Vol. 2 No. Desember 2024, pp. https://journal. id/index. p/pelangi | E-ISSN: 3089-6150 Upaya Meningkatkan Kemandirian Anak Melalui Kegiatan Menggunting Dan Menempel Pada Usia 5-6 Tahun Grace Charity1*. Sri Wahyuni2. Bety Vitriana3. Norlaila4. Yamani5 1,2,3,4,5 PG Paud Universitas Mulia. Indonesia *email: grace. cha@students. ABSTRAK Penelitian ini berlandaskan pada kemandirian pada anak TK Happy Holy Kids Balikpapan yang masih Belum semua anak memenuhi penilaian BSH pada setiap indikator perkembangan kemandirian seperti mengantri mencuci tangan, merapikan mainan sendiri dan mengerjakan tugas sendiri. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemandirian anak-anak di TK Happy Holy Kids Balikpapan melalui kegiatan menggunting dan menempel. Penelitian ini menerapkan metode penelitian tindakan kelas dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian terdiri dari 10 anak berusia 5-6 tahun. Berdasarkan pengamatan awal, ditemukan bahwa 80% anak belum berkembang (BB) dalam indikator mampu mengantri mencuci tangan, 60% anak belum berkembang (BB) dalam indikator mampu mengerjakan tugas sendiri, dan 50% anak mulai berkembang (MB) dalam indikator mampu merapikan mainannya sendiri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa capaian perkembangan kemandirian anak dengan penilaian BSH meningkat menjadi 70% pada akhir siklus II. Disarankan bagi guru dan peneliti selanjutnya untuk menggunakan metode ini dengan alat dan bahan ajar yang lebih variative. Kata Kunci: kemandirian. anak usia dini Riwayat Artikel Diterima: 05/11/2024 Direvisi: 10/11/2024 Disetujui: 20/11/2024 Dipublikasi: 16/12/2024 PENDAHULUAN Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah upaya untuk mengedukasi anak-anak yang berusia 06 tahun melalui pemberian stimulasi pendidikan yang bertujuan untuk mendukung perkembangan fisik dan mental mereka. Pernyataan ini sesuai dengan pendapat Soegeng . yaitu PAUD adalah dasar utama untuk membentuk karakter anak agar menjadi individu yang berbudi pekerti luhur, berakhlak mulia, sehat secara fisik, terampil, percaya diri, berani, dan mandiri. Kemandirian belajar ialah kesadaran peserta didik dalam belajar tanpa adanya paksaan dari luar, menunjukan tanggung jawab mereka sebagai pelajar. Dengan Tingkat kemandirian yang tinggi, niat akan usaha menyelesaikan kegiatannya dengan kemampuan yang disesuaikan sendiri. Menentukan metode yang efektif sangat penting untuk membantu anak tumbuh dan berkembang secara mandiri sesuai dengan usia mereka. Menurut Depdiknas . , proses pembelajaran sebaiknya difokuskan pada pengembangan kecakapan hidup. Kecakapan hidup ini dibentuk melalui kebiasaan yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mandiri, kedisiplinan, dan sosialisasi, serta untuk memperoleh keterampilan dasar yang bermanfaat bagi keberlangsungan hidup mereka. Menurut Rahajo yang dikutip oleh Zubaidi dalam bukunya Muhammad Fadilah,Pendidikan karakter adalah pendekatan menyeluruh yang mengintegrasikan aspek sosial dalam pembelajaran untuk membentuk generasi berkualitas, mandiri, dan bertanggung jawab. Selain akademis, pendidikan ini juga menekankan aspek moral, etika, dan sosial, serta pentingnya integritas dan kesadaran sosial. Kemandirian, sebagai salah satu aspek penting, perlu ditanamkan sejak usia dini . -6 tahu. agar anak mampu mengurus dirinya sendiri dan tidak bergantung pada orang lain. Aktivitas seperti menggunting dan menempel membantu mengembangkan keterampilan motorik halus dan kreativitas anak. Studi menunjukkan bahwa kemandirian pada anak dapat ditingkatkan Jurnal Pelangi. Vol. 2 No. Des 2024, pp 38-47 melalui kegiatan pembelajaran yang melibatkan tanggung jawab dan kepercayaan diri. Menurut Iriani . Berdasarkan beberapa studi, kemandirian anak usia dini dapat ditingkatkan melalui berbagai metode pembelajaran. Mahyumi Rantina . menemukan bahwa kegiatan pembelajaran "practical life" terbukti efektif dalam meningkatkan kemandirian dan tanggung jawab anak-anak usia 5-6 tahun. Yuliana Shofiati . menunjukkan bahwa pemberian tugas melalui kegiatan kolase berhasil meningkatkan kemandirian pada 85% anak di kelompok B1 TK ABA Margomulyo. Naumi Rumbrawer . menyimpulkan bahwa metode pembiasaan efektif meningkatkan kemandirian anak usia 3-4 tahun, dengan hasil yang memenuhi kriteria di berbagai aspek seperti merapikan mainan dan berpisah dengan orang tua. Dalam jurnal berjudul "Upaya Peningkatan Kemandirian Anak Metode Pemberian Tugas Menggunting dan Menempel pada PAUD" oleh Enih Hartiani . , disimpulkan bahwa aspek fisik motorik, khususnya keterampilan motorik halus memainkan peran krusial dalam perkembangan anak. Aktivitas menggunting dan menempel membantu menstimulasi motorik halus, meskipun beberapa anak masih mengalami kesulitan dalam kelenturan gerakan tangan. Penelitian di TK Happy Holy Kids Balikpapan menunjukan bahwa tingkat kemandirian anak, seperti dalam hal mengantri untuk mencuci tangan dan merapikan mainan, masih rendah. Untuk mengatasi masalah ini, akan dilakukan penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk memperbaiki kemandirian anak melalui kegiatan menggunting dan menempel. 1 Hakikat Anak Usia Dini Tujuan pendidikan di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN). Berdasarkan undang-undang ini, pendidikan anak usia dini berfungsi untuk mendukung perkembangan fisik dan mental anak melalui berbagai rangsangan, sehingga mereka dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya dengan kesiapan yang baik (Moh Fauziddin, 2. Menurut Undang-Undang Perlindungan Anak (UU RI No. 32 Tahun 2. , anak diartikan sebagai seseorang yang berusia di bawah 18 tahun, termasuk mereka yang masih berada dalam kandungan. UU Sistem Pendidikan Nasional No. Tahun 2003 mendefinisikan anak usia dini sebagai anak-anak berusia 0-6 tahun yang memerlukan pembinaan untuk mendukung pertumbuhan fisik dan mental mereka agar siap melanjutkan Direktorat PAUD juga mengklasifikasikan anak usia dini sebagai anak berusia 0-6 tahun, baik yang sudah menerima pendidikan formal maupun belum. Yuliani Sujiono . menjelaskan bahwa anak usia dini adalah anak-anak yang berumur dari kelahiran hingga 6 tahun. Periode ini dianggap krusial untuk pembentukan karakter, kepribadian, dan kemampuan intelektual anak. Di sisi lain, menurut The Education of Young Children (NAEYC), anak usia dini meliputi anak-anak yang berusia antara 0 hingga 8 tahunDefinisi ini menunjukkan bahwa anak usia dini adalah kelompok yang tengah menjalani fase pertumbuhan dan perkembangan (Wijana D Widarmi, 2. 2 Karakteristik Anak Usia Dini Anak usia dini dalam fase perkembangannya dapat dikatakan aktif dalam mengeksplorasi, berimajinasi, berinteraksi secara langsung dengan lingkungan disekitarnya dan cenderung tertarik pada hal-hal baru yang ditemukan melalui kreativitas dan bermain (Pebriana, 2. Sri Purwanti, dkk . dalam jurnal Implementasi Mata Kuliah Kesehatan Dan Gizi Dengan Tema Sistem Kekebalan Tubuh Pada Anak Usia Dini menyatakan AuSistem imun anak sangat penting dalam menjaga kesehatan mereka dan mendukung proses tumbuh kembang. Oleh karena itu, orang tua harus memastikan daya tahan tubuh anak tetap kuat agar tidak mudah sakit dan perkembangan mereka berjalan optimal. Sistem kekebalan tubuh berfungsi sebagai pertahanan dalam melawan berbagai kuman penyebab penyakit. Ay Usia 4-6 tahun ditandai dengan perkembangan fisik, bahasa, dan kognitif yang pesat. Anak-anak pada usia ini sangat aktif secara fisik, meningkatkan keterampilan motorik, dan mulai memahami serta mengungkapkan pikiran melalui bahasa. Mereka juga menunjukkan rasa ingin tahu yang besar terhadap lingkungan sekitar. Meski bermain bersama, permainan mereka lebih bersifat Periode ini juga mencakup persiapan memasuki sekolah, dengan peningkatan kemandirian dan interaksi dengan teman sebaya. Penting untuk meningkatkan kualitas pendidik Copyright A 2024, author, e-ISSN 3089-6150 Jurnal Pelangi. Vol. 2 No. Des 2024, pp 38-47 PAUD, seperti yang disampaikan oleh Bety Vitriana, dkk . , yang menekankan pentingnya pelatihan teknis untuk meningkatkan efektivitas dan kualitas pembelajaran di PAUD. 3 Karakteristik Usia 5-6 Tahun Anak adalah sosok dan individu yang khas, dipenuhi dengan fantasi dan imajinasi. Kartini Kartono . menjelaskan bahwa anak usia dini memiliki sejumlah karakteristik, antara lain: Memiliki sifat egosentris yang polos . Mempunyai hubungan sosial dengan objek dan manusia secara sederhana . Terdapat integrasi antara aspek fisik dan spiritual yang hampir tidak terpisahkan . Memiliki sikap hidup yang fisiogamis, di mana mengkaitkan sifat fisik dan material dengan setiap pengalamannya. Pendapat lain tentang karakteristik anak usia dini menurut Hartani . adalah sebagai berikut: Memiliki rasa ingin tahu yang besar . Individu yang istimewa . Suka berkhayal dan berimajinasi . Masa yang paling baik untuk belajar . Menunjukkan sifat egosentris . Memiliki perhatian konsentrasi yang singkat Pengembangan keterampilan motorik halus pada anak kelompok B . sia 5-6 tahu. menurut Sujiono . Menjaga kebersihan diri sendiri tanpa bantuan orang lain . Merancang berbagai bentuk menggunakan play doughI dan tanah liat . Menggambar garis tegas, miring, datar, lengkung media sesuai dengan bentuk atau pola . Memegang pensil dengan cara yang tepat, yaitu di antara ibu jari dan dua jari lainnya 4 Sembilan Pilar Karakter Anak Usia Dini Pendidikan karakter pada anak usia dini adalah upaya untuk membina peserta didik dalam mengembangkan potensi mereka secara menyeluruh, termasuk dalam memahami, menanamkan sikap, dan perilaku yang diharapkan menjadi kebiasaan yang melekat dalam diri peserta didik hingga dewasa. Nilai-nilai 9 Pilar Karakter adalah nilai-nilai moral universal yang dipercaya dapat membangun manusia yang memiliki karakter, kecerdasan, dan kreativitas. Setiap pilar dari 9 Pilar Karakter melibatkan kumpulan nilai-nilai karakter yang sejenis. IHF (Indonesia Heritage Foundatio. menerapkan penanaman 9 Pilar Karakter melalui metode "knowing the good, reasoning the good, feeling the good, loving the good, dan acting the good". Pendekatan ini bertujuan untuk menanamkan karakter dengan cara yang dipahami dan dipertimbangkan secara beralasan oleh otak, sehingga mendorong individu untuk menerapkan nilai-nilai karakter tersebut secara sadar dan dengan motivasi internal yang kuat. 5 Karakter Cinta Tuhan dan Segenap Ciptaan-Nya Mengasihi Tuhan Yang Maha Kuasa dan segala ciptaannya, yang dinyatakan melalui rasa syukur, doa, serta perhatian, perlindungan, dan penghormatan terhadap alam beserta semua yang ada di dalamnya . anusia, hewan, tumbuhan, dan lingkunga. 6 Karakter Mandiri. Disiplin, dan Tanggung Jawab Kemandirian tercermin dalam penggunaan maksimal dari kemampuan diri untuk menjalankan berbagai aktivitas dengan disiplin dan tingkat tanggung jawab yang tinggi. 7 Karakteristik Jujur. Amanah, dan Berkata Bijak Kejujuran tercermin dalam berbicara dengan akurat, tidak mengambil atau memanfaatkan barang milik orang lain tanpa izin, serta bersedia mengakui kesalahan jika memang terjadi. Dapat dipercaya ditunjukkan dengan memenuhi janji serta menyampaikan informasi kepada pihak yang berhak dengan tepat dan penuh tanggung jawab. Berkata bijak diwujudkan dengan memilih kata-kata yang baik, sopan, dan jujur, serta menghindari menyakiti atau mempermalukan orang lain dan mempertimbangkan dengan hati-hati sebelum berbicara. 8 Karakter Hormat. Santun dan Pendengan yang baik Menghormati dan taat berarti memberikan penghargaan kepada orang tua, guru, dan pemimpin, serta individu lain yang berhak dihormati tanpa memperhitungkan latar belakang suku, ras, agama, atau usia, serta mematuhi aturan. Copyright A 2024, author, e-ISSN 3089-6150 Jurnal Pelangi. Vol. 2 No. Des 2024, pp 38-47 Mengajarkan etika dan tata krama dengan membiasakan penggunaan frasa seperti 'terima kasih', 'permisi', 'minta tolong', dan 'minta izin' pada waktu yang sesuai, sambil memastikan bahwa ucapan tersebut disampaikan dengan sopan Menjadi pendengar yang baik berarti memberikan perhatian sepenuhnya kepada lawan bicara, memandang mereka dengan hormat, dan tidak memotong pembicaraan 9 Karakter Dermawan. Suka Menolong, dan Kerja Sama Sifat dermawan dan keinginan untuk membantu tampak dalam tindakan sukarela seperti membantu orang lain dan berbagi dengan mereka yang membutuhkan, tidak hanya dalam bentuk Ini juga berarti memberikan prioritas dan fasilitas kepada mereka yang memerlukannya. Kerja sama berarti siap bekerja sama dalam tugas-tugas dan saling mendukung untuk mencapai tujuan bersama. 10 Karakter Percaya Diri. Kreatif dan Pantang Menyerah Keyakinan diri dinyatakan melalui kemampuan memimpin, berkompetisi dengan sehat, memiliki keberanian untuk tampil, dan mengekspresikan diri secara positif Kreativitas tercermin dalam kemampuan menetapkan tujuan, impian dan harapan serta upaya konkret, unik, dan terukur untuk mencapainya. Ini meliputi usaha maksimal untuk menemukan solusi atas masalah dan tantangan yang dihadapi. Ketekunan adalah hasil dari gabungan keyakinan diri dan kreativitas, mendorong seseorang untuk memiliki semangat bertahan dan berjuang demi mencapai tujuan mereka. 11 Karakter Pemimpin yang Baik dan Adil Menjadi pemimpin yang baik dan adil berarti memiliki katakter seperti mengambil inisiatif, memberi contoh positif, serta melindungi dan melayani orang lain. Selain itu, karakter ini juga ditunjukkan dengan mengajak orang lain untuk berbuat baik, bersikap sportif, mengakui kesalahan, memberi kesempatan untuk berpartisipasi, bekerja sama, dan merayakan keberhasilan 12 Karakter Baik dan Rendah Hati Sikap baik hati dan rendah hati tercermin dalam perilaku menghargai orang lain, sukarela menawarkan bantuan, berusaha selalu berbuat baik dan menyebarkan kebaikan, mau meminta maaf dan juga memaafkan, memberikan senyuman, serta tidak menunjukkan kesombongan diri. 13 Karakter Toleransi. Cinta Damai, dan Bersatu Sikap toleransi terlihat dalam menghargai perbedaan seperti ras, suku, agama, dan dolongan. Tidak memaksakan pendapat sendiri dan tidak merasa lebih benar atau lebih baik dari orang lain. Cinta damai terlihat dari perilaku yang mengutamakan perdamaian, saling memaafkan, dan sabar dalam menghadapi konflik. Kesatuan tercapai melalui penerapan sikap toleransi dan cinta damai, yang membentuk karakter yang menghargai persatuan dan kesatuan. 14 Karakter Kemandirian Bachrudin Muasthafa, sebagaimana dikutip oleh Novan . , menyatakan kemandirian adalah kemampuan untuk membuat keputusan dan menerima hasilnya. Pada anak, kemandirian tampak saat mereka menggunakan pemikiran sendiri untuk memilih peralatan belajar, teman bermain, dan membuat keputusan yang lebih kompleks dengan konsekuensi serius. Menurut Diane Trister Dodge dalam Martinis . , kemandirian anak usia dini terlihat dari kebiasaan dan kemampuan mereka dalam fisik, kepercayaan diri, tanggung jawab, disiplin, bersosialisasi, berbagi, dan mengendalikan emosi. Brewer juga mengatakan bahwa kemandirian anak taman kanak-kanak diukur melalui kebiasaan seperti kemampuan fisik, kepercayaan diri, tanggung jawab, disiplin, bersosialisasi, berbagi, dan pengendalian emosi. Kemandirian perlu ditanamkan sejak dini, karena anak yang mandiri cenderung memiliki tanggung jawab dan emosi yang stabil, serta mampu bertindak secara otonom tanpa bergantung pada pendapat orang lain. Pendidikan karakter kemandirian adalah kemampuan psikososial yang mendorong seseorang untuk berani, berinisiatif, dan bertanggung jawab dalam menghadapi hambatan atau masalah. Di PAUD, karakter kemandirian diajarkan melalui lima aspek: kemandirian dalam beraktivitas . elakukan kegiatan sehari-hari secara mandir. , kemandirian dalam berkomunikasi . erbicara dengan jelas dan mengungkapkan keingina. , kemandirian dalam menyelesaikan tugas . enyelesaikan tugas sederhan. , kemandirian dalam mengatasi masalah . encari solus. , dan kemandirian dalam Copyright A 2024, author, e-ISSN 3089-6150 Jurnal Pelangi. Vol. 2 No. Des 2024, pp 38-47 berpikir . erpikir kreatif dan mengambil keputusa. Aspek-aspek ini bertujuan membentuk karakter mandiri dan bertanggung jawab sejak dini. 15 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kemandirian Anak Menurut Meichenbaum . ikutip oleh Tarmidi dan Rambe, 2. , pembentukan kemandirian pada siswa dipengaruhi oleh dua faktor. Faktor pertama adalah pengaruh sosial dari orang dewasa di sekitar siswa, seperti orang tua, pelatih, keluarga, dan guru. Faktor kedua adalah kesempatan untuk melatih kemandirian dalam belajar. Kemandirian pada anak adalah kemampuan untuk berpikir, bertindak, dan mengambil keputusan sendiri tanpa terlalu bergantung pada orang lain. Anak yang mandiri biasanya aktif, tekun, bertanggung jawab, dan percaya diri dalam belajar dan kehidupan sehari-hari. Hal-hal yang mempengaruhi kemandirian anak meliputi: Faktor genetik: Sifat mandiri dapat diturunkan dari orang tua. Lingkungan keluarga, termasuk cara orang tua membesarkan anak, suasana rumah, dan dukungan keluarga, sangat penting untuk membentuk kemandirian anak. Sistem pendidikan: Sekolah yang memberikan kesempatan bagi anak untuk berpikir kritis dan mandiri akan lebih efektif dalam mengembangkan kemandirian. Karakteristik anak: Jenis kelamin, kecerdasan, dan temperamen anak juga mempengaruhi perkembangan kemandirian. Susanto mengemukakan bahwa kemandirian adalah kemampuan anak untuk membuat keputusan yang dianggap benar sendiri, serta bertanggung jawab atas pilihannya dan menerima akibatnya. Menurut Susanto . , kemandirian anak masih berada pada tingkat sederhana, sesuai dengan tahap perkembangan mereka. Kemandirian dipengaruhi oleh kepercayaan diri. Anak yang merasa aman dan percaya diri cenderung lebih berani menjelajah, mengelola stres dengan baik, dan mencapai berbagai hal. Susanto . menekankan bahwa pembelajaran untuk anak usia dini harus direncanakan dengan baik, dengan perhatian terhadap berbagai aspek perkembangan anak. Syaodih . menjelaskan bahwa tujuan bimbingan adalah membantu anak mengenal diri dan lingkungan mereka, sehingga mereka dapat menyesuaikan diri dengan perubahan dari rumah ke sekolah dan masyarakat. Dengan demikian, pembentukan kemandirian di usia dini menjadi penting. 16 Ciri-ciri Kemandirian Belajar Menurut Babari . , ada lima karakteristik kemandirian, yaitu: . rasa percaya diri, . kemampuan bekerja mandiri, . keterampilan yang relevan dengan pekerjaannya . penghargaan terhadap waktu, dan . tanggung jawab. Fatimah . menjelaskan ciri-ciri kemandirian sebagai berikut: . dorongan untuk bersaing demi kemajuan diri, . kemampuan membuat keputusan dan mengambil inisiatif untuk menyelesaikan masalah, . kepercayaan diri dalam menjalankan tugas, dan . tanggung jawab atas tindakan sendiri. 17 Tujuan Kemandirian Belajar Menurut Baumgartner . , ada tiga tujuan utama dari pembelajaran . Meningkatkan kemampuan siswa untuk belajar sendiri, . Mengembangkan sistem pembelajaran yang mendukung kemandirian belajar, dan . Mendorong pembelajaran yang mengutamakan pembebasan serta perilaku sosial sebagai bagian dari kemandirian belajar. 18 Pengembangan Kemandirian Anak Menurut Mulyasa . , pengembangan kemandirian anak oleh guru bisa dilakukan dengan membiasakan mereka. Tindakan pembiasaan adalah cara yang dilakukan secara rutin untuk mengubah perilaku menjadi kebiasaan. Proses pembinaan dalam pendidikan sebaiknya dimulai sejak dini untuk efektivitas yang optimal. Pembentukan kemandirian pada anak memerlukan dorongan dan rangsangan yang konsisten agar rasa tanggung jawab mereka berkembang. Guru memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang mendukung, menggunakan strategi pembelajaran yang tepat, dan mengarahkan kemandirian baik di dalam maupun di luar kelas. Peran guru dalam pengembangan kemandirian meliputi mengajarkan konsep positif, membiasakan kebersihan, mengembangkan kemandirian melalui bermain, memberi kesempatan untuk memilih, membiasakan perilaku sesuai aturan, dan mendorong anak untuk aktif. Memilih metode pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan anak sangat penting untuk mendukung kemandirian mereka. Copyright A 2024, author, e-ISSN 3089-6150 Jurnal Pelangi. Vol. 2 No. Des 2024, pp 38-47 19 Strategi Pembelajaran Strategi pembelajaran penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan efisien. Dengan menggunakan pendekatan yang tepat, guru dapat menginspirasi dan memotivasi anak dalam mencapai potensi maksimal mereka. Strategi pembelajaran sangat penting bagi pendidik untuk terus mengembangkan dan menerapkan metode yang dapat meningkatkan kualitas proses 20 Metode pembelajaran Metode pembelajaran adalah cara yang digunakan guru untuk mengajarkan materi kepada siswa. Metode ini dirancang untuk mengakomodasi karakteristik individu setiap anak dan membantu guru memberikan pemahaman yang optimal kepada siswa. Di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Metode pembelajaran berperan penting dalam mendukung anak-anak untuk mengembangkan kemandirian mereka sejak usia dini. Dalam mencapai tujuan pembelajaran yaitu kemandirian anak, peneliti menggunakan metode menggunting dan menempel pada anak usia 5-6 tahun di TK B Happy Holy Kids Balikpapan. 21 Metode Pembiasaan Menurut Syarbini . , pembiasaan yang dimulai sejak usia dini membentuk kebiasaan yang melekat dan menjadi bagian dari kepribadian anak. Metode pembiasaan sangat efektif dalam membina sikap . Rutinitas yang diterapkan guru, seperti mengajarkan anak bangun pagi atau mencuci tangan sebelum masuk kelas, membantu membentuk pola sikap yang Dengan pengulangan yang konsisten, sikap tersebut menjadi bagian dari diri anak tanpa disadari dan tidak terasa membebani, seperti kebiasaan menjaga kesehatan selama pandemi melalui protokol kesehatan yang diterapkan. 22 Metode Menggunting dan Menempel Penggunaan gunting dan tempel penting untuk mengasah keterampilan motorik halus anak. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, menggunting adalah aktivitas memotong dengan gunting untuk melatih koordinasi mata dan tangan serta meningkatkan konsentrasi. Aktivitas ini mempersiapkan anak untuk menulis dan meningkatkan fokus, perhatian, serta koordinasi tangan-mata. Menempel, juga menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah melekatkan sesuatu dan membantu mengembangkan keterampilan motorik halus melalui aktivitas menarik seperti meletakkan dan merekatkan objek. Aktivitas menempel melatih otot tangan dan jari, serta meningkatkan konsentrasi dan kestabilan emosi. Kesimpulannya, perkembangan motorik melibatkan koordinasi antara saraf, otot, dan urat yang dikendalikan oleh otot-otot kecil tubuh untuk mencapai keterampilan yang lebih kompleks. 23 Tujuan Kegiatan Menggunting dan Menempel Aktivitas menggunting berfungsi untuk meningkatkan motorik halus anak. Selama kegiatan ini, anak belajar menggerakkan pergelangan tangan saat memegang kertas. yang juga memungkinkan mereka mengekspresikan perasaan dan menghasilkan karya seni yang indah. 24 Manfaat Kegiatan Menggunting dan Menempel Manfaatkegiatan menggunting dan menempel yaitu: - Mengembangkan keterampilan motorik halus - Meningkatkan koordinasi tangan, mata, dan konsentrasi - Meningkatkan rasa percaya diri - Mempermudah kemampuan menulis - Menyalurkan ekspresi - Mengasah kognitif Motorik halus adalah kemampuan fisik yang melibatkan koordinasi otot kecil untuk melakukan kegiatan seperti menulis, menggunting, dan menempel. Menurut KBBI, menempel berarti melekatkan sesuatu dengan perekat. Aktivitas ini menarik bagi anak karena mereka bisa meletakkan dan menempelkan objek sesuai keinginan mereka. Keterampilan menggunting dan menempel berkembang seiring bertambahnya usia: pada usia 3-4 tahun, anak mulai memegang gunting dan menempelkan stiker sembarangan. pada usia 4-5 tahun, mereka bisa menggunting garis lurus atau melengkung dan menempel di lokasi yang diinginkan. pada usia 5-6 tahun, mereka Copyright A 2024, author, e-ISSN 3089-6150 Jurnal Pelangi. Vol. 2 No. Des 2024, pp 38-47 dapat menggunting bentuk sederhana dan menempelkan stiker dengan lebih akurat. Penggunaan berbagai media dalam kegiatan ini dapat menstimulasi kemampuan motorik halus anak. 25 Teori Kemandirian Teori pembelajaran sosial, yang dikembangkan oleh Albert Bandura, menekankan bahwa pembelajaran terjadi dalam konteks sosial melalui observasi dan imitasi. Konsep seperti "modeling" . dan "self-efficacy" . eyakinan dir. penting untuk meningkatkan kemandirian anak dengan memberikan contoh yang baik dan mendukung kepercayaan diri Teori ini mengembangkan teori belajar perilaku tradisional dengan lebih menekankan peran proses mental dan sinyal dalam pembelajaran. Pembelajaran melalui imitasi tidak memerlukan pengalaman langsung dan penguatan tidak langsung dapat sama efektifnya dengan penguatan langsung. Penguatan dalam proses modeling berfungsi sebagai petunjuk dan dorongan, membantu individu memahami perilaku yang paling adaptif dan memaksimalkan peluang untuk METODE Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang melibatkan refleksi oleh peserta, seperti guru, siswa, atau kepala sekolah, untuk memperbaiki praktik sosial atau pendidikan mereka. Menurut Carr & Kemmis, penelitian tindakan bertujuan untuk meningkatkan rasionalitas, keadilan, dan pemahaman atas praktik yang dilakukan serta situasi atau institusi di mana praktik tersebut terjadi. Arikunto menambahkan bahwa penelitian tindakan kelas dilakukan oleh guru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas. Penelitian ini bersifat kualitatif deskriptif. Bertujuan untuk mendeskripsikan secara sistematis data mengenai metode pembelajaran, perilaku siswa, dan hasil belajar, serta mengevaluasi dampak dari treatment yang diterapkan pada siswa. 1 Teknik Pengumpulan Data Yaitu dengan mengumpulakan data melalui, observasi, wawancara, dan dokumentasi sebagai Observasi : Observasi yang digunakan adalah observasi langsung, di mana peneliti mengamati objek atau subjek penelitian secara langsung untuk mengumpulkan data. Pada penelitian ini adalah sumber data primer yaitu siswa-siswi kelompok B kelas Teenah 3 TK Happy Holy Kids yang berjumlah 10 anak. Wawancara : Wawancara dalam penelitian adalah lebih dari sekadar percakapan, berfungsi untuk memperoleh informasi dari responden secara langsung. Ini melibatkan percakapan langsung antara pewawancara dan peserta untuk menggali pandangan, sikap, dan pemikiran yang sesuai dengan topik penelitian. Dalam penelitian ini, wawancara dilakukan untuk mengumpulkan data dari pihak sekolah, seperti kepala sekolah dan rekan sejawat, guna memahami upaya meningkatkan kemandirian anak melalui kegiatan menggunting dan menempel. Dokumentasi: Dokumentasi adalah teknik pengumpulan data penelitian terkait hal-hal atau Isi dokumentasi terkait refleksi mengajar guru dan kegiatan serta sikap peserta didik saat pelaksanaan upaya meningkatkan kemandirian anak melalui kegiatan menggunting dan 2 Jenis Data dan Sumber Data Jenis data kualitatif yang akan diambil dalam penleitian ini berasal dari data yang dilakukan dengan cara mengumpulkan informasi baik bersifat lisan maupun secara tertulis. Data lisan yang akan diperoleh dengan cara, melakukan wawancara dengan beberapa narasumber. Data tertulis akan diperoleh dengan melihat hasil kegiatan anak, hasil observasi, wawancara, dokumentasi, jurnal dan juga buku. Sumber Data Primer/Data Utama. Data primer adalah informasi yang dikumpulkan secara Metode yang digunakan termasuk observasi, wawancara, catatan lapangan, dan Data utama diperoleh dari 10 siswa kelompok B kelas Teenah 3 di TK Happy Holy Kids. Sumber Data Sekunder. Sumber data sekunder digunakan untuk mendukung data primer melalui studi Pustaka, dokumentasi dan arsip tertulis yang relevan. Sumber ini membantu peneliti dalam Copyright A 2024, author, e-ISSN 3089-6150 Jurnal Pelangi. Vol. 2 No. Des 2024, pp 38-47 mengumpulkan dan menganalisis informasi sehingga memperkuat hasil penelitian dan menghaslilkan temuan yang lebih valid. HASIL DAN PEMBAHASAN Peningkatan kemandirian melalui aktivitas menggunting dan menempel terbukti sangat berhasil dalam merangsang kemandirian pada anak-anak usia 5-6 tahun di TK Happy Holy Kids Balikpapan. Studi kasus yang dilakukan di TK ini menunjukkan bahwa melalui kegiatan sederhana seperti menggunting dan menempel, anak-anak secara signifikan meningkatkan kemampuan mereka untuk mengambil inisiatif, menyelesaikan tugas secara mandiri, dan bertanggung jawab atas hasil karya mereka. Awalnya, banyak anak yang cenderung pasif dan membutuhkan bantuan guru dalam setiap langkah kegiatan. Namun, setelah mengikuti program pembelajaran yang berfokus pada kegiatan menggunting dan menempel, anak-anak mulai menunjukkan perubahan yang positif. Mereka lebih berani mencoba hal-hal baru, seperti memilih warna kertas yang berbeda, menggunting dengan bentuk yang lebih kompleks, atau menempel dengan pola yang unik. Misalnya, anak bernama Aisyah yang awalnya selalu meminta bantuan guru untuk menggunting garis lurus, kini mampu menggunting bentuk-bentuk sederhana seperti lingkaran dan segitiga dengan cukup baik. Selain meningkatkan kemandirian, kegiatan ini juga mendukung perkembangan motorik halus anak. Aktivitas menggunting dan menempel melibatkan koordinasi antara mata dan tangan yang sangat penting untuk perkembangan otak anak. Peningkatan motorik halus ini terlihat dari semakin teliti dan terampilnya anak-anak dalam menggunting dan menempel, serta kemampuan mereka untuk membuat karya yang lebih detail dan rapi. Tidak hanya itu, kegiatan menggunting dan menempel juga memberikan manfaat bagi perkembangan sosial-emosional anak. Melalui kegiatan kelompok, anak-anak belajar berinteraksi dengan teman, berbagi ide, dan menghargai perbedaan. Mereka juga belajar untuk bersabar dan fokus pada tugas yang sedang dikerjakan, serta menerima umpan balik dari guru dan teman. Penelitian ini menunjukkan bahwa kegiatan menggunting dan menempel adalah strategi yang efektif untuk mengembangkan kemandirian pada anak usia dini. Selain menyenangkan bagi anak-anak, kegiatan ini juga memberikan manfaat besar bagi pertumbuhan dan perkembangan mereka secara keseluruhan. Dengan demikian, sangat disarankan bagi para pendidik untuk lebih sering memasukkan kegiatan serupa dalam program pembelajaran mereka. Untuk mencapai hasil yang optimal. Penting bagi guru untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendukung dan menyediakan dukungan yang memadai untuk anak-anak. Guru perlu menyediakan berbagai bahan dan alat yang menarik serta memberi anak-anak kesempatan untuk bereksplorasi dan berkreasi dengan bebas. Selain itu, guru juga harus memberikan pujian dan penghargaan atas setiap usaha anak-anak, untuk membuat mereka merasa dihargai dan terdorong untuk terus belajar dan KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menyimpulkan bahwa kegiatan menggunting dan menempel terbukti sangat efektif dalam meningkatkan kemandirian anak usia dini, khususnya pada anak usia 5-6 tahun. Melalui aktivitas sederhana ini, anak-anak tidak hanya melatih keterampilan motorik halus mereka, tetapi juga mengembangkan berbagai aspek penting lainnya, seperti inisiatif, tanggung jawab, dan kepercayaan diri. Selain itu, kegiatan ini juga merangsang perkembangan kognitif anak, membantu mereka dalam mengambil keputusan dan menyelesaikan masalah sederhana. Dengan kata lain, menggunting dan menempel bukan hanya sekadar permainan, melainkan sebuah alat yang ampuh untuk membekali anak dengan keterampilan hidup yang berguna di masa depan. Peran guru sebagai fasilitator sangat krusial dalam proses ini. Dengan menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan dan memberikan bimbingan yang tepat, guru dapat memaksimalkan manfaat dari kegiatan ini bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Copyright A 2024, author, e-ISSN 3089-6150 Jurnal Pelangi. Vol. 2 No. Des 2024, pp 38-47 SARAN Penelitian tindakan kelas yang dilakukan menunjukan peningkatan sikap kemandirian pada anak usia 5-6 tahun di TK Happy Holy Kids melalui kegiatan menggunting dan menempel. Beberapa rekomendasi yang diberikan adalah: Bagi Guru: Disarankan agar guru lebih kreatif dalam metode pembelajaran, terutama dalam meningkatkan sikap kemandirian anak. Penggunaan metode tugas menggunting dan menempel, serta pembiasaan yang dilakukan setiap hari, dianggap efektif. Bagi Peneliti Selanjutnya: Peneliti di masa depan diharapkan dapat mengatasi kelemahan yang ada dalam penelitian ini dengan mengkaji lebih mendalam masalah kemandirian anak. Disarankan untuk menyesuaikan kegiatan dengan minat dan kebutuhan anak usia 5-6 tahun, serta menerapkan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada anak, seperti metode proyek atau pembelajaran berbasis permainan, untuk memberikan kesempatan kepada anak belajar secara mandiri. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih kepada seluruh stakeholder yang mendukung terselesaikannya penelitian Rektor universitas mulia, dekan fakultas humaniora dan kesehatan, ketua program studi PG Paud, dosen pembimbing, guru, wali murid serta seluruh murid yang telah mendukung penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA