Self Worth Pelaku Balap Liar Honda Exciting Rider Extreme (Here. Pada Siswa Sma Di Ponorogo SELF WORTH PELAKU BALAP LIAR HONDA EXCITING RIDER EXTREME (HEREX) PADA SISWA SMA DI PONOROGO Nanda Kharisma Priatama Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Surabaya Email : nanda. 21101@mhs. Evi Winingsih Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Surabaya Email : eviwiningsih@unesa. Abstrak Pada abad 21 kemajuan teknologi berkembang pesat dan mempengaruhi segala aspek kehidupan manusia. Teknologi yang memudahkan manusia dalam melakukan kegiatan sehari-hari, misalnya saja kendaraan balap liar di kalangan masyarakat bukan hal yang asing, bahkan bagi kalangan masyarakat merupakan hiburan tersendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap secara mendalam terkait dengan self worth pelaku balap liar pada siswa SMA di Kabupaten Ponorogo. Adapun perihal yang akan diungkap pada penelitian ini mencakup tentang wujud perilaku balap liar, pemahaman diri pelaku balap liar, penghormatan diri pelaku balap liar, penerimaan diri pelaku balap liar, proses pembentukan self Worth anak SMA yang menjalani balap liar, dan dampak perilaku balap liar terhadap pelaku balap liar. Penelitian ini merupakan jenis penelitian Kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data mengunakan instrumen wawancara, observasi dan dokumentasi Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis data yang dikembangkan oleh Miles & Huberman . alam Sugiono,2. dan analisis data menurut Spradley . alam Sugiono 2. Uji keabsahan data yang digunakan adalah triangulasi sumber data. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 3 Ponorogo dan SMA Negeri 1 Babadan Subjek yang diambil pada penelitian ini adalah 4 subjek yang menjadi joki. Hasil dari penelitian ini menunjukan wujud perilaku balap liar . meliputi perilaku yang ditunjukkan oleh pelaku balap liar . memiliki bentuk penyimpangan antara lain suka mengganggu teman, meninggalkan jam pelajaran, sering membolos sekolah dan sering terlambat masuk sekolah. Pemahaman diri pelaku balap liar . ditunjukkan oleh seringnya mengikuti ajang balap liar dan menjadi joki pada ajang tersebut serta mendapat kemenangan. Penghormatan diri pelaku balap liar . yaitu para pelaku memiliki kepercayaan diri dan keyakinan diri yang penuh. Penerimaan diri pelaku balap liar . ditunjukkan oleh sikap dari joki yang menerima kelebihan serta kekurangan yang dimiliki sebagai pelajar maupun joki. Sehingga. Seseorang yang memiliki pemahaman diri, penghormatan diri, dan penerimaan diri maka self-worth telah terbentuk dalam diri orang tersebut dilain sisi, kegiatan balap liar juga memiliki dampak negtif terhadap diri pelaku balap liar . , dan juga merugikan orang lain. Kata Kunci: Self-worth. Balap liar. Siswa SMA Abstract In the 21st century Technological advances are growing rapidly and affecting all aspects of human life. Technology that makes it easier for humans to carry out daily activities, for example motorized vehicles. Illegal racing among the community is not something strange, in fact for the community it is entertainment in itself. This research aims to reveal in depth the self-worth of illegal racing perpetrators among high school students in Ponorogo Regency. The matters that will be revealed in this research include the forms of illegal racing behavior, self-understanding of illegal racing perpetrators, self-respect for illegal racing perpetrators, self-acceptance of illegal racing perpetrators, the process of forming the self-worth of high school students who undergo illegal racing, and the impact of illegal racing behavior on illegal racing This research is a type of descriptive qualitative research. Data collection techniques use interview instruments, observation and documentation. The data analysis technique used in this research is data analysis developed by Miles & Huberman . n Sugiono, 2. and data analysis according to Spradley . n Sugiono 2. The data validity test used is data source triangulation. This research was carried out at SMA Negeri 3 Ponorogo and SMA Negeri 1 Babadan. The subjects taken in this research were 4 subjects who were jockeys. The results of this research show that forms of illegal racing behavior . include behavior shown by illegal racing perpetrators . which have forms of deviation, including liking to disturb friends, missing class time, often skipping school and often being late for school. The self-understanding of illegal racing actors . is shown by frequently taking part in illegal racing events and becoming a jockey in Self Worth Pelaku Balap Liar Honda Exciting Rider Extreme (Here. Pada Siswa Sma Di Ponorogo these events and winning. Self-respect for illegal racing actors . means that the perpetrators have full self-confidence and self-confidence. The self-acceptance of illegal racing actors . is shown by the attitude of the jockey who accepts the advantages and disadvantages of being a student or jockey. So, for someone who has self-understanding, self-respect and self-acceptance, self-worth has been formed in that person. On the other hand, illegal racing activities also have a negative impact on the perpetrators of illegal racing . , and also harm other people. Keywords: Self-Worth. Illegal racing. High school student PENDAHULUAN Latar belakang terjadinya fenomena balap liar HEREX di kalangan remaja, khususnya siswa SMA di Ponorogo. Remaja merupakan fase krusial dalam perkembangan individu, dan pada masa ini mereka rentan terlibat dalam perilaku berisiko seperti balap liar karena berbagai alasan, seperti pencarian jati diri, eksistensi sosial, hobi, hingga tekanan lingkungan. HEREX sendiri merupakan jenis modifikasi sepeda motor yang populer di kalangan anak muda Jawa Timur. Meskipun awalnya merupakan komunitas penggemar motor modifikasi, namun kemudian identik dengan kegiatan balap liar yang bersifat ilegal dan berisiko tinggi. Balap liar ini tidak hanya berdampak negatif pada masyarakat, seperti kebisingan dan gangguan ketertiban, tetapi juga berdampak langsung terhadap pelakunya, baik secara fisik, psikis, hingga prestasi akademik. Meskipun demikian, pelaku seringkali memaknai kegiatan ini secara positif sebagai ajang aktualisasi diri yang berkaitan erat dengan konsep self-worth atau harga diri. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana perilaku balap liar, pemahaman diri, penghargaan diri, serta proses pembentukan self-worth terbentuk pada pelaku balap liar HEREX. Dengan demikian, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat teoritis dan praktis bagi sekolah, khususnya guru BK, untuk menangani dan mencegah keterlibatan siswa dalam balap liar. Balap liar didefinisikan sebagai adu kecepatan kendaraan bermotor yang dilakukan secara ilegal di jalan raya, dengan risiko tinggi terhadap keselamatan diri dan orang lain. Dalam konteks HEREX, aktivitas ini menjadi simbol eksistensi dan identitas sosial di kalangan komunitas motor tertentu, terutama di wilayah Jawa Timur. Pelaku balap liar terdiri dari berbagai peran seperti mekanik, joki . , bandar, dan juri, yang membentuk struktur sosial dalam praktik balap liar. Dampak negatif dari aktivitas ini meliputi gangguan ketertiban umum, kecelakaan lalu lintas, dan keresahan Meskipun begitu, beberapa faktor pendorong seperti hobi, adrenalin, gengsi, taruhan, serta kurangnya fasilitas resmi balap, menjadikan aktivitas ini terus berlangsung di kalangan remaja. Dalam konteks psikologis, perilaku balap liar juga dikaitkan dengan konsep self-worth atau harga diri, yaitu penilaian individu terhadap nilai dirinya. Self-worth memengaruhi cara remaja memandang diri mereka sendiri, serta bagaimana mereka ingin diakui oleh lingkungan sosialnya. Faktor-faktor yang memengaruhi self-worth mencakup konsep diri, keluarga, lingkungan sosial, jenis kelamin, kondisi fisik, dan intelegensi. Remaja yang terlibat dalam balap liar cenderung mengalami pembentukan self-worth yang beragam. Beberapa merasa dihargai karena dianggap hebat atau pemberani oleh teman sebayanya, sementara yang lain dapat mengalami penurunan kepercayaan diri akibat kegagalan atau pengucilan. Oleh karena itu, pemahaman mendalam terhadap dinamika self-worth pada pelaku balap liar menjadi penting untuk mendesain intervensi yang tepat, baik dari pihak sekolah, keluarga, maupun aparat penegak hukum. METODE Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif yang bertujuan untuk memahami secara mendalam fenomena self-worth pada pelaku balap liar HEREX di kalangan siswa SMA di Ponorogo. Pendekatan ini memungkinkan peneliti menggali makna subjektif melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi dalam konteks alami. Pemilihan subjek dilakukan dengan purposive sampling, yaitu siswa SMA N 3 Ponorogo yang memenuhi kriteria seperti aktif menjadi joki selama dua tahun, prestasi akademik menurun, dan menjadikan balap liar sebagai hobi yang menghasilkan. Lokasi penelitian difokuskan pada area balap liar, sekolah, dan bengkel yang relevan. Data yang dikumpulkan meliputi data primer . asil wawancara dengan pelak. dan data sekunder . okumen Teknik pengumpulan data terdiri dari observasi langsung, wawancara semi terstruktur, serta dokumentasi perilaku dan aktivitas subjek. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri, didukung dengan pedoman observasi dan Analisis data menggunakan model Miles dan Self Worth Pelaku Balap Liar Honda Exciting Rider Extreme (Here. Pada Siswa Sma Di Ponorogo Huberman yang mencakup tahap: pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Untuk menjaga kredibilitas data, digunakan teknik triangulasi sumber, teknik, dan waktu. Pendekatan ini memastikan validitas informasi melalui konfirmasi lintas sumber dan metode, serta pengambilan data pada waktu yang berbeda. Secara keseluruhan, metode yang digunakan dalam penelitian ini dirancang untuk memperoleh pemahaman yang utuh mengenai perilaku dan struktur harga diri . pada siswa yang terlibat dalam fenomena balap liar HEREX. Penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan kontribusi untuk strategi pencegahan dan intervensi yang lebih efektif di lingkungan sekolah. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenomena balap liar HEREX di kalangan siswa SMA, khususnya di SMAN 3 Ponorogo dan SMAN 1 Babadan, melibatkan perilaku yang kompleks dan berlapis, mencerminkan aspek psikologis, sosial, dan pendidikan dari para pelakunya yang bertindak sebagai joki. Wujud Perilaku Balap Liar Para pelaku menunjukkan perilaku menyimpang di lingkungan sekolah, seperti sering membolos, datang terlambat, tidak mengerjakan PR, tidur di kelas, dan kurang sopan terhadap guru. Saat berada di arena balap liar, mereka menunjukkan keterlibatan aktif dalam menyiapkan motor, bertaruh uang, dan menunjukkan perilaku emosional saat balapan. Pemahaman Diri Semua subjek penelitian mengungkapkan bahwa mereka memahami dirinya sebagai joki karena sering menang dalam ajang balapan liar. Mereka menilai diri sendiri memiliki kemampuan dan kelayakan dalam mengendalikan motor cepat, yang menjadi dasar pembentukan identitas diri Penghormatan Diri Rasa percaya diri dan penghargaan diri subjek tumbuh dari pengakuan sosial Ai baik dari teman, komunitas balap, maupun bengkel. Mereka merasa bangga, dikenal, dan dianggap penting dalam lingkungan mereka karena peran sebagai joki. Penerimaan Diri Para pelaku menyadari kekurangan mereka, seperti sering jatuh saat balapan, prestasi maksimalnya nilai pelajaran. Namun mereka memiliki harapan besar seperti ingin menjadi joki resmi, memiliki motor sendiri, atau tidak membebani orang tua. Mereka berusaha menyeimbangkan antara aktivitas balap dan sekolah dengan berbagai cara. Pembentukan Self-Worth Proses pembentukan self-worth pada para pelaku berlangsung melalui integrasi dari pemahaman diri, penghormatan diri, dan penerimaan diri. Aktivitas balap liar memberikan mereka ruang aktualisasi diri yang dianggap lebih bermakna dibanding aktivitas akademik formal. Dampak Balap Liar Balap liar berdampak negatif bagi pelaku, keluarga, sekolah, dan masyarakat. Para pelaku menyadari risiko seperti kecelakaan, keresahan warga, dan penurunan prestasi akademik. Namun sebagian tetap memilih aktivitas ini karena dianggap sebagai hobi, profesi, atau sarana mendapatkan uang. Analisis Triangulasi Validitas data didukung melalui triangulasi Hasilnya menunjukkan konsistensi antara pernyataan subjek, observasi peneliti, pendapat guru, konselor, dan aparat kepolisian. PENUTUP Simpulan Berdasarkan hasil penelitian mengenai self-worth pada pelaku balap liar HONDA EXCITING RIDER EXTREME (HEREX) di kalangan siswa SMA di Kabupaten Ponorogo, dapat disimpulkan bahwa wujud perilaku para pelaku balap liar menunjukkan kecenderungan perilaku menyimpang seperti membolos, terlambat masuk sekolah, meninggalkan pelajaran, kurang sopan terhadap guru, serta lebih memilih bergaul dengan komunitas bengkel dan teman sebaya dalam lingkup balap Para pelaku juga terbiasa bertaruh uang, sulit membagi waktu antara sekolah dan aktivitas luar, serta sering begadang demi aktivitas balap. Dari segi pemahaman diri, para pelaku merasa mampu dan layak menjadi joki karena sering menang dalam ajang balapan, sehingga muncul persepsi positif terhadap kemampuan Penghormatan diri terbentuk melalui rasa bangga atas pencapaian tersebut dan pengakuan dari lingkungan sekitar, yang membuat mereka merasa disegani. Dalam hal penerimaan diri, pelaku menyadari kelebihan maupun kekurangan yang dimilikinya, baik sebagai joki maupun pelajar, dan menunjukkan usaha untuk memperbaikinya melalui latihan, penguatan mental, dan pengaturan waktu. Dengan terpenuhinya ketiga aspek tersebutAipemahaman diri, penghormatan diri, dan penerimaan diriAidapat disimpulkan bahwa self-worth telah terbentuk dalam diri para pelaku. Namun demikian, kegiatan balap liar ini Self Worth Pelaku Balap Liar Honda Exciting Rider Extreme (Here. Pada Siswa Sma Di Ponorogo membawa dampak negatif, baik terhadap pelaku sendiri, keluarga, sekolah, maupun masyarakat sekitar lokasi Dampaknya meliputi menurunnya prestasi akademik, keresahan warga, serta persepsi buruk terhadap pelaku dari lingkungan sosialnya. Saran Berdasarkan hasil penelitian mengenai self-worth pelaku balap liar pada siswa SMA di Kabupaten Ponorogo, terdapat beberapa saran penting yang dapat dijadikan pertimbangan untuk langkah ke depan. Bagi peneliti selanjutnya, disarankan agar penelitian ini dikembangkan lebih lanjut untuk merancang strategi pencegahan dan intervensi terhadap perilaku balap liar di kalangan pelajar, mengingat penelitian ini masih terbatas pada pengumpulan data dan pemetaan perilaku. Bagi konselor sekolah, hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan untuk menangani siswa yang terlibat dalam kegiatan balap liar, baik melalui layanan konseling individu maupun pendekatan kelompok, serta memberikan bimbingan yang lebih adaptif terhadap kebutuhan psikologis remaja. Selain itu, bagi pihak UPTBK UNESA atau lembaga pendidikan lainnya, penelitian ini seharusnya menjadi bahan evaluasi untuk menempatkan tenaga konselor profesional di sekolah-sekolah yang rawan dengan perilaku menyimpang seperti balap liar. Diharapkan, dengan kolaborasi antara pihak sekolah, keluarga, dan instansi terkait, fenomena balap liar di kalangan siswa dapat ditekan, dan perkembangan self-worth remaja dapat diarahkan secara lebih positif. DAFTAR PUSTAKA