PARADOKS Jurnal Ilmu Ekonomi Vol. 9 No. November - Januari e-ISSN : 2622-6383 doi: 10. 57178/paradoks. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Audit pada Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di BEI Tahun 2020Ae2024 Hajra Yustika1*. Indah Pratiwi2. Nispa Sari3. Muhammad Kasran4 Email korespondensi: hajrahyustika2@gmail. Program Studi Akuntansi. Universitas Muhammadiyah Palopo. Indonesia1*,2,3 Program Studi Manajemen. Universitas Muhammadiyah Palopo. Indonesia4 Abstrak Penelitian ini bertujuan menganalisis determinan kualitas audit pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2020Ae2024, dengan fokus pada ukuran perusahaan . irm siz. , audit tenure, dan reputasi auditor. Pendekatan kuantitatif digunakan melalui analisis regresi data panel dengan data sekunder berupa laporan keuangan tahunan yang telah diaudit. Sampel terdiri dari 10 bank dengan total 50 observasi selama lima tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa firm size berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas audit, sedangkan audit tenure berpengaruh negatif dan signifikan. Reputasi auditor tidak memberikan pengaruh yang signifikan. Secara simultan, ketiga variabel terbukti signifikan memengaruhi kualitas audit dengan nilai koefisien determinasi (RA) sebesar 0,622, yang berarti model mampu menjelaskan 62,2% variasi kualitas audit. Temuan ini menunjukkan bahwa bank beraset besar cenderung menghasilkan audit yang lebih berkualitas karena kompleksitas operasional dan pengawasan regulatif yang tinggi. Sebaliknya, masa perikatan auditor yang terlalu panjang dapat menurunkan independensi. Tidak signifikannya reputasi auditor menunjukkan bahwa standar pengawasan ketat di sektor perbankan cenderung menekan perbedaan kualitas antar auditor. Secara teoretis dan praktis, penelitian ini menegaskan peran faktor kelembagaan dan hubungan auditorAeklien dalam meningkatkan kualitas audit pada industri perbankan. Kata kunci: Kualitas Audit. Ukuran Perusahaan. Audit Tenure. Reputasi Auditor. Perbankan This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Pendahuluan Kualitas audit merupakan elemen fundamental dalam menjaga kepercayaan publik terhadap laporan keuangan, terutama pada industri perbankan yang memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas sistem keuangan nasional (Sinaga & Astuti, 2. Sebagai lembaga intermediasi yang menyalurkan dana dari masyarakat kepada sektor produktif, bank dituntut untuk menyajikan laporan keuangan yang akurat, transparan, serta sesuai standar akuntansi yang berlaku. Audit menjadi instrumen penting untuk memastikan bahwa laporan tersebut bebas dari salah saji material, baik yang disengaja maupun tidak (Putri & Sulistyowati, 2. Dengan audit yang berkualitas, integritas informasi keuangan dapat terjaga sehingga menopang kepercayaan publik terhadap industri perbankan (Najihah & Siswadi, 2. Oleh karena itu, kualitas audit bukan hanya isu teknis, tetapi juga komponen penting bagi stabilitas ekonomi secara makro. Meskipun regulasi telah diperkuat melalui pengawasan Otoritas Jasa Keuangan serta kewajiban keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, penelitian terbaru menunjukkan bahwa kualitas audit pada perbankan Indonesia masih bervariasi (Wulan et al. , 2. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 233 Variasi tersebut tercermin dari perbedaan ketepatan waktu laporan, jenis opini yang diterbitkan, serta tingkat kepatuhan terhadap standar audit. Periode 2020Ae2024 menjadi fase penting karena pandemi Covid-19, perubahan regulasi, dan meningkatnya tuntutan transparansi telah menambah kompleksitas proses audit dan tekanan terhadap auditor. Fenomena seperti keterlambatan pelaporan serta munculnya opini dengan pengecualian menunjukkan bahwa kualitas audit belum konsisten antarbank dan antarperiode (Lewa et , 2. Studi sebelumnya juga menyoroti bahwa beberapa faktor internal dan eksternal perusahaan dapat memengaruhi kualitas audit, namun temuan-temuan ini belum menunjukkan pola yang sepenuhnya seragam. Misalnya, ukuran perusahaan sering dikaitkan dengan kualitas audit karena perusahaan besar umumnya memiliki sistem pengendalian internal yang lebih baik serta pengawasan regulatori lebih ketat (Ghosh et , 2. Namun, realitas empiris menunjukkan bahwa tidak semua bank besar memiliki kualitas audit yang unggul, sehingga perlu kajian lebih mendalam untuk memahami Meskipun banyak penelitian membahas faktor penentu kualitas audit, terdapat beberapa kesenjangan yang belum terjawab secara konsisten dalam konteks perbankan Indonesia. Pertama, hubungan antara ukuran perusahaan dan kualitas audit masih menunjukkan inkonsistensi temuan. Beberapa penelitian menemukan hubungan positif, sementara lainnya menunjukkan tidak adanya pengaruh signifikan. Kedua, audit tenure sebagai faktor penting dalam menjaga pemahaman auditor atas bisnis klien sering dikaitkan dengan potensi berkurangnya independensi (Defond et al. , 2. Akan tetapi, efektivitas pembatasan masa perikatan auditor di Indonesia terhadap kualitas audit belum banyak diuji secara empiris, khususnya pada sektor perbankan. Ketiga, reputasi auditor yang lazim dianggap sebagai indikator kualitas audit juga menunjukkan hasil yang tidak Auditor bereputasi besar tidak selalu menghasilkan audit tanpa cela, dan auditor menengah juga terbukti mampu memberikan audit berkualitas (Dinarjito, 2. Ketiga celah tersebut menunjukkan bahwa pemahaman mengenai determinan kualitas audit pada industri perbankan masih terfragmentasi dan belum memberikan kesimpulan yang kuat. Dengan kondisi sektor yang sangat teregulasi dan menjadi tulang punggung stabilitas ekonomi, kesenjangan inilah yang membutuhkan eksplorasi empiris lanjutan. Berdasarkan kesenjangan tersebut, penelitian ini diarahkan untuk menjawab pertanyaan utama: bagaimana pengaruh ukuran perusahaan, audit tenure, dan reputasi auditor terhadap kualitas audit perusahaan perbankan di Indonesia selama periode 20202024? Tujuan penelitian adalah menganalisis secara empiris ketiga faktor tersebut dan menentukan determinan yang paling signifikan dalam menjelaskan variasi kualitas audit. Kebaruan penelitian terletak pada fokus konteksnya perbankan Indonesia pada periode pascapandemi serta integrasi tiga variabel utama yang secara simultan diuji dalam lingkungan regulatori yang ketat namun menunjukkan dinamika kualitas audit yang Pendekatan ini diharapkan memberikan pemahaman yang lebih mutakhir dan relevan terhadap kondisi industri saat ini. Ukuran perusahaan . irm siz. mencerminkan tingkat sumber daya, kekuatan pengendalian internal, serta tingkat pengawasan eksternal yang dapat memengaruhi kualitas audit. Penelitian sebelumnya menunjukkan hubungan positif, tetapi hasil empiris tidak selalu stabil (Ghosh et al. , 2. Audit tenure, yaitu lamanya hubungan kerja auditorAe klien, berpotensi meningkatkan pemahaman auditor mengenai operasi perusahaan. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 234 namun masa panjang dapat mengurangi independensi (Defond et al. , 2. Sementara itu, reputasi auditor sering dikaitkan dengan standar pengawasan internal yang lebih ketat dan kualitas audit yang lebih tinggi, namun hasil penelitian juga menunjukkan bahwa auditor non-big dapat memberikan kinerja kompetitif (Dinarjito, 2. Dengan mempertimbangkan temuan-temuan tersebut, penelitian ini berupaya memberikan pembuktian empiris yang lebih komprehensif dalam konteks perbankan Indonesia. Tinjauan Pustaka Teori Keagenan (Agency Theor. Teori keagenan yang diperkenalkan oleh Jensen dan Meckling . menegaskan bahwa hubungan antara principal dan agent selalu memiliki potensi konflik karena perbedaan tujuan ekonomi dan preferensi risiko. Dalam konteks perbankan yang mengelola dana publik dan beroperasi di bawah regulasi ketat, potensi konflik ini semakin besar sehingga meningkatkan risiko tindakan oportunistik manajemen, termasuk kecenderungan memanipulasi laporan keuangan (Rosyanna et al. , 2. Audit hadir sebagai mekanisme monitoring eksternal untuk mengurangi asimetri informasi, meningkatkan transparansi, dan menekan moral hazard agent. Mekanisme kausal teori keagenan bekerja melalui dua dimensi utama. Pertama, kebutuhan monitoring meningkat ketika risiko keagenan tinggi. Bank dengan ukuran besar memiliki transaksi lebih kompleks sehingga memerlukan auditor dengan kapasitas dan kehati-hatian tinggi (Cahyaningtyas et al. , 2. Kedua, kualitas monitoring ditentukan oleh independensi auditor, yang dipengaruhi oleh faktor seperti masa perikatan auditor dan reputasi kantor akuntan publik. Reputasi auditor dibangun dari kredibilitas, standar metodologis, dan risiko reputasi global yang mereka pertaruhkan. sementara audit tenure yang terlalu panjang dapat menurunkan independensi karena kedekatan dengan klien (Burnett et al. , 2. Dalam industri perbankan Indonesia, di mana risiko sistemik tinggi dan pengawasan publik intensif, teori keagenan memberikan landasan kuat untuk menjelaskan bagaimana faktor-faktor seperti ukuran perusahaan, audit tenure, dan reputasi auditor secara langsung memengaruhi kualitas audit. Dengan demikian, teori ini relevan untuk memahami dinamika monitoring dan independensi yang membentuk kualitas audit perbankan. Ukuran Perusahaan Ukuran perusahaan tidak sekadar menggambarkan besar kecilnya aset, tetapi merepresentasikan tingkat kompleksitas operasi, risiko keagenan, dan kebutuhan monitoring eksternal. Bank berskala besar memiliki diversifikasi transaksi, paparan risiko, dan tuntutan regulasi yang lebih tinggi dibandingkan bank kecil, sehingga meningkatkan urgensi terhadap audit berkualitas sebagai alat pengawasan (Puspitasari & Nirmala, 2. Secara kausal, semakin besar perusahaan, semakin tinggi potensi tindakan oportunistik manajemen karena informasi semakin sulit diakses oleh principal. Dalam situasi ini, auditor berfungsi sebagai penyedia verifikasi independen untuk memastikan laporan keuangan mencerminkan kondisi riil perusahaan. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa perusahaan besar cenderung memperoleh audit berkualitas tinggi karena memiliki sistem pengendalian internal lebih baik dan sumber daya yang memadai untuk memfasilitasi proses audit (Kurniawan & Kuntadi, 2. Selain itu, auditor biasanya bekerja lebih hati-hati ketika memeriksa bank besar karena risiko kegagalan audit dapat berdampak pada stabilitas sektor keuangan secara luas. Namun kompleksitas yang melekat pada bank besar juga dapat menjadi tantangan. jika auditor tidak memiliki kompetensi memadai, kompleksitas dapat menyebabkan risiko audit meningkat dan justru mengurangi efektivitas Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 235 prosedur audit. Dalam konteks sektor perbankan Indonesia yang terdiri atas bank sistemik, bank umum, dan bank kecil (Satrio & Pohan, 2. , pengaruh ukuran perusahaan terhadap kualitas audit sangat bergantung pada kecermatan auditor dalam menangani kompleksitas dan efektivitas pengendalian internal perusahaan. H1: Ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap kualitas audit pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2020Ae2024 Audit Tenure Audit tenure memiliki karakteristik kausal ganda yang dapat meningkatkan maupun menurunkan kualitas audit. Pada sisi positif, masa perikatan yang lebih lama memungkinkan auditor memahami pola transaksi, sistem akuntansi, dan karakteristik risiko klien secara lebih mendalam. Pemahaman historis ini meningkatkan efektivitas audit karena auditor mampu mengidentifikasi anomali secara lebih tepat (Muhidin & Arigawati. Mekanisme ini sangat relevan dalam sektor perbankan, di mana kompleksitas produk dan kewajiban regulasi memerlukan pemahaman mendalam dari auditor (Afrianti & Meutia, 2. Namun pada sisi negatif, hubungan jangka panjang dapat menurunkan independensi auditor akibat munculnya kedekatan emosional, penyesuaian berlebihan terhadap preferensi klien, serta ketergantungan ekonomi. Kondisi ini memunculkan risiko moral hazard karena auditor mungkin lebih permisif terhadap kebijakan akuntansi manajemen (Waro, 2023. Rahmadani & Halmawati, 2. Inilah titik di mana risiko keagenan meningkat: kedekatan relasional melemahkan skeptisisme profesional sehingga mengurangi efektivitas monitoring eksternal. Hasil penelitian empiris yang beragam menunjukkan bahwa pengaruh audit tenure bersifat kontekstual dan sangat dipengaruhi regulasi pembatasan masa perikatan yang ditetapkan di Indonesia. Dalam sektor perbankan yang memiliki risiko sistemik dan standar pengawasan ketat, menemukan titik optimal audit tenure menjadi krusial agar auditor dapat memperoleh pemahaman yang cukup tanpa mengorbankan independensi. H2: Audit tenure berpengaruh positif terhadap kualitas audit pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2020Ae2024 Reputasi Auditor Reputasi auditor berfungsi sebagai sinyal kualitas dalam mekanisme pasar. Auditor bereputasi tinggi dinilai memiliki sumber daya yang kuat, metodologi audit yang matang, serta komitmen terhadap standar profesional global. Dalam perspektif kausal, reputasi auditor memengaruhi kualitas audit melalui dua jalur utama. Pertama, reputational concern, yaitu auditor besar memiliki risiko reputasi global sehingga lebih berhati-hati dan ketat dalam melaksanakan prosedur audit (Arum & Pamungkas, 2. Kedua, resourcebased advantage, yakni auditor besar memiliki tim spesialis, teknologi audit yang lebih maju, serta sistem pengendalian mutu internal yang kuat (Puspitasari & Darya, 2. Namun, beberapa penelitian menemukan bahwa reputasi auditor tidak selalu memberikan dampak signifikan (Rizaldi et al. , 2. Dalam industri perbankan, standar audit telah distandarisasi oleh regulator seperti OJK dan BI sehingga auditor non-bereputasi besar pun dapat memberikan kualitas yang memadai. Hal ini menunjukkan bahwa reputasi auditor adalah faktor penting, tetapi tidak selalu dominan. konteks regulasi, kompleksitas bank, serta sistem pengendalian internal klien turut menentukan kualitas audit akhir. Dalam konteks perbankan Indonesia, reputasi auditor tetap menjadi indikator penting untuk memitigasi risiko keagenan karena bank mengelola dana publik dan memiliki eksposur risiko Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 236 yang tinggi. Auditor bereputasi tinggi memberikan sinyal keandalan yang meningkatkan kepercayaan pemangku kepentingan. H3: Reputasi auditor berpengaruh positif terhadap kualitas audit pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2020Ae2024 Gambar 1 Kerangka Penelitian Metode Analisis Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan memanfaatkan data sekunder sebagai sumber utama. Pendekatan kuantitatif dipilih karena mampu menjawab pertanyaan penelitian yang berfokus pada pengujian hubungan kausal antara ukuran perusahaan, audit tenure, dan reputasi auditor terhadap kualitas audit. Metode ini memungkinkan pengukuran yang objektif, terstandar, serta dapat direplikasi oleh peneliti Pemilihan desain ini juga selaras dengan karakteristik variabel penelitian yang membutuhkan analisis berbasis numerik dan model statistik, sehingga relevan untuk mencapai tujuan penelitian. Populasi penelitian mencakup seluruh perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2020Ae2024. Dari 15 bank yang ditelusuri, teknik purposive sampling diterapkan dengan kriteria: . perusahaan berstatus Tbk dan memublikasikan laporan tahunan serta laporan keuangan auditan secara konsisten selama periode penelitian. laporan keuangan diaudit oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan. data tersedia secara Berdasarkan kriteria ini, 10 bank memenuhi syarat dan dijadikan sampel penelitian meliputi Bank Mega. Bank Central Asia (BCA). Bank Rakyat Indonesia (BRI). Bank Tabungan Negara (BTN). CIMB Niaga. Bank Danamon. Bank Mandiri. Bank Muamalat. Bank Panin, dan Bank Permata. Lima bank dieliminasi karena ketidaklengkapan data atau inkonsistensi Meskipun Bank Muamalat tidak terdaftar di BEI, bank ini tetap disertakan karena berstatus Tbk dan laporan keuangannya dipublikasikan secara terbuka. Dengan periode observasi lima tahun, total unit analisis berjumlah 50. Ukuran sampel yang relatif kecil merupakan konsekuensi dari populasi terbatas pada sektor perbankan, namun tetap dapat digunakan dalam regresi panel karena struktur data longitudinal meningkatkan jumlah observasi efektif. Meski demikian, penelitian mengakui keterbatasan generalisasi akibat ukuran sampel yang terbatas. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui metode dokumentasi, dengan mengunduh laporan tahunan dan laporan keuangan auditan dari situs resmi BEI. OJK, dan website perusahaan. Data yang dikumpulkan mencakup ukuran perusahaan, audit tenure, reputasi auditor, serta indikator kualitas audit. Karena penelitian berbasis data sekunder, tidak diperlukan instrumen survei. Setiap variabel dioperasionalkan secara konsisten berdasarkan definisi akademik dan indikator yang telah dirumuskan sebelumnya, sehingga Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 237 mendukung akurasi pengukuran. Teknik analisis data yang digunakan adalah regresi data panel dengan bantuan perangkat lunak SPSS. Prosedur analisis dimulai dengan statistik deskriptif untuk menggambarkan distribusi data. Selanjutnya dilakukan uji asumsi klasik yang meliputi: . uji normalitas residual menggunakan KolmogorovAeSmirnov untuk memastikan distribusi residual mendekati normal. uji multikolinearitas dengan melihat nilai Variance Inflation Factor (VIF) dan Tolerance, di mana VIF < 10 dan Tolerance > 0,10 menunjukkan tidak terjadi multikolinearitas. uji heteroskedastisitas melalui scatterplot antara residual dan fitted values guna memastikan tidak ada pola tertentu. uji autokorelasi menggunakan DurbinAeWatson, dengan nilai sekitar 1,5Ae2,5 menunjukkan tidak terjadi Seluruh uji ini digunakan untuk memastikan kelayakan model regresi dan menghindari bias estimasi. Tahap berikutnya adalah pengujian hipotesis yang dilakukan melalui uji t untuk menilai pengaruh parsial setiap variabel independen, uji F untuk menilai pengaruh simultan semua variabel independen, serta koefisien determinasi (RA) untuk melihat proporsi variabilitas kualitas audit yang dapat dijelaskan oleh model. Seluruh prosedur analisis dilakukan secara sistematis, transparan, dan berurutan sehingga penelitian dapat direplikasi serta memenuhi standar metodologis penelitian kuantitatif. Tabel 1 Operasional Variabel Variabel Ukuran Perusahaan (Firm Siz. (X. Audit Tenure (X. Reputasi Auditor (X. Kualitas Audit (Y) Definisi Operasional Tingkat besar kecilnya perusahaan yang mencerminkan kompleksitas operasi, kebutuhan monitoring, serta tingkat eksposur publik terhadap entitas. Lamanya hubungan kerja auditorAeklien sejak penugasan pertama hingga tahun berjalan, sesuai ketentuan rotasi auditor yang berlaku. Kredibilitas auditor yang diukur berdasarkan status Kantor Akuntan Publik (KAP): apakah termasuk Big Four . eputasi tingg. atau NonAeBig Four . eputasi non-tingg. Variabel dioperasionalkan sebagai dummy: 1 = Big Four. 0 = NonAe Big Four. Tingkat keyakinan bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material serta disusun sesuai standar audit dan akuntansi yang berlaku. Indikator Sumber Total aset perusahaan (Log Total Asset. Skala operasi perusahaan Kapabilitas sumber daya Kurniawan & Kuntadi . Jumlah tahun auditor menangani klien yang sama Kepatuhan pada regulasi rotasi auditor Sugiarto & Reskino . Status KAP (Big Four/NonAeBig Fou. Jangkauan layanan audit Persepsi standar kualitas audit Rizaldi et al. Kepatuhan terhadap standar Jenis opini auditor Keandalan laporan Luthfiyyah Hasil dan Pembahasan Hasil Penelitian Uji Deskriptif Berdasarkan Tabel 2, statistik deskriptif menunjukkan bahwa sebagian besar auditor dalam sampel memiliki reputasi tinggi dengan rata-rata 0,72 (SD = 0,. pada skala 0Ae1, sementara masa kerja audit rata-rata 2,60 tahun (SD = 1,. menunjukkan pengalaman auditor yang bervariasi dari baru hingga menengah. Kualitas audit cenderung tinggi dengan nilai rata-rata 81,88 (SD = 8,. pada rentang 68Ae95, namun tetap terdapat variasi di antara entitas. Ukuran perusahaan sangat beragam, mulai dari 59 hingga 2. 339 dengan Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 238 rata-rata 665,20 dan deviasi standar 711,671, menunjukkan adanya perusahaan kecil hingga sangat besar dalam sampel. Secara keseluruhan, data ini mencerminkan variabilitas yang berbeda antar variabel, di mana Reputasi Auditor relatif homogen, sedangkan Firm Size sangat bervariasi, yang penting untuk interpretasi. Tabel 2 Tabel Statistik Deskriptif Reputasi Auditor 50 Audit Tenure Kualitas_Audit Firm Size Valid N . 50 Minimum Maximum Mean Std. Deviation Uji Normalitas Hasil uji normalitas denganb metode One-Sample Kolmogorov-Smirnov menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0. 86, yang lebih besar dari 0. Hal ini menunjukkan bahwa data residual berdistribusi normal. Nilai mean residual sebesar 0. 000 dan standard deviation 4. juga mendukung kesimpulan bahwa penyebaran data bersifat simetris di sekitar rata-rata. Dengan demikian, asumsi normalitas dalam model regresi terpenuhi, sehingga data layak digunakan untuk analisis regresi berganda. Tabel 3 Hasil Uji One-Sample Kolmogorov-Smirnov Unstandardized Residual Mean Std. Deviation 4. Most Extreme Differences Absolute Positive Negative Test Statistic Asymp. Sig. -taile. Test distribution is Normal, b. Calculated from data, c. Lilliefors Significance Correction. Normal Parametersa,b Uji Multikolinearitas Hasil uji multikolinearitas pada Tabel 4 menunjukkan bahwa tidak terdapat indikasi multikolinearitas di antara variabel independen, yaitu Reputasi Auditor. Audit Tenure, dan Firm Size. Nilai Condition Index tertinggi sebesar 6. 180 masih jauh di bawah batas toleransi umum 30, sehingga model dinyatakan stabil. Selain itu, hasil Variance Proportions juga menunjukkan bahwa tidak ada dua variabel independen yang memiliki proporsi varian tinggi . ebih dari 0. pada dimensi yang sama. Meskipun terdapat variasi nilai antarvariabel, tidak ditemukan korelasi yang berlebihan yang dapat mengganggu validitas model. Nilai proporsi varian yang relatif tinggi hanya muncul pada constant dan sebagian kecil pada Reputasi Auditor serta Audit Tenure, namun tidak secara bersamaan dengan Firm Size. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa model regresi ini bebas dari multikolinearitas dan layak digunakan untuk analisis lebih lanjut. Tabel 4 Collinearity Diagnosticsa Model Dimension Eigenvalue Condition Index Dependent Variable: Kualitas_Audit Variance Proportions Reputasi (Constan. Audit_Tenure Firm Size Auditor Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 239 Uji Heteroskedastisitas Berdasarkan grafik scatterplot antara Regression Standardized Residual dan Regression Standardized Predicted Value, terlihat bahwa titik-titik data menyebar secara acak di sekitar sumbu nol dan tidak membentuk pola tertentu, seperti garis melengkung atau corong. Pola penyebaran yang acak ini menunjukkan bahwa model regresi memenuhi asumsi homoskedastisitas, yaitu varians residual bersifat konstan pada setiap nilai prediksi. Selain itu, tidak terdapat indikasi autokorelasi atau hubungan sistematis antara nilai residual dengan nilai prediksi. Dengan demikian, model regresi ini dapat dinyatakan layak untuk digunakan dalam analisis selanjutnya karena asumsi heteroskedastisitas telah Gambar 2 Grafik Uji Heteroskedastisitas Hasil Uji Regresi Linear Berganda Hasil Uji Parsial (Uji . Berdasarkan hasil regresi, variabel Firm Size memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas audit (B = 0,010, = 0,890, t = 9,810, p < 0,. , menunjukkan bahwa semakin besar ukuran perusahaan, semakin tinggi kualitas audit yang dihasilkan. Sebaliknya. Audit Tenure berpengaruh negatif dan signifikan (B = -1,143, = -0,193, t = 2,353, p = 0,. , mengindikasikan bahwa semakin lama masa kerja audit, kualitas audit cenderung menurun. Reputasi Auditor tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap kualitas audit (B = -1,441, = -0,081, t = -0,907, p = 0,. Statistik kolinearitas menunjukkan nilai Tolerance dan VIF yang berada dalam batas aman (Tolerance > 0,7. VIF < . , sehingga tidak terdapat masalah multikolinearitas pada model ini. Tabel 5 Coefficientsa Unstandardized Standardized Coefficients Coefficients Std. Error Beta (Constan. Reputasi Auditor -1. Audit_Tenure Firm Size Dependent Variable: Kualitas_Audit Model Sig. Collinearity Statistics Tolerance Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 240 VIF Hasil Uji Simultan (Uji F) Berdasarkan hasil uji ANOVA pada tabel di atas, diperoleh nilai F hitung sebesar 36. dengan tingkat signifikansi 0,000, yang lebih kecil dari 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa secara simultan variabel Reputasi Auditor. Audit Tenure, dan Firm Size berpengaruh signifikan terhadap Kualitas Audit. Dengan kata lain, ketiga variabel independen tersebut secara bersama-sama mampu menjelaskan variasi yang terjadi pada kualitas audit. Nilai Mean Square Regression sebesar 756. 999 juga menunjukkan besarnya kontribusi gabungan variabel bebas terhadap model. Hasil ini mengindikasikan bahwa model regresi yang digunakan layak dan signifikan untuk memprediksi kualitas audit, sehingga ketiga variabel tersebut dapat dianggap memiliki pengaruh yang relevan secara statistik dalam penelitian Tabel 6 ANOVAa Model Sum of Squares df Mean Square Regression Residual Total Dependent Variable: Kualitas_Audit Predictors: (Constan. Firm Size. Audit Tenure. Reputasi Auditor Sig. Hasil Uji Koefisien Determinasi (R. Berdasarkan hasil Model Summary pada Tabel 7, nilai R = 0. 789, yang menunjukkan bahwa hubungan antara Firm Size. Audit Tenure, dan Reputasi Auditor terhadap Kualitas Audit berada pada kategori kuat. Nilai R Square = 0. 622 menunjukkan bahwa ketiga variabel independen mampu menjelaskan 62. 2% variasi Kualitas Audit, sementara sisanya 8% dijelaskan oleh faktor lain di luar model. Nilai Adjusted R Square = 0. menegaskan bahwa model memiliki kemampuan penjelas yang tetap stabil setelah mempertimbangkan jumlah variabel dan sampel. Selain itu, nilai DurbinAeWatson sebesar 863 berada dalam rentang aman . 5Ae2. , sehingga model dinyatakan tidak mengalami Dengan demikian, model regresi yang digunakan telah memenuhi kelayakan dasar untuk dianalisis lebih lanjut. Tabel 7 Model Summaryb Std. Error of the Estimate Predictors: (Constan. Firm Size. Audit Tenure. Reputasi Auditor Dependent Variable: Kualitas Audit Model R Square Adjusted R Square Durbin-Watson Pembahasan Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Firm Size dan Audit Tenure memberikan pengaruh signifikan terhadap Kualitas Audit, sedangkan Reputasi Auditor tidak terbukti memiliki pengaruh yang berarti secara statistik. Temuan ini memberikan gambaran penting mengenai bagaimana faktor-faktor spesifik dalam industri perbankan Indonesia memengaruhi kualitas audit, terutama ketika dikaitkan dengan teori keagenan, risiko sistemik, regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta dinamika hubungan auditorAeklien. Pembahasan berikut disusun untuk menjawab kritik reviewer, yaitu perlunya analisis lebih mendalam, interpretasi yang konsisten dengan tabel regresi, dan relevansi dengan konteks Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 241 Pengaruh Firm Size terhadap Kualitas Audit Firm Size terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas audit, menggambarkan bahwa bank dengan ukuran lebih besar cenderung menghasilkan audit yang lebih berkualitas. Temuan ini sejalan dengan Agency Theory, yang menegaskan bahwa semakin besar suatu organisasi, semakin tinggi pula potensi konflik keagenan yang muncul antara pemilik, manajemen, dan pemangku kepentingan lainnya (Jensen & Meckling, 1976. Cahyaningtyas et al. , 2. Perusahaan besar terutama bank memiliki struktur operasi yang kompleks, eksposur risiko kredit yang lebih tinggi, transaksi keuangan yang lebih banyak, serta jaringan bisnis yang luas. Faktor-faktor ini meningkatkan kebutuhan akan sistem pelaporan keuangan yang akurat dan transparan, sehingga bank besar dituntut untuk menerapkan audit yang lebih ketat (Ghosh et al. , 2. Dalam industri perbankan Indonesia, ukuran bank juga berkaitan erat dengan tingkat pengawasan dari OJK menerapkan kerangka pengawasan berbasis risiko (Risk-Based Supervisio. , yang memberikan tekanan lebih besar pada bank berukuran besar karena posisinya yang dapat menciptakan risiko sistemik. Bank dengan aset besar diharuskan memiliki manajemen risiko yang kuat, pengendalian internal yang efektif, serta pelaporan keuangan yang jauh lebih terstandar. Dalam kondisi ini, auditor eksternal bekerja pada lingkungan kontrol yang lebih mapan dan terdokumentasi dengan baik, sehingga meningkatkan konsistensi dan kualitas audit yang dihasilkan (Putri & Sulistyowati, 2. sisi teknis audit, bank berukuran besar biasanya juga memanfaatkan sistem informasi akuntansi yang terdigitalisasi, teknologi monitoring risiko secara real-time, serta audit internal yang kompeten. Kombinasi antara tekanan regulasi, kompleksitas operasi, dan investasi dalam sistem pengendalian internal menciptakan ekosistem yang kondusif bagi audit eksternal berkualitas tinggi. Dengan demikian, temuan penelitian ini menegaskan bahwa Firm Size bukan sekadar variabel ekonomis, melainkan penentu fundamental yang memengaruhi kualitas proses audit dalam industri perbankan yang sarat regulasi. Pengaruh Audit Tenure terhadap Kualitas Audit Audit Tenure terbukti berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kualitas audit, artinya semakin lama auditor menjalin hubungan dengan klien, kualitas audit cenderung menurun (Burnett et al. , 2024. Rahmadani & Halmawati, 2. Hasil ini memperkuat pandangan bahwa tenure yang panjang dapat menimbulkan risiko menurunnya independensi auditor akibat hubungan yang terlalu familiar dengan manajemen klien. Fenomena ini dikenal sebagai familiarity threat, yaitu kondisi ketika auditor menjadi terlalu nyaman sehingga tingkat skeptisisme profesional melemah (Waro, 2. Dalam industri perbankan, hubungan auditorAeklien yang terlalu panjang berpotensi jauh lebih problematis jika dibandingkan dengan sektor lain. Bank merupakan lembaga keuangan yang memiliki dampak sistemik, sehingga kegagalan audit dapat mengancam stabilitas ekonomi (Afrianti & Meutia, 2. Proses audit perbankan melibatkan penilaian atas cadangan kerugian penurunan nilai kredit (CKPN), fair value instrumen keuangan, penilaian risiko likuiditas, serta kewajiban kontinjensi yang kompleks. Apabila auditor kehilangan objektivitas akibat tenure yang panjang, risiko salah saji material meningkat secara Untuk mengantisipasi risiko ini. OJK telah menerapkan aturan rotasi auditor dan rotasi partner audit, yang secara khusus dirancang untuk mempertahankan independensi auditor eksternal (Sinaga & Astuti, 2. Ketentuan ini sejalan dengan praktik internasional, seperti yang direkomendasikan IFAC dan PCAOB, untuk menjaga kualitas audit pada sektor-sektor dengan risiko tinggi. Temuan penelitian ini sekaligus mengonfirmasi efektivitas Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 242 pendekatan rotasi auditor sebagai mekanisme tata kelola yang penting dalam memperkuat integritas audit bank. Dengan demikian, pengaruh negatif Audit Tenure menggarisbawahi bahwa independensi auditor harus dijaga melalui kebijakan rotasi yang ketat, terutama pada sektor perbankan yang memiliki sensitivitas risiko dan beban regulasi yang sangat tinggi. Pengaruh Reputasi Auditor terhadap Kualitas Audit Reputasi Auditor ditemukan tidak berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit. Temuan ini penting karena menunjukkan kondisi berbeda dari sebagian besar studi sebelumnya yang menyatakan bahwa auditor bereputasi tinggi misalnya Big Four biasanya memberikan audit yang lebih berkualitas. Namun, dalam konteks perbankan Indonesia, terdapat beberapa faktor yang menjelaskan mengapa reputasi auditor tidak menjadi penentu utama kualitas audit. Pertama, regulasi OJK meng-standardisasi kualitas audit secara ketat di industri perbankan. Bank wajib mengikuti standar audit khusus perbankan, pedoman pengawasan risiko, ketentuan CKPN berbasis PSAK 71, serta aturan tata kelola seperti kewajiban membentuk Komite Audit (Sinaga & Astuti, 2. Standarisasi ini mengurangi variasi kualitas audit antar-KAP, termasuk antara auditor bereputasi tinggi dan nonAeBig Four. Kedua, klien perbankan umumnya dipegang oleh auditor yang memiliki spesialisasi industri keuangan, terlepas dari apakah mereka bagian dari Big Four atau tidak (Puspitasari & Darya, 2. Dalam praktiknya, banyak auditor nonAeBig Four yang memiliki kompetensi kuat dalam sektor perbankan, sehingga reputasi merek KAP tidak lagi menjadi faktor dominan. Ketiga, bank memiliki internal control yang sangat kuat dan pelaporan keuangan yang diawasi oleh unit manajemen risiko, unit kepatuhan, audit internal, serta pengawasan regulator (Najihah & Siswadi, 2. Lingkungan kontrol yang kuat ini membuat auditor eksternal bekerja pada sistem yang sudah stabil dan ringkas, sehingga reputasi auditor tidak begitu membedakan kualitas hasil audit. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa reputasi auditor tidak selalu menjadi determinan kualitas audit pada industri yang sangat teratur dan memiliki risiko sistemik, sebagaimana perbankan. Artinya, konteks industri memainkan peran penting dalam memodifikasi hubungan antara reputasi auditor dan kualitas audit. Interpretasi Model Secara Keseluruhan Secara simultan, ketiga variabel independen terbukti berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit. Nilai koefisien determinasi (RA = 0. menunjukkan bahwa model mampu menjelaskan 62. 2% variasi kualitas audit, angka yang tergolong kuat dalam penelitian akuntansi sektor keuangan. Hal ini menandakan bahwa audit di sektor perbankan tidak hanya dipengaruhi oleh karakteristik auditor, tetapi juga oleh faktor struktural perusahaan. Sisanya, 37. 8% variasi dipengaruhi oleh faktor lain di luar model, seperti kualitas internal auditor, efektivitas Komite Audit, fee audit, penggunaan teknologi audit berbasis data analytics, serta budaya tata kelola yang diterapkan oleh manajemen Nilai DurbinAeWatson sebesar 1. 863 menunjukkan tidak adanya autokorelasi dalam model, sehingga hasil regresi dapat dianggap stabil dan reliabel untuk digunakan dalam pengambilan kesimpulan penelitian. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 243 Simpulan dan Saran Penelitian Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dukungan organisasi meliputi kebijakan internal, fasilitas kerja, dan supervisi profesional berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kualitas audit. Temuan ini menegaskan bahwa efektivitas audit tidak hanya ditentukan oleh kompetensi teknis auditor, tetapi juga oleh kapasitas kelembagaan yang memungkinkan auditor bekerja secara objektif dan sesuai standar. Faktor seperti independensi auditor, kepatuhan terhadap standar audit, serta penggunaan teknologi audit turut memperkuat keandalan temuan audit dan efektivitas prosedur pemeriksaan. Secara teoretis, penelitian ini memperluas pemahaman mengenai bagaimana dukungan organisasi dan karakteristik auditor berinteraksi dalam meningkatkan kualitas audit, khususnya pada sektor perbankan. Temuan ini memperkuat teori audit quality yang menekankan bahwa kualitas audit dipengaruhi oleh kombinasi faktor individual dan kelembagaan. Penelitian ini juga memperkaya literatur dengan menunjukkan hubungan antara faktor struktural . rganizational suppor. dan faktor perilaku . uditor professionalis. , serta relevansinya dalam konteks audit modern. Secara praktis, penelitian ini memberikan implikasi penting bagi manajemen perbankan untuk meningkatkan pelatihan auditor, memperkuat dukungan kerja, dan memanfaatkan teknologi audit berbasis digital. Peningkatan ini diyakini mampu memperkuat pengendalian internal, meningkatkan akurasi laporan keuangan, dan membangun kepercayaan regulator. Bagi auditor, temuan penelitian ini menegaskan pentingnya pengembangan profesional berkelanjutan, sertifikasi kompetensi, dan penguatan etika audit. Dari sisi kebijakan, penelitian ini mendukung perlunya regulasi yang lebih kuat dari OJK terkait standar audit internal, pengawasan berbasis risiko, serta adopsi teknologi audit modern untuk meningkatkan transparansi dan stabilitas sektor Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan, seperti ukuran sampel yang kecil, potensi variabel penting yang terabaikan, dan penggunaan data sekunder yang Selain itu, pendekatan SPSS panel memiliki keterbatasan dalam memodelkan hubungan kompleks. Penelitian selanjutnya disarankan memperluas sampel, menambah variabel relevan, menggunakan SEM atau regresi panel yang lebih canggih, serta mereplikasi pada sektor selain perbankan untuk meningkatkan generalisasi temuan. Ucapan Terima kasih Penulis mengucapkan terima kasih kepada Universitas Muhammadiyah Palopo yang telah memberikan kesempatan dan dukungan dalam pelaksanaan penelitian ini. Penghargaan juga disampaikan kepada pembimbing dan rekan-rekan yang telah memberikan masukan berharga selama proses penyusunan artikel. Ucapan terima kasih yang mendalam ditujukan kepada orang tua atas dukungan moral dan finansial yang diberikan sehingga penelitian ini dapat terselesaikan dengan baik. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 244 Daftar Pustaka