning Kharisma Dwinda Rahmadhani1. An Nuril Maulida Fauziah2A Universitas Negeri Surabaya. Indonesia1,2 E-mail: kharismadr15@gmail. com1, annurilfauziah@unesa. Abstrak Keterampilan pemecahan masalah menjadi salah satu dari keterampilan abad ke-21 yang berpotensi untuk dikembangkan dan model pembelajaran yang mampu menunjang keterampilan siswa dalam memecahkan masalah ialah model problem-based learning. Tujuan dilangsungkannya penelitian ini adalah untuk mengukur adanya peningkatan keterampilan pemecahan masalah siswa melalui keterbaruan berupa orientasi masalah berbasis wawancara pada model problem-based learning. Subjek pada penelitian ini yaitu siswa-siswi kelas ViA SMP Negeri 58 Kota Surabaya. Metode yang dipergunakan adalah pre-experimen design dengan rancangan one group-pretest-posttest. Keterampilan pemecahan masalah siswa diukur dengan instrumen pretest dan posttest sebanyak 5 butir soal uraian berdasarkan indikator Bransford & Stain. uji N-Gain dipergunakan untuk menganalisis data dan didapatkan hasil sebanyak 57% siswa termasuk dalam golongan tinggi dan 43% siswa termasuk dalam golongan sedang. Indikator tertinggi terdapat pada indikator mengidentifikasi masalah dengan hasil N-gain sejumlah 0,82. Indikator terendah terdapat pada indikator menentukan solusi dengan hasil N-gain sejumlah 0,61. Maka dapat ditarik kesimpulan jika orientasi masalah berbasis wawancara pada model problembased learning mampu meningkatkan keterampilan siswa dalam memecahkan masalah. Kata Kunci: Problem Based Learning. Wawancara. Keterampilan Pemecahan Masalah Abstract This study aims to measure the increase in students' problem-solving skills through the application of interviewbased problem orientation in the problem-based learning model. The subjects in this research were students in class Vi-A of SMP Negeri 58 Surabaya City. The method used is a pre-experimental design with a one-grouppretest-posttest design. Students' problem-solving skills were measured using pretest and posttest instruments consisting of 5 descriptive questions based on Bransford & Stain indicators. The data analysis technique used was the N-Gain test and the results obtained were that 57% of students were in the high group and 43% of students were in the medium group. The highest indicator is the indicator for identifying problems with an Ngain result of 0. The lowest indicator is the indicator for determining the solution with an N-gain result of So, it can be concluded that interview-based problem orientation in the problem-based learning model can improve students' skills in solving problems. Keywords: Problem Based Learning. Interview. Problem Solving Copyright . 2024 Kharisma Dwinda Rahmadhani. An Nuril Maulida Fauziah A Corresponding author : Email : annurilfauziah@unesa. DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. ISSN 2580-3735 (Media Ceta. ISSN 2580-1147 (Media Onlin. Jurnal Basicedu Vol 8 No 4 Tahun 2024 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 3105 Analisis Keterampilan Pemecahan Masalah Siswa melalui Orientasi Masalah Berbasis Wawancara pada Model Problem Based Learning Ae Kharisma Dwinda Rahmadhani. An Nuril Maulida Fauziah DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. PENDAHULUAN Salah satu bidang akademik yang diajarkan oleh guru kepada siswa SMP adalah Pembelajaran IPA. Kegiatan belajar mengajar IPA sangat berkaitan dengan fenomena alam dan kehidupan nyata sehari-hari, sehingga ketika mempelajari fakta-fakta ilmiah dalam pembelajaran IPA harus melalui sebuah proses penemuan (Amala & Yushardi, 2. Salah satu dari banyaknya tujuan kegiatan belajar mengajar IPA di SMP adalah supaya siswa mampu memaksimalkan keterampilannya dalam menyelidiki gejala-gejala yang terjadi di alam semesta, memecahkan masalah, menentukan ketetapan atau keputusan, serta mengoptimalkan mutu dari karakter mereka sendiri. Setelah lulus SMP, siswa harus mampu memperlihatkan keterampilannya dalam menuntaskan masalah di kehidupan sehari-hari (Azizi & Rasyidi, 2. Keterampilan siswa dalam memecahkan masalah menjadi salah satu dari keterampilan abad ke-21 yang berpotensi untuk dikembangkan (Karmila et al. , 2. Adapun Pendidikan abad 21 menuntut berbagai keterampilan, yaitu Critical Thinking and Problem Solving. Creativity and Innovation. Communication, and Collaboration (Astuti, 2. Kegiatan belajar mengajar akan terasa lebih ringan dan bermanfaat jika siswa memiliki keterampilan dalam menuntaskan masalah yang dapat membantu mereka menemukan jawaban atau solusi dari permasalahan yang ditemui (Zulqarnain & Fatmahanik, 2. Keterampilan siswa dalam menuntaskan masalah menjadi hal yang berpengaruh dalam keberlangsungan kegiatan belajar mengajar IPA, karena mengharuskan siswa untuk menjumpai sendiri konsep-konsep pembelajaran, sehingga kegiatan belajar mengajar menjadi lebih bermanfaat (Sumiantari et al. , 2. Sejalan dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 81 A Tahun 2013 yang mengatur tentang pencapaian kompetensi pembelajaran IPA pada satuan pendidikan menengah pertama (SMP). Peraturan tersebut menyatakan bahwa siswa harus mampu menerapkan apa yang telah dipelajarinya pada situasi dunia nyata, menemukan solusi masalah, memperluas wawasan, dan bekerja sama. Faktanya, keterampilan pemecahan masalah siswa masih terbilang rendah. Pada tahun 2018, studi PISA menemukan bahwa Indonesia memiliki skor rata-rata 379 pada matematika, 371 pada kemampuan membaca, dan 396 pada IPA (Hermaini & Nurdin, 2. Menurut OECD . , skor Indonesia di bidang IPA jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata 489 negara. Fakta tersebut selaras dengan hasil riset Nurjannah et al. , . dengan menggunakan data pra-penelitian yang dikumpulkan dari murid kelas tujuh di salah satu SMP di Kota Surabaya. Penilaian kemampuan awal siswa didasarkan pada pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk mengukur kemampuan pemecahan masalah mereka, skor rata-rata yang diperoleh adalah 31,6, menempatkannya pada kriteria rendah. Hasil penelitian relevan lain yang melibatkan murid kelas Vi-H SMP Kota Surabaya memperlihatkan bahwa permasalahan di kehidupan sehari-hari sudah dikaitkan saat kegiatan belajar mengajar berlangsung dan telah diadakan pengamatan terkait materi IPA. Akan tetapi, siswa kelas ViH masih memperoleh nilai rata-rata sebesar 2,4 pada ujian pertama kemampuan pemecahan masalah yang tergolong dalam kriteria cukup (Ubay & Rosdiana, 2. Pada penelitian ini, pra-penelitian dilangsungkan dengan mengikutsertakan siswa kelas Vi-A di SMP Negeri 58 Kota Surabaya dan menghasilkan kesimpulan yang serupa. Analisis pemetaan awal terhadap kinerja siswa pada tes keterampilan pemecahan masalah menunjukkan nilai rata-rata 35,3 yang menempatkan mereka pada kriteria rendah. Hal ini memperlihatkan bahwa keterampilan siswa dalam menuntaskan masalah masih di bawah rata-rata. Hasil observasi juga memperlihatkan bahwasanya guru IPA sudah menghubungkan materi IPA dengan permasalahan di kehidupan nyata sehari-hari serta mengajak siswa untuk melakukan pengamatan. Namun, siswa hanya sekedar melakukan pengamatan tanpa dibimbing untuk menentukan solusi pemecahan Guru hanya memberikan penjelasan terkait konsep dan teori dari buku paket IPA tanpa didukung dengan pembelajaran yang inovatif. Permasalahan tersebut menunjukkan pentingnya inovasi pembelajaran melalui penerapan model yang inovatif dan berpengaruh bagi keterampilan pemecahan masalah siswa. Jurnal Basicedu Vol 8 No 4 Tahun 2024 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 3106 Analisis Keterampilan Pemecahan Masalah Siswa melalui Orientasi Masalah Berbasis Wawancara pada Model Problem Based Learning Ae Kharisma Dwinda Rahmadhani. An Nuril Maulida Fauziah DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. Model pembelajaran yang mampu menunjang peningkatan keterampilan siswa dalam menuntaskan masalah ialah model problem based learning (Jayadiningrat & Ati, 2. Hal ini selaras dengan pandangan yang dikemukakan oleh Noly Shofiya . yang menyebutkan bahwasanya kegiatan belajar mengajar berbasis permasalahan dapat membantu siswa mencerna ide-ide yang berkenaan dengan situasi nyata. Siswa menjadi inti dari pembelajaran berorientasi permasalahan dengan pendekatan pembelajaran yang meminta mereka bekerja dalam kelompok untuk menuntaskan masalah dan menyelesaikan tugas seperti analisis masalah, perumusan tujuan, penyatuan sumber daya, pemaparan gagasan, dan pengalaman menuntaskan masalah (Chueh & Kao, 2. Berdasarkan hasil riset yang didapatkan Rato . , model problem based learning mampu menumbuhkan keterampilan siswa dalam menuntaskan masalah. Hal ini tampak pada saat siswa melakukan diskusi dalam kelompok kecil, mereka berani mengemukakan gagasan yang ada di kepala mereka untuk menuntaskan permasalahan yang dihadapi dan mereka berani untuk mengajukan pertanyaan ketika kelompok lain mempresentasikan solusi yang didapatkan. Penelitian serupa dilangsungkan oleh Yulistiawati et al. , . yang mendapatkan hasil bahwa implementasi problem based learning mampu meningkatkan keterampilan siswa dalam menuntaskan masalah. Hal ini dapat dibuktikan pada saat siswa melakukan kegiatan penyelidikan, mereka mampu meningkatkan keterampilan mereka dalam mencerna permasalahan, merencanakan strategi penyelesaian, menyelesaikan masalah sesuai strategi, dan mengevaluasi hasil yang didapatkan. Berbagai penelitian telah dilangsungkan untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam memecahkan masalah melalui implementasi model problem based learning. Adapun keterbaruan dari penelitian ini yaitu terletak pada tahap orientasi masalah yang berbasis hasil wawancara. Pada tahap tersebut, siswa melakukan wawancara dengan teknik STAR untuk mengumpulkan informasi tentang pengalaman yang pernah dilakukan Teknik STAR merupakan singkatan dari S-situation . ituasi/keadaa. T-task . ugas dan tantanga. A-action . , dan R-result . (Handayani et al. , 2. Materi yang diangkat pada penelitian ini ialah materi zat aditif . Pemilihan materi ini didasarkan pada fakta bahwa siswa belum mampu membedakan jajanan yang dijual di depan sekolah menggunakan pengawet alami atau pengawet buatan. Sehingga diperlukan penelitian pada materi zat aditif . dengan mengimplementasikan model problem based learning yang memfasilitasi siswa dalam melakukan identifikasi masalah melalui wawancara, penyelidikan uji boraks pada makanan, dan mengkomunikasikan hasil dalam kerja kelompok. Berdasarkan penjabaran yang telah disajikan, maka tujuan diadakannya penelitian ini ialah untuk mengukur terkait peningkatan keterampilan pemecahan masalah siswa SMP setelah diterapkan orientasi masalah berbasis wawancara pada model problem based learning. METODE Desain yang dipergunakan pada penelitian ini yakni pre-experimental design yang hanya memerlukan satu kelas experimen tanpa adanya kelas control. Rancangan penelitian yang dipergunakan adalah rancangan one grup pretest-posttest design, digambarkan pada tabel berikut: Tabel 1. Rancangan Penelitian Pretest Treatment Posttest (Sugiyono, 2. Keterangan: O1 = hasil pretest . ebelum treatmen. O2 = hasil posttest . etelah treatmen. X = treatment berupa implementasi model problem-based learning Jurnal Basicedu Vol 8 No 4 Tahun 2024 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 3107 Analisis Keterampilan Pemecahan Masalah Siswa melalui Orientasi Masalah Berbasis Wawancara pada Model Problem Based Learning Ae Kharisma Dwinda Rahmadhani. An Nuril Maulida Fauziah DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. Subjek yang diikutsertakan dalam penelitian ini yakni 30 siswa kelas Vi-A SMP Negeri 58 Kota Surabaya yang terdiri dari 16 perempuan dan 14 laki-laki. Instrumen yang dipergunakan untuk mengukur keterampilan pemecahan masalah siswa berupa lembar pretest dan posttest berjumlah 5 butir soal uraian sesuai dengan indikator pemecahan masalah dari Bransford & Stain berikut. Tabel 2. Indikator Instrument Pretest dan Posttest Indikator Keterampilan Pemecahan Masalah Nomor Soal Mengidentifikasi masalah Menentukan tujuan Merancang solusi Menentukan solusi Meninjau kembali Data dikumpulkan dengan cara membagikan soal tersebut sebelum dan sesudah diberi perlakuan dan diberi waktu pengerjaan selama 30 menit untuk mengetahui nilai awal dan nilai akhir keterampilan pemecahan masalah siswa. Teknik analisis data untuk mengetahui adanya peningkatan keterampilan pemecahan masalah siswa menggunakan rumus Normalized Gain sebagai berikut: ycIycyycu Oe ycIycyyc yci= 100 Oe ycIycyyc Keterangan: G = Gain ternormalisasi Spo = Skor Posttest Spr = Skor Pretest Kemudian untuk menentukan kriteria peningkatan Normalized Gain (N-gai. sesuai dengan tabel berikut: Tabel 3. Perolehan Kriteria N-gain Indeks Gain Perolehan Kriteria g > 0,7 Tinggi 0,3 O g O 0,7 Sedang g < 0,3 Rendah (Hake, 1. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Data hasil analisis keterampilan pemecahan masalah yang didapatkan dari pengujian awal berupa pretest dan pengujian akhir berupa posttest. Analisis Normalized Gain (N-gai. yang telah dikategorikan setiap peningkatan keterampilan pemecahan masalah, didapatkan hasil pada kriteria tinggi sejumlah 17 siswa dan pada kriteria sedang sejumlah 13 siswa. Jika diakumulasikan menjadi persentase dapat diamati pada Gambar 3. Gambar 1. Grafik Persentase Keterampilan Pemecahan Masalah Siswa Berdasarkan hasil tes yang telah diselesaikan oleh siswa, dapat diketahui jika peningkatan keterampilan siswa dalam menuntaskan masalah setelah dianalisis menggunakan Uji N-Gain diperoleh hasil sebesar 57% Jurnal Basicedu Vol 8 No 4 Tahun 2024 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 3108 Analisis Keterampilan Pemecahan Masalah Siswa melalui Orientasi Masalah Berbasis Wawancara pada Model Problem Based Learning Ae Kharisma Dwinda Rahmadhani. An Nuril Maulida Fauziah DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. siswa berkriteria tinggi dan 43% siswa berkriteria sedang. Setiap aspek indikator keterampilan pemecahan masalah dari Bransford & Stain meliputi: . mengidentifikasi masalah. menentukan tujuan. menentukan solusi. meninjau kembali. Selanjutnya dilakukan analisis untuk mengukur hasil ketercapaian siswa dalam menuntaskan masalah pada setiap indikator yang disajikan pada tabel berikut. Tabel 4. Hasil N-Gain tiap Indikator Indikator N-gain Kategori Mengidentifikasi masalah 0,82 Tinggi Menentukan tujuan 0,63 Sedang Merancang solusi 0,71 Tinggi Menentukan solusi 0,61 Sedang Meninjau kembali 0,64 Sedang Pembahasan Fase pertama problem-based learning adalah orientasi masalah. Pada fase ini melatihkan siswa untuk mengidentifikasi masalah. Guru menyajikan permasalahan nyata yang dialami oleh tiga orang siswa yang mengeluhkan sakit perut setelah mengonsumsi jajanan di depan sekolah. Siswa diminta untuk mengidentifikasi jajanan manakah yang menjadi penyebab sakit perut, secara langsung melalui kegiatan wawancara dengan pedagang jajanan di depan sekolah sebagai berikut: Gambar 2. Hasil Wawancara Siswa Berdasarkan gambar di atas, permasalahan yang didapatkan siswa setelah melakukan wawancara adalah terdapat beberapa pedagang yang tidak mengetahui bahan pengawet yang aman digunakan untuk membuat makanan lebih tahan lama. Wawancara digunakan sebagai teknik untuk mengumpulkan informasi dan menemukan permasalahan yang harus diselidiki serta menguasai sesuatu yang lebih mendalam dari narasumber (Sugiyono, 2. Pada kegiatan wawancara dengan teknik STAR ini, siswa diminta untuk mengidentifikasi situasi, tantangan, tindakan, dan hasil yang diperoleh pedagang selama berjualan jajanan. Penggunaan metode STAR (Situation. Task. Action. Resul. dapat diaplikasikan untuk meningkatkan keefektifan hasil wawancara, karena jenis pertanyaannya yang lebih terstruktur (Mangundjaya et al. , 2. Kegiatan wawancara juga dilakukan sebagai bekal pengetahuan awal, agar siswa nantinya dapat melakukan pemecahan masalah. Pengetahuan awal siswa sangat penting untuk memaksimalkan efektivitas pembelajaran berbasis masalah di kelas (Hikmawati et al. , 2. Berkat pengetahuan awal yang dimiliki oleh siswa, menjadikan mereka lebih mampu untuk memahami dan mengingat pengajaran di kelas (Hasanuddin. Hal ini membuktikan bahwasanya pengetahuan awal dapat digunakan sebagai bekal yang cukup untuk memastikan hasil perolehan belajar (Prastiti, 2. Oleh karena itu, pada penelitian ini indikator mengidentifikasi masalah memperoleh ketercapaian tertinggi karena siswa berhasil mengidentifikasi secara langsung permasalahan yang terjadi di sekitarnya serta mendorong mereka memahami permasalahan dengan benar melalui kegiatan wawancara. Mengidentifikasi kasus membuat siswa akan merasa lebih ringan dalam Jurnal Basicedu Vol 8 No 4 Tahun 2024 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 3109 Analisis Keterampilan Pemecahan Masalah Siswa melalui Orientasi Masalah Berbasis Wawancara pada Model Problem Based Learning Ae Kharisma Dwinda Rahmadhani. An Nuril Maulida Fauziah DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. menyelesaikan sebuah persoalan dan memastikan solusi penyelesaiannya dengan tepat (Dwianjani & Candiasa. Fase kedua problem-based learning adalah mengoordinasikan siswa untuk belajar. Pada fase ini melatihkan siswa untuk menentukan tujuan dari permasalahan yang didapat melalui kegiatan berkelompok. Pembentukan kelompok-kelompok kecil ini bermaksud agar siswa mampu untuk saling membagi pengetahuan yang dimilikinya dan bertukar pendapat bersama kelompok mereka. Hal ini sejalan dengan teori belajar sosial bahwa peserta didik dapat mengembangkan pemahaman belajar melalui LKPD yang dikerjakan secara berkelompok (Lesilolo, 2. Hasil pada indikator menentukan tujuan tergolong dalam kriteria sedang karena kurangnya ketelitian siswa dalam mencerna permasalahan dan membaca soal. Menentukan tujuan tidak sama dengan mengidentifikasi masalah, karena dalam kegiatan ini siswa harus mampu menganalisis informasi yang sudah didapatkan sehingga ia mampu menentukan tujuan permasalahan yang disajikan. Menentukan tujuan sangat berpengaruh, karena kesalahan ketika menentukan tujuan akan berpengaruh pada solusi penyelesaian masalah (Baten, 1. Fase ketiga problem-based learning adalah membimbing penyelidikan. Pada fase ini melatihkan siswa untuk merancang solusi atau strategi permasalahan. Pada indikator ini diperoleh hasil N-gain tinggi karena siswa berpengalaman secara langsung melalui kegiatan uji boraks pada makanan dengan menggunakan cairan kunyit. Guru sebagai fasilitator hanya menyediakan alat-alat praktikum dan bahan-bahan makanan berupa sampel jajanan didepan sekolah. Guru hanya menjelaskan sekilas fungsi dari alat bahan tersebut dan siswa diminta untuk merancang sendiri langkah-langkah uji boraks pada makanan dengan mempergunakan alat dan bahan yang sudah disediakan oleh guru. Hal ini selaras dengan teori Vygotsky bahwasanya siswa diberi bantuan penuh pada tahap awal pembelajaran, lalu secara bertahap bantuan tersebut dikurangi dan siswa diberi kesempatan untuk mengambil alih seiring kemampuan mereka meningkat (Suardipa, 2. Di fase ini, siswa juga membuktikan hasil wawancara, apakah pedagang tersebut benar-benar tidak menggunakan pengawet buatan. Menurut Herlina et al. , . , tahapan merancang solusi penuntasan masalah dapat dilangsungkan dengan menganalisis ulang tujuan yang sudah ditentukan, juga mempertimbangkan solusi atau strategi yang tepat agar tujuan tersebut dapat terwujud. Gambar 3. Siswa Melakukan Uji Boraks pada Makanan Fase keempat problem based learning adalah mengembangkan dan menyajikan hasil karya. Pada fase ini melatihkan siswa untuk menentukan solusi atau strategi permasalahan. Siswa diminta untuk menentukan solusi pengganti boraks dan menyajikannya menjadi sebuah karya dalam bentuk poster, sehingga karya tersebut bermanfaat bagi banyak orang. Selanjutnya, poster dibagikan kepada pedagang dengan tujuan agar pedagang tersebut mengetahui solusi mengawetkan makanan tanpa menggunakan boraks. Sejalan dengan pendapat Hwang et al. , . , bahwasanya kemampuan dalam menyelesaikan masalah dapat dibuktikan dengan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat dan baru sebagai bentuk kreativitas. Tahapan ini termasuk dalam kategori sedang yang menandakan bahwa masih terdapat beberapa siswa belum mampu menentukan solusi permasalahan dengan detail. Hal tersebut dikarenakan langkah-langkah pemecahan masalah yang dituliskan siswa tidak sesuai dengan rancangan atau strategi solusi yang sudah ditentukan sebelumnya. Hal ini sejalan Jurnal Basicedu Vol 8 No 4 Tahun 2024 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 3110 Analisis Keterampilan Pemecahan Masalah Siswa melalui Orientasi Masalah Berbasis Wawancara pada Model Problem Based Learning Ae Kharisma Dwinda Rahmadhani. An Nuril Maulida Fauziah DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. dengan pendapat Husna & Burais . , pada tahap ini siswa diminta untuk menetapkan langkah-langkah penyelesaian masalah yang sejalan dengan rancangan alternatif yang sudah dipastikan sebelumnya. Gambar 4. Siswa Membagikan Poster ke Pedagang Gambar 5. Hasil Poster Siswa Fase kelima problem-based learning adalah membimbing menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Pada fase ini, melatihkan siswa untuk meninjau kembali mulai dari tahap mengidentifikasi masalah hingga tahap pemecahan masalah. Siswa diminta untuk mengevaluasi hasilnya dalam memecahkan masalah dalam bentuk gagasan tertulis. Pemikiran siswa dapat terbuka lebar apabila guru sering memberi tugas untuk menuliskan gagasannya agar segala ide yang ada dalam benak dan pikirannya dapat dituangkan dalam bentuk tulisan (Tabelessy, 2. Indikator meninjau kembali tergolong dalam kategori sedang karena siswa tidak memeriksa kembali jawabannya dari awal hingga akhir. Selaras dengan penelitian Annizar et al. , . yang beranggapan jika siswa sangat mungkin untuk tidak memeriksa jawabannya kembali dikarenakan hal tersebut akan menyita waktu yang lebih lama dan mereka telah yakin dengan keakuratan jawaban yang sudah Tahapan ini masuk dalam kategori sedang dikarenakan setelah selesai mengerjakan soal, siswa tidak melakukan pengoreksian kembali, mereka mengatakan jika sudah cukup yakin dengan hasil jawaban yang Penelitian lain juga menyebutkan bahwa siswa tidak mampu menuliskan kesimpulan karena belum menemukan solusi dari permasalahan, tidak memeriksa kembali hasil jawabannya dari awal hingga akhir, dan tidak melakukan pengecekan atau pembuktian untuk memastikan kebenaran jawaban (Sofia et al. , 2. Peninjauan kembali penting untuk dilaksanakan, agar di setiap tahapan dapat diketahui kelengkapan jawaban yang dituliskan, serta untuk mengetahui apakah solusi yang ditentukan sudah selaras dengan tujuannya. Jikalau solusi penyelesaian masalah tidak selaras dengan tujuan, maka siswa perlu melakukan pengulangan ke fase yang diduga terjadi sebuah kesalahan (Susiana, 2. Gambar 6. Hasil Gagasan Tertulis Siswa Jurnal Basicedu Vol 8 No 4 Tahun 2024 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 3111 Analisis Keterampilan Pemecahan Masalah Siswa melalui Orientasi Masalah Berbasis Wawancara pada Model Problem Based Learning Ae Kharisma Dwinda Rahmadhani. An Nuril Maulida Fauziah DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. Orientasi masalah berbasis wawancara pada model problem-based learning yang telah diterapkan pada penelitian ini memperoleh hasil yang berdampak positif. Kebermanfaatan dari penelitian ini yaitu guru mampu meningkatkan kemampuan dalam mendesain pembelajaran problem-based learning dengan orientasi masalah yang berbasis wawancara, sehingga dapat meningkatkan keterampilan pemecahan masalah siswa. Keberhasilan yang diperoleh dari adanya penelitian ini yaitu siswa mampu mengidentifikasi masalah melalui kegiatan wawancara, siswa mampu memecahkan masalah melalui proses penyelidikan dan siswa mampu menemukan solusi pemecahan masalah. Selain itu, siswa juga secara aktif mengkontruksi pengetahuan awal yang mereka miliki melalui interaksi dengan lingkungan belajar yang dirancang oleh guru. Keterbatasan peneliti dalam penelitian ini adalah waktu yang terbatas dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran model problem-based learning. Dengan keterbatasan waktu yang ada, kegiatan belajar mengajar di dalam kelas harus bisa dilaksanakan seefektif mungkin, sehingga tetap berjalan dengan lancar. Selain itu, sarana prasarana juga menjadi keterbatasan dalam penelitian ini. Kurangnya alat-alat praktikum yang dimiliki oleh sekolah dan juga tidak adanya ruang laboratorium membuat kegiatan penyelidikan dilangsungkan di dalam kelas serta menggunakan alat dan bahan seadanya yang dimiliki oleh peneliti. Oleh karena itu, diperlukan persiapan yang lebih matang oleh peneliti untuk mengatasi adanya keterbatasan dalam hal sarana dan prasarana agar proses penyelidikan yang dilakukan oleh siswa dapat berjalan dengan maksimal. KESIMPULAN Orientasi masalah berbasis wawancara pada model problem-based learning terbukti efektif untuk meningkatkan keterampilan pemecahan masalah siswa kelas Vi-A SMP Negeri 58 Surabaya. Hal ini terbukti berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, siswa mampu mengidentifikasi masalah melalui kegiatan wawancara dan siswa mampu menemukan solusi pemecahan masalah melalui proses penyelidikan. Selain itu, hasil pretest dan posttest siswa juga menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan. Dengan demikian, keterbaruan berupa orientasi masalah berbasis wawancara pada model problem-based learning memiliki pengaruh nyata terhadap keterampilan pemecahan masalah siswa. DAFTAR PUSTAKA