TEMATIK Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. Januari 2026, pp. 173 Ae 180 e-ISSN: 2775-3360 https://journals. id/index. php/tematik npage 173 Internalisasi 7 Strategi Kebiasaan Anak Hebat Indonesia Sebagai Dasar Pembentukan Kepribadian Tri Leksono Prihandoko*1. Sri Sayekti2. Sri Redjeki3. DAK Handayani4. Hafid A5 Universitas Ivet Semarang trileksono1965@gmail. com1 , sayekti161@gmail. com2 , redjeki06@gmail. com3 , dakhandayani. 64@gmail. Informasi Artikel Abstrak Diterima : 02-11-2025 Direview : 03-11-2025 Disetujui : 30-01-2026 Pembentukan karakter pada anak merupakan hal yang sangat penting dalam pembangunan sumber daya manusia di Indonesia, terutama ketika dihadapkan dengan tantangan di abad ke-21 yang perlu keseimbangan antara kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Salah satu pendekatan yang sedang berkembang adalah meningkatkan kebiasaan baik sejak dini melalui konsep 7 Jurus Kebiasaan Anak Hebat Indonesia yang mencakup. bangun pagi, melakukan ibadah sesuai keyakinan, berolahraga, konsumsi makan sehat dan bergizi, gemar belajar, aktif bermasyarakat dan tidur tepat waktu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan penerapan 7 jurus kebiasaan anak hebat Indonesia serta menganalisis kontribusinya dalam penguatan karakter anak. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif melalui kajian literatur dan observasi yang terbatas pada pendidikan dasar. Teknik pengumpulan data meliputi dokumentasi, observasi, dan analisis kebijakan pendidikan karakter. Temuan penelitian menunjukkan bahwa penerapan kebiasaan positif secara konsisten melalui contoh perilaku, pembiasaan, dan penguatan lingkungan belajar sangat berpengaruh terhadap perkembangan karakter dan sikap belajar anak. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan untuk pengembangan program pendidikan karakter yang berfokus pada kebiasaan positif di lingkungan sekolah dan dalam keluarga. Kata Kunci Pembentukan Karakter. Kebiasaan Positif. Tujuh Jurus Anak Hebat Indonesia. PENDAHULUAN Pendidikan merupakan langkah penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia suatu bangsa. dalam konteks globalisasi dan kemajuan teknologi yang cepat, pendidikan kini tidak hanya fokus pada hasil akademik, melainkan juga dalam pembentukan kepribadian, etika atau nilai moral, dan kemampuan hidup . ife skill. yang sesuai dengan kebutuhan abad ke-21. karakter yang kokoh menjadi dasar utama bagi setiap individu untuk dapat beradaptasi, berpikir kritis, dan bertindak secara cerdas dalam menghadapi berbagai perubahan dalam masyarakat (Kemendikbud, 2. Salah satu metode yang dianggap berhasil dalam pengembangan karakter adalah proses membangun kebiasaan baik . abit formatio. karakter tidak hanya muncul dari komunikasi moral, melainkan melalui kebiasaan yang diulang, disadari, dan didukung oleh e-ISSN: 2775-3360 lingkungan sekitar. kebiasaan baik yang diajarkan sejak usia dini akan mempengaruhi pola pikir, sikap, dan tindakan anak dalam rentang waktu yang panjang (Fadhilah, 2. Permasalahan mengenai karakter dan kebiasaan baik anak sejak dini telah menjadi perhatian utama dalam dunia pendidikan modern di indonesia. melalui kementerian pendidikan dan kebudayaan, pemerintah menginisiasi gerakan 7 kebiasaan anak indonesia hebat sebagai sebuah pendekatan nasional untuk mempersiapkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki karakter yang kokoh, kesehatan fisik dan mental yang baik, serta tingkat kesadaran sosial yang tinggi menjelang indonesia emas 2045 (Jannah. Tujuh kebiasaan anak indonesia hebat adalah sebuah ide yang dirancang untuk mengarahkan anak-anak dalam mengembangkan kebiasaan positif yang akan membantu mereka dalam pertumbuhan sehari-hari. kebiasaan ini diharapkan mampu menumbuhkan perilaku yang baik, terutama terkait disiplin, yang merupakan bagian vital dalam mencapai sukses pendidikan di zaman digital (Syahni, 2. Penerapan 7 Kebiasaan Anak Hebat Indonesia seperti bangun pagi, melakukan ibadah, berolahraga, mengonsumsi makanan sehat, gemar belajar, terlibat di masyarakat, dan tidur pada waktu yang tepat menjadi inisiatif nasional dalam membentuk karakter serta kemampuan abad ke-21 dalam konteks sekolah kejuruan seperti SMK (Nuraeni, 2. Meskipun konsep 7 kebiasaan anak luar biasa indonesia sudah banyak diperkenalkan dalam aktivitas pendidikan dan pengabdian masyarakat, kegiatan ilmiah yang membahas topik ini secara terstruktur masih relatif Oleh karena itu, 7 kebiasaan anak Indonesia hebat sebagai strategi dalam membangun karakter anak dalam pendidikan dasar dan menengah Berdasarkan penjelasan tersebut, tujuan kegiatan pengabdian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana 7 kebiasaan anak luar biasa indonesia diterapkan serta menganalisis kontribusinya dalam membentuk karakter dan kebiasaan belajar anak. diharapkan hasil kegiatan ini dapat menjadi sumber rujukan akademis dan praktis bagi pengajar, orang tua, serta pembuat kebijakan Pendidikan dan bisa di tindaklanjuti melalui suatu penelitian. METODE Kegiatan ini menggunakan pendekatan partisipatif dan Asset Based Community Development (ABCD) yang bertujuan untuk menggambarkan secara mendalam proses internalisasi 7 kebiasaan anak hebat Indonesia sebagai upaya pembentukan karakter pada peserta didik. Pendekatan ini dipilih karena kegiatan ini berfokus pada proses, makna, serta perubahan perilaku yang muncul dari penerapan kebiasaan positif dalam lingkungan Kegiatan dilaksanakan di SMP Kesatrian 2 Semarang dengan melibatkan peserta didik dan warga sekolah sebagai subjek penelitian. Proses internalisasi kebiasaan dilakukan melalui kegiatan pembiasaan harian, keteladanan guru, serta penguatan nilai karakter yang terintegrasi dalam kegiatan pembelajaran dan budaya sekolah. Peneliti melakukan pengamatan langsung terhadap pelaksanaan kebiasaan, seperti kedisiplinan waktu, sikap tanggung jawab, kepedulian sosial, serta partisipasi peserta didik dalam kegiatan sekolah. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, dokumentasi, dan studi Observasi digunakan untuk melihat secara langsung perilaku dan kebiasaan peserta didik dalam kehidupan sekolah melalui buku kegiatan sehari-hari melalui buku monitoring. TEMATIK : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. Januari 2026 e-ISSN: 2775-3360 Dokumentasi meliputi pengumpulan data berupa program sekolah, jadwal kegiatan pembiasaan, serta dokumen pendukung pendidikan karakter di sekolah dan khusus nya di rumah dengan melihat buku monitoring 7 kebiasaan anak Indonesia hebat. Studi literatur digunakan untuk memperkuat landasan teoritis yang berkaitan dengan pendidikan karakter, pembentukan kebiasaan berupa jurnal ilmiah, artikel, dan dokumen lain yang terkait. Artikel ilmiah yang diterbitkan di situs Google Scholar menjadi sumber utama dalam penelitian ini. Tabel 1. Tahapan kegiatan pengabdian No. Tahapan Kegiatan Tahap I Kegiatan Pengabdian Melakukan mengidentifikasi kondisi karakter dan kebiasaan peserta didik di sekolah. Koordinasi Kebiasaan Anak Hebat Indonesia. Menyusun instrumen observasi dan pedoman Tahap II Mengamati penerapan kebiasaan positif dalam aktivitas sekolah dan di rumah sehari-hari. Mengidentifikasi keteladanan, dan penguatan karakter yang dilakukan guru dan orangtua di rumah. Mendokumentasikan kegiatan yang mendukung internalisasi 7 Kebiasaan Anak Hebat Indonesia. Tahap i Menganalisis Mengevaluasi ketercapaian penerapan kebiasaan positif terhadap pembentukan karakter peserta Menyusun laporan hasil . Data yang diperoleh dianalisis menggunakan teknik analisis kualitatif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Reduksi data dilakukan dengan memilih informasi yang relevan. Selanjutnya, data disajikan dalam bentuk uraian deskriptif untuk memudahkan pemahaman. Tahap akhir dilakukan dengan menarik kesimpulan berdasarkan pola perilaku dan temuan yang muncul TEMATIK : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. Januari 2026 e-ISSN: 2775-3360 selama proses kegiatan. Untuk menjaga keabsahan data, kegiatan ini menerapkan triangulasi teknik dan sumber, yaitu dengan membandingkan hasil observasi, dokumentasi, dan kajian literatur. Dengan demikian, data yang diperoleh diharapkan memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi dan mampu menggambarkan kondisi penerapan 7 Kebiasaan Anak Hebat Indonesia secara objektif di SMP Kesatrian 2 Semarang. HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan kegiatan 7 kebiasaan anak hebat pada bulan September 2025 sampai dengan pebruari 2026, di SMP Kesatrian 2 Semarang, dengan peserta didik kelas 7,8 dan 9 diambil secara acak oleh guru bk berdasar catatan anekdot yang ada di data base bimbingan dan konseling yang berjumlah 32 siswa. Kegiatan berjalan dengan penuh antusias dari peserta didik dalam penerapan 7 kebiasaan anak hebat indonesia. Kegiatan ini di dampingi oleh guru bimbingan dan konseling. Penerapan 7 kebiasaan anak hebat Indonesia di SMP Kesatrian 2 Semarang telah dilaksanakan secara terintegrasi melalui budaya sekolah, kegiatan pembelajaran, dan keteladanan guru. Kebiasaan tersebut tidak berdiri sebagai program terpisah, melainkan dibiasakan dalam aktivitas sekolah sehari-hari sehingga membentuk pola perilaku positif pada peserta didik. Kebiasaan disiplin, seperti bangun pagi dan datang tepat waktu, berdampak pada meningkatnya kesiapan belajar dan tanggung jawab peserta didik. Pembiasaan ibadah sesuai keyakinan masing-masing berkontribusi pada pembentukan sikap religius, pengendalian diri, serta sikap saling menghargai (Fadhilah ,2. Selain itu, kebiasaan berolahraga dan menjaga pola makan sehat mendukung kondisi fisik dan mental peserta didik sehingga mereka lebih aktif dan fokus dalam mengikuti pembelajaran. Kebiasaan gemar belajar terlihat dari meningkatnya partisipasi peserta didik dalam kegiatan pembelajaran, baik melalui keaktifan bertanya maupun keterlibatan dalam diskusi. Hal ini menunjukkan berkembangnya keterampilan berpikir kritis dan rasa ingin tahu yang menjadi bagian penting dari keterampilan abad ke-21. Sementara itu, kebiasaan aktif bermasyarakat tercermin melalui sikap kerja sama, kepedulian sosial, dan kemampuan berinteraksi secara positif antarwarga sekolah. Berdasarkan hasil angket yang diisi oleh 32 siswa SMP, diperoleh gambaran umum bahwa kegiatan sosialisasi 7 jurus anak hebat mendapatkan respons yang sangat positif dari Secara keseluruhan, mayoritas responden memilih kategori setuju . dan sangat setuju . pada setiap pernyataan yang diajukan. Evaluasi dilakukan menggunakan skala likert dengan 4 kategori : sangat setuju . , setuju . , tidak setuju . , dan sangat tidak setuju . TEMATIK : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. Januari 2026 e-ISSN: 2775-3360 Tabel 2. Hasil Persentase Kuesioner No. Indikator Pertanyaan STS Materi Mudah Dipahami 66,7% 33,3% Kesesuaian Materi Dengan Kehidupan 33,3% 66,7% 4,8% 57,1% 42,9% 71,4% 28,6% 33,3% 66,7% 4,8% 47,6% 47,6% 4,8% Siswa SMP Menambah Pengetahuan Dan Wawasan Kemanfaatan Materi Untuk Kehidupan Sehari-Hari Motivasi Untuk Disiplin Dan Bertanggung Jawab Penyampaian Meteri Jelas Dan Mudah Dimengerti Bahasa Yang Digunakan Sederhana 47,6% 52,4% Kegiatan Menarik Dan Tidak Membosankan 38,1% 57,1% Memahami Nilai-Nilai Positif Materi 33,3% 71,4% Keinginan Menerapkan Dalam Kehidupan 28,6% 66,7% 4,8% Hasil dari survey menunjukkan bahwa indikator pemahaman materi mendapat respons yang sangat positif. Sebanyak 66,7% dari responden menyatakan bahwa mereka sangat setuju bahwa materi "7 jurus anak hebat" mudah dipahami. Ini diperkuat dengan penggunaan bahasa yang simpel . % gabungan SS dan S) serta penyampaian informasi yang jelas oleh pihak narasumber. Kejelasan dalam menyampaikan informasi adalah faktor krusial dalam keberhasilan penyaluran pengetahuan, khususnya bagi remaja (SMP). Materi ini dianggap memiliki relevansi yang tinggi dengan kehidupan para siswa. Sebagian besar responden . ,4%) sangat setuju bahwa materi ini memberikan manfaat dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun ada 4,8% . yang merasa materi ini kurang cocok dengan kehidupan siswa SMP, namun secara keseluruhan, data menunjukkan bahwa "7 jurus anak hebat" berhasil menyentuh aspek praktis dalam kehidupan siswa, bukan hanya teori. Salah satu tujuan utama dari sosialisasi adalah internalisasi nilai-nilai. Data menunjukkan bahwa materi ini mampu memicu motivasi siswa untuk lebih disiplin dan TEMATIK : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. Januari 2026 e-ISSN: 2775-3360 bertanggung jawab . ,2% memberikan respon positi. Yang paling penting adalah adanya keinginan . dari siswa untuk menerapkan materi tersebut, dimana 95,3% responden berkomitmen untuk mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Ini menunjukkan bahwa aktivitas sosialisasi tidak hanya berhenti di ranah kognitif, tetapi juga meluas ke ranah afektif dan konatif. Aspek seberapa menarik atau membosankannya suatu aktivitas sangat mempengaruhi seberapa baik informasi dapat diingat. Total nilai 95,2% pada indikator "aktivitas yang menarik dan tidak menjemukan" menunjukkan bahwa cara penyampaian yang dipilih berhasil. Pemanfaatan media atau interaksi saat sosialisasi dapat mempertahankan perhatian siswa smk yang biasanya memiliki rentang fokus yang berubahubah. Buku monitoring implementasi 7 Strategi Anak Indonesia Hebat merupakan alat pendukung yang dirancang untuk pembelajaran karakter, terutama bagi siswa di Sekolah Menengah Pertama (SMP) dengan tujuan membentuk kebiasaan baik lewat refleksi dan pencatatan kegiatan harian secara terstruktur. Buku ini berperan sebagai sarana untuk evaluasi diri yang mendorong siswa dalam meningkatkan kesadaran mengenai perilaku, tanggung jawab individu, serta kemampuan untuk mengelola diri secara berkesinambungan. Penguatan karakter pendidikan saat ini menjadi perhatian utama dalam pendidikan nasional, khususnya melalui penerapan Profil Pelajar Pancasila yang menekankan 6 aspek penting seperti keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, keberagaman global, kerja sama, kemandirian, pemikiran kritis, dan kreativitas. Aspek-aspek ini menjadi fondasi untuk mengembangkan kebiasaan baik yang bisa diterapkan secara nyata dalam keseharian siswa (Munawir & Lailiyah, 2. Konsep monitoring dalam buku ini juga berlandaskan pada pendekatan pembentukan kebiasaan . abit formatio. yang menggambarkan pembentukan karakter melalui pengulangan tindakan positif secara teratur sehingga menjadi bagian dari identitas Penelitian menunjukkan bahwa penanaman nilai karakter melalui aktivitas rutin dapat memperkuat internalisasi nilai moral serta meningkatkan disiplin siswa baik dalam proses pembelajaran maupun dalam interaksi sosial (Ningsih, 2. Gambar 1. Dokumentasi Setelah Layanan TEMATIK : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. Januari 2026 e-ISSN: 2775-3360 Gambar 2. Pemberian Layanan Bimbingan klasikal KESIMPULAN Penerapan 7 kebiasaan anak yang hebat di SMP Kesatrian 2 Semarang memperlihatkan dampak yang baik dalam membangun karakter siswa. Dari hasil angket dan pengamatan, sebagian besar siswa menunjukkan pemahaman yang mendalam tentang materi, merasakan langsung manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari, serta memiliki semangat yang tinggi untuk mengadopsi kebiasaan positif. Kebiasaan yang dilakukan secara terpadu lewat budaya sekolah dan proses belajar terbukti dapat meningkatkan disiplin, rasa tanggung jawab, kepedulian sosial, dan partisipasi aktif dalam pembelajaran. Dari sudut pandang teori, studi ini menguatkan bahwa pendekatan karakter yang berlandaskan nilai-nilai kebiasaan memiliki peranan penting dalam mengasah keterampilan di abad ke-21. Dalam aspek praktis, temuan kegiatan ini memberi gambaran bahwa kesuksesan pelaksanaan program karakter memerlukan dukungan lingkungan sekolah yang berkelanjutan, cara penyampaian yang menarik, dan contoh yang baik dari para pendidik serta orangtua. Kegiatan berikutnya direkomendasikan untuk mengevaluasi efektivitas program dalam jangka panjang agar dampak dari pembentukan karakter dapat diteliti lebih Program pengabdian masyarakat ini dilatarbelakangi oleh rendahnya internalisasi nilai karakter siswa di SMP Kesatrian 2 Semarang, seperti disiplin, tanggung jawab, dan pengendalian diri di era digital. Kegiatan ini bertujuan mengembangkan karakter murid melalui pelatihan AuTujuh Jurus Anak Indonesia HebatAy. Metode yang digunakan meliputi pendekatan partisipatif dan Asset Based Community Development (ABCD) melalui sosialisasi, pelatihan, praktik, serta monitoring menggunakan buku saku kegiatan harian. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kesadaran diri, kedisiplinan, kemampuan refleksi, dan kontrol perilaku siswa. Program ini disimpulkan efektif sebagai model pembinaan karakter yang sistematis dan aplikatif, serta perlu didukung pendampingan dan monitoring berkelanjutan agar nilai karakter terinternalisasi secara optimal TEMATIK : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. Januari 2026 e-ISSN: 2775-3360 DAFTAR PUSTAKA