Jurnal AgroPet Vol. 14 Nomor 2 Desember 2017 ISSN: 1693-9158 PENGELOLAAN KERACUNAN Fe PADA TANAH SAWAH OLEH PETANI DI KABUPATEN POSO Oleh: Ita Mowidu dan Dolfie D. Tinggogoy. Email: itamowidu@ymail. ABSTRAK Tanah sawah di kabupaten Poso, khususnya di sekitar danau Poso, mengandung Fe total sangat tinggi . ,16-2,26%). Padi yang keracunan Fe tumbuh kerdil, anakan sedikit, daun tua berwarna kuning kemerahan berbercak coklat, dan bisa tidak menghasilkan malai dan mati. Untuk mengetahui pengelolaan keracunan Fe pada tanah sawah di sekitar danau Poso, telah dilakukan wawancara kepada petani padi sawah pada 7 desa di wilayah dengan regim curah hujan tinggi, sedang dan rendah dengan berbagai formasi geologi. Dari responden diperoleh informasi bahwa petani padi sawah di kabupaten Poso pada umumnya memilki luas lahan Ou I ha sebesar 68,57%, umur produktif antara 20 Ae 60 tahun 94,29% dan tingkat pendidikan sampai Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) 51,43%. Petani yang memiliki luas lahan < I ha sebanyak 31,43%, umur > 60 tahun 5,71%, tingkat pendidikan sampai Sekolah Dasar (SD) 28,57% dan Sekolah Lanjutan Tingkat pertama (SLTP) 20,00%. Semua responden mengetahui keberadaan Fe pada tanah sawah. Sedangkan yang mengetahui gejala keracunan Fe pada padi sawah adalah 2,86% SD, 11,43% SLTP dan 20,00% SLTA. sedangkan yang tidak mengetahui gejala keracunan besi pada padi sawah adalah 25,71% SD, 8,57% SLTP dan 31,43% SLTA. Makin tinggi tingkat pendidikan makin besar persentase petani yang mengetahui gejala keracunan Fe pada padi sawah. Gejala keracunan Fe pada padi sawah menurut petani adalah tanaman tumbuh abnormal, kerdil, tidak berkembang, tidak ada anakan, daun kekuningan, dan akar kemerahan. Untuk mengatasi keracunan Fe pada padi sawah, petani melakukan drainase, memberikan pupuk organik, pupuk kimia, kapur, garam dan menggenangi. Kata kunci: Fe, keracunan, padi, pengelolaan, sawah PENDAHULUAN Produksi padi di Indonesia terus ditingkatkan untuk memenuhi bertambahnya permintaan pangan Hasil padi nasional ratarata dalam lima tahun terakhir . 5,15 t ha-1 (BPS, 2. , masih jauh dibawah potensi hasil varietas padi unggul yang telah dilepas yang berkisar 6-12 ton ha-1. Dibandingkan dengan rata-rata hasil padi di Jawa Barat. Jawa Tengah dan DIY yang masing-masing berturut-turut 5,95 t ha-1. 5,64 ton ha1 dan 5,89 t ha-1, rata-rata hasil padi di Sulawesi Tengah masih rendah yaitu 4,66 t ha-1 . iolah dari BPS. Hasil padi di kabupaten Poso lebih rendah lagi, yaitu 4,24 t ha-1 (BPS, 2011. Upaya peningkatan produksi melalui intensifikasi pada tanahtanah subur yang umumnya terdapat Staf Pengajar Program Studi Agroteknologi. Fakultas Pertanian. Universitas Sintuwu Maroso di pulau Jawa mengalami hambatan, yaitu adanya cekaman biotik dan Peningkatan melalui ekstensifikasi tidak mungkin Jawa. Upaya ini hanya mungkin dilaksanakan di luar pulau Jawa yang sebagian besar tanahnya merupakan lahan marginal dengan beragam kendala. Lahan marginal yang dapat digunakan di antaranya adalah lahan basah atau lahan rawa, baik rawa pasang surut maupun rawa lebak. Tanah kabupaten Poso berasal dari bahan induk formasi kompleks pompangeo, batugamping meta dan endapan Tanah tersebut terbentuk pada regim curah hujan rendah sampai tinggi, dan karena tergenang dalam waktu lama menyebabkan kondisi sangat reduktif. Akibatnya oksida besi (F. mengalami reduksi kuat yang ditunjukkan oleh adanya endapan Fe hidroksida pada air Lahan rawa lebak tersebut berpotensi besar untuk dijadikan lahan pertanian, tetapi menghadapi kendala kadar Fe tinggi yang berpotensi meracun bagi Rawa lebak di kabupaten Poso tersebar secara setempatsetempat dari dataran rendah . -400 m dp. sampai dataran tinggi (>700 m dp. , dengan regim curah hujan rendah . ,6-2. 311,9 mm tahun -. , sedang . 311,9-4. 176,2 mm tahun1 ) dan tinggi . 176,2-6. 040,5 mm tahun-. eta curah hujan Sulawesi Tenga. Pengembangan padi sawah di kabupaten Poso mengalami hambatan. Lahan rawa di kabupaten Poso dalam bahasa Pamona disebut AularoAy, dan bagian tanah . yang mengapung AudumandoAy, mempunyai sifat genangan dangkal dengan kadar Fe tinggi. Hal ini tampak pada endapan Fe pada permukaan air genangan, yang oleh petani disebut AutaAoi eoAy . aAoi = feces, eo = matahar. dan adanya karatan Fe pada tanah yang teroksidasi, termasuk pada zona perakaran. Menurut Patrick and Reddy . sifat kimia tanah sawah lebih didominasi oleh sifat besi daripada unsur-unsur lain, karena jumlah besi dalam tanah yang dapat tereduksi sangat banyak, yaitu 10 kali lebih banyak dari total unsur-unsur lain yang dapat direduksi. Tanah dengan kadar Fe tinggi dalam kondisi tergenang akan melarutkan besi sebagai Fe2 . Kelarutannya dapat menjadi 6. 000 ppm (Patrick & Reddy, 1. , padahal pada konsentrasi Fe2 mempengaruhi produksi padi sawah (Asch et al. , 2. Penurunan hasil akibat keracunan Fe berkisar 52% (Ismunadji. , 1. , 90% (Suhartini, 1992 dalam Amnal, 2. , 30-100% tergantung pada toleransi verietas terhadap Fe, intensitas keracunan Fe, dan status kesuburan tanah (Indradewa dkk. , 2. , 70% bagi varietas peka dan 30% bagi varietas toleran (Virmani, 1973 dalam Amnal. Data-data tanaman terhadap keracunan Fe Jika status kesuburan tanah tinggi, penurunan hasil varietas toleran berkisar 30%, tetapi apabila status kesuburan tanah rendah, penurunan hasil varietas peka dapat mencapai 100%. Besi (F. merupakan unsur Besi diserap 3 ), dalam bentuk ion feri (Fe ion fero (Fe2 ) dan dalam bentuk khelat . katan dengan bahan organi. (Rosmarkam dan Yuwono, 2. dalam tanaman Fe membantu (Winarso, sebagai pelaksana pemindahan elektron dalam proses metabolisme hidrogenase fumarat, oksidase dan sitokrom (Rosmarkam & Yuwono, 2. , dalam transport elektron pada proses fotosintesis dan sebagai bagian penyusun dari porfirin dan komponen esensial pada fotosintesis fase terang (Dobermann & Fairhurst. Kadar kecukupan . hara Fe untuk tanaman padi dari fase penganakan sampai inisiasi malai pada daun muda adalah 75150 mg kg-1 dengan taraf kritis defisiensi adalah < 70 mg kg-1, dan pada batang 60-100 mg kg-1 dengan taraf kritis defisiensi < 50 mg kg-1 (Dobermann & Fairhurst. Gejala kahat Fe tampak pada daun-daun muda karena Fe tidak mobil di dalam tanaman. Klorosis di antara tulang daun muda yang menyebar ke seluruh bagian daun (Winarso, 2005. Fairhurst et al. Penyerapan berlebihan yang disebabkan oleh konsentrasinya yang besar di dalam larutan tanah dapat menimbulkan keracunan pada tanaman. Bibit padi akumulasi Fe segera setelah Dalam penyerapan Fe yang berlebihan akan meningkatkan permeabilitas akar dan memperkuat reduksi Fe mikrobial dalam rhizosfir. Banyaknya menyebabkan tanaman mengalami keracunan . Amnal . menemukan kadar Fe dalam tanaman padi yang masih dapat ditenggang oleh tanaman padi adalah 250-500 ppm, atau menurut Dobermann & Fairhurst . > Konsentrasi adalah sekitar 500 ppm (Marschner. Mengel & Kirkby, 1. atas konsentrasi 500 ppm tanaman akan mengalami keracunan Fe. Audebert keracunan Fe merupakan kendala yang berpengaruh secara nyata pada produksi padi sawah di daerah Kandungan tanaman yang keracunan biasanya . idak selal. 000 pp. (Dobermann & Fairhurst, 2000. Fairhurst, 2. Gejala keracunan Fe mulamula muncul 1-2 minggu setelah kadang-kadang sampai > 2 bulan setelah tanam. Gejala yang tampak dapat berupa becak coklat kecil pada bagian bawah daun mulai dari ujung dan Pada keracunan yang parah, daun dapat berwarna coklat ungu. Pengaruh lain keracunan Fe adalah pertumbuhan kerdil dan anakan sangat berkurang, sistem perakaran kasar, jarang dan rusak dengan lapisan coklat sampai hitam pada permukaan akar, dan banyak akar yang mati (Dobermann & fairhurst. Fairhurst et al. , 2. Tanaman yang keracunan Fe memiliki kadar K dalam daun rendah (<1 %) dengan nisbah K:Fe< 1718:1 pada jerami dan < 1,5:1 pada akar (Dobermann & Fairhurst, 2. Pada sawah di kabupaten Poso, di beberapa tempat keragaan tanaman tampak kerdil dengan becak-becak coklat dan daun kuning kemerahan, bahkan kadang-kadang tanaman tidak menghasilkan malai. Ciri-ciri keracunan Fe, selain disebabkan oleh patogen . akteri, jamur atau Keracunan Fe pada tanaman menyebabkan produksi rendah. Petani kabupaten Poso, khususnya di sekitar danau Poso, menanam padi sawah pada tanah dengan kadar Fe Oleh karena itu ingin diketahui pengetahuan petani padi sawah di Poso keberadaan Fe pada lahan sawah yang dikelola, gejala keracunan besi (F. pada padi sawah dan METODOLOGI PENELITIAN Untuk bagaimana pengetahuan petani tentang keberadaan Fe pada lahan karacunan Fe pada padi sawah dan dilakukan wawancara terhadap 35 orang petani di sekitar danau Poso yang tersebar pada lokasi dengan regim curah hujan tinggi, sedang dan rendah, serta berbagai formasi Berdasarkan hasil overlay peta tanah, peta geologi dan peta curah hujan kabupaten Poso dengan dasar peta curah hujan, maka diperoleh 2 desa pada daerah dengan regim curah hujan tinggi yang mewakili formasi geologi pompageo complex dan alluvium coastal deposits, 3 desa pada daerah dengan regim curah hujan sedang yang mewakili formasi alluvium coastal deposits, dan lake deposits, dan 2 desa pada daerah dengan regim curah hujan rendah yang mewakili formasi geologi pompangeo complex dan lake deposits, sehingga terdapat 7 desa petani responden. Tiap terdapat 5 orang petani responden, sehingga semuanya terdapat 35 Hasil wawancara ditabulasi dan dihitung HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Responden Umum Petani Data menunjukkan bahwa petani yang memiliki luas lahan sawah Ou 1 ha paling sedikit pada regim curah hujan tinggi . ,43%) diikuti oleh daerah dengan regim curah hujan sedang dan rendah . asing-masing 28,57%), petani yang berumur antara 20-60 tahun paling sedikit pada daeran denga regim curah hujan tinggi . ,71%) diikuti oleh daerah dengan regim curah hujan rendah . ,57%) dan sedang . %), petani dengan tingkat pendidikan SD paling sedikit pada daerah dengan regim curah hujan rendah . ,71%) diikuti oleh daerah dengan regim curah hujan tinggi dan sedang . asing-masing 11,43%), tingkat pendidikan SLTP paling sedikit pada daerah dengan regim curah hujan rendah . ,00%) diikuti oleh daerah dengan regim curah hujan rendah . ,57%) dan sedang . ,43%), serta tingkat pendidikan SLTA paling sedikit pada daerah dengan regim curah hujan tinggi . ,57%) diikuti oleh daerah dengan regim curah hujan sedang . ,00%) dan rendah . ,86%), sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut. Tabel 1. Keadaan Responden Berdasarkan Luas Lahan. Umur dan Tingkat Pendidikan Lokasi Petani CH T CH S CH R Total Luas Lahan Umur . Tingkat Pendidikan < 1 ha Ou 1 ha 20 - 60 > 60 SLTP SLTA Jml % Jml Jml % Jml % Jml % Jml % Jml % 6 17,14 4 11,43 9 25,71 1 2,86 4 11,43 3 8,57 3 8,57 5 14,29 10 28,57 14 40,00 1 2,86 4 11,43 4 11,43 7 20,00 0 0,00 10 28,57 10 28,57 0 0,00 2 5,71 0 0,00 8 22,86 11 31,43 24 68,57 33 94,29 2 5,71 10 28,57 7 20,00 18 51,43 Keterangan: CHT: curah hujan tinggi. CH S: curah hujan sedang. CH R: curah hujan rendah. SD: sekolah dasar. SLTP: sekolah lanjutan tingkat pertama. SLTA: sekolah lanjutan tingkat atas. Rendahnya pemilikan lahan pada daerah dengan regim curah pengembangan untuk pembukaan lahan sawah baru tidak tersedia dan luas wilayah daerah dengan regim Daerah ini terletak di dataran alluvial kaki pegunungan formasi geologi pompangeo complex sebelah selatan danau Poso. Sebaliknya daerah dengan regim curah hujan sedang dan rendah, selain mempunyai luas wilayah yang luas juga potensi pengembangan dan perluasan lahan sawah melalui pembukaan lahan sawah baru masih memungkinkan meskipun dengan kendala genangan musiman atau permanen sehingga pemilikan lahan petani dapat Ou 1 ha. Dari bahwa petani padi sawah di sekitar Poso mempunyai umur produktif 20-60 tahun . otal 94,29%). Dari 35 orang petani responden, hanya 2 orang . ,71%) yang berumur > 60 tahun. Hal ini menunjukkan minat generasi muda yang mau bekerja sebagai petani padi di sekitar danau Poso sawah masih tinggi. Secara keseluruhan, dari 35 orang petani responden, 51,43% di pendidikan sampai SLTA, 20% dengan tingkat pendidikan sampai SLTP, dan sisanya 28,57% dengan tingkat pendidikan sampai SD. Responden SD pada umumnya berumur > 50 tahun, termasuk 2 orang responden yang berumur > 60 tahun, sedangkan pendidikan sampai SLTP dan SLTA pada umumnya berumur < 50 tahun. Artinya petani padi sawah di sekitar Poso sekurang-kurangnya SLTP. Pengetahuan Keberadaan. Gejala dan Pengelolaan Fe Keracunan Hasil wawancara kepada 35 menunjukkan bahwa semua petani . %) mengetahui keberadaan Fe Menurut petani Fe pada tanah sawah ditunjukkan oleh bercak-bercak kuning kemerahan pada tanah dan adanya endapan karatan pada genangan dan saluran irigasi. Tetapi pengetahuan petani tentang gejala beragam, sebagaimana diuraikan berikut ini. Berdasarkan tingkat pendidikan, petani responden yang mengetahui gejala keracunan besi pada padi sawah adalah 2,86% SD . , 11,43% SLTP . dan 20,00% SLTA . sedangkan yang tidak mengetahui gejala keracunan besi pada padi sawah adalah 25,71% SD . , 8,57% SLTP . dan 31,43% SLTA . Makin tinggi tingkat pendidikan makin besar persentase petani yang mengetahui gejala keracunan Fe pada padi sawah. Petani yang mengetahui gejala keracunan Fe pada padi sawah mungkin dengan membaca dari literatur atau media tabloid sinar mengira-ngira mendengar dari media audiovisual Belum pernah dilakukan tentang besi (F. pada tanah dan pengaruhnya terhadap tanaman padi sawah serta gejala keracunan Fe pada padi sawah. Kebanyakan keracunan besi yang tampak di lapangan hanya disebabkan oleh kesuburan tanah yang rendah dan tidak ada kaitannya dengan kadar Fe tanah dan tanaman yang tinggi. Tabel 2. Pengetahuan Petani tentang Gejala Keracunan Besi Pengetahuan Petani Menurut Tingkat Pendidikan Lokasi SLTP SLTA Petani Tahu Tidak Tahu Tahu Tidak Tahu Tahu Tidak Tahu Jml Jml Jml Jml Jml Jml CH T 2,86 8,57 8,57 0 0,00 5,71 2,86 CH S 0,00 4 11,43 2,86 3 8,57 5,71 5 14,29 CH R 0,00 5,71 0,00 0 0,00 8,57 5 14,29 Total 2,86 9 25,71 4 11,43 3 8,57 7 20,00 11 31,43 Keterangan: SD : sekolah dasar. SLTP: sekolah lanjutan tingkat pertama. SLTA: sekolah lanjutan tingkat. Berbagai pendapat petani responden tentang gejala keracunan Fe pada padi sawah dapat dirangkum sebagai berikut: tanaman kurus, tanaman tumbuh abnormal, tanaman kerdil, tanaman tidak berkembang, tidak ada anakan, kekuningan, dan akar kemerahan. Secara umum pengetahuan petani tentang gejala keracunan Fe pada padi sudah sesuai dengan hasil Menurut Hanafiah . pada keracunan Fe, tanaman padi memperlihatkan gejala bronzing dengan noktah tipis berwarna Noor . menyatakan gejala visual keracunan Fe pada akumulasi polyphenol teroksidasi yang disebut bronzing atau yellowing pada padi. Gejala yang khas dimulai dengan bercak berwarna coklat Kemudian bercak berwarna tembaga meluas ke seluruh daun dan ujung daun menjadi kuning jingga kemudian kering (Peng and Yamauchi, 1. Pada keracunan yang parah, daun dapat berwarna coklat keunguan, diikuti dengan pengeringan daun dan tanaman terlihat seperti terbakar (Sahrawat, 2. , pertumbuhan terhenti dan (Khairullah, 2. Pengaruh lain keracunan Fe adalah pertumbuhan kerdil dan anakan sangat berkurang, sistem perakaran kasar, jarang dan rusak dengan lapisan coklat sampai hitam pada permukaan akar, dan banyak akar yang mati (Dobermann & fairhurst, 2000. Fairhurst et al. Untuk mengatasi keracunan Fe pada padi sawah, kegiatan yang melakukan drainase, memberikan pupuk organik, memberikan pupuk Sebagian tindakan petani untuk mengatasi keracunan Fe pada padi sawah sudah sesuai dengan hasil kajian ilmiah, seperti membuat drainase, memberikan pupuk organik dan pupuk kimia serta pengapuran. Cara mengatasi keracunan Fe pada padi sawah, selain menanam varietas yang tahan terhadap kadar Fe tinggi, juga dapat dilakukan dengan mengurangi kelarutan Fe dalam tanah sehingga ketersediaannya tidak sampai pada aras meracun bagi tanaman. Pengendalian kelarutan Fe pada tanah sawah dapat dilakukan dengan pemberian amelioran dan pengaturan air. Cekaman keracunan Fe dapat dikurangi dengan cara: . mengatur suasana rizhosfir agar tidak terlalu reduktif (MaAoas, 2. igenangi berselang 1 mingg. dan waktu tanam 14 hari setelah digenangi (Khairullah dkk. , 2011 dalam MaAoas, 2. , dan . memberikan pupuk organik dengan nisbah C/N < 25 agar potensial redoks tidak turun hingga <100 mV (MaAoas, 2. Syafruddin . menemukan pada sawah Inceptisol di Morowali bahwa sistem pengairan macak-macak dengan pemberian pupuk NPK dan 5 t ha-1 kompos jerami memperbaiki pertumbuhan dan meningkatkan 48,13%, serapan Fe sampai 81,02% pada percobaan rumah kaca dan 82,06% menurunkan keracunan Fe hingga 85% pada percobaan rumah kaca dan 91,06% pada percobaan lapangan dibandingkan dengan penggenangan terus-menerus. Cara lain untuk mengendalikan kelarutan Fe adalah dengan menaikkan pH tanah melalui pengapuran. Dolomit adalah salah satu bahan kapur pertanian yang dapat digunakan Pemberian kapur di daerah tropika basah bertujuan untuk menetralkan faktor kemasaman (H ) dan menetralkan Al bebas (Ald. kemasaman tanah. Untuk maksud pengapuran dihentikan pada pH 5,5 (Munawar. Selain menetralkan Al terlarut, kenaikan pH juga menurunkan kelarutan Fe3 maupun Fe2 (Thompson & Troeh. Keracunan Fe juga dapat disebabkan oleh stress hara yang menurunkan daya oksidasi akar karena kahat hara P. Ca. Mg atau K sehingga pemberian pupuk kimia dapat mengurangi efek meracun dari Fe. KESIMPULAN Dari bahwa petani padi sawah di kabupaten Poso, khususnya di sekitar danau Poso, pada umumnya memilki luas lahan Ou I ha sebesar 68,57% . , umur produktif antara 20 Ae 60 tahun 94,29% . dan tingkat pendidikan sampai Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) 51,43% . Petani yang memiliki luas lahan < I ha 31,43% . , umur > 60 tahun 5,71% . , tingkat pendidikan sampai Sekolah Dasar (SD) 28,57% . dan Sekolah Lanjutan Tingkat pertama (SLTP) 20,00% . Semua petani responden mengetahui keberadaan Fe pada tanah sawah yang dikelolanya. Sedangkan yang mengetahui gejala keracunan besi pada padi sawah adalah 2,86% SD . , 11,43% SLTP . dan 20,00% SLTA . sedangkan yang tidak mengetahui gejala keracunan besi pada padi sawah adalah 25,71% SD . 8,57% SLTP respone. dan 31,43% SLTA . Makin tinggi tingkat pendidikan makin besar persentase petani yang mengetahui gejala keracunan Fe pada padi sawah. Berbagai pendapat petani responden tentang gejala keracunan Fe pada padi sawah adalah tanaman kurus, tanaman tumbuh abnormal, tanaman kerdil, tanaman tidak berkembang, tidak ada anakan, kekuningan, dan akar kemerahan. Untuk mengatasi keracunan Fe pada padi sawah, petani melakukan organik, memberikan pupuk kimia, memberikan kapur, memberikan garam dan menggenangi. DAFTAR PUSTAKA