JURNAL AGROSAINS VOL 18 N0 1 2025 ISSN: 1693-5225 Pengaruh Jenis Media terhadap Pertumbuhan Jamur Trichoderma sp. Teodora Hugo Ariky . Agnes Tutik Purwani Irianti . Agus Suyant. 1,2,3 Program Studi Agroteknologi. Fakultas Pertanian. Sains dan Teknologi. Universitas Panca Bhakti. Jalan KomYos Soedarso. Kec. Pontianak Barat. Kota Pontianak. Kalimantan Barat Email: arikyhugo@gmail. Abstract This study aims to determine the effect of different media types on the growth of the fungus Trichoderma sp. The research was conducted at the Laboratory of the Faculty of Agriculture. Science, and Technology. Jl. Komodor Yos Sudarso No. Sungai Beliung. West Pontianak District. Pontianak City. West Kalimantan. The study lasted for two months, from February 2024 to April 2024. This research employed a Completely Randomized Design (CRD) with a single factor, which was the type of media . ode T), consisting of 8 treatments. The treatments were as follows: t1: Rice, t2: Corn, t3: Sugarcane Bagasse, t4: Bran, t5: Rice Bran . , t6: Corn Bran . , t7: Rice Sugarcane Bagasse . , and t8: Corn Sugarcane Bagasse . Each treatment was repeated three times, resulting in a total of 24 experimental units. The observed variables in this study were the conidium density and viability of the Trichoderma sp. To determine the effect of the treatments on the observed variables, variance analysis (ANOVA) was performed using an F-test at a significance level of 5% and 1%. If there was a significant or highly significant effect from the treatments, it was followed by an Honest Significant Difference (HSD) test at a 5% significance level. The results of the study showed that the type of media had a highly significant effect on the conidium density and viability of the Trichoderma sp. The highest conidium density was found in treatment t8 (Corn Sugarcane Bagass. , which was 3. 27x10^9 conidia/ml, significantly different from treatments t1 (Ric. , t7 (Rice Sugarcane Bagass. , and t3 (Sugarcane Bagass. , but not significantly different from treatments t2 (Cor. , t4 (Bra. , t5 (Rice Bra. , and t6 (Corn Bra. The highest spore viability of 96. 8% was found in treatment t2 (Cor. , significantly different from treatments t1 (Ric. , t7 (Rice Sugarcane Bagass. , t6 (Corn Bra. , and t5 (Rice Bra. , and not significantly different from treatments t4 (Bra. , t8 (Corn Sugarcane Bagass. , and t3 (Sugarcane Bagass. Keywords: Bran media. Conidium density. Conidium viability. Trichoderma sp. PENDAHULUAN Penyakit tanaman merupakan faktor pembatas terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Penyakit tanaman yang disebabkan oleh jamur patogen sampai saat ini masih merupakan masalah utama di bidang pertanian. Produksi pertanian secara kualitas maupun kuantitas mengalami penurunan yang sangat tinggi, sehingga perlu dilakukan penanggulangan dan pengendalian yang tepat dan cermat (Sinaga, 2. Petani seringkali mengendalikan penyakit tanaman dengan menggunakan bahan kimia buatan pabrik dengan harga yang relatif mahal (Pracaya, 2. Pestisida kimia tidak saja membawa dampak yang positif terhadap peningkatan produk pertanian tetapi juga membawa dampak negatif terhadap lingkungan di sekitarnya. Penggunaan pestisida kimia secara masif memberikan dampak negatif baik terhadap manusia maupun Risiko kesehatan yang disebabkan oleh pestisida non organik ini secara langsung lebih berbahaya daripada penggunaan zat kimia lainnya. Keracunan akibat paparan pestisida non organik menjadi ancaman bagi pekerja pertanian pada berbagai wilayah di dunia (Hook et al. , 2018 dalam Prajawahyudo et al. , 2. Oleh sebab itu, saat ini metode pengendalian telah diarahkan pada pengendalian hayati/biologis. Pengendalian hayati (Biologi. merupakan salah satu upaya pengendalian alternatif yang dapat dilakukan tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan, cara ini melibatkan penggunaan agens hayati seperti virus, jamur dan bakteri. Penggunaan agens hayati bertujuan untuk mengurangi timbulnya penyakit dengan cara mengurangi jumlah invasi patogen, mencegah kemampuan patogen menginfeksi inang, dan mengurangi virulensi patogen (Cikita, 2. Salah satu syarat agar suatu organisme dapat dianggap sebagai agens hayati adalah harus bersifat antagonis, yaitu mampu menghambat perkembangan atau pertumbuhan organisme lain (Cook et al. , 1. Jamur Trichoderma sp. merupakan salah satu jenis jamur antagonis yang dapat berpotensi sebagai agens hayati karena kemampuannya dalam menekankan pertumbuhan patogen melalui proses JURNAL AGROSAINS VOL 18 N0 1 2025 ISSN: 1693-5225 mekanisme antobiosis, parasitisme, dan kompetisi (Djatmiko et al. Trichoderma sp. merupakan agens pengendalian hayati yang menjanjikan bagi petani untuk mendapatkan teknologi pengendalian yang murah untuk jangka panjang tidak merusak lingkungan hidup dan tidak menyebabkan residu pada hasil tanaman. Pengendalian hayati dengan menggunakan agens hayati seperti Trichoderma sp. yang terseleksi ini sangatlah diharapkan dapat mengurangi ketergantungan dan mengatasi dampak negatif dari pemakaian pestisida sintetik yang selama ini masih dipakai untuk pengendalian penyakit tanaman di Indonesia (Rosmini, 2. Trichoderma sp. adalah mikroorganisme antagonis yang banyak digunakan sebagai agen biokontrol penyakit tanaman. Penggunaan agens hayati untuk pengendalian penyakit dirasakan sangat lambat perkembangannya karena terbatasnya agen hayati yang diproduksi secara massal sehingga diperlukan teknologi untuk produksi massal Trichoderma sp. pada beberapa macam media (Dewi, 2006 dalam Wijaya et , 2. Terdapat permasalahan yang timbul bagaimana mendapatkan jamur Trichoderma sp. dalam jumlah yang besar serta murah. Perbanyakan massal dapat dilakukan dengan menggunakan media buatan yang berisi nutrisi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan Trichoderma sp. Hasil penelitian Urailal et al. , menunjukan bahwa dedak, beras, serbuk gergaji dan sekam padi dapat digunakan sebagai media perbanyakan Trichoderma sp. Bahan-bahan tersebut mengandung karbohidrat, serat, nitrogen, posfat, kalium, yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan Trichoderma sp. (Novianti, 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Fakultas Pertanian. Sains dan Teknologi Universitas Panca Bhakti Pontianak. Jl. Komyos Sudarso. Kec. Pontianak Barat. Kota Pontianak. Kalimantan Barat. Waktu penelitian berlangsung selama 2 bulan mulai bulan febuari 2024 sampai April 2024. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini diantaranya adalah isolat jamur Trichoderma sp. Jagung giling. Ampas tebu. Beras. Dedak. Kantong plastik. Alkohol. Masker. Tisu. Alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi Dandang pengukus. Kompor gas. Ember. Piring. Suntikan. Petridis. Autoclave. Haemocytometer. Object Glass. Cover Glass. Pisau Scepel. Chokbor. Gelas ukur. Laminar. Bunsen. Korek api. Jarum Ose. Miskroskop. Optilab. HP. Alat tulis. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) non faktorial yang terdiri dari 8 perlakuan, yaitu t1 Beras, t2 Jagung, t3 Ampas tebu, t4 Dedak, t5 Beras Dedak, t6 Jagung Dedak t7 Beras Ampas Tebu, t8 Jagung Ampas Tebu Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali ulangan dengan total 24 unit Untuk mengetahui pengaruh dari seluruh perlakuan digunakan uji F pada taraf 5%. Apabila terdapat pengaruh nyata terhadap parameter yang diamati, maka setiap perlakuan dibandingkan dengan menggunakan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5 %. Penelitian ini dimulai dengan pembuatan media Potato Dextrose Agar (PDA), yang dilakukan melalui beberapa tahapan. Pertama, kentang dikupas, dipotong dadu, dan direbus dalam 1 liter air. Air rebusan kentang kemudian diambil dengan cara disaring selanjutnya dimasukan ke dalam gelas ukur 1. 000 ml, larutan ditambahkan agar 150 gram dan gula 150 gram sedikit demi sedikit sambil diaduk menggunakan pengaduk agar tidak menggumpal. Media yang sudah diaduk merata kemudian dimasukkan ke dalam Erlenmeyer, kemudian ditutup dengan kapas dan aluminium foil dan dibungkus dengan plastik wrap. Media disterilisasi menggunakan autoclave pada suhu 121oC dengan tekanan 1 atmosfer standar . Setelah media siap dilakukan perbanyakan jamur trichoderma sp. pada media agar miring yaitu dimulai dengan pembuatan agar miring Media disterilisasi menggunakan autoclave pada suhu 121 AC dan tekanan 1 atmosfer standar . Media yang sudah disterilkan disimpan di ruang inokulasi kemudian diinokulasi dengan jamur Trichoderma menggunakan jarum ose. Media yang telah diinokulasi dibiarkan tumbuh selama 1 . Persiapan media pertumbuhan jamur Trichoderma sp. yaitu media yang digunakan untuk pertumbuhan Trichoderma sp. dalam penelitian ini adalah Beras. Jagung. Ampas Tebu. Dedak. Beras Dedak. Jagung Dedak. Ampas Tebu Dedak. Media tersebut dicuci bersih dan direndam selama 30 menit, kemudian ditiriskan . ikering anginka. Pengukusan media pertama menggunakan dandang selama 1 jam di atas JURNAL AGROSAINS VOL 18 N0 1 2025 ISSN: 1693-5225 Tujuan pengukusan beras yaitu untuk mensterilkan media dari jamur yang tidak diinginkan seperti Aspergillus. Media yang sudah dikukus didingankan kemudian dimasukkan ke dalam kantong plastik ukuran 20x30 cm ditimbang sebanyak 150 gram/kantong plastik kemudian disterilisasi ulang dengan cara mengukus media kembali selama 1 jam. Pembuatan suspensi jamur Trichoderma sp. dilakukan di laminar flow agar terhindar dari bakteri dan jamur yang tidak diinginkan. Tahap pembuatan suspensi jamur Trichoderma sp. yaitu: jamur Trichoderma sp. dilarutkan dalam testtube dengan aquades. Setelah larut tuang ke dalam sprayer kemudian di kocok-kocok sampai merata. Trichoderma sp. yang digunakan yaitu sebanyak 3 testtube/600 ml aquades. Inokulasi suspensi jamur trichoderma sp. ke media dilakukan setelah media sudah dingin, suspensi diinokulasikan merata dimedia agar pada saat jamur tumbuh merata, dengan volume 9 ml/150 gram media. Setelah Suspensi Trichoderma sp. diinokulasikan ke media yang sudah dingin, media diinkubasi pada suhu dan kelembaban yang optimal untuk pertumbuhan jamur Trichoderma sp. ini biasanya berkisar antara 25-30AC. Variabel yang diamati dalam penelian ini adalah kerapatan konidium dan viabilitas konidium. Kerapatan konidium diukur dengan haemacytometer dan viabilitas konidium diuji dengan menghitung persentase konidium yang berkecambah. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) dengan taraf 5%. HASIL DAN PEMBAHASAN Kerapatan Konidium Data kerapatan konidium diperoleh dari hasil pengamatan menggunakan Haemocytometer yang diamati di bawah mikroskop. Dari Tabel 1 diketahui bahwa perlakuan jenis media berpengaruh sangat nyata terhadap kerapatan konidium jamur Trichoderma sp. Hal ini diduga berhubungan dengan nutrisi yang terkandung dalam media yang digunakan. Jamur Trichoderma memerlukan berbagai nutrisi untuk pertumbuhannya antara lain: karbohidrat, serat, nitrogen, fosfat, kalium, yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan Trichoderma sp. (Novianti, 2. Untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan jenis media terhadap kerapatan konidium jamur Trichoderma sp. dilakukan Uji BNJ dengan taraf nyata 5% dan hasilnya dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini: Tabel 1. Hasil Uji BNJ Pengaruh Jenis Media Terhadap Kerapatan Konidium Jamur Trichoderma sp. onidia/m. Rerata Kerapatan Perlakuan Notasi Konidium (Konidium/m. t1 (Bera. 3,71y108 t2 (Jagun. 1, 30y109 t3 (Ampas Teb. 5, 42y108 t4 (Deda. 1, 81y10 t5 (Beras Deda. 1, 90y109 t6 (Jagung Deda. 1, 07y10 t7 (Beras Ampas Teb. 4, 91y108 t8 (Jagung Ampas Teb. 3, 27y10 BNJ 2, 31y10 Sumber: Angka yang diikuti huruf yang sama pada tabel berbeda tidak nyata, sedangkan angka yang diikuti huruf yang berbeda pada tabel berbeda yata berdasarkan uji BNJ 5% Tabel 1 menunjukkan bahwa kerapatan konidium tertinggi terdapat pada perlakuan t8 agung ampas teb. dan berbeda nyata dengan perlakuan t1 (Bera. , t3 . mpas teb. , t7 JURNAL AGROSAINS VOL 18 N0 1 2025 ISSN: 1693-5225 eras ampas teb. serta berbeda tidak nyata dengan perlakuan t2 . , t4 . , t5 . eras deda. dan t6 . agung deda. Kerapatan konidium pada berbagai jenis media dalam penelitian ini berkisar antara 3,71x108 sampai 3,27x109 konidium/ml. Badan Standarisasi Nasional . menyatakakan bahwa persyaratan mutu jamur Trichoderma sp. pengujian kerapatan konidium harus memiliki nilai 106 konidium/ml. Dengan demikian berdasarkan nilai kerapatan konidiumnya, jamur Trichoderma sp. yang diperbanyak dengan berbagai jenis media dalam penelitian ini memenuhi persyaratan mutu dan bisa digunakan sebagai agens pengendalian hayati. Viabilitas Konidium Viabilitas Konidium diamati 1 . bulan setelah inokulasi jamur Trichoderma sp. media perbanyakan. Viabilitas konidium dihitung berdasarkan jumlah konidium yang berkecambah dibagi dengan jumlah konidium keseluruhannya yang diamati, hasilnya dikalikan Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa perlakuan jenis media berpengaruh sangat nyata terhadap viabilitas Konidium jamur Trichoderma sp. Untuk mengetahui perbedaan antar rerata viabilitas konidium yang dihasilkan pada berbagai perlakuan jenis media tumbuh dilakukan Uji BNJ dengan tingkat kepercayaan 5% dan hasilnya dapat dilihat pada Tabel 2 berikut ini: Tabel 2. Hasil Uji BNJ Pengaruh Jenis Media Terhadap Viabilitas Konidium Jamur Trichoderma sp. (%) Perlakuan Rerata Viabilitas Konidium (%) t1 (Bera. 77,90 t2 (Jagun. t3 (Ampas Teb. 89,12 t4 (Deda. 85,14 t5 (Beras Deda. 81,04 t6 (Jagung Deda. 81,03 t7 (Beras Ampas Teb. 79,07 t8 (Jagung Ampas Teb. 85,77 BNJ 14,73 Sumber: Hasil analisis BNJ 5% data penelitian Notasi Tabel 2 diatas menunjukkana bahwa viabilitas konidium tertinggi terdapat pada perlakuan t2 . berbeda nyata dengan perlakuan t1 . , t5 . eras deda. , t6 . agung deda. dan t7 . eras ampas teb. serta berbeda tidak nyata dengan perlakuan t3 . mpas teb. , t4 . dan t8 . agung ampas teb. Tingkat pertumbuhan kecambah Trichoderma sp. pada berbagai media dipengaruhi oleh kerapatan konidium dan nutrisi makanan yang terkandung didalamnya (Fitrah et al, 2. Badan Standarisasi Nasional . menyatakan bahwa persyaratan mutu jamur Trichoderma sp. dari parameter viabilitas konidium harus memiliki nilai satuan 60%. Berdasarkan nilai viabilitas konidiumnya jamur yang diperbanyak pada berbagai jenis media dalam penelitian ini memenuhi persyaratan mutu dan dapat digunakan sebagai agens pengendalian hayati. JURNAL AGROSAINS VOL 18 N0 1 2025 ISSN: 1693-5225 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian AuPengaruh Jenis Media Terhadap Pertumbuhan Jamur Trichoderma sp. ditarik kesimpulan sebagai berikut: Jenis media tumbuh berpengaruh sangat nyata terhadap kerapatan konidium dan viabilitas konidium jamur Trichoderma sp. Kerapatan konidium tertinggi terdapat pada perlakuan t8 (Jagung Ampas Teb. yaitu 3,27x109 konidium/ml. Viabilitas konidium tertinggi terdapat pada perlakuan t2 (Jagun. yaitu 96,8%. REFERENSI