JEK Journal of Earth Kingdom JEK 1. : 57Ae68 ISSN 3024-9821 Representasi etnis Tionghoa dalam media: Analisis perbandingan di media berita daring tirto. id, republika. id, dan tempo. Ari Harsono 1* dan Aqila Mazi 1 Program Sarjana Ilmu Komunikasi. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Indonesia Program Sarjana Ilmu Komunikasi. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Indonesia. mazi@ui. * Korespondensi: ariharsono@yahoo. Cite This Article: Harsono. , dan Mazi. Representasi etnis Tionghoa dalam media: Analisis perbandingan di id, dan tempo. Journal of Earth Kingdom, 1. , 57-68. https://doi. org/10. 61511/jek. Copyright: A 2024 by the authors. Submitted for posibble open access article distributed under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY) license . ttps://creativecommons. org/licens es/by/4. Abstract Ethnic representation in media is one the most powerful factor in forming peopleAos perception towards certain ethnic. In Indonesia. Chinese-Indonesian is the ethnic minority who often receive inequal representation in media, especially in online news site. This research aims to analyze representation of ChineseIndonesian ethnic in three different online news media. The objective of the research is to compare the representation trend of Chinese-Indonesian in these three online news site during sensitive and neutral situation as well as the factors influencing the trend. Keywords: Chinese-Indonesian. comparative analysis. online media. Abstrak Representasi suatu etnis dalam media merupakan salah satu hal yang paling berpengaruh dalam pembentukan persepsi masyarakat terhadap etnis Dalam konteks Indonesia, etnis Tionghoa merupakan kelompok yang kerap mendapat porsi representasi tidak seimbang terutama dalam media Penelitian ini menganalisis representasi etnis Tionghoa dari tiga media berita daring, yaitu Tirto. Republika. id, dan Tempo. Objektif dari penelitian adalah melihat tendensi representasi etnis Tionghoa di masingmasing media baik pada masa sensitif maupun tidak, serta faktor apa yang mempengaruhinya. Kata Kunci: analisis komparatif, etnis Tionghoa. media online. Pendahuluan Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya karena keberagaman etnisnya yang Tercatat ada 1331 suku di Indonesia dengan porsi 40. 5% ditempati oleh suku Jawa (Badan Pusat Statistik, 2. Kondisi ini membentuk komposisi mayoritas dan minoritas di tengah masyarakatnya. Multikulturalisme di Indonesia membawa banyak manfaat, seperti kekayaan budaya. Namun, hal ini juga diikuti tantangan. Sering kali terjadi kasus intoleransi dan diskriminasi kelompok mayoritas terhadap minoritas. Istilah diskriminasi dalam beberapa dekade terakhir identik dengan perilaku membeda-bedakan sekelompok orang, di mana sisi negatifnya mendominasi (Heinrichs, 2. Salah satu etnis minoritas di Indonesia yang kerap menerima perlakuan diskriminasi adalah Tionghoa. Sejarah kebencian terhadap etnis Tionghoa dapat ditarik jauh ke zaman kolonialisme Belanda. Dalam rangka memecah belah Masyarakat Indonesia. Belanda melakukan politik Belanda menetapkan pembagian penduduk dalam tiga strata. strata teratas JEK. VOLUME 1. ISSUE 2 https://journal-iasf. com/index. php/JEK JEK. VOLUME 1. ISSUE 2 ditempati oleh orang-orang Belanda atau penduduk kulih putih pada umumnya, strata kedua terdiri dari etnis India. Arab. Tionghoa, dan negara timur asing lainnya, serta di strata terbawah terdapat orang-orang pribumi. Namun, kondisi ini justru menyebabkan gesekan di masyarakat dan menciptakan eksklusivisme (Darini, 2. Eksklusivisme tersebut terus berdampak bahkan hingga pemerintahan Indonesia sudah cukup stabil. Menurut penelitian berjudul AuPolitical Institutions and Ethnic Chinese Identity in IndonesiaAy karya Amy Freedman, kebencian berbasis rasial kepada etnis Tionghoa adalah hasil dari politik pecah belah oleh Soeharto (Freedman, 2. Pada jaman kekuasaannya. Soeharto membuat kebijakan yang memaksa etnis Tionghoa untuk meleburkan identitasnya yang dianggap berbeda dengan masyarakat Indonesia kebanyakan dan mengidentifikasi mereka sebagai bukan pribumi. Sementara, di sisi lain, terdapat sekelompok kecil etnis Tionghoa yang mendapatkan kesempatan besar dalam perekonomian, sehingga dianggap merepresentasi seluruth etnis Tionghoa sebagai kelompok yang licik untuk menjadi Masyarakat yang persepsinya telah terbentuk akhirnya menarget etnis Tionghoa sebagai sasaran kebencian saat terjadi krisis ekonomi yang membuat Soeharto jatuh (Dhani, 2. Tirto. id pernah mengangkat isu sentimen tentang etnis Tionghoa yang menguat pasca pilkada DKI 2017 (Hasan, 2. Isu rasial dan agama memang cukup banyak dimainkan dalam kontestasi politik saat itu karena salah satu calon gubernur DKI Jakarta yaitu Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok beretnis Tionghoa dan beragama Kristen. Seperti yang dibahas Tirto. id di artikel yang sama, menguatnya sentimen masyarakat terhadap etnis Tionghoa juga banyak dipengaruhi oleh peran media. Indarwati Aminuddin pernah menjajaki topik ini dalam artikelnya yang bertajuk AuPrasangka Media Terhadap Etnis TionghoaAy. Di awal tahun 2000-an terdapat banyak konten media massa yang bertendensi menjatuhkan etnis Tionghoa. Misal, salah satu berita di Tempo edisi 25 Februari-03 Maret 2002 yang berjudul AuBye. Bye. Bank Cina Asli. Bye?Ay Bank Cina Asli yang dimaksud oleh Tempo adalah plesetan dari Bank Central Asia atau yang biasa disingkat BCA. Penggunaan atribusi ini dinilai bermasalah karena berpotensi menggiring opini masyarakat bahwa BCA adalah bank yang menghidupi orang-orang Cina (Aminuddin, 2. Sering kali munculnya pemberitaan yang tidak seimbang terkait etnis Tionghoa, mendorong penulis untuk menuliskan topik ini dari sisi representasi. Mengingat representasi satu pihak dalam pemberitaan sangat memengaruhi isi berita dan berdampak pada persepsi pembaca, bahkan lebih jauh lagi menentukan posisi suatu kelompok dalam masyarakat. Representasi etnis Tiongha selalu menjadi bahasan yang menarik untuk para peneliti media karena terus menerus relevan dari masa ke masa. Seperti artikel jurnal yang ditulis Ezmieralda Melissa yang berjudul AuRepresentasi Warga Tionghoa dan KecinaanAy dalam Media Kontemporer Indonesia. Artikel tersebut menganalisis tentang representasi etnis Tionghoa di dua media yang berbeda, yaitu TempoAimedia yang terkenal kritis dengan pemberitaannyaAi dan Jia XiangAimedia bagi orang Tionghoa yang bertujuan untuk mendorong integrasi etnis tersebut dengan warga Indonesia non Tionghoa (Melissa, 2. Beberapa artikel lain yang membahas tentang representasi etnis Tionghoa berfokus pada media film. Kisah etnis Tionghoa diangkat dalam berbagai genre film, salah satunya film komedi romantik berjudul AuNgenestAy karya Ernest Prakasa. Tokoh Ernest yang beretnis Tionghoa digambarkan sebagai sosok yang sering menerima perundungan, sehingga cenderung menghindari konflik dan menanggung begitu banyak beban psikologis karena latar belakangnya (Widyasmara, dkk. , 2. Di film AuBabi Buta yang Ingin TerbangAy karya Edwin, juga menggambarkan sekeluarga Tionghoa yang mengalami hal serupa, yaitu hidup dengan diskriminasi dan tekanan dari berbagai pihak (Rachman, 2. Di sisi lain, film AuCin(T)aAy yang menceritakan kisah romansa seseorang betetnis Cina beragama Kristen dengan seorang perempuan Islam beretnis Jawa, menggambarkan etnis Tionghoa dengan stereotip yang berlawanan dengan yang beredar di masyarakat. Cina digambarkan berasal dari kalangan menengah ke bawah dan berkulit agak gelap (Sekti, 2. JEK. VOLUME 1. ISSUE 2 Sejauh ini, belum banyak yang mengangkat representasi etnis Tionghoa yang disajikan di media berita daring, sementara, semakin banyak orang yang menjadikan media tersebut sumber informasi. Oleh karena itu, penelitian ini dapat melengkapi kekosongan pengetahuan terkait representasi etnis Tionghoa di media berita daring. Melalui penelitian ini, penulis akan meneliti tentang representasi etnis Tionghoa dari tiga media daring berbeda yaitu Tirto. Republika. id, dan Tempo. co akan dianalisis dalam rentang waktu sebelum, saat, dan setelah pilkada DKI Jakarta berlangsung pada bulan September 2016 - Mei 2017. Di akhir penulisan, akan terlihat bagaimana kecenderungan masing-masing media daring merepresentasi etnis tersebut. Rumusan masalah penelitian ini, bagaimana Tirto. Republika. id, dan Tempo. co berbeda dalam merepresentasi etnis Tionghoa? dan faktor-faktor apa yang memengaruhi perbedaan representasi etnis Tionghoa dalam pemberitaan di Tirto. Republika. id, dan Tempo. Kerangka Konseptual Kerangka konseptual adalah struktur yang dipercayai oleh peneliti dapat menjelaskan permasalahan yang dirumuskan. Di dalam penelitian ini, penulis menggunakan konsep representasi, media berita daring, dan etnis Tionghoa sebagai perangkat analisis isi. Representasi Realita telah banyak dikonstruksikan oleh media. Masyarakat mendefinisikan peran gender melalui apa yang ditampilkan oleh media. Begitu pula dengan ras, media ikut andil dalam menentukan apa yang perlu digambarkan. Media tidak menampilkan realita secara utuh, namun hanya menampilkan ulang realita-realita yang sudah diseleksi atau melewati proses yang disebut representasi. Representasi adalah penggambaran, kesamaan, dan citra yang dikonstruksi (Stewart dan Kowlatzke, 2. Lebih dalam lagi, representasi media didefinisikan sebagai cara media menggambarkan suatu kelompok, komunitas, pengalaman, ide, atau topik dari suatu pandangan ideologi atau nilai. Apa yang ditampilkan oleh media telah melewati berbagai proses seleksi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, misalnya, nilai yang dipegang oleh para pekerja media, cara khalayak memahami suatu konten, lansekap media secara keseluruhan, juga konteks sejarah dan sosial (Stewart dan Kowlatzke, 2. Sebagai salah satu institusi sosial yang berperan menjadi agen sosialisasi, representasi yang dilakukan media berpengaruh dalam pemahaman masyarakat akan sesuatu. Pelibatan suatu kelompok dalam konteks sosial di masyarakat sangat berkaitan erat dengan visibilitas dan partisipasinya di berbagai wacana publik. Oleh karena itu, menurut Trebbe et al. , 2017, representasi media dapat dibedakan ke dalam 3 tahap hirarki: A Tematisasi: tematisasi atau visibilitas atas suatu kelompok di media perlu diperhatikan. Suatu kelompok harus mendapat tempat di media agar bisa menjadi bagian dari realita sosial. A Representasi sebagai bagian dari masyarakat: penggambaran suatu kelompok tentang hubungannya dengan kelompok lain harus ditampilkan dalam media sebagai isu yang relevan. A Partisipasi: tahap akhir dari representasi ini berfokus pada pelibatan suatu kelompok dalam media hanya sebagai objek dari konten atau berpartisipasi aktif sebagai subjek (Trebbe et al. Agar khalayak setuju dan memahami representasi yang ditampilkan oleh media, representasi bekerja dalam beberapa cara (Stewart dan Kowlatzke, 2. Pertama, representasi diisi dengan elemen yang diulang-ulang. Semakin sering khalayak melihat elemen tersebut, representasi akan terlihat semakin natural. Selanjutnya, media membuat kategori atas suatu kelompok. Kategori yang menjadi bagian dari representasi tersebut mengeneralisasikan kelompok tersebut di dalam pemikiran khalayaknya. Di dalam representasi, terdapat pula sudut pandang dari pembuat konten media. Pembuat konten bertugas menyeleksi dan mengonstruksi realita lewat konten-konten yang mereka produksi. JEK. VOLUME 1. ISSUE 2 Mereka melibatkan pula penilaian pribadi mereka terhadap suatu kasus yang pada akhirnya memengaruhi keseluruhan isi berita. Berkaitan dengan hal tersebut, di dalam representasi terdapat pula mode of address. Mode of address adalah sebuah proses dalam pembentukan teks untuk membangun hubungan antara pembuat konten dan khalayak tentang bagaimana organisasi media memperlakukan khalayaknya. Terakhir, media akan mengundang khalayak untuk mengidentifikasi atau mengenali representasi. Khalayak dapat mengidentifikasi diri dengan suatu karakter dalam media bila kepribadian dari karakter tersebut sesuai dengan cara Di lain sisi, bila representasi dari karakter terlihat asing, khalayak akan sebatas mengenali representasi tersebut. Media Berita Daring Internet berkembang begitu pesat di era ini seiring dengan infrastruktur yang semakin meluas. Data menunjukkan bahwa Indonesia merupakan pengguna Facebook nomor dua terbanyak di dunia . 5 juta aku. dan teraktif di twitter . %) (Margianto dan Ase. Situasi ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu pengguna internet yang paling aktif. Berkembangnya penggunaan internet di Indonesia memengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat, termasuk beralihnya kegiatan jurnalisme ke dunia daring. Jurnalisme daring adalah proses kerja jurnalisme yang dilakukan di media siber atau media berbasis internet. Pada pertengahan 1990-an. Republika hadir sebagai media cetak pertama yang merilis versi daringnya. Lalu diikuti Tempo. Harian Waspada dari Sumatera Utara, dan Kompas. Namun, karena penetrasi internet masih sangat rendah dalam masa tersebut, konten-konten yang terdapat di versi daring media bersifat statis. Konsep statis ini kemudian berubah dengan kehadiran Detik. com yang digagas oleh Budiono. Kala itu, pada tahun 1998. Budiono ingin membuat media yang tidak mudah dibredel dan dapat menyajikan berita secara cepat (Margianto dan Ase. Perkembangan media daring semakin pesat saat Indonesia memasuki era booming Berbagai media daring bermunculan di internet, namun model bisnis ini tidak bertahan lama dan berakhir di tahun 2002. Media daring kembali berjaya pada tahun 2008. Didukung oleh perkembangan internet 2. 0, kini media daring dapat melibatkan pembacanya untuk ikut berpartisipasi di konten berita (Margianto dan Ase. Menurut Ketua Dewan Pers Yosep Stanley, terdapat kurang lebih 43. 000 media berita daring di Indonesia, namun, hanya 211 media daring saja yang lolos syarat pendataan pada Perkembangan media daring ini pun turut mengubah pola konsumsi Masyarakat terhadap media berita. Pada tahun 2017, pembelian media cetak secara personal menurun 8% dari tahun 2013. Menurut Direktur Eksekutif Nielsen Indonesia. Hellen Katherina, masyarakat mulai teredukasi bahwa media harus gratis, sehingga masyarakat lebih banyak membaca media cetak di perpustakaan, sekolah, dan kantor (Reily, 2. Perkembangan media daring dalam konteks global bagaikan pisau bermata dua. Salah satu kekuatan media daring dibanding media cetak adalah aksesnya terhadap informasi dan berbagai jaringan. Berbeda dengan media cetak pada umumnya, pembaca media daring dapat mengakses berita berita alternatif maupun jurnalis warga. Terlebih, media daring dapat menyajikan berita lebih cepat dan real time (Wikan, 2. Namun di sisi lain, kecepatan ini membawa perubahan di berbagai aspek, seperti efisiensi jumlah pekerja media karena begitu banyak proses dalam bisnisnya yang diganti oleh teknologi, juga perilaku pembacanya yang menginginkan berita yang lebih ringkas (Wikan, 2. Sering kali, atas nama kecepatan dan jumlah klik, media daring mengesampingkan kualitas dan kredibilitas. Sehingga, laporan yang masuk ke Dewan Pers terkait keluhan terhadap konten media daring jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun (Margianto dan Ase. JEK. VOLUME 1. ISSUE 2 Profil Media dan Karakteristiknya Di bawah ini paparan mengenai karakteristik dari tiga media daring yang akan dianalisis berikut dengan sudut pandang masing-masing media dalam memberitakan etnis Tionghoa. Tirto. id pertama kali dibangun pada tahun 2016. Seperti media daring pada umumnya. Tirto. id menjanjikan kecepatan dalam setiap penyajian berita-beritanya. Namun. Tirto. menolak untuk sekadar menjadi media daring yang terlalu mengutamakan kecepatan, klik, dan page views, sehingga mengenyampingkan keakuratan, konteks, dan kedalaman berita. Oleh karena itu. Tirto. id hadir dengan tajuk AuJernih. Mengalir, dan MencerahkanAy. Tirto. mengibaratkan diri sebagai air yang mengalir, mengisi ceruk, serta menunjukkan kedalaman. Citra yang tertanam dalam media daring Tirto. id adalah in depth, long form, data, dan visual. Tirto. id percaya bahwa berita yang mendalam serta tidak mengabaikan kecepatan merupakan berita yang layak disajikan untuk pembaca Indonesia maupun pengendali keputusan. Idealisme Tirto. id membuatnya memiliki karakteristik berita yang berbeda dengan media daring lain yang mengutamakan kecepatan. Menurut Sapto, pendiri Tirto. id, media ini bagaikan Salmoners atau berjiwa seperti ikan salmon saat bereproduksi (Armando dan Ciptadi. Etnis Tionghoa kerap mendapat perlakuan yang tidak seimbang dalam pemberitaan, namun tidak di Tirto. Tirto. id konsisten memberikan visibilitas untuk etnis Tionghoa baik di masa-masa sensitif maupun tidak. Pada masa-masa pilkada. Tirto. id mempublikasi berita yang berpihak pada etnis Tionghoa dengan judul AuIsu SARA Dinilai Untungkan Anies-SandiagaAy dan AuTrauma Kolektif dan Kebencian Etnis. Sementara, berita-berita berbentuk feature yang mengangkat kebudayaan serta tokoh-tokoh beretnis Tionghoa, seperti berita dengan judul AuSejarah Hidup John Lie: Penyelundup Sekaligus Penyelamat RepublikAy. Republika. id merupakan portal berita daring yang berawal dari koran harian nasional Republika. Republika yang dibentuk komunitas muslim di Indonesia, kini terkenal sebagai sumber berita Islam yang diperkuat oleh tagline-nya yaitu AuJendela UmatAy. Melalui tagline tersebut. Republika. id mendifinisikan lebih lanjut nilai-nilai perusahaannya ke dalam visi menjadi perusahaan media cetak terpadu berskala nasional serta dikelola secara profesional Islami, sehingga berpengaruh dalam proses percerdasan bangsa, pengembangan kebudayaan, serta peningkatan keimanan dan ketaqwaan dalam kehidupan bermasyarakat Indonesia baru. Serta misinya yaitu pencerdasan bangsa melalui pendalaman wawasan yang berbasis komunitas melalui pemberitaan yang akurat, aktual, terpercaya, edukatif, serta membela keadilan dan kebenaran, juga berusaha meningkatkan dan menguatkan prestasi dan dedikasi individu menjadi sebuah tim sebagai kunci perkembangan perusahaan dan peningkatan kesejahteraan (Jatmiko, 2. Berbeda dengan Tirto. id, berita-berita di Republika. id terkait etnis Tionghoa disajikan dengan sentimen yang cukup kuat terutama di peristiwa-peristiwa tertentu, seperti pilkada DKI tahun 2017. Hal ini dapat terjadi karena mayoritas muslim di Indonesia masih memiliki sentimen negatif terhadap etnis Tionghoa, begitu pun sebaliknya. Menurut survei yang terdapat dalam buku AuContentious Belonging: The Place of Minorities in IndonesiaAy, stigma-stigma terkait etnis Tionghoa seperti sifatnya yang eksklusif dan memiliki budaya yang tidas sejalan masih melekat pada kelompok muslim di Indonesia (Savitri, 2. Pada masa pilkada. Republika menulis pernyataan Amien Rais yang menyinggung soal etnis Tionghoa di berita yang berjudul AuBung Jokowi. Selesaikan Skandal AhokAy. Di samping itu, terdapat pula berita yang tidak berkaitan dengan pilkada yang berjudul AuSuaka Via Perkosa: Menguak Kebenaran Perkosaan di Kerusuhan Mei 1998Ay. Sementara, setelah masa sensitif itu berakhir. Republika. id kembali memuat berita tentang etnis Tionghoa yang berjudul AuEtnis Tionghoa Anak Emas di Bumi PertiwiAy. Tempo. co merupakan situs berita salah satu pionir media berita daring di Indonesia. Pertama kali hadir pada tahun 1995. Tempo. co berusaha menjadi media berita daring yang dapat dipercaya di tengah banyaknya situs berita yang mulai bermunculan. Pada tahun 2008. Tempo. co melakukan rebranding untuk menampilkan wajah baru dan sajian berita yang lebih JEK. VOLUME 1. ISSUE 2 Tempo. co menerapkan standard jurnalisme yang tinggi. Berita yang disajikan harus tajam, berimbang, dan cerdas. Selain itu, berita pun harus memiliki substansi dan enak dibaca, bahkan dalam versi jenaka sekalipun. Sebagai bagian dari majalah Tempo yang menegaskan netralitas dan independensi. Tempo. co pun menerapkan nilai-nilai yang sama dalam setiap pemberitaannya, termasuk yang terkait etnis Tionghoa. Komposisi representasi dari kelompok minoritas dan mayoritas berimbang dalam pemberitaan. Seperti saat sentiment terhadap etnis Tionghoa memanas di masa pilkada. Tempo. co mengangkat berita dengan judul AuOesman Sapta Minta Keluarga Tionghoa BersatuAy. Sementara di masa lainnya. Tempo. co juga pernah mengangkat hubungan antar etnis Tionghoa dan pemerintah Republik Indonesia dengan bahasan yang berimbang dalam pemberitaannya yang berjudul AuSebut Cina atau Tionghoa?Ay. Etnis Tionghoa di Indonesia Indonesia merupakan negara yang penduduknya terdiri dari beragam etnis. Etnis Tionghoa adalah salah satu dari dua puluh etnis dengan komposisi penduduk terbesar di Indonesia. Menurut Groeneveldt, orang Tionghoa telah bermigrasi ke bumi nusantara sejak tahun 400-an (Utama, 2. Ditambahkan oleh Onghokham, keturunan etnis Tionghoa di Indonesia disebabkan oleh pernikahan orang Tionghoa dengan wanita Indonesia, karena tidak ada wanita Tionghoa totok yang melakukan migrasi (Utama, 2. Saat ini, etnis Tionghoa telah banyak tersebar di seluruh Indonesia. Berdasarkan sensus penduduk tahun 2010, etnis Tionghoa merupakan salah satu dari dua puluh etnis dengan jumlah paling besar di Indonesia dengan menempati urutan ke-18 (Katadata. Jumlah etnis Tionghoa di Indonesia adalah 2. 83 juta jiwa atau sekitar 1. 2% dari total penduduk penduduk Indonesia. Sebagai minoritas di Indonesia, etnis Tionghoa sering mendapat perlakuan Sentimen terhadap etnis Tionghoa menguat saat peristiwa-peristiwa tertentu bahkan hingga saat ini. Kebencian yang mengakar terhadap etnis Tionghoa bermula sejak zaman kolonialisme Belanda. Sentimen tersebut merupakan konstruksi sosial yang dibangun oleh penguasa-penguasa asing maupun pribumi. Saat VOC masuk ke Indonesia, etnis Tionghoa mulai diperlakukan sebagai rekan bisnis oleh Belanda, sehingga seolah-olah lebih tinggi stratanya dibanding pribumi (Dhani, 2. Namun, hubungan ini tidak berlangsung lama. Pada Oktober 1740, petani Tionghoa yang tidak di pinggiran Jakarta memberontak dan membuat Belanda menyerang mereka balik. Adrian Volckanicker. Gubernur Jenderal saat itu, memerintahkan untuk membantai seluruh orang Tionghoa. Kota terbakar hebat dan kanal berubah menjadi merah karena darah selama Pembantaian orang Tionghoa di Batavia ini dikenal dengan nama Geger Pecinan (Dhani, 2. Selain menjadi rekan bisnis, etnis Tionghoa juga dijadikan pemungut pajak baik oleh kerajaan Jawa maupun saat kolonialisme Inggris dan Belanda. Sejak saat itu, kesenjangan semakin meruncing antar etnis Tionghoa dan pribumi. Tionghoa takut pada pribumi, sementara pribumi menganggap Tionghoa sebagai etnis yang materialistis (Dhani, 2. Tidak berhenti di zaman pra kemerdekaan, etnis Tionghoa pun menerima diskriminasi di zaman pemerintahan Soekarno. Pada masa pemerintahannya, dikeluarkan sebuah Surat Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 2933/M tanggal 14 Mei 1959 yang melarang orangorang asing, terutama Tionghoa, untuk berdagang agar lebih banyak kesempatan bagi pengusaha pribumi berbisnis (Matanasi. Tirto. id, 2. Setelah orde lama berakhir, kebijakan-kebijakan orde baru yang terkesan fobia Tionghoa semakin memperparah sentiment terhadap etnis ini. Mereka dilarang merayakan Imlek, diwajibkan mengganti nama Tionghoa menjadi nama Indonesia, dan alih-alih menggunakan kata Tionghoa, kata Cina dianggap lebih merepresentasi suara rakyat Indonesia (Raditya, 2. JEK. VOLUME 1. ISSUE 2 Akhirnya, pada masa pemerintahan Gus Dur, pelarangan-pelarangan ini dicabut dan orang Tionghoa dapat merayakan Imlek secara terbuka. Dua tahun berikutnya, di masa kepemimpinan Megawati. Imlek diberlakukan sebagai hari perayaan nasional (Galih, 2. Etnis Tionghoa di Indonesia mengambil peran penting di berbagai aspek. Menurut sejarawan dari Yayasan Nabil. Didi Kwartanada, terdapat ratusan etnis Tionghoa yang memiliki peran besar dalam kemerdekaan Indonesia (Suriyanto, 2. Salah satu di antaranya adalah John Lie, tentara Angkatan Laut Indonesia yang berjasa menembus blokade Belanda di laut pada masa penjajahan. Kontribusi etnis Tionghoa pun tidak berhenti di masa penjajahan. Kini, telah banyak etnis Tionghoa yang berperan di bermacam bidang, seperti politik dan olahraga. Hasil dan Pembahasan Pembahasan tentang Perbandingan Representasi Etnis Tionghoa dalam Media Berita Daring Partisipasi suatu kelompok dalam masyarakat sangat dipengaruhi oleh representasinya dalam Seperti yang pernah dijelaskan Trebbe et al. , 2017, visibilitas suatu kelompok di media sangatlah penting (Trebbe et al. , 2. Terlebih, menurut Bennet. Gilliam, dan Jamieson, diantara sekian banyak faktor yang membentuk opini publik terhadap keputusuan politik, media massa dianggap memberikan pengaruh yang signifikan (Mastro and Kopacz, 2. Hal yang menarik adalah masing-masing media memiliki cara yang berbeda dalam merepresentasi kelompok tertentu. Salah satu kelompok yang cukup kentara perbedaan representasinya di media adalah etnis Tionghoa di Indonesia. Tiga portal berita daring yang kerap memberitakannya dari sisi yang berseberangan adalah Kompas. Tirto. id dan Republika. id, salah satunya dalam kasus penistaan agama yang dilakukan oleh mantan gubernur DKI Jakarta. Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Perdebatan yang semakin menjadi di tengah masyarakat akibat kasus ini berdampak pada begitu banyak aspek, termasuk sentimen masyarakat terhadap etnis Tionghoa. Masingmasing dari Kompas. Tirto. id, dan Republika. id memiliki perlakuan yang berbeda dalam menggunakan perannya sebagai pembentuk opini. Mengklaim sebagai media berita yang netral dan beridealisme. Tirto. id memang kerap mengangkat berita berita yang anti-mainstream dan menyuarakan kelompok- kelompok marginal, termasuk Tionghoa. Seperti di salah satu beritanya yang berjudul AuIsu SARA Dinilai Untungkan Anies-SandiagaAy yang diterbitkan di masa-masa pilkada yaitu Maret 2017 (Chotimah, 2. Berita ini mengangkat tentang Wakil Ketua Setara Institute yang menyayangkan sikap Anies dan Sandiaga yang tidak berkometar apapun terkait isu SARA yang menimpa Ahok. Begitu banyak kelompok intoleran yang mengajak masyarakat kelas bawah untuk tidak memilih Ahok karena karena agamanya yang berbeda di masa ini. Narasumber tersebut yakin bahwa Anies merupakan sosok yang intelektual dan moderat, namun nilai tersebut ia korbankan untuk mencapai kemenangan dengan membiarkan ketidakrasionalan ini Selain berita yang secara eksplisit mengulas masalah pilkada, terdapat berita di masa yang sama yang mengangkat rasisme terhadap etnis Tionghoa dari sisi lain. Berita yang berjudul AuTrauma Kolektif Tionghoa dan Kebencian EtnisAy mengulas tentang ketakutan etnis Tionghoa terhadap demo besar-besaran 4 November 2017 (Dhani, 2. Diawali dengan kilas balik korban kebencian rasial pada Mei 1998 yang menjadi titik awal tumbuhnya trauma etnis Tionghoa. Tirto. id kemudian membeberkan fakta bahwa kebencian rasial ini menguat di mana terdapat ungkapan rasisme di berbagai tempat, baik pendapat- pendapat petinggi pemerintahan maupun tulisan-tulisan di jalanan. Menurut Tirto. id, dengan keadaan yang terjadi saat ini dan sejarah panjang kebencian rasial yang kelam, etnis Tionghoa yang ketakutan dapat dimaklumi. Terlebih, ketakutan ini diajarkan dan diturunkan oleh orang tua yang dulu mengalami ke anak cucu mereka. Ketakutan ini tidak berkesudahan karena negara dianggap absen menyelesaikan masalah ini. Negara tidak secara terbuka mengutuk kejadian Mei 1998 JEK. VOLUME 1. ISSUE 2 yang banyak memakan korban dan tidak transparan dalam mengungkap fakta peristiwa. Berita ini juga menyinggung tentang bagaimana Tempo berulang kali menghadapi polemik terkait tulisannya yang menggunakan kata AuCinaAy dengan tendensi merendahkan. Label dalam media dianggap penting karena berpengaruh pada bagaimana masyarakat bersikap terhadap yang Sesuai idealismenya. Tirto. id tidak hanya memuat berita yang bernada positif tentang etnis Tionghoa di masa-masa sensitif, namun juga di kesempatan-kesempatan lain dalam bentuk berita feature. Sering kali Tirto. id mengangkat tokoh-tokoh Tionghoa yang berpengaruh di Indonesia dalam tulisan-tulisannya, seperti artikel tentang pahlawan nasional yang beretnis Tionghoa, salah satunya dengan judul AuSejarah Hidup John Lie: Penyelundup Sekaligus Penyelamat RepublikAy (Matanasi. Tirto. id, 2. John Lie merupakan bagian Angkatan Laut Indonesia pada jaman kemerdekaan. Ia merintis karir sebagai pelaut dengan bekerja di perusahaan pelayaran milik Belanda. Di dekat tempatnya bekerja, terdapat pula pangkalan Angkatan Laut Inggris. Ia diperbantukan menjadi tenaga operasional di sana, sehingga memiliki banyak pengetahuan tentang senjata api, logistik, dan taktik perang laut. Berbekal pengalamannya tersebut. John Lie melamar ke Angkatan Laut Indonesia dan kerap mendapat tugas untuk menembus blokade laut Belanda dengan menyelundup menggunakan kapal cepat. Menariknya, berita tersebut tidak hanya menceritakan tentang sejarah hidup John Lie, namun juga menekankan secara terang- terangan atribut-atribut minoritas yang dimiliki John Lie. Misalnya, dalam kalimat pembukanya. Ausudah Tionghoa. Kristen pula. Kurang minoritas apa di negara kita yang katanya maritim ini?Ay. Di kalimat lain juga John Lie dikaitkan dengan atribut mata sipit untuk menggambarkan sulitnya ia untuk hidup di Indonesia. Berbeda dengan Tirto. Republika. id cenderung memberitakan etnis Tionghoa dengan representasi yang negatif dan berpihak kepada umat Islam. Terlebih, dua kelompok ini sering bertabrakan kepentingannya, terutama di kasus penistaan agama Ahok. Pada masa itu, terdapat artikel opini yang ditulis oleh Amien Rais berjudul AuBung Jokowi. Selesaikan Skandal Ahok!Ay dipublikasikan oleh Republika. id (Rais, 2. Melalui tulisan ini. Amien Rais mendesak Jokowi untuk mennghukum Ahok dengan tegas atas dugaan penghinaan terhadap umat Islam yang ia lakukan. Menurut Amien Rais, selama ini pemerintah Indonesia tidak memberikan banyak kesempatan terhadap masyarakat dan justru terlalu berpihak pada kepentingan asing dan AuasengAy dalam berbagai sektor pembangunan. Di tengah masalahmasalah ekonomi yang melanda, masyarakat tetap bersabar dan tidak bergerak, namun masyarakat tidak tinggal diam ketika agamanya dihina. Penyebutan AuasengAy di berita ini merujuk pada etnis Tionghoa. Etnis ini disejajarkan oleh AuasingAy, tidak dianggap bagian dari masayarakat, bahkan disebut sebagai benalu bangsa di salah satu paragrafnya. Terdapat pula berita lainnya di masa pilkada yang menyinggung etnis Tionghoa, namun bukan terkait kasus Ahok. Berita tersebut menceritakan tentang percakapan jurnalis Selamat Ginting dan Letjen (Pur. Muhammad Ghalib tentang peristiwa kerusuhan Mei 1998 (Ginting. Ghalib yang pada masanya masih menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Hukum (Kababinhu. ABRI secara yakin menjelaskan bahwa isu perkosaan masal terhadap perempuan Tionghoa saat itu adalah berita bohong. Ia menyebut seorang Cina kurang ajar melakukan modus penipuan dengan menyebarkan berita tersebut agar etnis Tionghoa di Indonesia mendapat suaka politik di Amerika Serikat saat kerusuhan terjadi. Ia pun memperlihatkan dokumen investigasi kasus tersebut dari FBI. Biro Penyelidik Amerika. Seorang warga keturunan Tionghoa diduga menunggangi kerusuhan ini sebagai bisnis. melatih kliennya untuk menangis dan meraung saat menceritakan kasus pemerkosaannya agar diberikan suaka. Voice of America, media berita di Amerika Serikat juga sempat membuat liputan tentang kasus tersebut dengan menelusuri tempat- tempat yang mungkin menjadi lokasi perkosaan massal tersebut, namun hasilnya nihil. Memang terdapat laporan kasus pemerkosaan, namun hanya perkosaan biasa yang terjadi setiap bulannya. Penulis pun JEK. VOLUME 1. ISSUE 2 menyebutkan bahwa bangsa Indonesia telah dipermalukan WNI keturunan Cina karena berita bohong ini. Setelah masa-masa sensitif pilkada berakhir. Republika kembali memuat opini Rivai Hutapea. Pemimpin Redaksi Majalah Oase. Melalui tulisan tersebut, ia mengkritik tulisan Guru Besar FH UGM. Denny Indrayana, yang berjudul AuPribumi dalam Tenun KeindonesiaanAy (Hutapea, 2. Tulisan Denny menjelaskan berbagai kebijakan baik pada masa Orde Lama maupun Orde Baru yang bersifat diskriminatif dan membatasi ruang gerak etnis Tionghoa. Namun. Rivai tidak menyetujui pendapat tersebut. Menurutnya, ada banyak kebijakan yang diskriminatif namun tidak benar-benar dipraktikkan, sehingga tidak benar bila etnis Tionghoa merupakan etnis yang menderita. Sebaliknya, pemerintah memberikan kesempatan dan akses yang begitu luas pada mereka, bahkan membuatkan regulasi khusus, demi melancarkan bisnis Keadaan etnis Tionghoa dalam tulisan ini dibandingkan dengan kelompok Aopribumi IslamAo. Bisnis-bisnis milik pribumi Islam pada akhirnya mati karena tidak mampu bersaing dengan konglomerasi yang dimiliki etnis Tionghoa. Padahal, pribumi Islam telah berkontribusi besar dalam kemerdekaan Indonesia. Dipaparkan pula bagaimana Warga Negara Indonesia hanya menguasai sedikit dari persentase ekonomi Indonesia dibanding etnis Tionghoa. Secara langsung, penulis melakukan apa yang disebut sebagai AootheringAo. Menurut Wodak et al, othering merupakan proses mengonstruksi panggilan terhadap sebuah kelompok yang diidentifikasi berbeda dari in-group dan digambarkan sebagai orang asing yang bersifat mengancam (Lams, 2. Di sisi lain. Tempo. co memberitakan etnis Tionghoa secara berbeda dari Tirto. id dan Republika yang cenderung condong pada dua kutub yang berlawanan. Prinsip netralitas yang dipegang oleh Tempo. co memengaruhi cara media ini merepresentasi etnis minoritas, termasuk etnis Tionghoa. Di tengah polemik kasus penistaan agama dan pilkada DKI Jakarta yang menguatkan isu sentimen terhadap etnis Tionghoa. Tempo. co mempublikasi berita yang menyuarakan persatuan antar suku, ras, dan agama di Indonesia. Salah satunya mengangkat pidato Oesman Sapta. Wakil Ketua MPR RI, di depan komunitas etnis Tionghoa. Yayasan Harapan Kasih Indonesia (Tempo. co, 2. Melalui pidatonya. Oesman Sapta menekankan tentang keragaman suku dan ras yang ada di Indonesia, sehingga seluruh unit masyarakat harus menghindari sikap eksklusivisme agar tidak terjadi kecemburuan sosial. Menurut Oesman, etnis Tionghoa juga merupakan bagian dari bangsa Indonesia yang memiliki hak setara dan wajib turut serta dalam pembangunan. Di waktu lainnya saat isu etnis Tionghoa tidak merebak kuat di masyarakat. Tempo membahas tentang Keputusan Presiden yang dikeluarkan Susilo Bambang Yudhoyono yang mengubah terminologi etnis Cina menjadi Tionghoa (Tempo. co, 2. Awalnya, istilah etnis Cina diberlakukan sejak zaman pemerintahan Soeharto untuk menghilangkan kesan superior dari etnis tersebut. Namun, pada realitanya, kata AuCinaAy cenderung mengundang diskriminasi. Berita ini berimbang dalam memberitakan dua sisi, baik pemerintah maupun etnis minoritas itu sendiri. Penulis berpihak pada etnis minoritas, namun mengapresiasi juga megkritik kebijakan pemerintah yang mencoba menyelesaikan masalah etnis minoritas secara objektif. Penggambaran etnis Tionghoa di Tempo. co yang cenderung netral merupakan penemuan menarik karena pada penelitian Ezmieralda Melissa yang berjudul AuRepresentasi Warga Tionghoa dan Kecinaan dalam Media Kontemporer IndonesiaAy pada tahun 2013 menyatakan hal yang berbeda terkait Tempo versi cetak. Artikel tersebut menganalisis representasi etnis Tionghoa di dua media yang berbeda, yaitu TempoAimedia yang terkenal kritis dengan pemberitaannyaAidan Jia XiangAimedia bagi orang Tionghoa yang bertujuan untuk mendorong integrasi etnis tersebut dengan warga Indonesia non Tionghoa (Melissa. Namun, kedua media ini masih kesulitan memberitakan etnis Tionghoa secara seimbang karena beberapa alasan, seperti kurangnya praktisi media beretnis Tionghoa di JEK. VOLUME 1. ISSUE 2 dalam entitas organisasi serta sulitnya menggambarkan fenomena atau masalah terkait etnis Tionghoa yang kompleks (Melissa, 2. Kesimpulan Berdasarkan pemaparan mengenai perbandingan representasi etnis Tionghoa di tiga media daring berbeda dan memperhatikan rumusan masalah dapat dibuat simpulan berikut ini: Terkait dengan representasi etnis Tionghoa di berbagai media daring, masing-masing memiliki cara yang berbeda dalam penggambarannya. Tirto. id merupakan media anti-mainstream yang berusaha mendobrak status quo representasi etnis Tionghoa yang sering tidak berimbang di media massa. Oleh karena itu. Tirto. id konsisten memberitakan etnis Tionghoa dengan nada yang positif terlepas dari situasi sentimen terhadap etnis tersebut. Di lain sisi. Republika. id yang berideologi islami sering kali mengangkat etnis Tionghoa dalam pemberitaannya dengan nada yang negatif, terutama saat sentiment terhadap etnis tersebut sedang menguat. Kelompok penganut Islam sebagai mayoritas di Indonesia yang identik dengan terminologi pribumi, kerap memiliki kasus perselisihan dengan etnis Tionghoa. Maka. Republika. id dan objektif utamanya membuka jendela pengetahuan Islam bagi umatnya berpengaruh besar terhadap pemberitaannya terkait etnis Tionghoa. Namun, lain halnya dengan Tempo. co, media berita daring ini tidak berpihak terhadap etnis Tionghoa dan kelompok manapun yang bersinggungan dengan etnis tersebut dalam pemberitaannya. Kondisi tersebut berkaitan erat dengan prinsip Tempo. co yang menjunjung netralitas dan independensi. Seperti yang dibahas sebelumnya oleh Stewart dan Kowlatzke tentang pengaruh nilai yang dipegang oleh pekerja media terhadap representasi (Stewart dan Kowlatzke, 2. , ideologi dari ketiga media daring menjadi faktor utama dari berbedanya ketiga media tersebut merepresentasi etnis Tionghoa. Menurut para ahli cultural media, representasi merupakan konstruksi realita yang mengandung ideologi. Mengingat representasi dapat memproduksi makna yang berkaitan dengan kebudayaan, representasi yang problematik dapat menimbulkan konsekuensi negatif dalam pengambilan keputusan politis dan menciptakan ketidaksetaraan di tengah masyarakat (Fyrsich, 2. Oleh karena itu, media daring harus sensitif dalam merepresentasi kelompok terutama minoritas seperti etnis Tionghoa dalam pemberitaan agar tidak terjadi perpecahan. Saran Berdasarkan pemaparan tentang batasan-batasan penelitian, berikut hal-hal yang dapat dilengkapi oleh penelitian selanjutnya terkait topik yang serupa. Penelitian selanjutnya disarankan untuk memperdalam dampak dari representasi etnis Tionghoa dalam media pemberitaan terhadap persepsi masyarakat. Dapat diteliti lebih lanjut terkait apakah preferensi media berita seseorang dapat memengaruhi pandangannya terhadap etnis tersebut dan sejauh mana pengaruhnya. Ucapan Terima Kasih Tidak berlaku. Kontribusi Penulis Tidak berlaku. Pendanaan Penelitian ini tidak menerima pendanaan eksternal. JEK. VOLUME 1. ISSUE 2 Pernyataan Dewan Peninjau Etis Tidak berlaku. Pernyataan Persetujuan yang Diinformasikan Tidak berlaku. Pernyataan Ketersediaan Data Tidak berlaku. Konflik kepentingan Para penulis menyatakan tidak ada konflik kepentingan. Daftar Pustaka