Jurnal Kajian Ekonomi dan Kebijakan Publik. Vol. Januari 2022 Dikirim: 8 September 2021. Diterima: 20 September 2021 ISSN: 2527-2772 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERTUMBUHAN EKONOMI DI INDONESIA TAHUN 1990-2019 Eras Destian 1* dan Lorentino Togar Laut 2 Program Studi Ekonomi Pembangunan. Fakultas Ekonomi. Universitas Tidar Jl. Kapten Suparman No. Potrobangsan. Kec. Magelang Utara. Kota Magelang. Jawa Tengah - 56116 *Korespondensi Penulis: erasdestian656@gmail. Abstract: Economic growth is an indicator used to assess the condition of a country's economic The purpose of this study is to determine the factors that influence economic growth in Indonesia in 1990-2019. This study uses the Error Correction Model (ECM) data analysis method. The results of this study indicate that in the short term the PMA variable has no significant positive effect. The export variable has a positive and significant effect. Import variables and the balance of transactions have a significant negative effect on GDP. Meanwhile, in the long term the PMA variable has a positive and insignificant effect. The export variable has a negative and significant effect. The import variable has a negative and significant effect. The current account variable has a negative and insignificant effect on GDP in Indonesia. Keywords: Current Account. Export. FDI. GDP. Import ________________________________________________________________________________ PENDAHULUAN Pertumbuhan ekonomi menjadi bagian komponen guna menilai dan mengevaluasi kondisi pembangunan ekonomi pada sebuah negara. Pertumbuhan ekonomi suatu negara terjadi apabila terjadi pendapatan nasional yang meningkat serta kenaikan output. Meningkatnya pendapatan nasional tersebut bisa dilihat dari banyaknya total Produk Domestik Bruto (PDB) yang diperoleh per tahun. Mankiw . mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi adalah tolak ukur guna melihat seberapa tinggi keberhasilan pembangunan ekonomi sebuah negara serta menjadi alat untuk menentukan kebijakan pembangunan berikutnya. Pertumbuhan ekonomi di negara berkembang diiringi dengan berbagai permasalahan, salah satunya faktor global. Krisis keuangan global yang terjadi akibat gejolak ekonomi memicu timbulnya ketidakseimbangan eksternal . xternal imbalanc. pada sejumlah negara, salah satunya di Indonesia. Ketidakseimbangan eksternal tersebut disebabkan karena ekspor Indonesia mengalami pelemahan yang ditandai lemahnya permintaan rekan niaga Indonesia pada barang ekspor serta lemahnya tingkat harga produk ekspor. Berdasarkan data dari world bank, grafik Produk Domestik Bruto Indonesia tahun 1990-2019 sebagai berikut : PDB % Gambar 1. Produk Domestik Bruto Indonesia 1990-2019 Sumber: World Bank, diolah Dari grafik di atas, diketahui jika Produk Domestik Bruto (PDB) di tahun 1990-1997 terjadi naik turun setiap tahunnya. Tahun 1998 Produk Domestik Bruto (PDB) terkontraksi atau minus hingga - Jurnal Kajian Ekonomi dan Kebijakan Publik. Vol. Januari 2022 1% dikarenakan krisis ekonomi terjadi. Tahun 2000-2011 Produk Domestik Bruto (PDB) mulai terjadi pemulihan serta percepatan pertumbuhan ekonomi disebabkan karena tingginya harga komoditas di tahun 2000-an. Pada tahun 2009 Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia mengalami penurunan 4,6%, yang artinya jika tingkat kenaikan PDB Indonesia ialah salah satu yang terbaik pada tahun tersebut. Walaupun perlambatan dan stagnasi terjadi pada tahun 2011-2019. Di dalam salah satu struktur neraca pembayaran terdapat Neraca Transaksi Berjalan. Neraca transaksi berjalan yakni catatan pendapatan investasi, perniagaan, serta transaksi banyak Negara (Gerber, 2. Kenaikan pada neraca transaksi berjalan terjadi apabila ekspor lebih tinggi dibandingkan impor yang disebut dengan surplus sedangkan jika terjadi penurunan disebut defisit karena tingginya kegiatan impor. Perkembangan neraca transaksi berjalan . urrent account balanc. tiap tahunnya cenderung terjadi fluktuatif. Pada tahun 1998-2011, terjadi keadaan surplus pada neraca transaksi berjalan Indonesia dalam jangka waktu yang cukup panjang. Angka surplus tertinggi ini terjadi pada tahun 2000 sebesar 4. Sedangkan Indonesia terjadi defisit transaksi berjalan pertama dari tahun 1998 ialah di awal tahun 2012, dimana angka defisitnya sebesar 2,6% dari total PDB. Pada tahun 2012-2019 angka defisit tertinggi pada tahun 2013 18% yang dipicu oleh perlambatan kinerja perdagangan sehingga mengurangi kegiatan ekspor dan impor antar negara. Kondisi defisit neraca transaksi berjalan memiliki dampak yang saling berkaitan yaitu menyebabkan penurunan pendapatan nasional yang diikuti dengan menurunnya tingkat kegiatan ekonomi. Dalam transaksi berjalan terdapat dua komponen penting yaitu aktivitas ekspor-impor dan investasi asing (PMA). Pembangunan terstruktur yang dicanangkan oleh pemerintah Indonesia dapat mendorong pertumbuhan aliran modal masuk ke Indonesia melalui Investasi asing. Investasi asing berperan penting dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi berkualitas karena dapat memberikan efek positif terhadap pembangunan ekonomi. Perkembangan investasi asing Indonesia cenderung berfluktuatif dimana pada tahun 1998-2001 mengalami penurunan drastis dikarenakan krisis ekonomi yang berdampak pada aliran modal asing dimana membuat tingginya risiko berinvestasi di Indonesia. Namun, pada tahun 2002 investasi asing cenderung fluktuatif dan mulai mengalami Hasil penelitian yang dilaksanakan Tran. , & Hoang . mengemukakan bukti bahwa tumbuhnya perekonomian dipengaruhi investasi asing dengan hasil positif signifikan, hasil penelitian Jufrida. Syechalad. , & Nasir . mengatakan bahwa investasi asing tidak berdampak pada pertumbuhan ekonomi. Artinya, berdasarkan teori yang ada dampak investasi asing pada pertumbuhan ekonomi didasarkan pada keadaan spesifik masing-masing negara. Hal yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi selain investasi asing ialah kegiatan ekspor. Perdangan Internasional tidak lepas dari kegiatan ekspor serta impor sebuah barang dan jasa. Apabila sebuah negara melaksanakan lebih banyak ekspor dibandingkan impor maka penghasilan negara itu dapat meningkat yang akan memberikan pengaruh positif pada tumbuhnya Pada penelitian ini selaras pada penelitian Bruckner . pula mengemukakan jika pada wilayah Sub-Saharan Africa kegiatan ekspor mempengaruhi tumbuhnya ekonomi dengan hasil signifikan. Peningkatan kegiatan ekspor Indonesia setiap tahunnya cenderung mengalami kenaikan. Ekspor sangat berdampak pada tumbuhnhya perekonomian sebuah bangsa, yang sudah diterangkan pada studi Hecksher-Ohlin . ada Appleyeard. Field serta Cobb, 2. jika sebuah wilayah dapat menjual produk ke wilayah lain dimana pengolahannya memakai komponen produksi dengan harga rendah serta cadangannya banyak secara intensif. Dilansir dari Badan Pusat Statistik (BPS), sektor non-migas merupakan komoditi utama dalam kegiatan ekspor yang dilakukan Indonesia. Berbeda dengan non-migas, sektor migas masih sangat rendah Nilai ekspor migas yang rendah disebabkan karena defisit neraca perdagangan atau tingginya nilai impor daripada ekspor sehingga akan mengganggu pembangunan nasional. Selain itu, impor adalah kegiatan membeli atau penginputan produk dari negara lain pada sistem ekonomi dalam negeri (Sukirno, 2. Impor memiliki dampak yang cukup berpengaruh pada meningkatnya perekonomian sebuah bangsa, yang sudah diterangkan dalam studi HecksherOhlin . alam Appleyeard. Field serta Cobb, 2. mengemukakan jika produk dapat diimpoor sebuah bangsa dengan memakai komponen produksi yang tidak dimiliki maupun cadangannya Jurnal Kajian Ekonomi dan Kebijakan Publik. Vol. Januari 2022 sedikit pada bangsa itu. Kegiatan itu dapat memberikan keuntungan pada negara tersebut daripada melaksanakan kegiatan pengolahan sendiri akan tetapi tidak secara efisien. Perkembangan nilai impor cenderung berfluktuatif dimana nilai impor tertinggi dalam kurun waktu 1990-2019 berada pada tahun 1998 dengan angka 43. 218 juta US$ bersamaan dengan kondisi krisis ekonomi. Jika impor turun maka akan meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB), tetapi jika impor naik maka akan menurunkan Produk Domestik Bruto (PDB). Berdasarkan latar belakang di atas maka, maka tujuan dari penelitian ini yaitu guna melihat besarnya dampak ekspor, impor, penanaman modal asing (PMA) dan neraca transaski berjalan pada tumbuhnya perekonomian di Indonesia tahun 1990-2019. TINJAUAN PUSTAKA Pertumbuhan ekonomi adalah tolak ukur penambahan sebuah negara ketika menyuplai barang-barang ekonomi terhadap masyarakat. Dalam penelitian ini pertumbuhan ekonomi menggunakan proksi produk domestik bruto (PDB). Produk domestik bruto dipercaya berperan menjadi tolak ukur ekonomi paling baik untuk menilai berkembangnya perekonomian sebuah Produk Domestik Bruto merupakan jumlah produk pada sebuah bangsa yang diolah dengan komponen produksi yang dimiliki masyarakat serta bangsa lain (Sukirno, 2. Menurut Gregory Mankiw . maksud Produk Domestik Bruto yakni memangkas kegiatan ekonomi pada sebuah nilai uang tertentu periode masa tertentu. Samuelson . mengartikan jika pertumbuhan ekonomi memberi gambaran terdapat kenaikan Gross Domestic Product potensial/output pada sebuah negara. Dikutip dari Bank Indonesia, transaksi berjalan digunakan sebagai ukuran pendapatan serta pembiayaan Indonesia dengan bersumber pada jual beli produk, transfer berjalan, serta Fluktuasi neraca transaksi berjalan dikarenakan banyak pengaruh ekonomi makro baik internal ataupun eksternal. Sudirman . menunjukkan bahwa variabel neraca transaksi berjalan tidak berdampak signifikan pada peningkatan tumbuhnya ekonomi di Nusantara. Investasi asing mempunyai pengaruh yang bisa digunakan oleh negara berkembang yakni memperlancar pertumbuhan ekonomi. Penanaman Modal Asing (PMA) atau investasi asing berdasarkan Pasal 1 ayat 3 UU no. 25 Tahun 2007 mengenai investasi merupakan aktivitas menanamkan modal guna melakukan usaha yang dilakukan oleh investor asing pada daerah negara Republik Indonesia, yang memakai modal asing seluruhnya atau yang berbagi dengan investor negeri sendiri. Salim dan Budi Sutrisno . mengatakan investasi modal asing adalah pengiriman modal riil ataupun tidak riil dari bangsa ke bangsa lain atau berpindahnya modal. Perpindahan modal memiliki maksud untuk dimanfaatkan pada negara itu supaya memperoleh laba dengan diawasi pemilik modal, baik seluruhnya ataupun parsial. Seluruh negara yang menggunakan sistem ekonomi terbuka biasanya membutuhkan investasi asing, utamanya produsen yang memproduksi barang serta jasa guna kegiatan ekspor. Hasil penelitian yang dilakukan Nair-Reichert. , & Weinhold . menunjukkan bahwa rerata PMA mempunyai dampak yang signifikan pada pertumbuhan, walaupun korelasi sangat heterogen pada semua Selain itu. Carkovic. , & Levine . mengemukakan bukti jika tumbuhnya perekonomian tidak dipengaruhi faktor PMA secara kuat. Impor adalah kegiatan membeli atau penginputan produk dari negara lain pada sistem ekonomi dalam negeri (Sukirno, 2. Untuk memenuhi keperluan dalam negeri yang berbentuk pangan ataupun guna aktivitas industri maka perlu adanya kegiatan impor. Impor sangat ditentukan pada tingkat penhasilaan nasional negara bersangkutan. Bila angka penghasilan semakin besar, dan rendahnya kemampuan untuk memproduksi barang-barang tertentu, maka kegiatan impor terjadi kenaikan. Hal tersebut akan berdampak banyak pengeluaran dari penghasilan negara. Penelitian ini seleras dengan penelitian A Pridayanti . yang menyebutkan bahwa impor berdampak signifikan pada pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ekspor adalah sebuah variabel pengeluaran agregat, dimana ekspor bisa memberikan dampak terhadap penghasilan negara yang akan diraih. Hal tersebut selaras pada penelitian Astuti. , & Ayuningtyas . yang menghasilkan bahwa dalam periode masa yang lama, komponen ekspor Jurnal Kajian Ekonomi dan Kebijakan Publik. Vol. Januari 2022 memberikan dampak pada tumbuhnya perekonomian. Jika terjadi kenaikan ekspor, maka terjadi kenaikan pada pengeluaran agregat serta berikutnya dapat menambah penghasilan negara, namun sebaliknya pendapatan nasional tidak bisa memberi dampak pada ekspor, ekspor belum pasti bisa terjadi perubahan meskipun pendapatan nasional tidak berubah. Maka penggunaan ekspor mempunyai dampak yang tidak berbeda dengan fungsi investasi serta pengeluaran pemerintah (Sukirno, 1. METODE PENELITIAN Penelitian kali ini bersifat deskriptif-kuantitatif yakni penelitian dengan menggambarkan secara umum tentang data atau angka yang selanjutnya dianalisa, diklarifikasi serta dipresentasikan berupa uraian. Varian komponen yang dipakai penelitian ini yakni data sekunder berbentuk data urutan waktu, yaitu data per tahun selama tiga puluh tahun yakni tahun 1990-2019 dengan lokasi penelitian di Indonesia. Sedangkan data sekunder ialah data tidak langsung pada bermacam referensi seperti artikel, buku, jurnal, dan beberapa dokumen laporan dari World Bank serta Badan Pusat Statistik (BPS). Cara yang dipakai pada penelitian ini yakni penganalisisan data Error Correction Model (ECM) guna melihat dampak jangka pendek serta jangka panjang komponen independent terhadap komponen dependent serta membantu mengatasi data yang tidak stasioner dengan bantuan program Eviews 10. Persamaan Error Correction Model (ECM) dinyatakan berikut: Model Jangka Panjang = Model Jangka Pendek = Di mana Produk Domestik Bruto (PDB) adalah alat guna mengukur tumbuhnya PMA adalah Penanaman Modal Asing. Ekspor dari waktu ke waktu. Impor setiap tahun. NTB adalah Neraca Transaksi berjalan dalam persen (%), merupakan delta, merupakan konstanta. ,2,3,. adalah nilai koefisien ECM. merupakan Errors Term Periode t. dan t merupakan waktu. Dalam penelitian ini dilakukan beberapa uji yaitu uji koefisien determinasi berganda (R . , uji F, uji asumsi klasik, serta uji t. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Uji Stasioneritas Data Stasioner adalah sebuah keadaan data time series yang apabila rerata, varian, serta covarian pada beberapa peubah itu waktu tidak mempengaruhinya (Juanda, 2. Cara percobaan stasioner serta akar unit yang rencananya dipakai pada penelitian ini yaitu metode Augmented Dickey Fuller (ADF). Table 1. Uji Stasioneritas Data Komponen Penanaman Modal Asing Ekspor Impor Neraca Transaksi Berjalan Percobaan Akar Unit Level 1st Difference ADF Prob ADF Prob Sumber: Eviews 10, . iolah,2. Dari tabel 1 bisa dilihat jika penanaman modal asing, ekspor dan neraca transaksi berjalan menunjukkan hasil stasioner di tingkat level, bisa dilihat pada nilai probabilitas ADF > 0. 05 atau 5%. Jurnal Kajian Ekonomi dan Kebijakan Publik. Vol. Januari 2022 Sebab terdapat 3 komponen yang tidak stasioner dalam tingkat level maka pengujian butuh diteruskan di tingkat First Difference. Sesudah dilaksanakan pengujian pada tingkat first difference disimpulakan bahwa seluruh komponen yang digunakan telah stasioner pada tingkat satu. Bisa dilihat pada nilai probabilitasnya pada tiap komponen yang lebih rendah dari 0. 05 atau 5% dimana variabel yang ada didalam penelitian ini stasioner dalam tingkat first difference. Uji Kointegrasi Sesudah diketahui jika data tidak stasioner, maka aktivitas berikutnya ialah melaksanakan identifikasi pada data apakah terkointegrasi atau tidak. Maka pada penelitian ini membutuhkan uji Uji kointegrasi dipakai guna memberikan gambaran awal jika model yang dipakai mempunyai korelasi dalam waktu yang lama. Hasil uji kointegrasi diperoleh dengan membuat residual yang didapatkan dengan metode meregresikan komponen independen pada komponen dependen secara OLS. Residual itu wajib lolos dalam stasioner tingkat level guna bisa disebut mempunyai kointegrasi. Dari residual yang dibentuk dilakukan uji stasioneritasnya. Table 2. Hasil Uji Stasioneritas Residual Variabel ADF t-statistic Residual Sumber: Eviews 10, . iolah,2. Nilai Kritis 5% Prob. Ket Stasioner Dari tabel yang sudah tersaji, diperoleh jika residual stasioner dalam level yang nampak pada angka t-statistik yang signifikan dengan angka kritis 5% serta angka probabilitasnya sebanyak Maka bisa disimpulkan jika data itu terkointegrasi. Error Correction Model Uji Error Correction Model (ECM) dilaksanakan guna melihat persamaan jangka pendeknya. Pembuatan model ECM ini bertujuan guna melihat perubahan komponen neraca transaksi berjalan, ekspor, impor. PMA terhadap Gross Domestic Product (PDB). Berikut merupakan persamaan moel Error Correction Model (ECM) : Estimasi Jangka Pendek Jangka pendek merupakan persamaan jangka pendek yang diolah dengan metode perubahan bentuk komponen dependen serta independen dalam bentuk first difference. Table 3. Hasil Regresi Jangka Pendek Variabel dependent : PDB Independent Coefisien t-statistic Prob. D1_PMA 58E-12 D1_Ekspor 60E-11 D1_Impor D1_NTB ECT(-. Konstan R-squared F-statistik Prob. F-statistik Sumber: Eviews 10, . iolah,2. Jurnal Kajian Ekonomi dan Kebijakan Publik. Vol. Januari 2022 Menurut tabel di atas, perolehan perkiraan model jangka pendek dengan cara Error Correction Model (ECM) sebagai berikut : PDBt = -0. 58E-12 DPMAt 8. 60E-11 DEksport Ae 0. 751930 DImport Ae 936623 DNTB Ae 0. 663815 ECT(-. Pada penelitian ini menunjukkan bahwa ECT(-. atau ECT probabilitasnya 0. 0000 di bawah Berarti komponen ECT menggambarkan hasil signifikan pada 5% serta bertanda negatif yang artinya jika model ECM akurat serta ada penyesuaian dalam model jangka pendek guna meraih keadaan seimbang jangka panjang. C Angka konstanta sebanyak -0. 780735 bisa didefinisikan bahwa, bila ekspor. PMA, impor serta neraca transaksi berjalan bisa dikatakan konstan atau sama dengan nol persen, maka perubahan total PDB dapat terjadi sebesar 0. 780735 persen dari angka PDB. C Variabel PMA berdampak positif serta tidak signifikan pada PDB di jangka pendek, sehingga variabel PMA pada jangka pendek tidak mempengaruhi komponen PDB. C Variabel ekspor berdampak positif serta signifikan pada PDB. Hal tersebut menggambarkan jika ekspor dalam jangka pendek naik 1%, maka PDB akan naik sebesar 60E-11. C Variabel impor memiliki dampak negatif serta signifikan pada PDB. Sehingga bila impor naik sebanyak satu juta dollar maka PDB akan mengalami penurunan sebesar 0. C Komponen neraca transaksi berjalan berdampak negatif serta signifikan pada PDB, sehingga perubahan neraca transaksi berjalan pada waktu singkat sebesar 1% dapat menyebabkan turunnya PDB sebanyak 0. Estimasi Jangka Panjang Table 4. Hasil Regresi Jangka Panjang Variabel dependent : KURS Independent Coefisien t-statistic Prob. PMA 20E-10 Ekspor 90E-11 Impor NTB Constan R-squared F-statistik Prob. F-statistik Sumber: Eviews 10, . iolah,2. Dari hasil estimasi jangka panjang pada tabel di atas dapat disimpulkan persamaan jangka panjang yaitu : PDBt = 25. 20E-10PMAt Ae 3. 90E-11Eksport Ae 0. 619148Import Ae 0. 212667NTBt et C Angka konstanta sebanyak 25. 45008 bisa didefinisikan bila ekspor. PMA, impor serta neraca transaksi berjalan bisa dikatakan konstan atau sama dengan nol persen, maka perubahan total PDB dapat terjadi sebesar 25. 45 persen dari angka PDB. C Variabel PMA berpengaruh secara positif serta tidak signifikan terhadap PDB pada waktu yang lama, sehingga variabel PMA tidak mempengaruhi variabel PDB. C Variabel ekspor memberikan pengaruh negatif serta signifikan pada PDB. Hal tersebut memberikan gambaran jika perubahan ekspor dalam jangka panjang sebesar 1% akan menyebabkan penurunan PDB sebesar 3. 90E-11 C Variabel impor memberi pengaruh negatif serta signifikan pada PDB. Sehingga bila impor naik sebanyak satu juta dollar maka PDB akan mengalami penurunan sebesar 0. Jurnal Kajian Ekonomi dan Kebijakan Publik. Vol. Januari 2022 C Komponen neraca transaksi berjalan berdampak negatif serta tidak signifikan pada PDB, sehingga perubahan neraca transaksi berjalan dalam jangka panjang tidak mempengaruhi variabel PDB. Uji Asumsi Klasik Table 5. Perolehan Percobaan Asumsi Klasik Percobaan Asumsi Klasik . Percobaan Normalitas Jarque-Bera = 1. Prob. = 0. Percobaan Autokorelasi (Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Tes. Prob. = 0. Prob. Chi-Square. = 0. Uji Heteroskedastisitas (Breusch-Pagan-Godfre. Prob. Chi-Square . = 0. Uji Multikolinearitas PMA = 7. Ekspor = 6. Impor = 1. NTB = 2. Sumber: Eviews 10, . iolah,2. Dari hasil uji normalitas didapati hasil yang menyatakan angka jarque-bera sebanyak 971965 serta angka probabilitasnya sebanyak 0. 373072 dimana di atas = 5% . 373072 > 0. sehingga terima Ho. Bisa dikatakan jika data tersebar normal berarti memenuhi pendapat klasik mengenai kenormalan. Percobaan autokorelasi mempunyai maksud guna mengetahui terdapat atau tidak hubungan antara salahnya model penganggu di waktu t serta salahnya pengganggu di waktu t 1 . dalam model regresi linear hasil percobaan autokorelasi menggunakan BreuschGodfrey Serial Correlation LM Test diperoleh angka Prob. Chi-Square sebanyak 0. 0739 lebih tinggi dari 5%. Bisa ditarik kesimpulan dalam model ECM bebas dari masalah autokorelasi. Hasil uji heteroskedastisits menggunakan model Harvey test, diperoleh jika angka prob. ChiSquare dalam Obs*R-Squared sebanyak 0. 4375 di atas daripada 5%. Sehingga bisa disebutkan jika pada model ECM bebas dari masalah heteroskedastisitas. Pada dasarnya percobaan heteroskedastisitas ini memiliki tujuan guna mengetahui terjadi atau tidaknya perbedaan variance pada residual satu percobaan ke percobaan lain pada model regresi. Menurut hasil percobaan multikolinieritas diketahui jika angka centered VIF pada masingmasing komponen tidak lebih besar dari 10. Komponen PMA mempunyai angka VIF sebanyak 883919 < 10, komponen ekspor mempunyai angka VIF sebanyak 6. 658604 < 10, komponen impor mempunyai angka VIF sebanyak 1. 597530 < 10. Variabel NTB memiliki nilai VIF sebesar 206418 < 10. Jadi, berdasarkan hasil ini bisa dikatakan tidak ada tanda multikolinearitas dalam model penelitian ini. Percobaan Statistik Uji F (Simulta. Berdasarkan hasil estimasi model ECM dalam jangka pendek didapatkan F hitung senilai 27068 dengan probabilitas senilai 0. 000000 kurang dari taraf signifikasi = 1%. Sedangkan dalam jangka panjang didapatkan F hitung senilai 10. 45203 dengan probabilitas senilai 0. kurang dari taraf signifikasi = 1%. , nilai F hitung > F tabel yaitu 2. Sehingga dapat dikatakan jika komponen Foreign Direct Investment (FDI). Ekspor. Impor serta neraca transaksi berjalan dalam waktu yang singkat atau lama secara bersamaan . mempengaruhi tumbuhnya perekonomian . iukur menggunakan PDB). Uji T (Parsia. Pengaruh PMA pada pertumbuhan ekonomi pada waktu yang singkat diperoleh t hitung 025593 dengan nilai t tabel senilai 2. Maka t hitung < t tabel yaitu 0. 060 dan nilai probabilitas 0. 9798 artinya variabel PMA pberpengaruh positif dan tidak signifikan Jurnal Kajian Ekonomi dan Kebijakan Publik. Vol. Januari 2022 dalam taraf signifikasi = 1%, = 5%, dan = 10%. Sedangkan dalam jangka panjang di dapatkan t hitung sebanyak 0. 873262, dengan nilai t tabel senilai 2. Maka t hitung < t tabel yaitu 873262 > 2. 060 dan nilai probabilitas 0. 3908 artinya variabel PMA berpengaruh positif dan tidak signifikan dalam taraf signifikasi = 5%. Dampak ekspor pada tumbuhnya ekonomi dalam waktu yang singkat diperoleh t hitung 292195 dengan nilai t tabel senilai 2. Maka t hitung > t tabel yaitu 2. 060 dan nilai probabilitas 0. 0314 artinya variabel PMA berpengaruh positif dan signifikan dalam taraf signifikasi = 1%, = 5%, dan = 10%. Sedangkan dalam jangka panjang di dapatkan t hitung 155532 dengan nilai t tabel senilai 2. Maka t hitung < t tabel yaitu -2. 060 dan nilai probabilitas 0. 0409 artinya variabel ekspor berpengaruh negatif dan signifikan dalam taraf signifikasi = 5%. Pengaruh impor terhadap pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek di dapatkan t hitung 617850 dengan nilai t tabel senilai 2. Maka t hitung < t tabel yakni -8. 060 dan angka probabilitas 0. 000 artinya variabel PMA berpengaruh negatif dan signifikan dalam taraf signifikasi = 1%, = 5%, dan = 10%. Sedangkan dalam jangka panjang di dapatkan t hitung 059435 dengan angka t tabel senilai 2. Maka t hitung < t tabel yakni -5. 060 dan angka probabilitas 0. 000 artinya variabel impor berpengaruh negatif dan signifikan dalam taraf signifikasi = 5%. Pengaruh neraca transaksi berjalan terhadap pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek di dapatkan t hitung sebanyak -5. 519835 dimana angka t tabel senilai 2. Maka t hitung < t tabel 519835 < 2. 060 dan angka probabilitas 0. 000 artinya variabel PMA berpengaruh negatif dan signifikan dalam taraf signifikasi = 1%, = 5%, dan = 10%. Sedangkan dalam jangka panjang di dapatkan t hitung sebanyak -0. 899778 dengan nilai t tabel senilai 2. Maka t hitung < t tabel yaitu -0. 899778 < 2. 060 dan nilai probabilitas 0. 3768 artinya komponen neraca transaksi berjalan berdampak negatif serta tidak signifikan dalam taraf signifikasi = 5%. Koefisiean Determinasi Angka koefisien determinasi pada estimasi pada waktu yang singkat senilai 0. Menggambarkan jika tingginya dampak komponen independen pada komponen dependen adalah Sementara sisanya ialah 8. 87% dijelaskan oleh variabel diluar model. Sedangkan angka koefisien determinasi pada estimasi jangka panjang sebanyak 0. Menggambarkan jika tingginya dampak komponen independen pada komponen dependen adalah sebanyak 62. Sementara sisanya adalah 37. 43% dijelaskan oleh variabel diluar model. Pembahasan Pada waktu yang singkat diketahui bahwa ekspor berdampak positif serta signifikan pada PDB. Hal itu selaras pada studi perniagaan internasional yaitu jika ekspor barang maupun jasa ke negara lain makin tinggi maka pada negara sendiri wajib mengolahi produk yang tinggi juga. Tingginya pengiriman produk ke negara lain diimbangi dengan tingginya kembalinya modal ke negara sendiri. Hal itu dapat menambah total produk barang serta jasa yang bermanfaat guna menunjang kenaikan produksi dalam negeri. Kenaikan produksi dapat meningkatkan gairah ekonomi dalam negeri yang menyebabkan peningkatan pertumbuhan ekonomi. Penelitian ini pula sejalan padaa penelitian sebelumnya yang dilaksanakan oleh Nensy . yang menyimpulkan jika komponen ekspor memiliki pengaruh positif serta signifikan pada tumbuhnya perekonomian. Sementara pada jangka panjang ekspor berdampak negatif serta signifikan pada PDB. Hal tersebut menunjukkan bahwa perubahan ekspor dalam jangka panjang akan menyebabkan penurunan PDB. Pada jangka pendek serta jangka panjang impor berdampak negatif dan signifkan pada PDB Sehingga apabila impor naik maka PDB akan mengalami penurunan. Penelitian ini selaras pada penelitian Ayunia Pridayanti . yang menyebutkan jika impor memiliki pengaruh signifikan serta negatif pada tumbuhnya ekonomi di Indonesia. Jika terjadi peningkatan pada barang serta jasa yang diimpor maka akan menunjang kenaikan aktivitas ekonomi dalam negeri dari segi produksi, konsumsi, serta distribusi. Apabila aktivitas ekonomi berjalan lancar maka dapat terjadi peningkatan pertumbuhan ekonomi. Namun jika impor dilakukan secara berkelanjutan dan lebih Jurnal Kajian Ekonomi dan Kebijakan Publik. Vol. Januari 2022 besar dibandingkan ekspor maka bisa menyebabakan neraca perdagangan negara menjadi defisit. Pada jangka pendek komponen neraca transaksi berjalan berdampak negatif serta signifikan pada PDB sehingga jika pendapatan nasional naik membuat rerata neraca transaksi berjalan dalam jangka pendek dapat terjadi defisit. Hal tersebut membuktikan jika pendapatan nasional tinggi menggambarkan aktivitas perekonomian semakin meningkat. Angka kegiatan ekonomi yang tinggi menggambarkan pengeluaran pemerintah, perusahaan, ataupun rumah tangga semakin tinggi juga. Hasil penelitian tersebut selaras pada penelitian Ramadhani . dan Ukhrowiyah . yang menyebutkan jika pendapatan nasional memberikan pengaruh negatif signifikan pada neraca transaksi berjalan KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Pada perolehan penelitian yang sudah dilaksanakan tentang Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia Tahun 1990-2019, menunjukkan hasil yang Dalam waktu singkat serta lama variabel PMA berdampak positif serta tidak signifikan pada PDB, sehingga variabel PMA tidak mempengaruhi variabel PDB. Dalam jangka pendek variabel ekspor berdampak positif dan signifikan pada PDB. Hal tersebut menyebutkan jika ekspor meningkat maka PDB juga akan meningkat. Sementara pada jangka panjang komponen ekspor berdampak negatif serta signifikan pada PDB. Hal tersebut menunjukkan bahwa perubahan ekspor akan menyebabkan penurunan PDB 90E-11 Pada jangka pendek serta jangka panjang komponen impor berdampak negatif serta signifikan pada PDB. Sehingga bila impor naik maka PDB akan mengalami penurunan. Dalam jangka pendek komponen neraca transaksi berjalan berdampak negatif serta signifikan pada PDB, sehingga perubahan neraca transaksi berjalan dalam jangka pendek akan menyebabkan penurunan PDB. Sementara pada jangka panjang komponen neraca transaksi berjalan memberi pengaruh negatif serta tidak signifikan pada PDB, sehingga perubahan neraca transaksi berjalan dalam jangka panjang tidak mempengaruhi variabel PDB. Penelitian kali ini masih belum cukup sempurna, pada penelitian berikutnya diharapkan mampu menyempurnakan hasil studi ini dengan menggunakan banyak literasi maupun variablevariabel yang mendukung. Berdasarkan analisis data dan pembahasan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Indonesia, terdapat beberapa saran yang dapat diberikan : Pemerintah perlu merancang kebijakan untuk menjamin kelangsungan iklim investasi yang kondusif bagi investor asing dan domestik di Indonesia. Pemerintah memperbaiki sistem administrasi ekspor dan struktur ekspor dimana semakin tinggi nilai ekspor maka PDB akan meningkat. Pemerintah perlu menekankan kegiatan impor dengan mengurangi pemakaian produk luar negeri sehingga dapat meningkatkan produktivitas perekonomian. Pemerintah membuat kebijakan yang berpengaruh langsung terhadap peningkatan neraca transaksi berjalan, sehingga dapat memperbaiki defisit neraca transaksi berjalan. DAFTAR PUSTAKA