ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 Krisis Literasi Sosial Di Sekolah: Benarkah Pembelajaran IPS Sudah Tidak Relevan Lagi? Diah Pahmasari Harahap1. Ala Mudin Haqi2. Lailatul Husna Al Illahiyah3. Minhatul Maula4 Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga 25204081011@student. uin-suka. Abstrak Kajian ini membahas fenomena krisis literasi sosial di sekolah serta mempertanyakan relevansi pembelajaran IPS dalam menjawab kebutuhan kompetensi sosial di era digital. Melihat kesenjangan tujuan pembelajaran ilmu pengetahuan alam dan unjuk kerja di kelas, mendeteksi kekurangan pedagogic guru, serta menilai Kembali peran strategis IPS dalam membentuk warga Masyarakat analistis dan meditatif. Perolehan data dilakuka dengan metode literatur review, mengkaji sumber-sumber terpercaya dan ilmiah pada tahun 2019-2025, mencakup jurnal penelitian, buku akademik, laporan kebijakan, serta dokumen resmi pemerintah terkait literasi sosial dan pembelajaran IPS. Analisis data dilakukan melalui content analisis dan tematik analisis, untuk menemukan pola temuan, hubungan konsep, serta tema-tema-tema utama yang Hasil penelitian menunjukkan bahwa kritis literasi soail disebabkan oleh dominasi pembelajaran berbasis hafalan, minimnya integrasi isu-isu sosial kontemporer, serta rendahnya kompetensi pedagogic guru dalam mengimplementasikan pembelajaran dialogis dan kontekstual. Meskipun demikian, pembelajaran IPS tetap memiliki relevansi tinggi sebagai fondasi pendidikan kewargaan progresif dengan catatan bahwa perlu dilakukan transformasi pedagogic analistis dan reflektif untuk dapat merespons keinginan warga dunia maya. Kata kunci: Literasi sosial. Pembelajaran IPS. Kompetensi pedagogic. Kurikulum merdeka. Masyarakat digital Abstract This study examines the phenomenon of the social litearacy crisis in Indonesia schools and evaluates whether Social Studies (IPS) learning has become irrelevant in the digital age. This article aims to analyze the gap between the goals of IPS education and its classroom implementation, identify the pedagogical limitayions that hider critical and contextual learning, and assess the strategi role of IPS in strengthening studentsAo civic competencies. This research employs a literature review method by systematically collecting, selecting, and analyzing publications from 2019-2025, including journal articles, policy documents, and academic books related to social literacy, the Merdeka Curriculum, and IPS learning. Data were analyzed using content analysis and thematic analysis to identify patterns, conceptual relationships, and recurring themes. The findings reveal that the social literacy crisis is rooted in memorizationbased instruction, limited integration of contemporary social issues, and inadequate teacher pedagogical competence. Despite these challenges. IPS remains highly relevant as a foundation for progressive citizenship education, provided its pedagogical practices are transformed to be more dialogic, reflective, and socially contextual Keywords: Social literacy. Social studies education, digital society, pedagogical competence. Merdeka curriculum ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 PENDAHULUAN Literasi sosial merupakan kemampuan individu dalam memahami realitas sosial, berinteraksi secara etis, serta mengambil keputusan yang bertanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat (Febriani et al. , 2. Pada konteks pendidikan dasar, literasi sosial menjadi fondasi penting dalam pembentukan karakter dan kompetensi kewargaan peserta didik sejak usia dini (UNESCO, 2. Namun, berbagai fenomena sosial yang muncul di lingkungan sekolah dasar, seperti perundungan, intoleransi, rendahnya empati sosial, serta lemahnya kemampuan peserta didik dalam merespons persoalan sosial di sekitarnya, menunjukkan adanya krisis literasi sosial dalam praktik pendidikan formal (Fahham, 2. Krisis literasi sosial tersebut menimbulkan pertanyaan mendasar mengenai efektivitas pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di sekolah dasar (Saputra, 2. IPS secara normatif dirancang untuk membekali peserta didik dengan pemahaman sosial, sikap kewargaan, serta kemampuan berpikir kritis terhadap fenomena sosial (Indraswati et al. , 2. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran IPS di sekolah dasar masih didominasi oleh pendekatan hafalan dan berorientasi pada buku teks, sehingga belum mampu mengembangkan kemampuan analitis dan reflektif peserta didik secara optimal (Alya, 2. Perkembangan masyarakat digital dan arus globalisasi semakin memperkuat urgensi penguasaan literasi sosial yang bersifat kritis dan kontekstual (Li & Yuliana. Peserta didik sekolah dasar kini dihadapkan pada berbagai informasi sosial yang kompleks melalui media digital, yang menuntut kemampuan memilah informasi, memahami nilai sosial, serta bersikap bijak dalam berinteraksi di ruang publik digital (Minarto & Hatip, 2. Sayangnya, transformasi digital tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai peluang pedagogik dalam pembelajaran IPS (Safitri et al. , 2. Keterbatasan kompetensi pedagogik guru dalam mengintegrasikan isu-isu sosial kontemporer ke dalam pembelajaran menjadi salah satu faktor penghambat penguatan literasi sosial peserta didik (Jannah, 2. Sejumlah studi menunjukkan bahwa pembelajaran IPS yang berbasis masalah, dialog sosial, dan isu kontekstual berpotensi meningkatkan literasi sosial peserta didik sekolah dasar (Hatibu, 2. Namun, implementasi pendekatan tersebut masih menghadapi berbagai kendala, seperti dominasi metode ceramah, keterbatasan pengembangan profesional guru, serta tekanan penuntasan materi kurikulum (Marsendi et al. , 2. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan utama tidak terletak pada ketidakrelevanan IPS sebagai bidang studi, melainkan pada praktik pedagogik yang belum sepenuhnya mendukung tujuan substantif pembelajaran IPS (Rahayu et al. , 2. Berdasarkan kondisi tersebut, artikel ini menawarkan perspektif yang berbeda dengan menempatkan krisis literasi sosial sebagai lensa analisis untuk menilai kembali relevansi pembelajaran IPS di sekolah dasar. Kajian ini tidak hanya mengidentifikasi faktor penyebab rendahnya literasi sosial, tetapi juga menganalisis hubungan antara praktik pedagogik IPS, kompetensi guru, dan tantangan masyarakat digital. Dengan ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 demikian, artikel ini memberikan kontribusi konseptual terhadap pengembangan pembelajaran IPS sebagai pendidikan kewargaan yang responsif terhadap perubahan sosial kontemporer. METODE Penelitian ini menggunakan metode literature review dengan tujuan menganalisis secara kritis fenomena krisis literasi sosial di sekolah dasar serta menilai kembali relevansi pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) berdasarkan temuan penelitian terdahulu (Snyder, 2. Metode ini dipilih karena mampu memberikan gambaran komprehensif mengenai pola, kecenderungan, dan kesenjangan penelitian terkait literasi sosial dan pembelajaran IPS dalam konteks pendidikan dasar (Xiao & Watson, 2. Sumber data penelitian diperoleh dari artikel jurnal nasional dan internasional, buku akademik, laporan kebijakan pendidikan, serta dokumen resmi pemerintah yang relevan dengan topik literasi sosial. Kurikulum Merdeka, dan pembelajaran IPS (Kerres & Bedenlier, 2. Literatur yang dianalisis dibatasi pada publikasi periode 2019Ae2025 guna menjaga relevansi dengan dinamika pendidikan dan perkembangan masyarakat digital (Zawacki-richter et al. , 2. Pengumpulan data dilakukan melalui penelusuran basis data ilmiah seperti Google Scholar. SINTA. DOAJ. ERIC, dan repositori perguruan tinggi. Kriteria inklusi meliputi: literatur yang membahas literasi sosial, pembelajaran IPS, atau pendidikan . publikasi yang tersedia dalam bentuk teks lengkap . ull tex. karya ilmiah yang telah melalui proses penelaahan sejawat . eer reviewe. (Haikal, 2. Literatur yang tidak sesuai dengan fokus penelitian atau tidak memenuhi standar akademik dieliminasi pada tahap seleksi (Falaach, 2. Analisis data dilakukan menggunakan content analysis untuk mengidentifikasi gambaran penyebab krisis literasi sosial, kelemahan implementasi pembelajaran IPS, serta strategi pembelajaran yang direkomendasikan dalam literatur (Yusuf & Hendrik. Selanjutnya, temuan dianalisis melalui thematic analysis dengan mengelompokkan hasil kajian ke dalam tema-tema utama, yaitu faktor penyebab krisis literasi sosial, kelemahan pedagogik dalam pembelajaran IPS, relevansi IPS di era masyarakat digital, serta urgensi pembelajaran IPS sebagai pendidikan kewargaan progresif di sekolah dasar (Eka & Hadiyati, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Krisis Literasi Sosial sebagai Dampak Kegagalan Pedagogik Pembelajaran IPS Hasil kajian menunjukkan konsistensi dengan penelitian Safitri et al. yang menemukan bahwa pembelajaran IPS masih didominasi metode ceramah sehingga kurang memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan keterampilan sosial dan berpikir kritis. Temuan ini juga sejalan dengan Marsendi et al. yang menyatakan bahwa pembelajaran IPS menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan relevansinya di tengah perubahan sosial yang sangat cepat. ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 Literasi sosial pada dasarnya menuntut keterampilan berpikir tingkat tinggi, seperti kemampuan menganalisis permasalahan sosial, memahami keberagaman perspektif, serta mengambil keputusan secara etis dalam kehidupan bermasyarakat. Namun, ketika pembelajaran IPS di sekolah dasar lebih menekankan penguasaan materi daripada proses dialogis dan reflektif, peserta didik kehilangan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan tersebut. Akibatnya, literasi sosial belum berkembang sebagai kompetensi inti, melainkan sekadar dianggap sebagai hasil tambahan dari pembelajaran IPS. Temuan ini menguatkan pandangan bahwa krisis literasi sosial merupakan persoalan sistemik dalam pembelajaran IPS (Marleni, 2. Kegagalan pembelajaran IPS dalam mengembangkan pemaknaan sosial menyebabkan tujuan normatif IPS, yaitu membentuk warga negara yang kritis, demokratis, dan bertanggung jawab, belum terwujud secara optimal dalam praktik pembelajaran di sekolah dasar (Afandi & Sidoarjo. Kelemahan Kompetensi Pedagogik Guru dalam Pembelajaran IPS Kompetensi pedagogik guru IPS menjadi faktor kunci dalam memperdalam krisis literasi sosial di sekolah dasar. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa guru masih mengalami kesulitan dalam mengintegrasikan isu-isu sosial kontemporer, seperti etika bermedia digital, keberagaman sosial, dan dinamika kehidupan masyarakat, ke dalam pembelajaran IPS yang bermakna. Pembelajaran cenderung berlangsung satu arah dan minim ruang diskusi, sehingga peserta didik kurang terlatih untuk mengemukakan pendapat dan merefleksikan pengalaman sosialnya. Kondisi ini tidak dapat dipahami semata sebagai keterbatasan individu guru, melainkan berkaitan dengan sistem pengembangan profesional yang masih berorientasi pada pemenuhan administrasi kurikulum dan penilaian hasil belajar. Penguatan pedagogi kritis dan reflektif belum menjadi prioritas utama, sehingga guru cenderung mereproduksi pola pembelajaran normatif yang berpusat pada ceramah dan penugasan tertulis. Dalam konteks pendidikan dasar, guru IPS seharusnya berperan sebagai fasilitator pembelajaran yang membantu peserta didik membangun pemahaman sosial melalui dialog, pengalaman belajar kontekstual, dan refleksi sederhana sesuai dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik (Wati, 2. Ketika peran ini belum dijalankan secara optimal, pembelajaran IPS kehilangan fungsinya sebagai wahana penguatan literasi sosial (Era et al. , 2. Kurikulum Merdeka sebagai Peluang Penguatan Literasi Sosial Kurikulum Merdeka secara konseptual menawarkan peluang strategis untuk memperkuat literasi sosial melalui pembelajaran IPS yang kontekstual, kolaboratif, dan berbasis proyek. Pendekatan ini sejalan dengan tujuan pengembangan Profil Pelajar Pancasila yang menekankan nilai gotong royong, bernalar kritis, dan berkebinekaan ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 Namun, hasil kajian menunjukkan bahwa peluang tersebut belum sepenuhnya terimplementasi di tingkat sekolah dasar. Keterbatasan kesiapan guru, minimnya pendampingan pedagogik, serta kebiasaan pembelajaran lama menyebabkan pembelajaran IPS masih berorientasi pada penuntasan materi. Akibatnya. Kurikulum Merdeka belum berfungsi optimal sebagai instrumen transformasi pembelajaran IPS dalam memperkuat literasi sosial peserta didik. Kesenjangan antara desain kurikulum dan praktik pembelajaran ini menunjukkan bahwa perubahan kebijakan belum otomatis menghasilkan perubahan pedagogic (Triantoro et al. , 2. Implementasi Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran IPS memerlukan dukungan pengembangan profesional guru yang berkelanjutan agar tujuan penguatan literasi sosial dapat terwujud secara nyata di sekolah dasar (Yustica et al. Relevansi Pembelajaran IPS sebagai Pendidikan Kewargaan di Era Digital Hasil pembahasan menunjukkan bahwa anggapan ketidakrelevanan pembelajaran IPS tidak memiliki dasar konseptual yang kuat. Justru di tengah kompleksitas masyarakat digital, pembelajaran IPS memiliki posisi strategis sebagai fondasi pendidikan kewargaan yang membekali peserta didik dengan kemampuan memahami, menilai, dan merespons fenomena sosial secara bijak sejak jenjang sekolah dasar. Relevansi pembelajaran IPS menjadi kabur bukan karena kelemahan disiplin ilmunya, melainkan akibat praktik pedagogik yang belum mengintegrasikan dimensi kritis dan reflektif secara optimal. Ketika pembelajaran IPS dirancang sebagai ruang dialog sosial yang mengaitkan isu-isu kontemporer dengan pengalaman hidup peserta didik, literasi sosial dapat berkembang secara lebih bermakna. Dengan demikian, transformasi pembelajaran IPS dari pendekatan hafalan menuju pembelajaran yang dialogis, kontekstual, dan reflektif menjadi kebutuhan mendesak (Pratiwi, 2. Reorientasi ini tidak hanya penting untuk menjawab krisis literasi sosial, tetapi juga untuk menegaskan kembali relevansi pembelajaran IPS sebagai pendidikan kewargaan progresif di era masyarakat digital (Susanti, 2. PENUTUP Krisis literasi sosial di sekolah dasar merupakan dampak dari ketidaksesuaian antara tujuan substantif pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dan praktik pedagogik yang diterapkan di kelas. Dominasi pendekatan berbasis hafalan, minimnya integrasi isu sosial kontemporer, serta keterbatasan kompetensi pedagogik guru menyebabkan pembelajaran IPS belum berfungsi optimal dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan pemahaman sosial peserta didik. Hasil kajian ini menegaskan bahwa pembelajaran IPS tetap memiliki relevansi yang kuat sebagai fondasi pendidikan kewargaan di era masyarakat digital. Relevansi tersebut dapat diwujudkan apabila pembelajaran IPS di sekolah dasar direorientasikan menuju pendekatan yang dialogis, reflektif, dan kontekstual, sehingga mampu membekali peserta didik dengan literasi sosial yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan zaman. ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 Berdasarkan temuan kajian ini, disarankan agar guru sekolah dasar memperkuat kompetensi pedagogiknya dalam merancang pembelajaran IPS yang kontekstual dan berbasis isu sosial nyata di lingkungan peserta didik. Selain itu, implementasi Kurikulum Merdeka perlu didukung oleh pendampingan pedagogik yang berkelanjutan agar pembelajaran IPS tidak hanya berorientasi pada penuntasan materi, tetapi juga pada penguatan literasi sosial dan karakter kewargaan peserta didik. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat mengkaji secara empiris penerapan model pembelajaran IPS yang berorientasi pada penguatan literasi sosial di sekolah dasar guna memperkaya temuan konseptual dan praktis dalam bidang pendidikan IPS. DAFTAR PUSTAKA