El-Tsaqafah: Jurnal Jurusan PBA. Vol. No. Oktober 2025 Volume 24. Nomor P-ISSN 2087-3638. E-ISSN 2655-7746 https://ftkjournal-uinmataram. id/index. php/eltsaqafah STRATEGI PENANAMAN NILAI MODERASI BERAGAMA: STUDI DI SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 1 MATARAM Zuhruddin Hadi Saputra UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Indonesia Corresponding author: 23204011057@student. uin-suka. Muh. Wasith Achadi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Indonesia wasithachadi@uin-suka. Article History Submitted: 14 Okt 2025. Revised: 8 Nov 2025. Accepted: 11 Nov 2025 DOI 10. 20414/tsaqafah. Abstract This research is based on the importance of the role of teachers of Islamic Religious Education in shaping a moderate attitude amidst the diversity of students, so that a tolerant, harmonious learning environment is created in accordance with the values of rahmatan lil Aoalamin. The study aims to identify the steps of teachersAo strategies in Islamic Religious Education in instilling the values of religious moderation among students at SMA Negeri 1 Mataram. The research uses a qualitative approach with a case-study design. The subjects of the study are teachers of Islamic Religious Education and students of SMA Negeri 1 Mataram. Data were collected through interviews, observation, and documentation, then analyzed using the Miles and Huberman model. Theoretically, this research is expected to enrich the body of scientific knowledge and serve as a reference for future researchers in developing inclusive and moderate education. Keywords: Islamic religious, religious moderation, teaching strategies Abstrak Penelitian ini didasari oleh pentingnya peran guru pendidikan agama Islam dalam membentuk sikap moderat di tengah keberagaman siswa, sehingga tercipta lingkungan belajar yang toleran, harmonis, dan sesuai dengan nilai-nilai rahmatan lil Aoalamin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui langkah-langkah strategi guru Pendidikan agama Islam dalam menanamkan nilai-nilai moderasi beragama pada siswa di SMA Negeri 1 Mataram. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Subjek penelitian adalah guru Pendidikan agama Islam dan siswa SMA Negeri 1 Mataram. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis dengan model analisis Miles dan Huberman. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khazanah keilmuan dan menjadi rujukan bagi peneliti selanjutnya dalam mengembangkan Pendidikan yang inklusif dan moderat. Kata-kata kunci: moderasi beragama, strategi guru, pendidikan agama Islam. This is an open access article under the CCAeBY-SA license | 307 Strategi Penanaman Nilai Moderasi Beragama A (A. Zuhruddin. Muh. Wasith A. PENDAHULUAN Agama merupakan keyakinan yang diyakini oleh umat manusia yang berasal dari sang pencipta dengan segala aturan yang ada padanya. Jika membahas mengenai agama, maka akan sangat sulit ditinjau dengan kecendrungan subjektif sehingga definisi dari agama menjadi sulit Agama bisa menjadi isu yang sangat sensitive karena menyentuh ruang bathiniah terdalam bagi setiap pemeluknya. Konflik keagamaan yang terjadi dapat dipicu oleh berbagai faktor, rasa superioritas yang tinggi terhadap agama yang dianut, dan meposisikan agama lain lebih rendah dari agamanya. Agama Ae agama yang ada di Indonesia memiliki dua dimensi pembentuk, yakni ajaran teologis dan juga konstruksi social. Kedua dimensi ini yang kemudian mempengaruhi dan membentuk cara pandang serta berpikir masyarakat. Maka tidak heran ketika satu orang dengan orang lain bedara dalam banyak hal terkait ritus atau pemahaman keagamaan yang terkadang membawa pada konflik perpecahan. halid rahman 2. Salah satu tutjuan bernegara adalah memelihara keutuhan negara serta membangun kehidupan yang sejahtera Bersama seluruh golongan masyarakat dan agama. Seperti yang tertuang dalam Pancasila, bhineka tunggal ika . eski berbeda, tetap sat. Namun, mencapai persatuan dan kesatuan sambal tetap berpegang pada perbedaan dan keragaman bukanlah tugas yang Kendala yang lebih serius adalah persoalan kerukunan etnis, termasuk hubungan dan kerukunan antar umat beragama. Oleh karena itu, guru Pendidikan agama Islam dituntut untuk mengajarkan nilai keislaman dan nilai Ae nilai perdamaian dengan menghindarkan tindakan radikal. Hal ini sejalan dengan tujuan Pendidikan agama Islam dan sesuai prinsip ajaran agama Islam yang mengajarkan nilai Ae nilai rahmatan lil alamin. (Putra and Charles 2023, . Bangsa Indonesia semakin hari menghadapi permasalahan yang semakin kompleks dibandingkan masa Ae masa sebelumnya. Hampir semua aspek kehidupan mengalami permasalahan, seperti aspek kehidupan agama. Pendidikan politik, hukum, social, budaya, ekonomi dan aspek lainnya. Pendidikan sebagai aspek yang fundamental juga tak lupuk dari Hal di atas diperparah dengan terjadinya degradasi nilai moralitas bangsa yang sangat memprihatinkan. Di samping masih sering terjadinya perkelahian, kerusuhan, tawuran antar pelajar dan mahasiswa yang sangat meresahkan, tidak kalah pentingnya adalah masalah moderasi beragama yang juga perlu diperhatikan. Moderasi beragama bisa dipahami sebagai sikap tengah dalam memahami ajaran agama. Dalam Islam, konsep moderasi ini sering dipandankan dengan istilah Wasathiyah. Konsep Islam wasathiyah secara umum juga dijadikan dasar dalam memahami prinsip Ae prinsip moderasi dalam beragama, terutama dalam perspektif keislaman. Indikator moderasi dalam hal pemahaman keagamaan memiliki hubungan yang tidak bisa dipisahkan dari arah dan rencana strategi 2. 308 This is an open access article under the CCAeBY-SA license El-Tsaqafah: Jurnal Jurusan PBA. Vol. No. 2, 2025 2019 Kementrian agama republic Indonesia yang kemudian di AomandatkanAo dalam RJPMN 20202024. Renstra 2015-2019 menjadi dasar dari direktorat jenderal Pendidikan islam dalam pengembangan yang toleran, moderat, dan cinta tanah air. Dalam konteks ini, indicator mengenai moderasi beragama memiliki hubungan yang tidak bisa dipisahkan dengan komitmen kebangsaan, toleransi, anti radikalisme dan kekerasan, serta sikap akomodatif terhadap budaya dan kearifan Pada saat yang sama, posisi moderasi beragama sebagai pemahaman keagamaan yang seimbang tetap konsisten berada pada posisi tengah Ae tengah yang tidak memiliki keberpihakan pada ideologi keagamaan kanan yang mengarah pada radikalisme maupun keberpihakan kepada ideologi kiri yang mengarah pada liberalisme(Aziz et al. Terdapat enam isu strategis yang dijadikan latar belakang secara umum mengenai moderasi beragama, yakni : . melemahnya ketahanan budaya dan rendahnya perlindungan hak kebudayaan, . belum mantapnya Pendidikan karakter, budi pekerti, kewarganegaraan, dan kebangsaan, . belum optimalnya pemajuan kebudayaan Indonesia, . masih lemahnya pemahaman dan pengamalan nilai agama yang moderat, substantive, inklusif, dan toleran untuk memperkuat kerukunan umat beragama, . belum optimalnya peran Ae peran keluarga dalam pembangunan karakter bangsa, dan . masih rendahnya budaya literasi, inovasi dan kementrian Agama RI. Moderasi Beragama (Jakarta: Badan Litbang Dan Diklat Kemenag RI, 2. , 132. Masyarakat Indonesia memiliki modal sosial dan kultural yang cukup mengakar. Kita biasa bertenggang rasa, toleran, menghormati persaudaraan, dan menghargai keragaman. Boleh dikata, nilai Ae nilai fundamental seperti itulah yang menjadi fondasi dan filosofi masyarakat di Nusantara dalam menjalani moderasi beragama. Nilai itu ada di semua agama karena semua agama pada dasarnya mengajarkan nilai Ae nilai kemanusiaan yang sama(Abdullah munir 2. Menariknya, semua agama yang diakui di Indonesia mengenal ajaran moderasi beragama. Moderasi beragama dalam ajaran Kristen menjadi cara pandang untuk menengahi ekstremisme tastafsir ajaran Kristen. Pada ajaran agama Hindu berkaitan dengan moderasi beragama yang terpenting adalah Susila, yaitu bagaimana menjaga hubungan keharmonisan antara sesame Esensi ajaran moderasi beragama dalam agama Budha dapat dilihat dari pencerahan sang Budha. Ia mengikrarkan empart prasetya, yaitu menolak keinginan nafsu keduniawian, menolong semua makhluk, mempelajari, menghayati dan mengamalkan dharma, serta berusaha mencapai pencerahan sempurna. Moderasi beragama juga terdapat dalam tradisi agama Konghucu. Umat Konghucu yang yunzi . eriman dan berbudi luhu. memandang kehidupan dalam kaca mata yin yang. Yin yang adalah sikap tengah, bukan sikap ekstrim. Sesuatu yang kurang sama buruknya dengan sesuatu yang lebih. Sedangkan dalam Islam sendiri terdapat konsep This is an open access article under the CCAeBY-SA license | 309 Strategi Penanaman Nilai Moderasi Beragama A (A. Zuhruddin. Muh. Wasith A. wasathiyah, yang memiliki persamaan makna dengan kata tawassuth . engah - tenga. IAotidal . , dan tawazun . (Sutrisno 2019, . Dalam kajian Islam secara akademik. Islam wasathiyah juga disebut justly-balanced Islam, the middle path atau the middle way Islam, dan Islam sebagai mediating and balanced power untuk memainkan peran mediasi dan pengimbang. Dalam buku yang berjudul AuQadaya Al-Fiqh Wa AlFikr Al-MuAoashirAy. Wahbah al-Zulail berpendapat bahwa cara berpikir dan bersikap moderasi yang paling mungkin membawa stabilitas dan ketenangan, yang akan sangat membantu kesejahteraan individu masyarakat. Hal ini dikarenakan wasathiyah merupakan wujud dari esensi kehormatan moral dan kemuliaan Islam. (Aceng Abdul Aziz. Anis Masykhur and Duryat. Ali Muhtarom. Idris Masudi 2019, . Dalam lembaga pendidikan. Kementerian Agama mengkampayekan moderasi beragama diantaranya melalui pendidikan agama Islam (PAI). Pendidikan agama Islam dinilai memiliki porsi penting untuk membentuk sikap moderat dalam beragama(Zahrotul Oktaviani 2. Disamping karena mayoritas umat beragama di Indonesia adalah Islam, hal tersebut juga dikarenakan pendidikan agama Islam memiliki tujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan melalui pengetahuan, penghayatan, pengalaman, serta pengamalan siswa tentang agama Islam, sehingga diharapkan dapat menjadi manusia yang terus berkembang dalam hal keimanan dan ketaqwaannya terhadap Allah SWT. Serta memiliki jiwa toleran yang tinggi dan berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. (Yunus dan Arhanuddin Salim 2018, . Strategi guru Pendidikan agama Islam dalam menanamkan nilai Ae nilai moderasi beragama siswa sangat dibutuhkan. Keragaman beragama di sekolah umum yang sangat beragam menjadi tantangan tersendiri bagi guru Pendidikan agama Islam dibandingkan dengan sekolah yang berbasis agama. Hal tersebut menurut guru Pendidikan agama Islam untuk memberikan penjelasan serta membangun sikap moderat peserta didik agar bisa menyikapi keragaman dengan penuh kearifan. Dalam dunia Pendidikan ada macam Ae amcam strategi pembelajaran yang bisa diterapkan oleh guru sesuai kondisi, situasi, dan jenis tujuan pembelajaran yang ingin dicapau. Guru yang kompeten akan mampu menentukan strategi pembelajaran yang paling sesuai untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut. SMA Negeri 1 Mataram merupakan salah satu sekolah yang mahasiswanya memiliki keberagaman agama. Beberapa siswanya adalah non-muslim meskipun mayoritas beragama Islam. Pendidikan agama Islam di SMA Negeri 1 Mataram dituntut untuk selalu menanamkan nilai Ae nilai toleransi antar umat beragama agar tercipta kondisi pembelajaran yang kondusif. Hal tersebut tidak terlepas dari peran guru Pendidikan agama Islam yang membimbing dan | 310 This is an open access article under the CCAeBY-SA license El-Tsaqafah: Jurnal Jurusan PBA. Vol. No. 2, 2025 mengarahkan siswa untuk memiliki kesalehan social tanpa mengenyampingkan kesalehan METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian bermaksud memahami secara mendalam fenomena yang dialami oleh subjek penelitian seperti sikap, persepsi, motivasi, tindakan dalam konteks nyata pembelajaran. Penelitian ini berbentuk studi kasus, yang berarti peneliti mengeksplorasi secara deskriptif dan komprehensif satu kasus terbatas . akni di SMA Negeri 1 Matara. untuk memperoleh gambaran yang Subjek penelitian adalah guru Pendidikan Agama Islam serta siswa di SMA Negeri 1 Mataram. Data dikumpulkan melalui tiga teknik utama yaitu: Wawancara semi-terstruktur dengan guru dan siswa untuk menggali strategi, pengalaman dan persepsi dalam penanaman nilaimoderasi beragama. Observasi langsung kelas/pembelajaran untuk melihat bagaimana strategi tersebut diterapkan dan bagaimana interaksi berlangsung. Dokumentasi . isalnya silabus, rencana pembelajaran, catatan lapangan, dan/atau bukti aktivitas pembelajara. untuk melengkapi data Untuk analisis data, digunakan model analisis kualitatif dari Matthew B. Miles dan A. Michael Huberman, yang menekankan bahwa kegiatan analisis berlangsung secara interaktif dan terus-menerus hingga data jenuh. Proses analisis terdiri dari tahapan sebagai berikut: Reduksi data: memilih, memfokuskan, menyederhanakan data hasil wawancara, observasi dan dokumentasi agar lebih terkendali . isalnya menandai kutipan penting, membuat ringkasa. Penyajian/pemajangan data: mengorganisasi data ke dalam kategori/kode, kemudian disusun dalam unit analisis . isalnya tabel, matriks, naras. sehingga memudahkan identifikasi pola. Penarikan kesimpulan/verifikasi: dari kategori/pola yang muncul, peneliti menyusun temuan, memeriksa keabsahan . isalnya melalui triangulasi antar dat. , dan menghubungkan dengan kerangka teori serta pertanyaan penelitian. Dengan demikian, analisis dilakukan secara berulang . saat satu tahap selesai, peneliti kembali ke data untuk memeriksa ulang, memperdalam kode atau kategori baru sampai temuan benar-benar kuat. Pada akhirnya, hasil analisis disajikan dalam bentuk naratif yang mengungkap bagaimana strategi guru berperan dalam penanaman nilaimoderasi beragama dalam konteks pembelajaran. LANDASAN TEORI Strategi Guru Pendidikan Agama Islam This is an open access article under the CCAeBY-SA license | 311 Strategi Penanaman Nilai Moderasi Beragama A (A. Zuhruddin. Muh. Wasith A. Strategi berasal dari kata Yunani strategos, yang berarti Jenderal. Oleh karena itu kata strategi secara harfiah berarti AuSeni dan JenderalAy. Kata ini mengacu pada apa yang merupakan perhatian utama manajemen puncak organisasi. Secara khusus, strategi adalah pemilihan seseorang yang profesional dibidangnya, penetapan rencana berdasarkan tujuan yang ingin dicapai, perumusan kebijakkan dan upaya maksimal dalam mengimplementasikan hasil yang tepat, sehingga tujuan dan sasaran utama organisasi akan tercapai(SyafiAoi Antonio 2. Strategi adalah pendekatan secara keseluruhan yang berkaitan dengan gagasan, perencanaan, dan eksekusi, sebuah aktivitas dalam kurun waktu tertentu. Di dalam strategi yang baik terdapat kordinasi tim kerja, memiliki tema mengidentifikasi faktor pendukungnya sesuai dengan prinsipprinsip pelaksanaan gagasan secara rasional, efesiensi dalam pendanaan dan memiliki taktik untuk mencapai tujuan secara efektif. Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Adapun yang dimaksud dengan strategi dalam pembelajaran yaitu suatu upaya yang terdiri atas metode dan teknik atau prosedur yang menjamin peserta didik dapat mencapai tujuan. Strategi yang dimaksud ini lebih luas daripada metode dan teknik pembelajaran. Dengan kata lain, metode atau teknik merupakan bagian dari strategi dalam (Hamdan 2011, . Strategi merupakan rencana yang cermat tentang kegiatan untuk mencapai sasaran (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 2002, 1. Selain itu, strategi juga dapat dimaksudkan sebagai cara atau seni dalam menggunakan sumber daya demi mencapai tujuan (Wena 2010, . Segala cara dan cara tersebut digunakan untuk menghadapi sasaran tertentu dalam kondisi tertentu sehingga dapat memperoleh hasil yang diharapkan. (Kurniawan 2012, . Pengertian strategi menurut Stephanie K. Marrus seperti yang dikutip oleh Sukristono strategi didefinisikan sebagai suatu proses penentuan rencana para pemimpin puncak yang berfokus pada tujuan jangka panjang organisasi disertai penyusunan suatu cara atau upaya bagaimana agar tujuan tersebut dapat dicapai. Dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran merupakan cara - cara yang dipilih dan akan digunakan oleh pengajar dalam menyampaikan materi pembelajaran yang bertujuan untuk memudahkan peserta didik dalam menerima dan memahami materi pembelajaran, agar tujuan pembelajaran dapat dikuasai dan dicapai. Selanjutnya, terdapat strategi dasar dalam dunia pendidikan yang dapat dibedakan menjadi 4 bagian, antara lain: (Syaiful Bahri Djamarah 2005, . Mengindentifikasi dan menetapkan spesifikasi serta kualifikasi perubahan tingkah laku dan kepribadian peserta didik. | 312 This is an open access article under the CCAeBY-SA license El-Tsaqafah: Jurnal Jurusan PBA. Vol. No. 2, 2025 Memilik sistem pendekatan kegiatan belajar mengajar dengan berdasar kepada aspirasi dan pandangan hidup masyarakat. Memilih dan menetapkan prosedur, metode. Teknik belajar dan mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif, sehungga pemilihan tersebut dapat dijadikan sebagai pedoman oleh pendidik dalam mejalankan kegiatan pembelajran. Menetapkan norma Ae norma dan batas minimal keberhasilan atau kriteria serta standar keberhasilan, sehingga dapat dijadikan pegangan dalam melaksanakan evaluasi hasil kegiatan pembelajaran. Kemudian dari hasil tersebut dapat dijadikan sebagai umpan balik untuk penyempurnaan sistem instruksional yang berhubungan secara keseluruhan. Guru adalah tenaga pendidik dan memiliki tanggung jawab kepada peserta didik untukmencapai kedewasaan dan melaksanakan tugas sebagai hamba allah. Pendidikan agama islam (PAI) dibakukan sebagai nama kegiatan untuk mendidikan agama Islam. PAI dimaksudkan untuk mngejawantahkan agama Islam sebagai bagian pednidikan Islam yang disusun berdasarkan sumber ajaran Islam, yaitu Al-Quran dan hadis. Pendidikan agama merupakan Pendidikan yang memberikan dan membentuk sikap, kepribadian dan keterampilan peserta didik dalam mengamalkan agama melalui mata pelajaran atau kuliah pada semua jalur, jenjang dan jenis Pendidikan. Oleh karena itu, yang dimaksud dengan guru Pendidikan agama Islam dalam penelitian ini adalah pendidik atau guru yang mengajar mata pelajaran Pendidikan agama Islam di sekolah. Moderasi Beragama Moderasi/wasathiyah adalah sebuah keadaan terpuji yang menjaga seseorang dari kecenderungan menuju dua sikap ekstrem. yaitu sikap berlebih - lebihan . dan sikap muqashshir yang mengurang-ngurangi sesuatu yang dibatasi Allah Swt. Sifat wasathiyah umat Islam adalah anugerah yang diberikan Allah Swt secara khusus. Saat mereka konsisten menjalankan ajaran - ajaran Allah Swt, maka saat itulah mereka menjadi umat terbaik dan terpilih. Sifat ini telah menjadikan umat Islam sebagai umat moderat. moderat dalam segala urusan, baik urusan agama atau urusan sosial di dunia. (Nur and Lubis 2. Moderasi beragama berarti sikap menihilkan kekerasan atau menjauhi keesktreman dalam cara memahami, membaca, bersikap dan mempraktikkan agama. Makna dari moderasi beragama itu bukanlah melakukan Aumoderasi terhadap agamaAy, tetapi memoderasi pemahaman dan pengamalan umat beragama dari sikap ekstrem. Dapat ditarik benang merah bahwa sikap moderasi beragama merupakan tindakan atau tingkah laku yang berusaha mengurangi kekerasan atau menghindari keekstreman dalam praktik beragama (Ahmad Najib Burhani 2. This is an open access article under the CCAeBY-SA license | 313 Strategi Penanaman Nilai Moderasi Beragama A (A. Zuhruddin. Muh. Wasith A. PEMBAHASAN SMA Negeri 1 Mataram merupakan salah satu sekolah menengah atas negeri yang berada di kota Mataram. Peserta didik di SMA Negeri 1 Mataram berasal dari latar belakang yang beragam, baik secara agama maupun sosial, jumlah peserta didik pada tahun ajaran 2024/2025 berjumlah 1344 dengan rincian, peserta didik laki-laki berjumlah 589 dan peserta didik perempuan Jumlah siswa berdasarkan agamanya sebagai berikut: peserta didik yang beragama Islam berjumlah 1065 orang dengan rincian laki-laki 479, perempuan 586, peserta didik beragama Kristen 32 orang dengan rincian laki-laki 13, perempuan 19, peserta didik beragama Katolik berjumlah 7 orang dengan rincian laki-laki 3, perempuan 4, peserta didik yang beragama Hindu berjumlah 235 orang dengan rincian laki-laki 91, perempuan 144, peserta didik beragama Budha berjumlah 5 orang dengan rincian laki-laki 3, perempuan 2. Guru Pendidikan Agama Islam dan siswa di SMA Negeri 1 Mataram, diperoleh temuan bahwa strategi guru Pendidikan Aagama Islam dalam menanamkan nilai-nilai moderasi beragama dilakukan melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. Pada tahap perencanaan, guru Pendidikan Aagama Islam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang memuat indikator moderasi beragama seperti toleransi, komitmen kebangsaan, anti kekerasan, dan akomodasi terhadap budaya lokal. Materi pembelajaran disesuaikan dengan konteks keberagaman siswa serta dilengkapi dengan sumber literatur moderasi beragama. Pada tahap pelaksanaan, guru menerapkan metode ceramah interaktif yang dikombinasikan dengan diskusi untuk menanggapi perbedaan pandangan, pembelajaran kontekstual yang mengaitkan ajaran agama dengan kehidupan nyata, serta kegiatan kolaboratif yang melibatkan siswa lintas agama dalam kegiatan sosial seperti bakti sosial dan lomba budaya daerah. Selanjutnya, pada tahap evaluasi, guru tidak hanya menilai aspek kognitif, tetapi juga memantau sikap dan perilaku siswa melalui observasi harian, jurnal sikap, serta penilaian teman sebaya. Pembiasaan nilai moderasi dilakukan melalui salam, kerja sama lintas agama, dan penggunaan bahasa yang santun di lingkungan sekolah. Sebelum mengajarkan atau menanamkan nilai-nilai moderasi beragama, sangat penting bagi guru Pendidikan agama untuk memahami konsep moderasi beragama itu sendiri. Pemahaman yang mendalam tentang moderasi beragama akan membantu guru dalam menyampaikan materi dengan cara yang tepat, sehingga siswa dapat menginternalisasikan nilai-nilai moderasi tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Sebelum guru Pendidikan Agama Islam mengajarkan atau menanamkan nilai-nilai moderasi beragama, sangat penting bagi mereka untuk terlebih dahulu memahami konsep moderasi beragama itu sendiri. Pemahaman yang mendalam atas moderasi beragama | 314 This is an open access article under the CCAeBY-SA license El-Tsaqafah: Jurnal Jurusan PBA. Vol. No. 2, 2025 memungkinkan guru menyampaikan materi dengan tepat, sehingga siswa bukan hanya memahami tapi juga menginternalisasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Dalam wawancara, seorang narasumber . ak Halwan Syukr. menyatakan bahwa moderasi beragama berarti Aukeseimbangan dalam menjalankan agama, tidak mendeskriminasi agama lain, tidak terlalu ekstremAy artinya guru hendaknya menumbuhkan sikap toleran dan cinta perdamaian. Pernyataan ini relevan dengan kondisi heterogen siswa di SMA Negeri 1 Mataram yang terdiri dari berbagai agama seperti Islam. Hindu. Buddha, dan Kristen. Tanpa upaya penanaman nilai moderasi, dikhawatirkan timbul praktik seperti bullying atau perlakuan tidak adil terhadap siswa Sebaliknya, melalui pendekatan moderasi beragama, para siswa diharapkan merasa setara, bersaudara antaragama, dan memahami makna ukhuwah insaniyah dalam kerangka Islam yang pada gilirannya mendukung kedamaian di masa depan. Hasil wawancara dengan guru lain menunjukkan bahwa mereka memandang moderasi beragama sebagai sikap mendasar yang mendukung kerukunan antar-umat di sekolah. Salah seorang guru menyatakan bahwa moderasi bertujuan Ausaling berdamai, empati, dan saling menghargai setiap perbedaan keyakinanAy (Pak RifaAoI). Selain itu. Ibu Ismil Hidayah menambahkan bahwa moderasi berarti tidak AoberlebihanAo dalam menjalankan syariat, tetapi tetap menerapkan toleransi sebagai bagian dari rahmatan lil Aoalamin. Dari pernyataan tersebut dapat diinterpretasikan bahwa guru-guru mengimplementasikan moderasi beragama melalui dua dimensi utama: . memperkuat sikap saling menghargai dan empati antar siswa berbeda keyakinan, dan . meneguhkan keseimbangan antara pelaksanaan agama dan sikap toleran dalam kehidupan sekolah sehari-hari. Strategi mereka kemudian diarahkan pada aktivitas pembelajaran yang mendorong dialog antar kelompok siswa dan pengembangan nilai toleransi dalam berbagai mata pelajaran. Guru Pendidikan Agama Islam di SMA Negeri 1 Mataram aktif mengintegrasikan pemahaman tentang moderasi beragama ke dalam proses pembelajaran. Sebagai contoh, dalam pembahasan mengenai toleransi, siswa diajak berbagi pengalaman pribadi antar-anggota kelompok yang memiliki latar agama berbeda, sehingga terbuka kesempatan belajar dari keragaman yang ada. Salah satu siswa kelas 12 IPA menyampaikan bahwa guru mengorganisasi diskusi kelompok dengan tema Auperbedaan dalam agamaAy, kemudian meminta setiap siswa menyampaikan pendapatnya di depan kelas. Berdasarkan observasi dan hasil wawancara, interaksi ini mendorong munculnya refleksi antar-siswa tentang pentingnya saling menghargai dan menjaga Dari proses pembelajaran tersebut dapat dirumuskan langkah-strategi sebagai berikut: . penyusunan tema pembelajaran yang relevan dengan nilai moderasi, . pembentukan kelompok This is an open access article under the CCAeBY-SA license | 315 Strategi Penanaman Nilai Moderasi Beragama A (A. Zuhruddin. Muh. Wasith A. heterogen yang mencerminkan keragaman, . fasilitasi diskusi terbuka agar siswa mengungkapkan pengalaman pribadi dan pendapatnya dalam suasana saling hormat, . penguatan refleksi oleh guru melalui pertanyaan pemandu dan penekanan pada nilai rahmatan lil Ao Dengan demikian, peran guru tidak hanya sebagai penyampai materi, melainkan juga sebagai fasilitator dinamika refleksi sosial dan nilai-keberagaman antar siswa. Guru Pendidikan Agama Islam. Bapak Halwan Syukri. Pd. , menyampaikan bahwa dalam jam pembelajaran beliau menerapkan strategi pembelajaran kelompok lintas agama. Misalnya, ketika mata pelajaran P5 (Pendidikan Pancasila & Kewarganegaraa. dibuka untuk semua siswa, beliau sengaja membentuk kelompok yang terdiri dari siswa beragama berbeda (Muslim. Hindu. Katoli. agar mereka saling berinteraksi, mengenal, menghormati, dan berdiskusi bersama. melihat bahwa saat ini banyak siswa sedang dalam tahap pembentukan identitas dan sikap sosialkultural, termasuk bagaimana mereka melihat keberagaman di lingkungan sekolah. Oleh karena itu, menurut beliau, peran guru sangat penting untuk memfasilitasi pengalaman belajar yang mendorong toleransi. Dalam praktiknya, beliau memulai pembelajaran tentang toleransi dengan diskusi terbuka: siswa diajak menceritakan pengalaman mereka berinteraksi dengan teman dari agama, suku, atau budaya berbeda. Setelah itu, materi teori tentang toleransi dikaitkan dan kemudian siswa dibagi ke dalam kelompok campuran untuk mempresentasikan hasil diskusi masing-masing. Dengan pendekatan ini, beliau berharap siswa tidak hanya memahami konsep toleransi secara intelektual, tetapi juga mengalami secara langsung dinamika kerja sama antar-agama dan belajar menghargai perbedaan dalam konteks kelas. Guru PAI menyatakan bahwa situasi keberagaman di sekolah menuntut penerapan nilaimoderasi beragama secara aktif. Ia mengamati bahwa lingkungan siswa terdiri dari berbagai agama sehingga sikap saling menghormati dan menghargai menjadi suatu keniscayaan. Untuk itu, guru tersebut mengimplementasikan beberapa pendekatan strategi: pertama, menghindarkan segala bentuk kekerasan atau sikap agresif antar-agama. kedua, mendorong keseimbangan dalam menjalankan ajaran agama dan kehidupan duniawi . idak ekstrem ataupun ketiga, secara eksplisit mengajarkan penghormatan terhadap ras, agama, dan suku serta menghargai pendapat orang lain. Pernyataan ini menunjukkan bahwa strategi penanaman nilai-moderasi yang digunakan bersifat preventif . enghindari konfli. dan promotif . engajarkan penghormata. dan dengan demikian relevan dalam konteks pembelajaran yang SMA Negeri 1 Mataram memiliki berbagai kegiatan ekstrakulikuler yang beragam dan mendukung pengembangan minat serta bakat peserta didik. Beberapa kegiatan ekstrakulikuler | 316 This is an open access article under the CCAeBY-SA license El-Tsaqafah: Jurnal Jurusan PBA. Vol. No. 2, 2025 yang ada di SMA Negeri 1 Mataram antara lain Remus (Remaja Mushol. Al-Muhsinin, paskibra, basket, klub debat Bahasa Inggris (SEDC). Klub percakapan bahasa Inggris (SECC). Klub Bahasa Jepang (SJC). Pecinta Alam (PALASMA). Palang Merah Remaja (PMR). Karya Ilmiah Remaja (KIR). Sepak Bola. Merpati Putih. Perisai Diri. Jurnalistik dan Fotografi. Robotik, serta berbagai klub Olimpiade seperti Astronomi. Matematika. Fisika. Kimia. Biologi. Kebumian. Ekonomi, dan Geografi. Selain itu juga ada kegiatan seni seperti Dance dan Teater. Adapun faktor yang mendukung pelaksanaan strategi tersebut meliputi dukungan kebijakan dari kepala sekolah, keberagaman latar belakang agama siswa yang menjadi media pembelajaran toleransi secara langsung, serta adanya kurikulum PAI yang telah memuat materi moderasi Namun, implementasi strategi ini juga menghadapi sejumlah hambatan, di antaranya pengaruh lingkungan luar sekolah yang terkadang memberikan informasi keagamaan eksklusif, keterbatasan waktu pembelajaran PAI yang membuat penyampaian materi moderasi kurang mendalam, serta perbedaan tingkat pemahaman siswa terhadap konsep moderasi sehingga membutuhkan pendekatan personal yang lebih intensif. PENUTUP Penelitian ini menunjukkan bahwa strategi guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMA Negeri 1 Mataram dalam menanamkan nilai-nilai moderasi beragama dilakukan secara terencana melalui tiga tahap utama: perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Pada tahap perencanaan, guru merancang pembelajaran yang memuat indikator moderasi seperti toleransi, komitmen kebangsaan, anti kekerasan, dan penghargaan terhadap budaya lokal. Pada tahap pelaksanaan, strategi diwujudkan melalui metode ceramah interaktif, diskusi lintas agama, pembelajaran kontekstual, serta kegiatan kolaboratif seperti bakti sosial dan lomba budaya. Evaluasi dilakukan tidak hanya pada aspek pengetahuan, tetapi juga pada sikap dan perilaku siswa melalui observasi, jurnal sikap, dan penilaian teman sebaya. Faktor pendukung strategi ini meliputi dukungan kebijakan sekolah, keberagaman latar belakang siswa sebagai media pembelajaran toleransi, dan adanya materi moderasi beragama dalam kurikulum PAI. Adapun hambatannya antara lain pengaruh lingkungan luar sekolah yang kurang sejalan dengan nilai moderasi, keterbatasan waktu pembelajaran, dan perbedaan tingkat pemahaman siswa sehingga memerlukan pendekatan personal. Secara keseluruhan, penerapan strategi ini terbukti berperan penting dalam membentuk sikap moderat siswa di tengah keberagaman agama, mendukung terciptanya suasana belajar yang toleran, harmonis, dan selaras dengan prinsip Islam rahmatan lil Aoalamin. This is an open access article under the CCAeBY-SA license | 317 Strategi Penanaman Nilai Moderasi Beragama A (A. Zuhruddin. Muh. Wasith A. DAFTAR PUSTAKA