Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 Original Article Analysis Of Weight Faltering Incidents In Toddlers In The Work Area Of Tanjung Rambang Health Center. Prabumulih City Analisis Kejadian Weight Faltering Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Rambang Kota Prabumulih Siti Anisa Maulidia 1. Akhmad Dwi Priyatno 2. Chairil Zaman 3 . Edy Sapada4. Lisa Fitri5 1,2,3,4,5 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bina Husada Palembang *Corresponding Author: Siti Anisa Maulidia Institusi asal penulis Email: sitianisa. m@gmail. Keyword: Toddler. Weight Faltering Kata Kunci: Balita. Penurunan Berat Badan AThe Author. 2025 Article Info: Received : May 06,2025 Revised : July 16, 2025 Accepted : August 25, 2025 Cendekia Medika: Jurnal STIKes AlMaAoarif Baturaja e-ISSN : 2620-5424 p-ISSN : 2503-1392 This is an Open Access article distributed under the terms of the Creative Commons AttributionNonCommercial 4. 0 International License. Abstract The maximum development potential of children under five is strongly influenced by Estimates of stunting, wasting, overweight, and underweight as markers of child The most dominant stunting that occurs in toddlers is the problem of weight faltering or growth faltering. Methods Research using cross-sectional. Population consists of mothers who have toddlers, who visit posyandu ILP Mekar Jaya in Talang Batu Village in February 2025 using purposive sampling technique obtained 53 respondents. The results of the study obtained age of toddlers p Value = 0. 04 OR 0. 32, gender p Value 0. 90, birth weight p Value 0. 48, exclusive breastfeeding p Value = 0. 02 OR 3. 69, maternal age p Value =0. 51, maternal education p Value =0. 16, parental income p Value = 1. 00, maternal knowledge p Value Value =0. 01 OR 4. From the final results of multivariate analysis variable knowledge with p Value = 0. 017 OR 4. Conclusion there is a significant relationship between the age of toddlers, exclusive breastfeeding and maternal knowledge of the incidence of weight faltering. The more dominant variables knowledge. Abstrak Potensi Perkembangan balita secara maksimal sangat dipengaruhi oleh gizi. Estimasi stunting, wasting, overweight, dan underweight sebagai penanda malnutrisi anak. Stunting yang paling dominan yang terjadi pada balita adalah permasalahan gagal tumbuh atau weight faltering atau growth faltering. Metode Penelitian menggunakan cross-sectional. Populasi terdiri dari ibu-ibu yang memiliki balita, yang mengunjungi posyandu ILP Mekar Jaya di Desa Talang Batu pada bulan Februari 2025 menggunakan tehnik purposive sampling didapatkan 53 responden. Hasil penelitian didapatkan usia balita p Value = 0,04 OR 0,32, jenis kelamin p Value = 0,90, berat badan lahir p Value = 0,48. ASI ekslusif nilai p Value = 0,02 OR 3,69. Usia ibu nilai p Value = 0,51, pendidikan ibu nilai p Value = 0,16, pendapatan orang tua nilai p Value = 1,00, pengetahuan ibu nilai p Value = 0,01 OR 4,25. Dari hasil akhir analisis multivariat variabel pengetahuan dengan nilai p Value = 0,01 OR 4,250. Kesimpulan ada hubugan yang bermakna antara usia balita. ASI ekslusif dan pengetahuan ibu terhadap kejadian weight faltering. Variabel yang lebih dominan adalah PENDAHULUAN Gizi yang baik merupakan komponen utama dalam membantu bayi dan balita mencapai potensi perkembangan mereka secara Malnutrisi pada anak usia dini membuat anak berisiko mengalami kegagalan perkembangan dan, sebagai akibatnya, dapat menyebabkan mereka tumbuh lebih pendek dari rata-rata . Tren kekurangan dan kelebihan gizi di seluruh dunia ditunjukkan oleh estimasi underweight sebagai penanda malnutrisi Menurut WHO pada tahun 2022 sebanyak 148,1 juta anak mengalami stunting, 45 juta anak mengalami wasting. Jika hal ini terus berlanjut, target WHO untuk mengurangi jumlah menjadi 100 juta anak stunting pada tahun 2025 akan memerlukan penanganan lebih lanjut. Berdasarkan data . , di antara 116 negara. Indonesia memiliki skor kelaparan sedang, menempatkannya pada posisi 73. Indikator yang termasuk dalam GHI adalah prevalensi stunting dan wasting pada balita. Epidemi terhambat pertumbuhannya masih jauh dari selesai di Indonesia. Menurut data . angka stunting nasional mengalami https://jurnal. id/index. php/cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 penurunan tipis dari 21,6% pada tahun 2022 menjadi 21,5% di tahun 2023. Menurut RPJMN, target pemerintah Indonesia menurunkan angka stunting pada anak hingga 14% pada tahun 2024. Berbeda halnya dengan angka kejadian stunting yang perlahan menurun, untuk wasting di Indonesia justru menunjukkan peningkatan dari 7,70% menjadi 8,50% pada periode yang sama. Prevalensi balita stunting Provinsi Sumatera Selatan menunjukan penurunan dari tahun ke tahun yaitu 18,6% pada tahun 2022, lalu meningkat menjadi 20,3% di tahun 2023. Hal serupa juga terjadi pada wasting, yang naik dari 6,91% di tahun 2022 menjadi 9,7% di tahun 2023. Kondisi ini juga tercermin di Kota Prabumulih, di mana angka stunting naik dari 12,3% di tahun 2022 menjadi 15,4% di tahun 2023. Meski sempat menurun dari 8,6% . menjadi 5,0% . , angka wasting kembali meningkat menjadi 9,1% pada tahun 2023 . Menurut Kemenkes RI, stunting didasarkan pada indeks panjang badan menurut umur (PB/U) atau tinggi badan menurut umur (TB/U) dengan hasil pengukuran berada di bawah -2 standar deviasi (SD) dari kurva pertumbuhan WHO. Wasting adalah kondisi kekurangan gizi akut yang ditandai dengan berat badan yang sangat rendah dibandingkan tinggi badan anak (BB/TB). WHO mendefinisikan wasting sebagai berat badan terhadap tinggi badan yang berada di antara -3 hingga di bawah -2 standar deviasi (SD) dari kurva pertumbuhan WHO. Weight faltering, atau dikenal juga sebagai growth faltering, adalah kondisi berat badan bayi yang tidak naik sesuai standar usianya atau stagnan (BB/U). Stunting dapat diawali dengan weight Mekanisme homeostasis tubuh akan mengurangi laju pertumbuhan linier untuk memastikan status gizi yang cukup jika penurunan berat badan tidak segera diatasi, yang dapat menyebabkan malnutrisi parah dan dalam skenario terburuk terjadi terhambatnya pertumbuhan. Diantara berbagai faktor determinan penyebab stunting yang paling dominan permasalahan gagal tumbuh atau growth failure atau weight faltering. Pada anak-anak dan bayi baru lahir, keterlambatan perkembangan fisik dikenal sebagai gagal tumbuh atau penurunan berat badan, dan hal ini terwujud dalam ketidakmampuan untuk menambah berat badan sesuai dengan grafik pertumbuhan yang umum . Weight faltering adalah kenaikan berat badan yang tidak adekuat berdasarkan usia. Berat badan tidak naik (T) pada balita mengindikasikan kemungkinan gangguan pertumbuhan dan harus diwaspadai karena jika dibiarkan atau tidak terdeteksi akan berisiko mengalami masalah gizi yang lebih Berat badan tidak naik (T) terdiri dari Kenaikan berat badan tidak memadai, berat badan stabil dan berat badan turun. Penelitian yang dilakukan oleh . Terdapat korelasi antara pengetahuan dengan weight faltering di Mesir. Weight faltering umum terjadi pada bayi dari rumah tangga berpendapatan rendah, menurut sebuah penelitian di Jepang . Sedangkan penelitian di Tambak Lorok Semarang oleh . didapatkan adanya hubungan antara berat bayi lahir dengan terjadinya weight Pada laporan SIGIZI di Kota Prabumulih tahun 2024, sebanyak 14. 521 rerata balita yang ditimbang, terdapat 2. 761 rerata jumlah balita yang tidak naik berat Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun ada penurunan angka stunting terkait weight faltering, wasting, dan underweight tetap perlu ditangani secara serius untuk memastikan kesehatan optimal bagi anak. Berdasarkan laporan SIGIZI tahun 2024, menunjukkan bahwa untuk data balita yang https://jurnal. id/index. php/cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 tidak naik berat badannya, di Puskesmas Tanjung Rambang mengalami peningkatan dari 278 balita di tahun 2023 menjadi 314 balita di tahun 2024. Selain itu. Puskesmas Tanjung Rambang merupakan urutan ketiga tertinggi dari sembilan puskesmas di Prabumulih yaitu sebesar 31,8 % dari 988 balita yang ditimbang, dimana yang tertinggi adalah Puskesmas Prabumulih Barat sebesar 40,3% dari 1380 balita yang Puskesmas Pasar Prabumulih sebesar 34,3 % dari 2148 balita yang di timbang. Maka dari itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang weight faltering pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Rambang sebagai bagian dari upaya memahami masalah gizi di wilayah tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan kejadian weight faltering pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Rambang tahun 2025. METODE Penelitian ini merupakan penelitian crosectional untuk mengetahui faktor kejadian weiht faltering dibalita. Penelitian ini berfokus pada variabel yang dapat diukur atau diamati satu kali untuk variabel independen dan dependen . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kejadian weight faltering pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Rambang Kota Prabumulih pada tahun 2025. Untuk penelitian ini, populasi terdiri dari ibu-ibu yang memiliki balita, yang mengunjungi posyandu ILP Mekar Jaya di Desa Talang Batu pada bulan Februari 2025 dengan total sebanyak 114 balita. peneliti memilih sebagian kecil dari keseluruhan hal yang diteliti dan menyebutnya sampel penelitian digunakan tehnik purposive sampling dengan pendekatan slovin didapatkan 53 Penulis menggunakan standarstandar dalam mengumpulkan sampel , peneliti memilih partisipan penelitian untuk mengumpulkan data yang relevan dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Analisa yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa univariat, bivariat dan multivariate. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisa Univariat Usia balita, jenis kelamin. ASI eksklusif, berat badan lahir, usia ibu, pendidikan ibu, pendapatan orang tua, dan pengetahuan ibu adalah variabel independen yang digunakan dalam analisis univariat untuk menentukan distribusi frekuensi variabel dependen . ejadian weight faltering pada balit. Tabel 1. Kriteria Responden Kejadian Weight Faltering Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Rambang Tahun 2025 Variabel Kejadian Weight faltering Tidak Usia Balita Batita Prasekolah Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Berat Badan Lahir Rendah Normal ASI ekslusif Tidak Usia Ibu Jumlah . Presentasi (%) 41, 5 https://jurnal. id/index. php/cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 Resiko tinggi Resiko rendah Pendidikan Ibu Rendah Tinggi Pendapatan Orang Tua Rendah Tinggi Pengetahuan Ibu Rendah Tinggi Tabel 2. Hubungan Antara Usia Balita Dengan Kejadian Weight Faltering pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Rambang Kota Prabumulih Tahun 2025 Variabel Usia balita Batita Pra-sekolah Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Berat Badan Rendah Normal Asi ekslusif Tidak Usia Ibu Resiko tinggi Resiko Pendidikan Ibu Rendah Tinggi Pendapatan Orang Tua Rendah Tinggi Pengetahuan Ibu Rendah Tinggi Kejadian weight faltering Tidak Jumlah 0,32 0,90 0,51 0,16 1,00 Dari tabel 2. terlihat hanya ada 3 kriteria yang nilai pvalue <0,05, uji statistik diperoleh nilai p Value = 0,04 untuk usia balita. Kesimpulan ada hubungan antara usia balita dengan kejadian weight faltering pada balita di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Rambang Kota Prabumulih Tahun 2025. Dari hasil analisa didapatkan nilai OR = 0,32 artinya responden yang memiliki anak usia batita beresiko 0,32 kali untuk terjadinya weight faltering 0,02 3,69 4,25 dibandingkan dengan responden memiliki anak usia prasekolah. Diperoleh nilai p Value = 0,02. Kesimpulan ada hubungan antara ASI ekslusif dengan kejadian weight faltering pada balita di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Rambang Kota Prabumulih Tahun 2025. Dari hasil analisa didapatkan nilai OR = 3,69 artinya responden yang ASI tidak ekslusif https://jurnal. id/index. php/cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 beresiko 3,69 kali untuk terjadinya weight faltering pada balita dibandingkan dengan responden yang ASI ekslusif. Dalam analisis multivariat, satu variabel dependen dihubungkan dengan banyak variabel independen secara bersamaan. Uji statistik diperoleh pada kriteria pengetahuan ibu nilai p Value = 0,01. Kesimpulan pengetahuan ibu dengan kejadian weight faltering pada balita di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Rambang Kota Prabumulih Tahun 2025. Dari hasil analisa didapatkan nilai OR = 4,25 artinya responden yang pengetahuan rendah beresiko 4,25 kali untuk terjadinya weight faltering pada balita dibandingkan dengan responden yang pengetahuan tinggi Analisis regresi logistik sederhana tahap seleksi bivariat Analisa Mutivariat Dengan menggunakan uji regresi logistik dasar selama tahap pemilihan bivariat, analisis multivariat dilakukan pada delapan variabel independen. Selama langkah pemodelan, variabel langsung dimasukkan dalam analisis multivariat karena hasil pemilihan bivariat mengungkapkan nilai p <0,25. Di sisi lain, jika nilai p lebih dari 0,25 sehingga tidak diikutkan dalam multivariat. Tabel berikut menampilkan pemilihan bivariat studi tersebut Tabel 3 Hasil Analisis Regresi Logistik Sederhana Tahap Seleksi Bivariat Terhadap Variabel Independen Variabel Penelitian Usia Balita Jenis Kelamin Asi ekslusif Berat badan Lahir Usia Ibu Pendidikan Ibu Pendapatan Orang tua Pengetahuan Ibu Tabel 3. menunjukkan bahwa variabel bebas usia balita. ASI Eksklusif, pendidikan ibu, dan pengetahuan ibu memiliki nilai p kurang dari 0,25 maka empat variabel ini Sedangkan variabel jenis kelamin, berat badan lahir, usia ibu, dan pendapatan orangtua tidak dimasukkan karena nilai pnya lebih dari 0,25. Analisis Regresi Logistik Ganda P value 0,901 0,025 0,300 0,489 0,168 0,956 0,013 Tahap permodelan empat variabel yang dimasukkan ke dalam model yaitu variabel usia balita. ASI Ekslusif, pendidikan ibu dan pengetahuan ibu. Hasil analisa multivariat dengan uji regresi logistik dan tahap permodelan dengan mengeluarkan variabel p value > 0,05 secara bertahap dari variabel yang memiliki p value terbesar. Hasil analisa regresi logistik ganda dapat dilijhat dari tabel berikut ini Tabel 4. Tahap 1 Regresi Logistik Variabel Penelitian Usia Balita Asi ekslusif Pendidikan Ibu Pengetahuan P value 0,385 0,314 0,032 https://jurnal. id/index. php/cendekia_medika / 0,256 0,549 1,943 4,772 Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 Dari hasil tabel 4. terlihat bahwa empat variabel yang memiliki nilai p > 0,05, dengan demikian variabel dengan nilai p Value paling besar dikeluarkan di dalam Tabel 5 Perubahan OR Setelah Variabel ASI Ekslusif dikeluarkan Variabel OR ada ASI OR tidak ada ASI Perubahan OR (%) Usia Balita 14,06 ASI Eksklusif Pendidikan Ibu -1,49 Pengetahuan Ibu -22,14 Berdasarkan hasil analisis yang dilihat dari setelah variabel ASI Ekslusif dikeluarkan. Perubahan nilai OR pada variabel lain setelah variabel ASI Ekslusif dikeluarkan adalah > 10 %, dengan demikian variabel ASI Ekslusif dimasukan kembali ke permodelan. Selanjutnya variabel yang terbesar p Value nya adalah pendidikan dan mendapatkan hasil berikut: Tabel 6. Perubahan OR Setelah Variabel Pendidikan Ibu di keluarkan Variabel OR ada pendidikan Usia balita Pengetahuan Ibu ASI Ekslusif Pendidikan Ibu Pada tabel 6 setelah variabel pendidikan Ibu dikeluarkan, perubahan nilai OR pada variabel lain setelah variabel ASI Ekslusif dikeluarkan adalah < 10 %, dengan demikian variabel OR tidak ada usia Perubahan OR (%) 2,73 -4,22 1,64 pendidikan ibu dikeluarkan dari analisis permodelan selanjutnya variabel terbesar p Value selanjutnyanya adalah variabel Usia ibu dan mendapatkan hasil berikut: Tabel 7 Perubahan OR Setelah Variabel Usia Balita di keluarkan Variabel OR ada usia balita Usia balita Pengetahuan ibu ASI ekslusif 0,256 4,973 1,853 Pada tabel 7 setelah variabel usia balita dikeluarkan, perubahan nilai OR pada variabel lain setelah variabel usia balita dikeluarkan OR tidak ada usia 3,246 2,666 34,75 -43,87 adalah > 10 %, dengan demikian variabel usia balita dimasukan kembali ke permodelan. Uji Interaksi Table 8 Uji Interaksi Variabel Pengetahuan Block 1 method = Enter Omnibus Tests of Model Coefficients Step Block Model Perubahan OR (%) Chi-Square 6,218 6,218 6,218 P value 0,013 0,013 0,013 https://jurnal. id/index. php/cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 Hasil uji interaksi Block 1: Methode = Enter di uji omnibusnya memperlihatkan p Value = 0,013 berarti < dari 0,05 berarti ada interaksi antara pengetahuan ibu terhadap kejadian weight faltering pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Rambang Kota Prabumulih Tahun 2025. Model Hasil Akhir Multivariat Tabel 9 Hasil akhir Multivariat terhadap semua variabel independent Step Pengetahuan ibu Constant P value 0,017 0,036 4,250 0,157 Dari hasil akhir analisis multivariat ternyata terdapat variabel yang paling dominan terhadap kejadian weight faltering pada balita di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Rambang Kota Prabumulih Tahun 2025 adalah variabel pengetahuan . Value = 0,. Hasil analisis multivariat adalah bila 95,0% C. EXP(B)25 Lower Upper 1,302 13,874 variabel independen di uji secara bersamasama maka variabel pengetahuan adalah variabel yang paling dominan berhubungan dengan kejadian weight faltering pada balita di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Rambang Kota Prabumulih Tahun 2025. Tabel 10. Hasil Regresi Logistik Ganda Pengetahuan Variabel Pvalue Pengetahuan 0,017 4,250 Konstanta Cox&Snell R SquRE = 0,111 Negelkeke R Square = 0,148 Model Regresi Logistiknya : Z = 1,852 Ae 1,447 (Pengetahua. Z = 1,852 Ae 1,447 . = 0,405 Probabilitas Pengetahuan = = 0,60 = 60% 1 e Ae(Z) Bila variabel dependen diuji bersama-sama, maka variabel pengetahuan adalah variabel yang paling dominan berhubungan dengan kejadian weight faltering pada balita di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Rambang Kota Prabumulih Tahun 2025. Berdasarkan data di responden pengetahuan ibu rendah, memiliki kemungkinan 60% lebih besar balita mengalami weight faltering. Hasil analisis regresi logistik berganda juga menunjukkan pengetahuan ibu yang rendah memengaruhi 11% kejadian weight faltering pada balita, sisanya merupakan pengaruh faktor lain. Pengetahuan rendah memiliki risiko sebesar 4,250 kali untuk balita mengalami weight faltering PEMBAHASAN Hubungan usia balita dengan kejadian weight faltering pada balita di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Rambang Kota Prabumulih Tahun 2025. Pada uji statistik ditemukan ada hubungan antara usia balita dengan kejadian weight PuskesmasTanjung Rambang Kota Prabumulih Tahun 2025. Penelitian ini sejalan dengan penelitian oleh . yang berjudul AuFaktor gagal tumbuh pada anak berdasarkan composite index of anthropometric failure di Provinsi Sulawesi https://jurnal. id/index. php/cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 BaratAy didapatkan bahwa ada hubungan antara usia dengan kejadian gagal tumbuh. Pada penelitian lainnya di Tanzania oleh . yang berjudul AuThe burden and correlates of childhood undernutrition in Tanzania anthropometric failureAy, di dapatkan ada hubungan antara usia balita dengan kejadian gagal tumbuh. Masa toddler (Usia 1-3 tahu. merupakan tahap penting dalam kehidupan yang menuntut pertimbangan cermat. Selama masa ini, perkembangan fisik, psikologis, motorik, dan sosial seseorang berlangsung dengan sangat cepat. Untuk mencapai potensi intelektual sepenuhnya, ini merupakan masa yang sangat penting . Kebiasaan makan anak terbentuk pada tahun pertama kehidupannya. Dengan melihat dan meniru kebiasaan makan orang lain, anak-anak memperoleh banyak informasi tentang kapan, apa, dan berapa banyak makanan yang harus dimakan. Oleh karena itu, orang-orang di sekitar anak . erutama ib. mempunyai pengaruh terhadap kebiasaan makan dan gangguan makan anak. Menurut asumsi peneliti pada usia tersebut nafsu makan mengalami penurunan dikarenakan adanya adaptasi. Baik adaptasi dari balita dalam peralihan dari ASI ke Makanan pendamping ASI ataupun dari kesiapan ibu dalam peralihan tersebut. Pemberian ASI dihentikan, dan anak-anak mengalami banyak pertumbuhan fisik dan mental, dan pada saat itu, mereka harus memperoleh pola makan yang seimbang untuk mendukung perkembangan otak dan tubuh anak. Selain itu sebagian besar ibu bekerja, sehingga tidak memperhatikan nutrisi pada balitanya, sering sekali ibu yang bekerja terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak memperhatikan anaknya yang sering kali kekurangan nutrisi dan asupan gizi. Hubungan jenis kelamin dengan kejadian weight faltering pada balita di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Rambang Kota Prabumulih Tahun 2025. Pada uji statistik ditemukan tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian weight faltering pada balita di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Rambang Kota Prabumulih Tahun 2025 Penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya oleh Habibzadeh et al . menunjukkan bahwa tidak terdapat korelasi antara jenis kelamin dengan gagal tumbuh di Urmia. Barat Laut Iran. Penelitian lain oleh . yang berjudul AuGender perceptions predict sex differences in growth patterns of indigenous Guatemalan infants and young childrenAy, hubungan jenis kelamin dan pola pertumbuhan anak pribumi di Guatemalan memang signifikan pada usia dini, khususnya selama tahun pertama kehidupan . Ae12 bula. , di mana perempuan mengungguli laki-laki dalam hal Namun, pada usia 18 bulan ke atas . ahun kedua kehidupa. , perbedaan pola pertumbuhan berdasarkan jenis kelamin mulai berkurang secara Penelitian ini menyatakan bahwa perbedaan pertumbuhan yang awalnya pada anak perempuan . elompok usia 6Ae17 bulan pada data nasiona. menjadi mengecil atau tidak lagi signifikan pada tahun kedua kehidupan . sia 18 bulan ke ata. Perbedaan dalam perilaku mengasuh anak yang berawal dari persepsi terkait jenis kelamin dapat menyebabkan perbedaan biologis antara anak perempuan dan lakilaki, termasuk perbedaan dalam pola Kedua jenis kelamin samasama rentan Pemberian MP-ASI dini diyakini menjadi penyebab retardasi laki-laki, sedangkan pemberian ASI yang kurang pada . Menurut asumsi peneliti, secara biologis, baik anak laki-laki maupun perempuan memiliki potensi tumbuh kembang yang https://jurnal. id/index. php/cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 serupa, sehingga weight faltering lebih mungkin dipengaruhi oleh faktor lainnya bukan dari faktor jenis kelamin. Selain itu, berdasarkan karakteristik balita di wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Rambang, kasus weight faltering antara laki-laki dan perempuan relatif seimbang, sehingga prevalensi tidak berubah secara signifikan berdasarkan jenis kelamin. Hubungan ASI Ekslusif dengan kejadian weight faltering pada balita di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Rambang Kota Prabumulih Tahun 2025. Pada uji statistik ditemukan ada hubungan antara ASI ekslusif dengan kejadian weight faltering pada balita di wilayah kerja PuskesmasTanjung Rambang Kota Prabumulih Tahun 2025 Penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya oleh Haqueena et al . didapatkan ada hubungan antara pemberian ASI Ekslusif dengan kejadian weight faltering pada balita di wilayah kerja Puskesmas Sei Mesa Kota Banjarmasin. Penelitian lain dilakukan oleh . yang berjudul AuFaktor-faktor yang berhubungan dengan risiko gagal tumbuh pada anak usia > 6-24 bulan di Puskesmas Kenali Besar Kota Jambi Tahun 2016Ay didapatkan hasil analisis pemberian ASI eksklusif dengan risiko gagal tumbuh pada balita terdapat hubungan yang bermakna. ASI merupakan sumber makanan yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan gizi spesifik bayi sehingga pemberian ASI eksklusif dapat mengurangi kemungkinan kegagalan pertumbuhan. Bayi yang menyusui dengan baik dapat memperoleh semua nutrisi yang mereka butuhkan dari ASI saja. Meskipun dianjurkan untuk menyapih bayi dari ASI setelah 6 bulan, mereka dapat terus mengonsumsinya setidaknya selama satu tahun lagi. Namun, banyak tantangan masih ada di masyarakat. Salah satunya adalah ketidakmampuan ibu untuk memberikan susu kepada bayinya sampai usia enam bulan. Banyak faktor yang berkontribusi pada kegagalan menyusui secara ekslusif, termasuk rendahnya pengetahuan tentang pentingnya ASI ekslusif . Menurut asumsi peneliti, para ibu responden dalam penelitian tersebut memberikan ASI secara eksklusif karena berbagai alasan, termasuk kurangnya pasokan ASI, jadwal kerja yang padat, dan dekatnya masa kehamilan, yang semuanya membuat mereka sulit untuk menyediakan cukup waktu untuk memberikan ASI Ekslusif. Hubungan berat badan lahir dengan kejadian weight faltering pada balita di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Rambang Kota Prabumulih Tahun 2025. Pada uji statistik ditemukan tidak ada hubungan antara berat badan lahir dengan kejadian weight faltering di wilayah kerja PuskesmasTanjung Rambang Kota Prabumulih Tahun 2025 Penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian lain yang dilakukan Latifah et al . yang berjudul AuFaktor gagal tumbuh pada anak berdasarkan composite index of anthropometric failure di Provinsi Sulawesi BaratAy, bahwa balita dengan riwayat berat badan lahir rendah memiliki risiko gagal tumbuh yang lebih tinggi berdasarkan CIAF dibandingkan balita yang lahir dengan berat badan lahir normal. Balita dengan berat badan lahir rendah lebih rentan terhadap penyakit, lebih sering mengalami kegagalan menyusui, dan berisiko lebih tinggi mengalami gangguan pertumbuhan, dibandingkan dengan berat badan yang sesuai saat lahir. Berat badan lahir ditentukan dalam jam pertama kelahiran. Jika kurang dari 500gram disebut BBLR (Berat Badan Lahir Renda. Menurut penelitian, ada peningkatan risiko kematian dua puluh kali lipat pada bayi BBLR. Bayi BBLR sering kali tidak dapat berlari dengan baik dalam jarak Jika mereka selamat saat dilahirkan, https://jurnal. id/index. php/cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 bayi BBLR cenderung tumbuh dan berkembang lebih lambat daripada bayi yang tumbuh normal. Risiko signifikan penyakit tidak menular, termasuk kelainan meningkat pada mereka yang memiliki riwayat BBLR. Menurut asumsi peneliti, balita dengan riwayat berat bayi lahir rendah di wilayah kerja puskesmas tanjung rambang tidak mengalami weight faltering dikarenakan mendapatkan asupan yang adekuat serta pertumbuhan dan perkembangan anak balita sehingga tidak mempengaruhi pertumbuhan balita dengan riwayat berat bayi lahir rendah. Hubungan usia ibu dengan kejadian weight faltering pada balita di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Rambang Kota Prabumulih Tahun 2025. Pada uji statistik ditemukan tidak ada hubungan antara usia ibu dengan kejadian weight faltering pada balita di wilayah kerja PuskesmasTanjung Rambang Kota Prabumulih Tahun 2025 Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya oleh Fentahun et al . ada hubungan antara usia ibu saat melahirkan dengan pertumbuhan dan status gizi ibu serta hasil kesehatan bayi yang dilahirkan. Ibu yang melahirkan anak sebelum usia terhambatnya pertumbuhan yang lebih Usia reproduksi wanita antara dua puluh dan tiga puluh adalah masa optimal untuk mengandung anak hingga cukup bulan. Meskipun ada pendapat bahwa wanita hamil usia < 20 tahun beresiko lebih tinggi mengalami kematian ibu, angka sebenarnya dua hingga lima kali lebih besar di antara wanita berusia 20Ae29 tahun. Selain itu, risiko kematian ibu meningkat bagi wanita yang berusia 30Ae35 tahun saat mereka hamil atau melahirkan (Prawirohardjo. Bayi yang ibunya melahirkan sebelum mencapai pubertas memiliki peluang lebih tinggi untuk tidak berkembang dengan baik. Pertumbuhan fisik dan mental yang cepat merupakan ciri khas masa pubertas, yang mengharuskan peningkatan konsumsi kalori dan zat gizi Namun demikian, dalam kasus kehamilan dini . ebelum usia 15 tahu. , ibu dan janin yang sedang tumbuh bersaing untuk mendapatkan zat gizi guna mendukung pertumbuhan mereka yang Akibatnya, kehamilan selama masa remaja memperlambat pertumbuhan anak . Kehamilan diatas umur 35 tahun tidak dianjurkan karena memiliki risiko untuk terjadinya BBLR, karena pada usia ini sering muncul penyakit seperti hipertensi, tumor degeneratif dan juga bisa dikarenakan pada usia ini semua organ kemampuan fungsinya sudah mulai menurun. ehamilan pada usia remaja meningkatkan risiko bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR) dan pertumbuhan janin terhambat (IUGR), tetapi walaupun balita dengan riwayat berat bayi lahir rendah, balita mendapatkan asupan yang adekuat serta pertumbuhan dan perkembangan anak balita sehingga tidak mempengaruhi pertumbuhan balita. Hubungan pendidikan ibu dengan kejadian weight faltering pada balita di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Rambang Kota Prabumulih Tahun 2025. Pada uji statistik ditemukan tidak ada hubungan antara pendidikan ibu dengan kejadian weight faltering pada balita di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Rambang Kota Prabumulih Tahun 2025 Penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya oleh . yang berjudul AuFaktor gagal tumbuh pada anak berdasarkan composite index of anthropometric failure di Provinsi Sulawesi BaratAy bahwa tidak ada hubungan antara pendidikan ibu dan kejadian gagal pertumbuhan pada balita https://jurnal. id/index. php/cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 berdasarkan CIAF. Penelitian lain oleh . yang berjudul AuMetode dan pola waktu pemberian asi ekslusif sebagai faktor resiko growth faltering pada bayi usia 2-6 bulanAy yang juga menemukan tidak terdapat hubungan antara pendidikan ibu dengan kejadian growth faltering. Menurut Notoadmojo . bahwa pendidikan sebenarnya adalah tentang fakta bahwa setiap orang, kapan saja, dapat terlibat dalam proses pembelajaran. Transisi dari ketidaktahuan menjadi pengetahuan, atau dari tidak mampu melakukan sesuatu menjadi mampu melakukannya adalah arti sedang belajar. Dari sini, kita dapat menyimpulkan bahwa pendidikan formal tidak perlu dilakukan di ruang kelas, tetapi kapanpun dan Tingkat pendidikan seseorang memengaruhi tingkat pengetahuannya. Berdasarkan hasil penelitian dan teori yang mendukung serta penelitian terdahulu peneliti berasumsi walaupun pendidikan tinggi memudahkan untuk memperoleh dan memahami informasi, bukan berarti seseorang dengan pendidikan rendah beresiko lebih tinggi terjadinya gagal tumbuh atau weight faltering. Pengetahuan tentang gizi balita tidak hanya didapat dari pendidikan formal tetapi pengetahuan juga dapat diperoleh melalui cara informal, seperti melalui pengalaman pribadi, media, lingkungan, dan pendidikan kesehatan. Hubungan pendapatan orangtua dengan kejadian weight faltering pada balita di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Rambang Kota Prabumulih Tahun 2025. Pada uji statistik ditemukan tidak ada hubungan antara pendapatan orangtua dengan kejadian weight faltering pada balita di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Rambang Kota Prabumulih Tahun 2025. Penelitian ini sejalan dengan penelitian . yang berjudul AuMetode dan pola waktu pemberian asi ekslusif sebagai faktor resiko growth faltering pada bayi usia 2-6 bulanAy yang juga menemukan tidak terdapat hubungan antara pendapatan orangtua dengan prevalensi gagal tumbuh pada Seberapa banyak dan jenis makanan yang dikonsumsi seseorang dipengaruhi oleh tingkat pendapatan mereka. Kapasitas berkorelasi langsung dengan tingkat pendapatan mereka. Karenanya, rumah tangga berpenghasilan rendah lebih mungkin mengalami kelaparan, terutama dalam hal memenuhi kebutuhan gizi tubuh. Kuantitas dan variasi makanan yang dikonsumsi sering berubah seiring dengan Bergantung pada tingkat pendapatan seseorang, preferensi belanja makanan seseorang juga akan ditentukan. Proporsi pendapatan yang digunakan untuk membeli produk segar dan makanan lainnya cenderung meningkat seiring dengan peningkatan tingkat pendapatan. Kualitas dan kuantitas gizi berkorelasi positif dengan pendapatan, yang menunjukkan bahwa uang merupakan komponen penting. Kesehatan keluarga dan keadaan keluarga lain yang berinteraksi dengan status gizi yang kontras membaik seiring dengan peningkatan kondisi keuangan satu keluarga . Menurut asumsi peneliti, dalam statistik sosial ekonomi, yang digunakan hanya batas atas dan batas bawah UMR Kota Prabumulih. Ketika ditanya tentang pendapatan bulanan, orang tua subjek sering memberikan perkiraan, bukan angka Pendapatan atau gaji bulanan seseorang tidak mencerminkan apa pun tentang status sosial ekonominya karena setiap rumah tangga memiliki jumlah tanggungan yang bervariasi. Hubungan pengetahuan ibu dengan kejadian weight faltering pada balita di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Rambang Kota Prabumulih Tahun 2025. Pada uji statistik ditemukan ada hubungan antara pengetahuan ibu dengan kejadian weight faltering pada balita di wilayah kerja https://jurnal. id/index. php/cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 Puskesmas Tanjung Rambang Prabumulih Tahun 2025 Kota Penelitian ini sejalan dengan penelitian oleh . yang berjudul AuFaktor-faktor yang berhubungan dengan risiko gagal tumbuh pada anak usia > 6-24 bulan di Puskesmas Kenali Besar Kota Jambi Tahun 2016Ay yang pertumbuhan dengan risiko gagal tumbuh. Berdasarkan penelitian lainnya oleh . berjudul AuAssesment of mothers' knowledge and practices regarding care of their infant suffering from failure to thriveAy, didapatkan ada hubungan antara pengetahuan ibu dengan informasi demografi terhadap weight faltering. Tindakan seseorang sangat dipengaruhi pengetahuan yang dimilikinya. Meskipun pengetahuan tidak secara langsung mempengaruhi kondisi gizi balita, namun pengetahuan memiliki pengaruh yang signifikan karena, khususnya di bidang kesehatan, pengetahuan yang memadai kesehatan dan mencari solusinya. Menurut asumsi peneliti, pengetahuan ibu dapat membantu mencegah terjadinya weight faltering pada balita. Pengetahuan yang tidak memadai, seperti kurangnya pengetahuan tentang kenaikan berat badan yang optimal pada balita, pencegahan serta deteksi dini weight faltering merupakan faktor yang penting agar balita tidak mengalami gagal tumbuh di kemudian hari. Semakin tinggi pengetahuan ibu tentang weight faltering pada balita maka pemberian makanan yang seimbang akan semakin baik. Keputusan dan tindakan dipengaruhi oleh pengetahuan Ibu. Anakanak kemungkinan besar akan memperoleh cukup nutrisi dari Ibu jika Ibu punya pengetahuan gizi yang memadai. Variabel yang paling dominan yang berhubungan dengan kejadian weight faltering Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Rambang Prabumulih Tahun 2025 Kota Pengetahuan ibu terhadap weight faltering muncul sebagai variabel bebas yang paling Penelitian ini sejalan dengan penelitian oleh . yang berjudul AuFaktor-faktor yang berhubungan dengan risiko gagal tumbuh pada anak usia > 6-24 bulan di Puskesmas Kenali Besar Kota Jambi Tahun 2016Ay yang pertumbuhan dengan risiko gagal tumbuh. Berdasarkan penelitian lainnya oleh . berjudul AuAssesment of mothers' knowledge and practices regarding care of their infant suffering from failure to thriveAy, didapatkan ada hubungan antara pengetahuan ibu dengan informasi demografi terhadap weight faltering. Berdasarkan asumsi peneliti, variabel yang paling dominan yang berhubungan dengan kejadian weight faltering pada balita yaitu pengetahuan ibu. Pengetahuan ibu dapat membantu mencegah terjadinya weight faltering pada balita. Pengetahuan yang pengetahuan tentang kenaikan berat badan yang optimal pada balita, pencegahan serta deteksi dini weight faltering merupakan faktor yang penting agar balita tidak mengalami gagal tumbuh di kemudian hari. Semakin tinggi pengetahuan ibu tentang weight faltering pada balita maka pemberian makanan yang seimbang akan semakin baik. Keputusan dan tindakan dipengaruhi oleh pengetahuan Ibu KESIMPULAN Didapatkan kesimpulan ada hubungan antara usia balita. ASI Ekslusif, pengetahuan ibu, dengan kejadian weight faltering pada balita, namun sebailiknya juga didapatkan tidak ada hubungan antara jenis kelamin, berat badan lahir, usia ibu, pendidikan ibu, pendapatan orangtua dengan kejadian weight faltering pada balita di Wilayah Kerja https://jurnal. id/index. php/cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 Puskesmas Tanjung Rambang Kota Prabumulih Tahun Variabel pengetahuan ibu adalah variabel yang paling dominan berhubungan dengan kejadian weight faltering pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Rambang Kota Prabumulih Tahun 2025 berbahan pangan lokal bagi ibu hamil dan balita. NOMOR HK. 1Ae86 Zakaria TF. Sayed EM El. Elsayed NAE. Assesment of MothersAo Knowledge and Practices Regarding Care of Their Infant Suffering from Failure to Thrive. Tanta Scientific Nursing Journal. :31Ae48. Kachi Y. Fujiwara T. Yamaoka Y. Kato T. Parental Socioeconomic Status and Weight Faltering in Infants in Japan. Frontiers in Pediatrics. 6:1Ae8. Rohmah SS. Suyatno. Kartasurya MI. Berat Badan Lahir Rendah sebagai Faktor Resiko Dominan Terhadap Kejadian Gagal Tumbuh pada Anak usia 6-24 Bulan. Jurnal Kesehatan Masyarakat. :445Ae53. Nursalam. Konsep dan Penerapan Metode Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika. Latifah HI. Suyatno S. Asna AF. Faktor Gagal Tumbuh Anak Berdasarkan Composite Index of Anthropometric Failure di Provinsi Sulawesi Barat. Amerta Nutrition. :1Ae8. Khamis AG. Mwanri AW. Kreppel K. Kwesigabo G. The burden and undernutrition in Tanzania according to composite index of anthropometric BMC Nutrition. :1Ae Setiawati S. Yani ER. Rachmawati M. Hubungan status gizi dengan pertumbuhan dan perkembangan balita 1-3 tahun. Holistik Jurnal Kesehatan. :88Ae95. Birch L. Savage JS. Ventura A. Influences on the Development of SARAN Sebaiknya peneliti selanjutnya dapat lebih memperbanyak variabel untuk mengetahui faktor penyebab masalah weight faltering diluar variabel yang telah peneliti teliti pada populasi yang berbeda. DAFTAR PUSTAKA