Received: 15 Feb 2026 . Revised: 14 Apr 2026 . Published: 26 Mei 2026 MEDIA LOKAL DAN PELESTARIAN BUDAYA: ANALISIS FRAMING PEMBERITAAN UANG PANAIAo DI TRIBUN TIMUR Muh. Medriansyah Putra Kartika1. Dewi Nuraliah2. Rezki Rahmawati3 123Program Studi Ilmu Politik. Fakultas Ilmu Sosial. Ilmu Politik, dan Hukum. Universitas Sulawesi Barat. Majene medriansyahputrakartika@unsulbar. id , dewi. nuraliah@unsulbar. Rezki. rahmawati@unsulbar. ABSTRACT Uang panaiAo is a traditional custom in Bugis-Makassar marriages that has become a public discourse due to its high nominal value. Local media plays a crucial role in constructing public understanding of this cultural This study aims to analyze how Tribun Timur, a local news portal in South Sulawesi, frames the uang panaiAo culture in its news Using the framing analysis model by Zhongdang Pan and Gerald M. Kosicki, this research examines 10 news articles published between 2020-2021 through four structural dimensions: syntactic, script, thematic, and rhetorical. The findings reveal that Tribun Timur predominantly employs a sociological frame, emphasizing the high monetary value of uang panaiAo and its negative impacts such as elopement . , suicide, and fraud. Social statusAiincluding education, occupation, and family backgroundAiis consistently highlighted as a determining factor. However, this media construction omits crucial cultural aspects such as negotiation processes and positive impacts of the The study demonstrates that media representation does not fully reflect the actual cultural practice, raising concerns about the role of local media in cultural preservation. This research contributes to understanding agenda-setting theory at the second level and social construction of reality in the context of local culture journalism. ABSTRAK Uang panaiAo merupakan tradisi adat dalam pernikahan BugisMakassar yang menjadi wacana publik karena nominalnya yang Media lokal memiliki peran penting dalam mengonstruksi pemahaman masyarakat terhadap praktik budaya ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana Tribun Timur, portal berita lokal di Sulawesi Selatan, membingkai budaya uang panaiAo dalam Menggunakan model analisis framing Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki, penelitian ini mengkaji 10 berita yang Muh. Medriansyah Putra Kartika. Dewi Nuraliah. Rezki Rahmawati dipublikasikan periode 2020-2021 melalui empat dimensi struktural: sintaksis, skrip, tematik, dan retoris. Temuan menunjukkan bahwa Tribun Timur secara dominan menggunakan frame sosiologi dengan menekankan tingginya nilai nominal uang panaiAo dan dampak negatifnya seperti kawin lari . , bunuh diri, dan penipuan. Status sosialAimeliputi pendidikan, pekerjaan, dan latar belakang keluargaAisecara konsisten disorot sebagai faktor penentu. Namun, konstruksi media ini mengabaikan aspek budaya penting seperti proses negosiasi dan dampak positif dari tradisi tersebut. Studi ini menunjukkan bahwa representasi media tidak sepenuhnya mencerminkan praktik budaya aktual, sehingga menimbulkan kekhawatiran tentang peran media lokal dalam pelestarian budaya. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman teori agenda-setting tingkat kedua dan konstruksi sosial realitas dalam konteks jurnalisme budaya lokal. Kata Kunci: framing, uang panaiAo, budaya Bugis-Makassar, jurnalisme | MITZAL (Demokrasi. Komunikasi, dan Buday. Jurnal Ilmu Pemerintahan & Ilmu Komunikasi Media Lokal Dan Pelestarian Budaya: Analisis Framing Pemberitaan Uang PanaiAo Di Tribun Timur PENDAHULUAN Setiap daerah di Indonesia memiliki keunikan adat dan tradisi, termasuk dalam hal pernikahan. Di Sulawesi Selatan, masyarakat suku Bugis-Makassar memiliki tradisi uang panaiAo yang menjadi syarat wajib dalam pernikahan adat. Uang panaiAo merupakan uang belanja yang diberikan oleh pihak laki-laki kepada keluarga perempuan untuk membiayai prosesi pernikahan (Mustafa & Syahriani, 2. Berbeda dengan mahar yang menjadi hak mutlak calon istri, uang panaiAo dikelola oleh keluarga mempelai perempuan untuk keperluan pesta pernikahan (Avita, 2. Fenomena uang panaiAo telah menjadi perhatian publik karena nominalnya yang terus meningkat. Penelitian Darussalam . menunjukkan bahwa tingginya uang panaiAo memberikan dampak psikologis terhadap pemuda laki-laki berupa stres dan kecemasan karena khawatir tidak mampu memenuhi persyaratan tersebut. Kamal . juga mengidentifikasi dampak negatif dari tingginya uang panaiAo yaitu terjadinya distorsi nilai, norma agama, dan adat istiadat yang berujung pada praktik kawin lari atau silariang (Fahmi, 2. Media massa lokal, khususnya Tribun Timur, secara aktif memberitakan fenomena ini, mulai dari kasus-kasus nominal uang panaiAo yang fantastis hingga dampak sosial yang ditimbulkannya (Damarjati, 2. Media massa memiliki peran strategis dalam konstruksi sosial terhadap realitas budaya (Bungin, 2. Berger & Luckmann . menjelaskan bahwa realitas sosial merupakan hasil konstruksi yang melibatkan proses eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Dalam konteks ini, media massa tidak sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk cara khalayak memahami dan memaknai suatu fenomena budaya (Tamburaka, 2. McCombs & Shaw . melalui teori agendasetting menjelaskan bahwa media tidak hanya menentukan apa yang dipikirkan publik, tetapi juga bagaimana publik memikirkannya. Tingkat kedua dari teori agenda-setting ini menekankan pada atribut atau framing yang digunakan media dalam menampilkan suatu isu (Dearing & Rogers. McCombs & Ghanem, 2. Sebagai media lokal yang memiliki jangkauan luas di Sulawesi Selatan. Tribun Timur memiliki tanggung jawab dalam melestarikan dan mengedukasi masyarakat tentang budaya lokal (Lim, 2. Namun, pertanyaan krusial muncul: apakah pemberitaan media lokal telah Volume 11. Nomor 1. Mei 2026 p-ISSN 2541-4364, e-ISSN 2541-4732 | 33 Muh. Medriansyah Putra Kartika. Dewi Nuraliah. Rezki Rahmawati merepresentasikan budaya uang panaiAo secara utuh dan objektif? Atau justru menciptakan konstruksi realitas yang bias dan tidak mencerminkan praktik budaya sebenarnya? Penelitian ini menjadi penting karena tiga alasan utama. Pertama, belum banyak kajian yang menganalisis bagaimana media lokal membingkai tradisi budaya lokal, khususnya uang panaiAo dalam konteks Bugis-Makassar (Anggreswari & Puteri, 2. Kedua, pemahaman yang keliru tentang uang panaiAo dapat berdampak pada keberlanjutan tradisi ini. Ketiga, penelitian ini dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan jurnalisme budaya yang lebih edukatif dan bertanggung jawab (Budiman, 2. Beberapa penelitian terdahulu telah mengkaji aspek-aspek uang panaiAo dari berbagai perspektif. Alimuddin . mengkaji makna simbolik uang panaiAo sebagai bentuk penghargaan dan pengakuan status sosial dalam perkawinan adat suku Bugis-Makassar di Kota Makassar. (Aqsa, 2. menganalisis komunikasi keluarga dalam penentuan doe' balanca . stilah lain untuk uang panaiA. yang menunjukkan bahwa proses negosiasi menjadi kunci dalam kesepakatan nominal. Andriani et al. meneliti lobi dalam prosesi dui menre pada perkawinan suku Bugis yang mengungkapkan bahwa komunikasi dan negosiasi antar keluarga sangat penting. Namun, belum ada kajian yang secara spesifik menganalisis bagaimana media massa membingkai tradisi ini dan implikasinya terhadap konstruksi sosial budaya Penelitian ini mengisi kekosongan tersebut dengan menganalisis secara mendalam bagaimana media lokal di Sulawesi Selatan membingkai tradisi uang panaiAo dan implikasinya terhadap pemahaman publik tentang budaya Bugis-Makassar. Penelitian sebelumnya oleh Kartika & Rahardjo . tentang agenda pemberitaan Tribun Timur terhadap isu uang panaiAo menemukan bahwa media cenderung menggunakan gaya straight news yang bersifat informatif dengan nada pemberitaan yang positif. Namun, penelitian tersebut belum menganalisis secara mendalam bagaimana konstruksi framing media dapat menciptakan kesenjangan dengan realitas budaya aktual. Media lokal memiliki posisi unik dalam ekosistem komunikasi massa karena berada di persimpangan antara tanggung jawab jurnalistik dan tanggung jawab kultural terhadap komunitasnya. Sebagai media yang beroperasi di tingkat lokal. Tribun Timur tidak hanya berfungsi sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai agen pelestarian budaya lokal. Posisi ini menempatkan media lokal pada dilema antara logika industri media massa modern yang menekankan pada nilai berita sensasional untuk | MITZAL (Demokrasi. Komunikasi, dan Buday. Jurnal Ilmu Pemerintahan & Ilmu Komunikasi Media Lokal Dan Pelestarian Budaya: Analisis Framing Pemberitaan Uang PanaiAo Di Tribun Timur menarik perhatian pembaca, dengan tanggung jawab edukatif untuk menyajikan informasi budaya yang akurat dan kontekstual (Lim, 2. Tantangan yang dihadapi media lokal dalam memberitakan isu budaya semakin kompleks di era digital. Di satu sisi, media lokal memiliki akses yang lebih mudah untuk menjangkau masyarakat luas melalui platform digital. Di sisi lain, kompetisi untuk mendapatkan perhatian pembaca semakin ketat, yang mendorong media untuk menggunakan strategi clickbait dan sensasionalisme (Biyani et al. , 2. Dalam konteks pemberitaan budaya, strategi ini berpotensi kontraproduktif karena dapat merusak pemahaman publik tentang makna dan nilai budaya lokal. Media lokal dihadapkan pada pilihan sulit: mengikuti logika pasar yang menuntut konten sensasional untuk mendapatkan traffic tinggi, atau menjalankan fungsi edukatif yang mungkin kurang menarik perhatian namun lebih bermanfaat untuk pelestarian budaya. Peran media dalam konstruksi realitas budaya menjadi semakin krusial di era digital, di mana informasi beredar dengan sangat cepat dan Budiman . menekankan pentingnya teknik pencarian dan penulisan berita yang memperhatikan konteks lokal, terutama dalam pemberitaan budaya. Media lokal memiliki keunggulan dalam hal pemahaman konteks budaya dibandingkan media nasional atau Namun, keunggulan ini hanya dapat terwujud jika media lokal menjalankan fungsinya dengan bertanggung jawab, tidak sekadar mengejar traffic atau popularitas. Dalam konteks Tribun Timur, sebagai media lokal yang memiliki jangkauan luas di Sulawesi Selatan, tanggung jawab ini menjadi semakin besar mengingat pengaruhnya terhadap pembentukan opini publik tentang budaya lokal. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana Tribun Timur membingkai pemberitaan budaya uang panaiAo dalam pernikahan adat Bugis-Makassar. Secara spesifik, penelitian ini akan mengidentifikasi struktur frame yang digunakan, tema tema dominan yang dimunculkan, dan implikasinya terhadap konstruksi sosial budaya uang panaiAo di masyarakat. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivis dengan pendekatan kualitatif. Paradigma konstruktivis memandang bahwa realitas merupakan hasil konstruksi sosial yang dibentuk melalui interaksi dan Volume 11. Nomor 1. Mei 2026 p-ISSN 2541-4364, e-ISSN 2541-4732 | 35 Muh. Medriansyah Putra Kartika. Dewi Nuraliah. Rezki Rahmawati interpretasi subjektif (Creswell, 2017. Denzin & Lincoln, 2. Dalam konteks penelitian ini, berita tentang uang panaiAo dipandang sebagai konstruksi wartawan dan institusi media yang mencerminkan ideologi, nilai, dan kepentingan tertentu. Penelitian ini menggunakan teori agenda-setting tingkat kedua yang menekankan pada bagaimana media membingkai atribut dari suatu isu (McCombs & Ghanem, 2001. Scheufele & Tewksbury, 2. Teori konstruksi sosial media massa dari Berger & Luckmann . yang diadaptasi oleh (Bungin, 2. menjelaskan bahwa media massa memiliki kekuatan dalam membentuk realitas sosial melalui proses konstruksi. Model analisis framing dari Pan & Kosicki . digunakan untuk membedah bagaimana Tribun Timur mengonstruksi berita tentang uang panaiAo melalui empat struktur: sintaksis, skrip, tematik, dan retoris. Eriyanto . menjelaskan bahwa keempat struktur ini saling terkait dan membentuk frame yang utuh dalam sebuah berita. Periode pengamatan berita dilakukan selama tahun 2020-2021 dengan total 10 berita yang dianalisis. Pemilihan periode ini didasarkan pada penelitian sebelumnya (Kartika & Rahardjo, 2. yang menemukan bahwa pada periode tersebut terdapat peningkatan pemberitaan tentang uang panaiAo di Tribun Timur. Kriteria pemilihan berita meliputi: berita yang secara spesifik membahas uang panaiAo, memiliki kelengkapan struktur berita . udul, lead, isi, penutu. , dan mencakup variasi tema . ominal, dampak, status sosia. Informasi pada Tabel 1 menunjukkan daftar berita yang menjadi korpus analisis dalam penelitian ini. Berita-berita tersebut dipilih karena mewakili berbagai sudut pandang pemberitaan uang panaiAo di Tribun Timur, mulai dari berita tentang nominal tinggi, dampak negatif, hingga perspektif budaya. Tabel 1. Daftar Berita tentang Uang PanaiAo yang Dianalisis Judul Berita Tanggal Tema Tipu Kekasih dengan Modus Tambah Uang Panai. Pria Asal Jampue Pinrang Ini Diringkus Polisi Uang Panai. Mahar atau Malak? 25 Februari Viral. Uang Panai Polwan Cantik Bantaeng Rp 300 Juta dan Beras Satu Ton Viral Notaris Irmayasari Barung Dilamar Cek Rp 500 Juta. Bandingkan Panai (Maha. 12 Juni 14 Juni Dampak Perspektif Nominal tinggi, status sosial Nominal tinggi, status sosial | MITZAL (Demokrasi. Komunikasi, dan Buday. Jurnal Ilmu Pemerintahan & Ilmu Komunikasi 14 Mei 2019 Media Lokal Dan Pelestarian Budaya: Analisis Framing Pemberitaan Uang PanaiAo Di Tribun Timur Bripda Iin Ariska Uang Panaik Hanya Mampu Rp 10 Juta. Lamaran Pria Jeneponto Ini Ditolak. Si Wanita Pilih Bunuh Diri Soal Warga Bunuh Diri Gara-gara Uang Panai. Begini Respon Bupati Jeneponto Warganya Diduga Bunuh Diri Gegara Uang Panai. Begini Kata Kades Punagaya Jeneponto Ternyata. Uang Panaik Pemuda Gowa untuk Wanita Soppeng Lebih dari Rp 3 Miliar Viral Pernikahan di Sulsel. Uang Panai Rp 300 Juta. Emas 1 Stel. Beras 1 Ton. Kuda 2 Ekor. Siapakah? 10 Owner Warkop Aleta Lamar Wanita Luwu Utara. Panaiknya Rumah Rp 3 Miliar Plus Uang Rp 300 Juta Sumber: makassar. 10 Juli 2019 Dampak negatif 11 Juli 2019 Dampak negatif 13 Juli 2019 Dampak negatif 12 Februari 23 Oktober Nominal tinggi November Nominal tinggi, status sosial Nominal tinggi Metode analisis data menggunakan model framing dari Pan & Kosicki . yang membedah teks berita melalui empat struktur. Pertama, struktur sintaksis menganalisis skema berita yang terdiri dari headline, lead, latar informasi, kutipan sumber, pernyataan, dan penutup untuk melihat bagaimana wartawan menyusun peristiwa. Kedua, struktur skrip menganalisis kelengkapan berita melalui elemen 5W 1H (What. Who. When. Where. Why. Ho. untuk melihat bagian mana yang ditonjolkan atau Ketiga, struktur tematik menganalisis cara wartawan menulis fakta melalui detail, koherensi, bentuk kalimat, dan nominalisasi. Keempat, struktur retoris menganalisis cara wartawan menekankan fakta melalui pemilihan kata, idiom, leksikon, grafis, dan foto (Eriyanto, 2. Untuk memperkuat validitas temuan, penelitian ini juga melakukan triangulasi data melalui wawancara mendalam dengan dua narasumber Pertama. Prof. Dr. Nurhayati Rahman. Hum. , seorang pakar budaya Bugis-Makassar yang memberikan perspektif tentang praktik budaya uang panaiAo yang sebenarnya. Kedua. Abdi Mahesa. , seorang budayawan muda Sulawesi Selatan yang memberikan perspektif kontemporer tentang dinamika tradisi uang panaiAo di kalangan generasi Teknik analisis dilakukan secara induktif dengan membaca keseluruhan berita, mengidentifikasi pola framing pada setiap struktur, mengkategorisasi tema-tema yang muncul, dan menginterpretasi makna dibalik pembingkaian tersebut (Arifin, 2. Volume 11. Nomor 1. Mei 2026 p-ISSN 2541-4364, e-ISSN 2541-4732 | 37 Muh. Medriansyah Putra Kartika. Dewi Nuraliah. Rezki Rahmawati HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan analisis terhadap 10 berita Tribun Timur tentang uang panaiAo, ditemukan bahwa media lokal ini secara konsisten menggunakan frame sosiologi dalam membingkai tradisi budaya Bugis-Makassar tersebut. Frame sosiologi terlihat dari penekanan kuat pada aspek status sosial, stratifikasi ekonomi, dan hierarki masyarakat yang muncul di hampir seluruh berita yang Temuan ini dapat diamati secara konkret melalui keempat struktur framing: sintaksis, skrip, tematik, dan retoris sebagaimana dipaparkan berikut. Pada struktur sintaksis, 9 dari 10 berita menggunakan judul yang menonjolkan nilai nominal uang panaiAo yang tinggi atau dampak negatif dari tradisi ini. Hanya berita kedua (AuUang Panai. Mahar atau Malak?A. yang menggunakan pendekatan lebih netral karena merupakan artikel opini dengan frame psikologi. Berita-berita lainnya secara eksplisit mencantumkan angka nominal dalam judul, seperti AuViral. Uang Panai Polwan Cantik Bantaeng Rp 300 Juta dan Beras Satu TonAy. AuTernyata. Uang Panaik Pemuda Gowa untuk Wanita Soppeng Lebih dari Rp 3 MiliarAy, hingga AuOwner Warkop Aleta Lamar Wanita Luwu Utara. Panaiknya Rumah Rp 3 Miliar Plus Uang Rp 300 JutaAy. Strategi penulisan judul ini sejalan dengan konsep clickbait yang bertujuan menarik perhatian pembaca (Biyani dkk. , 2016, hal. Berdasarkan analisis judul, ditemukan variasi tipe clickbait: clickbait wrong pada berita ketiga karena fakta belum dikonfirmasi saat berita diterbitkan, clickbait exaggeration pada berita keempat dan kedelapan yang cenderung berlebihan, clickbait ambiguous pada berita keenam, ketujuh, dan kesembilan yang menimbulkan rasa penasaran, serta clickbait teasing pada berita kesepuluh yang menggoda pembaca untuk membuka berita. Elemen lead secara konsisten menampilkan angka nominal uang panaiAo atau identitas pelaku/korban sebagai informasi pembuka. Sebagian besar berita menggunakan lead informal jenis who lead . enonjolkan toko. atau what lead . enonjolkan peristiw. Latar informasi berita-berita yang mengangkat kasus dampak negatif uang panaiAo . erita 1, 5, 6, . secara konsisten menyebutkan status sosial pelaku atau korban, seperti profesi petani tambak pada berita pertama dan keterangan Autamatan SDAy serta Aupetani biasaAy pada berita Penyebutan detail status sosial ini membentuk asosiasi implisit bahwa ketidakmampuan memenuhi uang panaiAo berkaitan erat dengan rendahnya status sosial seseorang. Struktur skrip menunjukkan ketidakseimbangan dalam pemenuhan unsur 5W 1H. Elemen what dan who mendapat porsi dominan, sementara elemen how yang seharusnya menjelaskan proses negosiasi dan musyawarah | MITZAL (Demokrasi. Komunikasi, dan Buday. Jurnal Ilmu Pemerintahan & Ilmu Komunikasi Media Lokal Dan Pelestarian Budaya: Analisis Framing Pemberitaan Uang PanaiAo Di Tribun Timur antar keluarga justru paling sering diabaikan. Dari 10 berita yang dianalisis, hanya berita kedua yang secara eksplisit menjelaskan proses mammanuAo-manuAo . ertemuan kedua keluarg. sebagai bagian dari how. Berita-berita lainnya cenderung langsung menyajikan nominal akhir tanpa menjelaskan proses tawar-menawar dan negosiasi yang sebenarnya terjadi di belakang layar. Nurhayati Rahman (Personal Interview, 2. menjelaskan bahwa penentuan uang panaiAo selalu melalui proses negosiasi antara kedua keluarga dan dibicarakan secara tertutup demi menjaga siriAo . arga dir. Proses inilah yang secara konsisten absen dalam pemberitaan Tribun Timur. Informasi pada Tabel 2 merangkum temuan utama pada keempat struktur framing dari 10 berita yang dianalisis. Tabel 2. Struktur Framing Pemberitaan Uang PanaiAo di Tribun Timur Struktur Temuan Utama Contoh dari Data Berita Sintaksis 9 dari 10 berita menggunakan headline yang menonjolkan nominal tinggi atau dampak tipe clickbait bervariasi . rong, exaggeration, ambiguous, teasin. dominan menampilkan identitas tokoh dan menyebutkan status sosial pelaku/korban. AuViral. Uang Panai Polwan Cantik Bantaeng Rp 300 JutaAy. AuSungguh malang nasib perempuan berinisial tamatan SD, sementara lelaki hanyalah petani biasaAy. Skrip Elemen what dan who mendapat porsi dominan dengan detail status sosial. how yang seharusnya menjelaskan proses negosiasi mammanuAo-manuAo paling sering unsur when kadang tidak jelas. Hanya berita 2 yang mengulas proses mammanuAo-manuAo. nominal ke mempelai pria hingga berita diterbitkan. Tematik Tiga tema dominan: . nominal tinggi . , . dampak negatif/silariang/bunuh diri/penipuan . , . status sosial sebagai determinan . ampir semua berit. dampak positif hanya muncul di 1 berita. Berita 3 dan 4 mengulas profesi polwan dan notaris. berita 8 dan 10 pengusaha muda. berita 5, 6, 7 menggunakan lead identik untuk kasus bunuh diri di Jeneponto. Retoris Kata sensasional berulang di banyak berita. kesalahan konseptual uang panaiAo = mahar muncul di 5 berita. foto/grafis mendukung narasi nominal tinggi dan dampak negatif. Kata AufantastisAy. Augila-gilaanAy. Aupemecah rekorAy. Aubikin hebohAy. definisi keliru: AuUang panaik adalah mahar bagi mempelai wanitaAy . erita 3 dan . Sumber: Hasil analisis peneliti berdasarkan data 10 berita Tribun Timur Pada struktur tematik, ditemukan pola berulang di mana detail status sosial tokoh selalu ditonjolkan sebagai faktor penjelas tinggi rendahnya uang panaiAo. Berita ketiga dan keempat secara tematik membahas profesi polisi Volume 11. Nomor 1. Mei 2026 p-ISSN 2541-4364, e-ISSN 2541-4732 | 39 Muh. Medriansyah Putra Kartika. Dewi Nuraliah. Rezki Rahmawati wanita dan notaris yang masing-masing mendapatkan uang panaiAo Rp 300 juta dan Rp 500 juta. Berita kedelapan dan kesepuluh mengulas latar belakang mempelai laki-laki yang merupakan pengusaha muda lulusan Australia dan pemilik sejumlah kafe. Pola ini konsisten dengan penjelasan Abdi Mahesa (Personal Interview, 2. bahwa indikator penentuan uang panaiAo memang meliputi pendidikan, pekerjaan, dan latar belakang keluarga. Namun yang menjadi persoalan, media hanya menampilkan dimensi ini sebagai tontonan publik tanpa menjelaskan fleksibilitas dan konteks budayanya yang lebih luas. Struktur retoris semakin memperkuat dominasi frame sosiologi melalui pemilihan kata dan elemen grafis. Kata-kata bernuansa sensasional seperti AufantastisAy. Augila-gilaanAy. Aubikin hebohAy. Aupemecah rekorAy, dan AuviralAy berulang kali muncul di berbagai berita. Penggunaan kata AudisusulAy pada berita keempat bahkan menciptakan kesan seolah uang panaiAo merupakan ajang perlombaan. Di samping itu, ditemukan kesalahan konseptual yang berulang, yaitu penyamaan uang panaiAo dengan mahar . erita 3, 4, 8, 9, . Abdi Mahesa (Personal Interview, 2. menegaskan bahwa uang panaiAo adalah uang operasional yang digunakan dari prosesi akad nikah hingga resepsi dan harus habis digunakan, sementara mahar merupakan pemberian yang digunakan untuk kehidupan pasca menikah. Kesalahan konseptual ini berpotensi membentuk kesalahpahaman publik tentang tradisi Bugis-Makassar secara fundamental. Tema-Tema Dominan dalam Pemberitaan Dari 10 berita yang dianalisis, penelitian ini mengidentifikasi tiga tema dominan yang secara konsisten muncul dalam pemberitaan Tribun Timur tentang uang panaiAo. Ketiga tema ini bukan semata-mata simpulan teoritik, melainkan hasil identifikasi langsung dari data teks berita yang dianalisis. Tema pertama adalah tingginya nominal uang panaiAo, yang muncul pada delapan dari sepuluh berita. Berita ketiga (Rp 300 jut. , keempat (Rp 500 jut. , kedelapan (Rp 3,35 milia. , kesembilan (Rp 300 jut. , dan kesepuluh (Rp 300 juta plus rumah Rp 3 milia. semuanya menempatkan nominal sebagai titik utama narasi. Yang menarik, beberapa berita bahkan diterbitkan sebelum konfirmasi resmi diperoleh dari pihak yang bersangkutan. Pada berita ketiga misalnya, jurnalis mengakui di bagian penutup bahwa pihaknya masih berupaya mengonfirmasi informasi tersebut, namun berita sudah terlanjur diterbitkan dengan judul yang menyebut angka spesifik. Hal serupa terjadi pada berita kedelapan, di mana kolega Omar Muhammad Sahar menjadi satusatunya sumber dan konfirmasi dari mempelai pria sendiri tidak berhasil diperoleh hingga berita diterbitkan. Tema kedua adalah dampak negatif uang panaiAo, yang muncul pada enam berita. Kawin lari . menjadi dampak yang paling sering | MITZAL (Demokrasi. Komunikasi, dan Buday. Jurnal Ilmu Pemerintahan & Ilmu Komunikasi Media Lokal Dan Pelestarian Budaya: Analisis Framing Pemberitaan Uang PanaiAo Di Tribun Timur diangkat, diikuti oleh kasus bunuh diri pada berita kelima, keenam, dan ketujuh, serta penipuan pada berita pertama. Menariknya, tiga berita tentang kasus bunuh diri di Jeneponto . erita 5, 6, . menggunakan lead yang hampir identik: AuSungguh malang nasib perempuan berinisial C. Ay, yang menunjukkan pola template pemberitaan yang kaku dan kurang kontekstual. Selisih uang panaiAo yang menjadi pemicunya pun tergolong kecil, yaitu hanya Rp 5 juta . ihak laki-laki menawarkan Rp 10 juta, pihak perempuan meminta Rp 15 Fakta ini justru mengindikasikan bahwa akar masalahnya bukan sematamata pada besarnya uang panaiAo, melainkan pada ketiadaan ruang negosiasi. Nurhayati Rahman (Personal Interview, 2. menjelaskan bahwa apabila pihak laki-laki tidak mampu memenuhi nominal yang diminta, pihak perempuan seharusnya menanggung biaya lainnya, dan hal ini dibicarakan secara tertutup agar siriAo kedua belah pihak tetap terjaga. Tema ketiga adalah status sosial sebagai determinan uang panaiAo, yang muncul secara eksplisit maupun implisit di hampir semua berita. Berita-berita ini secara konsisten menyebutkan tingkat pendidikan, profesi, latar belakang keluarga, bahkan jejaring sosial tokoh. Misalnya, berita kedelapan mengulas profil Omar Muhammad Sahar secara panjang lebar, mulai dari jabatannya sebagai Ketua BPC HIPMI Gowa, pendidikan di Australia, hingga foto-fotonya bersama pejabat daerah. Pola ini mencerminkan bahwa media mengonstruksi uang panaiAo sebagai sesuatu yang secara langsung dan kaku mencerminkan hierarki sosial, tanpa memberi ruang bagi pembaca untuk memahami fleksibilitas tradisi tersebut. Nurhayati Rahman (Personal Interview, 2. mengingatkan bahwa uang panaiAo tidak boleh diartikan sebagai sesuatu yang kaku dan pasti, karena ada proses negosiasi di balik layar yang tidak perlu diketahui publik. Konstruksi Realitas Media versus Praktik Budaya Aktual Perbandingan antara konstruksi media dengan praktik budaya aktual yang diperoleh melalui wawancara dengan narasumber kunci menunjukkan adanya kesenjangan yang signifikan di beberapa aspek penting. Pertama, terkait proses negosiasi. Seluruh berita yang membahas nominal tinggi menyajikan angka sebagai fakta final tanpa menjelaskan proses yang mendahuluinya. Padahal. Nurhayati Rahman (Personal Interview, 2. menjelaskan bahwa penentuan nominal uang panaiAo selalu melalui proses musyawarah dan negosiasi yang disebut mammanuAo-manuAo, di mana kedua keluarga bertemu untuk menyepakati berbagai hal termasuk nominal, tanggal pernikahan, dan pembagian tanggung jawab biaya. Hanya berita kedua yang secara tematik mengulas proses ini, meski masih menggunakan istilah AutawarmenawarAy yang dinilai kurang tepat karena berkesan seperti transaksi jual beli. Volume 11. Nomor 1. Mei 2026 p-ISSN 2541-4364, e-ISSN 2541-4732 | 41 Muh. Medriansyah Putra Kartika. Dewi Nuraliah. Rezki Rahmawati Abdi Mahesa (Personal Interview, 2. juga menegaskan bahwa proses negosiasi merupakan kunci agar tidak terjadi dampak buruk seperti silariang atau konflik antar keluarga. Kedua, terkait nilai budaya siriAo. Tidak ada satu pun dari 10 berita yang secara memadai menjelaskan konsep siriAo sebagai nilai fundamental yang melatarbelakangi tradisi uang panaiAo. Nurhayati Rahman (Personal Interview, 2. menjelaskan bahwa siriAo bukan sekadar harga diri material, melainkan mencakup kehormatan, martabat, dan tanggung jawab sosial yang berlaku untuk kedua belah pihak keluarga. Konsep ini pula yang menjadi alasan mengapa proses negosiasi dilakukan secara tertutup. Berita kesembilan memang mengutip pernyataan Nurhayati Rahman tentang siriAo dalam konteks silariang, namun hanya sebagai pelengkap narasi tentang dampak negatif, bukan sebagai kerangka untuk memahami makna budaya yang lebih dalam. Ketiga, terkait konsep sulapappaAo walasujiAo. Nurhayati Rahman (Personal Interview, 2. menjelaskan bahwa secara historis, syarat laki-laki untuk menikah dalam masyarakat Bugis-Makassar berkaitan dengan konsep walasujiAo yang mengharuskan laki-laki memiliki salah satu dari empat kualitas: kekayaan, keilmuan, keberanian, atau kekuasaan. Konsep ini menjadi akar historis dari duiAo menreAo atau uang panaiAo. Namun konteks sejarah dan filosofis ini sama sekali tidak muncul dalam pemberitaan Tribun Timur. Dengan absennya konteks historis ini, pembaca hanya melihat uang panaiAo sebagai praktik ekonomi semata, bukan sebagai tradisi dengan latar belakang nilai yang kaya. Keempat, terkait dampak positif. Berita kedua merupakan satusatunya yang secara eksplisit mengangkat dampak positif uang panaiAo, yaitu sebagai motivasi bagi pemuda untuk bekerja lebih keras dan sebagai tanda kesungguhan pihak laki-laki. Abdi Mahesa (Personal Interview, 2. menambahkan bahwa uang panaiAo juga berfungsi sebagai mekanisme seleksi sosial yang memastikan kesiapan pasangan sebelum menikah. Delapan berita lainnya sama sekali mengabaikan dimensi positif ini dan hanya menempatkan uang panaiAo sebagai sumber masalah sosial. Kelima, terkait akurasi konseptual. Seperti telah disinggung pada analisis retoris, terdapat kesalahan berulang dalam membedakan uang panaiAo dan mahar. Berita ketiga bahkan secara tegas mendefinisikan: AuUang panaik adalah mahar bagi mempelai wanita yang diberikan oleh pengantin pria dalam tradisi adat di Sulawesi SelatanAy. Penyamaan konseptual ini tidak hanya tidak akurat secara budaya, tetapi juga berkontribusi pada kesalahpahaman publik yang lebih luas tentang tradisi Bugis-Makassar. Abdi Mahesa (Personal Interview, 2. menegaskan bahwa uang panaiAo harus habis untuk keperluan pernikahan dan tidak boleh disimpan, sementara | MITZAL (Demokrasi. Komunikasi, dan Buday. Jurnal Ilmu Pemerintahan & Ilmu Komunikasi Media Lokal Dan Pelestarian Budaya: Analisis Framing Pemberitaan Uang PanaiAo Di Tribun Timur mahar merupakan hak mutlak istri yang digunakan untuk kehidupan setelah Kesenjangan-kesenjangan tersebut menunjukkan bahwa konstruksi Tribun Timur tentang uang panaiAo memiliki implikasi yang mengkhawatirkan bagi pelestarian budaya. Pertama, pemberitaan yang berulang kali mempersoalkan nominal tinggi tanpa konteks yang memadai berpotensi menciptakan persepsi bahwa uang panaiAo adalah beban sosial yang harus ditanggung, bukan tradisi bermakna yang layak dijaga. Kedua, ekspos berlebihan terhadap kasus silariang dan bunuh diri tanpa penjelasan tentang mekanisme negosiasi dapat mendorong generasi muda untuk memandang tradisi ini sebagai sesuatu yang patologis. Ketiga, kesalahan konseptual yang berulang dalam membedakan uang panaiAo dan mahar dapat mengikis pemahaman masyarakat tentang distingsi budaya yang sebenarnya penting dalam pernikahan adat Bugis-Makassar. Kondisi ini mencerminkan ketegangan antara logika industri media yang mendorong konten sensasional untuk mendapatkan klik pembaca, dengan tanggung jawab kultural media lokal untuk menyajikan informasi budaya yang akurat dan kontekstual (Lim. KESIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa Tribun Timur secara konsisten menggunakan frame sosiologi dalam memberitakan budaya uang panaiAo, dengan penekanan kuat pada aspek status sosial, nominal tinggi, dan dampak Melalui analisis empat struktur framingAisintaksis, skrip, tematik, dan retorisAiditemukan bahwa konstruksi media ini tidak sepenuhnya mencerminkan kompleksitas dan fleksibilitas praktik budaya aktual. Media cenderung mengabaikan aspek penting seperti proses negosiasi, nilai-nilai budaya yang mendasarinya, dan dampak positif dari tradisi ini. Kesenjangan antara realitas media dan realitas budaya ini menimbulkan kekhawatiran tentang peran media lokal dalam pelestarian budaya. Dari perspektif teoritis, penelitian ini memperkuat teori agenda-setting tingkat kedua dan konstruksi sosial media massa (Bungin, 2015. McCombs & Ghanem, 2. Tribun Timur tidak hanya menentukan bahwa uang panaiAo adalah isu penting, tetapi juga membentuk bagaimana khalayak seharusnya memahami tradisi ini. Konstruksi media yang menekankan aspek negatif dan mengabaikan konteks budaya berpotensi menciptakan pemahaman yang bias di masyarakat. Proses konstruksi ini berjalan melalui tahap eksternalisasi . artawan mengekspresikan pemahaman subjektifny. , objektivasi . onstruksi subjektif menjadi realitas objektif melalui berit. , dan internalisasi . halayak menjadikan konstruksi media sebagai pemahaman merek. Volume 11. Nomor 1. Mei 2026 p-ISSN 2541-4364, e-ISSN 2541-4732 | 43 Muh. Medriansyah Putra Kartika. Dewi Nuraliah. Rezki Rahmawati Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, analisis hanya dilakukan terhadap satu media lokal (Tribun Timu. sehingga temuan tidak dapat digeneralisasi untuk semua media lokal di Sulawesi Selatan. Penelitian lanjutan dapat melakukan analisis komparatif terhadap beberapa media lokal untuk melihat perbedaan atau kesamaan pola framing. Kedua, penelitian ini fokus pada analisis teks berita tanpa mengkaji resepsi atau penerimaan khalayak terhadap konstruksi media tersebut. Studi resepsi diperlukan untuk memahami bagaimana khalayak yang berasal dari berbagai latar belakang sosial-budaya memaknai pemberitaan uang panaiAo. Sebagai saran, penelitian ini merekomendasikan beberapa hal. Untuk praktisi media, diperlukan pengembangan model jurnalisme budaya yang lebih edukatif dan bertanggung jawab, dengan mengintegrasikan nilai berita konvensional dengan misi pelestarian budaya. Media lokal perlu lebih reflektif tentang kekuasaan mereka dalam konstruksi realitas dan mengembangkan cultural sensitivity dalam peliputan isu budaya. Untuk masyarakat, penting untuk meningkatkan literasi media agar dapat memahami bahwa berita adalah konstruksi, bukan cerminan objektif realitas (Rahardjo, 2. Untuk peneliti selanjutnya, disarankan untuk melakukan studi komparatif antar media, studi resepsi khalayak, dan analisis longitudinal untuk melihat perkembangan pola framing dalam jangka panjang. | MITZAL (Demokrasi. Komunikasi, dan Buday. Jurnal Ilmu Pemerintahan & Ilmu Komunikasi Media Lokal Dan Pelestarian Budaya: Analisis Framing Pemberitaan Uang PanaiAo Di Tribun Timur DAFTAR PUSTAKA Alimuddin. Makna simbolik uang panaiAo pada perkawianan adat suku Bugis Makassar di Kota Makassar. Al Qisthi: Jurnal Sosial Dan Politik, 10. , 81Ae97. Andriani. Sirajuddin, & Iba. Lobby dalam prosesi Dui Menre pada perkawinan suku Bugis di Desa Waemputtang Kecamatan Poleang Selatan Kabupaten Bombana. Jurnal Ilmu Komunikasi UHO, 1. , 1Ae15. Anggreswari. , & Puteri. Analisis kaidah jurnalistik pada situs berita Suara. Ganaya: Jurnal Ilmu Sosial Dan Humaniora, 4. , 1Ae9. Aqsa. Komunikasi keluarga dalam penentuan doeAo balanca di Kelurahan Benteng Kecamatan Patampanua. http://repository. id/822/ Arifin. Riset komunikasi: Merintis penemuan teori dan model baru. Pustaka irVan. Avita. Mahar dan uang panaik dalam perspektif hukum Islam. https://repository. id/dspace/handle/123456789/47687 Batubara. Diktat media komunikasi. Institut Agama Islam Negeri Sumatera Utara. Berger. , & Luckmann. Tafsir sosial atas kenyataan: Risalah tentang sosiologi pengetahuan. LP3ES. Biyani. Tsioutsiouliklis. , & Blackmer. 8 Amazing secrets for getting more clicks: Detecting clickbaits in news streams using article informality. Thirtieth aI Conference on Artificial Intelligence, 30. , 94Ae100. Budiman. Teknik pencarian dan penulisan berita pada program berita Kebumen di Ratih TV Kebumen. https://digilib. uin-suka. id/id/eprint/1710/ Bungin. Sosiologi komunikasi: Teori, paradigma, dan diskursus teknologi komunikasi di masyarakat. Kencana Prenada Media Group. Bungin. Konstruksi sosial media massa: Kekuatan pengaruh media massa, iklan televisi, dan keputusan konsumen serta kritik terhadap Peter L. Berger & Thomas Luckmann. Prenadamedia Group. Creswell. Research design: Pendekatan metode kualitatif, kuantitatif, dan Pustaka Pelajar. Damarjati. Dampak mahalnya uang panai: Ada yang kawin lari hingga bunuh diri. https://news. com/berita/d-4617145/dampak-mahalnya-uangpanai-ada-yang-kawin-lari-hingga-bunuh-diri Darussalam. Dampak psikologis laki-laki terhadap tingginya uang panai . elanja pernikaha. di Kecamatan Mattirobulu Kabupaten Pinrang. http://repository. id/id/eprint/1986 Volume 11. Nomor 1. Mei 2026 p-ISSN 2541-4364, e-ISSN 2541-4732 | 45 Muh. Medriansyah Putra Kartika. Dewi Nuraliah. Rezki Rahmawati Dearing. , & Rogers. Communication concepts 6: Agenda-setting. SAGE Publications. Denzin. , & Lincoln. Handbook of qualitative research. Pustaka