Volume 14 No. 1 Juni Tahun 2025 Online: https://jurnal. id/index. php/ibnunafis Jurnal Kedokteran Ibnu Nafis ISSN 2252-6870 (Prin. | ISSN 2613-9359 (Onlin. Artikel Penelitian HUBUNGAN JENIS KELAMIN. MASA KERJA. DAN POSISI KERJA DENGAN GANGGUAN OTOT RANGKA AKIBAT KERJA PADA PETANI DI KABUPATEN DELI SERDANG THE RELATIONSHIP BETWEEN GENDER. LENGTH OF WORK. AND WORK POSITION WITH WORK-RELATED SKELETAL MUSCLE DISORDERS AMONG FARMERS IN DELI SERDANG DISTRICT Sumihar Pasaribua. Lina Febriani Tanjunga. Rostiodertina Girsanga. Fahrizal Alwia Institut Kesehatan Deli Husada Deli Tua. Jl. Besar Deli Tua No. Deli Tua Timur. Deli Serdang. Sumatera Utara, 20355. Indonesia Histori Artikel ABSTRAK Diterima: 14 Januari 2025 Gangguan otot rangka merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering dialami pekerja di sektor pertanian akibat postur kerja yang tidak ergonomis, masa kerja panjang, dan beban kerja fisik yang berat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara jenis kelamin, masa kerja, dan posisi kerja terhadap gangguan muskuloskeletal pada petani di Kabupaten Deli Serdang. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan 30 responden yang dipilih melalui metode consecutive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner, penilaian Rapid Entire Body Assessment (REBA) untuk posisi kerja, dan Nordic Body Map (NBM) untuk keluhan gangguan otot rangka. Analisis bivariat menunjukkan hubungan signifikan antara jenis kelamin . = 0,045. PR = 0,. , masa kerja . = 0,007. PR = 13,. , dan posisi kerja . = 0,001. PR = 22,. terhadap gangguan otot rangka. Posisi kerja yang tidak ergonomis merupakan faktor risiko utama. Temuan ini menegaskan pentingnya intervensi ergonomis, edukasi, dan pelatihan untuk mengurangi prevalensi gangguan muskuloskeletal pada petani. Revisi: 28 Januari 2025 Terbit: 4 Februari 2025 Kata Kunci ABSTRACT gangguan otot rangka, nyeri punggung, petani, ergonomi, posisi kerja Musculoskeletal disorders are common health problems experienced by agricultural workers due to non-ergonomic work postures, long working hours, and heavy physical workloads. This study aims to analyze the relationship between gender, length of work, and work posture with musculoskeletal disorders among farmers in Deli Serdang District. A crosectional design was used, involving 30 respondents selected through consecutive sampling. Data were collected using structured questionnaires, the Rapid Entire Body Assessment (REBA) for work posture, and the Nordic Body Map (NBM) for musculoskeletal complaints. Bivariate analysis revealed significant associations between gender . = 0. PR = 0. length of work . = 0. PR = 13. , and work posture . = 0. = 22. with musculoskeletal disorders. Non-ergonomic work postures emerged as the primary risk factor. These findings emphasize the need for ergonomic interventions, education, and training to reduce the prevalence of musculoskeletal disorders among farmers. Korespondensi Tel. ( . Email: sumiharpasaribu@gmail. DOI: http://doi. org/10. 30743/jkin. This is an open-access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution License . ttp://creativecommons. org/licenses/by/4. 0/), which permits unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium, provided the original work is properly cited. Sumihar M. Pasaribu Jurnal Kedokteran Ibnu Nafis Volume 14 No. 1 Juni Tahun 2025 dengan usia di atas 40 tahun. Data tersebut PENDAHULUAN Gangguan otot rangka adalah salah satu menunjukkan tingginya prevalensi gangguan masalah kesehatan kerja yang paling umum dan otot rangka di kalangan petani, yang dapat memengaruhi jutaan pekerja di seluruh dunia. diperburuk oleh kurangnya pemahaman tentang Kondisi ini mencakup gangguan pada otot, faktor risiko yang terkait. tendon, saraf, dan struktur pendukung lainnya. Faktor risiko yang berkontribusi terhadap yang dapat menyebabkan nyeri, kaku, dan gangguan otot rangka cukup banyak, di penurunan kemampuan fungsi tubuh. 1 Gangguan antaranya dapat berupa jenis kelamin, masa ini berkontribusi secara signifikan terhadap kerja, dan posisi kerja. 9 Studi sebelumnya penurunan produktivitas dan kualitas hidup menunjukkan bahwa masa kerja yang panjang pekerja, terutama di sektor yang memerlukan aktivitas fisik berat seperti pertanian. mikrotrauma pada otot dan tulang belakang. Low back pain (LBP) merupakan bentuk Selain itu, perempuan cenderung memiliki risiko gangguan otot rangka yang paling sering lebih tinggi dibandingkan laki-laki karena dilaporkan, dengan prevalensi tinggi di kalangan perbedaan biomekanik tubuh dan beban kerja pekerja manual, termasuk petani. 3 Menurut domestik yang lebih berat. 11 Posisi kerja yang Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). LBP tidak ergonomis juga telah terbukti secara adalah penyebab utama dengan beban penyakit yang meningkat seiring LBP gangguan otot rangka lainnya. bertambahnya usia. 4 Studi lain menunjukkan Meskipun bahwa prevalensi LBP lebih tinggi pada pekerja hubungan antara gangguan otot rangka dan dengan postur kerja yang tidak ergonomis, faktor-faktor terutama mereka yang bekerja dalam posisi membungkuk untuk waktu yang lama. 5 Di Kabupaten Deli Serdang, masih sangat terbatas. Indonesia, khususnya di daerah agraris seperti Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk Kabupaten Deli Serdang, sektor pertanian mengidentifikasi hubungan antara jenis kelamin, mendominasi pekerjaan masyarakat dengan masa kerja, dan posisi kerja dengan gangguan otot rangka pada petani di Kabupaten Deli Serdang. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan bukti ilmiah yang dapat digunakan lebih dari 45% populasi bekerja sebagai petani. Sistem penanaman manual, dan aktivitas panen dalam meningkatkan kesadaran petani tentang risiko gangguan otot rangka. Berdasarkan survei awal kerja, serta mendukung pengambilan kebijakan yang dilakukan di wilayah ini, sekitar 50% di sektor kesehatan dan keselamatan kerja. pasien yang mengunjungi Puskesmas Deli Tua METODE melaporkan keluhan nyeri punggung bawah, di mana mayoritas dari mereka adalah petani Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sumihar M. Pasaribu Jurnal Kedokteran Ibnu Nafis Volume 14 No. 1 Juni Tahun 2025 yang dilaksanakan di Kabupaten Deli Serdang Helsinki. Seluruh responden diberikan informasi pada periode Desember 2022 hingga Februari lengkap mengenai tujuan, manfaat, dan risiko Populasi penelitian adalah seluruh petani penelitian sebelum memberikan persetujuan yang berdomisili di wilayah tersebut. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode kerahasiaan data responden dijaga secara ketat, consecutive sampling, di mana responden dipilih dan penelitian ini tidak melibatkan prosedur berdasarkan kriteria inklusi hingga jumlah total invasif atau intervensi berisiko. sampel sebanyak 30 orang tercapai. Kriteria Privasi HA SIL inklusi meliputi petani yang aktif bekerja. Karakteristik Responden berusia 20-55 tahun, dan bersedia mengikuti penelitian dengan menandatangani informed Responden yang memiliki riwayat cedera tulang belakang atau penyakit otot rangka yang terdiagnosis sebelumnya dikeluarkan dari Penelitian ini melibatkan 30 responden yang terdiri dari 20 laki-laki . ,7%) dan 10 . ,3%). Mayoritas memiliki masa kerja rata-rata lebih dari 5 tahun . ,3%). Sebagian besar responden memiliki postur kerja yang termasuk dalam kategori risiko Data dikumpulkan melalui: kuesioner terstruktur meliputi informasi jenis kelamin, sedang hingga tinggi berdasarkan penilaian instrumen REBA . ,3%). masa kerja, dan pengalaman terkait keluhan gangguan otot rangka. observasi langsung Hubungan Jenis Kelamin dengan Gangguan dengan menggunakan instrumen Rapid Entire Otot Rangka Body Assessment (REBA) untuk menilai postur kerja dan mengklasifikasikan risiko ergonomis menjadi kategori risiko rendah serta risiko Tabel 1. Hubungan Jenis Kelamin dengan Gangguan Otot Rangka di Kabupaten Deli Serdang sedang-tinggi. instrumen Nordic Body Map (NBM) digunakan untuk mengidentifikasi ada Gangguan Otot Rangka Jenis Kelamin atau tidaknya keluhan gangguan otot rangka berdasarkan lokasi tubuh. Laki -laki Data dianalisis menggunakan uji bivariat . ji fischer exac. Total Mengalami Keluhan Total Value . %) . %) . %) . ,7%) . ,7%) . %) 0,045 0,167 . ,030,. enis kelamin, masa kerja, dan Perempuan Tidak Mengalami Keluhan . %) . %) . ,3%) Hasil analisis bivariat pada tabel 1 menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dan gangguan otot rangka . angguan otot rangk. Hasil dianalisis pada tingkat signifikansi 5% . <0,. Analisis dilakukan menggunakan perangkat lunak statistik SPSS versi terbaru. Penelitian ini dilaksanakan sesuai dengan prinsip-prinsip etika yang diatur dalam Deklarasi . = 0,. Responden laki-laki lebih banyak melaporkan keluhan gangguan otot rangka . %) dibandingkan perempuan . %). Rasio prevalensi (PR = 0,167. 95% CI: 0,03Ae0,. menunjukkan bahwa jenis kelamin laki-laki Sumihar M. Pasaribu Jurnal Kedokteran Ibnu Nafis Volume 14 No. 1 Juni Tahun 2025 memiliki risiko mengalami gangguan otot (PR rangka dibandingkan dengan perempuan. mengindikasikan bahwa posisi kerja yang tidak Hubungan Masa Kerja dengan Gangguan Tabel 2. Hubungan Masa Kerja dengan Gangguan Otot Rangka di Kabupaten Deli Serdang Tahun Tahun Total CI: 3,140Ae163,. ergonomis secara signifikan 22 kali lebih Tabel 3. Hubungan Posisi Kerja dengan Gangguan Otot Rangka di Kabupaten Deli Serdang Gangguan Otot Rangka Gangguan Otot Rangka Tidak Mengalami Keluhan . %) . ,2%) . ,3%) 22,667. meningkatkan risiko gangguan otot rangka. Otot Rangka Masa Kerja Mengalami Keluhan Total ,8%) ,7%) ,7%) ,3%) 0,007 13,500 ,95593,. Posisi Kerja Risiko Rendah Risiko SedangTinggi Total Tidak Mengalami Keluhan . ,7%) Mengalami Keluhan Total ,3%) ,7%) ,5%) ,5%) ,3%) ,3%) ,7%) 22,667 ,140163,. 0,001 Hasil analisis pada tabel 2 menunjukkan Secara bahwa masa kerja juga memiliki hubungan signifikan dengan kejadian gangguan otot rangka . = 0,. Responden dengan masa dibandingkan variabel lainnya. Masa kerja kerja lebih dari 5 tahun menunjukkan prevalensi menjadi faktor kedua yang signifikan, sementara gangguan otot rangka yang lebih tinggi . ,8%) jenis kelamin menunjukkan hubungan yang dibandingkan responden dengan masa kerja lebih lemah tetapi tetap signifikan secara kurang dari 5 tahun . %). Nilai rasio prevalensi Penelitian ini menegaskan pentingnya (PR 1,955Ae93,. penyesuaian ergonomi dalam lingkungan kerja mengindikasikan bahwa masa kerja lebih dari 5 untuk mencegah gangguan otot rangka pada tahun meningkatkan risiko gangguan otot rangka 13,500. CI: ssebanyak 13,5 kali dibandingkan dengan belum bekerja selama 5 tahun. DISKUSI