P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. Representasi Standar Kecantikan dalam Film Imperfect: Implikasi Sosial. Kesehatan Mental, dan Kesetaraan Gender Damara Wishelda Izdihar, 2Erindah Dimisyqiyani, 3Amaliyah. ARizky Amalia Sinulingga. AAGagas Gayuh Aji Manajemen Perkantoran Digital. Universitas Airlangga. Surabaya E-mail: 1damara. izdihar@gmail. com, 2Erindah-dimisyqiyani@vokasi. amaliyah@vokasi. id, 4rizkyamalia@vokasi. aji@vokasi. ABSTRAK Standar kecantikan merupakan konstruksi sosial yang dibentuk oleh budaya dan media massa, yang menekan perempuan untuk memenuhi kriteria fisik ideal. Tekanan ini menciptakan pandangan seragam tentang penampilan, sekaligus merusak kesehatan mental, penerimaan diri, serta memperdalam ketidakadilan gender dan diskriminasi sosial. Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi standar kecantikan dalam film Imperfect, mengungkap simbolisme serta ideologi di baliknya, dan dampaknya terhadap kesehatan mental serta relasi sosial perempuan. Analisis dilakukan melalui pemeriksaan elemen visual, dialog, dan narasi terkait pembentukan kecantikan. Hasilnya menunjukkan bahwa film Imperfect menggambarkan tekanan sosial lewat body shaming, perubahan fisik, dan perbedaan perlakuan terhadap tokoh utama. Film ini juga menyoroti penerimaan dan cinta diri sebagai bentuk penolakan terhadap standar kecantikan yang diskriminatif. Temuan tersebut menegaskan peran film sebagai alat refleksi dan pendidikan untuk meningkatkan kesadaran tentang kesehatan mental, kesetaraan gender, dan penghargaan atas keragaman Kata kunci : standar kecantikan, body shaming, kesehatan mental, penerimaan diri, kesetaraan gender ABSTRACT Beauty standards are a social construct shaped by culture and mass media, which pressures women to meet ideal physical criteria. This pressure creates a uniform view of appearance, while undermining mental health, self-acceptance, and deepening gender injustice and social discrimination. This study aims to analyze the representation of beauty standards in the film Imperfect, uncover the symbolism and ideology behind it, and its impact on women's mental health and social relations. The analysis was carried out through the examination of visual elements, dialogues, and narratives related to the formation of beauty. The results show that the film Imperfect depicts social pressure through body shaming, physical changes, and different treatment of the main character. The film also highlights acceptance and self-love as a form of rejection of discriminatory beauty standards. The findings affirm the role of film as a tool for reflection and education to raise awareness about mental health, gender equality, and appreciation for physical Keyword : beauty standards, body shaming, mental health, self-acceptance, gender Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. PENDAHULUAN LANDASAN TEORI Standar kecantikan merupakan sebuah konstruksi sosial yang terbentuk dan diwariskan melalui berbagai budaya dan media massa. Konstruksi sosial ini berperan penting dalam membangun persepsi ideal terhadap penampilan fisik seseorang, khususnya perempuan, dengan menuntut pemenuhan kriteria tertentu yang dianggap sebagai standar kecantikan ideal dalam masyarakat. Tekanan tersebut tidak hanya menciptakan pandangan masyarakat yang homogen terhadap penampilan, tetapi juga berdampak signifikan pada kesehatan mental serta tingkat penerimaan diri individu. Selain itu, standar kecantikan yang rigid ini juga turut memperkuat ketidaksetaraan gender dan menimbulkan berbagai bentuk diskriminasi sosial yang masih kerap terjadi hingga saat ini. Contohnya adalah fenomena body shaming yang tergolong sebagai salah satu bentuk tekanan sosial, terbukti menimbulkan dampak psikologis yang serius, seperti menurunnya rasa percaya diri, timbulnya kecemasan, bahkan risiko depresi yang cukup tinggi (World Health Organization, 2. Dalam berkelanjutan, persoalan ini sangat relevan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDG. , khususnya tujuan nomor 3 yang mengedepankan kesehatan mental, nomor 5 terkait kesetaraan gender, dan nomor 10 yang berfokus pada pengurangan kesenjangan Berdasarkan situs resmi SDGs Indonesia, terdapat 17 tujuan global yang saling berkaitan dan ditujukan untuk mewujudkan masyarakat yang inklusif, setara, dan berkeadilan. 1 Konstruksi Kecantikan Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 Sosial Standar Standar kecantikan merupakan konstruksi sosial yang terbentuk dan diwariskan melalui berbagai budaya dan media massa. Konstruksi ini berperan penting dalam membangun persepsi ideal terhadap penampilan fisik seseorang, khususnya perempuan, dengan menuntut pemenuhan kriteria tertentu yang dianggap sebagai standar kecantikan ideal dalam masyarakat (Wolf, 1. Standar kecantikan ini tidak bersifat universal, melainkan dipengaruhi oleh konteks budaya dan sosial yang berbeda-beda. Tekanan untuk memenuhi standar kecantikan yang rigid tersebut tidak hanya menciptakan pandangan masyarakat yang homogen terhadap penampilan, tetapi juga berdampak signifikan pada kesehatan mental serta tingkat penerimaan diri individu (Fredrickson & Roberts, 1. Fenomena merupakan salah satu bentuk tekanan sosial yang muncul akibat konstruksi standar kecantikan yang sempit. Body shaming dapat didefinisikan sebagai tindakan mengkritik atau mengejek fisiknya, yang sering kali menimbulkan dampak psikologis serius seperti menurunnya rasa percaya diri, kecemasan, hingga risiko depresi (World Health Organization, 2. Hal ini menunjukkan bahwa standar kecantikan tidak hanya berimplikasi pada aspek estetika, tetapi kesehatan mental yang perlu mendapat perhatian serius. 2 Peran Media dan Film dalam Pembentukan Standar Kecantikan Media populer, terutama film, memegang peran strategis dalam representasi mengenai standar kecantikan P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 nilai-nilai Film sebagai media visual tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai cermin sosial yang merefleksikan sekaligus mengkritisi konstruksi nilai dan norma yang berlaku di masyarakat (Dyer, 1. Melalui narasi dan simbolisme visual, film dapat memperkuat atau menantang stereotip dan norma sosial, termasuk dalam hal standar Film Imperfect karya Ernest Prakasa merupakan contoh nyata bagaimana media film mengangkat isu standar kecantikan dan tekanan sosial Film mengisahkan perjuangan tokoh utama. Rara, dalam menerima dirinya sendiri di tengah tekanan sosial yang menuntut kesempurnaan fisik sesuai standar masyarakat (Sari, 2. Representasi tersebut tidak hanya menggambarkan realitas sosial, tetapi juga membuka ruang diskusi kritis mengenai dampak standar kecantikan terhadap kesehatan mental dan penerimaan diri perempuan. 3 Analisis Semiotika dalam Kajian Representasi Standar Kecantikan Berbagai menggunakan pendekatan semiotika untuk menganalisis representasi standar kecantikan dalam film Imperfect. Semiotika sebagai ilmu tentang tanda dan makna memungkinkan peneliti mengurai simbol-simbol visual dan verbal yang membentuk pesan dalam media (Barthes. Sari . menggunakan teori semiotika John Fiske untuk menganalisis bagaimana film Imperfect membentuk dan mereproduksi citra standar kecantikan ideal dalam masyarakat. Sementara itu. Karyadi . analisis semiotika Roland Barthes dengan teori komunikasi interpersonal Carl Rogers penerimaan diri terhadap standar kecantikan yang ada. DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. Selain itu. Nisak . menyoroti aspek body shaming nonverbal dalam film tersebut yang disampaikan melalui bahasa tubuh dan ekspresi visual tanpa dialog Badawi . membahas representasi kecantikan perempuan dalam konteks karier, cinta, dan penilaian sosial, yang menggambarkan standar kecantikan sebagai tolok ukur keberhasilan serta penerimaan sosial. Mutia menegaskan bahwa film ini mengangkat tema cinta diri . elf-lov. dan penerimaan diri sebagai respons terhadap tekanan sosial yang menuntut kesempurnaan fisik. Putri Atsila . secara khusus menyoroti representasi self-love pada perempuan korban body shaming melalui pendekatan Charles Sanders Pierce. 4 Standar Kecantikan. Ketidaksetaraan Gender, dan Diskriminasi Sosial Standar kecantikan yang rigid dan sempit tidak hanya berdampak pada individu secara psikologis, tetapi juga memperkuat ketidaksetaraan gender dan diskriminasi sosial. Nilai patriarki yang masih dominan dalam masyarakat mengasosiasikan kecantikan perempuan sebagai modal sosial utama yang memungkinkan mereka memperoleh pengakuan dan penghargaan sosial (Khairana & Rasyid, 2023. Ningsih. Sazali, & Andinata, 2. Akibatnya, perempuan sering kali dinilai berdasarkan penampilan fisik, bukan kemampuan atau memperdalam kesenjangan gender dan memperkuat diskriminasi dalam ranah sosial dan karier. Fenomena ini memperlihatkan bagaimana standar kecantikan yang sempit dapat memperkuat stereotip gender dan membatasi ruang gerak perempuan dalam berbagai aspek Oleh karena itu, kajian mengenai representasi standar kecantikan dalam media, khususnya film, menjadi Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. penting untuk mengkritisi dan membuka ruang diskusi tentang bagaimana media dapat berperan dalam meredefinisi standar kecantikan yang lebih inklusif dan Melalui pendekatan ini, penelitian berupaya menangkap makna-denotatif dan konotatif dari tanda-tanda visual, verbal, dan naratif yang muncul. 2 Subjek dan Objek Penelitian METODOLOGI PENELITIAN Penelitian adalah suatu proses ilmiah yang bertujuan untuk memahami serta menginterpretasikan fenomena sosial dengan menggunakan pendekatan Penelitian dilakukan secara sistematis untuk mengkaji makna yang diberikan oleh individu atau kelompok terhadap suatu permasalahan social (Creswell, 2. Pendekatan kualitatif dipilih karena bersifat naturalistik, fokus pemahaman yang mendalam terhadap realitas, bukan hanya sekadar pengujian hipotesis (Sugiyono, 2. Objek yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah film Imperfect yang disutradarai oleh Ernest Prakasa, sebagai media populer yang merepresentasikan standar kecantikan dalam konteks sosial dan budaya Indonesia (Sari, 2. Objek penelitian adalah elemen-elemen visual dan verbal dalam film tersebut, seperti dialog, ekspresi, simbol, serta narasi yang berhubungan dengan konstruksi standar kecantikan,penerimaan diri, serta isu body (Karyadi, 2. Fokus penelitian diarahkan pada bagaimana film tersebut menyampaikan pesan-pesan simbolik yang berkaitan dengan tema standar kecantikan. 1 Jenis Penelitian Pendekatan kualitatif merupakan metode penelitian yang menitikberatkan pada pemahaman makna, proses, dan konteks dari suatu fenomena, bukan hanya mengukur variabel dalam bentuk angka. Menurut Creswell . Penelitian kualitatif digunakan untuk menelusuri dan memahami makna mendalam yang berkaitan dengan isu-isu sosial atau Penelitian ini bersifat deskriptif-analitis menguraikan dan menafsirkan makna simbolik yang terkandung dalam objek Dalam memanfaatkan pendekatan kualitatif untuk menganalisis Film Imperfect dianalisis menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes. Semiotika dianggap sebagai ilmu yang mempelajari tanda dan makna (Barthes, 1. , sehingga sesuai untuk membedah penerimaan diri, serta fenomena body shaming yang dieksplorasi dalam film. Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 3 Sumber Data 1 Data Primer Data primer merupakan informasi yang diperoleh langsung oleh peneliti dari objek studi melalui dokumen utama yang dianalisis (Haryono, 2. Pada penelitian ini, film Imperfect . karya Ernest Prakasa dijadikan sebagai sumber data primer. Film tersebut mengisahkan tokoh utama bernama Rara yang berupaya menerima dirinya di tengah tekanan sosial terkait standar kecantikan. Sebagai sebuah media populer, film ini menggambarkan bagaimana konstruksi sosial tentang kecantikan memengaruhi penerimaan diri, kesehatan mental, serta hubungan sosial Oleh sebab itu, film Imperfect analisis mendalam tentang representasi standar kecantikan dengan pendekatan semiotika Roland Barthes. P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 2 Data Sekunder Data informasi yang diperoleh peneliti secara tidak langsung, yakni melalui perantara dari orang lain atau dokumen tertulis (Sugiyono, 2. Dalam penelitian ini, data sekunder dikumpulkan dari berbagai sumber literatur yang relevan, seperti jurnal, artikel, buku, dan skripsi yang membahas konstruksi sosial standar hubungannya dengan kesehatan mental dan kesetaraan gender. Beberapa studi sebelumnya yang dijadikan referensi antara lain karya Sari . Karyadi . Nisak . Badawi . Mutia . , dan Putri Atsila . , yang semuanya meneliti representasi standar kecantikan dengan analisis 4 Fokus Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk representasi standar kecantikan dalam film Imperfect menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes (Barthes. Studi ini menekankan pada makna denotatif dan konotatif dari tanda-tanda yang terdapat dalam film tersebut, serta tanda-tanda membentuk pesan simbolik yang mencerminkan konstruksi sosial terkait kecantikan, penerimaan diri, dan tekanan sosial seperti body shaming (Mutia, 2024. Putri Atsila, 2. Selain itu, penelitian ini juga menelaah implikasi sosial dari representasi tersebut terhadap persepsi diri dan hubungan sosial perempuan. 5 Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data adalah metode yang digunakan oleh peneliti untuk mendapatkan informasi yang sesuai dengan tujuan penelitian. Teknik pengumpulan data memegang peranan krusial dalam menyediakan landasan DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. empiris bagi tahapan analisis (Darahadi, 1 Dokumentasi Teknik dokumentasi merupakan metode pengumpulan data dengan memanfaatkan dokumen atau arsip sebagai sumber informasi (Creswell. Dalam penelitian ini, dokumentasi dilakukan dengan menonton film Imperfect secara berulang, lalu mencatat tanda-tanda visual maupun verbal yang terkait dengan konstruksi standar 2 Observasi Observasi merupakan metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati secara langsung objek pemahaman yang lebih komprehensif mengenai fenomena yang diteliti. Observasi meliputi perhatian yang dilakukan secara sadar, terstruktur, dan sistematis terhadap objek, baik berupa perilaku, simbol, maupun kejadian tertentu yang relevan dengan fokus studi (Khasanah, 2. Dalam penelitian ini, observasi dilakukan dengan menonton film Imperfect . secara berulang untuk mengamati secara cermat setiap adegan, dialog, ekspresi wajah, gerak tubuh, hingga latar yang mencerminkan konstruksi standar kecantikan, body shaming, serta penerimaan diri. Melalui mengidentifikasi tanda-tanda visual dan verbal yang mengandung makna denotatif maupun konotatif berdasarkan kerangka analisis semiotika Roland Barthes. Observasi tersebut juga bertujuan untuk menggali bagaimana pesan simbolik terkait standar kecantikan dibentuk, disampaikan, dan dikritisi dalam alur cerita film, sehingga data yang diperoleh dapat dianalisis secara mendalam sesuai Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. tujuan penelitian (Mutia, 2024. Putri Atsila, 2. P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 2 Transformasi Penampilan dan Perubahan Perlakuan Sosial HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Hasil Setelah menganalisis film Imperfect beberapa adegan yang menggambarkan standar kecantikan dan penerimaan diri melalui aspek visual, dialog, dan narasi. Temuan tersebut disajikan secara perjuangan tokoh Rara dalam menghadapi stigma, body shaming, serta dampaknya terhadap kesehatan mental, karier, hubungan sosial, dan proses mencapai cinta pada diri sendiri. 1 Tekanan Sosial Penampilan Fisik Gambar 1. Tekanan Sosial terhadap Penampilan Fisik. Time 15. 30 - 15:40 Wiwid Irene : "Wah, makan bubur lagi. : "Ra, ingat lemaknya ya. Tapi tidak apa-apa, itu nutrisi untuk ibu hamil. Dalam scene tersebut. Rara merendahkan fisiknya karena tubuhnya tidak memenuhi standar kecantikan yang dianggap ideal. Pernyataan dari rekan kerjanya ini menggambarkan praktik body shaming yang sudah menjadi bagian dari budaya sosial, di mana perempuan sering kali menjadi sasaran penilaian publik. Kondisi ini menegaskan bahwa tekanan memengaruhi harga diri serta kedudukan sosial perempuan. Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 Gambar 2. Transformasi Penampilan dan Perubahan Perlakuan Sosial. Time 1. 50 Ae 1. Kelvin : "Bagaimana. Ra?" Rara : "Hm?" Kelvin : "Jadi, dirimu sekarang? Ada Rara : "Ada. Mas. Dulu saya sangat merasa tidak percaya diri, sekarang sudah lebih percaya diri. Dalam scene tersebut. Rara mengalami perubahan yang berarti setelah melakukan transformasi penampilan. menjadi lebih percaya diri dan tidak lagi merasa rendah diri seperti sebelumnya. Tanggapan dari Kelvin juga menunjukkan bahwa perubahan fisik Rara memengaruhi Hal ini menegaskan bahwa standar kecantikan masih memegang peranan penting dalam penilaian dan penghargaan seseorang dalam kehidupan 3 Perjuangan Penerimaan Diri dan Self-Love Gambar 3. Perjuangan Penerimaan Diri dan Self-Love. Time 1. 50 - 1. Magda : AuRara, kamu kok gendut lagi? Kamu udah gak olahraga lagi ya?Ay P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 Rara : AuMasih kok tante, tapi kan olahraga buat sehat tante, bukan buat kurusAy Nora : AuTapi kamu lebih cantik kurus loh RaAy Rara : AuTernyata cantik juga belum tentu Bahagia tanteAy Dalam adegan tersebut. Rara mengalami titik balik setelah tekanan sosial dan perubahan penampilan, di mana ia menyadari bahwa nilai diri tidak tergantung pada standar kecantikan, melainkan pada kemampuan mencintai diri sendiri untuk kebahagiaan dan kesehatan mental. 2 Pembahasan Film Imperfect standar kecantikan sebagai konstruksi sosial yang menekankan kesempurnaan fisik dan memperlihatkan dampak nyata terhadap kesehatan mental, kesetaraan gender, serta hubungan sosial perempuan. Temuan ini menguatkan peran media membentuk persepsi publik tentang kecantikan sekaligus mengkritisi norma yang berlaku (Komariyah, 2. Selain itu, fenomena body shaming dalam film ini sesuai dengan data WHO yang menunjukkan bahwa tekanan sosial terkait penampilan dapat meningkatkan risiko kecemasan dan depresi (World Health Organization, 2. Oleh karena itu, film ini bukan hanya sekadar hiburan, melainkan juga kritik sosial yang relevan Berdasarkan laman resmi SDGs Indonesia ( w. sdgs ). SDGs mempunyai 17 tujuan global, dan dalam konteks ini, yang paling terkait adalah SDGs nomor 3, 5, dan 10 karena berkaitan dengan kesehatan mental, kesetaraan gender, serta pengurangan kesenjangan DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. 1 Representasi Standar Kecantikan dalam Konteks Sosial Budaya Indonesia Film Imperfect menggambarkan bagaimana standar kecantikan di Indonesia dipengaruhi oleh nilai-nilai patriarki dan ekspektasi sosial yang menempatkan penampilan fisik sebagai modal utama bagi perempuan. Hal ini tergambar dari pengalaman tokoh Rara yang mengalami diskriminasi dan tekanan baik di lingkungan kerja maupun keluarga karena penampilannya yang tidak sesuai (Khairana & Rasyid, 2. Representasi ini menegaskan bahwa konstruksi kecantikan bersifat homogen, diwariskan melalui media, dan memperkuat stereotip gender yang membatasi kesempatan kemampuan, bukan sekadar penampilan (Ningsih. Sazali, & Andinata, 2. 2 Makna Simbolik dan Ideologi berdasarkan Semiotika Roland Barthes Berdasarkan analisis semiotika Roland Barthes, simbol-simbol dalam film Imperfect, seperti perubahan fisik Rara dan perbandingan sosial di tempat kerjanya, mengandung makna konotatif mengenai keberhasilan sosial yang sering kali diukur berdasarkan penampilan. Mitos yang dihadirkan adalah kecantikan sebagai ukuran nilai diri perempuan, yang memperkuat pandangan patriarki bahwa perempuan harus memenuhi kriteria tertentu untuk mendapatkan pengakuan sosial (Badawi, 2024. Mutia, 2. Melalui narasi film, terdapat kritik terhadap ideologi tersebut dengan . elf-lov. penerimaan keberagaman fisik (Putri Atsila, 2. Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. 3 Implikasi terhadap Penerimaan Diri. Kesehatan Mental, dan Relasi Sosial Perempuan Film ini menunjukkan bahwa tekanan untuk memenuhi standar kecantikan tidak hanya memengaruhi citra diri, tetapi juga berdampak pada hubungan sosial dan kesempatan Perbedaan perlakuan terhadap Rara sebelum dan mencerminkan bahwa penampilan fisik masih menjadi tolok ukur utama dalam penilaian sosial (Sari, 2025. Karyadi. Fenomena ini menegaskan bahwa penerimaan diri merupakan langkah krusial untuk menjaga kesehatan mental dan membangun hubungan sosial yang Pesan moral film mendukung pemahaman bahwa penghargaan terhadap keberagaman dapat mengurangi stigma meningkatkan kesejahteraan psikologis perempuan dalam masyarakat. 4 Relevansi terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG. Temuan penelitian ini berkaitan langsung dengan tujuan SDGs. Pertama. SDGs nomor 3 menekankan pentingnya kesehatan mental dan kesejahteraan, yang diilustrasikan dalam film melalui perjuangan Rara mengatasi dampak psikologis body shaming. Kedua. SDGs nomor 5 menyoroti kesetaraan gender, relevan dengan kritik film terhadap diskriminasi berbasis penampilan dan dominasi patriarki. Ketiga. SDGs nomor kesenjangan sosial, sejalan dengan pesan film untuk mendefinisikan ulang standar kecantikan agar tidak menjadi alat ketidakadilan sosial. Dengan demikian, film Imperfect tidak hanya merupakan berpotensi menjadi media advokasi yang Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 mendukung terciptanya masyarakat yang inklusif, setara, dan menghargai individu penampilan fisik. KESIMPULAN Secara disimpulkan bahwa film Imperfect kecantikan sebagai konstruksi sosial yang menimbulkan stigma dan body shaming, serta memberikan dampak pada kesehatan mental, hubungan Melalui analisis semiotika Roland Barthes, transformasi tokoh Rara mengandung makna konotatif bahwa kecantikan sering menjadi ukuran nilai diri, namun film ini pada akhirnya menyampaikan kritik melalui pesan tentang cinta pada diri sendiri Hasil menunjukkan bahwa media populer, khususnya film, tidak hanya berperan sebagai hiburan, tetapi juga menjadi media untuk menyampaikan kritik sosial yang mampu meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya penerimaan diri dan kesetaraan gender. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis penghargaan kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan secara akademis dalam penyusunan penelitian Penulis juga mengucapkan terimkasih kepada dosen pembimbing yang telah memberikan arahan, masukan dan saran yang konstruktif, sehingga penelitian ini diselesaikan dengan baik. DAFTAR PUSTAKA