JURNAL WILAYAH DAN KOTA JURNAL VOL 10 NO 01 PENGARUH PERUBAHAN KEBIASAAN BERJALAN DAN PERSEPSI TENTANG WALKABILITY PADA NIAT UNTUK BERJALAN MAHASISWA PASCA PANDEMI COVID-19 Romeiza Syafriharti. Fikri Heriandi. 1, . Program Studi Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota. Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer Universitas Komputer Indonesia. Jln. Dipatiukur No. Bandung. Jawa Barat, 40132 E-mail: romeiza. syafriharti@email. , fikri. 10620004@email. ABSTRAK Mahasiswa merupakan salah satu kelompok yang terdampak pandemi COVID-19, yang rentan terjadi penurunan aktivitas fisik. Berjalan, sebagai salah satu bentuk aktivitas fisik, dapat mengatasi masalah kesehatan fisik dan mental. Penelitian ini merupakan penelitian eksploratif dan kuantitatif. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh struktural persepsi tentang lingkungan terbangun . erceived walkabilit. , dengan indikator keselamatan, keamanan, dan kenyamanan, serta perubahan durasi berjalan selama pandemi COVID-19 dibandingkan sebelumnya . hange in walking habi. pada niat meningkatkan durasi berjalan pasca pandemi COVID-19 . ntention to Responden adalah mahasiswa Universitas Komputer Indonesia yang berdomisili sejak awal di Kota Bandung. Metode analisis adalah structural equation modeling Ae part least square dengan menggunakan SmartPLS versi 4. Temuan studi ini adalah bahwa tidak ada perubahan yang berarti pada durasi berjalan mahasiswa selama pandemi COVID-19 dibandingkan sebelumnya, ada niat untuk meningkatkan durasi berjalan pasca pandemic COVID-19, serta keselamatan, keamanan, dan kenyamanan adalah faktor yang menentukan penilaian tentang walkability lingkungan. Change in walking habit dan perceived walkability secara signifikan memengaruhi intention to walk. Perceived walkability juga memengaruhi change in walking habit. Pengaruh langsung perceived walkability pada intention to walk lebih besar daripada pengaruh tidak langsung dengan mediasi change in walking habit. Adanya peran walkability pada perilaku berjalan membutuhkan perhatian pemerintah kota untuk merencanakan kota yang ramah bagi pejalan. Kata Kunci: Walkability. SmartPLS versi 4. Bandung ABSTRACT College students are one of the groups affected by the COVID-19 pandemic, which is vulnerable to a decrease in physical activity. Walking, as a form of physical activity, can overcome physical and mental health problems. This research is exploratory and quantitative research. The purpose of this study was to analyze the structural effect of perceptions about the built environment . erceived walkabilit. , with indicators of safety, security, and comfort, as well as changes in walking duration during the COVID-19 pandemic compared to before . hange in walking habi. on the intention to increase walking duration post-pandemic. COVID-19 . ntention to wal. Respondents are students of the Indonesian Computer University who have lived since the beginning in the city of Bandung. The analysis method is structural equation modeling Ae part least square using SmartPLS version 4. The findings of this study are that there is no significant change in the duration of students' walks during the COVID-19 pandemic compared to before, there is an intention to increase the duration of walks after the COVID-19 pandemic, as well as safety, security, and comfort, are factors that determine the assessment of environmental walkability. Changes in walking habits and perceived walkability significantly affect the intention to walk. Perceived walkability also affects changes in walking habits. The direct effect of perceived walkability on the intention to walk is greater than the indirect effect mediated by change in walking habits. The existence of the role of walkability in walking behavior requires the attention of the city government to plan a city that is friendly for Keywords: Walkability. SmartPLS version 4. college student. Bandung Pengaruh Perubahan Kebiasaan Berjalan dan Persepsi Tentang Walkability pada Niat Untuk Berjalan Mahasiswa Pasca Pandemi Covid-19 JURNAL JURNAL WILAYAH DAN KOTA VOL 10 NO 01 PENDAHULUAN asus pertama COVID-19 di Indonesia terkonfirmasi pada tanggal 2 Maret 2020 . ttps://w. id/), beberapa bulan setelah kasus pertama terkonfirmasi di Wuhan. China, pada 31 Desember 2019 (WHO, 2. Pandemi ini telah banyak membawa perubahan bagi kehidupan di seluruh dunia, di antaranya perubahan gaya hidup, di antaranya yang berkaitan dengan aktivitas fisik (Stockwell dkk. , 2021. Galali, 2021. Leyn-Zarceyo dkk. , 2021. Mel & Stenson, 2. , mengonsumsi makanan (Galali, 2021. Loh dkk. , 2. , maupun kepedulian tentang kesehatan (Shacham dkk. Widiatmoko dkk. , 2. Mahasiswa merupakan salah satu kelompok yang sangat merasakan dampak COVID-19. Kebijakan pemerintah yang menerapkan pembatasan kegiatan selama masa pandemi menyebabkan mahasiswa harus belajar dari rumah. Aktivitas berjalan dibutuhkan untuk mengatasi kesehatan fisik dan mental mahasiswa akibat pandemi COVID-19 (Liu , 2. Namun, dari hasil review sistematik yang dilakukan oleh Lypez-Valenciano . ditemukan bahwa aktivitas berjalan mahasiswa selama pandemi COVID-19 Studi yang dilakukan oleh ynncen & Tanyeri . juga menemukan penurunan aktivitas fisik mahasiswa di Turki selama pandemi COVID-19 dibandingkan sebelumnya. Hal yang sama juga dihasilkan oleh studi tentang mahasiswa di Bangladesh selama pandemi (Rahman dkk. , 2. Banyaknya studi tentang dampak pandemi COVID-19 terhadap aktivitas mahasiswa memperlihatkan bahwa topik ini menarik dan perlu untuk diteliti. Meski demikian, belum banyak studi yang berkenaan dengan niat berjalan mahasiswa pasca pandemi COVID-19. Berdasarkan hasil studi yang menemukan bahwa pentingnya aktivitas fisik bagi mahasiswa untuk mengatasi masalah kesehatan, sementara aktivitas fisik tersebut menurun selama pandemi COVID-19, maka studi ini adalah tentang niat aktivitas fisik mahasiswa setelah pandemi COVID-19, khususnya tentang aktivitas berjalan. Berjalan sebagai salah satu moda transportasi tangguh, bahkan ketika menghadapi krisis akibat pandemi, perlu mendapat perhatian (Shaer dkk. , 2. Dengan demikian, studi ini bermanfaat untuk melengkapi studi-studi sebelumnya. Untuk memahami niat untuk melakukan sesuatu pada masa yang akan datang, teori yang sering digunakan adalah Theory of Planned Behavior (TPB) yang saat ini sudah mengalami beberapa kali revisi, namun tetap mempertimbangkan attitudes, subjective norms, dan perceived behavioral control (Azjen, 2. Untuk studi tentang perilaku. TPB telah memberikan kerangka kerja yang bermanfaat (Bosnjak dkk. , 2. Dalam penggunannya. TPB juga sering diperluas, di antaranya dengan menembahkan variabel kebiasaan . Beberapa penelitian membuktikan bahwa kebiasaan memengaruhi niat untuk perilaku masa yang akan datang (Ahmed dkk. , 2021. Huang dkk. , 2. Dengan demikian, kebiasaan mahasiswa berjalan pada masa pandemi COVID-19 akan dimasukkan ke dalam model pada studi ini. Selain kebiasaan berjalan pada masa lalu dan saat ini, walkability di lingkungannya juga memengaruhi keputusan orang berjalan atau tidak pada masa yang akan datang (Cambra & Moura, 2020. Hino & Asami, 2. Walkability ini bahkan juga penting untuk meningkatkan aktivitas berjalan di masa pandemi (Shaer dkk. , 2. Berangkat dari isu pandemi COVID-19 dan studi terdahulu, maka tujuan studi ini adalah untuk menganalisis apakah kebiasaan berjalan selama pandemi COVID-19 dibandingkan sebelumnya dan walkability memengaruhi niat mahasiswa untuk berjalan setelah COVID-19 berakhir. Selain itu, tujuan lain dari studi ini adalah untuk memahami kebiasaan berjalan mahasiswa pada saat pandemi, apakah lebih sering dibandingkan sebelumnya, atau sebaliknya. Sebagai salah satu aktivitas fisik, aktivitas berjalan diharapkan mampu mengatasi masalah kesehatan fisik dan mental, serta mengatasi masalah keterbatasan moda transportasi ketika pandemi terjadi. Pengaruh Perubahan Kebiasaan Berjalan dan Persepsi Tentang Walkability pada Niat Untuk Berjalan Mahasiswa Pasca Pandemi Covid-19 JURNAL JURNAL WILAYAH DAN KOTA VOL 10 NO 01 II. METODE PENELITIAN Waktu dan Lokasi Studi ini merupakan penelitian kuantitatif dan eksploratif karena model yang dikembangkan lebih bersifat prediktif daripada konfirmatif. Data yang dianalisis dapat dikategorikan sebagai data longitudinal karena respon yang diberikan oleh partisipan adalah kebiasaan aktivitas berjalan saat pandemi COVID-19 dibandingkan dengan sebelumnya, serta niat berjalan pasca pandemi. Mahasiswa yang menjadi partisipan adalah mahasiswa Universitas Komputer Indonesia yang sejak awal berdomisili di Bandung. Pembatasan partisipan ini untuk menghindari bias pengukuran walkability jika ada partisipan yang belum terlalu lama tinggal di Bandung. Pada dasarnya, studi ini merupakan bagian dari studi niat berjalan mahasiswa pasca pandemi dengan variabel yang lebih kompleks dan tidak hanya melibatkan mahasiswa Universitas Komputer Indonesia saja. Penelitian ini sudah dimulai sejak bulan Januari 2022 sampai sekarang. Pengumpulan Data Survey dilakukan dengan menyebarkan kuesioner menggunakan aplikasi Google Forms. Waktu penyebaran kuesioner adalah selama bulan Januari 2022 dan pada saat itu proses pembelajaran masih dilaksanakan secara dalam jaringan . Dari respon kuesioner yang diperoleh, sebanyak 206 data dapat diolah. Metode Analisis Data Ada 3 . variabel yang akan dianalisis pada studi ini, yaitu niat berjalan pasca pandemic COVID-19, kebiasaan berjalan saat pandemi COVID-19 dibandingkan sebelumnya, serta persepsi tentang walkability lingkungan. Kebiasaan berjalan pada masa lalu secara positif memengaruhi perilaku berjalan (Tanaka dkk. , 2. Sesuai dengan studi terdahulu, bahwa walkability memengaruhi perilaku berjalan secara positif, baik kebiasaan berjalan yang sudah dilakukan, maupun keputusan untuk berjalan atau tidak pada masa yang akan datang (Syafriharti dkk. , 2019. Cambra & Moura. Hino & Asami, 2021. Yu dkk. , 2. , maka model konseptual untuk studi ini seperti dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1. Model Konseptual Pada Gambar 1, dapat dilihat bahwa Habit merupakan mediasi untuk Walkability memengaruhi Intention. Secara keseluruhan, ada 4 . hipotesis yang akan diuji, yaitu: Pengaruh Perubahan Kebiasaan Berjalan dan Persepsi Tentang Walkability pada Niat Untuk Berjalan Mahasiswa Pasca Pandemi Covid-19 JURNAL JURNAL WILAYAH DAN KOTA VOL 10 NO 01 Hipotesis 1 (H. : Perceived Walkability memengaruhi Change in Walking Habit secara positif Hipotesis 2 (H. : Perceived Walkability memengaruhi Intention to Walk secara Hipotesis 3 (H. : Change in Walking Habit memengaruhi Intention to Walk secara positif Hipotesis 4 (H. : Change in Walking Habit memediasi pengaruh positif Percevied Walkability pada Intention to Walk Dari tiga variabel yang dianalisis, hanya Walkability yang merupakan variabel Walkability dapat diukur dengan dua cara, yaitu secara objektif dan secara subjektif (Zhang & Mu, 2. Pada studi ini, metode pengukuran untuk walkability yang digunakan adalah secara subjektif, yaitu berdasarkan persepsi atau yang dirasakan oleh responden. Indikator yang digunakan untuk walkability adalah keselamatan dari kecelakaan lalu lintas (Syafriharti dkk. , 2021. Yoon & Lee, 2019. Yu dkk. , 2. , keamanan dari kriminalitas (Syafriharti dkk. , 2021. Arellana dkk. , 2019. Fonseca dkk. , 2. , dan menyenangkan (Syafriharti dkk. , 2021. Knapskog dkk. , 2019. Riggs, 2. Habit dan Intention hanya mempunyai satu indikator, sehingga dapat dikategorikan sebagai variabel manifest dalam studi ini. Berbagai ukuran dapat digunakan untuk mengukur aktivitas berjalan, salah satunya adalah durasi berjalan. Durasi berjalan merupakan ukuran penting untuk aktivitas berjalan (Hosseini & Hatamzadeh, 2021. Liu dkk. Pernyataan untuk Habit adalah AuDurasi berjalan selama pandemi COVID-19 lebih lama dibandingkan sebelumnyaAy dan untuk Intention adalah AuPasca pandemi CODID-19, saya berniat meningkatkan durasi berjalan sayaAy. Untuk menghindari bias pengukuran, digunakan skala-Likert yang berbeda, yaitu 5 skala-Likert untuk Habit dan 7 skala-Likert untuk Intention, dengan respon Ausangat tidak setujuAy untuk 1 dan Ausangat setujuAy untuk 5 (Habi. dan 7 (Intentio. Dengan tidak memberi label untuk skala lain selain yang terendah dan tertinggi, maka data yang diperoleh adalah data interval. Indikator untuk walkability adalah AuLalu lintas di Kota Bandung tidak membahayakan pejalanAy . eselamatan = WSl. AuBerjalan di Kota Bandung aman dari jambret/pencopetAy . eamanan = WAm. , dan AuBerjalan di kota Bandung memberikan pengalaman yang menyenangkanAy . enyenangkan = WSn. Respon untuk indikator walkability menggunakan 7 skala-Likert, dengan 1 mewakili Ausangat tidak setujuAy dan 7 Ausangat setujuAy. Metode analisis data menggunakan Structural Equation Modelling (SEM), yaitu SEM Partial Least Square (PLS). Beberapa pertimbangan yang mendasari penggunaan SEM PLS untuk analisis adalah karena ada variabel laten yang bersifat formatif, yaitu Walkability. Selain itu juga karena ada variabel mediasi, yaitu Habit. Perangkat lunak yang digunakan adalah SmartPLS 4. HASIL DAN PEMBAHASAN Statistik Deskriptif Pada Tabel 1, yang merupakan data karakteristik sosio-demografi responden, dapat dilihat bahwa responden perempuan relatif lebih banyak daripada responden laki-laki. Usia responden terbanyak adalah 19 dan 20 tahun, yaitu lebih dari 50% total responden. Berdasarkan jenjang pendidikan, responden terbanyak adalah mahasiswa Strata-1. Lebih dari 60% responden memiliki sepeda atau ada sepeda yang bisa digunakan. Sebagian besar mempunya sepeda motor atau ada sepeda motor yang bisa digunakan . ampir 100%). Untuk ketersediaan mobil yang bisa digunakan, hampir berimbang antara yang menjawab AuadaAy dan yang AutidakAy. Pengaruh Perubahan Kebiasaan Berjalan dan Persepsi Tentang Walkability pada Niat Untuk Berjalan Mahasiswa Pasca Pandemi Covid-19 VOL 10 NO 01 JURNAL WILAYAH DAN KOTA JURNAL Tabel 1. Karakteristik Sosio-Demografi Responden Sosio-Demografi Jenis kelamin Persentase Laki-laki Perempuan Usia . Sosio-Demografi Jenjang pendidikan Persentase Ada sepeda yang bisa digunakan Ada Tidak Ada sepeda motor yang bisa digunakan Ada Tidak Ada mobil yang bisa digunakan Ada Tidak Respon yang diberikan oleh responden untuk setiap variabel dan indikator dapat dilihat pada Gambar 2 dan Tabel 3. Respon untuk Habit . ebiasaan berjalan saat pandemi COVID-19 lebih lama durasinya dibandingkan sebelumny. , sebagian besar adalah 3. Dengan menggunakan 5 skala-Likert, berarti bahwa sebagian besar respon adalah tidak mengarah ke Ausangat tidak setujuAy dan juga tidak mengarah ke Ausangat setujuAy. Namun, respon yang mengarah ke Ausangat setujuAy sedikit lebih banyak dibandingkan respon Ausangat tidak setujuAy. Sementara untuk respon Intention . erniat untuk meningkatkan durasi berjalan pasca pandemi COVID-. , respon lebih mengarah kepada Ausangat setujuAy. Untuk variabel Walkability, kecenderungan respon Ausangat tidak setujuAy lebih banyak pada Auaman dari kriminalitas . opet/jambre. Ay dibandingkan dua indikator lainnya, meskipun secara keseluruhan respon lebih mengarah ke Ausangat setujuAy. I N T E N T I O N1,94% 11,17% 1,94% 2,43% WSNG 4,37% WAMN 27,67% 22,33% 6,80% 11,17% 0,77% WSLA 10,53% 1,75% 20,39% 25,73% 17,96% 24,76% 24,12% 16,02% 25,73% 30,10% 29,39% H A B I T 2,50% 15,03% 23,30% 16,50% 20,39% 50,08% 5,83% 3,88% 13,05% 24,04% 8,35% Gambar 2. Persentase Respon Tabel 2. Statistik Deksriptif Variabel/Indikator Variabel/Indikator Habit Walkability Min Max Mean Std. Dev. Kurtosis Skewness Pengaruh Perubahan Kebiasaan Berjalan dan Persepsi Tentang Walkability pada Niat Untuk Berjalan Mahasiswa Pasca Pandemi Covid-19 JURNAL JURNAL WILAYAH DAN KOTA WSla WAmn WSng Intention VOL 10 NO 01 Untuk memenuhi persyaratan analisis dengan SEM-PLS, data harus berdistribusi normal, meskipun tidak seketat pada SEM berbasis co-varian. Dari nilai kurtosis dan skewness pada Tabel 2 dapat dilihat bahwa persyaratan ini sudah terpenuhi. Uji Validitas untuk Walkability Pengujian validitas konstruk untuk model pada penelitian ini hanya dilakukan untuk variabel atau konstruk Walkability, yaitu persepsi tentang walkability yang terdiri dari 3 . indikator formatif. Dalam hal ini, persepsi tentang walkability diasumsikan disebabkan oleh persepsi tentang aspek keamanan dari lalu lintas kendaraan, keamanan dari kriminalitas, dan memberikan pengalaman menyenangkan. Sedangkan konstruk Habit . hange in walking habitsAe masa pandemi COVID-19 dibandingkan sebelumny. dan Intention . ntention to walk Ae pasca pandemi COVID-. merupakan variabel manifest, sehingga tidak perlu dilakukan uji validitas. Untuk uji validitas konvergen variabel Walkability dilakukan analisis redundansi dengan menggunakan global item (Sarstedt dkk. , 2. , seperti dapat dilihat pada Gambar 3 dan hasilnya pada Tabel 3. Pada Gambar 3 dapat dilihat bahwa Std. Beta bernilai 0. ebih besar dari 0,. , sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel Walkability lolos uji validitas konvergen (Hair dkk. , 2. Dengan kata lain, ketiga indikator dapat membentuk variabel Walkability. Gambar 3. Analisis Redundansi dengan Item Global untuk Persepsi tentang Walkability Selanjutnya untuk uji kolinearitas, digunakan nilai Variance Inflation Factor (VIF). Pada Tabel 3 dapat dilihat bahwa semua nilai VIF untuk semua indikator di bawah 5, maka tidak ditemukan isu kolinearitas (Hair dkk. , 2. Tabel 3. Pengujian Model Pengukuran untuk Konstruk Formatif (Walkabilit. Path WAmn -> Global Walkability WSla -> Global Walkability WSng -> Global Walkability Std. Beta VIF Outer Weight Outer Loading Std. Error t-value p-values Untuk uji signifikansi dan relevansi indikator-indikator konstruk Walkability, digunakan nilai outer weight dan nilai-p . -value. Pada Tabel 3 dapat dilihat bahwa nilai outer weight untuk WAmn E Global Walkability sangat kecil dan nilai-p sangat besar. Pengaruh Perubahan Kebiasaan Berjalan dan Persepsi Tentang Walkability pada Niat Untuk Berjalan Mahasiswa Pasca Pandemi Covid-19 JURNAL JURNAL WILAYAH DAN KOTA VOL 10 NO 01 Namun, nilai outer loading WAmn E Global Walkability > 0. 5, maka indikator WAmn memenuhi persyaratan signifikansi dan relevansi, seperti halnya WSla dan dan WSng (Hair , 2. Pengujian Model Struktural Pengujian model struktural diawali dengan menguji inner model. Langkah pertama adalah melakukan diagnostik kolinearitas melalui nilai VIF, sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 4. Semua nilai VIF tidak ada yang lebih besar dari 5, maka tidak ada isu kolinearitas (Hair dkk. , 2. Tabel 4. Dianostik Kolinearitas: Variance Inflation Factor Endogeneous Variable Exogeneous Variable Change in Walking Habit Perceived Walkability Change in Walking Habit Intention to Walk Post-Pandemic COVID-19 Selanjutnya proses bootstrapping dilakukan untuk mengestimasi hubungan model struktural . aitu, koefisien jalu. , yang mewakili hubungan hipotesis antara konstruk. Koefisien jalur dapat dilihat pada Gambar 4. Nilai standar beta adalah 0. 360, 0. 315, dan 215, yang memperlihatkan bahwa pengaruh variabel yang diuji lemah dan secara relatif besarnya pengaruh hampir sama, yang dapat dilihat dari ketebalan garis hubungannya. Gambar 4. Hasil Pengujian Model Struktural Meskipun pengaruh antar variabel yang diuji lemah, t-value lebih besar dari 1. (Tabel . , maka pengaruhnya signifikan dengan alpha < 0. Selain itu, nilai Confidence Interval Bias Corrected tidak mengandung nilai 0 yang juga memperlihatkan pengaruh antar variabel adalah signifikan. Hal yang sama juga berlaku untuk mediasi positif Change in Walking Habit pada pengaruh Perceived Walkability terhadap Intention to Walk Post-Pandemic COVID-19. Semua arah hubungan mengindikasikan nilai positif. Dengan demikian, hipotesis 1 sampai 3 diterima. Jika dilihat pengaruh Perceived Walkability pada Intention to Walk Post-Pandemic COVID-19 yang dimediasi oleh Change in Walking Habit, nilai beta nya sangat kecil, yaitu Pengaruh Perubahan Kebiasaan Berjalan dan Persepsi Tentang Walkability pada Niat Untuk Berjalan Mahasiswa Pasca Pandemi Covid-19 JURNAL VOL 10 NO 01 JURNAL WILAYAH DAN KOTA Namun dilihat dari nilai-t . , nilai-p . , dan Confidence Interval Bias Corrected . idak ada kemungkinan muncul nilai . , maka dapat disimpulkan hipotesis 4 juga diterima karena persyaratan signifikansi terpenuhi. Kemudian, nilai R2 dari Intention to Walk Post-Pandemic COVID-19 adalah 194, yang berarti bahwa 19,4% variansi pada Intention to Walk Post-Pandemic COVID19 mahasiswa ditentukan oleh Change in Walking Habit . elama pandemi COVID-19 dibandingkan sebelumny. dan Perceived Walkability . ingkungan Kota Bandun. Dengan kata lain, 80,6% ditentukan oleh faktor lain yang tidak termasuk di dalam model. Tabel 5. Hasil Uji Hipotesis Hipotesis Jalur Direct Effect Perceived Walkability -> Change in Walking Habit Perceived Walkability -> Intention to Walking PostPdmic COVID-19 Change in Walking Habit H3 > Intention to Walking Post-Pdmic COVID-19 Indirect Effect Perceived Walkability -> Change in Walking Habit H4 > Intention to Walk PostPandemic COVID-19 Std. Beta Std. Error Bias Confidence Interval Bias Corrected Keputusan Diterima Diterima Diterima Diterima Dibandingkan dengan Perceived Walkability, pengaruh Change in Walking Habit lebih kecil pada Intention to Walk Post-Pandemic COVID-19 (Tabel . Namun. Perceived Walkability lebih besar pengaruhnya pada Change in Walking Habit dibandingkan pengaruhnya pada Intention to Walk Post-Pandemic COVID-19. Secara keseluruhan, berdasarkan rule of thumb pengaruh Perceived Walkability pada Change in Walking Habit termasuk kategori mendekati medium, sedangkan yang lainnya termasuk rendah (Hair , 2. Tabel 6. Ukuran Pengaruh . Endogeneous Variable Exogeneous Variable Change in Walking Habit Change in Walking Habit Perceived Walkability Intention to Walk Post-Pandemic COVID-19 Pembahasan Studi ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh structural Change in Walking Habit saat pandemi COVID-19 dibandingkan sebelumnya dan Perceived Walkability di lingkungan Kota Bandung pada Intention to Walk pasca pandemi COVID-19. Selain itu juga menganalisis pengaruh mediasi Change in Walking Habit pada pengaruh Perceived Walkability terhadap Intention to Walk pasca pandemi COVID-19. Untuk mencapai tujuan tersebut, empat hipotesis telah diuji. Berdasarkan analisis SEM yang telah dilakukan, semua hipotesis diterima meskipun nilai beta tidak terlalu besar, yang memperlihatkan pengaruh variabel yang diuji dengan variabel lainnya tidak terlalu kuat. Pengaruh Perubahan Kebiasaan Berjalan dan Persepsi Tentang Walkability pada Niat Untuk Berjalan Mahasiswa Pasca Pandemi Covid-19 JURNAL WILAYAH DAN KOTA JURNAL VOL 10 NO 01 Dari hasil analisis ada pengaruh struktural Perceived Walkability pada Change in Walking Habit dan Intention to Walking. Implikasinya adalah bahwa faktor-faktor yang berkaitan dengan aspek keselamatan, keamanan, dan kenyamanan/menyenangkan perlu mendapat perhatian pihak yang berwenang untuk menjamin ketersediaan lingkungan terbangun yang ramah bagi pejalan. Temuan ini sejalan dengan studi yang dilakukan oleh Syafriharti dkk. Yoon & Lee . Yu dkk. Arellana dkk. Fonseca dkk. Knapskog dkk. dan Riggs . Mempertimbangkan Habit sebagai salah satu faktor yang memengaruhi Intention merupakan salah satu pengembangan The Theory of Planned Bahavior (TPB), dan temuan pada studi ini memperlihatkan adanya pengaruh tersebut, meski tidak kuat. Temuan ini melengkapi temuan sebelumnya dari studi yang dilakukan oleh Ahmed dkk. Huang . , dan Tanaka dkk. Secara umum, durasi berjalan yang yang dijadikan sebagai ukuran habit maupun intention memberikan gambaran bahwa pada dasarnya tidak banyak perubahan aktivitas berjalan mahasiswa UNIKOM pada saat pandemi COVID-19, namun respon mahasiswa memperlihatkan adanya niat untuk meningkatkan durasi setelah pandemi COVID-19 berakhir. Hasil ini memperlihatkan bahwa peningkatan durasi berjalan bukan merupakan pilihan mahasiswa untuk mengatasi masalah yang mereka hadapi ketika Hasil ini tidak mendukung studi yang dilakukan oleh Liu dkk. , yang menyatakan bahwa aktivitas berjalan dibutuhkan untuk mengatasi kesehatan fisik dan mental mahasiswa akibat pandemi COVID-19. Namun setidaknya, tidak terjadi penurunan aktivitas berjalan mahasiswa pada saat pandemi dibandingkan sebelumnya. Sementara dari studi Lypez-Valenciano dkk. , ynncen & Tanyeri . , dan Rahman dkk. ditemukan bahwa aktivitas berjalan mahasiswa selama pandemi COVID-19 menurun. Nilai standar beta pengaruh Change in Walking Habit pada Intention to Walk lebih kecil dibandingkan standar beta pengaruh Perceived Walkability pada Intention to Walk. Jadi ketika diuji untuk peran Change in Walking Habit sebagai mediasi pengaruh Perceived Walkability pada Intention to Walk, nilai standar beta menjadi lebih kecil lagi. Jadi pengaruh Perceived Walkability pada Intention to Walk secara langsung relatif lebih besar daripada mempertimbangkan Change in Walking Habit sebagai mediasi. Meskipun demikian, semua memperlihatkan hasil yang signifikan. IV. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis ditemukan bahwa nyaris tidak ada perubahan durasi berjalan mahasiswa pada saat pandemi dibandingkan sebelumnya. Faktor keselamatan, keamanan, dan kenyamanan merupakan faktor penting untuk mengukur Perceived Walkability. Perceived Walkability dan Change in Walking Habit . secara signifikan memengaruhi Intention to Walk . mahasiswa pasca pandemi COVID-19, meskipun pengaruhnya tidak kuat. Untuk studi lebih lanjut, dibutuhkan mempertimbangkan variabel lain untuk melengkapi studi ini, di antaranya yang berkaitan dengan faktor psikososial, seperti attitudes, subjective norms, dan perceived behavioral control, terkait berjalan. Penting juga memisahkan aktivitas berjalan untuk transportasi, olahraga, dan rekreasi. DAFTAR PUSTAKA