Jurnal Vokasi. Vol 1 No. 2 Oktober 2017 ISSN : 2548-9410 (Ceta. | ISSN : 2548-4117 (Onlin. Jurnal hasil-hasil Penerapan IPTEKS dan Pengabdian Kepada Masyarakat PEMBINAAN PEMBUATAN TES BUATAN GURU (SOAL) MATA PELAJARAN GEOGRAFI SMA/MA KOTA LANGSA Ramdan Afrian1*. Zukya Rona Islami2 dan Fitria Mustika3 Program Studi Pendidikan Geografi FKIP Universitas Samudra Jln. Kampus Meurandeh. Langsa Lama Kota Langsa Prov. Aceh INDONESIA *Email : 1ramdan. afrian@gmail. Abstrak Pembinaan penyusunan tes buatan guru dalam pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru dalam ranah evaluasi pembelajaran. Meningkatnya pemahaman dan keterampilan guru dalam hal penyusunan tes pada akhirnya akan meningkattkan kualitas pembelajaran. Tes yang baik mampu mengukur dengan tepat sejauh mana pembelajaran itu berhasil. Kegiatan pembinaan ini dilakukan untuk Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Geografi SMA/MA Kota Langsa. Target dari kegiatan ini adalah dalam waktu tiga bulan guru SMA/MA kota Langsa mampu dan terampil membuat tes buatan guru yang baik dan benar menurut kaidah evaluasi Metode kegiatan ini berupa pembinaan penyusunan soal tes buatan guru kepaada MGMP geografi Kota Langsa yang berjumlah dua belas orang. kegiatan ini diawali dengan pelatihan penyusunan soal tes buatan guru dan dilanjutkan dengan analisis butir soal yang telah dibuat untuk mengetahui kualitas tes yang telah dibuat. Pembinaan ini dilakukan selama tiga bulan. Tim pengusul PKM jugaakan melakukan pendampingan selama kegiatan berlangsung. Pada akhir kegiatan, akan dilakukan evaluasi dan pembuatan rencana tindak lanjut agar pembinaan yang diterima mitra dapat berlanjut secara mandiri. Hasil yang diperoleh dari kegiatan ini berupa instrument tes buatan guru mata pelajaran geografi yang sudah teruji validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran dan daya beda tes sehingga sudah memenuhi standar tes yang baik dalam sebuah evaluasi pembelajaran. Kata kunci : tes buatan guru, mata pelajaran geografi. Uraian penyelenggaraan pendidikan disekolah dituntut dapat menghasilkan peserta didik sesuai dengan ukuran . yang ditetapkan secara Nasional. Dengan kata lain pada akhir masa pendidikan setiap peserta didik diharapkan sudah memiliki pengetahuan sejauh mana tujuan dan ukuran pendidikan setelah dicapai melalui program pengajaran disekolah diperlukan evaluasi atau penilaian pendidikan Sehubungan dengan upaya untuk menentukan keberhasilan siswa tersebut, maka oleh Departemen Pendidikan Nasional menyelenggarakan ulangan dan semester. Ulangan semester merupakan patokan keberhasilan proses belajar mengajar siswa pada kelas dan semester yang bersangkutan. Salah diperhatikan adalah peningkatan kualitas PENDAHULUAN Dalam pembelajaran mulai tingkat pendidikan dasar sampai pada tingkat perguruan tinggi, setiap tenaga pengajar tidak akan terlepas dari kegiatan evaluasi. Begitu pentingnya evaluasi dalam proses belajar mengajar, sehingga dalam undang-undang No 2 tahun 1989 tentang sistem Pendidikan Nasional Bab XII halaman 43, ditegaskan dengan jelas bahwa terhadap kegiatan dan kemajuan belajar siswa dilakukan penilaian. Untuk mengukur keberhasilan proses belajar mengajar yang telah dilakukan oleh setiap pendidik maka setiap enam bulan, dari tingkat sekolah Dasar (SD) sampai pada jenjang sekolah Menengah atas (SMA) maka dilakukan ujian semester sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Jurnal Vokasi. Vol 1 No. 2 Oktober 2017 ISSN : 2548-9410 (Ceta. | ISSN : 2548-4117 (Onlin. Jurnal hasil-hasil Penerapan IPTEKS dan Pengabdian Kepada Masyarakat tes yang digunakan. Karena kualitas tes yang baik akan menghasilkan hasil belajar yang baik pula. Soal-soal yang akan digunakan dalam evaluasi semester secara umum belum diketahui kualitasnya terutama menyangkut tingkat kesukaran, daya pembeda, efektivitas, distraktor . setiap butir soal dan reliabilitas tes tersebut. Sehingga alat evaluasi tersebut perlu diketahui kualitasnya Guru sebagai tenaga profesional dibidang pendidikan mempunyai peran yang penting dalam membimbing peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran. Salah satu tugas pokok guru adalah mengevaluasi hasil pembelajaran. Ahmadi mengemukakan, evaluasi dimaksudkan untuk mengetahui apakah suatu pembelajaran yang diberikan berhasil dengan baik, artinya ada kemajuan atau bahkan gagal sama sekali. Evaluasi pembelajaran biasanya dilakukan dengan mengadakan suatu tes prestasi belajar peserta didik guna mengetahui hasil dari proses pembelajaran Menurut Susilo 1: . kompetensi yang harus dimiliki oleh kemampuan:pedagogik, kepribadian, dan sosial. Tenaga pendidik profesional sebagaiguru, serta dapat memahami cara membuat soal dengan kualitas tinggi dan memahami dengan benar tingkatan ranah yang akan digunakan dalam menyusun soal. Soal yang akan diujikan kepada peserta didik tidak terpaku pada satu kategori tingkatan ranah saja, apalagi tingkatan ranah soal yang rendah seperti hafalan atau ingatan, tetapi dapat menca-kup keseluruhan tingkatan ranah dan memiliki tingkatan ranah yang tinggi, menganalisis suatu soal, sehingga akan tercapai kesempurnaan soal. Guna mencapai tingkat pendidikan perlu diadakan evaluasi. Evaluasi merupakan salah satu komponen penting dan tahap yang harus ditempuh oleh guru untuk (Zainal Arifin, 2012: . Guru dapat mengukur apakah peserta didik sudah menguasai mata pelajaran yang telah diajarkan atau belum dengan melakukan kegiatan evaluasi khususnya evaluasi hasil Evaluasi merupakan proses penilaian dalam mengambil keputusan dengan menggunakan instrumen tes maupun non tes. Tes yang berkualitas menurut Suharsimi Arikunto . harus memiliki persayaratan yaitu validitas, reliabilitas, objektivitas, kepraktisan, dan Tes dikatakan valid jika tes tersebut dapat memberikan informasi yang sesuai dan dapat digunakan untuk mencapai tujuan tertentu. Tes dikatakan reliabel jika tes tersebut selalu memberikan hasil yang sama pada waktu atau kesempatan yang Tes dikatakan objektif jika dalam pelaksanaannya, tidak ada faktor subjektif yang mempengaruhi, terutama dalam sistem Tes dikatakan ekonomis jika tes tersebut tidak membutuhkan banyak biaya, tenaga, dan waktu. Untuk mengetahui apakah tujuan pendidikan telah tercapai maka perlu diadakan proses evaluasi dalam kegiatan Menurut Davis . alam Dimyati, 2009: . mengemukakan bahwa: AuEvaluasi merupakan proses sederhana memberikan atau menetapkan nilai kepada sejumlah tujuan, kegiatan, keputusan, unjuk kerja, proses, orang, objek, dan masih banyak yang lainAy. Sedangkan Menurut Kusaeri . 2: . AuEvaluasi pendidikan merupakan suatu tindakan untuk menetapkan keberhasilan suatu program pendidikan, termasuk keberhasilan siswa dalam program pendidikan yang diikutiAy. Evaluasi pendidikan merupakan keberhasilan suatu program pendidikan termasuk keberhasilan siswa dalam program pendidikan yang diikuti, dengan demikian evaluasi pendidikan lebih menitikberatkan pada keberhasilan program atau kelompok siswa (Kusaeri, 2012: . Dalam pendidikan evaluasi memegang peran yang penting. Melalui evaluasi, kualitas pendidikan dan perkembangannya dapat dievaluasi dari waktu ke waktu. Penilaian dapat dilakukan di antaranya melalui kegiatan pengukuran. Untuk keperluan penilaian diperlukan alat penilaian yang bermacam-macam, seperti kuesioner, tes, skala, format observasi, dan lain-lain. Khusus untuk penilaian hasil belajar yang paling banyak digunakan adalah tes (Taruh, 2008: . Jurnal Vokasi. Vol 1 No. 2 Oktober 2017 ISSN : 2548-9410 (Ceta. | ISSN : 2548-4117 (Onlin. Jurnal hasil-hasil Penerapan IPTEKS dan Pengabdian Kepada Masyarakat Agar evaluasi dapat menghasilkan informasi yang akurat, tepat, dan relevan, maka alat evaluasi yang digunakan harus memenuhi persyaratan tes yang baik. Sebagaimana telah dikemukakan oleh Arikunto . 9: . bahwa: AuTes yang baik adalah tes yang tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sukar, sehingga baik buruknya suatu tes atau suatu alat evaluasi yang baik harus memenuhi persyaratan dari kesukaran, daya pembeda dan pengecoh atau distractor. Guru merupakan evaluator terdepan dalam memantau keberhasilan pendidikan. Selain itu, guru juga mempunyai potensi untuk dapat meningkatkan kualitas pendidikan, salah satu di antaranya dengan memperbaiki sistem evaluasi yang selama ini telahdigunakan. Potensi guru dalam evaluasi tersebut perlu diberdayakan, sehingga dapat menjadi ujung tombak untuk peningkatan kualitas tes yang merupakan parameter yang menjadi keberhasilan pemahaman konsep dan nilainilai dalam pelaksanaan pendidikan. Oleh karena itu, guru sebagai penyusun tes harus persyaratan-persyaratan tersebut agar diperoleh hasil yang diharapkan dalam upaya mengukur tingkat penguasaan masing-masing siswa pada materi yang telah diajarkan. Tes buatan guru adalah tes yang dibuat seorang guru untuk merumuskan bahan dan tujuan khusus untuk kelasnya sendiri dan masih dalam ruang lingkup sekolah tempat dia mengajar. Apabila memperoleh skor jelek, berarti bahwa tes yang disusun mungkin terlalu sukar. Sebaliknya jika seluruh siswa memperoleh skor baik, dapat diartikan bahwa tesnya terlalu mudah. Tentu saja interprestasi terhadap soal tes akan lain seandainya tes itu sudah disusun sebaik-baiknya sehingga memenuhi persyaratan sebagai tes. Dengan demikian maka apabila kita memperoleh keterangan tentang hasil tes, akan membantu kita dalam mengadakan penilaian secara objektif terhadap tes yang kita susun. Ketidakvalidan merugikan peserta didik, orang tua, dan sekolah tempat mereka belajar. Bagi peserta didik, hasil belajar atau nilai yang diperoleh merupakan gambaran tentang kemampuan mereka selama mengikuti mempengaruhi keberhasilannya untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat lebih tinggi dan dalam meniti kariernya di Tetapi pada kenyataannya masih ada beberapa guru yang belum cukup mampu membuat soal dengan baik. Kurniawati . membuat soal sampai saat ini masih rendah. Sehingga nilai peserta didik sebagai umpan balik dalam suatu proses pembelajaran tidak tercapai secara maksimal. Setiap guru penyusun tes diharapkan agar tes yang dibuatnya itu memiliki kualitas yang baik, dengan pengertian bila mana tes tersebut dioperasikan kepada sekelompok siswa nilainya akan bervariasi sesuai dengan kriteria yang diinginkan. Tetapi berdasarkan pengalaman . hasil evaluasi semester dari tahun ketahun skor yang diperoleh siswa cenderung bervariasi tidak memenuhi kriteria yang telah Apabila suatu tes dianalisa menunjukkan hampir semua siswa memperoleh skor jelek berarti bahwa tes yang disusun mungkin terlalu sukar. Sebaliknya jika semua siswa memperoleh skor yang baik dapat diartikan tesnya terlalu mudah. Hal ini akan berubah jika seandainya tes itu sudah disusun sebaik-baiknya persyaratan tes yang baik. Preston E. James . menyatakan, "Geography has sometimes been called the mother of science, since many fields of learning that started with observation of the actual face of the earth turned io'the study of specific processes wherever they might be located. " Dengan argumen di atas, bidang pengetahuan apa pun yang dipelajari pengamatan di permukaan bumi, sehingga cukup beralasan James menyatakan, "Geografi sebagai induk dari ilmuAy karena kegiatan hidup umat manusia tidak dapat dilepaskan dari permukaan bumi Sebagai bidang ilmu dan bidang studi. Geografi berlandaskan prosedur keilmuan, namun juga mengembangkan keilmuan tersebut. Pada perkembangan ilmu dewasa ini, tiap ilmu sudah tidak dapat mempertahankan Jurnal Vokasi. Vol 1 No. 2 Oktober 2017 ISSN : 2548-9410 (Ceta. | ISSN : 2548-4117 (Onlin. Jurnal hasil-hasil Penerapan IPTEKS dan Pengabdian Kepada Masyarakat teori, konsep, dan prinsipnya secara tertutup dan terisolasi. Perlintasan dan persilangan antarbidang ilmu, termasuk perlintasan dan persilangan geografi dengan ilmu lainnya, bukan hanya spontan dibiarkan terjadi, tetapi telah menjadi tuntutan kebutuhan. Hal ini disebabkan karena tugas yang diemban tiap bidang ilmu dalam menerapkan teori, konsep dan prinsipnya harus mencari alternatif pemecahan "masalah kehidupan yang bersifat sangat kompleks", sehingga menuntut bantuan penerapan berbagai bidang ilmu lain secara "When we study human society, we are confronted and solve them we cannot avoid crossing many academic boundary lines" (Mac,Kenzie, editor, 1986: . Demikian pula apa yang dialami, dan dihadapi geografi sebagai bidang ilmu serta bidang mengembangkan diri menjalin kerja sama dengan bidang-bidang ilmu, dan studi Melalui tata cara kerja yang demikian itu, geografi akan mampu mengembangkan sayap dan cakrawala Menurut Edy Purwanto dalam pidato guru besarnya tentang problematika pembelajaran geografi . mengatakan bahwa permasalahan yang sering dialami guru dalam hal penyusunan soal atau tes adalah kelemahan guru dalam merumuskan tujuan pembelajaran yang akan digunakan sebagai tolak ukur pencapaian. Kelemahan pertama para guru belum memahami hakikat kognitif, afektif dan psikomotor. Kelemahan berikutnya, karena geografi didominasi kognitif mereka kurang memahami hakikat C1. C2. C3. C4. C5, dan C6. Akibatnya, ketika menyusun soal hanya pada ranah C1 dan C2 saja sehingga terkesan hafalan. Realitas dilapangan juga menemukan guru dalam menyusun tes hanya berpatokan pada proporsi materi dan belum diketahui apakah tes yang digunakan tersebut telah tersusun atas butir-butir yang baik, sehingga menghasilkan tes yang terlalu mudah atau bahkan terlalu sulit. Tes yang terlalu mudah membuat siswa tidak terangsang untuk belajar lebih giat, menyebabkan siswa putus asa karena di luar jangkauan kemampuannya. Tidak ada usaha guru yang lebih baik selain usaha untuk selalu meningkatkan mutu tes yang Guru yang berpengalaman mengajar dan menyusun soal-soal tes yang akan diberikan kepada siswa. Juga masih sukar menyadari bahwa tesnya masih belum Dari uraian di atas sangat jelas bahwa pembinaan pembuatan soal tes buatan guru tercapainya tujuan pembelajaran. Kesalahan dalam pembuatan soal akan berpengaruh pada salahnya guru mengukur pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan, yang akhirmya tujuan dari pembelajaran yang seharusnya tidak tercapai. Kesalahan dalam pembuatan soal menjadikan evaluasi pembelajaran berantakan, dan jika hal ini dibiarkan begitu saja maka sistem pendidikan kita akan salah karena tidak mampu mengukur apa yang seharusnya Kota Langsa memiliki 15 SMA/MA dari Untuk pelaksanaan pengabdian ini serta tepat pada sasaran maka dipilihlah pengabdian ini MGMP Geografi SMA/MA Kota Langsa Berdasarkan wawancara awal dengan beberapa guru SMA/MA Langsa informasi bahwa jarang sekali ada kegiatan semacam ini sebelumnya. Padahal kegiatan seperti ini seharusnya sering dilakukan mengingat setiap guru diwajibkan untuk membuat soal pada saat waktu ujian akan Hal tersebut mengakibatkan soal yang dibuat kadang tidak sesuai dengan standar kelulusan, tingkat kognitif dan target capaian sekolah tersebut. Melihat kenyataan di atas pembinaan penyusunan soal tes buatan guru pada tingkat SMA/MA diharapkan memberikan banyak manfaat bagi guru SMA/MA yang ada di kota Langa. Selain meningkatkan kompetensi guru SMA/MA pelatihan penyusunan soal ini juga diharapkan dapat menjadi kegiatan yang berkesinambungan kompetensikompetensi guru lainnya sehingga akan menjadi awal yang baik bagi perbaikan mutu pendidikan di Langsa. Jurnal Vokasi. Vol 1 No. 2 Oktober 2017 ISSN : 2548-9410 (Ceta. | ISSN : 2548-4117 (Onlin. Jurnal hasil-hasil Penerapan IPTEKS dan Pengabdian Kepada Masyarakat Sebelum kegiatan dilaksanakan terlebih berdasarkan analisis situasi diperoleh bahwa respon guru geografi saat ditawarkan kegiatan tersebut sangat positif, hal ini dilihat dari partisipasi aktif guru selama mengikuti kegiatan sangat antusias. Peran aktif serta antusias guru yang tinggi dikarenakan pembinaan penyusunan tes buatan guru ini masih baru dan belum pernah dilakukan sebelumnya oleh MGMP Geografi. METODE PELAKSANAAN Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat Kegiatan pengabdian dilakukan dengan melakukan penguatan dengan melakukan pemahaman kembali mengenai faktor yang menjadi tujuan dalam mengadakan tes serta perumusan tujuan pembelajaran. Selain daripada itu peserta pembinaan diberikan penguatan mengenai rambu-rambu dalam hal menyusun instrument tes. Setelah mendapatkan penguatan mengenai ata cara pembuatan instrument tes yang baik dan benar, peserta pembinaan melakukan praktik, dan uji analisis tes. Pemahaman mengadakan tes dan pemahaman Pada tahap ini peserta mendapatkan penguatan bahwa tes dilakukan dengan tujuan untuk melakukan seleksi seperti seleksi dalam menentukan siswa mana yang berhak diterima dalam seleksi penerimaan siswa, menentukan siswa yang berhak untuk naik kelas, serta penerima beasiswa. Tes juga dapat digunakan untuk mendiagnosa serta sebagai bahan dalam melakukan penempatan dan pengukur Peserta juga diberikan penguatan untuk dapat menentukan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Instrument tes yang dibuat diharapakan dapat menyasar pada tujuan pembelajaran. Sehingga soal tes yang dibuat dapat memenuhi harapan dalam mencapai tujuan pembelajaran Evaluasi Proses ini dilakukan untuk mengetahui tahap-tahap pelaksanaan praktik yang dilakukan oleh peserta pembinaan telah sesuai dengan seharusnya. Selain daripada itu evaluasi dilakukan untuk menguji instrument tes yang dihasilkan telah dapat digunakan untuk melakukan pengujian atau harus direvisi kembali. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil dan luaran yang telah dicapai pada kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan topik Pembinaan Pembuatan Tes Buatan Guru (Soa. Mata Pelajaran Geografi SMA/MA Kota Langsa yang dapat meningkatkan pemahaman guru serta menghasilkan instrument evaluasi yang baik untuk tahap berikutnya. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan sebanyak 4 kali pertemuan di SMA Negeri 1 Kota Langsa. Pembinaan dilakukan dengan 6 materi mulai dari tujuan penyusunan tes, cara menyusun kisikisi tes, rambu-rambu penyusunan tes, praktek menyusun tes buatan guru hingga praktek analisis tes buatan guru. Adapun rincian kegiatan yang disampaikan pada kegiatan pengabdian masyarakat pada MGMP Geografi yaitu: Gambar 1. Pemberian penguatan tentang tujuan mengadakan tes dan perumusan tujuan pembelajaran Analisis Sebelum Kegiatan Pemahaman penyusunan kisi-kisi tes Jurnal Vokasi. Vol 1 No. 2 Oktober 2017 ISSN : 2548-9410 (Ceta. | ISSN : 2548-4117 (Onlin. Jurnal hasil-hasil Penerapan IPTEKS dan Pengabdian Kepada Masyarakat Kisi-kisi adalah suatu format berupa matriks yang membuat pedoman untuk menulis soal menjadi suatu tes. Kisi-kisi berfungsi sebgai pedoman dalam penulisan soal dan atau dalam melakukan pembuatan Dalam pertemuan ini juga dibahas mengenai tujuan penyusunan kisi-kisi. Kisikisi dibuat untuk menentukan ruang lingkup dan sebagai petunjuk dalam menulis soal. Sehingga soal yang dibaut tidak keluar dari tujuan dan harapan yang dituju dalam proses evaluasi. Selain daripada itu kemampuan siswa mengenai materi pembelajaran dapat terukur dengan baik. Pemateri menyampaikan bahwa syarat kisi-kisi yang baik antara lain mewakili isi kurikulum, kemampuan yang akan diujikan, komponen-komponen rinci, jelas dan mudah dipahami, soal yang dibuat sesuai dengan indikator dan bentuk soal yang Komponen-komponen penyusunan kisikisi tes prestasi belajar adalah sebagai jenis sekolah/jenjang sekolah, tingkat sekolah, bidang Studi / mata pelajaran, tahun pelajaran, jumlah soal, bentuk soal, standar kompetensi , kompetensi dasar, materi yang akan diujikan/dijadikan nomor urut soal . ika diperluka. satu atau lebih kata kerja operasional untuk soal uraian/tes perbuatan, dapat dibuatkan soal atau pengecohnya . ntuk soal pilihan gand. Penulisan indikator yang lengkap mencakup A = audience . eserta didi. B = behaviour . erilaku ditampilka. C = condition . ondisi yang diberika. , dan D = degree . ingkatan yang Ada dua model penulisan Model menempatkan kondisinya di awal kalimat. Model pertama ini digunakan untuk soal yang disertai dengan dasar pernyataan . , misalnya berupa sebuah kalimat, paragraf, gambar, denah, grafik, kasus, atau lainnya, sedangkan model yang kedua adalah menempatkan peserta didik dan perilaku yang harus ditampilkan di awal Model yang kedua ini digunakan untuk soal yang tidak disertai dengan dasar pertanyaan . pemahaman tentang rambu-rambu penyusunan tes. Pada pertemuan kali ini pemateri menjelaskan tentang rambu-rambu dalam penyusunan tes. Rambu-rambu tersebut dibagi menjadi dua tes yaitu tes uraian dan tes pilihan ganda. Rambu-rambu tes uraian untuk menulis butir soal tes bentuk uraian, yaitu sebagai berikut:Soal ditulis sedemikian rupa sehingga soal menjadi spesifik dan dapat ditangkap dengan jelas oleh peserta ujian. Pertanyaan uraian diawali dengan kata-kata bandingkan, dan hendaknya menghindari kata-kata seperti apa, kapan, atau siapa pada awal soal, sebab hanya akan memancing jawaban yang berupa reproduksi informasi belaka. Beberapa butir soal dengan jawaban relatif pendek-pendek lebih baik daripada satu soal tetapi memerlukan jawaban panjang. Hal ini berkaitan dengan masalah reliabilitas tes, yang makin banyak jumlah soal, makin tinggi koefisien reliabilitas soal Disarankan untuk tidak menulis butir soal bentuk pilihan pada soal tes uraian, kecuali penulis soal dapat memberikan bobot skor yang sama pada soal-soal yang diberikan. Soal disusun secara berseri dari yang sederhana sampai Indikator dalam kisi-kisi merupakan pedoman dalam merumuskan soal yang Kegiatan perumusan indikator soal merupakan bagian dari kegiatan penyusunan kisi-kisi. Untuk merumuskan indikator dengan tepat, guru harus memperhatikan materi yang akan diujikan, indikator pembelajaran, kompetensi dasar, dan standar kompetensi. Indikator yang baik dirumuskan secara singkat dan jelas. Syarat indikator yang baik: Menggunakan kata kerja operasional . erilaku khusu. yang tepat, operasional untuk soal objektif, dan Jurnal Vokasi. Vol 1 No. 2 Oktober 2017 ISSN : 2548-9410 (Ceta. | ISSN : 2548-4117 (Onlin. Jurnal hasil-hasil Penerapan IPTEKS dan Pengabdian Kepada Masyarakat ke yang kompleks, dari soal yang relatif mudah, makin lama makin sulit, dan diakhiri dengan soal yang paling sulit, yaitu soal evaluasi. Selain rambu-rambu tersebut di atas, perlurumusan soal tes uraian yang menggunakan kata tanya atau perintah yang menuntut jawaban uraian, seperti mengapa, jelaskan, uraikan, tafsirkan, dan sebagainya, serta rumusan soal tes uraian perlu menggunakan bahasa yang sederhana dan sesuai kaidah bahasa yang berlaku. siswa terhadap arti pernyataan yang Untuk ke-terampilan bahasa, penggunaan negatif ganda diperbolehkan kalau yang ingin diukur justru pengertian tentang negatif ganda itu sendiri. Pilihan jawaban harus homogen dan logis ditinjau dari segi materi. Artinya semua pilihan jawaban harus berasal dari materi yang sama seperti yang ditanyakan oleh pokok soal, penulisannya harus setara, dan semua pilihan jawaban harus berfungsi. Panjang rumusan pilihan jawaban harus relatif sama. Kaidah ini diperlukan karena adanya kecenderungan siswa untuk memilih jawaban yang paling panjang, karena seringkali jawaban yang lebih panjang itu lebih lengkap dan merupakan kunci jawaban. Pilihan jawaban jangan mengandung pernyataan. AuSemua pilihan jawaban di atas salahAy, atau AuSemua pilihan jawaban di atas benarAy. Artinya dengan adanya pilihan jawaban seperti ini, maka secara materi pilihan jawaban berkurang satu, karena pernyataan itu bukan merupakan materi yang ditanyakan. Pilihan jawaban yang berbentuk angka atau waktu harus disusun berdasarkan urutan besar kecilnya nilai angka tersebut, atau kronologis waktunya. Pengurutan angka dilakukan dari nilai angka paling kecil ke nilai angka paling besar atau sebaliknya, dan pengurutan waktu berdasarkan kronologis waktunya. Pengurutan tersebut dimaksudkan untuk memudahkan siswa melihat pilihan jawaban. Gambar, grafik, tabel, diagram dan sejenisnya yang terdapat pada soal harus jelas dan berfungsi. Artinya, apa saja yang menyertai suatu soal yang ditanyakan harus jelas, terbaca, dapat dimengerti oleh siswa. Apabila soal tersebut tetap bisa dijawab tanpa melihat gambar, grafik, tabel atau sejenisnya yang terdapat pada soal, berarti gambar, grafik, tabel tersebut tidak Butir soal jangan bergantung pada jawaban soal sebelumnya. Keter-gantungan pada soal sebelumnya menyebabkan siswa yang tidak dapat menjawab benar soal pertama tidak akan dapat pula menjawab benar soal berikutnya. Setiap soal harus menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Jangan menggunakan bahasa Rambu-rambu tes pilihan ganda Pemateri mengenai rambu-rambu tes pilihan ganda dimana soal harus menanyakan perilaku dan materi yang hendak diukur sesuai dengan tuntutan indikator. Selain itu soal harus mempunyai satu jawaban yang benar atau yang paling benar. Artinya, satu soal hanya mempunyai satu kunci jawaban. Jika terdapat beberapa jawaban yang benar, maka kunci jawaban yang paling benar. Pokok soal harus dirumuskan secara jelas dan tegas. Artinya kemampuan/ materi yang hendak diukur/ditanyakan harus jelas, tidak menimbulkan pengertian atau penafsiran yang berbeda dari yang mengandung satu persoalan untuk setiap Bahasa yang digunakan harus komunikatif, sehingga mudah dimengerti Apabila tanpa harus melihat dahulu pilihan jawaban, siswa sudah dapat mengerti pertanyaan/maksud pokok soal, maka dapat disimpulkan bahwa pokok soal tersebut sudah jelas. Rumusan pokok soal dan pilihan jawaban harus merupakan pernyataan yang diperlukan saja. Artinya apabila terdapat rumusan atau pernyataan yang sebetulnya tidak diperlukan, maka rumusan atau pernyataan tersebut dihilangkan saja. Pokok soal jangan memberi petunjuk ke arah jawaban benar. Artinya pada pokok soal jangan sampai terdapat kata, frase, atau ungkapan yang dapat memberikan petunjuk ke arah jawaban yang benar. Pokok soal jangan mengandung pernyataan yang bersifat negatif ganda. Artinya, pada pokok soal jangan sampai terdapat dua kata atau lebih yang mengandung arti negatif. Hal ini untuk mencegah terjadinya kesalahan penafsiran Jurnal Vokasi. Vol 1 No. 2 Oktober 2017 ISSN : 2548-9410 (Ceta. | ISSN : 2548-4117 (Onlin. Jurnal hasil-hasil Penerapan IPTEKS dan Pengabdian Kepada Masyarakat yang berlaku setempat, jika soal akan digunakan untuk daerah lain atau Pilihan jawaban jangan mengulang kata atau frase yang bukan merupakan satu kesatuan pengertian. Reliabilitas tes yang dilakukan untuk menguji apakah soal dapat digunakan untuk beberapa kali evaluasi. Sehingga untuk mengetahui hal tersebut harus dilakukan beberapa tes antara lain tes ulang, tes paralel dan tes belah dua. Analisis tiap butir soal Untuk mengetahui kualitas soal dalam proses evaluasi maka harus dilakukan juga analisis pada tiap butir soal. Hal tersebut dilakukan dengan melakukan beberapa Pengujian tersebut antara lain uji daya beda yang bertujuan untuk melihat perbedaan siswa kelompok tinggi dan rendah, uji kesukaran untuk melihat soal yang terlalu sukar dan terlalu mudah, pengecoh, serta homogenitas untuk melihat korelasi antara skor yang benar tiap butir soal dengan skor total. Praktik penyusunan soal Setelah mendapatkan penguatan berupa materi-materi dalam penyusunan tes seperti tujuan pembelajaran, tujuan pembuatan tes, pembuatan kisi-kisi, serta rambu-rambu penyusunan tes. Peserta pembinaan melakukan praktik penyusunan tes secara langsung untuk mengaplikasikan materi yang telah didapatkan tersebut. Peserta diharapakan dapat membuat istrumen tes yang sesuai dengan kaedah dari materimateri yang telah disampaikan. Gambar 2. Praktik Penyusunan Soal Pemahaman tentang analisis tes Gambar 3. Pemahaman mengenai analisis Pemateri sekaligus praktek tentang analisis tes. Analisis tes ini dibagi menjadi dua bagian yaitu analisis keseluruhan tes dan tiap butir Analisis keseluruhan tes terdiri dari validitas dan reliabilitas. Sedangkan analisis tiap butir soal terdiri dari daya pembeda. Analisis keseluruhan tes Analisis validitas terdiri dari validitas permukaan yang membahas rasional pertimbangan rasio mencangkup bahasa, jawaban, dan kaidah penulisan. validitas isi yang membahas tentang kesesuaian dengan kisi-kisi dan GBPP. Validitas ramalan dengan tujuan melihat sejauh mana hasil tes dapat meramal keberhasilan siswa dimasa menyusun tes yang sudah baik menjadi instrument tespada RPP atau bahan ajar sekaligus evaluasi Setelah dilakukan penguatan teori-teori dalam penyusunan tes serta dilakukan praktikum pembuatan tes dan dinyatakan Maka tahap terakhir dalam kegiatan ini adalah penyusunan tes-tes yang susah baik menjadi instrumen tes yang siap Setelah itu dibagikan angket evaluasi untuk mengevaluasi kegiatan pembinaan pembuatan tes buatan guru . mata pelajaran geografi sma/ma kota Serta menjaring saran dan kritik untuk kegiatan-kegiatan selanjutnya. Jurnal Vokasi. Vol 1 No. 2 Oktober 2017 ISSN : 2548-9410 (Ceta. | ISSN : 2548-4117 (Onlin. Jurnal hasil-hasil Penerapan IPTEKS dan Pengabdian Kepada Masyarakat Geografi Semester Dua Kelas X di SMA Negeri Kepanjen Kabupaten Malang Tahun Ajaran 2007/2008. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: FMIPA Universitas Negeri Malang . Kusaeri dan Suprananto. Pengukuran Penilaian Pendidikan. Yogyakarta: Graha Ilmu. Purwanto. Edy. Problematika Pembelajaran Geografi (Pidato Pengukuhan Guru Besar dalam Bidang Ilmu Pembelajaran Geografi Pada Fakultas Ilmu Sosial Disampaikan Pada Sidang Terbuka Senat Universitas Negeri Malang Tanggal 6 Mei 2. Malang: Universitas Negeri Malang. Susilo. Lesson Studi Berbasis Sekolah: Guru Konservatif Menuju Guru Inovatif. Malang. Bayumedia . Taruh. Enos. Penilaian Hasil Belajar. Universitas Negeri Gorontalo KESIMPULAN Berdasarkan kegiatan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa pemahaman guru mengenai kriteria tes buatan guru sudah sangat baik. Hal ini dilihat dari antusias guru dalam mengikuti kegiatan dan komitmen guru untuk pembelajaran geografi di sekolah. Soal yang dibuat juga telah memenuhi syarat yang dibutuhkan untuk dapat digunakan dalam melakukan pengujian . yang dalam hal ini adalah evaluasi dalam Sedangkan pembinaan yang berkelanjutan untuk MGMP Geografi Kota Langsa untuk geografi di tingkat SMA/MA. REFERENSI