ANALISIS MODUL AJAR BAHASA INDONESIA BERDASARKAN KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK ANALYSIS OF INDONESIAN LANGUAGE TEACHING MODULE BASED ON STUDENT CHARACTERISTICS Lathifah Safiinatun Najaah. Annisa Muthmainnah. Febrisha Arya Amelia. Nina Hardiana. Putri Miftakhul Rahmani. Safitri Universitas Veteran Bangun Nusantara Email: lathifah. najaah@student. Diterima : 6 Maret 2025 Direvisi: 23 Mei 2025 Disetujui: 26 Mei 2025 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengevaluasi modul ajar Bahasa Indonesia kelas VI SDN Polokarto 01 dalam kerangka Kurikulum Merdeka, dengan fokus pada kesesuaiannya terhadap prinsip pedagogis seperti differentiated learning, culturally responsive teaching (CRT), dan Understanding by Design (UbD). Metode penelitian kepustakaan . ibrary researc. digunakan untuk menganalisis struktur, konten, dan instrumen asesmen modul. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modul telah memenuhi sistematika dasar, mencakup tujuan pembelajaran, materi esensial, dan aktivitas interaktif yang selaras dengan perkembangan kognitif siswa. Namun, ditemukan tiga kelemahan kritis: . tidak adanya asesmen diagnostik untuk memetakan kebutuhan individu siswa, bertentangan dengan prinsip pembelajaran berdiferensiasi. soal dan konteks materi kurang relevan dengan lingkungan peserta didik, mengabaikan pendekatan CRT yang menekankan keterkaitan budaya. ketidakselarasan asesmen sumatif dengan tujuan pembelajaran, khususnya dalam pengembangan kreativitas menulis, yang tidak sejalan dengan prinsip backward design UbD. Penelitian merekomendasikan integrasi asesmen diagnostik, kontekstualisasi materi berbasis lokal, dan penyelarasan asesmen dengan tujuan pembelajaran melalui rubrik holistik. Kata kunci: modul ajar, asesmen, pembelajaran berdiferensiasi, culturally responsive teaching, understanding by design, karakteristik peserta didik ABSTRACT This study aims to evaluate the Grade VI Bahasa Indonesia teaching module at SDN Polokarto 01 within the framework of the Merdeka Curriculum, focusing on its alignment with pedagogical principles such as differentiated learning, culturally responsive teaching (CRT), and Understanding by Design (UbD). A library research method was employed to analyze the moduleAos structure, content, and assessment instruments. The findings reveal that the module meets basic systematic requirements, including learning objectives, essential materials, and interactive activities aligned with studentsAo cognitive development. However, three critical weaknesses were identified: . the absence of diagnostic assessments to map individual student needs, contradicting the principles of differentiated learning. questions and contextual materials lacking relevance to studentsAo local environment, neglecting CRTAos emphasis on cultural connections. misalignment of summative assessments with learning objectives, particularly in developing creative writing skills, which deviates from UbDAos backward design principles. The study recommends integrating diagnostic assessments, contextualizing materials using local , and aligning assessments with learning objectives through holistic rubrics. Keyword: teaching module, assessment, differentiated instruction, culturally responsive teaching, student characteristics Analisis Modul Ajara. Najaah. Muthmainnah. Amelia. Hardiana. Rahmani. Safitri PENDAHULUAN Era transformasi pendidikan global menuntut sistem pembelajaran yang tidak hanya efektif, tetapi juga responsif terhadap keragaman peserta didik dan dinamika Indonesia, implementasi Kurikulum Merdeka sebagai bagian dari paradigma baru pendidikan Kurikulum ini dirancang untuk mendorong pembelajaran berbasis proyek (PjBL), diferensiasi, dan pengembangan kompetensi holistik . ognitif, afektif, psikomotori. Namun. Kemdikbud mengungkapkan bahwa 70% guru masih kesulitan merancang asesmen autentik yang selaras dengan tujuan kurikulum, sementara 58% sekolah di daerah terpencil belum memiliki akses memadai ke bahan ajar yang Disparitas ini semakin diperparah oleh ketimpangan infrastruktur teknologi: hanya 35% sekolah di luar Jawa yang memiliki fasilitas digital memadai untuk mendukung pembelajaran jarak jauh (BPS. Fenomena ini menunjukkan bahwa tanpa instrumen terstruktur seperti modul ajar, transformasi pendidikan berisiko hanya menjadi wacana di tingkat makro, tanpa implementasi bermakna di ruang kelas. Kompleksitas ini tidak terlepas dari keragaman peserta didik Indonesia yang 300 etnis dan 700 bahasa daerah (Badan Bahasa, 2. Setiap siswa memiliki kebutuhan unik, mulai dari gaya belajar visual-auditori hingga hambatan ekonomisosial seperti akses internet terbatas atau latar belakang keluarga kurang mendukung. Misalnya, di wilayah pedalaman Papua, siswa seringkali harus berjalan kaki puluhan kilometer ke sekolah, sementara di perkotaan, tekanan kompetitif justru memicu kecemasan akademik (UNICEF, 2. Kondisi pembelajaran yang tidak hanya terstandar, tetapi juga fleksibel dan kontekstual. Sayangnya, studi oleh Suparno dkk. menemukan bahwa 80% modul ajar yang digunakan di Indonesia masih bersifat "satu untuk semua", tanpa mempertimbangkan diferensiasi kebutuhan siswa. Padahal, prinsip Universal Design for Learning (UDL) menegaskan pembelajaran harus memberikan multiple means of engagement, representation, and expression (CAST, 2. Tanpa modul ajar yang dirancang dengan prinsip ini, pembelajaran inklusif sulit tercapai. Modul ajar menjadi kunci dalam mewujudkan pembelajaran diferensiasi yang Kurikulum Merdeka. Tomlinson . mengemukakan tentang diferensiasi menekankan tiga pilar: kesiapan belajar . , minat, dan profil belajar Modul ajar yang baik harus kompleksitas tugas, durasi pembelajaran, dan jenis aktivitas sesuai karakteristik siswa. Contohnya, di kelas dengan siswa menyertakan panduan visual untuk anak autis atau audio deskripsi untuk tunanetra. Namun, penelitian Nurhidayah . di 50 sekolah inklusi Jawa Tengah menemukan bahwa 65% guru tidak mampu memodifikasi modul ajar secara mandiri karena keterbatasan pelatihan. Hal pengembangan modul ajar yang dilengkapi dengan scaffolding pedagogis, seperti rubrik penilaian adaptif dan opsi aktivitas alternatif. Kedua, integrasi teknologi dalam modul ajar tidak lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan di era disrupsi digital. Teori konstruktivisme sosial Vygotsky . menyatakan bahwa interaksi sosial dan alat budaya . ermasuk teknolog. berperan sentral dalam proses kognitif. Modul ajar digital berbasis platform seperti Moodle Google Classroom memungkinkan kolaborasi lintas ruang dan waktu, misalnya melalui forum diskusi virtual atau proyek kolaboratif antarsekolah. Namun, survei PISA . mengungkap bahwa Indonesia menempati peringkat ke-72 dari 78 negara dalam indeks literasi digital Mayoritas guru hanya menggunakan teknologi untuk distribusi materi (PDF atau video pasi. , bukan untuk menciptakan pengalaman belajar interaktif seperti simulasi STEM atau gamifikasi. Padahal, studi OECD . membuktikan bahwa modul berbasis teknologi interaktif meningkatkan retensi pengetahuan hingga 40% dibanding metode Di sisi lain, kesenjangan infrastruktur digital, seperti keterbatasan listrik di NTT atau kecepatan internet di Kalimantan menjadi tantangan tersendiri yang menuntut modul ajar hybrid . dengan desain responsif. Kesenjangan kualitas pendidikan antardaerah memerlukan solusi sistemik. Jurnal JARLITBANG Pendidikan. Volume 11 Nomor 1 CJuni 2025 Data Kemendikbudristek menunjukkan bahwa nilai rata-rata Ujian Nasional sekolah di Papua 30% lebih rendah daripada DKI Jakarta, sementara angka putus sekolah di tingkat SMP mencapai 15% di Sulawesi Barat. Modul ajar yang terstandar namun adaptif secara kontekstual dapat menjadi jembatan untuk mengurangi disparitas ini. Misalnya, modul matematika Lombok mengintegrasikan kasus pengelolaan air bersih, sementara modul bahasa Inggris di Bali memuat kosakata terkait pariwisata. Pendekatan teori pendidikan kritis Freire . , yang menekankan pentingnya materi pembelajaran yang relevan dengan realitas sosial siswa. Studi kasus oleh Rahayu dkk. di Nusa Tenggara Timur membuktikan bahwa modul meningkatkan motivasi belajar siswa sebesar Namun, implementasinya masih terhambat oleh kurangnya kolaborasi antara guru, pemerintah daerah, dan komunitas lokal dalam penyusunan konten. Meski urgensi modul ajar telah diakui secara teoretis, beberapa celah penelitian masih perlu diatasi. Pertama, mayoritas studi terdahulu (Misbahudin, 2019. Sari, 2. fokus pada aspek teknis penyusunan modul, tanpa mengevaluasi dampak jangka panjang terhadap kompetensi holistik siswa. Kedua, minimnya penelitian yang mengintegrasikan teknologi digital dengan prinsip diferensiasi dalam konteks daerah terpencil. Ketiga, belum ada model modul ajar yang menyinergikan kolaborasi guru dalam komunitas praktisi (PLC) dengan kebutuhan spesifik sekolah. Misalnya, di Maluku, guru kesulitan mengadaptasi modul nasional karena kurangnya contoh kasus maritim, sementara pelatihan dari pusat seringkali tidak menyentuh konteks lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi modul ajar Bahasa Indonesia kelas VI SDN Polokarto 01 dalam kerangka Kurikulum Merdeka, dengan fokus pada kesesuaiannya terhadap prinsip pedagogis seperti differentiated learning, culturally teaching (CRT). Understanding by Design (UbD). Urgensi penelitian ini terletak pada potensinya untuk menjadi model replicable dalam mengurangi disparitas pendidikan Hasil penelitian diharapkan tidak hanya memperkaya khazanah akademik, tetapi juga menjadi panduan operasional bagi pemerintah dalam mempercepat pemerataan kualitas pendidikan, khususnya dalam menyambut agenda SDGs 2030 tentang pendidikan inklusif dan berkeadilan. Secara teoretis, penelitian ini berakar . konstruktivisme sosial (Vygotsk. untuk pembelajaran kolaboratif berbasis teknologi. diferensiasi instruksional (Tomlinso. pendidikan kritis (Freir. kontekstualisasi materi. Adapun secara praktis, temuan penelitian akan menyumbang rekomendasi kebijakan terkait standarisasi modul ajar nasional yang fleksibel, skema pemanfaatan dana BOS untuk pengembangan bahan ajar berbasis teknologi. Dalam perspektif global, penelitian ini juga pendidikan berkelanjutan (ESD) dengan menekankan prinsip lokalitas dan inklusi LANDASAN TEORI Dalam kurikulum merdeka, modul ajar merupakan salah satuan bagian penting dalam pendidikan. Modul ajar merupakan instrumen pembelajaran yang dirancang untuk memandu guru dalam merancang dan melaksanakan proses belajar mengajar secara sistematis. Menurut Brown dan Green . , modul ajar harus mencakup tujuan pembelajaran, konten materi, strategi pedagogis, aktivitas belajar, dan instrumen asesmen yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta Fleksibilitas memungkinkan adaptasi kontekstual, terutama dalam merespons keragaman karakteristik peserta didik, seperti gaya belajar, tingkat kognitif, dan latar belakang budaya (Tomlinson, 2. Hal ini sejalan dengan prinsip Kurikulum Merdeka di Indonesia yang menekankan pembelajaran berpusat pada siswa . tudent-centered learnin. , fleksibilitas, dan pengembangan kompetensi holistik melalui pendekatan berbasis proyek Analisis Modul Ajara. Najaah. Muthmainnah. Amelia. Hardiana. Rahmani. Safitri (Kemendikbud, 2. Kurikulum ini bertujuan mengurangi beban administratif guru sekaligus meningkatkan relevansi pembelajaran dengan tantangan abad ke21, seperti keterampilan berpikir kritis, kreativitas, dan kolaborasi. Karakteristik peserta didik menjadi fondasi penting dalam pengembangan modul ajar. Piaget . menjelaskan bahwa perkembangan kognitif siswa terjadi melalui tahapan yang berbeda, sehingga materi pembelajaran harus disesuaikan dengan tingkat kesiapan Teori Multiple Intelligences dari Gardner . menegaskan bahwa peserta didik memiliki kecerdasan majemuk . inguistik, logis-matematis, kinestetik, dll. ), sehingga pendekatan pembelajaran perlu bervariasi. Vygotsky . pentingnya Zone Proximal Development (ZPD), di mana guru harus membangun pembelajaran berdasarkan pengetahuan awal siswa. Keragaman ini perlunya pembelajaran berdiferensiasi, sebuah pendekatan yang memodifikasi konten, proses, produk, dan lingkungan belajar sesuai kesiapan, minat, dan profil belajar siswa (Tomlinson. Misalnya, diferensiasi konten dapat dilakukan dengan menyajikan materi dalam tingkat kesulitan berbeda, sementara diferensiasi produk memberi kebebasan siswa memilih bentuk tugas akhir seperti esai atau proyek. Selain culturally responsive teaching (CRT) lingkungan belajar inklusif. Geneva Gay . mendefinisikan CRT sebagai praktik yang memvalidasi identitas kultural peserta didik dan menggunakan budaya sebagai medium pembelajaran. Guru perlu membangun hubungan positif dengan siswa . arm menggunakan contoh kontekstual yang relevan dengan latar belakang budaya, serta menantang stereotip dalam materi ajar (Ladson-Billings, 1. Pendekatan ini memperkaya modul ajar dengan mengintegrasikan kasus pertanian dalam pembelajaran matematika untuk siswa di daerah agraris. Kerangka Understanding Design (UbD) dari Wiggins dan McTighe . menjadi landasan sistematis dalam UbD prinsip backward design dengan tiga tahap: . menetapkan tujuan pembelajaran esensial . esired result. , . merancang asesmen autentik . ssessment evidenc. , dan . menyusun pengalaman belajar . earning pla. nduring understandin. Prinsip ini selaras dengan Kurikulum Merdeka yang berfokus pada capaian kompetensi. Dengan UbD, pembelajaran berdiferensiasi, dan CRT, modul ajar menjadi alat holistik yang tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga mengembangkan keterampilan hidup dan menghargai keragaman siswa. METODE PENELITIAN Penelitian jenis penelitian kepustakaan . ibrary researc. yang menganalisis kualitas dan relevansi modul ajar yang digunakan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas VI SDN Polokarto 01. Sumber data utama penelitian ini adalah dokumen modul ajar yang disusun oleh guru kelas VI pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, dengan fokus pada struktur, konten, dan kesesuaiannya dengan prinsip-prinsip pedagogis serta kurikulum yang berlaku. Data dikumpulkan melalui studi dokumen terhadap modul ajar tersebut, yang mencakup komponen seperti tujuan pembelajaran, materi ajar, strategi pembelajaran, aktivitas siswa, dan instrumen asesmen. Pelaksanaan pengambilan data dilakukan pada bulan Oktober 2024 di SDN Polokarto 01, dengan tahapan identifikasi, inventarisasi, dan analisis Jurnal JARLITBANG Pendidikan. Volume 11 Nomor 1 CJuni 2025 dokumen modul ajar. Analisis data bersifat deskriptif-analitis, peneliti melakukan pemaparan sistematis terhadap komponen-komponen modul ajar, kemudian mengkritisi kelebihan, kelemahan, dan kesesuaiannya dengan kebutuhan pembelajaran abad ke-21. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk mengevaluasi apakah modul ajar telah memenuhi prinsip-prinsip seperti differentiated learning, integrasi konteks budaya . ulturally responsive teachin. , kerangka Understanding Design (UbD) Penelitian ini juga melihat sejauh mana modul ajar tersebut mendukung implementasi Kurikulum Merdeka, khususnya dalam aspek pengembangan kompetensi literasi, kolaborasi, dan berpikir kritis siswa. Hasil analisis pengembangan modul ajar yang lebih inklusif, adaptif, dan berorientasi pada pencapaian kompetensi holistik peserta Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya mendeskripsikan kondisi eksisting modul ajar, tetapi juga memberikan kontribusi praktis bagi peningkatan kualitas pembelajaran di tingkat sekolah dasar. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil analisis modul ajar mata pelajaran Bahasa Indonesia Kelas VI yang telah disusun oleh guru SDN Polokarto 01, modul ajar tersebut sudah memiliki sistematika dan unsur pembelajaran berdiferensiasi, sehingga penting untuk memberikan asesmen diagnostik, sedangkan pada modul ajar Gambar 1. Kegiatan Pembelajaran dalam Modul Ajar Asesmen kurikulum merdeka memegang peranan penting dalam pembelajaran. Menurut Salam . , asesmen diagnostik dapat bersifat kognitif maupun nonkognitif, menyeluruh mengenai kondisi psikologis, sosial, emosional, dan kemampuan akademis peserta didik. Dengan asesmen diagnostik guru dapat merancang modul ajar yang relevan dengan kebutuhan Tomlinson menambahkan bahwa asesmen diagnostik adalah langkah awal yang krusial dalam pembelajaran berdiferensiasi. Dengan memahami kebutuhan, minat, dan kemampuan awal peserta didik melalui merancang instruksi yang lebih tepat Hal meningkatkan keterlibatan peserta didik, tetapi juga membantu menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan responsif terhadap kebutuhan individu. Pembelajaran dimulai dengan penilaian tes diagnostik pembelajaran untuk mengetahui tingkat kemampuan awal peserta didik sebagai panduan untuk memetakan kesiapan belajar mereka (Lagarusu dkk. , 2. Asesmen diagnostik dikelompokkan menjadi dua, yaitu asesmen nonkognitif dan asesmen kognitif. Kedua jenis asesmen tersebut memiliki fungsi yang berbeda (Permata dkk. , 2. Menurut Nasution . asesmen diagnostik Analisis Modul Ajara. Najaah. Muthmainnah. Amelia. Hardiana. Rahmani. Safitri nonkognitif bertujuan untuk memperoleh informasi tentang kondisi psikologi, kebiasaan belajar, gaya belajar, dan minat peserta didik dalam pembelajaran. Sedangkan asesmen diagnostik kognitif bertujuan untuk memastikan tingkat pemahaman peserta didik terhadap materi pelajaran (Nasution, 2. Dalam situasi ini, guru dapat mengumpulkan informasi tentang keterampilan dan kinerja peserta didik melalui tes, observasi, atau Gambar 2. Bahan Ajar yang Digunakan Guru Berdasarkan gambar di atas, dalam modul ajar yang membahas mengenai teks dan grafik seyogyanya lebih relevan dengan lingkungan tempat tinggal peserta didik, karena peserta didik tinggal di Polokarto, guru bisa menambahkan teks atau grafik mengenai Alas Karet, selaras dengan yang disampaikan LadsonBillings . Pendekatan Culturally Responsive Teaching (CRT). Pendekatan Culturally Responsive Teaching (CRT) adalah sebuah pendekatan pembelajaran yang mengakui pentingnya referensi budaya peserta didik dalam semua aspek pembelajaran (Ladson- Billings, 1. Culturally Responsive Teaching karakteristik budaya, pengalaman, dan perspektif dari beragam etnis peserta didik sebagai media pembelajaran yang lebih efektif. Culturally Responsive Teaching membuat suatu pembelajaran bermakna dan menghubungkan dengan kehidupan peserta didik (Villegas & Lucas, 2. Melalui Culturally Responsive Teaching peserta didik dapat mengembangkan kompetensi kultural, dan mengembangkan kesadaran kritis (Ladson-Billings dalam Edwards & Nancy, 2. Pendekatan Culturally Responsive Teaching pendekatan pembelajaran yang efektif dan sesuai dengan tuntutan kurikulum. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa Culturally Responsive Teaching merupakan sebuah metode pembelajaran yang dapat membantu guru khususnya guru kimia untuk bekerja lebih efektif dengan beragam populasi serta untuk meningkatkan nilai ilmu pengetahuan di negaranya (Leblanc & Larke, 2. Guru harus mengenal peserta didik mereka, terutama dalam masyarakat di mana mereka tinggal. Dengan demikian, pengalaman yang relevan sehingga memudahkan peserta didik untuk menghubungkan pengalaman sehari-hari mereka dengan apa yang mereka lakukan di kelas. Gambar 3. Asesmen Sumatif yang terdapat pada Modul Ajar Guru Jurnal JARLITBANG Pendidikan. Volume 11 Nomor 1 CJuni 2025 Berdasarkan gambar di atas, asesmen sumatif tes tertulis yang disusun guru belum sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. asesmen yang belum sesuai dengan tujuan pembelajaran tidak sesuai dengan prinsip UbD atau Understanding by Design. Prinsip UbD menerapkan tujuan pembelajaran harus selaras dengan asesmen . nnalan dan Gyrsoy, 2. Asesmen dibutuhkan untuk mengukur ketercapaian suatu kompetensi dasar. Kompetensi dasar dikembangkan dan diuraikan menjadi indikator pencapaian Indikator kompetensi adalah penjabaran dari kompetensi dasar yaitu berupa perilaku yang dapat diukur atau diobservasi untuk melihat ketercapaian dari kompetensi dasar yang menjadi acuan penilaian suatu mata pelajaran (Bariyah. , 2. Kerangka kerja yang digunakan oleh para pengajar dan pengembang kurikulum untuk merancang pembelajaran yang terstruktur daberfokus pada pemahaman peserta didik, alur yang digunakan dimulai dengan mengidentifikasi hasil yang ingin dicapai kemudian menentukan bukti asesmen, dan barulah melakukan rancangan instruksi dan pengalaman belajar (McTighe & Wiggins, 2. KESIMPULAN Modul ajar mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas VI yang disusun oleh SDN Polokarto menunjukkan kualitas struktural dan sistematika yang baik, mencerminkan upaya serius dalam menyusun perangkat Komponen pembelajaran, materi esensial, aktivitas interaktif, dan instrumen evaluasi telah terintegrasi dengan jelas, sejalan dengan prinsip Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran berpusat pada Penyajian materi yang variatif, seperti penggunaan teks fiksi dan nonfiksi, juga menunjukkan kesesuaian dengan tingkat perkembangan kognitif peserta didik kelas VI. Namun, analisis mengungkapkan beberapa celah penting yang perlu disempurnakan. Pertama, tidak diagnostik menjadi kelemahan signifikan, karena guru tidak memiliki alat untuk memetakan kemampuan awal, minat, atau gaya belajar siswa. Kedua, soal dan tugas dalam modul belum sepenuhnya merefleksikan konteks lingkungan tempat tinggal siswa. Ketiga, asesmen sumatif pembelajaran yang ditetapkan. Meskipun pengembangan keterampilan menulis kreatif, evaluasi akhir justru fokus pada hafalan struktur teks. Ketidakselarasan ini prinsip backward design dalam Understanding by Design. DAFTAR PUSTAKA