DIKSI: Jurnal Kajian Pendidikan dan Sosial p-ISSN: 2809-3585, e-ISSN: 2809-3593 Volume 7, nomor 2, 2026, hal. Doi: https://doi. org/10. 53299/diksi. Analisis Pengaruh Pengalaman Mengajar dan Pengembangan Kompetensi terhadap Pr ofesionalisme Guru MI/SD MuAoalifah Diana Nur Rosyidah*. Maulidya Rohadatul Aisy. Nabila Dizza Fairuzzaman. Munawir Universitas Islam Negeri Sunan Ampel. Surabaya. Indonesia *Coresponding Author: mualifahdiana24@gmail. Article history Dikirim: 08-04-2026 Direvisi: 17-04-2066 Diterima: 19-04-2026 Key words: Pengalaman mengajar. profesionalisme guru. Abstrak: Profesionalisme guru adalah salah satu faktor penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah dan Sekolah Dasar. Namun masih terdapat berbagai permasalahan terkait rendahnya profesionalisme guru yang dipengaruhi oleh pengalaman mengajar dan pengembangan kompetensi yang belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pengalaman mengajar dan pengembangan kompetensi terhadap profesionalisme guru MI/SD. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner berskala Likert menggunakan Google Form kepada responden yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Variabel dalam penelitian ini meliputi pengalaman mengajar (X. , pengembangan kompetensi (X. , dan profesionalisme guru (Y). Analisis data dilakukan menggunakan uji statistik berupa uji regresi linier berganda untuk mengetahui pengaruh masingmasing variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman mengajar berpengaruh positif dan signifikan terhadap profesionalisme guru, terutama dalam aspek pemahaman karakter siswa dan pengelolaan kelas. Guru dengan pengalaman mengajar lebih dari sepuluh tahun cenderung memiliki kematangan praktik yang lebih tinggi. Selain itu, pengembangan kompetensi juga berpengaruh signifikan terhadap profesionalisme guru, terutama melalui pembelajaran mandiri dan pemanfaatan teknologi. Dengan demikian, kedua variabel tersebut memiliki kontribusi penting dalam meningkatkan profesionalisme guru MI/SD. PENDAHULUAN Pendidikan merupakan fondasi utama pembangunan bangsa yang kualitasnya sangat bergantung pada peran penting guru sebagai agen perubahan di sekolah. Profesionalisme tinggi harus dimiliki guru karena mereka adalah kunci untuk menciptakan pembelajaran efektif dan mencetak generasi unggul. Bukan sekadar penguasaan materi, profesionalisme merupakan wujud tanggung jawab profesi yang menuntut keahlian khusus melalui pendidikan terintegrasi. Menurut Eliza et al. , pengetahuan tinggi, kemampuan transmisi ilmu, pemahaman perkembangan siswa, serta inovasi dalam mengajar harus dimiliki oleh guru profesional. Sejalan dengan hal tersebut. Nur and Mardiah . menegaskan bahwa profesionalisme adalah tuntutan hukum dan kebutuhan dasar dalam pendidikan agar institusi sekolah tidak menghasilkan lulusan yang membingungkan dunia kerja. Selain itu, @2026 Diksi . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Rosyidah dkk. Analisis Pengaruh Pengalaman Mengajar dan Pengembangan. pengembangan profesionalisme ini harus berorientasi pada peningkatan kualitas pengajaran yang adaptif terhadap perubahan zaman (Munawir. Aliya, and Bella Tuntutan literasi digital dan keterampilan berpikir kritis merupakan tantangan guru Madrasah Ibtidaiyah dan Sekolah Dasar pada abad ke-21. Guru harus mampu mengintegrasikan teknologi ke dalam proses pembelajaran guna mengikuti dinamika zaman yang terus berubah secara progresif. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa banyak pendidik masih mengalami kesulitan dalam memenuhi standar kompetensi yang relevan dengan kebutuhan global saat ini. Menurut Syawitri . kebijakan pendidikan, pelatihan kontinu, dan dukungan manajemen sekolah adalah faktor penentu dalam penguatan kompetensi guru di era modern ini. Meyvita et al. menambahkan bahwa keterbatasan dalam kreativitas dan literasi digital menjadi hambatan utama yang perlu diatasi melalui komunitas belajar yang Oleh karena itu, penguasaan teknologi pendidikan menjadi mutlak untuk menciptakan suasana kelas yang menyemangati dan inklusif bagi seluruh siswa (Putri. Swadaya, and Jati 2. Pengembangan profesionalisme guru memiliki implikasi langsung terhadap capaian prestasi siswa, meliputi aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik di Guru yang secara aktif meningkatkan kompetensinya cenderung mampu menyusun strategi yang lebih efektif dan memotivasi siswa supaya belajar lebih giat dan bersemangat. Investasi pada pengembangan sumber daya manusia merupakan cara paling efektif untuk menjamin mutu keluaran pendidikan nasional. Irwan and Nasution . menyatakan bahwa pelatihan berkelanjutan dan dukungan kolaboratif terbukti memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan hasil belajar siswa secara menyeluruh. Di sisi lain. Tambak et al. menekankan bahwa profesionalisme guru juga mencakup internalisasi nilai-nilai karakter yang kuat untuk mengembangkan akhlak dan budi pekerti siswa di lingkungan madrasah. Modal utama guru dalam menjalankan peran sebagai teladan bagi peserta didiknya adalah sinergi antara kompetensi pedagogis dan kepribadian (Nuraeni. Nahdi, and Cahyaningsih 2. Faktor yang sangat memengaruhi tingkat profesionalisme dan performa pendidik di lapangan salah satunya adalah akumulasi pengalaman mengajar yang Pengalaman yang cukup memberikan kematangan bagi guru dalam mengelola kelas serta menghadapi berbagai dinamika psikologis siswa yang beragam setiap harinya. Masa kerja bukan sekadar angka, melainkan cerminan dari kematangan teknis dan praktis yang melengkapi kualifikasi akademik yang telah ditempuh sebelumnya. Menurut Alamsyah et al. menjelaskan bahwa pengalaman mengajar memiliki pengaruh yang sangat besar dalam membentuk profesionalisme guru jika dibandingkan dengan sekadar penguasaan teori. Hal ini diperkuat oleh Rahmawati and Kholid . yang menyatakan bahwa pengalaman kerja memberikan dampak positif terhadap kinerja guru karena meningkatkan rasa percaya diri dalam mengajar. Kombinasi antara jam terbang yang tinggi dan kemauan untuk terus belajar akan menciptakan standar pengajaran yang berkualitas tinggi di sekolah dasar. Strategi pengembangan profesi melalui program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) menjadi instrumen vital dalam menjaga standar mutu pendidikan di tingkat MI/SD. Program ini dirancang untuk memastikan bahwa setiap @2026 Diksi . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Rosyidah dkk. Analisis Pengaruh Pengalaman Mengajar dan Pengembangan. guru tetap memiliki kompetensi yang mutakhir melalui kegiatan kolektif seperti workshop maupun penelitian tindakan kelas. Partisipasi aktif dalam forum profesi memungkinkan guru untuk saling berbagi praktik terbaik dalam memecahkan masalah pembelajaran. Firdaus . mengemukakan bahwa efektivitas strategi ini sangat bergantung pada dukungan institusional dan kebijakan pemerintah yang mendukung pengembangan karir secara sistematis. Basri and Nurochmah . menambahkan bahwa pelaksanaan PKB yang dilakukan melalui forum Kelompok Kerja Guru (KKG) terbukti efektif dalam menghasilkan karya inovatif seperti media pembelajaran digital. Selain itu, implementasi strategi yang tepat akan membantu guru dalam merancang desain didaktis yang sesuai dengan kebutuhan siswa (Wijiutami and W 2. Masih ditemukan kendala manajerial dan teknis yang menghambat profesionalisme guru secara optimal, meskipun berbagai upaya peningkatan kompetensi telah dilakukan. Masalah seperti beban administrasi yang tinggi, kurangnya sarana teknologi, hingga fenomena guru mengajar tidak sesuai bidang keahlian masih menjadi isu krusial. Kendala tersebut sering kali membuat guru kesulitan untuk berfokus pada pengembangan kreativitas dan inovasi di dalam ruang Sulastri. Fitria, and Martha . mengungkapkan bahwa kurangnya penguasaan teknologi informasi dan kreativitas dalam menyusun media pembelajaran menjadi hambatan yang paling sering ditemui di lapangan. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Pendekatan kuantitatif dipilih karena penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengalaman mengajar dan pengembangan kompetensi terhadap profesionalisme guru MI/SD. Penelitian kuantitatif merupakan penelitian yang sistematis, terencana, dan menggunakan data berupa angka untuk menguji hipotesis (Syahroni 2. Populasi dalam penelitian ini adalah guru Madrasah Ibtidaiyah dan Sekolah Dasar. Sampel penelitian ditentukan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu pemilihan responden berdasarkan kriteria tertentu, seperti guru yang aktif mengajar dan bersedia mengisi angket. Jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 15 orang, sehingga data yang diperoleh dapat mewakili populasi secara Instrumen pengumpulan data dalam penelitian menggunakan angket . yang disusun berdasarkan indikator dari masing-masing variabel, yaitu pengalaman mengajar (X. , pengembangan kompetensi (X. , dan profesionalisme guru (Y). Angket menggunakan skala Likert dengan lima alternatif jawaban, yaitu sangat tidak setuju, tidak setuju, netral, setuju, dan sangat setuju. Penggunaan kuesioner dengan skala Likert dalam penelitian kuantitatif merupakan teknik yang umum digunakan untuk memperoleh data yang terstruktur dan dapat dianalisis secara statistik (Amruddin et al. , 2. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan angket secara melalui Google Form kepada responden untuk memudahkan dan mempercepat proses pengumpulan data. @2026 Diksi . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Rosyidah dkk. Analisis Pengaruh Pengalaman Mengajar dan Pengembangan. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Berdasarkan informasi yang diperoleh, partisipan terdiri dari pengajar MI dan SD dengan rentang pengalaman mengajar yang beragam. Sebagaian besar partisipan memberikan ulasan yang baik terhadap ketiga aspek yang dianalisis. Tabel 1. Distribusi Jawaban Variabel Pengalaman Mengajar (X. Indikator Memahami karakter siswa Pengelolaan Kepercayaan diri mengajar Rata-rata skor Sangat Setuju Setuju Netral Tidak Setuju Berdasarkan tabel 1, variabel ini diukur melalui indikator durasi mengajar, pemahaman karakter siswa, pengelolaan kelas, dan kepercayaan diri. Data menunjukkan bahwa pengalaman mengajar memberi dampak yang besar terhadap aspek psikologi bagi pendidik. Kebanyakan pendidik merasakan bahwa pengalaman ini membantu mereka AuSangat setujuAy dalam mengenali watak pelajar yang merupakan asas pedagogi pada tahap MI/SD. Tabel 2. Distribusi Jawaban Variabel Pengembangan Kompetensi (X. Indikator Mengikuti Pelatihan/ Seminar Belajar Mandiri Pemanfaatan Teknologi Rata-Rata Skor Sangat Setuju Setuju Netral Tidak Setuju 33,3% 46,7 % Berdasarkan tabel 2, variabel ini mencakup partisipati dalam pelatihan, belajar mandiri, penguasaan kurikulum, dan pemanfaatan teknologi. Terdapat penemuan yang menarik di mana variabel pelatihan menunjukkan persentase AunetralAy yang cukup tinggi 40%. Ini menguatkan teori yang terdapat dalam pendahuluan bahwa masih ada hambatan teknis dan manajerial dalam distribusi pelatihan bagi guru. Tabel 3. Distribusi Jawaban Variabel Profesionalisme (Y) Indikator Penguasaan Inovasi Tanggung Rata-rata skor Sangat Setuju Setuju Netral Tidak Setuju 33,3 % 6,7% Berdasarkan tabel 3, profesionalisme diukur melalui penguasaan materi, evaluasi teratur, inovasi, dan tanggung jawab profesi. @2026 Diksi . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Rosyidah dkk. Analisis Pengaruh Pengalaman Mengajar dan Pengembangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman mengajar memiliki hubungan positif yang kuat dengan tingkat profesionalisme. Guru yang sudah bekerja lebih dari 10 tahun cenderung memiliki penilaian "Sangat setuju" yang konsisten pada indikator managemen kelas dan penilaian masalah dalam pembelajaran. Hal ini mendukung pendapat Alamsyah et al. bahwa kematangan praktik jauh lebih berpengaruh dalam membangun profesionalisme daripada sekedar pengetahuan Pengaruh pengembangan kompetensi terhadap profesionalisme pengembangan kompetensi, khususnya melalui pembelajaran mandiri dan pemanfaatan teknologi, sangat penting dalam menjaga relevansi guru di zaman digital ini. Namun, data menunjukkan bahwa efektivitas pelatihan formal . emonar/worksho. masih dipersepsikan secara bervariasi oleh responden. Teknologi masih menjadi tantangan yang terlihat dari adanya respon AuNetralAy terkait inovasi pembelajaran yang berbasis Profesionalisme guru MI/SD merupakan kombinasi antara pengalaman dan kemampuan untuk beradaptasi . Guru yang memiliki tanggung jawab yang tinggi (Dengan skor tertinggi 80% untuk penilaian sangat setuj. cenderung bersikap proaktif dalam menilai kinerjanya, yang merupakan salah satu ciri khas seorang guru profesional. Pembahasan Analisis Dampak Pengalaman Mengajar terhadap Penguasaan Kelas. Hasil data memperlihatkan bahwa semakin lama pengalaman mengajar, semakin mudah guru memahami karakter siswa dan mengelola kelas. Guru-guru senior, seperti yang berasal dari SDN Gilang 2 dan SDN Sambibulu, secara konsisten memberikan nilai tertinggi pada aspek kemampuan mengatasi permasalahan pembelajaran. Pengalaman mengajar menjadi sarana pembelajaran sosial bagi guru, di mana mereka dapat mengambil pelajaran dari keberhasilan maupun kegagalan yang telah dialami Adrian and Agustina . Menyatakan bahwa guru perlu memiliki kompetensi pedagogik, yaitu kemampuan dalam merancang, mengelola, melaksanakan, dan mengevaluasi proses pembelajaran. Kompetensi pedagogik ini juga menuntut guru untuk memahami berbagai aspek pada diri siswa yang berkaitan dengan kegiatan belajar. Menurut Buchari . perlu dipahami bahwa kualitas pendidikan yang diharapkan tidak hanya bergantung pada kemampuan guru dalam mengajar atau menyampaikan materi. Sikap dan perilaku guru dalam memengaruhi siswa di kelas juga sangat menentukan hasil belajar. Sejalan dengan pendapat Burton dalam Buchari . mengajar merupakan usaha untuk memberikan rangsangan, bimbingan, pengajaran, serta dorongan supaya terjadi proses belajar mengajar. Artinya adalah tugas guru tidak hanya menyampaikan pelajaran, tetapi juga memotivasi siswa agar mampu memahami materi dan mencapai tujuan Dengan demikian, guru yang baik harus mampu menjadi penggerak perilaku siswa untuk aktif belajar, serta memberikan arahan dan bantuan dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Dalam konteks ini, peran guru sangat penting dalam membantu siswa belajar secara optimal demi tercapainya tujuan pendidikan. Pengembangan Kompetensi sebagai Penyeimbang Inovasi dan Sinergi Profesionalisme Guru terdapat temuan menarik pada aspek pengembangan Guru dengan masa kerja singkat . -5 tahu. yang rutin mengikuti @2026 Diksi . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Rosyidah dkk. Analisis Pengaruh Pengalaman Mengajar dan Pengembangan. pelatihan mandiri dan webinar memperoleh skor tinggi dalam penggunaan teknologi serta sikap terbuka terhadap inovasi. Sebaliknya, guru yang memilih jawaban "Netral" terkait pelatihan cenderung kurang percaya diri saat menerapkan kurikulum Temuan ini menunjukkan bahwa pengembangan kompetensi sangat penting untuk mencegah stagnasi metode pengajaran, sehingga guru tetap relevan dengan kebutuhan siswa di era digital. Dari hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa profesionalisme guru MI/SD tidak ditentukan oleh satu faktor saja. Data menunjukkan, etika profesi dan rasa tanggung jawab yang tinggi . engan 60% responden sangat setuj. dapat tercapai apabila guru memiliki motivasi untuk belajar secara mandiri, selain mengandalkan pengalaman di lapangan. Kolaborasi antara keduanya menghasilkan pendidik yang tidak hanya menguasai materi, tetapi guru mampu melakukan evaluasi dan inovasi pembelajaran secara berkesinambungan sesuai perkembangan zaman. Menurut Suheri et al. , profesi memiliki sejumlah ciri khas, antara lain: berorientasi pada pelayanan masyarakat dan dijalani sebagai karier seumur hidup. menuntut penguasaan ilmu dan keterampilan khusus yang tidak dimiliki oleh masyarakat umum. menerapkan hasil penelitian serta mengembangkan teori ke dalam praktik. memerlukan pelatihan khusus dalam rentan waktu yang lama. diatur melalui persyaratan tertentu untuk menduduki jabatan tersebut. memiliki otonomi dalam menentukan ruang lingkup pekerjaan. bertanggung jawab langsung atas keputusan dan layanan yang diberikan. memiliki komitmen tinggi terhadap profesi dan klien, dengan fokus pada pelayanan. menggunakan administrasi untuk mendukung profesinya, dengan tingkat kebebasan tertentu dari . memiliki organisasi yang diatur oleh anggota profesi itu sendiri. adanya asosiasi profesi atau kelompok khusus untuk mengakui keberhasilan anggota. memiliki kode etik yang menangani persoalan meragukan terkait layanan. mendapat kepercayaan tinggi dari publik dan anggotanya. memiliki status sosial dan ekonomi yang tinggi. Kriteria guru profesional telah diatur dalam Pasal 1, 2, dan 3 Undang-undang Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru, yang menandakan telah adanya kesepakatan nasional. Penetapan kriteria ini merupakan hasil dari kajian mendalam oleh tim perancang undang-undang yang terdiri dari pakar, pejabat, dan praktisi pendidikan. Berbagai literatur kredibel telah dijadikan dasar, dan dalam proses uji publik, penerapan kriteria tersebut juga telah dibahas secara menyeluruh. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa profesionalisme guru di tingkat MI/SD merupakan hasil perpaduan antara pengalaman mengajar yang matang dengan upaya peningkatan kompetensi secara berkelanjutan. Pengalaman mengajar terbukti memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam membentuk kemampuan pedagogik guru, terutama dalam memahami karakteristik siswa serta mengelola kelas secara efektif. Guru yang telah memiliki masa kerja lebih dari sepuluh tahun cenderung menunjukkan kematangan praktik yang lebih baik, sehingga mampu menghadapi berbagai tantangan pembelajaran secara lebih efisien dibandingkan hanya mengandalkan pengetahuan teoritis semata. Di sisi lain, pengembangan kompetensi secara mandiri juga memegang peranan penting dalam menunjang profesionalisme guru. Meskipun pelatihan formal seperti @2026 Diksi . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Rosyidah dkk. Analisis Pengaruh Pengalaman Mengajar dan Pengembangan. seminar dan lokakarya masih belum merata, sebagaimana terlihat dari adanya respon netral yang cukup tinggi, guru tetap dapat meningkatkan kapasitas dirinya melalui pembelajaran mandiri dan pemanfaatan teknologi. Guru dengan pengalaman mengajar yang relatif baru, khususnya dalam rentang 1Ae5 tahun, cenderung lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi dan inovasi pembelajaran, sehingga mampu menjadi penyeimbang terhadap pendekatan konvensional yang masih digunakan oleh sebagian guru senior. Profesionalisme guru juga tercermin dari sikap tanggung jawab terhadap profesinya serta penguasaan materi ajar yang baik. Selain itu, kemampuan untuk secara proaktif melakukan evaluasi diri menjadi salah satu indikator yang penting dalam menunjukkan kualitas profesional seorang guru. Sikap ini bisa membantu guru untuk terus menyesuaikan diri dengan perubahan kurikulum serta tuntutan pembelajaran di era digital yang terus berkembang. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa keberhasilan pendidikan di tingkat MI/SD tidak hanya ditentukan oleh lamanya pengalaman mengajar, tetapi juga oleh kemauan untuk terus Sinergi antara pengalaman yang dimiliki oleh guru senior dan semangat inovatif dari guru yang lebih muda menjadi kunci dalam menciptakan proses pembelajaran yang efektif, adaptif, dan sesuai dengan standar pendidikan nasional. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam proses penelitian ini, kepada para peneliti dan penulis terdahulu yang karya ilmiahnya telah menjadi referensi dalam penyusunan artikel ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada responden guru MI/SD yang telah berpartisipasi dalam pengisian angket serta kepada pihak yang telah memberikan dukungan selama penelitian berlangsung. DAFTAR PUSTAKA