hlm: 105-112 Bijak Menggunakan Antibiotik: Edukasi Penggunaan Tepat untuk Mencegah Resiko Resistensi di Masyarakat Devi Ristian Octavia*. Risma Ayu Fepbianti. Ajeng Ayu Trisnawati. Ahmad Rizal. Era Lutfiana Email: deviristian@umla. Prodi S1 Farmasi. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Muhammadiyah Lamongan. Indonesia Jalan Raya Plalangan Plosowahyu KM 02 Lamongan No. HP: 081329995223 DOI: 37402/abdimaship. History artikel: Diterima 2025-07-08 Direvisi 2025-08-12 Diterbitkan 2025-08-21 Abstrak Kurangnya penggunaan antibiotik yang benar menjadi salah satu Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat terkait penggunaan antibiotik secara bijak demi menurunkan risiko terjadinya resistensi. Metode yang digunakan mencakup penyuluhan kesehatan dan diskusi interaktif dengan pendekatan Cara Belajar Insan Aktif (CBIA). Materi yang disampaikan dalam penyuluhan meliputi penjelasan tentang antibiotik dan fungsinya, konsep resistensi, prinsip penggunaan antibiotik secara rasional, serta pendampingan selama kegiatan. Program ini melibatkan 20 kader PKK sebagai peserta. Evaluasi dilakukan melalui pengisian kuesioner pre-test dan posttest. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman yang signifikan di kalangan peserta, bahkan melebihi target capaian sebesar 90%. Kombinasi antara penyuluhan kesehatan dan diskusi dua arah terbukti efektif dalam menumbuhkan kesadaran serta memperluas pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya penggunaan antibiotik yang sesuai aturan, guna mencegah timbulnya resistensi antimikroba. Kata kunci: antibiotik. : 105-112 Hilda Prajayanti* Swasti Artanti Abstract Limited public understanding of the proper use of antibiotics is one of the main factors contributing to the rise of microbial resistance. This community service activity aims to enhance public knowledge regarding the wise use of antibiotics to reduce the risk of The approach used includes health education and interactive discussions through the Active Learning Method (CBIA). The educational content covers the definition and function of antibiotics, the concept of resistance, rational use of antibiotics to prevent resistance, and participant assistance throughout the program. The activity involved 20 PKK (Family Welfare Movemen. cadres as participants. Evaluation was conducted using pre-test and post-test The results showed a significant improvement in participants' understanding, even exceeding the targeted achievement of 90%. The combination of health education and two-way discussions proved to be an effective strategy in raising public awareness and broadening understanding of the importance of appropriate and rational antibiotic use to prevent the emergence of antimicrobial resistance. Keywords: antibiotics. Pendahuluan Tingginya prevalensi penyakit negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, menyebabkan antibiotik menjadi salah satu pilihan terapi yang paling umum digunakan dalam layanan . Antibiotik atau antibiotika merupakan kelompok senyawa, baik sintetis maupun alami, yang dapat menghambat atau menghentikan reaksi biokimia terutama yang berkaitan dengan infeksi bakteri. Peran terapeutik antibiotik terletak mikroorganisme penyebab infeksi dengan tingkat keracunan yang tergolong rendah bagi manusia. Namun, mudah diakses tanpa resep dokter penggunaan yang dilakukan tanpa indikasi medis yang jelas oleh berkontribusi pada permasalahan resistensi antibiotik. Rendahnya pemahaman masyarakat terhadap pemanfaatan antibiotik secara bijak dan sesuai pedoman menjadi salah satu faktor utama pemicu resistensi meningkatkan kemunculan bakteri patogen yang kebal terhadap berbagai jenis antibiotik. Oleh karena itu, diperlukan evaluasi masyarakat terkait pemanfaatan antibiotik yang tepat guna menekan . Resistensi mikroorganisme patogen mampu bertahan terhadap terapi antibiotik dan menurunkan efektivitasnya . Resistensi ini dapat terjadi akibat mutasi atau perubahan pada bakteri, yang menyebabkan antibiotik tidak pertumbuhan bakteri tersebut. Penanganan infeksi akibat bakteri resisten menjadi lebih kompleks karena mikroorganisme tersebut dapat memproduksi enzim atau protein spesifik yang menonaktifkan . Penggunaan antibiotik dalam jangka waktu panjang atau secara berlebihan juga memicu kekebalan antibiotik. Resistensi terhadap antibiotik tidak lagi terbatas pada skala berkembang menjadi isu kesehatan Menurut laporan Global Strategy for Containment of Antimicrobial Resistance yang dirilis oleh WHO, resistensi antibiotik telah dikenali sebagai salah satu ancaman terbesar bagi kesehatan masyarakat di seluruh WHO mencatat sekitar 442 kasus penyakit yang antibiotik, dengan jumlah kematian 000 kasus. Salah satu penyebab utama dari kondisi ini adalah penggunaan antibiotik secara berlebihan serta tidak sesuai dengan pedoman terapi atau indikasi medis yang benar. Kurangnya kepatuhan pasien penggunaan antibiotik menjadi salah satu penyebab utama terjadinya . Kondisi menegaskan betapa pentingnya menyampaikan informasi serta penggunaan antibiotik yang tepat dan rasional guna mencegah timbulnya resistensi. Edukasi melalui penyuluhan telah terbukti menjadi metode efektif dalam Penyuluhan dilakukan secara langsung, seperti Jurnal ABDIMAS-HIP Pengabdian Kepada Masyarakat : 105-112 pertemuan tatap muka, dinilai lebih efektif dibandingkan penyebaran informasi melalui media massa atau . Pemilihan sasaran penyuluhan di Desa Made didasarkan pada survei yang menunjukkan rendahnya kesadaran warga terhadap bahaya Kurangnya kesadaran ini dapat bakteri, yang merugikan kesehatan Dengan demikian, diperlukan inisiatif edukatif untuk masyarakat tentang pentingnya penggunaan antibiotik secara bijak, sehingga risiko dan dampak negatif dari resistensi antibiotik dapat diminimalkan seefektif mungkin. Artikel pengabdian masyarakat dengan metode edukasi bijak menggunakan terhindar dari bahaya resistensi Metode Metode pelaksanaan dalam pemberdayaan masyarakat di Desa Made. Kabupaten Lamongan, dilakukan melalui tahapan yang terstruktur. Kegiatan ini dimulai dengan tahap persiapan, yaitu pembentukan tim pelaksana pengabdian masyarakat di Desa Made. Kecamatan Lamongan. Kabupaten Lamongan. Tim ini kemudian melakukan koordinasi melalui rapat untuk menyusun proposal kegiatan serta melakukan penjajakan ke lokasi sasaran. Selanjutnya, peserta, yaitu ibu-ibu PKK RT 01 RW 02 Desa Made. Kecamatan Lamongan. Kabupaten Lamongan. Tahap pelaksanaan dimulai dengan pretest untuk mengukur tingkat resistensi antibiotik. Setelah itu, ceramah yang disampaikan oleh Universitas Muhammadiyah Lamongan. Materi antibiotik, resistensi antibiotik, serta panduan penggunaan antibiotik secara rasional untuk mencegah pendampingan, peserta diberikan kesempatan untuk menjelaskan antibiotik dengan benar di bawah bimbingan akademisi dari Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan. Apoteker dari Apotek Diva Lamongan, dan Mahasiswa Program Studi S1 Farmasi. Tahap akhir kegiatan meliputi evaluasi bersama oleh tim pengabdian serta pelaksanaan posttest kepada peserta untuk mengukur peningkatan pengetahuan mereka setelah diberikan edukasi. Kegiatan ini dilaksanakan dengan pendekatan deskriptif dengan model potong . ross-sectiona. , keberhasilan program di evaluasi dengan kuesioner. Jumlah partisipan yang hadir adalah 20 orang, yang ditentukan berdasarkan kebutuhan Hasil dan Pembahasan Pengabdian dilaksanakan guna meningkatkan penggunaan antibiotik secara tepat dan sesuai anjuran diperlukan untuk mencegah terjadinya resistensi. Partisipan berjumlah 20 orang yang beranggotakan dari kelompok PKK RT 01 RW 02 Desa Made Kec. Lamongan. Kab. Lamongan. Kegiatan penyuluhan ini ditujukan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat, khususnya warga Desa Made, mengenai konsep dasar antibiotik dan cara penggunaannya Jurnal ABDIMAS-HIP Pengabdian Kepada Masyarakat : 105-112 yang tepat guna meminimalkan Pelaksanaan kegiatan ini juga menjadi sarana untuk memperkuat peran akademisi dalam memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan Adapun karakteristik responden dapat dilihat dari tabel 1 berikut. Tabel 1. Karakteristik Responden Variabel Frekuensi Persen Usia Dewasa . -45 t. Lansia . -65 t. Pekerjaan IRT Swasta Petani Dalam kegiatan ini, peserta pengisian pre-test sebelum materi disampaikan dan mengisi evaluasi akhir berupa post-test dengan pertanyaan yang sama setelah pemaparan materi, guna mengukur perubahan tingkat pengetahuan. Instrumen yang digunakan berupa pernyataan-pernyataan kuesioner yang harus dinilai benar atau salah oleh peserta . ihat Tabel Penilaian tingkat pengetahuan responden dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang terdiri dari 10 pernyataan seputar penggunaan antibiotik, di mana setiap item dijawab dengan pilihan benar atau Sebagaimana dijelaskan oleh Oh et al. dalam studi yang disitir oleh Oktadiana . , pemahaman dan sikap masyarakat dalam menggunakan antibiotik memegang peranan penting dalam menentukan efektivitas pengobatan. Pentingnya pengetahuan masyarakat mengenai penggunaan antibiotik yang tepat, serta perlunya upaya intervensi . Edukasi yang memadai menumbuhkan kesadaran terhadap potensi bahaya resistensi jika pemahaman yang benar. Tabel 2. Hasil Evaluasi Keberhasilan kegiatan Pengabdian Masyarakat melalui pre-posttest Quesioner Setiap kali sakit memilih untuk tidak berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu jika ingin menggunakan antibiotik Bisa memberikan antibiotik yang saya gunakan kepada anggota keluarga yang sakit. Suka menyimpan antibiotik di kotak obat untuk persiapan. Lebih suka minum antibiotik ketika batuk dari pada obat lain. Lebih memilih menggunakan antibiotik yang diperoleh melalui resep dokter daripada yang bersumber dari saran atau pemberian Lebih Suka mendapatkan informasi tentang antibiotik dari dokter dari pada dari orang lain. Cenderung memilih platform digital yang terpercaya sebagai referensi informasi. sebagai sumber informasi antibiotik daripada brosur/selebaran. Lebih suka menghabiskan antibiotik yang digunakan untuk menghindari resiko resistensi. Jurnal ABDIMAS-HIP Pengabdian Kepada Masyarakat : 105-112 Pre (%) Post (%) Quesioner Lebih suka membeli antibiotik di apotek meskipun harganya Lebih suka membeli antibiotik di toko obat karena lebih murah Hasil analisis pretest dan posttest pemaparan materi dilakukan. Pada pre-test banyak peserta yang optimal, dengan skor paling rendah pada kategori AuBenarAy yaitu 15% pada pernyataan nomer 3 yaitu tentang cara penyimpanan obat Sedangkan pemaparan materi atau dapat dilihat pada hasil post-test menunjukkan peningkatan signifikan, hampir semua peserta mencapai skor keberhasilan 90% - 100% . Hal ini menunjukkan bahwa peserta telah antibiotik yang tepat sebagai langkah pencegahan terhadap risiko Sejalan dengan tujuan kegiatan, yakni untuk mengevaluasi tingkat kesadaran masyarakat Desa Made terhadap penggunaan antibiotik, pre-test post-test menunjukkan persentase yang merefleksikan tingkat pemahaman responden terhadap materi yang Upaya menunjukkan bahwa intervensi tersebut sangat efektif dalam Artinya pengaruh pemberian penyuluhan terhadap pengetahuan responden. Post (%) Kesimpulan Penyuluhan antibiotik yang baik dan benar di Desa Made berhasil meningkatkan pengetahuan masyarakat secara Metode yang diterapkan efektif dalam mengedukasi peserta, penggunaan obat. Daftar Pustaka