Jurnal Penelitian Sekolah Tinggi Transportasi Darat ISSN 2086-6569 | eAeISSN 2776-351X Web: http://jurnal. Volume 15 Issue 1 Year 2024 Pages 32-45 Terakreditasi Peringkat SINTA 4 DOI: 10. 55511/jpsttd. Analisis Kebutuhan Fasilitas Pedestrian di Kawasan Stasiun Anisah Adilah1. Erika Buchari2*. Melawaty Agustien3 Mahasiswa Program Pasca Sarjana Teknik Sipil. Fakultas Teknik. Universitas Sriwijaya Dosen Teknik Sipil. Fakultas Teknik. Jl. Srijaya Negara. Bukit Besar Palembang Sumatera Selatan. Indonesia *Correspondence to: erikabuchari@ft. Abstract: The Ampera LRT Station is located in the center of Palembang City and on the banks of the Musi River. This area is a center of community activity, with the presence of hospitals, offices, restaurants, hotels, and shopping centers. The existence of the Palembang LRT is intended to overcome congestion and accommodate the mobility needs of the community in Palembang, especially in the Ampera area. However, there are several issues related to pedestrian facilities in the Ampera LRT Station area, such as the misuse of sidewalk functions, the presence of many side barriers in the form of street vendors and on-street parking, as well as the lack of safe and comfortable crossing facilities for pedestrians, especially for people with disabilities. This study analyzes the pedestrian facility needs in the Ampera LRT Station area of Palembang. The method used in this study is the calculation of th e level of service (LOS) based on the Indonesian Highway Capacity Manual (MKJI) 1997 and the empirical formula calculation of pedestrian conflicts based on the pedestrian flow and vehicle traffic flow (PV. using quantitative data. The research results show that it is necessary to repair and add pedestrian facilities under the concept of walkability, such as providing sidewalks that can be used according to their function, providing crossing facilities such as pelicans with waiting platforms on Merdeka Street. Sudirman Street, and Tengkuruk Permai Street, while on Masjid Lama Street and Palembang Darussalam Street, zebra crossings or pedestrian platforms are needed. The results of this study are expected to be input for the Palembang City Government to improve the qua lity of pedestrian facilities in the Ampera LRT Station area so that it can support the station's function as a center of community activity and movement in the area. Keywords: Pedestrian Facilities. Walkability. Ampera LRT Station Abstrak: Stasiun LRT Ampera terletak di pusat Kota Palembang dan berada di tepi Sungai Musi. Kawasan tersebut merupakan pusat aktivitas masyarakat, dengan adanya rumah sakit, perkantoran, restoran, penginapan, dan pusat perbelanjaan. Kehadiran LRT Palembang sebagai transportasi publik untuk mengatasi kemacetan dan mengakomodasi kebutuhan mobilitas masyarakat di Palembang, khususnya di kawasan Ampera. Namun, terdapat beberapa masalah terkait fasilitas pedestrian di kawasan Stasiun LRT Ampera, seperti fungsi trotoar yang disalahgunakan, banyaknya hambatan samping berupa pedagang kaki lima dan parkir di badan jalan, serta belum tersedianya fasilitas penyeberangan yang aman dan nyaman bagi pengguna pedestrian, terutama penyandang disabilitas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan fasilitas pedestrian di kawasan Stasiun LRT Ampera Palembang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah perhitungan level of service (LOS) MKJI 1997 dan perhitungan rumus empiris konflik pejalan kaki berdasarkan keadaan arus pejalan kaki dan arus lalu lintas kendaraan (PV . dengan menggunkan data kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlu dilakukan perbaikan dan penambahan fasilitas pedestrian yang sesuai dengan konsep walkability, seperti menyediakan trotoar yang bisa digunakan sesuai fungsinya, menyedia fasilitas penyeberangan seperti pelican dengan lapak tunggu pada jalan Merdeka, jalan Sudirman dan jalan tengkuruk permai sedangakan pada jalan masjid lama dan jalan Palembang darusalam dibutuhkan zebra cross atau pedestrian platform. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi Pemerintah Kota Palembang untuk upaya meningkatkan kualitas fasilitas pedestrian di kawasan Stasiun LRT Ampera, sehingga dapat mendukung fungsi stasiun sebagai pusat aktivitas dan pergerakan masyarakat di kawasan tersebut. Kata Kunci: fasilitas pejalan kaki, walkability. Stasiun LRT Ampera Pendahuluan Penduduk Kota Palembang mengalamai peningkatan setiap tahunnya, data dalam lima tahun terakhir menunjukan bahwa pertumbuhan penduduk Kota Palembang sebesar 6% (Badan Pusat Statistik, 2. Semakin tinggi tingkat aktivitas suatu tata guna lahan, makin tinggi pula tingkat kemampuannya dalam menarik lalu lintas (Tamin, 2. Light Rail Transit (LRT) Palembang hadir menjadi transportasi publik yang efektif untuk mengatasi kemacetan dan mengakomodasi kebutuhan mobilitas masyarakat di Palembang. Meskipun LRT Palembang telah memberikan banyak manfaat bagi masyarakat, namun demikian masih ada beberapa pengoprasian LRT yang perlu dibenahi seperti terkait layanan, penataan kawasan disekitar stasiun LRT Ampera dan keberlanjutan pengembangan infrastruktur pendukung seperti fasilitas pejalan kaki. Pejalan kaki merupakan bagian dari sistem transportasi yang tidak kalah pentingnya dibandingkan moda transportasi lainnya (Juniardi, 2. Stasiun LRT Ampera merupakan Jurnal Penelitian Sekolah Tinggi Transportasi Darat. Volume 15 Issue 1 Year 2024 Pages 34-47 salah satu stasiun penting dalam jaringan transportasi umum Kota Palembang. Dengan adanya Stasiun LRT Ampera di Kota Palembang Saat ini bisa digunakan sebagai akses keluar dan masuknya di kawasan Ampera dan Kawasan Ampera berpotensi untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata yang berorientasi pada pejalan kaki (Kusmalinda et , 2. Masalah yang ada di kawasan stasiun LRT Ampera yaitu tidak memiliki infrastruktur yang memadai untuk pengguna pedestrian seperti trotoar atau jalur pejalan kaki yang di salah gunakan menjadi tempat parkir dan pedagang kaki lima, sehingga kurangnya jalur pedestrian yang aman dan nyaman. Belum adanya fasilitas penyeberangan untuk pejalan kaki terutama untuk penyandang disabilitas, parkir di badan jalan dan jalur trasnportasi umum maupun pribadi terhambat dikarenkan banyaknya angkutan umum yang parkir menunggu penumpang di sekitaran kawasan ampera sehingga menyebabkan kemacetan lalu lintas dan pengguna pejalan kaki yang kurang lancar di sekitaran kawasan stasiun LRT Ampera. Berdasarkan hasil penilaian fasilitas pedestrian dari Kajian Profiling Penumpang LRT Tahun 2022 dengan jumlah responden 4000 menunjukan bahwa masih ada fasilitas pedestrian yang dinilai tidak baik dan sangat tidak baik (Buchari, dkk. , 2. Stasiun LRT Ampera diharapkan dapat menjadi pusat aktifitas dan pergerakan masyarakat di kawasan tersebut. Namun, untuk mendukung fungsi tersebut, ketersediaan dan kualitas fasilitas pejalan kaki di sekitar stasiun menjadi isu penting yang perlu diperhatikan. Sedangkan Jalur pedestrian merupakan sebuah wadah yang memberikan layanan kepada pejalan kaki dalam melakukan suatu kegiatan (Fardila et al. , 2. dan berfungsi memberikan pelayanan kepada pejalan kaki sehingga bisa meningkatkan keamanan, kelancaran, dan kenyamanan bagi pejalan kaki (Mantik et al. , 2. Banyaknya hambatan samping seperti pedagang kaki lima dan parkir di bahu jalan diduga menjadi pemicu rusaknya fungsi jalur pejalan kaki(Faisal & Hariani. Fasilitas menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan pilihan jasa transportasi (Fatoni & Hardianti. Semakin lengkap fasilitas yang diberikan, semakin memudahkan konsumen untuk menikmati jasa yang Ketidaksesuaian penyediaan fasilitas disebabkan oleh belum adanya pendekatan penyediaan fasilitas yang memperhitungkan karakteristik lingkungan serta perilaku dan preferensi pejalan kaki orang Indonesia (Tanan, 2. Salah satu metode untuk meningkatkan fasilitas pejalan kaki adalah dengan menerapkan konsep walkability. Konsep walkability mengatur bahwa suatu fasilitas pejalan kaki harus direncanakan agar memenuhi standar-standar tertentu. Contohnya, menyediakan trotoar yang nyaman dengan pelandaian yang sesuai, menyediakan penyeberangan jalan, sehingga ada kontinuitas jalur pejalan kaki, memasang ubin pengarah untuk penyandang disabilitas, menyediakan elemen peneduh, serta menyediakan penerangan jalan yang memadai (Mulyadi, 2. Penelitian terkait kebutuhan fasilitas pejalan kaki sudah banyak dilakukan di kota lain. Seperti (Rio Angga Permana. Sudarwati, 2. melakukan analisis perencanaan kebutuhan fasilitas pejalan kaki di kawasan pusat bisnis Kabupaten Pesisir Barat. Penelitian tersebut menunjukan bahwa perlu adanya penambhan trotoar sebesar 0,40 meter untuk memenuhi lebar minimum trotoar yaitu 2 meter. (Mayona et al. , 2. mengidentifikasi kebutuhan fasilitas pejalan kaki di Kota Pontianak penelitian ini menggunkan metode Mix Method, yang menggunkan data kualitatif dan (Prayogi et al. , 2. melakukan analisis kinerja dan tingkat pelayanan fasilitas pejalan kaki di kawasan Stasiun Karet. Penelitian ini menyatakan bahwa fasilitas penyebrangan yang tersedia adalah zebra cross yang dinilai belum sesuai dengan kebutuhan fasilitas pejalan kaki yang secara teknis dan memerlukan peningktan tipe fasilitas (Made et al. , 2. menganalisis tingkat kebutuhan fasilitas pejalan kaki di kawasan Central Business District Kota Palu berdasarkan hasil penelitian pelayanan fasilitas pejalan kaki eksisiting terburuk adalah F sedabgkan fasilitas pejalan kaki terbaik adalah B sehingga perlu dilakukan peningktan prioritas dengan usulan mengacu pada Highway Capacity Manual US. Volume pejalan kaki merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi volume lalu lintas kendaraan, terutama di daerah perkotaan (Fujita et al. , 2. Kondisi lalu lintas pada jalan padat dan tidak teratur pada jam sibuk dan tidak jarang pula pada jalur ini terjadi kemacetan yang dapat mempengaruhi keselamatan dan keterlambatan pengguna jalan, terutama pengguna pedestrian (Mintorogo et al. , 2. Maka diperlukan suatu analisis kapasitas serta tingkat pelayanan jalan di daerah tersebut dalam rangka meninjau kondisi jalan serta penanganan yang diperlukan (Widari et al. , 2. Berdasarkan Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan pejalan kaki adalah setiap orang yang berjalan di ruang lalu lintas jalan. Setiap jalan yang digunkan untuk lalu lintas wajib dilengkapi dengan perlengkapan jalan berupa fasilitas untuk pejalan kaki dan penyandang disabilitas seperti, trotoar, fasilitas penyebrangan dan halte . Berdasarkan Standar Kementerian PUPR No : 02/SE/M/2018 tentang Pedoman Fasilitas Pejalan kaki. Kriteria pemilihan fasilitas penyebrangan pejalan kaki didasarkan pada rumus empiris (PV. P adalah arus pejalan Kaki yang menyebrang ruas jalan sepanjang 100 meter tiap jam-nya (Pejalan kaki/ja. dan V adalah arus kendaraan tiap jam dalam dua arah . endaraan/ja. P dan V merupakan arus rata-rata pejalan kaki dan kendaraan pada jam sibuk Jurnal Penelitian Sekolah Tinggi Transportasi Darat. Volume 15 Issue 1 Year 2024 Pages 34-47 dengan rekomendasi yang ada pada tabel Standar Kementerian PUPR No : 02/SE/M/2018 tentang Kriteria Penentuan Fasilitas Penyebrangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan fasilitas pejalan kaki di kawasan Stasiun LRT Ampera. Analisis akan dilakukan dengan menilai kondisi eksisting fasilitas pejalan kaki, termasuk ketersediaan, kualitas, dan tingkat aksesibilitas. Metode Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah perhitungan Level of Service (LoS) MKJI 1997 dan perhitungan rumus empiris konflik pejalan kaki berdasarkan keadaan arus pejalan kaki dan arus lalu lintas kendaraan (PV. dengan menggunkan data kuantitatif. Data kuantitatif adalah data yang dinyatakan dalam bentuk angka, dapat dihitung dan diukur, dan sifatnya objektif (Sugiyono, 2. Pertama, melakukan observasi lapangan bertujuan untuk menilai kondisi eksisting fasilitas pejalan kaki di sekitar Stasiun LRT Ampera, termasuk mengidentifikasi permasalahan terkait lebar, kualitas, dan aksesibilitas trotoar serta elemen pendukung lainnya. Selain itu, dilakukan penghitungan jumlah pejalan kaki yang melewati area studi. Data ini digunakan untuk menganalisis pola pergerakan dan kebutuhan nyata dari pengguna pejalan kaki di kawasan tersebut. Penelitian ini juga melakukan penghitungan volume kendaraan yang melintas, guna menganalisis dampak lalu lintas terhadap mobilitas dan keselamatan pejalan kaki. Setelah pengumpulan data melalui observasi lapangan dan penghitungan kemudiaan dilakukan analisis perhitungan Level of Service (LoS) MKJI 1997 dan analisis perhitungan rumus empiris konflik pejalan kaki berdasarkan keadaan arus pejalan kaki dan arus lalu lintas kendaraan (PV . analisis ini bertujuan untuk mengevaluasi ketersediaan, kualitas, dan aksesibilitas fasilitas pejalan kaki di sekitar Stasiun LRT Ampera, serta mengidentifikasi titik-titik permasalahan dan kebutuhan pengembangan infrastruktur pejalan kaki yang diperlukan untuk mendukung sistem transportasi publik yang berkelanjutan di Kota Palembang. Gambar 1 Lokasi Survei Pengambilan Data pada gamabar 1 diatas dijelaskan Lokasi penelitian berada di kawasan stasiun LRT Ampera terdapat lima lokasi survey pengambilan data, yaitu pada Jalan Jendral Sudirman. Jalan masjid Lama. Jalan Tengkuruk. Jalan Palembang Darusalam dan Jalan Merdeka. Survei penelitian ini dilaksanakan selama 2 hari, untuk survey counting pejalan kaki dilakukan selama 13 jam mulai pukul 06. 00 Ae 19. 00 Wib yang dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 29 Februari 2024 dan 1 hari lagi dilaksanakan untuk survey traffic counting yang dilakukan selama 13 jam mulai pukul 00 Ae 19. 00 Wib dilaksanakan pada hari kamis tanggal 4 Maret 2024. Rumus untuk menghitung kapasitas jalan kota berdasarkan Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI, 1. C = Co x Fw x Fsp x Fsf x Fcs Keterangan: C = Kapasitas Jalan ( smp / ja. Co = Kapasitas dasar . Fw = Faktor penyesuaian lebar jalan Jurnal Penelitian Sekolah Tinggi Transportasi Darat. Volume 15 Issue 1 Year 2024 Pages 34-47 Fsp = Faktor penyesuaian arah lalu lintas Fsf = Faktor hambatan samping Dimana C adalah kapasitas jalan dalam satuan mobil penumpang per jam . mp/ja. Co adalah kapasitas dasar jalan, yang nilainya dapat diperoleh dari tabel manual kapasitas jalan berdasarkan tipe jalan dan jumlah lajur. Fw adalah faktor penyesuaian lebar jalan, yang mempertimbangkan pengaruh lebar jalan terhadap kapasitas. Fsp adalah faktor penyesuaian arah lalu lintas, yang mempertimbangkan komposisi arah lalu lintas. Fsf adalah faktor penyesuaian hambatan samping, yang mempertimbangkan pengaruh aktivitas di samping jalan terhadap kapasitas. Fcs adalah faktor penyesuaian ukuran kota, yang mempertimbangkan pengaruh ukuran kota terhadap kapasitas. Rumus ini berguna untuk menghitung kapasitas jalan di perkotaan, yang dapat digunakan sebagai informasi dalam perencanaan dan pengelolaan sistem transportasi. Dengan mengetahui kapasitas jalan, kita dapat memprediksi kinerja lalu lintas, mengidentifikasi titik-titik kemacetan, dan mengambil langkah-langkah perbaikan yang diperlukan. Hubungan antara kecepatan dan volume jalan perlu di ketahui karena kecepatan dan volume merupakan aspek penting dalam menentukan tingkat pelayanan jalan. Rumus Perhitungan Tingkat Pelayanan Jalan Level of Service (LoS) (MKJI, 1. ycO yaycCycI = ya Keterangan: V = Volume Kendaraan . mp/ja. C = Kapasitas Jalan . mp/ja. Volume kendaraan (V) menggambarkan jumlah kendaraan yang melewati suatu ruas jalan per satuan waktu, biasanya dinyatakan dalam satuan mobil penumpang per jam . mp/ja. Volume kendaraan ini mencerminkan jumlah permintaan atau kebutuhan transportasi pada ruas jalan tersebut. kapasitas jalan (C) menunjukkan kemampuan maksimum suatu ruas jalan untuk menampung arus lalu lintas dalam kondisi tertentu, juga dinyatakan dalam satuan smp/jam. Kapasitas jalan dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti lebar jalan, jumlah lajur, tipe jalan, dan kondisi lingkungan sekitar. Rumus Perhitungan Tingkat Pelayanan Jalan LoS dapat digunakan untuk mengevaluasi kinerja jalan, mengidentifikasi kebutuhan fasilitas pedestrian, dan menjadi dasar perencanaan pengembangan fasilitas pedestrian di kawasan stasiun LRT Ampera. Hasil analisis LoS dapat memberikan informasi penting dalam upaya meningkatkan aksesibilitas dan keamanan bagi pejalan kaki di kawasan tersebut. Hasil dan Pembahasan Untuk mengetahui kondisi eksisting fasilitas pedestrian kawasan Stasiun LRT Ampera, telah dilakukan survei dan pengamatan langsung di lapangan. Pada Tabel 1 dapat kita lihat informasi mengenai kondisi fasilitas-fasilitas yang terdapat di sekitar kawasan Stasiun LRT Ampera: Tabel 1. Kondisi Eksisting Pedestrian Kawasan Stasiun LRT Ampera FASILITAS TROTOAR KONDISI LAPANGAN Berdasarkan dari hasil survey dan pengamatan langsung di lapangan kondisi trotoar di kawasan stasiun LRT ampera sudah memenuhi syarat minum lebar menurut Standar Kementerian PUPR No : 02/SE/M/2018 lebar minimum trotoar untuk kawasan perkantoran, pertokan/perbelanjaan, dan terminal/bus stop adalah 2 meter (PUPR, 2. Sedangkan untuk lebar trotoar di sekitar kawasan Stasiun LRT Ampera bervariasi mulai dari 2,5 meter sampai 4 meter. Akan tetapi yang menjadi masalah untuk trotoar di kawasan stasiun LRT ampera adalah di salah gunakannya fungsi dari trotoar Seperti dijadikan tempat parkir kendaraan beroda dua dan kendaraan beroda empat, dijadikan tempat berjualan DOKUMENTASI Jurnal Penelitian Sekolah Tinggi Transportasi Darat. Volume 15 Issue 1 Year 2024 Pages 34-47 ZEBRA CROSS JEMBATAN PENYEBRANGAN ORANG (JPO) FASILITAS PELENGKAP untuk pedagang kaki lima, dan digunkan untuk menaruh barang dagangan toko yang berada di sekitar kawasan tersebut. zebra cross yang berada di sekitaran kawasan stasiun LRT ampera terdapat di satu zona yaitu pada ruas jalan merdeka yang berada di depan monpera. Zebra cross dengan lampu peringatan untuk pejalan kaki. untuk kondisi zebra cross yang warna nya sudah memudar dan sebagian tidak terlihat Jembatan Penyebrangan Orang (JPO) yang berada pada jalan Jendral Sudirman dengan panjang 19 meter. Struktur jembatan terbuat dari beton dengan lebar tangga sekitar 1,5 meter, pagar pengaman terbuat dari besi dengan ukiran khas motif Palembang. penyebrangan orang ini tanpa atap pelindung dan masih banyak orang yang lebih memilih menyebrang di bawah jembatan dari pada menggunkan jpo dan jaraknya yang sekitar 250 meter dari Pada kawasan stasiun LRT Ampera beberapa lokasi sudah memiliki fasilitas pelengkap seperti pohon peneduh, tempat sampah, lampu penerangan, petunjuk arah pejalan kaki dan tempat duduk seperti yang ada pada jalan Palembang darusalam. Untuk ruas jalan lainnya belum memenuhi fasilitas pelengkap pedestrian. Tabel diatas menjelaskan dan memberikan gambaran tentang kondisi eksisting fasilitas pejalan kaki di kawasan Stasiun LRT Ampera Palembang, seperti: Trotoar. Zebra Cross. Jembatan Penyebrangan Orang (JPO) dan Fasilitas Pelengkap. Informasi ini dapat digunakan sebagai dasar untuk merumuskan rekomendasi dan rencana tindak lanjut guna meningkatkan kualitas dan keselamatan bagi pejalan kaki di kawasan Stasiun LRT Ampera Palembang. Level of Service (LoS) pada jalan-jalan di Sekitar Kawasan Ampera Survey traffic count di sekitar Kawasan Ampera yang telah dilakukan tanggal 4 Maret 2024 digukanan untuk mengetahui Level of Service (LoS) jalan yang ada disekitar Kawasan ampera. Ada 5 ruas jalan yang diamati yaitu ruas Jalan Sudirman. Jalan Merdeka. Jalan Tengkuruk. Jalan Masjid Lama dan Jalan Palembang Darussalam. Pada tabel 2 dibawah merupakan hasil dari survey yang dilakukan, ditemukan ada beberapa ruas jalan yang mencapai tingkat kejenuhan sehingga mengakibatkan kemacetan pada waktu jam sibuk. Hal ini ditunjukan dengan nilai Volume Capacity Ratio (VCR) perhitungan anatara kapasitas jalan dengan volume kendaraan yang didapat dari hasil survey. Tabel 1. Level of Service (LoS) pada jalan di Sekitar Kawasan Ampera Nama Ruas Jalan Lebar Ruas . Lebar Efektif Tipe Jalan Volume (SMP/Ja. Kapasitas Jalan (SMP/ja. VCR LOS Jurnal Penelitian Sekolah Tinggi Transportasi Darat. Volume 15 Issue 1 Year 2024 Pages 34-47 Nama Ruas Jalan Lebar Ruas . Jalan Sudirman Jalan Merdeka Jalan Tengkuruk Permai Lebar Efektif Jalan Masjid lama Jalan Palembang Darussalam Tipe Jalan Volume (SMP/Ja. Kapasitas Jalan (SMP/ja. VCR LOS 6/2 D 4/2 D 6/2 D 4/2 D 4/2D Table 2 diatas menjelaskan bahwa Jalan Sudirman memiliki tingkat pelayanan yang buruk, dengan LoS F, dimana arus lalu lintas dipaksakan, kecepatan rendah, dan volume melebihi kapasitas jalan yang hanya 4144 SMP/jam, sedangkan volume lalu lintasnya mencapai 4426 SMP/jam. Jalan Merdeka memiliki tingkat pelayanan yang baik, dengan LoS B, dimana arus lalu lintas stabil dan kecepatan lalu lintas terkendali. Volume lalu lintasnya hanya 1160 SMP/jam, sementara kapasitas jalan mencapai 2763 SMP/jam. Jalan Tengkuruk Permai juga memiliki tingkat pelayanan yang buruk, dengan LoS F, dengan kondisi arus lalu lintas yang dipaksakan, kecepatan rendah, dan volume melebihi kapasitas jalan yang hanya 2459 SMP/jam, sedangkan volume lalu lintasnya mencapai 2521 SMP/jam. Jalan Masjid Lama memiliki tingkat pelayanan yang buruk, dengan LoS F, dimana arus lalu lintas dipaksakan, kecepatan rendah, dan volume melebihi kapasitas jalan yang hanya 227 SMP/jam, sedangkan volume lalu lintasnya mencapai 426 SMP/jam. Sementara itu. Jalan Palembang Darussalam memiliki tingkat pelayanan yang baik, dengan LoS A, dimana arus lalu lintas bebas dan kecepatan tinggi. Volume lalu lintasnya hanya 507 SMP/jam, sementara kapasitas jalan mencapai 2763 SMP/jam. Gambar 2 berikut ini menjelaskan VCR jalan yang diwakili dengan warna sesuai VCRnya masing masing. Gambar 2. peta ruas jalan di sekitar kawasan Ampera Gambar diatas menunjukkan nilai Rasio Volume-Kapasitas (VCR) untuk beberapa ruas jalan di area tersebut. Jalan Sudirman memiliki VCR sebesar 1. 07, yang berarti volume lalu lintas melebihi kapasitas jalan. Jalan Merdeka memiliki VCR 0. 42, menunjukkan bahwa arus lalu lintas stabil dan terkendali. Jalan Tengkuruk Permai memiliki VCR 03, yang juga mengindikasikan volume lalu lintas melebihi kapasitas jalan. Jalan Masjid Lama memiliki VCR 1. 88, jauh melebihi kapasitas jalan. Sementara itu. Jalan Palembang Darussalam memiliki VCR hanya 0. 18, yang berarti arus lalu lintas lancar dan jauh di bawah kapasitas jalan. Secara keseluruhan, gambar ini memberikan gambaran tentang kondisi lalu lintas di kawasan tersebut, dengan beberapa ruas jalan yang sudah mengalami overkapasitas, sementara yang lain masih dalam kondisi baik. Data Jumlah Pejalan Kaki Survey pejalan kaki dilakukan di lima titik pengamatan yaitu di ruas Jalan Jendral Sudirman, ruas Jalan Masjid Lama, ruas Jalan Tengkuruk Permairuas jalan Palembang Darusalam dan ruas Jalan Merdeka. Pelaksanaan survey Jurnal Penelitian Sekolah Tinggi Transportasi Darat. Volume 15 Issue 1 Year 2024 Pages 34-47 pejalan kaki atau pedestrian dilakukan tidak secara bersamaan dengan survey lalu lintas. Survey pejlan kaki atau pedestrian di mulai pukul 06. 00 Ae 19. 00 wib. Data volume pejalan kaki digunkan untuk mengetahui jumlah penyebrangan pada wilayah yang diaamati. Volume Pedestrian padaJalan Tengkuruk Permai disajikan pada tabel 3 berikut ini. Tabel 2. Volume Pedestrian padaJalan Tengkuruk Permai Waktu Pengamatan (Ja. 00 - 07. 00 Ae 08. 00 Ae 09. 00 Ae 10. 00 Ae 11. 00 Ae 12. 00 Ae 13. 00 Ae 14. 00 Ae 15. 00 Ae 16. 00 Ae 17. 00 Ae 18. 00 Ae 19. Total Jumlah pejalan kaki Tabel 3 menunjukan jumlah pejalan kaki yang tercatat di Jalan Tengkuruk Permai dari pukul 06. 00 - 19. adalah sebanyak 6. 785 orang. Jumlah pejalan kaki terendah terjadi pada pukul 06. 00 dengan hanya 63 orang. Sementara jumlah pejalan kaki tertinggi terjadi pada pukul 15. 00 mencapai 1. 027 orang. Secara umum terjadi peningkatan jumlah pejalan kaki sejak pagi hari, mencapai puncaknya pada siang hari antara pukul 14. itu jumlah pejalan kaki menurun di sore hari hingga mencapai angka terendah di malam hari. Selanjutnya Volume Pedestrian pada Jalan Sudirman dapat dilihat pada tabel 4 berikut ini. Tabel 3. Jumlah Volume Pedestrian di Jalan Sudirman Waktu Pengamatan (Ja. 00 - 07. 00 Ae 08. 00 Ae 09. 00 Ae 10. 00 Ae 11. 00 Ae 12. 00 Ae 13. 00 Ae 14. 00 Ae 15. 00 Ae 16. 00 Ae 17. 00 Ae 18. 00 Ae 19. Total Jumlah pejalan kaki Berdasarkan data pada Tabel 4, jumlah total pejalan kaki yang tercatat di Jalan Sudirman selama periode pengamatan dari pukul 06. 00 hingga 19. 00 adalah 3. 940 orang. Jumlah pejalan kaki terendah terjadi pada pukul 00 dengan hanya 77 orang. Sementara jumlah pejalan kaki tertinggi terjadi pada pukul 15. 00, mencapai 514 orang. Secara umum, terjadi peningkatan jumlah pejalan kaki sejak pagi hari, mencapai puncaknya pada siang hari antara pukul 12. Setelah itu, jumlah pejalan kaki mulai menurun di sore hari hingga mencapai angka terendah di malam hari. Berikut ini Tabel 5 menyajikan Jumlah Volume Pedestrian di Jalan Merdeka. Jurnal Penelitian Sekolah Tinggi Transportasi Darat. Volume 15 Issue 1 Year 2024 Pages 34-47 Tabel 4. Jumlah Volume Pedestrian di Jalan Merdeka Waktu Pengamatan (Ja. 00 - 07. 00 Ae 08. 00 Ae 09. 00 Ae 10. 00 Ae 11. 00 Ae 12. 00 Ae 13. 00 Ae 14. 00 Ae 15. 00 Ae 16. 00 Ae 17. 00 Ae 18. 00 Ae 19. Total Jumlah pejalan kaki Dari data pada Tabel 5, jumlah total pejalan kaki yang tercatat di Jalan Merdeka selama periode pengamatan dari pukul 06. 00 hingga 19. 00 adalah 1. 695 orang. Jumlah pejalan kaki terendah terjadi pada pukul 06. dengan hanya 48 orang. Sementara jumlah pejalan kaki tertinggi terjadi pada pukul 16. 00, mencapai 201 orang. Secara umum, terjadi fluktuasi jumlah pejalan kaki sepanjang hari di Jalan Merdeka. Terdapat dua puncak volume pejalan kaki, yaitu pada pagi hari antara pukul 07. 00 dan sore hari antara pukul 13. Jumlah pejalan kaki cenderung menurun antara pukul 11. Tabel 6 berikut menyajikan Jumlah Volume Pedestrian di Masjid Lama. Tabel 5. Jumlah Volume Pedestrian di Masjid Lama Waktu Pengamatan (Ja. 00 - 07. 00 Ae 08. 00 Ae 09. 00 Ae 10. 00 Ae 11. 00 Ae 12. 00 Ae 13. 00 Ae 14. 00 Ae 15. 00 Ae 16. 00 Ae 17. 00 Ae 18. 00 Ae 19. Total Jumlah pejalan kaki Tabel 6 menunjukkan jumlah total pejalan kaki di area Masjid Lama selama periode pengamatan dari pukul 00 hingga 19. 00 adalah 5. 830 orang. Jumlah pejalan kaki terendah terjadi pada pukul 06. 00 dengan 89 Sementara jumlah pejalan kaki tertinggi terjadi pada pukul 13. 00, mencapai 968 orang. Secara umum, terjadi peningkatan jumlah pejalan kaki sejak pagi hari, mencapai puncaknya pada siang hari antara pukul 12. kemudian menurun di sore hari hingga mencapai angka terendah di malam hari. Selanjutnya Tabel 7 berikut ini menunjukkan Jumlah Volume Pedestrian di Palembang Darusalam. Tabel 6. Jumlah Volume Pedestrian di Palembang Darusalam Waktu Pengamatan (Ja. 00 - 07. 00 Ae 08. 00 Ae 09. 00 Ae 10. Jumlah pejalan kaki Jurnal Penelitian Sekolah Tinggi Transportasi Darat. Volume 15 Issue 1 Year 2024 Pages 34-47 Waktu Pengamatan (Ja. 00 Ae 11. 00 Ae 12. 00 Ae 13. 00 Ae 14. 00 Ae 15. 00 Ae 16. 00 Ae 17. 00 Ae 18. 00 Ae 19. Total Jumlah pejalan kaki Berdasarkan data pada Tabel 7, jumlah total pejalan kaki yang tercatat di area Palembang Darusalam selama periode pengamatan dari pukul 06. 00 hingga 19. 00 adalah 1. 345 orang. Jumlah pejalan kaki terendah terjadi pada 00 dengan hanya 24 orang. Sementara jumlah pejalan kaki tertinggi terjadi pada pukul 17. mencapai 169 orang. Secara umum, terjadi fluktuasi jumlah pejalan kaki sepanjang hari di area Palembang Darusalam. Terdapat dua puncak volume pejalan kaki, yaitu pada pagi hari antara pukul 07. 00 dan sore hari antara pukul Jumlah pejalan kaki cenderung menurun pada siang hari antara pukul 11. Kebutuhan Fasilitas Penyebrangan Dilakukan Perhitungan nilai PVA untuk mengetahui kebutuhan fasilitas penyebrangan dengan menggunkan jam puncak pada volume pejalan kaki dan volume lalu lintas. perhitungan nilai PVA dapat dilihat pada tabel 8 berikut. Tabel 7. Nilai PVA pada jalan Merdeka Waktu PVA 00 Ae 11. 00 Ae 12. 00 Ae 13. 00 Ae 14. 12,83x1010 . rang/ja. Pratarata end/ja. Vrata-rata PVA 10,49x1010 Dari table diatas jam puncak pejalan kaki pada Jalan Merdeka terdapat pada pukul 10. 00 Ae 14. 00, nilai volume rata-rata pejalan kaki selama rentang waktu tersebut adalah 132 orang per jam dan nilai volume kendaraan rata-rata selama rentang waktu tersebut adalah 2. 462 kendaraan per jam. Berdasarkan pedoman Standar Kementerian PUPR No : 02/SE/M/2018 nilai PVA yang lebih besar dari 2x10A mengindikasikan perlunya fasilitas penyebrangan yang lebih Untuk rekomendasi penyebrangan yang dibutuhkan pada Jalan Merdeka dijelaskan pada tabel 9 berikut. Tabel 8. Rekomendasi Fasilitas Penyebrangan Parameter Volume Penyberang rata-rata (P. Volume Kendaraan rata-rata (V. PVA Posisi PVA Lapangan terhadap PVA standard Jalan Merdeka 10,49x 1010 PVA>2x108 50
750 Pelican dengan lapak tunggu Rekomendasi Fasilitas Penyebrangan Pada table diatas Jalan Merdeka memiliki volume penyeberang rata-rata (P. sebesar 132 orang, yang berada dalam rentang kriteria 50
750. Nilai PVA adalah 10,49x 1010, yang lebih besar dari standar PVA>2x108. Berdasarkan pemenuhan terhadap seluruh parameter yang ditetapkan, yaitu 50
750, dan PVA>2x108, maka fasilitas penyebrangan yang direkomendasikan untuk Jalan Merdeka adalah Pelican dengan lapak tunggu mengacu pada Standar Kementerian PUPR No : 02/SE/M/2018 adalah Pelican dan lapak tunggu. tabel ini digunakan dalam mendukung analisis kebutuhan, perencanaan, dan pengembangan fasilitas penyebrangan yang sesuai dengan kondisi eksisting dan kriteria yang Jurnal Penelitian Sekolah Tinggi Transportasi Darat. Volume 15 Issue 1 Year 2024 Pages 34-47 ditetapkan untuk Jalan Merdeka. Tabel 9. Nilai PVA pada jalan Jendral Sudirman Waktu PVA 00 Ae 15. 00 Ae 16. 22,16x1011 32,90 x1011 . rang/ja. 00 Ae 17. 00 Ae 18. 22,18 x1011 11,09 x1011 Prata-rata end/ja. Vrata-rata PVA 22,08x 1011 Dari table diatas jam puncak pejalan kaki pada Jalan Jendral Sudirman terdapat pada pukul 14. 00 Ae 18. nilai volume rata-rata pejalan kaki selama rentang waktu tersebut adalah 415 orang per jam dan nilai volume kendaraan rata-rata selama rentang waktu tersebut adalah 3649 kendaraan per jam. Berdasarkan pedoman Standar Kementerian PUPR No : 02/SE/M/2018 nilai PVA yang lebih besar dari 2x10A mengindikasikan perlunya fasilitas penyebrangan yang lebih memadai. Untuk rekomendasi penyebrangan yang dibutuhkan pada Jalan Jendral Sudirman dijelaskan pada table 11. Tabel 10. Rekomendasi Fasilitas Penyebrangan Parameter Volume Penyberang rata-rata (P. Volume Kendaraan rata-rata (V. PVA Posisi PVA Lapangan terhadap PVA standard Jalan Jendral Sudirman 22,08x 1011 PVA>2x108 50
750 Pelican dengan lapak tunggu Rekomendasi Fasilitas Penyebrangan Pada table diatas Jalan Jendral Sudirman memiliki volume penyeberang rata-rata (P. sebesar 415 orang, yang berada dalam rentang kriteria 50
750. Nilai PVA adalah 22,08x 1011, yang lebih besar dari standar PVA>2x108. Berdasarkan pemenuhan terhadap seluruh parameter yang ditetapkan, yaitu 50
750, dan PVA>2x108, maka fasilitas penyebrangan yang direkomendasikan untuk Jalan Jendral Sudirman adalah Pelican dengan lapak tunggu mengacu pada Standar Kementerian PUPR No : 02/SE/M/2018 adalah Pelican dan lapak tunggu. tabel ini digunakan dalam mendukung analisis kebutuhan, perencanaan, dan pengembangan fasilitas penyebrangan yang sesuai dengan kondisi eksisting dan kriteria yang ditetapkan untuk Jalan Jendral Sudirman. Tabel 11. Nilai PVA pada jalan Masjid Lama Waktu PVA 00 Ae 14. rang/ja. 00 Ae 15. 00 Ae 16. 00 Ae 17. Prata-rata end/ja. Vrata-rata PVA Dari table diatas jam puncak pejalan kaki pada Jalan Masjid Lama terdapat pada pukul 13. 00Ae17. 00, nilai volume rata-rata pejalan kaki selama rentang waktu tersebut adalah 715 orang per jam dan nilai volume kendaraan rata-rata selama rentang waktu tersebut adalah 314 kendaraan per jam. Berdasarkan pedoman Standar Kementerian PUPR No : 02/SE/M/2018 nilai PVA yang lebih besar dari 10A mengindikasikan perlunya fasilitas penyebrangan yang lebih Untuk rekomendasi penyebrangan yang dibutuhkan pada Jalan Masjid Lama dijelaskan pada tabel 13. Tabel 12. Rekomendasi Fasilitas Penyebrangan Parameter Volume Penyberang rata-rata (P. Volume Kendaraan rata-rata (V. PVA Posisi PVA Lapangan terhadap PVA standard Jalan Masjid Lama 4,90x 1010 PVA> 108 50
300 Zebra cross atau pedestrian platform Rekomendasi Fasilitas Penyebrangan Berdasarkan tabel diatas Jalan Masjid Lama memiliki volume penyeberang rata-rata (P. sebesar 715 orang, yang berada dalam rentang kriteria 50
300. Nilai PVA adalah 4,90x 1010, yang lebih besar dari standar PVA>108. Berdasarkan pemenuhan terhadap seluruh parameter yang ditetapkan, yaitu 50
300, dan PVA>108, maka fasilitas penyebrangan yang direkomendasikan untuk Jalan Masjid Lama adalah Zebra cross atau pedestrian platform mengacu pada Standar Kementerian PUPR No : 02/SE/M/2018. tabel ini digunakan dalam mendukung analisis kebutuhan, perencanaan, dan pengembangan fasilitas penyebrangan yang sesuai dengan kondisi eksisting dan kriteria yang ditetapkan untuk Jalan Masjid Lama. Tabel 13. Nilai PVA pada jalan Tengkuruk Waktu PVA 00 Ae 14. 00 Ae 15. 5,30931E 11 4,21694E 11 rang/ja. 00 Ae 16. 00 Ae 17. 2,92043E 12 1,31055E 12 Prata-rata end/ja. Vrata-rata PVA 1,2959E 12 Dari table diatas jam puncak pejalan kaki pada Jalan Jendral Sudirman terdapat pada pukul 13. 00 Ae 17. 00, nilai volume rata-rata pejalan kaki selama rentang waktu tersebut adalah 822 orang per jam dan nilai volume kendaraan rata-rata selama rentang waktu tersebut adalah 1249 kendaraan per jam. Berdasarkan pedoman Standar Kementerian PUPR No : 02/SE/M/2018 nilai PVA yang lebih besar dari 2x10A mengindikasikan perlunya fasilitas penyebrangan yang lebih memadai. Untuk rekomendasi penyebrangan yang dibutuhkan pada Jalan Tengkuruk dijelaskan pada table 15. Tabel 14. Rekomendasi Fasilitas Penyebrangan Parameter Volume Penyberang rata-rata (P. Volume Kendaraan rata-rata (V. PVA Posisi PVA Lapangan terhadap PVA standard Jalan Tengkuruk 12,95x 1011 PVA>2x108 50
750 Pelican dengan lapak tunggu Rekomendasi Fasilitas Penyebrangan Pada table diatas Jalan Tengkuruk memiliki volume penyeberang rata-rata (P. sebesar 822 orang, yang berada dalam rentang kriteria 50
750. Nilai PVA adalah 12,95x 1011, yang lebih besar dari standar PVA>2x108. Berdasarkan pemenuhan terhadap seluruh parameter yang ditetapkan, yaitu 50
750, dan PVA>2x108, maka fasilitas penyebrangan yang direkomendasikan untuk Jalan Tengkuruk adalah Pelican dengan lapak tunggu mengacu pada Standar Kementerian PUPR No : 02/SE/M/2018. tabel ini digunakan dalam mendukung analisis kebutuhan, perencanaan, dan pengembangan fasilitas penyebrangan yang sesuai dengan kondisi eksisting dan kriteria yang ditetapkan untuk Jalan Tengkuruk. Tabel 15. Nilai PVA pada jalan Palembang Darusalam Waktu PVA 00 Ae 08. 00 Ae 09. 00 Ae 10. rang/ja. 00 Ae 11. Prata-rata end/ja. Vrata-rata PVA Dari table diatas jam puncak pejalan kaki pada Jalan Palembang Darusalam terdapat pada pukul 07. 00 Ae 11. nilai volume rata-rata pejalan kaki selama rentang waktu tersebut adalah 131 orang per jam dan nilai volume kendaraan rata-rata selama rentang waktu tersebut adalah 389 kendaraan per jam. Berdasarkan pedoman Standar Jurnal Penelitian Sekolah Tinggi Transportasi Darat. Volume 15 Issue 1 Year 2024 Pages 34-47 Kementerian PUPR No : 02/SE/M/2018 nilai PVA yang lebih besar dari 10A mengindikasikan perlunya fasilitas penyebrangan yang lebih memadai. Untuk rekomendasi penyebrangan yang dibutuhkan pada Jalan Palembang Darusalam dijelaskan pada tabel 17. Tabel 16. Rekomendasi Fasilitas Penyebrangan Parameter Volume Penyberang rata-rata (P. Volume Kendaraan rata-rata (V. PVA Posisi PVA Lapangan terhadap PVA standard Jalan Palembang Darusalam 3,05x 109 PVA> 108 50
300 Zebra cross atau pedestrian platform Rekomendasi Fasilitas Penyebrangan Berdasarkan tabel diatas Jalan Palembang Darusalam memiliki volume penyeberangan rata-rata (P. sebesar 132 orang, yang berada dalam rentang kriteria 50
300. Nilai PVA adalah 3,05x 109, yang lebih besar dari standar PVA>108. Berdasarkan pemenuhan terhadap seluruh parameter yang ditetapkan, yaitu 50
300, dan PVA>108, maka fasilitas penyebrangan yang direkomendasikan untuk Jalan Palembang Darusalam adalah Zebra cross atau pedestrian platform mengacu pada Standar Kementerian PUPR No : 02/SE/M/2018. tabel ini digunakan dalam mendukung analisis kebutuhan, perencanaan, dan pengembangan fasilitas penyebrangan yang sesuai dengan kondisi eksisting dan kriteria yang ditetapkan untuk Jalan Palembang Darusalam. Dari hasil perhitungan yang dilakukan pada penelitian ini bahwa pada Jalan Sudirman. Jalan Tengkuruk, dan Jalan Masjid Lama memiliki tingkat pelayanan yang buruk, dengan LoS F, dimana arus lalu lintas dipaksakan, kecepatan rendah, dan volume melebihi kapasitas jalan sedangkan Jalan Merdeka memiliki tingkat pelayanan yang baik, dengan LoS B, dimana arus lalu lintas stabil dan kecepatan lalu lintas terkendali. Sementara itu. Jalan Palembang Darussalam memiliki tingkat pelayanan yang baik, dengan LoS A, dimana arus lalu lintas bebas dan kecepatan tinggi. Dan dari hasil perhitungan juga dibutuhkannya fasilitas penyeberangan berupa pelican crossing dengan lapak tunggu di Jalan Merdeka. Jalan Sudirman, dan Jalan Tengkuruk Permai. Sementara itu, di Jalan Masjid Lama dan jalan Palembang Darussalam dibutuhkan zebra cross atau pedestrian platform. Kesimpulan Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa. Kondisi trotoar sudah memenuhi standar minimal lebar 2 meter, dengan lebar bervariasi dari 2,5 meter hingga 4 meter. Namun, terdapat permasalahan berupa penyalahgunaan fungsi trotoar, seperti untuk parkir kendaraan, tempat berjualan pedagang kaki lima, dan meletakkan barang dagangan toko. Hal ini mengindikasikan adanya kebutuhan untuk pengaturan yang lebih baik terhadap pemanfaatan trotoar agar dapat berfungsi optimal bagi pejalan kaki. Terdapat zebra cross dengan lampu peringatan untuk pejalan kaki di Jalan Merdeka, di depan Monpera pada Jalan Merdeka. Namun, kondisi zebra cross tersebut telah memudar dan sebagian tidak terlihat dengan jelas. Ini menunjukkan perlunya pemeliharaan dan perbaikan zebra cross agar dapat berfungsi dengan baik dan aman bagi pejalan kaki. Terdapat JPO sepanjang 19 meter di Jalan Jendral Sudirman. Struktur JPO terbuat dari beton dengan lebar tangga sekitar 1,5 meter dan pagar pengaman besi. Namun. JPO ini tidak dilengkapi atap pelindung, sehingga masih banyak pejalan kaki yang memilih menyeberang di bawah JPO. Ini mengindikasikan bahwa keberadaan JPO belum optimal dalam melayani pejalan kaki, sehingga perlu adanya peningkatan desain dan kelengkapan JPO. Untuk Fasilitas Pelengkap Beberapa lokasi di kawasan stasiun LRT Ampera telah dilengkapi dengan fasilitas pendukung pejalan kaki, seperti pohon peneduh, tempat sampah, lampu penerangan, petunjuk arah, dan tempat duduk. Namun, tidak semua ruas jalan di kawasan ini telah dilengkapi dengan fasilitas pelengkap yang memadai. Hal ini menunjukkan perlunya peningkatan kelengkapan fasilitas pendukung pejalan kaki di seluruh kawasan stasiun LRT Ampera. Berdasarkan hasil survey, obeservasi lapangan dan perhitungan yang dilakukan pada penelitian ini bahwa dari hasil perhitungan yang dilakukan pada penelitian ini bahwa pada Jalan Sudirman. Jalan Tengkuruk, dan Jalan Masjid Lama memiliki tingkat pelayanan yang buruk, dengan LoS F, dimana arus lalu lintas dipaksakan, kecepatan rendah, dan volume melebihi kapasitas jalan sedangkan Jalan Merdeka memiliki tingkat pelayanan yang baik, dengan LoS B, dimana arus lalu lintas stabil dan kecepatan lalu lintas terkendali. Sementara itu. Jalan Palembang Darussalam memiliki tingkat pelayanan yang baik, dengan LoS A, dimana arus lalu lintas bebas dan kecepatan tinggi. Dan Jurnal Penelitian Sekolah Tinggi Transportasi Darat. Volume 15 Issue 1 Year 2024 Pages 34-47 dibutuhkan juga fasilitas penyeberangan berupa pelican crossing dengan lapak tunggu di Jalan Merdeka. Jalan Sudirman, dan Jalan Tengkuruk Permai. Sementara itu, di Jalan Masjid Lama dan jalan Palembang Darussalam dibutuhkan zebra cross atau pedestrian platform. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi Pemerintah Kota Palembang dalam upaya meningkatkan kualitas fasilitas pedestrian di kawasan Stasiun LRT Ampera, sehingga dapat mendukung fungsi stasiun sebagai pusat aktivitas dan pergerakan masyarakat di wilayah tersebut. Jurnal Penelitian Sekolah Tinggi Transportasi Darat. Volume 15 Issue 1 Year 2024 Pages 34-47 Referensi