Jurnal Studi Tindakan Edukatif Volume 1. Number 2, 2025 Open Access: https://ojs. id/jste/ Penerapan Metode Diskusi Interaktif dalam Pembelajaran Akhlak untuk Meningkatkan Karakter Siswa Kelas VI MIS Islamiyah Kauman Ngoro Nurul Hidayah1 1 MIS Islamiyah Kauman Ngoro Correspondence: nurulhiday1997@gmail. Article Info Article history: Received 02 Jan 2025 Revised 20 Feb 2025 Accepted 31 Mar 2025 Keyword: Interactive Discussion. Ethics Education. Character Development. Classroom Action Research. Islamic Education ABSTRACT This classroom action research aims to improve the character of sixth-grade students at MIS Islamiyah Kauman Ngoro through the application of the interactive discussion method in the ethics lessons. The study involved 20 students and was conducted in two cycles, each consisting of planning, action, observation, and reflection. Initially, students displayed limited engagement and understanding of ethical values, particularly in real-life The introduction of interactive discussions allowed students to actively participate in exploring ethical principles and how to apply them in their daily lives. By the second cycle, there was a noticeable improvement in student participation, understanding, and the ability to demonstrate good character traits such as respect, honesty, and The interactive discussions also encouraged students to listen to each other, express opinions respectfully, and reflect on their The research concludes that the interactive discussion method significantly enhances students' understanding of ethical values and positively impacts their character development. The method is effective in fostering a more engaging and reflective learning environment, making it an ideal approach for character education in Islamic schools. A 2025 The Authors. Published by PT SYABAN MANDIRI BERKARYA. This is an open access article under the CC BY NC license . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. INTRODUCTION Pendidikan karakter di sekolah dasar, terutama pada tingkat Madrasah Ibtidaiyah, memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk moral dan perilaku siswa. Pembelajaran tentang akhlak atau etika dalam Islam menjadi bagian integral dari pendidikan agama yang harus ditekankan sejak dini. Pembelajaran akhlak bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai seperti kejujuran, kesabaran, rasa hormat, dan tanggung jawab, yang kesemuanya merupakan aspek penting dalam membentuk karakter baik pada siswa (Syaiful, 2. Oleh karena itu, pembelajaran akhlak harus diberikan dengan cara yang efektif agar dapat tertanam dengan baik pada diri siswa. Namun, meskipun pembelajaran akhlak telah diajarkan di sekolah, pemahaman dan penerapan nilainilai akhlak dalam kehidupan sehari-hari siswa masih sering ditemukan kurang optimal. Hasil observasi di kelas VI MIS Islamiyah Kauman Ngoro menunjukkan bahwa siswa masih sering kesulitan untuk mengaitkan teori tentang akhlak dengan praktik nyata. Beberapa siswa masih menunjukkan perilaku yang tidak sesuai dengan ajaran akhlak Islam, seperti kurangnya rasa hormat kepada guru atau teman dan ketidakhadiran dalam kegiatan sosial (Rahmawati, 2. Salah satu faktor yang mempengaruhi rendahnya pemahaman siswa terhadap akhlak adalah metode pembelajaran yang digunakan di kelas. Sebagian besar metode yang diterapkan masih bersifat konvensional, seperti ceramah dan hafalan, yang kurang melibatkan partisipasi aktif siswa. Pembelajaran yang terlalu teoritis dan tidak melibatkan pengalaman nyata seringkali membuat siswa kesulitan untuk memahami dan mengaplikasikan nilai-nilai akhlak dalam kehidupan mereka (Fitria. Di sisi lain, siswa di kelas VI sudah berada pada tahap perkembangan kognitif yang lebih matang, di mana mereka mulai mampu berpikir lebih abstrak dan menghubungkan pelajaran dengan situasi kehidupan nyata. Oleh karena itu, mereka membutuhkan metode pembelajaran yang lebih interaktif dan Nurul Hidayah . Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. 2 Maret 2025 aplikatif, yang memungkinkan mereka untuk tidak hanya memahami konsep-konsep moral, tetapi juga mengembangkan keterampilan sosial dan empati (Suyadi, 2. Hal ini memerlukan pendekatan yang dapat melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. Salah satu metode yang dianggap efektif untuk meningkatkan pemahaman dan keterlibatan siswa adalah metode diskusi interaktif. Melalui metode ini, siswa tidak hanya mendengarkan ceramah, tetapi mereka diajak untuk berbicara, berdiskusi, dan saling berbagi pandangan tentang nilai-nilai akhlak yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Dengan metode diskusi, siswa dapat lebih mudah memahami aplikasi praktis dari nilai-nilai akhlak dan bagaimana mereka dapat mempraktikkannya dalam interaksi sosial mereka (Syaiful, 2. Diskusi interaktif juga memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan berbicara, mendengarkan, serta berargumen dengan cara yang sopan dan penuh rasa hormat. Keterampilan ini sangat penting dalam pembelajaran akhlak, karena interaksi yang baik dengan orang lain merupakan salah satu aspek penting dalam ajaran Islam. Siswa juga dapat lebih menghargai perbedaan pendapat dan belajar untuk tidak hanya berbicara, tetapi juga mendengarkan dengan bijak (Gardner, 2. Metode diskusi interaktif memungkinkan siswa untuk lebih aktif berpartisipasi dalam proses pembelajaran, yang pada gilirannya dapat meningkatkan rasa percaya diri mereka. Ketika siswa merasa dihargai dalam diskusi dan pendapat mereka didengarkan, mereka akan lebih bersemangat untuk belajar dan lebih mudah menyerap materi pembelajaran. Proses ini juga dapat meningkatkan rasa tanggung jawab mereka terhadap perilaku mereka di luar kelas (Suyanto, 2. Penerapan metode diskusi interaktif juga dapat memperkuat hubungan sosial antar siswa. Dengan berdiskusi dalam kelompok, siswa diajak untuk bekerja sama dan saling memahami, yang dapat menciptakan atmosfer yang positif dan mendukung perkembangan karakter mereka. Diskusi interaktif mendorong siswa untuk lebih menghargai pandangan orang lain dan mengembangkan sikap toleransi, yang merupakan bagian penting dari akhlak Islam (Yuliani, 2. Selain itu, diskusi interaktif juga memperkenalkan konsep pembelajaran yang berbasis pada pengalaman nyata. Misalnya, siswa dapat mendiskusikan pengalaman mereka dalam situasi yang menguji nilai-nilai akhlak, seperti cara menghormati guru, berbicara dengan sopan, atau membantu teman yang membutuhkan. Pembelajaran berbasis pengalaman seperti ini lebih mudah diterima oleh siswa, karena mereka dapat langsung melihat dan merasakan manfaat dari penerapan nilai-nilai akhlak dalam kehidupan sehari-hari (Arsyad, 2. Namun, meskipun metode diskusi interaktif memiliki banyak kelebihan, penerapannya di kelas sering kali menghadapi beberapa tantangan. Salah satunya adalah kesulitan dalam mengelola diskusi agar tetap fokus pada topik dan tujuan pembelajaran. Beberapa siswa mungkin kurang aktif dalam berdiskusi atau bahkan mendominasi pembicaraan. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk mengatur suasana diskusi dengan baik, memberikan kesempatan yang adil bagi setiap siswa untuk berbicara, dan mengarahkan diskusi agar tetap relevan dengan materi yang diajarkan (Kemendikbud, 2. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas metode diskusi interaktif dalam meningkatkan pemahaman siswa kelas VI MIS Islamiyah Kauman Ngoro tentang etika berinteraksi dalam Islam. Penelitian ini juga bertujuan untuk menggali bagaimana metode ini dapat mempengaruhi sikap sosial siswa dalam kehidupan sehari-hari, serta mengidentifikasi tantangan yang dihadapi dalam penerapannya (Syaiful, 2. Melalui dua siklus tindakan, diharapkan penelitian ini dapat memberikan kontribusi positif terhadap pengembangan metode pembelajaran akhlak di sekolah dasar, khususnya dalam meningkatkan karakter siswa melalui diskusi interaktif. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk memberikan model pembelajaran yang lebih aplikatif, yang tidak hanya menekankan pemahaman teori, tetapi juga pengembangan sikap dan perilaku yang sesuai dengan ajaran Islam (Suyanto, 2. Dengan demikian, penerapan metode diskusi interaktif dalam pembelajaran akhlak di kelas VI diharapkan dapat memberikan dampak yang signifikan dalam meningkatkan pemahaman dan karakter siswa, sehingga mereka tidak hanya mengerti konsep-konsep etika dalam Islam, tetapi juga dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka sehari-hari RESEARCH METHODS Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan model Kemmis dan McTaggart yang terdiri dari empat tahap utama: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Nurul Hidayah . Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. 2 Maret 2025 Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus di kelas VI MIS Islamiyah Kauman Ngoro, dengan 20 siswa sebagai subjek penelitian. Pada siklus pertama, siswa diberikan materi akhlak melalui ceramah, kemudian diikuti dengan kegiatan diskusi interaktif mengenai etika berinteraksi dalam Islam. Pada siklus kedua, kegiatan diskusi lebih mendalam, dengan melibatkan simulasi dan peran nyata untuk meningkatkan pemahaman dan pengamalan siswa terhadap nilai-nilai akhlak. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan observasi, wawancara, dan tes formatif. Observasi dilakukan untuk menilai tingkat partisipasi siswa dan perubahan sikap mereka selama diskusi. Wawancara dengan siswa digunakan untuk menggali persepsi mereka tentang pembelajaran dan dampaknya terhadap sikap sosial mereka. Tes formatif dilakukan untuk mengukur peningkatan pemahaman siswa mengenai etika berinteraksi sebelum dan sesudah penerapan metode diskusi Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif untuk mengevaluasi efektivitas metode dalam meningkatkan karakter siswa dan pemahaman mereka tentang akhlak dalam Islam. RESULTS AND DISCUSSION Pada siklus pertama, siswa menunjukkan antusiasme yang tinggi selama kegiatan diskusi interaktif. Mereka aktif bertanya dan memberikan pendapat terkait topik yang dibahas, seperti pentingnya berbicara dengan sopan dan menghormati orang lain. Namun, hasil tes formatif menunjukkan bahwa 7 dari 20 siswa . %) masih kesulitan menjelaskan secara rinci aplikasi nilai-nilai akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun siswa terlibat aktif, pemahaman mereka masih terbatas (Syaiful, 2. Pada siklus kedua, diskusi dilanjutkan dengan pembagian kelompok untuk mendiskusikan skenario situasi sosial yang lebih kompleks. Skenario tersebut melibatkan interaksi dengan teman, guru, dan orang tua, sehingga siswa lebih mudah memahami penerapan etika berinteraksi. Hasil tes formatif siklus kedua menunjukkan bahwa 16 dari 20 siswa . %) dapat mengaitkan konsep etika dengan perilaku mereka sehari-hari. Ini menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan dalam pemahaman siswa (Fitria, 2. Proses diskusi yang lebih mendalam pada siklus kedua memfasilitasi pengembangan keterampilan komunikasi siswa. Mereka tidak hanya berbicara, tetapi juga mendengarkan dengan baik dan memberi tanggapan yang penuh rasa hormat. Hal ini mencerminkan peningkatan kesadaran sosial dan karakter yang lebih matang dalam berinteraksi dengan teman dan guru (Suyadi, 2. Siswa juga menunjukkan peningkatan dalam sikap mereka terhadap pembelajaran akhlak. Sebelumnya, beberapa siswa cenderung kurang tertarik pada pembelajaran agama, namun setelah penerapan metode diskusi interaktif, mereka mulai aktif berpartisipasi. Siswa menjadi lebih merasa memiliki keterkaitan antara pelajaran yang diajarkan dan kehidupan nyata mereka (Suyanto, 2. Wawancara dengan beberapa siswa mengungkapkan bahwa mereka merasa lebih mudah memahami nilai-nilai akhlak setelah berdiskusi dalam kelompok. Mereka merasa bahwa diskusi membantu mereka untuk lebih terbuka terhadap pendapat teman-teman mereka dan memudahkan mereka untuk memahami perspektif orang lain dalam situasi sosial yang berbeda (Yuliani, 2. Guru juga mengamati bahwa dengan metode diskusi interaktif, suasana kelas menjadi lebih hidup dan siswa lebih bersemangat dalam berpartisipasi. Guru merasa lebih mudah mengelola kelas karena siswa lebih tertarik dan proaktif. Dengan adanya kegiatan diskusi, guru dapat melihat pemahaman siswa secara langsung dan memberikan umpan balik yang lebih tepat dan sesuai (Arsyad, 2. Peningkatan pemahaman siswa terhadap nilai-nilai akhlak juga tercermin dalam perubahan perilaku mereka di luar kelas. Siswa mulai lebih menghargai guru dan teman-teman mereka. Beberapa siswa melaporkan bahwa mereka mulai lebih sering mengucapkan salam dan berbicara dengan sopan, yang menunjukkan penerapan nilai yang dipelajari melalui diskusi (Syaiful, 2. Meskipun hasilnya positif, beberapa siswa masih menunjukkan ketidaktertarikan dalam sesi diskusi Hal ini terutama terjadi pada siswa yang kurang percaya diri untuk berbicara di depan kelas. Untuk mengatasi hal ini, guru perlu memberikan dukungan lebih kepada siswa yang merasa canggung dan mendorong mereka untuk lebih aktif dalam diskusi (Fitria, 2. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode diskusi interaktif berhasil meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi akhlak, serta berdampak positif pada perubahan sikap dan karakter mereka. Diskusi interaktif tidak hanya meningkatkan keterlibatan siswa dalam Nurul Hidayah . Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. 2 Maret 2025 pembelajaran tetapi juga membantu mereka mengembangkan sikap sosial dan komunikasi yang lebih baik (Syaiful, 2. Penerapan metode diskusi interaktif dalam pembelajaran akhlak terbukti efektif dalam menciptakan suasana belajar yang lebih dinamis dan menyenangkan. Dengan melibatkan siswa secara aktif dalam diskusi dan kegiatan refleksi, metode ini dapat membantu mereka menginternalisasi nilai-nilai akhlak Islam dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, yang penting untuk pembentukan karakter CONCLUSION Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan metode diskusi interaktif dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang nilai-nilai akhlak dalam Islam, serta berdampak positif pada pengembangan karakter mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa lebih aktif berpartisipasi dalam pembelajaran dan mulai mengaitkan nilai-nilai yang dipelajari dengan kehidupan sehari-hari mereka. Pada siklus kedua, siswa dapat menjelaskan dan mempraktikkan etika berinteraksi, seperti berbicara dengan sopan, menghormati orang tua, dan berperilaku baik dalam situasi sosial. Metode diskusi interaktif juga terbukti efektif dalam meningkatkan keterampilan komunikasi siswa, seperti mendengarkan, berbicara dengan rasa hormat, dan berpikir kritis. Namun, beberapa siswa masih merasa canggung dalam diskusi, dan mereka membutuhkan dukungan lebih untuk meningkatkan keterlibatan Secara keseluruhan, metode diskusi interaktif terbukti memberikan dampak positif dalam mengembangkan karakter sosial siswa dan membuat pembelajaran lebih menyenangkan dan bermakna. Oleh karena itu, metode ini sangat dianjurkan untuk diterapkan dalam pembelajaran PAI di tingkat sekolah dasar untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang akhlak Islam. REFERENCES